novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Kamis, 29 September 2011

Teardrop In Heaven 4



Hari sudah larut malam. Namun Bintang masih berkutat dengan berkas-berkas lamaran kerjanya. Satu-persatu dia masukkan kedalam amplop untuk dikirim ke berbagai perusahaan besar di Jakarta. Sudah beberapa hari ini Bintang rajin mengirimkan surat lamaran kerjanya yang dibuat dengan sepenuh hati.
“Semoga tak lama lagi kamu mendapatkan panggilan kerja ya Nak.”
“Doakan saja Mande. Bintang yakin, begitu membaca curriculum vitae Bintang, pasti mereka tertarik,” ucap Bintang optimis. Aku tersenyum mendengar rasa percaya diri Bintang yang tinggi. Selain memiliki kemauan yang keras, Bintang memang tak mudah menyerah untuk mencapai keinginnanya. Semoga adik-adiknya Bintang bisa mengikuti sifatnya ini. Sebagai anak tertua, Bintang berhasil membuat dirinya menjadi panutan yang baik buat adik-adiknya.
Satu bulan sudah Bintang mencoba mencari kerja sejak lulus wisuda. Kegiatannya masih tetap sama yaitu membaca buku-buku, memberi les privat seperti biasanya sampai dia mendapatkan pekerjaan. Sepulang mengajar, Bintang memang lebih banyak dikamar menghabiskan waktu dengan membaca. Dia memang seorang kutu buku. Bukulah temannya selama ini. Kalau masih kuliah dia aktif di organisasi kampus. Tapi sekarang sudah tak aktif lagi dikegiatan keorganisasiannya. Hanya satu yang tak berubah dari Bintang. Dia tak akan mau makan bila tak diuruh lebih dulu. Apalagi kalau sedang asyik membaca buku. Dan aku tetap menyediakan makanan diatas meja seperti dulu meski lauknya tak semewah sewaktu Bintang masih kecil. Hanya saja kebiasaan Bintang untuk makan dengan cara dihidangkan sulit dihilangkan. Dan aku tetap senang melakukan itu semua buatnya. Karena bagiku Bintang akan terus menjadi anakku yang istimewa.
Waktu begitu cepat bergulir. Tanpa terasa enam bulan sudah Bintang terus mengirim surat lamaran kerja. Tapi hingga kini tak satu pun dari perusahaan tempat dia melamar memanggilnya. Kalau memang Bintang diterima pasti sudah mendapatkan surat panggilan untuk wawancara. Dan aku melihat kegelisahan dan kesedihan itu diwajahnya. Meski Bintang tak pernah mengenal kata menyerah. Tapi raut wajahnya tak bisa membohongiku kalau dirinya sedang gundah gulana.
“Kamu harus sabar Bintang. Mencari kerja itu memang tak mudah,” hiburku.
“Bukannya Bintang tak mau bersabar Mande, hanya saja Bintang heran masak tak satupun surat lamaran Bintang diterima. Lagipula, kita butuh banyak biaya Mande. Abak semakin tua dan sakit-sakitan. Siapa yang akan menanggung biaya hidup kita?”
“Masalah itu tak usah terlalu kau pikirkan. Kan masih ada Rusli yang sudah bekerja di restoran Padang. Sementara ini dia bisa membantu Mande mencukupi kebutuhan sehari hari kita.”
“Tapi Mande, Rusli dan adik-adik kan perlu meneruskan sekolah. Gak mungkin kan dia menjadi pelayan restoran terus? Kalau Bintang sudah bekerja dan mendapatkan gaji yang layak semua adik-adik termasuk Rusli harus bersekolah setinggi-tingginya. Minimal sarjana kayak Bintang.”
“Pasti Allah mendengar keinginanmu itu Nak. Mande yakin, Allah akan mewujudkan cita-cita tulusmu itu.”
“Terima kasih Mande, karena selalu memotivasi Bintang. Bintang akan terus berusaha melamar pekerjaan sampai Bintang diterima. Semoga tahun depan Bintang sudah bekerja disalah satu perusahaan besar di Jakarta.”
“Amin,” jawabku sambil tersenyum kearah Bintang yang kembali bersinar cerah. Tak lagi murung seperti hari belakangan ini.
Bintang semakin meleburkan dirinya dengan buku-buku bacaannya. Selain mengajar dan mencari kerja. Aku tak ingin mengusiknya kalo sedang serius belajar. Meski dia sudah tamat kuliah, tetapi keinginan untuk terus belajar tak pernah pudar sedikitpun. Bahkan dia tetap rajin membeli buku-buku meski hanya buku bekas untuk dia pelajari. Tentu saja uangnya dari hasil memberikan les bahasa inggris. Aku sendiri suka gak tega bila Bintang memberikan sebagian gajinya untuk biaya hidup dirumah. Padahal gajinya tak seberapa dibandingkan dengan biaya hidup yang ia butuhkan.
Sementara keadaan Abaknya semakin memprihatinkan. Di usianya yang semakin uzur, ingatannya tak sebaik dulu lagi. Penyakit pikun mulai menyerangnya. Dengan keadaan suamiku yang seperti itu, dia pun lebih banyak menghabiskan waktunya dengan duduk diruang tamu sendirian. Aku tak bisa menemaninya dalam waktu duapuluh empat jam karena harus mengurusi adik-adiknya bintang. Yah…Sejak suamiku terserang penyakit yang banyak diderita orang yang sudah berusia lanjut, otomatis aku tak bisa lagi mengandalkannya untuk membantuku memecahkan masalah demi masalah. Untuk itulah aku sering menyuruh Iqra adiknya bintang untuk menemani Abaknya duduk diruang tamu. Sembari sesekali mengajaknya berbicara. Sebab Abaknya suka pergi diam-diam tanpa tahu jalan pulang, karena dia sudah tak ingat lagi jalan menuju rumahnya sendiri.
Tak bisa disalahkan bila suamiku suka keluar tanpa permisi. Mungkin dia bosan dirumah seharian. Apalagi suamiku dulunya orang yang sangat aktif dan tak bisa diam. Alhasil bila Abaknya ngeloyor jalan keluar, terpaksalah dengan susah payah Iqra mengejarnya dan berusaha mengajaknya pulang. Meski awalnya marah-marah pada Iqra.. Tapi karena terus dibujuk, dia pun mau mengikuti Iqra.
Pernah suatu hari disaat kami lengah mengawasinya. suamiku berjalan keluar tanpa tujuan. Setelah berjalan cukup jauh, barulah kami sadar bahwa dia sudah tidak ada. Dengan kalut, aku mencarinya di jalan –jalan yang biasa ia lewati.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya aku bisa menemukannya sedang berjalan sendiri tak jauh dari lokasi sekolah anakku Iqra. Aku pun merasa sangat lega dan. segera menyeretnya pulang saat itu juga. Lagi lagi suamiku menuruti perintahku. Ibarat anak kecil yang ketahuan pergi keluyuran.
Lama-lama aku kasihan melihat suamiku sering duduk seorang diri. tanpa ada yang mau menemani. Apalagi kami selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Meski suamiku tak pernah nyambung bila berkomunikasi dengan siapapun. Termasuk dengan diriku.. Tapi aku berusaha untuk terus menemaninya dan mendengarkannya bercerita tentang apa saja. Yang membuatku takjub, dia masih ingat tentang masa lalunya. Meski ceritanya tidak runtut alias melompat-lompat. Aku tetap setia menyimaknya..
Dengan semangat berapi-api Bagindo Sulaiman berbagi kisah denganku, saat dia masih menjadi tentara. Akhirnya aku tahu bahwa dia pernah mengalami susahnya hidup dimasa belanda dan jepang.
“Kau tahu Layla? ambo pernah menyamar menjadi seorang petani agar tidak ketangkap oleh pihak kompeni. Tetapi ambo tertembak tentara belanda disaat ketahuan bersembunyi disebuah got.” Dengan penuh rasa bangga, dia menunjukkan padaku bekas tembakan di pangkal pahanya.
“Untunglah ambo bisa selamat Layla. Ambo lari sekencang-kencangnya dengan paha yang masih berdarah.” Lagi–lagi aku hanya bisa tersenyum miris mendengarnya. Miris mengapa suamiku tak lagi segagah dulu saat dia menjadi pejuang negara? Mungkin waktu itu aku masih sangat belia. Dan bertemu dirinya saat dia sudah menjadi duda.
Ternyata tak hanya itu kehebatan suamiku. Masih menurut Mande, dulu Bagindo Sulaiman sangat menguasai bahasa inggris, belanda dan jepang dengan baik. Dia juga hapal beberapa surat dalam alqur’an. Meski disaat pikun, dia hanya bisa mengucapkan ketiga bahasa itu secara sepotong-sepotong. Diam-diam di dalam hati, aku mulai kagum pada keberanian dan kecerdasan suamiku dulu.
Bagindo sulaiman juga bisa menyelesaikan sekolah hingga PGA (pendidikan guru agama) yang dijaman itu tamat SD saja sudah hebat, karena jarang yang bisa sekolah setinggi itu. Tak heran bila kepintaran suamiku dalam berbahasa asing menurun pada Bintang.
Dan hari ini keadaannya semakin memprihatinkan. Aku ingin segera memberitahu Bintang kalau abaknya tak bisa bangun dari peraduan. Kedua kakinya terus ditekuk dan susah untuk diluruskan. Aku benar-benar panik. Padahal Bintang baru pulang malam hari.
“Mande, lebih baik kita bawa Abak ke rumah sakit sekarang juga. Nanti setelah Bintang pulang, baru kita beritahu dia,” ucap Rusli cemas. Secemas diriku.
“Baiklah Rusli, ayo kita berkemas-kemas.” Segera kupersiapkan semuanya. Ku panggil becak dan segera kusuruh Rusli membopong Abaknya ke atas becak.
Aku duduk terpekur memandang suamiku yang kini terbaring dengan infus ditangannya. Dokter menyarankan untuk rawat inap karena pengakit gula suamiku kumat lagi. Suamiku harus menjalani diet rendah karbohidrat dan mengkomsumsi banyak makanan berserat agar gula darahnya bisa normal kembali. Memang pola hidup suamiku yang tak banyak gerak membuat tubuhnya mudah menimbun zat gula karena lebih banyak makan dan tidur tanpa aktifitas. Tubuh suamiku sempat naik beberapa kilo dalam sebulan.
Sore mulai beranjak malam. Aku masih setia menunggu Bintang. Mengapa dia belum datang juga? Apakah Bintang belum pulang dari mengajar? Aku menunggu dengan gelisah. Gelisah membayangkan dengan apa kami harus membayar biaya rumah sakit? Apalagi menurut dokter, Abaknya harus dirawat selama seminggu sampai kondisi kesehatnnya lebih baik. Kupandang wajah suamiku yang terlihat lebih kurus karena penyakitnya. Penyakit diabetes telah merenggut badannya yang tua dan lemah.
Andai Mande masih hidup, aku bisa berbagi duka ini dengannya. Duka betapa sedihnya melihat suami yang dicintai tak lagi seperti dulu. Yang tak pernah lagi memanjakan dan memperhatikan istrinya seperti waktu masih muda dulu. Yang tak bisa lagi memberikan tubuhnya sebagai tempat bersandar dari masalah hidup. Aku pun tertidur karena lelah dipinggir kasur. Sampai tak menyadari kalau Bintang sudah berdiri di sampingku.
“Mande, biar Bintang yang ganti menjaga Abak. Lebih baik Mande pulang untuk istirahat,” tiba-tiba tangan Bintang menyentuh pundakku. Dan membangunkanku dengan suaranya yang jernih dan lembut.
“Bintang, akhirnya kau datang juga. Mande benar-benar gak tahu lagi harus mencari uang kemana untuk biaya berobat Abakmu.”
“Mande, biar Bintang yang memikirkan semua biaya itu. Mande pulang saja dulu.”
“Tapi, apa cukup gajimu untuk membayar biaya rumah sakit yang tidak sedikit Nak. Dapat uang darimana lagi kamu?”
“Bintang akan mencari pinjaman Mande. Jadi Mande gak usah cemas lagi.”
“Begini saja, bagaimana kalau Uda mendatangi Ajo Yanuar yang baru membuka usaha restoran Padang. Aku dengar, restorannya maju pesat dan sudah memiliki cabang dimana-mana,” ucap Rusli tiba-tiba.
“Iya. Pasti ajomu tidak keberatan. Sekalian memberitahu dia bahwa Abak lagi sakit.” Aku pun kembali bersemangat, karena sudah menemukan jalan keluar sementara dari kesulitan biaya.
“Baiklah Mande, besok Bintang akan mendatangi Ajo Yanuar di restorannya. “
“Mande merasa lega kini. Kalau begitu Mande dan Rusli pulang dulu yah Nak. Kamu jaga Abakmu baik-baik disini.”
“Uda, besok pagi sebelum kerja aku mampir kesini, “ Rusli memohon pamit pada Bintang. Kami pun segera pulang takut malam bertambah larut.
Sesampainya dirumah, pikiranku terus ke rumah sakit. Rasanya mata sulit untuk kupejam. Meski keyakinan dihatiku bahwa usaha Bintang besok akan berhasil, tetap saja kekhawatiran itu menyergapku. Maklumlah, Yanuar hanya seorang anak tiri. Hubungan kami tidak begitu akrab, karena sedari kecil Yanuar ikut saudara dari ibunya dikampung. Apalagi semenjak buka restoran, jarang sekali Yanuar datang menjenguk Abaknya. Meski aku tahu dia sibuk mengurusi usaha barunya. Tapi Bagindo Sulaiman adalah Abak kandungnya. Yang kondisinya belakangan ini semakin menurun dan sakit-sakitan. Akh, aku hanya bisa berdoa’ agar semuanya berjalan seperti yang kuharapkan.
“Mande, bagaimana keadaan Abak? Upik besok ikut yah menjenguk abak,” tiba-tiba Upik sudah berdiri disampingku yang tengah duduk melamun. Upik memang dekat dengan Abaknya. Maklumlah sebagai anak padusi satu-satunya, Upik begitu dimanja. Dulu sehabis pulang bekerja, Abaknya selalu membawakan kue bingka kesukaan Upik. Sekarang setelah Abaknya mulai pikun, Upik tetap bermanja-manja bila didekat Abaknya. Meski abaknya sering bertanya “ Sia wa-aang”
“Ambo Upik Bak. Masak Abak lupo, “ begitu selalu jawab Upik. Kalau sudah begitu, Abaknya hanya bisa tergelak-gelak mendengarnya. Upik pun tak jadi marah karena dia paham ingatan abak tak sebaik dulu lagi.
“Jam segini Upik kok belum tidur juga? Besok kan harus sekolah,” bujukku.
“Upik gak bisa tidur Mande. Upik rindu sama Abak,” isaknya lagi.
“Ya sudah, besok sepulang sekolah Upik bisa pergi kerumah sakit bersama Iqra,” jawabku mencoba bersikap tenang. Padahal dihati ini masih penuh dengan gemuruh kesedihan dan ketakutan. Takut terjadi sesuatu pada abaknya Bintang.
“Sekarang Upik mau tidur, tapi harus ditemani Mande,” ucapnya manja.
Akupun tak berkutik dan segera mengikuti kemauan Upik. Kulihat Iqra tidur dengan pulas dikamar. Tak terasa adik-adiknya Bintang sudah mulai tumbuh besar. Sebentar lagi si Upik tamat SMP. Sedangkan Iqra sudah duduk dikelas tiga SMA. Sementara Mukhlis si bungsu sudah duduk dikelas 6 SD. Akh, semuanya sedang membutuhkan banyak biaya untuk sekolah. Semoga mereka bisa bersekolah setinggi-tingginya seperti Bintang.
Bintang melangkah sedikit ragu memasuki sebuah restoran yang terletak tepat dipinggir jalan besar. Pengunjung terlihat ramai memenuhi rumah makan. Bintang masuk dan melayangkan pandangannya ke seputar ruangan. Tampak taman yang cukup asri disudut ruangan. Membuat restoran Padang milik Udanya semakin semarak dan berkelas.
Para karyawan sibuk melayani pelanggan yang memesan nasi bungkus dan yang makan di meja. Disalah satu meja tersusun kotak-kotak yang sedang diisi oleh nasi dan lauk oleh salah satu karyawan. Pastilah untuk pelanggan yang memesan nasi di box. Jumlahnya sekitar ratusan kotak. Bintang terus menyapu pandangannya, namun Uda Yanuar yang dicarinya tak terlihat.
“Cari siapa Da?” Tanya salah seorang karyawan.
“Bos kalian ada?” Tanya Bintang hati-hati.
“Oh, Uda Yanuar? Ada diatas. Mau saya panggilkan?”
“Iya, saya ingin bertemu karena ada urusan penting.”
“Sebentar ya Da. Uda duduk aja dulu,” ucap karyawan itu ramah.
“Iya, makasih ya.” karyawan itu pun segera naik kelantai dua. Beberapa menit kemudian, tampak seorang lelaki setengah baya dengan tubuh yang sedikit tambun turun menemuinya.
“Oh, kamu Bintang. Tumben kamu kemari? Pasti perlu sesuatu yah?”
“Begini Uda, sekarang Abak dirawat dirumah sakit dan…”
“Dan kalian bingung gak punya duit untuk membayarnya kan?” Uda Yanuar menjawab sinis.
“Sebenarnya salah satu maksud Bintang datang kesini untuk meminta Uda menjenguk Abak selain yang Uda katakan barusan,” jawab Bintang sedikit terkejut melihat sikap Uda Yanuar yang angkuh.
“Bintang…Bintang…katanya kamu sudah sarjana, tapi kok gak bisa diandalkan. Lihat Uda. Meskipun cuma lulusan SMA, uang Uda jauh lebih banyak darimu. Buat apa susah-susah sekolah tinggi kalau akhirnya gak punya uang sepeserpun.”
“Uda! Kalau gak mau membantu membiayai Abak, jangan mencari-cari alasan. Abak itu kan orangtua Uda sendiri. Jangan dihubung-hubungkan dengan Bintang yang sampe sekarang belum dapet pekerjaan,” jawab Bintang emosi. Darahnya mendidih mendengar ucapan Uda tirinya itu.
“Hahahaha…jadi kamu merasa juga kalau dirimu tak berguna? Asal kamu tahu yah, Uda tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya berobat Abak. Sebab Abak sekarang sudah menjadi tanggung jawabmu,” jawab Uda Yanuar dengan senyum mengejek.”
“Uda benar-benar jauh berubah. Jangan sampe nasib Uda seperti si Malin kundang, karena sudah menyia-nyiakan orang tua sendiri. Permisi!” Bintang pun segera angkat kaki dengan muka memerah karena marah.
Sesampainya dirumah, Mande telah menunggunya dengan harap-harap cemas.
“Bagaimana Bintang? Kamu ketemu dengan Udamu?” Tanya Mande gak sabar.
“Bukan hanya ketemu Mande, Bintang malah beradu mulut dengan Uda Yanuar yang tak tahu diri itu,” jawab Bintang sambil meninju tembok dengan kepalan tangannya.
“Apa maksudmu? Mengapa kalian harus beradu mulut segala? Gak kamu bilang sama Udamu kalo abak sekarang dirawat dirumah sakit?” Tanya Mande heran.
“Karena itulah kami beradu mulut Mande. Sebab Uda Yanuar benar-benar sudah kelewatan. Masak sama Abaknya sendiri gak perduli. Jangankan membayar uang berobat, menjenguk Abak aja dia gak mau. Benar-benar sudah menjadi anak durhaka dia,” ucap Bintang dengan rahang yang masih mengeras karena geram.
“Masya Allah! Kenapa Uda tirimu itu jadi berubah? Padahal sebelumnya dia masih mau mengunjungi Abak dan adik-adikmu.”
“Orang kalau sudah diatas angin begitu Mande, jadi lupa diri. Dia kira hidup tanpa ridha orang tua akan berhasil? Lihat saja nanti kalau Allah sudah menjatuhkan hukumannya.”
“Kamu gak boleh ngomong begitu Nak. Kita doakan saja Udamu segera sadar dari khilafnya.”
“Bintang gak mendoakan Mande, tapi ngomong kenyataan. Sudahlah Mande, kita gak usah mengharapkan dia lagi. Bintang akan usahakan mencari pinjaman pada yang lain.”
“Tapi kamu mau minjam sama siapa uang sebanyak itu?”
“Bintang akan coba menemui bapaknya siBahar yang orang kaya itu Mande. Kebetulan si Bahar akrab sama Bintang. Dia pasti mau menolong.”
“Semoga yah Nak, soalnya Mande bingung memikirkan biaya berobat Abakmu yang berkisar lima jutaan itu.
“Doakan Bintang Mande, agar dimudahkan urusan ini,” ucap Bintang sambil menggengam kedua tanganku erat.
“Itu sudah pasti Nak. Apapun yang akan kau kerjakan, Mande selalu mendoakanmu.” Bintang pun kembali bersemangat.
Sudah satu minggu Abak dirumah sakit. Hari ini dokter sudah memperbolehkan suamiku pulang.
“Abak harus berpantang makan yah? Gak boleh banyak makan-makanan yang mengandung zat gula karena Abak diabetes,” ucap Bintang begitu suamiku sudah sampai dirumah.
“Tapi Abak masih bolehkan makan nasi Padang? Abak pengen sekali makan direstoran kayak dulu.”
“Ya sudah, Nanti Rusli akan ajak Abak makan direstoran tempat Rusli kerja. Tapi sekali ini saja yah Bak. Abak harus mulai berdiet,” ucap Rusli.
“Iya. Abak juga harus banyak gerak. Setiap hari harus jalan pagi. Nanti Upik temani Abak,” Upik berkata senang karena Abak sudah baikan.
“Rusli, lebih baik ajak Abakmu makan direstoran Ajo Yanuar. Siapa tahu bisa bertemu Ajomu nanti,” ucap Mande.
“Gak perlu Mande, Nanti dia kira Abak sengaja kita suruh makan direstorannya supaya gratis,” jawab Bintang gak suka.
“Memangnya kenapa? Wajar kalo Abak makan direstoran anaknya sendiri. Siapa tahu Abakmu rindu sama Ajomuu.”
“Abak kan sudah pikun Mande, pasti dia sudah gak ingat lagi sama Ajo Yanuar,” jawab Upik.
“Justru itu kita harus mengingatkannya dengan membawa Abakmu makan disana,” Mande terus bersikeras dengan ucapannya.
“Yah sudah, Nanti Rusli yang akan menemani Abak ke restoran Ajo Yanuar,” jawab Rusli mencoba menengahi.
“Terserah kamu Rusli, Uda sudah tak mau bertemu muka si Yanuar itu lagi. sakit hati ini masih belum hilang,” jawab Bintang. Sesudah berkata begitu, Bintang langsung masuk ke kamarnya dan kembali berkutat dengan buku-bukunya. Dunia yang bisa menenggelamkan semua rasa sesak didadanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut