novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Selasa, 09 Februari 2010

rumah mande (terpilih menjadi cerpen terbaik bulan nopember annida-online)


Berat hati ini meninggalkan Mande seorang diri di kampung. Kegembiraan yang didapat karena baru saja diterima di Universitas Indonesia, seakan meluap bersama kegelisahan dan kegundahan. Meski Mande begitu senang dia bisa diterima di salah satu Universitas ternama di ibukota. Bagaimana mungkin dia bisa tenang meninggalkan Mande yang sudah tua dan sering sakit-sakitan?

“Sudahlah Mande. Kita jual saja rumah ini. Uang hasil penjualan kita pakai untuk membeli rumah di daerah Depok. Nanti siapa yang akan memperhatikan dan merawat Mande? Uda War dan Uni Upik pasti sangat setuju dengan saranku.”

“Rusli, Rusli. Mentang–mentang Mande sudah tua, bukan berarti Mande tidak bisa mengurus diri sendiri. Mande sudah terbiasa hidup mandiri.”

“Tapi Rusli mencemaskan Mande. Begitu juga Uda War dan Uni Upik”

“Sekarang yang penting, persiapkan semua keperluanmu untuk dibawa besok. Jangan sampai ada yang ketinggalan.”

“Rusli memilih kuliah di Padang saja ya Mande, agar bisa sering pulang untuk menjenguk Mande.”

“Kamu itu anak lelaki Rusli. Masak tidak bangga pergi merantau. Kita harus bangga bahwa anak negeri kita tersebar dimana-mana. Tapi kamu malah memilih tetap di Padang. Apa kamu tidak malu sama pemuda-pemuda Pariaman yang sukses dinegeri orang?”

Aku tak bisa berkutik mendengar jawaban cerdas dari Mande. Mande memang wanita yang keras kepala, selain tangguh dan mandiri. Meski terbersit rasa iba dihati melihat kondisi kesehatan Mande yang kian hari semakin menurun. Tapi sebagai anak yang berbakti, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tak ingin menentang Mande. Itu sama saja aku mengecewakan hati Mande yang tengah berbangga hati mendapati anak bungsunya berhasil diterima di sekolah negeri bergengsi. Mengalahkan banyak pesaing lainnya untuk bisa lolos masuk kesana.

Aku mengerti bahwa Mande bukan tak ingin tinggal bersamaku di Jakarta. Hanya saja, dia begitu berat bila harus disuruh menjual rumahnya. Rumah yang bagi Mande penuh kenangan manis bersama Abak. Rumah yang telah menjadi saksi selama bertahun-tahun akan asam manisnya hidup Mande bersama Abak. Dan Mande selalu mengulang-ngulang dengan bangga cerita tentang perjuangan Abak, merintis rumah makan padang dari bawah hingga mencapai puncak kejayaannya.

Abak benar-benar seorang pekerja keras, sama seperti Mandenya. Awalnya menjadi pelayan restoran padang. Lalu diangkat menjadi kasir. Setelah bertahun-tahun, oleh pemilik restoran Abak dipercaya untuk membuka cabang di lokasi yang lain. Hingga Abak bisa melakukan penjualan yang fantastis. Restoran tak pernah sepi setiap harinya dari pembeli. Itu semua berkat kepintaran Mande dalam meracik bumbu masakan. Juga berkat keramahan dan kerja keras Abak dalam mencari pelanggan. Cabang restoran itu pun akhirnya dipegang sepenuhnya oleh Abak. Namun disaat usaha rumah makan Abak sedang berada di puncak, musibah pun datang. Restoran Abak terbakar habis. Sejak itu, Abak sering sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal dunia.

Sepeninggal Abak, Mande berjuang sekuat tenaga untuk membesarkan keliga anaknya seorang diri. Meski sudah tak memiliki apa-apa, Mande tak ingin menjual rumah. Dia hanya menggadaikan sedikit perhiasan yang masih ia punya untuk modal membuka warung nasi kapau, meski hanya kecil-kecilan. Hingga warung tersebut bertambah maju dan besar. Mande akhirnya bisa menyekolahkan kami hingga menjadi sarjana.

Kini Mande semakin tua dan sakit-sakitan. Seperti rumah yang Mande tempati, semakin tua dan banyak kerusakan disana-sini. Tapi Mande tetap tak mau rumahnya direhab menjadi lebih bagus dan layak, apalagi sampai dijual. Padahal bangunan nya sudah tua, hingga semakin lapuk dan dindingnya semakin kusam warnanya. Bahkan Mande pun tak ingin mengganti lantainya yang sudah retak dan pecah-pecah dengan keramik yang baru.

“Mande tidak mau mengubah apapun dari banguanan rumah ini. Biarlah semuanya seperti dulu saja. Sebab Mande tak ingin sedikitpun kenangan dirumah ini ikut hilang bersama dengan perubahan disana-sini,” jawab Mande saat Uni Upik berniat ingin merenovasi rumahnya.

“Tapi Mande, lama-lama rumah ini bisa hancur bila tak diperbaiki, karena sudah tua hingga tak sekokoh dulu lagi. Mande tidak inginkan rumah ini perlahan-lahan habis tergerus dimakan usia? jawab Uda War ikut bicara.

“Mande rasa rumah peninggalan Abak kalian masih cukup kuat. Buktinya, sudah 40 tahun lebih masih bisa kita tempati.”

Kami pun tak bisa menentang Mande yang tetap pada pendiriannya. Apalagi untuk menjual rumahnya. Alasannya Mande tak ingin meninggalkan Abak dan kenangannya disini. Kalau bisa, dia ingin mati dirumah ini. Padahal niat kami hanya ingin mengurus Mande. Tidak seperti sekarang, Mande di Pariaman sendirian. Tepatnya di kampung dalam. Sementara anak-anaknya semua di kota metropolitan.

Hari ini kuliah selesai sampai sore. Tapi selama perkuliahan berlangsung pikiranku gelisah. Materi yang diajarkan begitu sulit masuk ke otakku. Memang belakangan ini aku sering bermimpi tentang Abak. Yang membuatku jadi teringat pada Mande di kampung dalam Pariaman. Abak datang dan hanya tersenyum padaku. Tanpa berucap sepatah katapun. Tak berapa lama kemudian Abak menjemput Mande. Dan Mande mengikuti Abak pergi. Aku berteriak-teriak memanggil, tapi kedua orangtuaku seolah tak mendengar teriakanku. Dan pergi berlalu begitu saja dibalik awan. Pertanda apakah ini? Tak sabar rasanya menunggu kuliah bubar, agar segera bisa menelepon Mande.

“Sebelum Bapak mengakhiri kuliah hari ini, ada yang mau bertanya?” Kulihat tak ada satupun yang mengangkat tangan. Aku lega. Berarti sebentar lagi kuliah usai.

“Baiklah! kuliah hari ini Bapak cukupkan sampai disini.” Anak-anak pun segera menyambut senang. Sama sepertiku, segera bersiap-siap untuk keluar dari kelas dengan tergesa. Mungkin karena hari sudah beranjak sore. Akupun berlomba dengan anak yang lain untuk segera sampai di pintu gerbang kampus.

Begitu sampai di kamar kost segera kubuka tasku, dan mengambil ponsel Nokia berwarna biru. Tut..tut..tut. tak nyambung. Kupencet sekali lagi, tetap terdengar bunyi yang sama. Aku makin kacau. Mengapa saluran ke Padang tiba-tiba sinyalnya terputus? Aku pun meletakkkan hpku dan segera mengambil segelas air mineral, dan meneguknya sampai dahagaku hilang. Aku kembali ke sisi tempat tidurku, lalu meraih remote untuk menyalakan televisi. Aku pun sibuk memencet channel secara berganti-ganti. Sambil bermalas-malasan sejenak di atas springbedku.

Kuputuskan untuk menonton acara berita sore. Sambil menonton berita, kucoba kembali untuk menelepon Mande. Siapa tahu bisa kembali tersambung. Tiba-tiba kudengar reporter televisi menyiarkan berita tentang gempa. Yang membuatku kalut setengah mati, gempa dahsyat berkekuatan 7,6 SR itu mengguncang Padang Pariaman! Dan… kampung tempat kelahiranku yang terparah, sampai-sampai banyak rumah yang sudah rata dengan tanah

Ya Rabbi! Pikiranku langsung tertuju pada Mande. Bagaimana ini? Ingin aku segera pulang sekarang untuk memastikan keadaan Mande secara langsung. Aku tak mampu berpikir lagi. Bingung harus melakukan apa. Telepon tetap belum bisa tersambung. Ditengah kecemasanku, segera kuputuskan untuk menelepon Uni Upik

“Sudahlah Rusli, gak usah terlalu cemas begitu. Kita doakan saja tak terjadi apa-apa pada Mande.Uni akan menghubungi Udamu dulu. nanti akan Uni kabari lagi.”

“Baiklah Ni, kabari Rusli bila ada perkembangan,” jawabku panik.

Seharian aku gelisah di kostku. Menunggu kabar selanjutnya dari Uni. Tapi belum ada berita apapun yang melegakanku. Selepas maghrib akhirnya Uda War datang ke kostnya bersama Uni Upik. Membicarakan apa rencana kami selanjutnya. Uni Upik Dan Uda War menyuruhku pulang lebih dulu. Dimana setelah urusan mereka kelar, barulah Uni dan Udanya menyusul ke kampung dalam segera.

Menjelang malam hari mataku sulit terpejam. Bahkan disaat jarum jam sudah menunjuk pukul tiga tengah malam. Aku bangun dan segera meminum segelas air mineral untuk menenangkan pikiranku. Besok aku akan bolos kuliah untuk bertolak ke Pariaman. Bagaimana mungkin aku hanya menunggu saja disini tanpa ada kepastian tentang keadaan Mande. Bagaimana kalau rumah Mande turut hancur ditimpa longsor akibat gempa yang mengguncang dengan sangat kencang? Kira-kira dimana Mande waktu terjadi gempa? Apakah sempat lari keluar rumah menyelamatkan diri? Atau sebaliknya? Tidak! Aku tak kuat membayangkan seandainya Mande terkurung reruntuhan rumah dan…aku semakin takut membayangkannya.

Aku terbayang wajah Mande saat melepaskanku di Bandara. Belum pernah Mande memelukku berulang-ulang kali dengan erat. Seakan–akan begitu berat melepas diriku. Adakah itu pertanda pertemuan terakhir kami? Tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk pada nasib Mande. Bagaimanapun, takdir di tangan Allah. Aku tidak pantas mendahului takdir. Untuk menenangkan hatiku, aku terus berdoa tak henti-hentinya, sambil memejamkan kedua mataku.

“Baik-baik kamu dirantau ya Nak, dan jangan pernah meninggalkan solat lima waktu,” pesan Mande sambil berurai air mata.

“Pasti Mande,” jawabku membalas pelukan Mande.

Mengingat itu, Rusli pun sesengggukan diatas tempat tidurnya. Dan semakin tak sabar menunggu datangnya pagi. Akhirnya, pagi yang ditunggu segera tiba. Rusli segera mandi dan setelah itu memasukkan baju ke tas ransel secukupnya. Dia memutuskan untuk naik bis saja, sebab pesawat belum ada yang terbang ke Padang karena berbagai alasan. Begitu sampai di terminal Rawamangun, dia segera menaiki bis jurusan Padang pariaman. Dan membayar tiketnya di dalam bis. Bis tak langsung berangkat, karena masih menunggu penumpang. Dia semakin tak tenang dan sedikit kesal. Tapi dia harus bisa bersabar. Yang penting lusa dia sudah sampai di kampungnya.

Begitu sampai di kampungnya, dia temukan sudah banyak orang-orang yang tinggal dipengungsian akibat rumahnya hancur, meski ada sebagian rumahnya cuma retak-retak saja. Hatinya begitu miris melihat banyaknya warga yang terluka parah. Ada yang kepalanya robek. Ada yang kakinya terpaksa diamputasi karena patah tertimpa reruntuhan selama dua hari. Sebagian lagi meraung-rauang karena sanak keluarganya masih tertimbun reruntuhan bangunan. Dia harus bergerak cepat, agar segera tahu bagaimana kondisi Mande dan rumahnya. Ya Tuhan!!! rumah Mande hancur 100%, pekiknya. Dimana Mande? Dia panik sekali, sebab tak seorang pun warga yang mengaku melihat keberadaan Mande.

Dia sudah hampir putus asa, karena tak berhasil menemukan Mande. Dia juga sudah mendatangi posko-posko terdekat, siapa tahu mereka pernah merawat Mande kalau memang Mande terluka. Tapi tak ada juga. Bagaimana ini? Rusli tak mampu berpikir lagi. Tiba-tiba dia teringat pada suatu tempat dimana Mande dulu sering kesana Yah…. siapa tahu Mande kesana, batinnya sedikit tenang. Begitu sampai di lokasi yang ia tuju, dia melihat seorang wanita seusia Mande sedang menangis di depan sebuah makam. Tak salah lagi, itu Mande!

“Habis Rusli…Habiss sudah semuanya! Mande sudah tidak punya tempat tinggal lagi di kampung Mande sendiri,”tangis Mande pun pecah dibahunya

“Sudahlah Mande, tak usah menyesali yang sudah tidak ada. Yang penting Mande masih ada bersama kita,” hiburku sambil memeluk Mande penuh rasa lega dan haru. Medio October 2009



dimuat di annida-online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut