novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Jumat, 30 Desember 2011

cukup cintamu, bang...



dalam mengarungi hidup ini

tak ada yang lebih membahagiakanku

selain bertemu dan jatuh cinta padamu, bang.....



dirimu hadir melengkapi hidupku

yang selalu sunyi akan cinta

tak dapat kusangkal

sejak dirimu hadir

hidupku jadi penuh warna



adakah kau tahu bang....

aku butuh cinta dan kasih sayangmu

dan kau selalu mencurahkannya padaku

terlalu besar kasih sayangmu bang...

hingga sulit terukur dengan apapun jua



kuingin kau tahu

diantara semua yang ada

cukuplah cintamu yang satu untukku



kan kuukir dalam benakku

semua perhatian dan cinta kasihmu

dengan pena cinta yang kumiliki

agar indah terganbar selamanya dihatiku

Senin, 26 Desember 2011

kaulah puisiku


selarik kata kugoreskan untukmu

pengabadian cintaku padamu

hingga tercipta puisi cinta ini untukmu



mengenyahkan lara cinta yang melanda

seiring waktu tersisa cinta yang berserak ini hanya untukmu

kan kurekam keikhlasan cintamu

biarlah dedaunan basah di taman hati kita menjadi saksi

ikatan cinta ini tak pernah mati



beribu puisi cinta kucipta untukmu

walau kaulah sebenarnya puisi itu

goresan tinta emasku

telah mencatat pengorbanan cintamu padaku



kaulah puisi cintaku

yang tercipta dalam diksi yang indah

dalam irama kehidupanku



takkan mampu kucipta lagi puisi cinta

karena kau sendirilah puisi hidupku

puisi cinta dihidupku

Minggu, 25 Desember 2011

first love forever love



cinta pertamaku

saat aku jatuh cinta padamu

bulan dihatiku yang dulu redup

berpendar indah menelusup



awan kelam dihari-hariku sirna

berganti sinar mentari yang cerah ceria

tak ada lagi kata-kata yang bisa kutuliskan selain ungkapan

betapa indahnya cinta yang kau pancarkan

disudut hatiku yang remang



cinta pertamaku....

saat panah asmaramu menembus jantungku

seolah bumi yang kupijak bergetar





pandangan matamu yang menusuk dalam

memporak porandakan laut hatiku yang tenang

bak ombak menggulung menyeretku ke pusaran cinta



cinta pertamaku, kaulah bulan, kaulah ombak dan kaulah bumi tempat cintaku berpijak

first love forever love

teardrops in heaven 6



Tanpa terasa, enam bulan sudah Bintang bekerja di Jakarta. Seperti janjinya, setiap bulan dia rutin mengirimkan surat sekaligus uang buat adik-adiknya. Uang gaji yang sengaja ia sisipkan untuk biaya sekolah dan kebutuhan kami. Bintang memang tak pernah berubah. Sebagai anak tertua, dia selalu menunjukkan tanggung jawab yang besar buat keluargnya. Tak terasa juga Upik dan Iqra sebentar lagi akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Iqra sedang bersiap-siap mengikuti UMPTN. Dia mengambil jurusan kedokteran di fakultas USU Medan.
Besar keyakinanku Iqra akan diterima mengingat selama ini dia rangking satu terus sejak dari SD hingga SMA. Tapi seandainya Tuhan menghendaki lain, aku terima apapun yang terbaik buat anak-anakku. Sementara Upik berusaha keras belajar agar bisa diterima di SMA negeri 1 Medan. SMA terfavorit dan terbaik di Sumatera utara. Sedangkan Rusli disuruh oleh Bintang berhenti bekerja untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di Medan. Betapa senangnya Rusli sebab selama ini dia sanagt suka dengan bahasa Inggris.
Selama bekerja di rumah makan Padang, Rusli memang sering membawa orang asing ke tempat kerjanya. Itulah yang membuat bosnya senang dengan Rusli. Niat Rusli untuk berhenti bekerja tak disetujui begitu saja oleh bosnya itu. Akhirnya Rusli diperbolehkan mengikuti kursus bahasa Inggris setelah pulang bekerja dari rumah makan. Rusli pun tak keberatan dengan perjanjian jam kerjanya tak lagi full time seperti dulu. Tapi hanya bekerja paruh waktu yaitu setengah hari saja. Bosnya tak bisa berkutik dan menyetujui permintaan Rusli. Betapa bahagianya melihat anak-anakku yang begitu giat dan tekun menuntut ilmu. Aku tahu, Bintanglah penyulut semangat mereka untuk tekun dan giat belajar. Bintang memang begitu perduli dengan dunia pendidikan. Adik-adiknya begitu mengidolakan Bintang.
“Mande, besok Iqra tes di kampus USU. Doakan Iqra yah Mande.”
“Pasti Mande doakan. Sekarang kamu tidurlah dulu. Hari sudah larut malam, gak baik belajar terus tanpa istirahat,” ucapku lembut.
“Iqra udah selesai belajarnya kok Mande. Iqra mau siapkan dulu alat-alat tes yang akan dibawa besok,” ucap Iqra sambil menguap lebar karena ngantuk.
“Adikmu Upik sudah tidur belum? Kok Mande gak mendengar suaranya. Biasanya dia membaca sambil mengeraskan suara,” tanyaku heran.
“Upik sudah dari tadi terbang ke alam mimpi Mande,” jawab Iqra sambil tertawa. Aku pun tersenyum mendengar jawaban Iqra dan segera menuju kekamar untuk memastikan ucapannya. Ternyata benar, Upik sedang tertidur pulas denga buku-buku yang masih berserakan diatas tempat tidurnya. Segera aku rapikan buku-buku Upik. Sebelum mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur.
Aku bergegas masuk kekamarku dan mendapati Abaknya yang sedang tidur nyenyak. Kupandangi wajahnya yang mulai keriput. Sisa-sisa ketampanannya masih terlihat meski usianya sudah beranjak senja. Rasanya tak percaya kalau aku akan menjadi istri keempat sekaligus terakhir baginya. Sedikitpun aku tak menyesal menikah dengannya. Karena selama menjadi istrinya, aku sudah puas mengecap bahagianya hidup berumah tangga. Meski di hari tuaku kemanjaan dan perhatian darinya tak lagi kudapat. Sekaranglah saatnya aku memperhatikan dirinya.
Tak bisa kubayangkan bagaimana nasibnya seandainya dia masih hidup menduda. Mengingat kelima anaknya dari istri-istrinya dahulu tak perduli lagi padanya. Inilah jalan terbaik dari Allah untukku dan suamiku. Dengan beristri lagi yaitu diriku, Bagindo Sulaiman ada yang merawat dan memperhatikan diusia tuanya. Akh, hidup benar-benar tak bisa diduga. Allah memang selalu tahu yang terbaik buat hambanya. Akupun memutuskan untuk tidur disamping suamiku dan memeluknya erat. Rasa takut kehilangan itu masih tersisa diusiaku yang sudah menua ini. Takut kalau suamiku akan lebih dulu meninggalkanku bila dilihat dari umurnya yang jauh diatasku.

10 tahun kemudian
Lengkap sudah kebahagiaanku sebagai seorang ibu. Iqra berhasil menamatkan kuliah kedokterannya. Upik berhasil masuk ke USU jurusan ekonomi. Mukhlis lolos masuk SMAN 1 mengikuti jejak Upik. Sedangkan Bintang sukses dengan perusahaan yang ia dirikan. Perusahaan dibidang event organizer yang mengurusi kegiatan seputar seminar bagi perusahaan-perusahaan besar. Bahkan usaha seminar Bintang masuk dalam sebuah majalah bisnis ibukota sebagai seminar dengan peserta teramai dan paling diminati. Bintang benar-benar bersinar bagaikan bintang kejora. Aku benar-benar bangga padanya. Hanya Yanuar yang semakin terpuruk nasibnya. Rumah makannnya terancam bangkrut akibat terlilit hutang yang lumayan besar. Dia benar-benar sudah menerima karma dari perbuatan durhakanya.
Hingga suatu hari,
“Bintang, sebaiknya kita pergi kedokter Nak. Mande lihat kamu lemas sekali. Wajahmu pucat,” ucapku cemas.
“Gak usahlah Mande, paling Bintang cuma kecapekan saja karena beberapa hari ini pekerjaan menumpuk.”
“Iya Uda, penyakit gak boleh dibiarkan,” ucap Upik yang sama khawatirnya denganku.
“Kalau begitu kamu minum obat dulu yah, biar lebih enakan.”
“Bintang gak mau ke dokter dan minum obat Mande. Semua obat itu kan racun. Paling besok Bintang sudah baikan. Mande gak usat terlalu panik. Bintang sehat-sehat saja kok.”
Aku hanya bisa pasrah mendengarnya. Bintang memang alergi kalau sudah berurusan dengan rumah sakit. Tapi keesokan harinya Bintang muntah darah. Aku pun memaksanya kembali untuk berobat kedokter.
“Bintang mau berobat tapi ke sinse aja Mande,” pintanya memohon.
“Baiklah Bintang, kalau memang itu yang kau mau. Aku pun menuruti keinginan Bintang.
Namun setelah 2 hari minum obat dari sinse, sedikitpun kondisi Bintang tak mengalami perubahan. Malah sebaliknya, bertambah parah. Tanpa menunggu lagi, segera kupaksa dia berobat ke dokter. Aku segera membawanya ke rumah sakit Haji Medan. Begitu sampai dirumah sakit, Bintang langsung dirawat inap.Demi melihat kondisinya yang parah dan begitu lemah.
Dokter langsung memeriksa kondisi Bintang. Dan, aku benar-benar tak siap mendengarnya. Hasil diagnosa mengatakan bahwa Bintang mengalami hepatomegarli yaitu pembengkakan hati. Dokter pun menganjurkan supaya Bintang segera di biopsy. Untuk mengetahui apakah ada indikasi kanker atau tidak. Aku menangis di dalam hati melihat kondisinya. Sedih sekali rasanya.
Keesokan harinya ditemani Upik, aku mengambil hasil biopsy Bintang dengan penuh rasa khawatir dan cemas.
“Umur anak ibu kemungkinan tinggal 6 bulan lagi sebab kanker yang dideritanya sudah stadium 4,” jelas dokter dengan wajah serius padaku dan Upik. Dunia disekelilingku terasa berputar-putar. Aku merasa tak mampu lagi berpijak diatas kakiku sendiri.
Ya Allah! Mengapa kau berikan cobaan seberat ini padaku. Apa salah dan dosaku? Kau tahu, aku tak bisa hidup tanpa Bintang anakku. Sanggupkah aku menjalani hidup tanpa orang yang begitu kusayangi? Setelah Abaknya tiada kini Bintang yang akan meninggalkanku untuk selama-lamanya.
“Apa kata dokter tentang kondisi Bintang Mande?” Tanya Bintang yang masih terbaring lemah.
“Kamu hanya perlu banyak istirahat dan minum vitamin Bintang, agar kondisimu lebih fit,” jawabku berbohong. Aku tak ingin Bintang tahu penyakit yang ia derita. Sebuah kanker ganas yang sebentar lagi akan merenggut hidupnya.
“Benarkan Mande, Bintang hanya butuh istirahat saja. Memang akhir-akhir ini Bintang terlalu bekerja keras mengurusi seminar.”
“Mande ingin keluar dulu, kamu istirahat dulu yah Nak,” ucapku sambil mengusap kepalanya. Begitu sampai diluar tangisku pun pecah dipelukan Upik.
“Upik mengerti dengan perasaan Mande. Percayalah Mande, Allah tidak akan mencoba hambanya diluar batas kemampuannya. Upik yakin Allah akan memberikan mukjizat itu pada Uda,” ucap Upik sambil memeluk tubuhku erat. Aku pun menangis sejadi-jadinya dipelukan Upik anak perempuanku.
Hari-demi hari keadaan Bintang semakin menurun drastis. Mulailah tumbuh benjolan-benjolan kecil di tubuhnya. Ada yang tumbuh di ketiak, dan ada yang dibawah lutut. Perut Bintang juga semakin lama semakin membesar. Bintang pun mulai mengeluh sakit diperutnya. Dokter hanya meresepkan obat penghilang rasa sakit untuk Bintang. Menurutnya, penyakit Bintang sudah tak bisa diobati lagi. Bahkan dikemo juga sudah percuma. Bintang hanya boleh mengkomsumsi vitamin. Obat-obatan lain sudah tak boleh diberikan karena sudah tak ada gunanya. Sebagai seorang ibu, hatiku begitu hancur mendengarnya.
Bukan hanya kondisi fisiknya saja yang semakin melemah. Kondisi psikis Bintang juga semakin menurun. Dia semakin sensitive dan mudah marah. Dia tak mau lagi disuntik. Juga sering menolak saat ingin dibersihkan badannya oleh perawat. Dia sering bilang bosan dirumah sakit terus. Yang setiap hari hanya bisa makan obat yang itu-itu saja. Hampir setiap malam dia mengeluh kepanasan. Kami pun berganti-gantian mengipasinya karena Bintang tak bisa tidur kalau tidak dikipasi. Bahkan hampir setiap hari Bintang minta air es. Tak perduli meski tengah malam sekalipun. Kami pun berusaha memenuhi keinginannya itu
Sampai akhirnya Bintang mengalami penurunan dalam kesadarannya. Dia sering tak ingat padaku dan adik-adiknya sendiri. Bagaikan orang yang terkena amnesia. Dia banyak lupa dengan orang-orang terdekatnya. Aku bertambah terpukul melihat keadaannya. Sakit sekali rasanya mendapati Bintang sudah tak bisa memberi respon seperti dulu. Meskipun semuanya karena keadaan, bukan karena kemauan Bintang. Hati ini menangis setiap hari melihat kondisinya yang semakin mengkhawatirkan.

3 bulan kemudian..
Disini ditanah merah, aku ucapkan kata terakhir didepan batu nisan anakku.
“Bintang anakku, sudah banyak air mata Mande yang keluar untukmu. Air mata bahagia saat melahirkan dirimu. Airmata bangga saat menyaksikan keberhasilanmu, dan air mata kesedihan saat menemani hari-hari terakhirmu. Menemanimu melewati hari-hari yang menyakitkan saat sakit kanker yang tak mengenal hati menggerogoti tubuhmu. Ini adalah air mata yang terakhir buatmu Nak. Karena setelah ini, Mande tak akan lagi mengeluarkan air mata untukmu. Mande akan mencoba untuk ikhlas dan sabar menerima kepergian dirimu. Semoga airmata Mande yang terakhir ini akan menjadi air mata surga. Air mata yang kelak akan mengantarkan Mande bertemu denganmu nanti disurga. Amin…Aku pun beranjak pergi dengan membawa harapan hidup yang baru bersama ketiga bintangku Upik, Iqra dan Mukhlis. Yang akan terus menjadi Bintang yang bersinar didalam hidupku. tamat

Terinspirasi dari kisah ibuku yang kisahnya masuk nominasi 20 pemenang diantara 30 ribu peserta dalam kisah 1000 blog tentang ibu bersama ungu dan chocolates.



Keterangan
Mande : ibu
Abak : ayah
Uda : kakak laki-laki
Ambo : aku
Manga : kenapa
Wa-ang : kamu

Selasa, 04 Oktober 2011

Tears In Heaven 5



Aku sudah hapal dengan watak Bintang yang begitu sensitive dan serius. Serta sulit begitu saja melupakan sakit hatinya. Tapi aku yakin Bintang tak pernah menyimpan dendam. Bintang hanya mudah terluka bila hatinya disinggung. Dan luka itu tak mudah kering dalam waktu sekejap. Butuh waktu bilangan bulan bahkan tahun untuk menyembuhkannya. Nampaknya watakku yang perasa menurun pada Bintang. Beda dengan adiknya Rusli yang lebih santai dan humoris.
Jadilah Setiap minggu Rusli menemani Abaknya makan direstoran Yanuar. Meski menurut Rusli Uda tirinya itu tak pernah turun menemui Abaknya yang sedang makan. Benar-benar tak punya hati, aku mendengus kesal mendengarnya. Untung Abaknya sudah gak ingat apa-apa, kalo gak hati orangtua mana yang tidak sakit dicuekin oleh anak sendiri. Tapi kami tak bisa mencegah keinginan suamiku untuk makan masakan Padang minimal setiap dua minggu sekali di rumah anaknya itu. Yang penting karyawannya si Yanuar sudah mengerti kalo yang makan adalah Bapak dari bos mereka. Mereka akan melayani dengan baik dan menyediakan lauk yang enak-enak yang ada direstoran itu. Gak lucu juga kan? masak anaknya punya rumah makan tapi Abaknya mati kelaparan. Jadi siapapun termasuk Yanuar tak bisa melarang keinginan Abaknya untuk bisa makan enak meski hanya dua minggu sekali.
Masalah satu selesai timbul masalah baru. Karena sudah menunggak uang listrik selama tiga bulan, akhirnya pihak PLN mengancam akan mencabut listrik dirumah. Aku kembali panik membayangkan rumah akan gelap tanpa cahaya lampu. Apalagi Bintang suka membaca, gak mungkin dia membaca di ruangan yang gelap gulita. Adik-adiknya Bintang juga tak bisa belajar kalau tak ada lampu. Andaipun dipasang lilin, tetap tak baik bagi mata mereka untuk membaca diruangan yang remang-remang.
“Bagaimana ini Mande? Upik kan mau ujian? Gimana bisa belajar. Mana Uda pulangnya nanti malam lagi,” sungut Upik kesal.
“Iya nih, Mukhlis juga sedang ujian kenaikan kelas. Kapan bisa belajar kalo lampu mati.”
“Untuk sementara kalian belajarnya siang hari saja dulu. Mande akan kerumah Etekmu di pasar merah. Siapa tahu dia bisa membantu kita. Kalian tunggu rumah yah.”
“Iya Mande,” jawab Upik dan Mukhlis serempak..
Aku harus mencari pinjaman uang untuk melunasi tunggakan listrik. Semoga Eteknya mau meminjamkan sejumlah uang yang diperlukan. Aku berharap besar saudara dari Abaknya Bintang mau membantu.
“Memangnya Uni mau minjam berapa?”
“Gak banyak Tek, hanya tiga ratus ribu saja,” jawabku senang. Karena akhirnya Eteknya bersedia meminjamkan.
“Tapi kapan Uni mau menggantinya?”
“Nanti kalo Bintang sudah dapat kerjaan Tek.”
“Bintang itu sarjana pak Ogah ya? Masak udah tamat masih nganggur,” cibir Etek Rohma.
“Cari pekerjaaan memang susah Tek. Tapi aku yakin, tak lama lagi Bintang pasti diterima bekerja,” jawabku tak enak hati. Meski amat tersinggung mendengar ejekannya, kucoba menahan hati demi uang tiga ratus ribu. Dan tanpa berlama-lama aku segera pamit pulang sambil menangis di dalam hati. Semoga masa-masa sulit ini segera berlalu dengan diterimanya Bintang bekerja, doaku tiada henti. Tanpa terasa, airmata membasahi kedua mataku yang sudah kabur. Segera kuputar langkahku menuju tempat pembayaran listrik. Bukankah semakin cepat dibayar, semakin baik agar listrik dirumah tak segera dicabut.
Begitu tiba dirumah, hari sudah sore. Tumben Bintang sudah ada dirumah begitu aku sampai.
“Mande darimana saja?”
“Dari rumah Etekmu meminjam uang untuk bayar listrik,” jawabku tersenyum. Mencoba menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Bagaimanapun Bintang tak boleh tahu betapa hancurnya hatiku mendengar sindiran tajam Eteknya.
“Kenapa Mande gak nunggu Bintang dulu? Biar Bintang yang pergi dari pada Mande harus keluar sampe sore begini. Bintang khawatir.”
“Sudahlah Nak, semuanya sudah beres kok. Kamu gak perlu terlalu mencemaskan Mande. Yang penting listrik dirumah kita gak jadi diputus.”
“Mande, Bintang benar-benar belum bisa membahagiakan keluarga kita. Bintang harus berbuat apa lagi agar kita segera terlepas dari kesulitan keuangan,” jawab Bintang lesu.
“Kamu jangan berputus asa Nak. Mande yakin kamu akan dapat pekerjaan tak lama lagi.”
“Itulah yang Bintang tunggu-tunggu Mande. Tapi sampai kapan? Sudah hampir satu tahun Bintang menunggu. Mengapa nasib baik belum juga berpihak pada Bintang? Bintang memang anak yang tak berguna! Ucapnya lagi.
“Bintang, kamu tak boleh menghukum dirimu sendiri. Banyaklah beribadah dan berserah diri padaNya. Mande tak pernah memaksa Bintang harus bekerja sekarang. Kalau memang Allah belum memberi, kita harus bisa terima Nak. Nanti juga tiba saatnya,” hiburku mencoba bersikap tegar dihadapan Bintang.
“Tapi Bintang gak tega melihat adik-adik yang kadang makan hanya berlaukkan garam seperti sekarang.”
“Kita harus tetap bersyukur Nak, yang penting masih bisa makan. Toh gak setiap hari adikmu makan tanpa lauk. Si Rusli masih suka membawa lauk sepulang dari tempatnya bekerja meski hanya sesekali.”
“Iya Mande, tapi kalo sampe bulan depan Bintang belum mendapat panggilan juga, Bintang akan merantau ke Jakarta dari pada menunggu terus tanpa kepastian. “
“Pergilah Nak, Mande tak akan pernah melarang. Yang penting kamu bisa menjaga diri. Sekarang kamu istirahatlah dulu, pasti capek karena sudah berjalan jauh untuk mengajar.” Bintang pun menurutiku. Setelah makan malam, dia segera masuk ke kamar dan menenggelamkan dirinya pada buku-buku. Hingga tertidur dengan buku menutupi wajahnya.
Aku sendiri tak dapat memejamkan mata. Hatiku masih sedih mengingat perkataan Eteknya tadi. Segera aku pergi berwudu’ dan menunanikan solat malam. Lalu berdoa dengan sepenuh hati.
“Duh Robbi! tolonglah kembalikan nama baik anakku Bintang. Aku tahu, dia sudah berusaha bekerja keras demi kami. Tapi usaha yang dia lakukan belum jua menampakkan hasil. Sebagai ibunya, hamba hanya bisa berdoa agar Kau memudahkan jalannya menuju kesuksesan. Kesukesan hidupnya dunia dan akhirat. Hanya kepadamu kami bergantung. Perkenankanlah permohonan hambamu yang lemah ini. Amin…”
Hari ini begitu cerahnya. Beda dengan hari-hari sebelumnya. Langit diterangi sinar mentari yang tak terlalu panas menyengat kulitku. Semangat baru seakan timbul kembali dihatiku. Entahlah, apa ini perasaanku saja. Kebetulan aku tak ada jadwal les privat hari ini. Aku akan kembali menata hidupku dengan menuliskan lamaran kerja yang baru. Tiba-tiba keasyikanku dikejutkan oleh suara tukang pos di depan rumah.
“Pos..pos..ada kiriman dari Jakarta,” teriak tukang pos nyaring. Seketika aku melompat dari tempat dudukku. Dan bergegas keluar kamar menghampirinya si tukang pos.
“Makasih yah pak,” ucapku riang setelah lebih dulu menandatangai surat tanda terima.
“Dari siapa Mande?” Tanya Bintang dari dalam rumah.
“Gak tahu Nak, tapi yang jelas dari Jakarta.”
“Mungkin saja surat panggilan kerja,” tiba-tiba Bintang sudah berdiri disampingku.
“Bintang buka dulu yah Mande, biar tahu isinya.”
“Bukalah, Mande sudah tak sabar.” Dengan hati-hati, ia sobek pinggir sampul surat yang berwarna coklat ditangannya. Tak lama kemudian,
“Akhirnya Bintang mendapat panggilan kerja dari perusahaan Perancis Mande,” ucap Bintang sambil memelukku senang.
“Alhamdulillaaahhh. Allah benar-benar mengabulkan doa Mande.”
“Bintang harus bersiap-siap untuk ke Jakarta besok. Soalnya tes wawancaranya dimulai minggu depan Mande.”
“Iya Nak, Mande akan bantu kamu bersiap-siap. Oh ya, kamu punya ongkos buat ke Jakarta?”
“Untuk ongkos ada kok Mande.”
“Tapi kamu perlu uang saku juga Nak. Untuk makan dan transfort selama di Ibukota. Kamu kan baru diterima bekerja, jadi belum menerima gaji kan?”
“Mande gak usah terlalu memikirkan hal itu. Bintang akan mencari pinjaman pada teman. Nanti setelah menerima gaji pertama akan Bintang lunasi.”
“Bintang, maafkan Mande yang gak bisa memberikan uang saku padamu. Andai saja perhiasan emas Mande belum terjual semuanya. Pasti kamu gak perlu bersusah payah seperti ini.
“Sudahlah Mande, Bintang gak papa kok minjam duit teman. Lagipula perhiasan Mande terjual buat menyekolahkan Bintang dan adik-adik juga. Bintang akan mengganti semua perhiasan Mande setelah Bintang bekerja dan menerima gaji nanti.”
“Gak perlu Nak, yang penting kamu dan adik-adik bisa berhasil. Itu sudah cukup bagi Mande.”
“Terima kasih yah Mande. Bintang sangat bersyukur memiliki Mande yang selalu mendorong Bintang untuk terus maju,” jawab Bintang tersenyum. Air mata haru membasahi kedua pelupuk mataku. Sungguh bahagia rasanya memiliki anak yang cerdas dan berbakti seperti Bintang.
Sepanjang hari, aku dan anak-anak menghabiskan waktu dengan hati yang riang. Seolah kedukaan dalam hidup yang kami alami kemarin sirna dalam sehari. Kami tak punya uang untuk merayakan keberhasilan Bintang dengan selamatan ataupun makan-makan. Malam harinya kami menghabiskan waktu dengan makan bersama dan berkumpul sambil bertukar cerita. Rusli, Upik, Iqra dan Mukhlis terus mengajak Bintang ngobrol. Mungkin karena besok mereka sudah berpisah. Jadi mereka habiskan waktu malam ini bersama Udanya. Biasanya mereka sudah tidur sebelum jam sembilan malam. Tapi malam ini meski jam telah menunjukkan pukul duabelas malam, mereka belum juga beranjak dari kamar bintang.
Bintang terus menanyakan pada adik-adiknya apa saja yang mereka butuhkan untuk keperluan sekolah. Bintang berjanji akan memenuhi kebutuhan mereka dengan rutin mengirimkan sebagian uang gajinya setiap bulan. Bintang juga menyuruh Rusli untuk berhenti bekerja dan meneruskan sekolah ke jenjang sarjana. Suara Upik, Iqra dan Mukhlis terdengar begitu semangat menyebutkan satu-persatu keinginan mereka. Aku menangis bahagia mendengar suara riuh mereka dari luar kamar. Begitu akrabnya mereka satu sama lain.
Begitu sayang dan perhatiannnya Bintang pada adik-adiknya. Sebuah berkah luar biasa yang Allah berikan untuk keluarga yang kumiliki. Sementara Abaknya Bintang sudah tertidur pulas. Dia seperti tak perduli dengan apa yang terjadi. Hidupnya hanya dihabiskan dengan makan, tidur, dan duduk diruang tamu melihat orang-orang yang lalu lalang. Sesekali anak-anak bergantian mengajak Abaknya jalan pagi atau sekedar menemaninya berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan rasa jenuh.
Menjelang larut malam, suasana mulai hening. Rupanya anak-anak sudah tertidur pulas karena lelah. Sementara aku masih terjaga dan berniat akan melakukan solat malam. Untuk mengadukan kegembiraan hatiku pada yang Kuasa sembari mengucap syukur pada-Nya atas diterimanya Bintang bekerja. Akupun segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudu’. Meski ditengah rasa kantuk yang tak tertahankan. Keesokan harinya, aku lebih sibuk karena harus mempersiapkan keberangkatan Bintang. Adik-adiknya Bintang juga sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Hanya Rusli yang menemaniku ke bandara dengan bolos bekerja.
“Uda, Upik ingin mengantarkan Uda ke bandara. Tapi Upik lagi ujian jadi gak bisa ditinggal.”
“Iqra juga Da. Nanti Uda sering-sering kirim surat ya?”
“Iya, itu sudah pasti. Kalian belajar yang rajin yah. Jaga Mukhlis baik-baik. Bantu Mande di rumah,” nasehat Bintang lembut.
“Mukhlis ingin dibelikan sepeda Da,” ucap Mukhlis manja.
“Kalau kamu nanti juara di sekolah, Uda akan kasih hadiah sepeda yang bagus. Jadi tetap semangat ya.”
“Iya Da, semangat!,” jawab Muhklis. Kami pun tertawa mendengarnya.
Setelah satu persatu adiknya Bintang pergi, kini giliran Bintang minta ijin pada Abaknya sebelum berangkat.
“Bak, Bintang akan ke Jakarta untuk bekerja. Bintang minta restu yah Bak.”
“Oh, Wa-ang? Pailah abak senang Wa-ang sudah diterima bekerja.” Tak berapa sesampainya di Bandara, pesawat datang tepat waktu. Bintang pun bersiap-siap untuk naik pesawat.
“Mande, Bintang mohon doa restu agar selama disana dimudahkan urusannya,” ucap Bintang sambil memelukku.
“Rusli, Uda titipkan adik-adik padamu. Jaga mereka baik-baik yah..”
“Sudah pasti Uda, gak usah khawatir,” jawab Rusli haru.
“Pergilah Nak. Doa Mande menyertaimu. Sering-sering kirim kabar yah?”
“Iya Mande, Bintang pamit dulu.” Aku pun melepasnya dengan berurai air mata. Berat rasanya harus hidup berjauhan dengan Bintang. Tapi hidup dan keberhasilan Bintang lebih utama. Aku harus kuat dan tegar melepasnya. Demi masa depan Bintang dan adik-adiknya. Kutatap terus punggung Bintang sampai hilang dari pandangan. Aku dan Rusli melepas Bintang dengan hati yang penuh harapan. Sebelum jauh, sekali lagi Bintang melambaikan tangannya dan tak menoleh lagi ke belakang.(bersambung)

Kamis, 29 September 2011

Teardrop In Heaven 4



Hari sudah larut malam. Namun Bintang masih berkutat dengan berkas-berkas lamaran kerjanya. Satu-persatu dia masukkan kedalam amplop untuk dikirim ke berbagai perusahaan besar di Jakarta. Sudah beberapa hari ini Bintang rajin mengirimkan surat lamaran kerjanya yang dibuat dengan sepenuh hati.
“Semoga tak lama lagi kamu mendapatkan panggilan kerja ya Nak.”
“Doakan saja Mande. Bintang yakin, begitu membaca curriculum vitae Bintang, pasti mereka tertarik,” ucap Bintang optimis. Aku tersenyum mendengar rasa percaya diri Bintang yang tinggi. Selain memiliki kemauan yang keras, Bintang memang tak mudah menyerah untuk mencapai keinginnanya. Semoga adik-adiknya Bintang bisa mengikuti sifatnya ini. Sebagai anak tertua, Bintang berhasil membuat dirinya menjadi panutan yang baik buat adik-adiknya.
Satu bulan sudah Bintang mencoba mencari kerja sejak lulus wisuda. Kegiatannya masih tetap sama yaitu membaca buku-buku, memberi les privat seperti biasanya sampai dia mendapatkan pekerjaan. Sepulang mengajar, Bintang memang lebih banyak dikamar menghabiskan waktu dengan membaca. Dia memang seorang kutu buku. Bukulah temannya selama ini. Kalau masih kuliah dia aktif di organisasi kampus. Tapi sekarang sudah tak aktif lagi dikegiatan keorganisasiannya. Hanya satu yang tak berubah dari Bintang. Dia tak akan mau makan bila tak diuruh lebih dulu. Apalagi kalau sedang asyik membaca buku. Dan aku tetap menyediakan makanan diatas meja seperti dulu meski lauknya tak semewah sewaktu Bintang masih kecil. Hanya saja kebiasaan Bintang untuk makan dengan cara dihidangkan sulit dihilangkan. Dan aku tetap senang melakukan itu semua buatnya. Karena bagiku Bintang akan terus menjadi anakku yang istimewa.
Waktu begitu cepat bergulir. Tanpa terasa enam bulan sudah Bintang terus mengirim surat lamaran kerja. Tapi hingga kini tak satu pun dari perusahaan tempat dia melamar memanggilnya. Kalau memang Bintang diterima pasti sudah mendapatkan surat panggilan untuk wawancara. Dan aku melihat kegelisahan dan kesedihan itu diwajahnya. Meski Bintang tak pernah mengenal kata menyerah. Tapi raut wajahnya tak bisa membohongiku kalau dirinya sedang gundah gulana.
“Kamu harus sabar Bintang. Mencari kerja itu memang tak mudah,” hiburku.
“Bukannya Bintang tak mau bersabar Mande, hanya saja Bintang heran masak tak satupun surat lamaran Bintang diterima. Lagipula, kita butuh banyak biaya Mande. Abak semakin tua dan sakit-sakitan. Siapa yang akan menanggung biaya hidup kita?”
“Masalah itu tak usah terlalu kau pikirkan. Kan masih ada Rusli yang sudah bekerja di restoran Padang. Sementara ini dia bisa membantu Mande mencukupi kebutuhan sehari hari kita.”
“Tapi Mande, Rusli dan adik-adik kan perlu meneruskan sekolah. Gak mungkin kan dia menjadi pelayan restoran terus? Kalau Bintang sudah bekerja dan mendapatkan gaji yang layak semua adik-adik termasuk Rusli harus bersekolah setinggi-tingginya. Minimal sarjana kayak Bintang.”
“Pasti Allah mendengar keinginanmu itu Nak. Mande yakin, Allah akan mewujudkan cita-cita tulusmu itu.”
“Terima kasih Mande, karena selalu memotivasi Bintang. Bintang akan terus berusaha melamar pekerjaan sampai Bintang diterima. Semoga tahun depan Bintang sudah bekerja disalah satu perusahaan besar di Jakarta.”
“Amin,” jawabku sambil tersenyum kearah Bintang yang kembali bersinar cerah. Tak lagi murung seperti hari belakangan ini.
Bintang semakin meleburkan dirinya dengan buku-buku bacaannya. Selain mengajar dan mencari kerja. Aku tak ingin mengusiknya kalo sedang serius belajar. Meski dia sudah tamat kuliah, tetapi keinginan untuk terus belajar tak pernah pudar sedikitpun. Bahkan dia tetap rajin membeli buku-buku meski hanya buku bekas untuk dia pelajari. Tentu saja uangnya dari hasil memberikan les bahasa inggris. Aku sendiri suka gak tega bila Bintang memberikan sebagian gajinya untuk biaya hidup dirumah. Padahal gajinya tak seberapa dibandingkan dengan biaya hidup yang ia butuhkan.
Sementara keadaan Abaknya semakin memprihatinkan. Di usianya yang semakin uzur, ingatannya tak sebaik dulu lagi. Penyakit pikun mulai menyerangnya. Dengan keadaan suamiku yang seperti itu, dia pun lebih banyak menghabiskan waktunya dengan duduk diruang tamu sendirian. Aku tak bisa menemaninya dalam waktu duapuluh empat jam karena harus mengurusi adik-adiknya bintang. Yah…Sejak suamiku terserang penyakit yang banyak diderita orang yang sudah berusia lanjut, otomatis aku tak bisa lagi mengandalkannya untuk membantuku memecahkan masalah demi masalah. Untuk itulah aku sering menyuruh Iqra adiknya bintang untuk menemani Abaknya duduk diruang tamu. Sembari sesekali mengajaknya berbicara. Sebab Abaknya suka pergi diam-diam tanpa tahu jalan pulang, karena dia sudah tak ingat lagi jalan menuju rumahnya sendiri.
Tak bisa disalahkan bila suamiku suka keluar tanpa permisi. Mungkin dia bosan dirumah seharian. Apalagi suamiku dulunya orang yang sangat aktif dan tak bisa diam. Alhasil bila Abaknya ngeloyor jalan keluar, terpaksalah dengan susah payah Iqra mengejarnya dan berusaha mengajaknya pulang. Meski awalnya marah-marah pada Iqra.. Tapi karena terus dibujuk, dia pun mau mengikuti Iqra.
Pernah suatu hari disaat kami lengah mengawasinya. suamiku berjalan keluar tanpa tujuan. Setelah berjalan cukup jauh, barulah kami sadar bahwa dia sudah tidak ada. Dengan kalut, aku mencarinya di jalan –jalan yang biasa ia lewati.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku bisa menemukannya sedang berjalan sendiri tak jauh dari lokasi sekolah anakku Iqra. Aku pun merasa sangat lega dan. segera menyeretnya pulang saat itu juga. Lagi lagi suamiku menuruti perintahku. Ibarat anak kecil yang ketahuan pergi keluyuran.
Lama-lama aku kasihan melihat suamiku sering duduk seorang diri. tanpa ada yang mau menemani. Apalagi kami selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Meski suamiku tak pernah nyambung bila berkomunikasi dengan siapapun. Termasuk dengan diriku.. Tapi aku berusaha untuk terus menemaninya dan mendengarkannya bercerita tentang apa saja. Yang membuatku takjub, dia masih ingat tentang masa lalunya. Meski ceritanya tidak runtut alias melompat-lompat. Aku tetap setia menyimaknya..
Dengan semangat berapi-api Bagindo Sulaiman berbagi kisah denganku, saat dia masih menjadi tentara. Akhirnya aku tahu bahwa dia pernah mengalami susahnya hidup dimasa belanda dan jepang.
“Kau tahu Layla? ambo pernah menyamar menjadi seorang petani agar tidak ketangkap oleh pihak kompeni. Tetapi ambo tertembak tentara belanda disaat ketahuan bersembunyi disebuah got.” Dengan penuh rasa bangga, dia menunjukkan padaku bekas tembakan di pangkal pahanya.
“Untunglah ambo bisa selamat Layla. Ambo lari sekencang-kencangnya dengan paha yang masih berdarah.” Lagi–lagi aku hanya bisa tersenyum miris mendengarnya. Miris mengapa suamiku tak lagi segagah dulu saat dia menjadi pejuang negara? Mungkin waktu itu aku masih sangat belia. Dan bertemu dirinya saat dia sudah menjadi duda.
Ternyata tak hanya itu kehebatan suamiku. Masih menurut Mande, dulu Bagindo Sulaiman sangat menguasai bahasa inggris, belanda dan jepang dengan baik. Dia juga hapal beberapa surat dalam alqur’an. Meski disaat pikun, dia hanya bisa mengucapkan ketiga bahasa itu secara sepotong-sepotong. Diam-diam di dalam hati, aku mulai kagum pada keberanian dan kecerdasan suamiku dulu.
Bagindo sulaiman juga bisa menyelesaikan sekolah hingga PGA (pendidikan guru agama) yang dijaman itu tamat SD saja sudah hebat, karena jarang yang bisa sekolah setinggi itu. Tak heran bila kepintaran suamiku dalam berbahasa asing menurun pada Bintang.
Dan hari ini keadaannya semakin memprihatinkan. Aku ingin segera memberitahu Bintang kalau abaknya tak bisa bangun dari peraduan. Kedua kakinya terus ditekuk dan susah untuk diluruskan. Aku benar-benar panik. Padahal Bintang baru pulang malam hari.
“Mande, lebih baik kita bawa Abak ke rumah sakit sekarang juga. Nanti setelah Bintang pulang, baru kita beritahu dia,” ucap Rusli cemas. Secemas diriku.
“Baiklah Rusli, ayo kita berkemas-kemas.” Segera kupersiapkan semuanya. Ku panggil becak dan segera kusuruh Rusli membopong Abaknya ke atas becak.
Aku duduk terpekur memandang suamiku yang kini terbaring dengan infus ditangannya. Dokter menyarankan untuk rawat inap karena pengakit gula suamiku kumat lagi. Suamiku harus menjalani diet rendah karbohidrat dan mengkomsumsi banyak makanan berserat agar gula darahnya bisa normal kembali. Memang pola hidup suamiku yang tak banyak gerak membuat tubuhnya mudah menimbun zat gula karena lebih banyak makan dan tidur tanpa aktifitas. Tubuh suamiku sempat naik beberapa kilo dalam sebulan.
Sore mulai beranjak malam. Aku masih setia menunggu Bintang. Mengapa dia belum datang juga? Apakah Bintang belum pulang dari mengajar? Aku menunggu dengan gelisah. Gelisah membayangkan dengan apa kami harus membayar biaya rumah sakit? Apalagi menurut dokter, Abaknya harus dirawat selama seminggu sampai kondisi kesehatnnya lebih baik. Kupandang wajah suamiku yang terlihat lebih kurus karena penyakitnya. Penyakit diabetes telah merenggut badannya yang tua dan lemah.
Andai Mande masih hidup, aku bisa berbagi duka ini dengannya. Duka betapa sedihnya melihat suami yang dicintai tak lagi seperti dulu. Yang tak pernah lagi memanjakan dan memperhatikan istrinya seperti waktu masih muda dulu. Yang tak bisa lagi memberikan tubuhnya sebagai tempat bersandar dari masalah hidup. Aku pun tertidur karena lelah dipinggir kasur. Sampai tak menyadari kalau Bintang sudah berdiri di sampingku.
“Mande, biar Bintang yang ganti menjaga Abak. Lebih baik Mande pulang untuk istirahat,” tiba-tiba tangan Bintang menyentuh pundakku. Dan membangunkanku dengan suaranya yang jernih dan lembut.
“Bintang, akhirnya kau datang juga. Mande benar-benar gak tahu lagi harus mencari uang kemana untuk biaya berobat Abakmu.”
“Mande, biar Bintang yang memikirkan semua biaya itu. Mande pulang saja dulu.”
“Tapi, apa cukup gajimu untuk membayar biaya rumah sakit yang tidak sedikit Nak. Dapat uang darimana lagi kamu?”
“Bintang akan mencari pinjaman Mande. Jadi Mande gak usah cemas lagi.”
“Begini saja, bagaimana kalau Uda mendatangi Ajo Yanuar yang baru membuka usaha restoran Padang. Aku dengar, restorannya maju pesat dan sudah memiliki cabang dimana-mana,” ucap Rusli tiba-tiba.
“Iya. Pasti ajomu tidak keberatan. Sekalian memberitahu dia bahwa Abak lagi sakit.” Aku pun kembali bersemangat, karena sudah menemukan jalan keluar sementara dari kesulitan biaya.
“Baiklah Mande, besok Bintang akan mendatangi Ajo Yanuar di restorannya. “
“Mande merasa lega kini. Kalau begitu Mande dan Rusli pulang dulu yah Nak. Kamu jaga Abakmu baik-baik disini.”
“Uda, besok pagi sebelum kerja aku mampir kesini, “ Rusli memohon pamit pada Bintang. Kami pun segera pulang takut malam bertambah larut.
Sesampainya dirumah, pikiranku terus ke rumah sakit. Rasanya mata sulit untuk kupejam. Meski keyakinan dihatiku bahwa usaha Bintang besok akan berhasil, tetap saja kekhawatiran itu menyergapku. Maklumlah, Yanuar hanya seorang anak tiri. Hubungan kami tidak begitu akrab, karena sedari kecil Yanuar ikut saudara dari ibunya dikampung. Apalagi semenjak buka restoran, jarang sekali Yanuar datang menjenguk Abaknya. Meski aku tahu dia sibuk mengurusi usaha barunya. Tapi Bagindo Sulaiman adalah Abak kandungnya. Yang kondisinya belakangan ini semakin menurun dan sakit-sakitan. Akh, aku hanya bisa berdoa’ agar semuanya berjalan seperti yang kuharapkan.
“Mande, bagaimana keadaan Abak? Upik besok ikut yah menjenguk abak,” tiba-tiba Upik sudah berdiri disampingku yang tengah duduk melamun. Upik memang dekat dengan Abaknya. Maklumlah sebagai anak padusi satu-satunya, Upik begitu dimanja. Dulu sehabis pulang bekerja, Abaknya selalu membawakan kue bingka kesukaan Upik. Sekarang setelah Abaknya mulai pikun, Upik tetap bermanja-manja bila didekat Abaknya. Meski abaknya sering bertanya “ Sia wa-aang”
“Ambo Upik Bak. Masak Abak lupo, “ begitu selalu jawab Upik. Kalau sudah begitu, Abaknya hanya bisa tergelak-gelak mendengarnya. Upik pun tak jadi marah karena dia paham ingatan abak tak sebaik dulu lagi.
“Jam segini Upik kok belum tidur juga? Besok kan harus sekolah,” bujukku.
“Upik gak bisa tidur Mande. Upik rindu sama Abak,” isaknya lagi.
“Ya sudah, besok sepulang sekolah Upik bisa pergi kerumah sakit bersama Iqra,” jawabku mencoba bersikap tenang. Padahal dihati ini masih penuh dengan gemuruh kesedihan dan ketakutan. Takut terjadi sesuatu pada abaknya Bintang.
“Sekarang Upik mau tidur, tapi harus ditemani Mande,” ucapnya manja.
Akupun tak berkutik dan segera mengikuti kemauan Upik. Kulihat Iqra tidur dengan pulas dikamar. Tak terasa adik-adiknya Bintang sudah mulai tumbuh besar. Sebentar lagi si Upik tamat SMP. Sedangkan Iqra sudah duduk dikelas tiga SMA. Sementara Mukhlis si bungsu sudah duduk dikelas 6 SD. Akh, semuanya sedang membutuhkan banyak biaya untuk sekolah. Semoga mereka bisa bersekolah setinggi-tingginya seperti Bintang.
Bintang melangkah sedikit ragu memasuki sebuah restoran yang terletak tepat dipinggir jalan besar. Pengunjung terlihat ramai memenuhi rumah makan. Bintang masuk dan melayangkan pandangannya ke seputar ruangan. Tampak taman yang cukup asri disudut ruangan. Membuat restoran Padang milik Udanya semakin semarak dan berkelas.
Para karyawan sibuk melayani pelanggan yang memesan nasi bungkus dan yang makan di meja. Disalah satu meja tersusun kotak-kotak yang sedang diisi oleh nasi dan lauk oleh salah satu karyawan. Pastilah untuk pelanggan yang memesan nasi di box. Jumlahnya sekitar ratusan kotak. Bintang terus menyapu pandangannya, namun Uda Yanuar yang dicarinya tak terlihat.
“Cari siapa Da?” Tanya salah seorang karyawan.
“Bos kalian ada?” Tanya Bintang hati-hati.
“Oh, Uda Yanuar? Ada diatas. Mau saya panggilkan?”
“Iya, saya ingin bertemu karena ada urusan penting.”
“Sebentar ya Da. Uda duduk aja dulu,” ucap karyawan itu ramah.
“Iya, makasih ya.” karyawan itu pun segera naik kelantai dua. Beberapa menit kemudian, tampak seorang lelaki setengah baya dengan tubuh yang sedikit tambun turun menemuinya.
“Oh, kamu Bintang. Tumben kamu kemari? Pasti perlu sesuatu yah?”
“Begini Uda, sekarang Abak dirawat dirumah sakit dan…”
“Dan kalian bingung gak punya duit untuk membayarnya kan?” Uda Yanuar menjawab sinis.
“Sebenarnya salah satu maksud Bintang datang kesini untuk meminta Uda menjenguk Abak selain yang Uda katakan barusan,” jawab Bintang sedikit terkejut melihat sikap Uda Yanuar yang angkuh.
“Bintang…Bintang…katanya kamu sudah sarjana, tapi kok gak bisa diandalkan. Lihat Uda. Meskipun cuma lulusan SMA, uang Uda jauh lebih banyak darimu. Buat apa susah-susah sekolah tinggi kalau akhirnya gak punya uang sepeserpun.”
“Uda! Kalau gak mau membantu membiayai Abak, jangan mencari-cari alasan. Abak itu kan orangtua Uda sendiri. Jangan dihubung-hubungkan dengan Bintang yang sampe sekarang belum dapet pekerjaan,” jawab Bintang emosi. Darahnya mendidih mendengar ucapan Uda tirinya itu.
“Hahahaha…jadi kamu merasa juga kalau dirimu tak berguna? Asal kamu tahu yah, Uda tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya berobat Abak. Sebab Abak sekarang sudah menjadi tanggung jawabmu,” jawab Uda Yanuar dengan senyum mengejek.”
“Uda benar-benar jauh berubah. Jangan sampe nasib Uda seperti si Malin kundang, karena sudah menyia-nyiakan orang tua sendiri. Permisi!” Bintang pun segera angkat kaki dengan muka memerah karena marah.
Sesampainya dirumah, Mande telah menunggunya dengan harap-harap cemas.
“Bagaimana Bintang? Kamu ketemu dengan Udamu?” Tanya Mande gak sabar.
“Bukan hanya ketemu Mande, Bintang malah beradu mulut dengan Uda Yanuar yang tak tahu diri itu,” jawab Bintang sambil meninju tembok dengan kepalan tangannya.
“Apa maksudmu? Mengapa kalian harus beradu mulut segala? Gak kamu bilang sama Udamu kalo abak sekarang dirawat dirumah sakit?” Tanya Mande heran.
“Karena itulah kami beradu mulut Mande. Sebab Uda Yanuar benar-benar sudah kelewatan. Masak sama Abaknya sendiri gak perduli. Jangankan membayar uang berobat, menjenguk Abak aja dia gak mau. Benar-benar sudah menjadi anak durhaka dia,” ucap Bintang dengan rahang yang masih mengeras karena geram.
“Masya Allah! Kenapa Uda tirimu itu jadi berubah? Padahal sebelumnya dia masih mau mengunjungi Abak dan adik-adikmu.”
“Orang kalau sudah diatas angin begitu Mande, jadi lupa diri. Dia kira hidup tanpa ridha orang tua akan berhasil? Lihat saja nanti kalau Allah sudah menjatuhkan hukumannya.”
“Kamu gak boleh ngomong begitu Nak. Kita doakan saja Udamu segera sadar dari khilafnya.”
“Bintang gak mendoakan Mande, tapi ngomong kenyataan. Sudahlah Mande, kita gak usah mengharapkan dia lagi. Bintang akan usahakan mencari pinjaman pada yang lain.”
“Tapi kamu mau minjam sama siapa uang sebanyak itu?”
“Bintang akan coba menemui bapaknya siBahar yang orang kaya itu Mande. Kebetulan si Bahar akrab sama Bintang. Dia pasti mau menolong.”
“Semoga yah Nak, soalnya Mande bingung memikirkan biaya berobat Abakmu yang berkisar lima jutaan itu.
“Doakan Bintang Mande, agar dimudahkan urusan ini,” ucap Bintang sambil menggengam kedua tanganku erat.
“Itu sudah pasti Nak. Apapun yang akan kau kerjakan, Mande selalu mendoakanmu.” Bintang pun kembali bersemangat.
Sudah satu minggu Abak dirumah sakit. Hari ini dokter sudah memperbolehkan suamiku pulang.
“Abak harus berpantang makan yah? Gak boleh banyak makan-makanan yang mengandung zat gula karena Abak diabetes,” ucap Bintang begitu suamiku sudah sampai dirumah.
“Tapi Abak masih bolehkan makan nasi Padang? Abak pengen sekali makan direstoran kayak dulu.”
“Ya sudah, Nanti Rusli akan ajak Abak makan direstoran tempat Rusli kerja. Tapi sekali ini saja yah Bak. Abak harus mulai berdiet,” ucap Rusli.
“Iya. Abak juga harus banyak gerak. Setiap hari harus jalan pagi. Nanti Upik temani Abak,” Upik berkata senang karena Abak sudah baikan.
“Rusli, lebih baik ajak Abakmu makan direstoran Ajo Yanuar. Siapa tahu bisa bertemu Ajomu nanti,” ucap Mande.
“Gak perlu Mande, Nanti dia kira Abak sengaja kita suruh makan direstorannya supaya gratis,” jawab Bintang gak suka.
“Memangnya kenapa? Wajar kalo Abak makan direstoran anaknya sendiri. Siapa tahu Abakmu rindu sama Ajomuu.”
“Abak kan sudah pikun Mande, pasti dia sudah gak ingat lagi sama Ajo Yanuar,” jawab Upik.
“Justru itu kita harus mengingatkannya dengan membawa Abakmu makan disana,” Mande terus bersikeras dengan ucapannya.
“Yah sudah, Nanti Rusli yang akan menemani Abak ke restoran Ajo Yanuar,” jawab Rusli mencoba menengahi.
“Terserah kamu Rusli, Uda sudah tak mau bertemu muka si Yanuar itu lagi. sakit hati ini masih belum hilang,” jawab Bintang. Sesudah berkata begitu, Bintang langsung masuk ke kamarnya dan kembali berkutat dengan buku-bukunya. Dunia yang bisa menenggelamkan semua rasa sesak didadanya.

Minggu, 25 September 2011

Teardrop In Heaven 3




Suatu hari sehabis pulang bermain, Bintang merengek-rengek agar dijinkan untuk berjualan es mambo. Terang saja aku heran dengan niatnya itu. Anak sekecil dia kok sudah minta berdagang.

“Sudahlah Layla, turuti saja permintaan Bintang,” jawab Abaknya saat kuceritakan tentang keinginan kuat Bintang.

“Tapi Uda, apa kata orang nanti? Mereka kira kita sengaja mempekerjakan anak sendiri untuk biaya hidup. Padahal hidup kita tidak kekurangankan?” aku berkata sedikit emosi.

“Untuk apa kita lebih memperdulikan orang lain daripada anak sendiri? Mungkin Bintang ingin belajar berdagang. Pastilah darah itu menurun dari aku,” ucap Abaknya bangga.

“Ya syukurlah kalau Uda memang setuju. Besok akan Layla buatkan es mambo untuk dijual oleh Bintang.”

“Gak perlu banyak-banyak Layla. Sekedar untuk membuat anak kita senang aja, karena keinginannya untuk jualan tersalurkan,” ucap suamiku tersenyum senang. Mendapati anak sulungnya memiliki darah berdagang seperti dirinya. Aku yakin, besok akan kulihat wajah senang itu juga di wajah Bintang. Saat tahu aku mengijinkannya jualan es mambo. Ada-ada saja keinginan Bintang. Buat apa juga susah-susah jualan. Padahal dari segi ekonomi Bintang tak pernah kekurangan. Uang jajan Bintang mungkin lebih besar dari untung yang ia dapat dari berjualan. Aku pun tersenyum melihat Bintang yang sedang tertidur pulas. Kuelus-elus rambutnya dengan penuh cinta.

“Bintang, besok kau akan mendapatkan pengalaman yang baru dalam hidupmu.” Aku pun tak dapat memejamkan mata selain menatap wajah Bintang kecilku. Rasanya sulit membayangkan Bintang harus berjualan disaat anak-anak lain sedang bermain-main dengan sepuasnya.
“Asyik…asyik..asyik…Bintang boleh jualan…. Bintang boleh jualan…Mande memang baik,” Bintang berkata sambil melonjak-lonjak kegirangan.
“Tapi jualannya jangan jauh-jauh yah sayang. Dekat-dekat sini aja,” perintahku lembut.
“Kalau ke pasar boleh gak Mande?”
“Ngapain sampe ke pasar Nak. Dekat rumah aja jualannya.”
“Tapi pasar kan dekat dari sini Mande. Boleh yah?” wajah Bintang memohon.
“Baiklah! Akan Mande antar kamu ke pasar. Yuk! Anak manis,” aku segera menggamit tangannya dan menemaninya sampai ke pasar.
“Sudah, Mande pulang aja. Biar Bintang jualan sendiri.”
“Benar Bintang berani sendiri?” tanyaku lagi dengan hati yang penuh was-was.
“Tentu saja Bintang berani Mande. Semua orang dipasar ini Bintang kenal,” jawab Bintang lantang. Aku pun sedikit lega mendengarnya. Benar juga pikirku.

Dulu kan Bintang sering dibawa ke pasar oleh Abaknya untuk melihat restoran. Aku masih ingat betapa orang-orang gemes dan sayang begitu melihat Bintang. Apalagi Bintang mau dengan siapa saja. Akhirnya sebelum pulang, aku titipkan Bintang pada orang-orang di pasar.

“Tenang saja Ni, kami akan mengawasi bintang selama dia berjualan,” jawab salah seorang yang kukenal.
“Makasih ya,” jawabku lega. Sebelum pulang, kuhampiri Bintang yang lagi duduk dipinggir pasar bersama orang-orang yang sudah familiar dengan keluarga kami.
“Bintang, jangan lama-lama jualannya yah Nak. Sebelum makan siang habis gak habis esnya harus sudah pulang,” nasehatku lagi sebelum meninggalkannya.
“Pasti habis es mambonya Mande. Lihat saja nanti,” ucap Bintang dengan semangat empat lima.

Aku benar-benar merasa bangga pada kemauan kuat Bintang. Lalu segera mencium pipinya sebelum pulang. Dari kejauhan kulihat orang-orang mengerubungi anakku. Orang-orang tertawa senang menyaksikan Bintang yang tengah bernyanyi dengan lincahnya.
Siang harinya Bintang kembali kerumah dengan wajah yang berbinar-binar.

“Mande! es mambo Bintang sudah habis nih,” ucapnya girang sambil menunjukkan kotak termos es padaku.
“Wah, Bintang memang hebat!
“Orang-orang mau beli es mambo asalkan Bintang mau disuruh menyanyi Mande. Jadi Bintang menyanyi aja asalkan esnya dibeli,” jawabnya polos.
“Oh, begitu ceritanya. Pantesan esnya cepat laku,” gelakku sambil memeluk Bintang. “Karena Bintang sudah capek berdagang, pasti sekarang perutnya lapar. Iya kan?” tanyaku dengan hati yang bungah karena bahagia.
“Iya Mande. Sekarang Bintang mau makan dulu dengan daging rendang yang banyak.”
“Sudah Mande siapkan diatas meja. Tapi Bintang cuci tangan dulu yah,” perintahku lembut.
“Oke Mande.” Bintang pun segera mengambil sabun dan mencuci tangannya hingga bersih. Setelah itu segera duduk menghadapi piring dan aneka lauk diatas meja. Dengan lahapnya Bintang menghabiskan nasinya. Aku tersenyum menyaksikan itu semua. Bintang kecilku ternyata benar-benar lapar.

20 tahun kemudian
Aku masih menunggu Bintang dengan gelisah. Sudah selarut ini dia belum juga kembali. Dari tadi pikiranku tak tenang. Sementara adik-adiknya Bintang telah terbang ke alam mimpi. Tiba-tiba kulihat sesosok lelaki jangkung memasuki halaman rumah. Aku bernafas lega. Bintang akhirnya pulang juga.

“Darimana saja kamu Nak. Mande khawatir sekali jam segini baru keliatan,” sambutku di depan pintu.
“Seperti biasa Mande, Bintang harus memberi les privat dulu pada murid-murid Bintang. Apalagi rumah mereka jauh-jauh. Jadi Bintang kemalaman terus sampai dirumah,” jawab Bintang sambil mencium tanganku.
Meski kagum pada kegigihannya, tapi jauh dilubuk hatiku merasa trenyuh melihat keadaan Bintang yang sekarang. Memang Bintang tetap menyinari hari-hariku dengan kepintarannya. Hanya saja fisiknya tak lagi seberisi dulu. Terlihat semakin kurus dengan warna kulit yang lebih hitam. Maklumlah, rumah murid-muridnya sangat jauh. Bahkan pernah bintang berjalan kaki disaat tak punya uang transfort. Rambutnya yang ikal terlihat gondrong karena Bintang tak punya waktu lagi untuk pergi ke tukang pangkas.

Akh, sejak restoran terbakar, abaknya Bintang hanya bisa kerja serabutan. Untuk memulai usaha lagi dari awal sudah tak mampu. Mengingat usianya yang semakin menua. Kondisi fisiknya tak lagi memungkinkan untuk bekerja keras. Selain tak punya modal yang cukup. Dan kini abaknya sudah tak lagi bekerja. Beban keluarga pun berpindah ke pundak bintang. Sementara Adik-adiknya Bintang masih kecil-kecil. Walau yang sudah agak besar seperti Adnan dan Rusli tak lepas tangan. Tapi hanya bintang yang bisa diandalkan.

Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa mendorong dan mendoakannya. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak pernah bekerja mencari nafkah. Sepanjang hidupku kuhabiskan untuk mengurus keenam orang anak yang lahir berturut-turut dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Begitu anak-anak sudah besar, aku tak memiliki keahlian apa-apa. Selain mataku yang semakin rusak dan kabur, waktuku juga tak memungkinkan untuk mencari nafkah. Apalagi sekarang Abaknya sering sakit-sakitan. Otomatis waktuku habis untuk mengurusnya.

Masa-masa sulit harus kualami dalam membesarkan adik-adiknya Bintang. Aznan putra keduaku tak sesehat dan sesempurna bintang. Ketika duduk dibangku SMP sebuah musibah menimpanya. Kepalanya geger otak sehabis berkelahi dengan teman sekolahnya. Akibat lemparan batu yang tepat mengenai kepala belakangnya. Ditambah lagi penyakit malaria akut yang menimpanya. Tak jarang disaat panasnya tinggi, Aznan suka mengamuk karena panasnya sampai ke otak. Perabotan rumah hampir setiap hari hancur berantakan akibat amukannya. Akhirnya Allah memanggilnya di usia yang masih belia. Meski sangat sedih dan hancur, aku mencoba mengikhlaskan kepergian adiknya Bintang.

Allah mungkin lebih tahu tentang diriku. Seandainya Aznan terus hidup, dia akan terus menyusahkanku dengan penyakitnya itu. Karena selama hidupnya, Aznan sering mengamuk dengan menghancurkan perabotan rumah. Juga sering melempari orang-orang sekitarnya disaat panas tinggi menghinggapi otaknya. Hingga aznan melampiaskan rasa sakit yang dia rasakan dengan amukan. Airmataku pun sudah kering dalam menghadapinya. Mungkin inilah jalan keluar terbaik dari Yang Kuasa pada seorang ibu yang tiada daya sepertiku. Yang aku sendiri tak mungkin sanggup memikulnya terus. Aku tahu Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Aku yakin selalu ada hikmah dibalik setiap masalah yang kualami.
Adik bungsu Bintang lain lagi masalahnya. Dia sering mengeluh merasakan sakit dibagian perut dan dadanya. Bolak-bolak aku membawanya ke dokter. Tapi tak kunjung sembuh jua. Yang lebih mengejutkan lagi, setelah diperiksa luar dalam tak ditemukan penyakit apapun. Benar-benar diluar jangkauanku sebagai seorang manusia. Hingga suatu hari aku menemukan sebuah kain yang dibungkus rapi. Begitu dibongkar terlihatlah isi yang sungguh aneh. Beberapa buah jarum dan serbuk besi terbungkus didalamnya. Oleh orang pintar Mukhlis dibilang terkena santet.
Akh, aku tak ingin menduakan Tuhan. Lagipula siapa yang sudah begitu tega berbuat itu padaku dan anakku? Aku merasa tak pernah memiliki musuh. Kupasrahkan semua pada Ilahi. Kubawa adiknya Aznan berobat ke seorang ustad. Setelah diterapi dan didoakan, akhirnya penyakit Mukhlis bisa disembuhkan.
Takdirkah ini semua? Aku tak pernah menyesal pernah menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua. Hingga saat anak-anakku beranjak dewasa suamiku sudah begitu renta. Dan kini menjadi beban tanggung jawabku dan anak-anak untuk mengurusnya.
“Bintang. Kamu jangan terlalu memaksakan diri mencari penghasilan tambahan Nak. Kan masih ada Rusli adikmu yang juga bekerja. Mande takut kau nanti jatuh sakit,” ucapku khawatir.
“Tidak apa-apa Mande. Bintang baik-baik saja kok,” jawabnya tersenyum.
“Kamu tak perlu berjalan sejauh itu setiap hari Nak. Jangan terlalu menghemat uang ongkos demi kami yang ada dirumah.”
“Bintang sudah terbiasa berjalan jauh kok Mande. Meski lebih capek, tapi kaki bintang jadi semakin kuat,” ucap Bintang lagi.
“Tapi kalau terlalu capek, kamu tak bisa belajar dengan baik. Karena begitu sampai dirumah langsung tertidur karena letih. Bisa-bisa pelajaran kuliahmu terbengkalai.”
“Jangan terlalu cemas Mande. Bintang bisa belajar dimana saja. Bahkan di dalam kendaraan sekalipun,” jawabnya mencoba menghiburku. Aku hanya bisa pasrah mendengar jawaban cerdas Bintang. Dia semakin dewasa di usianya yang sekarang.
Itulah Bintang. Meski ditengah keadaan ekonomi keluarga yang semakin morat-marit, dia tetap ngotot untuk terus melanjutkan kuliahnya. Dia memiliki cita-cita yang sanagat tinggi yaitu ingin bersekolah ke luar negeri. Dia juga berambisi untuk bisa mengantarkan adik-adiknya kejenjang sarjana. Untuk itulah Bintang mencari uang sendiri dalam membiayai kuliahnya. Disamping untuk membantu ekonomi keluarga.
Aku begitu bahagia memiliki anak seperti Bintang. Selama hidupnya Bintang selalu menghiasi hidupku dengan kecerdasannya. Dia selalu rangking disekolah. Hingga bisa masuk ke sekolah favorit dari mulai SD hingga kuliah. Yah, Bintang diterima di fakultas negeri jurusan ekonomi dengan skor yang tinggi. Ketekunan dan kesukaannya pada bukulah yang membuatnya selalu menjadi nomor satu disekolah. Memang sejak kecil Bintang suka membaca. Bahkan kertas bungkus belanjaan pun tak luput ia baca. Hingga sedari kecil dia sudah kubelikan buku-buku cerita agar minat bacanya tersalurkan. Sekarang Bintang sudah menjadi lelaki dewasa yang penuh tanggung jawab. Aku semakin bangga padanya.

Hari ini kami sekeluarga begitu berbahagia, karena Bintang akan diwisuda menjadi seorang sarjana ekonomi. Aku, suamiku, juga adik-adiknya Bintang datang untuk menghadirinya dengan sukacita. Pagi-pagi sekali kami sudah sampai dikampus Bintang. Meski acara belum dimulai, kami menunggu dengan sabar dan senang. Berkali-kali kutatap wajah Bintang yang sedang berbinar-binar bahagia.
“Sebentar lagi kerja kerja kerasmu akan terbayar Nak. Mande bangga sekali padamu,” ucapku sambil memegang erat tangan Bintang.
“Iya Mande. Tak sia-sia usaha keras Bintang selama ini. Ini semua Bintang lakukan demi Mande dan adik-adik. Bintang akan segera mencari kerja setelah ini. Doakan Bintang yah Mande,” ucap Bintang sambil menatapku bahagia.
“Tentu saja Nak. Mande tak akan pernah berhenti mendokanmu,” jawabku sambil tersenyum. Senyum bahagia yang sulit kulukiskan. Tak lama lagi Bintangku akan semakin bersinar dalam hidupnya.
Tiba saatnya acara wisuda dimulai. Kami segera masuk ke dalam atrium yang cukup besar. Tamu-tamu undangan sudah banyak yang hadir. Mereka para orangtua siswa dan teman-teman siswa yang hendak diwisuda. Satu-persatu para wisudawan naik ke atas panggung saat dipanggil. Pas giliran Bintang yang naik, kami sudah bersiap-siap hendak memotretnya. Air mata haru menetes dikedua pelupuk mataku, saat melihat Bintang memakai toga dan dilantik untuk diwisuda. Kulihat mata Abaknya berkaca-kaca. Adik-adiknya Bintang tersenyum gembira melihat Udanya yang terlihat gagah saat diwisuda.
Setelah acara wisuda selesai, kami segera mendekati Bintang. Memeluknya dan memberinya ucapan selamat. Sebagai ungkapan kebahagiaan, kami berfoto bersama. Bintang juga menyediakan dirinya untuk difoto oleh teman-temannya. Mereka saling berangkulan dan memberi ucapan selamat.
“Apa rencanamu setelah ini,” Tanya salah seorang teman Bintang.
“Aku mau cari kerja ke Jakarta Wan, kamu sendiri?” Tanya Bintang.
“Aku mau melanjutkan S2 ke Amrik,” jawab Wawan.
“Aku juga ingin melanjutkan S2 Wan, tapi gak sekarang. Aku harus cari kerja dulu agar punya bekal untuk itu. Maklumlah aku tidak sekaya kamu Wan.”
“Kamu kan bisa sekolah ke luar negeri dengan mencari beasiswa. Apalagi otakmu encer. Coba-coba aja Bintang. Aku yakin kamu bisa lolos.”
“Kamu bisa aja Wan. Nantilah aku pikirkan hal itu. Yang terpenting sekarang aku hendak mencari pekerjaan dulu.”
“Semoga semuanya lancar yah,” ucap Wawan sebelum pamit pergi. Aku yang mendengarnya merasa terharu. Ternyata Bintang tetap menyimpan cita-cita yang sangat tinggi Semoga Bintang bisa mewujudkannya suatu hari nanti. Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa mendoakannya. Setelah selesai berfoto-foto dan saling bertukar cerita dengan teman-teman wisudanya, Bintang pun mengajak kami pulang. Sepanjang perjalanan, masih tersisa binar-binar keceriaan itu di wajah Bintang. Selama didalam mobil, dia terus bercerita dengan penuh semangat tentang rencana hidupnya yaitu ingin segera membahagiakan aku dan adik-adiknya.

Kamis, 22 September 2011

Teardrop In Heaven Part 2




Suatu hari sepulang bekerja dari restoran, Mande membawa berita yang mengejutkan bagiku dan Mande. Mengejutkan bagiku karena aku benar-benar tak ingin mendengarnya. Sementara bagi Mande berita inilah yang sudah lama ia tunggu-tunggu.

“Kamu mau kan Layla?” Tanya Mande penuh harap padaku. Mencoba mendengar kepastian itu dari mulutku.
“Bukan aku tidak mau Mande, tapi mengapa secepat ini? jawabku sambil menghapus kristal-kristal putih yang menetes di kedua pipiku.
“Soalnya Bagindo Sulaiman tak ingin berlama-lama menunggu. Kamu harus tahu Layla, bagi seorang duda tanpa seorang istri dalam jangka waktu yang lama sungguhlah berat. Bagindo Sulaiman begitu kesepian.”
“Tapi Layla belum siap Mande,”jawabku masih terisak.

Sepertinya keputusan Mande sudah final. Dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Mande memang seorang ibu yang begitu sayang dan perhatian padaku. Tapi Mande juga seorang ibu yang keras dan tegas dalam mendidik anaknya.
Meski aku tahu tujuan Mande baik dengan menjodohkan aku dengan lelaki pilihannya. Tapi bagaimana dengan rasa cintaku pada Ardy? Benarkah cinta bisa tumbuh di kemudian hari? Diam-diam aku menyusun sebuah rencana. Aku harus membatalkan lamaran ini dengan caraku. Ini menyangkut masa depanku sendiri. Aku tak akan menyerah begitu saja. Meski kutahu setelah ini Mande akan kecewa padaku.

Keesokan harinya. Kumasukkan baju beberapa helai ke dalam tas. Semua perlengkapanku sudah tersimpan rapi di dalamnya. Kuputuskan siang ini untuk kabur dari rumah, mumpung Mande belum pulang dari restoran. Kukuatkan hati untuk pergi. Tak ada lagi yang bisa menahanku di rumah ini. Aku berbuat nekat seperti ini agar Mande tahu bahwa aku serius dengan keputusanku. Aku tak bersedia menerima lamaran Bagindo Sulaiman. Setelah kurasa aman sambil celingak-celinguk ke kiri dan kekanan, akupun keluar dan mengunci rumah dari luar.

Dengan cepat segera kulangkahkan kaki tanpa melihat ke belakang. Aku harus berpacu dengan waktu sebelum ketahuan oleh orang-orang. Dadaku berdegup sangat kencang. Nafasku tak beraturan. Perasaan was-was, panik dan takut berkecamuk dibenakku. Aku harus segera pergi meninggalkan kampung ini dan Mande. Tiba-tiba langkahku terhenti sejenak, saat berpapasan dengan salah seorang tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumahku.

“Hendak kemana kau Layla dengan tas sebesar itu?” Tanya Rida heran.
“Oh, aku hendak pergi ke rumah Etek di Padang ,”jawabku gugup
“Tumben Mandemu gak ikut mengantar. Tapi hati-hati yah di jalan,” ucap Rida lagi. Aku pun mencoba bersikap tenang dan menjawab seadanya.
“Makasih ya Rida aku sedang buru-buru nih. Aku duluan yah,” ucapku sedikit panik. Rida semakin heran dengan sikapku. Begitu Rida berlalu dari hadapanku, segera kuambil langkah seribu. Aku tak ingin semua rencana kaburku ini sampai gagal total. Aku harus segera sampai di ujung jalan untuk menyetop angkutan yang akan membawaku ke terminal bukit tinggi. Setengah berlari, kupacu jalanku agar segera sampai.Tiba-tiba seseorang memanggilku lantang dari belakang.

“Layla! Mau kemana kau?”
“Mande….” Desisku lemes. Buyar sudah rencanaku.
“Layla, apa yang kaulakukan? Mengapa kau ingin pergi diam-diam?” Tanya Mande bertubi-tubi setelah jarak kami begitu dekat.
“Maafkan Layla Mande. Layla ingin kabur dari rumah karena… “
“Karena ingin menghindar dari lamaran itu kan? Pulanglah Nak! Kau berhak menentukan hidupmu. Mande tak akan memaksamu lagi. Lebih baik Mande melihatmu tak jadi menikah daripada harus kau tinggalkan Layla,” ucap Mande sambil bersimbah air mata. Aku pun segera memeluk Mande dengan rasa bersalah.

Setelah Mande berterus terang, Bagindo Sulaiman tak jadi datang melamar. Tapi dia tetap datang ke rumah dengan alasan tak ingin putus tali silaturahmi dengan Mande. Lama-lama hatiku jadi simpatik melihat kebaikan Bagindo Sulaiman. Ternyata selama ini sikap baiknya pada kami benar-benar tulus. Tapi apa balasan yang sudah kuberikan? Meski Mande menuruti keinginanku untuk tak jadi menikah. Tapi wajah Mande tak bisa menipuku bahwa sebenarnya ia kecewa dengan keputusanku. Hanya saja Mande tak ingin melihatku sedih dan menderita dengan pernikahan paksa. Dan aku tak sanggup melihat wajah Mande yang tak lagi secerah kemarin.

Mande terlihat lebih murung dari biasanya. Bagaimana ini? apa yang harus kulakukan? Mengapa aku begitu egois? Padahal Mande sudah berusaha keras ingin membuatku bahagia. Pasti Mande memiliki keyakinan yang kuat bahwa Bagindo Sulaiman mampu membahagiakanku. Sebab dia sudah mengenalnya luar dalam. Lewat persahabatan mereka yang harmonis selama ini. Sementara aku hanyalah anak bau kencur. Yang belum banyak pengalaman dalam mengenal orang lain. Buktinya Ardy yang kucintai tak pernah lagi muncul batang hidungnya. Kupikir Ardy tak pernah serius berhubungan denganku.
Aku hanyalah seorang wanita yang tak memiliki apa-apa. Tak memiliki karir dan kesibukan berarti selain mengurus rumah dan bermain-main. Apalagi yang harus kutunggu? Untuk ukuran orang kampung sepertiku menikah adalah pilihan terbaik. Apalagi bila Tuhan telah mendekatkan jodohku. Akhirnya disaat berdua dengan Mande, kuberanikan diri untuk mengatakan isi hatiku yang sebenarnya.

“Mande. Layla bersedia kok, menikah dengan calon pilihan Mande.”
“Maksudmu dengan Bagindo Sulaiman?”
“Iya Mande dengan duda itu. Tapi Layla punya satu permintaan.”
“Apa itu Layla? Katakan saja,”ucap Mande sambil mengusap rambutku.
“Bila setahun setelah menikah Layla tak juga bisa mencintai Bagindo Sulaiman, Layla bolehkan minta cerai?”
“Pernikahan bukanlah lembaga uji coba Layla. Pernikahan sebuah lembaga yang suci dan sakral. Bukan hal main-main.”
“Layla hanya ingin mengetahui apa benar Bagindo Sulaiman jodoh Layla. Itu saja.”
“Baiklah! Nanti akan Mande sampaikan pada Bagindo Sulaiman. Mudah-mudahan dia mau mengerti,” ucap Mande lembut.

Tiba-tiba dadaku yang tadinya terasa berat menjadi lebih ringan. Seolah-olah beban berat itu terangkat dari tubuhku. Aku tak ingin lagi mengeluarkan air mata. Selain air mata dihari pernikahanku nanti. Airmata yang kelak akan membawaku ke surga. Demi baktiku pada Mande yang kucinta. Aku pun segera menutup hatiku pada pria lain termasuk Ardy kekasihku.

Setahun kemudian
Seorang perawat muda masuk kedalam kamarku sambil membawa seorang bayi mungil.
“Dia tampan sekali Layla. Hidungnya bangir sepertimu. Rambutnya ikal dan hitam seperti rambutmu. Namun keningnya lebar seperti suamimu,” Mande berkata dengan wajah sumringah.
“Mungkin anak Ibu haus. Dari tadi menangis terus,” ucap perawat sambil menyerahkan malaikat kecilku. Kuterima dengan dada yang membuncah senang. Dan segera tangis anakku berhenti begitu kususui.

Yah, hari ini tepat tanggal 5 desember aku melahirkan seorang anak lelaki yang tampan. Kulitnya kuning bersih, hidungnya mancung dengan rambut ikal yang indah. Kuberi dia nama Bintang. Kelak dia menjadi bintang yang paling bersinar diantara semua bintang yang kumiliki. Kutatap matanya yang menatap manja kearahku. Begitu indah dan polos. Terpancar kecerdasan dari kedua matanya yang bulat dan hitam.

Kakinya menendang-nendang kuat kearah perutku saat menyusuinya. Dengan lahap, bintang terus menghisap asiku. Seketika kebahagiaan mengalir keseluruh pembuluh nadiku. Membuatku tak dapat menahan tangis haru yang keluar begitu saja saat menatapnya. Airmata syukur dan haru bercampur menjadi satu. Lengkap sudah kebahagiaanku.

Yah, aku memang tak jadi meminta cerai pada Bagindo Sulaiman. Karena cinta itu perlahan-lahan tumbuh dihatiku. Berkat kelembutan dan kesabarannya dalam menghadapiku. Kuputuskan untuk terus mendampinginya hingga akhir hayat menjemput. Sedangkan kelima anak tiriku tak ikut bersama kami. Tapi tinggal bersama sanak saudara Bagindo Sulaiman dikampung.

Alangkah cepatnya waktu berlalu. Tanpa terasa, Bintang sudah berumur lima tahun. Kelincahan dan kecerdasannya tumbuh pesat. Selalu bergerak aktif kesana kemari tanpa mengenal lelah. Energinya seakan tak pernah habis. Aku sering kewalahan menghadapinya. Sejak Bintang mulai bisa berjalan, aku tak boleh meleng sedikitpun. Sebab Bintang senang melompat-lompat dan berlari. Tak sekali dia jatuh dan lututnya berdarah.

Meski bahagia melihat kegesitannya tak urung aku sering cemas menghadapi tingkah lakunya yang tak bisa duduk tenang. Ada saja yang ia kerjakan. Kecerdasannya juga sering membuatku takjub. Bintang dengan cepat menangkap apa saja yang diucapkan oleh orang dewasa. Bagaikan burung beo yang selalu meniru apa pun yang ia dengar. Meski beo tak pernah paham dengan ucapan yang ia tiru. Persis seperti Bintang. Hanya saja keingintahuan Bintang sangat tinggi. Dia selalu bertanya tentang sesuatu. Baik yang ia lihat maupun yang ia dengar.

Tapi dalam keadaan hamil anak kedua seperti sekarang, aku tak bisa lagi mengejar-ngejarnya seperti dulu. Sudah pasti aku kalah cepat dengannya. Terpaksalah aku minta bantuan Mande untuk menjaga Bintang. Mande sangat senang sekali. Dia merasa punya peluang untuk lebih memanjakan Bintang. Bahkan saat makan pun Mande selalu melayani Bintang bak raja. Bayangkan saja, Bintang selalu makan di meja makan lengkap dengan lauk-pauk diatasnya. Akhirnya Bintang jadi terbiasa kalau makan selalu dilayani.

Dia tak mau makan bila belum terhidang lauk yang enak-enak diatas meja terlebih dahulu. Untung Abaknya punya restoran padang yang cukup besar. Jadi kami tidak kewalahan menuruti keinginan Bintang. Yang ingin selalu tersedia rendang saat dia makan. Dan Abaknya bintang mendukung sikap Mande itu. Akh, aku hanya menuruti saja apa yang Mande dan Abaknya lakukan, yang penting Bintang tumbuh sehat dan cerdas. Dengan terpenuhinya gizi Bintang dengan baik dan sempurna. Tubuh Bintang pun semakin montok dan tinggi. Badannya tumbuh lebih besar dari anak seusianya.(bersambung)

Rabu, 21 September 2011

lomba 1001 pertanyaan anak

Bunda pasti sering mendapatkan pertanyaan dari buah hati baik itu tentang sex, tentang alam, tentang tuhan dan tentang apa saja. tulis pertanyaan buah hati yang disertai jawaban dari bunda tentunya. posting di blog ini minimal 150 kata boleh lebih. bila gak punya blog, tulis cerita di notes beserta info lomba di fb masing-masing dengan mentag teman-teman sebanyak2nya beserta fb iirharun. oh ya boleh kirim lebih dari satu cerita yah... akan dipilih 6 orang pemenang

3 pemenang utama akan mendapatkan reward uang tunai masing2 @100 ribu
3 orang pemenang hiburan masing2 akan mendapatkan paket cantik

ditunggu sampe akhir nop 2011 yah. pengumuman awal tahun baru 2012

Insya allah semua pertanyaan anak akan ditawarkan ke penerbit mayor. namun tidak ada pembagian royalti bagi cerita yg terpilih

Teardrop In Heaven Part 1



Aku tak bisa berbuat banyak saat ini. Duda beranak lima itu begitu pintar mengambil hati Mande. Tapi tidak untuk hatiku. Meski kemewahan sekalipun yang ia tawarkan padaku. Bagiku, cinta tak bisa dibeli dengan apapun, apalagi uang dan benda-benda berharga. Tapi aku harus menemuinya demi Mande. Yah, demi Mande yang kusayangi.
Hanya Mande di dunia ini yang aku punya. Sejak Abak meninggalkan diriku sewaktu kecil. Abak sakit-sakitan selama 6 bulan sebelum akhirnya meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Aku menjadi yatim sejak usia dini. Sebuah kenyataan pahit bagi seorang anak wanita sepertiku. Yang sangat memerlukan campur tangan seorang ayah dalam membimbing dan mengasihiku. Kini Mandelah tumpuan hidupku. Tempatku bersandar sedari kecil hingga dewasa. Otomatis bila aku sudah menikah, beban Mande akan berkurang.

Aku tahu, Mande harus bekerja keras disebuah restoran padang sebagai juru masak demi menghidupiku, anak perempuan satu-satunya. Sebab hanya memasaklah yang Mande kuasai. Terutama daging rendang. Dan Mande telah bertahun-tahun bekerja di restoran duda beranak lima sekaligus bosnya itu. Sampai akhirnya perjodohan ini terlaksana. Perjodohan yang lahir dari kekaguman seorang karyawan pada bosnya sendiri.
Mengapa tidak Mande saja yang menikah dengan bosnya itu? Karena usia mereka tak terpaut jauh pikirku. Tapi cinta memilih kepada siapa dia hendak berlabuh. Dan cinta bosnya Mande memilih untuk mencintai wanita yang usianya terpaut 25 tahun dengannya yaitu aku. Akh, aku berada dalam dilema. Dilema antara Mande dan duda beranak lima itu, yang sekarang tengah menungguku di ruang tamu. Dengan setengah hati, aku keluar menemui tamu yang istimewa bagi Mande itu. Kuseret kakiku yang terasa berat untuk melangkah. Harus kulakukan ini semua demi Mande.

“Ini anak padusi ambo satu-satunya Bagindo. Namanya Layla,” Mande berkata dengan senyum teramahnya.

“Ambo udah tahu Aini. Sejak pertama bertemu, ambo udah jatuh hati pada anak padusimu ini,”jawab Bagindo Sulaiman sambil menatap wajahku yang tertunduk malu.

Perasaanku campur aduk. Antara marah, benci, juga malu. Tidak sadarkah mereka? kalau sekarang bukan lagi jaman Siti Nurbaya. Yang masih memaksakan perjodohan dengan seenaknya. Ingin rasanya segera pergi dari pertemuan yang tak kuinginkan ini. Tapi apa daya, aku tak punya keberanian untuk memaki dan mengusir duda beranak lima dihadapanku. Untuk segera angkat kaki dari rumahku. Kalau bisa, tak usah kembali lagi untuk selama-lamanya. Tapi aku tak kuasa melakukan itu demi melihat wajah Mande yang bersinar-sinar.

Aku tahu Mande sudah berusaha untuk mencarikan jodoh yang terbaik buatku. Tak mungkin Mande tega menjerumuskan anaknya sendiri. Tapi mengapa harus dengan duda beranak lima? Meskipun menurut Mande dia lelaki yang tepat untuk menjadi suamiku. Selain taat beribadah, dia juga pekerja keras dan bertanggung jawab.

Kekaguman Mandelah yang membuat Mande nekat menjodohkan anaknya sendiri dengan lelaki yang sudah pernah beristri dan memiliki lima orang anak itu. Tidakkkah Mande berpikir apakah aku siap menjadi ibu dari kelima orang anak tiriku? Padahal usiaku belum genap dua puluh tahun.

“Ambo tidak bisa lama-lama Aini. Masih banyak urusan yang harus ambo selesaikan. Ini ada sedikit oleh-oleh buat Layla. Semoga adinda berkenan,” ucap Bagindo Sulaiman sambil menyodorkan sebuah bungkusan padaku.

“Apakah ini sebuah sogokan Bagindo?” Ambo indak tertarik,” jawabku ketus.

“Layla! Indak boleh ngomong baitu. Bagindo hanya ingin menunjukkan perhatiannya padamu,”Mande mendelik marah kearahku.

“Kamu jangan terlalu keras padanya Aini. Lama-lama Layla akan menerima ambo, meskipun tidak sekarang. Semuanya butuh waktu dan proses. Ambo indak mau Layla merasa terpaksa.”

Aku hanya bisa menahan sabar menghadapi situasi yang serba salah ini. Harusnya aku tak boleh ngomong kasar pada lelaki ini. Bagaimanapun dia tamu dirumahku. Apalagi sikapnya sangat baik padaku dan Mande. Meskipun dia punya maksud tertentu.

“Kalau begitu, Ambo pamit dulu Aini. Assalamualakikum.”

“Waalaikum salam. Terima kasih atas kedatangannya Bagindo,” jawab Mande melepaskan kepergian Bagindo Sulaiman di depan pintu. Aku sendiri langsung masuk ke kamar. Rasanya lega sekali melihat duda itu sudah pulang.

“Layla!” Panggil Mande dari luar kamar.

“Ada apa Mande,”aku segera keluar menemui Mande.

“Manga oleh-oleh dari Bagindo dibiarkan sajo di ruang tamu? Tanya Mande dengan wajah kesal.

“Ambil saja buat Mande. Layla tidak tertarik sedikitpun.”

“Wa-ang benar-benar indak menghargai pemberian orang lain. Ayo ambil! dan buka
bungkusnya. Mande ingin tahu apa isinya,” perintah Mande tegas.
Dengan hati terpaksa, segera kubuka bungkusan dari duda itu di depan Mande.

“Bagus sekali baju ini Layla. Selera Bagindo Sulaiman benar-benar tinggi. Motifnya lagi trend dan warnanya merah cerah. Serasi dengan warna kulitmu yang kuning langsat.”

“Buat Mande sajalah. Layla gak suka dengan warnanya.”

“Jangan begitu Layla. Nanti kalau Bagindo Sulaiman datang lagi, kamu bisa pakai baju ini. Agar dia bisa melihat betapa cantiknya anak padusi Mande.”

“Mande…Mande… Itu sama saja Layla menarik perhatian Bagindo agar semakin suka dengan Layla,” jawabku sambil memasang wajah cemberut.

“Memangnya kenapa kalau Bagindo Sulaiman semakin tertarik padamu Layla? Bukankah itu yang kita harapkan?”

“Tapi Layla tak mengharapkan itu Mande, karena hati Layla sudah terpaut dengan pria lain.”

“Tukang ngantar surat itu maksudmu? Apa yang kamu harapkan dari lelaki tukang pos macam dia?”

“Tapi dia mau menerima Layla apa adanya Mande.”

“Bagindo Sulaiman juga bisa menerima dirimu apa adanya,” ucap Mande tak mau kalah.

“Masalahnya Layla gak cinta dengan bos Mande itu,” jawabku lagi.

“Cinta bisa datang belakangan Layla. Mande juga dulu menikah tanpa cinta. Tapi akhirnya bisa menyayangi Abakmu hingga kau dan Udamu lahir.”

“Layla capek berdebat terus dengan Mande,” jawabku segera masuk ke dalam kamar. Mengunci diri dan kembali merenungi nasib.

Mengapa Tuhan tak bersikap adil padaku? Coba Abak masih hidup, pasti perjodohan ini tak akan terjadi. Aku bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa harus dikejar–kejar usia untuk segera menikah. Mande memang kolot. Baginya anak padusi tidak perlu bersekolah tinggi. Yang penting bisa membahagiakan suami. Padahal aku ingin sekali bersekolah. Apalagi aku senang membaca. Meski sebelah mataku tak lagi berfungsi. Sejak operasi mata yang kujalani tak berhasil. Sementara mata yang sebelahnya agak kabur bila melihat sesuatu. Aku harus memakai kacamata agar bisa melihat.

Aku juga suka menjahit bordir. Sudah banyak jahitan bordir yang kuhasilkan. Buku-buku tentang pola bordir koleksiku lumayan banyak. Tapi sayang, sejak mataku rusak akibat operasi yang gagal, mataku tak kuat lagi untuk menjahit. Paling hanya membaca buku dengan bantuan kacamata. Itupun tak bisa lama-lama membaca. Bisa berakibat pedih dan gatal pada sebelah mataku yang masih berfungsi.
Hari ini Bagindo Sulaiman kembali datang. Seperti biasanya dia selalu membawa oleh-oleh buatku. Kali ini perhiasan emas yang ia berikan. Meski dalam hati aku takjub dan senang mendapati barang sebagus itu. Tapi entah mengapa hatiku tak jua luluh.

“Bagaimana Layla? Apa kamu belum bisa membuka hatimu untuk Bagindo Sulaiman? Tanya Mande ketika duda itu sudah pulang.

“Bagaimana yah Mande, Layla gak mudah jatuh cinta pada seorang pria. Kita lihat nanti sajalah Mande,”jawabku segera berlalu. Mencoba menghindari pertanyaan Mande selanjutnya. Meski kulihat segurat kekecewaan di wajah Mande.

“Bagaimanapun jodoh ditangan Tuhan. Mande pasrah pada ketentuan-Nya. Siapapun yang menjadi suamimu nanti, walau orang itu bukan Bagindo Sulaiman akan Mande terima. Asalkan dia bisa membahagiakanmu Layla.” Ucap Mande pasrah saat beradu mulut soal calon suami padaku beberapa hari yang lalu.

Dalam hati, timbul rasa penyesalan yang dalam. Maafkan aku Mande, yang belum bisa menerima perjodohanmu ini.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan perjodohan ini. Bagindo Sulaiman tidaklah sama dengan datuk maringgih yang memiliki banyak istri karena doyan kawin. Bagindo Sulaiman memilih untuk menikah lagi karena istri-istrinya sudah meninggal dan ada yang sudah diceraikan karena adanya ketidakcocokan. Wajar kalau dia membutuhkan pendamping hidup setelah cukup lama menduda. Tapi mengapa pilihannya jatuh padaku? Tidak pada wanita lain yang usianya tak berbeda jauh dengan Mande.

Tapi siapa yang bisa menyalahkan hadirnya cinta pada diri seorang pria? Mungkinkah ini jodoh? Tidak! Aku akan tetap pada pendirianku untuk menikah dengan lelaki yang usianya tak terpaut jauh dariku. Dan aku telah menemukan lelaki yang tepat yaitu Ardy si tukang pos. Aku harus berterus terang pada Bagindo Sulaiman ketika dia datang nanti. Dengan halus akan kukatakan padanya bahwa aku sama sekali tak tertarik untuk menjadi istri dan ibu dari kelima anaknya. Sebab aku tak bisa membayangkan harus mengasuh lima anak tiri dari suamiku padahal aku sama sekali belum pernah mengasuh anak. Perlu kesiapan mental yang cukup untuk menjalani semua itu. Meski Mande terus menyakinkanku bahwa aku bisa melewatinya setelah menikah nanti. (bersambung)

Minggu, 18 September 2011

book your blog



Tak disangkal lagi bahwa blog bisa berfungsi sebagai media ekspresi diri tentang curahan hati, pengalaman pribadi dan tempat menuangkan kalimat-kalimat inspiratif bagi banyak orang lewat dunia maya. Di dunia nyata blog sendiri diibaratkan sebuah buku diary yang bisa menampung semua keluh kesah, isi hati dan pengalaman si penulis. Nah, sebagai penerbit indie, leutika prio self publisihing tertarik untuk membukukan blog-blog yang terpilih dalam lomba yang mereka adakan dengan tema “Book Your Blog” Adapun ketentuannya sebagai berikut

1. Tulis tentang event ini beserta logo event di blogmu dengan bahasamu sendiri, diberi tag #bookyourblog
2. Kirimkan alamat blog kamu ke eventleutika@hotmail.com
3. Tulis sinopsis blog kamu dalam 250 kata Ms Word. Sertakan nama, nama pena, TTL, alamat, no handphone, alamat e-mail, akun FB, akun twitter. Kemudian attach file ke dalam e-mail.
4. Tulis “Book Your Blog” di judul e-mail.
Pengen tahu Blog seperti apa yang bisa menang? Menurut pihak Leutika Prio Blog kamu harus
1. Inspiratif, berisi cerita-cerita yang dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.
2. Tidak mengandung SARA dan pornografi.
3. Berkarakter, konsisten berisi materi-materi yang terkonsep dan orisinil.
Apa Hadiahnya?
Dipilih 3 blog terbaik untuk mendapatkan:
1. Tulisan-tulisan di blog kamu akan diterbitkan GRATIS dalam bentuk buku oleh Leutika Prio
2. Royalti 15% dari harga produksi
3. Paket buku dari Leutika Publisher
Bagi yang belum terpilih tetap mendapatkan diskon paket penerbitan sebesar 20%.
Deadline : 30 September 2011
Web: www.leutikaprio.com
Twitter: @leutikaprio
Fanpage Fb: www.facebook.com/leutikaprio

Jumat, 16 September 2011

Kotaku Hilang




Hari ini aku kembali mengantri untuk berobat. Batuk yang disertai sesak nafas kembali menggerogotiku. Dalam bulan ini sudah 4 kali penyakit alergiku kumat. Sejak aku memutuskan untuk pergi dan pulang bekerja mengendarai sepeda motor. Debu dan polusi yang selalu mengepungku selama dalam perjalanan, tak dapat kuhindarkan setiap harinya. Karena debu yang selalu kuhirup, batuk pun datang menyerang tanpa ampun. Karena batuk tak mau berhenti, sesak nafaspun mengikuti. Benar-benar tersiksa rasanya. Mengalami batuk yang disertai sulit bernafas sekaligus. Mau tak mau aku pun menyerah untuk segera mendatangi rumah sakit. Meskipun aku tak suka dengan yang namanya rumah sakit. Sebab dipenuhi oleh aroma obat dan orang-orang dengan berbagai macam penyakit yang mereka bawa.

“Sebaiknya Anda menutupi hidung dengan sapu tangan selama mengendarai sepeda motor. Agar debu dan polusi tak langsung terhirup,”ucap dokter paruh baya sambil menuliskan sebuah resep untukku.

“Baiklah Dok,” jawabku sambil terbatuk-batuk. Menderita sekali rasanya bila batuk terus bersahutan-sahutan. Tenggorokan sakit dan gatal. Belum lagi perut sakit karena ikut tertarik ketika batuk. Benar-benar menyebalkan!

Akhirnya aku pulang setelah selesai menebus obat. Kuputuskan untuk naik taxi saja. Sepeda motorku sengaja kutinggal di kontrakan. Dalam keadaan sakit begini, mengendarai sepeda motor bukanlah pilihan yang tepat. Selain badan lemas, bisa-bisa penyakit alergiku bertambah parah. Aku sudah tak sabar bisa sampai dirumah. Untuk segera minum obat dan beristirahat.



Aku kembali pergi bekerja seperti biasanya. Badanku kini sudah lebih baikkan. Kutempuh perjalanan ke kantor dengan sepeda motor seperti biasanya. Namun aku merasa ada yang tak biasa! Biasanya aku selalu dikepung kemacetan. Tapi kali ini tidak. Benar-benar ajaib! Ternyata setelah kusadari, tak banyak kendaraan yang lewat di jalan yang kulalui. Dan yang lebih mengejutkan, satupun tak ada kendaraan roda empat di jalan ini. Semuanya diisi oleh kendaraan roda dua seperti yang kunaiki.

Aku pun melirik ke kanan dan kekiri. Benar! Hanya kendaraan roda dua yang lewat di jalan ini. Pantes saja perjalanan ke kantor berjalan mulus. Dalam hati, aku menjerit kegirangan. Itu artinya aku tak bete lagi selama di jalan karena terkena macet selama berjam-jam. Dan tentu saja tak akan terlambat lagi sampai di kantor. Ternyata kendaraan roda empat dan roda dua tak disatukan dalam satu jalan, tapi sendiri-sendiri. Jadi roda dua hanya boleh lewat di jalan yang khusus untuk roda dua. Begitu juga dengan kendaraan roda empat. Hanya boleh lewat di jalan yang khusus untuk roda empat. Bahkan ada jalan khusus untuk para pejalan kaki.

Aku benar-benar merasa surprise menghadapi perubahan kota yang menguntungkan bagi pengguna jalan ini. Tak hanya sampai disitu perubahan yang kurasakan. Aku dapati tak secuil pun sampah tercecer di pinggir jalan. Tampaknya orang-orang tak lagi berani buang sampah sembarangan. Memang di sepanjang jalan tertulis besar-besar “Bagi siapa saja yang berani membuang sampah sembarangan, akan dikenai denda.“ Bagus juga ada sanksi seperti ini, pikirku. Jadi kota terlihat benar-benar bersih dari sampah setiap harinya. Bahkan debu dan asap knalpot tak lagi tercium oleh hidungku. Udara segar benar-benar bisa kurasakan melewati paru-paruku. Kota benar-benar murni dari polusi. Bagaikan negara Switzerland yang terkenal akan kebersihan kotanya. Aku begitu bahagia membayangkan akan mengalami hal ini setiap harinya.

Aku tak perlu lagi memakai penutup hidung seperti saran dokter. Penyakit alergi tak akan lagi mengganggu hari-hariku. Aku susuri jalanan sambil menatap gedung-gedung yang tertata indah di sepanjang jalan. Mal-mal tak lagi berdiri seenaknya di tengah kota. Kini Mal-mal itu dibangun di daerah yang sudah disediakan khusus yaitu agak ke pinggiran kota. Tata kota yang benar-benar apik dimataku. Tumbuhan hijau tumbuh di mana-mana. Semakin menambah kesegaran udara dan pandangan mata kala melihatnya.

Aku juga tak menemui pengemis dan pengamen jalanan yang berkeliaran. Biasanya di setiap lampu merah, selalu ada pengamen dan pengemis yang meminta-meminta uang pada pengendara jalan. Betapa nyamannya mengendarai sepeda motor saat pergi ke kantor. Sebab kini kota benar-benar bersih dari gangguan apa pun. Apalagi para pengendara terlihat lebih tertib dari biasanya. Tak lagi ada yang suka menyalip dan menerjang lampu merah seenaknya. Hmmmm…aku menarik nafas lega dalam-dalam.



Tiba–tiba kuputar haluan motorku. Pagi ini, aku tak ingin langsung pergi ke kantor. Aku hendak mengitari kota dulu sepuasnya. Kota baruku yang kini kucintai. Aku ingin melihat seluruh perubahan baru yang ada di setiap sisi kota. Aku ingin menikmati keindahann dan kenyamanannya setiap hari. Sebelum memutuskan untuk berkeliling kota, kuputuskan untuk singgah sebentar ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli makanan dan minuman ringan. Sebagai pengisi perut sebelum melakukan survei kelilingku. Begitu sampai di dalam Mall, aku segera memilih makanan dan minuman yang kubutuhkan. Tapi begitu sampai dikasir aku kalut. Tiba-tiba saja dompetku sudah tak ada di saku celana belakang.

Disaat aku tengah sibuk mencari, tiba-tiba seorang pria menepuk pundakku.

“Ini dompet yang Anda cari?”

“Oh, iya betul. Terima kasih ya. Untung Saudara yang sudah menemukan dompet saya. Kalau orang lain mungkin….”

“Mungkin sudah hilang? Begitu kan maksud Anda? Apa Anda belum tahu bahwa para pencuri dan perampok di kota ini sudah tak ada lagi yang berani beraksi.”

“Oh ya? Bagaimana mungkin? Setahu saya, pencuri dan perampok itu pasti ada di negara manapun. Bahkan di negara kaya sekalipun. Hanya saja jumlahnya tak sebanyak di negara berkembang. Yang notabene masih banyak terdapat pengangguran,” jelasku antusias.

“Tapi negara kita sudah beda. Tak lagi seperti dulu. Pengamanan sudah semakin canggih. Kamu lihat, disetiap sudut ruangan terdapat alat yang bisa merekam setiap aksi kejahatan. Begitu ada yang mencoba mencuri atau berbuat yang tidak baik, mesin canggih itu akan langsung berbunyi.”

“Wahhh, benar-benar canggih,” aku menjawab takjub.

“Iya. Jadi mulai sekarang, Anda tak perlu lagi takut. Kota ini benar-benar aman dari tindakan kriminal.”

“Oh ya, Kalau boleh tahu saudara siapa yah? Kok bisa paham sampe sedetil itu tentang keamanan kota ini,” tanyaku heran.

“Kenalkan! Saya salah satu petugas keamanan kota yang baru. Tugas saya setiap hari memantau keadaan kota ini. Untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.,” lelaki berbadan tinggi dan tegap itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah. Aku pun terperangah setengah tak percaya. Benar-benar sebuah perubahan yang besar telah terjadi di kotaku. Aku pun membalas salam perkenalannya sebelum akhirnya pamit untuk pergi. Kudapati para wanita memakai perhiasan berupa kalung emas dan gelang dengan berani. Tak lagi takut dijambret seperti dulu karena keamanan sudah terjamin. Bahkan ada yang nekat memakai semua perhiasan di tubuhnya bak toko emas berjalan. Ck…ck..ck…benar-benar bebas mereka sekarang. Aku geleng-geleng kepala karena takjub.

Mulailah kususuri kota dengan penuh semangat. Aku akan menyaksikan setiap jengkal dari perubahan kotaku. Disaat melewati got-got, aku terperangah karena air mengalir dengan derasnya. Tak lagi mampet karena terhalang oleh sampah apapun. Bahkan air got yang dulu berwarna hitam pekat, kini berubah warna menjadi bening seperti air pam. Disepanjang jalan yang kulewati, terlihat para cleaning servis sedang asyik menggunakan sebuah mesin yang bisa membersihkan sampah dan menghisap debu dalam sekejap. Tak lagi manual seperti dulu. Benar-benar menghemat tenaga dan waktu! Aku terkagum-kagum melihat mesin canggih di tangan cleaning servis di depanku.

Aku berhenti dan mendekati petugas kebersihan yang tengah bekerja tersebut.

“Pak, sejak kapan membersihkan kota menggunakan mesin seperti ini?” tanyaku penasaran.

“Memangnya Adik bukan orang sini ya? Kok baru tahu?” jawab lelaki tua itu sambil menyelesaikan pekerjaannya.

“Saya memang bukan orang sini kok Pak. Saya pendatang dari gunung kidul Yogya,” jawabku sedikit gugup. Aku bingung menjawab pertanyaan bapak tua ini, bagaimana harus menjawabnya. Padahal aku sudah menetap dikota ini. Meski aslinya hanyalah seorang pendatang. Aku sendiri heran mengapa baru tahu sekarang? Padahal sudah 5 tahun lebih aku mengontrak rumah di kota ini.

“Benar-benar sudah banyak yang berubah yah Pak. Saluran air yang dulu sering mampet aja sekarang jalannya begitu lancar.”

“Makanya Dik, kalau hujan, kota ini tak pernah lagi dilanda banjir seperti dulu. Soalnya sudah ada petugas kota yang kerjanya mensurvei dan mengawasi kebersihan kota setiap harinya. Lagi-lagi aku bingung mendengar penjelasan bapak tua ini. Sebenarnya aku berada di kota mana sih? Kok semuanya terasa baru bagiku. Meski sangat senang dengan perubahan besaran-besaran dari kota ini, tak urung pikiranku dihujani oleh seribu pertanyaan.

Ditengah kebingungan, kuputuskan untuk segera pamit dan berlalu dari hadapan bapak tua tukang bersih kota itu. Segera kulanjutkan perjalananku. Lebih baik aku pulang ke kontrakan. Untuk memastikan apakah benar kontrakanku masih ada di kota ini. Jangan –jangan aku sudah terlempar ke suatu tempat oleh mesin waktu seperti dalam film yang pernah kutonton. Lagi-lagi aku bingung harus lewat jalan yang mana. Sebab tiba-tiba saja jalan yang biasa kulalui sudah banyak berubah. Tapi aku tetap mengendarai sepeda motorku. Meski sulit menemukan rumah kontrakanku yang dulu, tetap kunikmati pencarianku sambil melihat-lihat keindahan sekitar.

Setelah berjam-jam muter-muter kota, tiba-tiba aku sampai di sebuah pemukiman penduduk. Di pintu gerbang pemukiman terdapat pos satpam yang dilengkapi dengan alat deteksi keamanan yang canggih. Pemukiman terlihat begitu asri, karena disetiap halaman rumah, terdapat aneka tanaman hias dan pepohonan yang buahnya bergelantungan di pinggir pagar. Tak satupun rumah yang tak ditanami oleh tumbuhan hijau.

Penduduknya juga ramah tamah. Saat aku melihat-lihat, mereka melempar senyum padaku. Bahkan menawarkan diriku agar mau singgah di rumah mereka meski hanya sebentar. Aku pun tak kuasa menolak. Dan segera bergabung dengan sesama warga kompleks yang terlihat sangat akrab satu sama lain. Tak kutemukan kesan cuek orang kota seperti umumnya. Yaitu “siapa lu siapa gue”…Aku tak merasa terasing berada ditengah-tengah mereka. Meski mereka orang yang baru kukenal. Sampai akhirnya aku pulang dengan rasa berat, mengingat hari sudah beranjak sore.

Kembali kupacu sepeda motorku. Berharap bisa menemukan rumah kontrakanku yang dulu. Rasa lelah dan mengantuk menyerangku. Maklumlah! Hampir seharian kukitari kota tanpa rasa bosan. Tiba-tiba ada sebuah kendaraan melintas di depanku. Karena tak lagi konsentrasi mengendarai, motorku pun jatuh menabrak sebatang pohon. Duk! Saat aku mencoba menghindari sebuah sepeda didepanku. Namuan secara bersamaan, aku terbangun dari tidurku. Kupegangi kepalaku yang terasa sakit sekali, sebab terbentur ujung tempat tidur.

Akh, ternyata hanya sebuah mimpi.. Aku ingat sekarang. Begitu pulang dari rumah sakit, aku segera tidur tanpa mengganti baju lebih dahulu.. Hilang sudah kota idamanku. Kota yang selalu kuidam-idamkan hingga terbawa mimpi…Benar-benar sial!. Umpatku kesal. Aku pun kembali berkhayal. Tentang sebuah kota idaman yang suatu saat menjadi nyata. ***

dimuat di annida-online

Plesss! Beri Aku Status!




Dulu aku adalah wanita yang menikmati sebuah hubungan tanpa terikat oleh status. Bagiku status itu tidaklah penting. Entah karena aku pecinta kebebasan atau karena terlanjur menikmati hidup tanpa status itu sendiri. Sudah tak terbilang berapa banyak pria yang singgah dalam hidupku. Bukan sekedar singgah, tapi meninggalkan cinta untukku. Meski hanya cinta yang singkat dan sesaat. Sesingkat hubungan yang kujalani bersama banyak lelaki.

Aku juga tak tahu apa sesungguhnya statusku. Meski Di Ktpku tertulis status : wanita lajang/ alias belum menikah. Tapi kenyataannya? aku sudah berkali-kali hidup bersama lelaki dalam satu rumah. Yah, aku adalah wanita penganut hubungan bebas tanpa menikah. Aku tak butuh sebuah pengakuan dari siapapun. Satu yang pasti, aku begitu menikmati hidup yang kujalani. Selama tak mengganggu dan menyakiti siapapun Why not? Karena prinsipku tak pernah mau berhubungan dengan pria beristri.

Aku sendiri dibesarkan oleh seorang wanita yang hidup dari satu pelukan lelaki ke lelaki yang lain. Hingga aku tak pernah tahu siapa ayah kandungku yang sebenarnya. Sebagai anak, sungguh tragis hidupku karena tak pernah ada seorang lelaki dewasa yang mau mengaku sebagai ayah kandungku. Tak heran bila sekarang hidup yang kujalani persis seperti yang ibuku alami-hidup bersama lelaki tanpa diikat oleh status sebagai istri si A atau si B misalnya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Mungkin pepatah klasik yang sering kudengar ini tepat untuk hidup yang tengah kulakoni.
Tapi takdir berkata lain. Aku terseret dalam sebuah keadaan yang membuatku sangat ingin memiliki status. Sebuah keinginan yang dulunya tak pernah kuanggap penting. Tapi sekarang status itu sangat penting bagiku. Semuanya bermula dari cinta yang tumbuh mekar dihatiku. Pada pria tampan nan sederhana yang hanya bermodal perhatian dan cinta. Meskipun bukan pria tajir tapi mampu memikat hatiku.

Tak seperti pria yang selama ini menjalin hubungan denganku--yang rata-rata hanya bermodalkan kantong tebal dan memanjakanku dengan berbagai fasilitas berupa materi. Dulu uang adalah segalanya bagiku, meskipun hidup tanpa status. Tapi kini uang bukanlah yang utama bagiku. Cintalah kini prioritas dalam hidupku. Yah, tiba-tiba aku ingin menjalin hubungan dengan rasa cinta yang tulus di didalamnya. Bukan lagi hubungan yang miskin akan cinta seperti yang sudah-sudah.

Aku masih duduk dipojok café sambil mengaduk-aduk cappuccino hangat yang kupesan beberapa menit yang lalu. Menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku sore ini. Seseorang yang akan mengubah status hidupku selamanya. Tapi hingga cappuccino yang kuminum ini dingin, batang hidung lelaki pujaanku tak jua muncul. Akh, bukankah dia telah berjanji akan menyelesaikan semuanya disini? Ditempat yang pernah merekam awal pertemuan kami setahun yang lalu. Sebuah café yang sering kami singgahi di sore hari setelah lelah menghabiskan waktu bersama berdua.

Pikiranku pun melayang ke masa setahun yang lalu. Waktu itu aku tengah memesan cappuccino, sepulang berbelanja di Mall. Tiba-tiba seorang pria berkulit putih bersih dan berbadan atletis menyapa diriku.

“Suka Cappucino juga yah Dik?” Tanya pria tersebut sambil memamerkan senyum mautnya. Aku pun mengiyakan pertanyaannya sambil tersipu malu.

“Berarti selera kita sama dong,” ucapnya lagi sambil terus menatap mataku. Tatapannya yang begitu dalam, seketika menghujam jantungku. Tak ayal, dadaku pun tak berhenti berdegup. Bahkan semakin kencang degupnya ketika pria itu meminta ijin duduk di depanku.

Setelah perkenalan itu, bisa ditebak hubungan kami pun berlanjut hingga menghasilkan sebuah janin dirahimku. Terus terang begitu tahu diriku mengandung hatiku dilanda resah dan gelisah yang amat sangat. Apalagi disaat kutahu bahwa dia pria yang sudah beristri.

Aku masih duduk di café dengan gelisah. Rasa khawatir semakin membuncah didadaku, karena dia tak jua datang. Padahal sudah lebih dari dua jam aku menunggunya penuh harap. Bagaimana kalau dia ingkar janji? Untuk segera menikahiku agar anak yang kukandung sekarang tak bernasib sama denganku, yaitu tak memiliki status yang jelas hingga dewasa nanti. Tiba-tiba handponeku bergetar. Ternyata ada sebuah SMS masuk. Segera kubaca dengan tak sabar.
Dik, maaf abang gak bisa datang menemuimu. Abang lupa kalo hari ini harus mengatarkan istri Abang ke dokter kandungan. Lain kali saja yah kita ketemuan. Deg! Hatiku benar-benar gak siap membacanya. Tega-teganya dia melakukan ini semua padaku?

Bukan satu kali ini dia mengelak dariku dengan berbagai macam alasan. Besok-besok alasan apalagi yang keluar dari mulutnya? Padahal anak yang kukandung ini juga anaknya. Aku benar-benar mengharapakan status bukan untuk diriku semata tapi demi anakku. Yah, aku tak boleh menyerah! Aku harus berjuang mendapatkan status sebagai seorang istri yang sah diatas buku nikah yang resmi dari KUA. Untuk menghibur kecewanya hati, Aku hanya mampu mengusap-usap perutku sebelum beranjak dari kursi.

“Nak… Ibu akan terus berjuang untuk memberikan sebuah status untukmu, bagaimanapun caranya,” ucapku lirih sambil berurai air mata. Akh, ketegaran dan kekerasan hatiku akhirnya jebol juga karena malaikat kecil yang sebentar lagi lahir ke dunia yang keras ini. Sekeras hidup yang selalu aku jalani.

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut