novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata
Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label true story. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Oktober 2011

Tears In Heaven 5



Aku sudah hapal dengan watak Bintang yang begitu sensitive dan serius. Serta sulit begitu saja melupakan sakit hatinya. Tapi aku yakin Bintang tak pernah menyimpan dendam. Bintang hanya mudah terluka bila hatinya disinggung. Dan luka itu tak mudah kering dalam waktu sekejap. Butuh waktu bilangan bulan bahkan tahun untuk menyembuhkannya. Nampaknya watakku yang perasa menurun pada Bintang. Beda dengan adiknya Rusli yang lebih santai dan humoris.
Jadilah Setiap minggu Rusli menemani Abaknya makan direstoran Yanuar. Meski menurut Rusli Uda tirinya itu tak pernah turun menemui Abaknya yang sedang makan. Benar-benar tak punya hati, aku mendengus kesal mendengarnya. Untung Abaknya sudah gak ingat apa-apa, kalo gak hati orangtua mana yang tidak sakit dicuekin oleh anak sendiri. Tapi kami tak bisa mencegah keinginan suamiku untuk makan masakan Padang minimal setiap dua minggu sekali di rumah anaknya itu. Yang penting karyawannya si Yanuar sudah mengerti kalo yang makan adalah Bapak dari bos mereka. Mereka akan melayani dengan baik dan menyediakan lauk yang enak-enak yang ada direstoran itu. Gak lucu juga kan? masak anaknya punya rumah makan tapi Abaknya mati kelaparan. Jadi siapapun termasuk Yanuar tak bisa melarang keinginan Abaknya untuk bisa makan enak meski hanya dua minggu sekali.
Masalah satu selesai timbul masalah baru. Karena sudah menunggak uang listrik selama tiga bulan, akhirnya pihak PLN mengancam akan mencabut listrik dirumah. Aku kembali panik membayangkan rumah akan gelap tanpa cahaya lampu. Apalagi Bintang suka membaca, gak mungkin dia membaca di ruangan yang gelap gulita. Adik-adiknya Bintang juga tak bisa belajar kalau tak ada lampu. Andaipun dipasang lilin, tetap tak baik bagi mata mereka untuk membaca diruangan yang remang-remang.
“Bagaimana ini Mande? Upik kan mau ujian? Gimana bisa belajar. Mana Uda pulangnya nanti malam lagi,” sungut Upik kesal.
“Iya nih, Mukhlis juga sedang ujian kenaikan kelas. Kapan bisa belajar kalo lampu mati.”
“Untuk sementara kalian belajarnya siang hari saja dulu. Mande akan kerumah Etekmu di pasar merah. Siapa tahu dia bisa membantu kita. Kalian tunggu rumah yah.”
“Iya Mande,” jawab Upik dan Mukhlis serempak..
Aku harus mencari pinjaman uang untuk melunasi tunggakan listrik. Semoga Eteknya mau meminjamkan sejumlah uang yang diperlukan. Aku berharap besar saudara dari Abaknya Bintang mau membantu.
“Memangnya Uni mau minjam berapa?”
“Gak banyak Tek, hanya tiga ratus ribu saja,” jawabku senang. Karena akhirnya Eteknya bersedia meminjamkan.
“Tapi kapan Uni mau menggantinya?”
“Nanti kalo Bintang sudah dapat kerjaan Tek.”
“Bintang itu sarjana pak Ogah ya? Masak udah tamat masih nganggur,” cibir Etek Rohma.
“Cari pekerjaaan memang susah Tek. Tapi aku yakin, tak lama lagi Bintang pasti diterima bekerja,” jawabku tak enak hati. Meski amat tersinggung mendengar ejekannya, kucoba menahan hati demi uang tiga ratus ribu. Dan tanpa berlama-lama aku segera pamit pulang sambil menangis di dalam hati. Semoga masa-masa sulit ini segera berlalu dengan diterimanya Bintang bekerja, doaku tiada henti. Tanpa terasa, airmata membasahi kedua mataku yang sudah kabur. Segera kuputar langkahku menuju tempat pembayaran listrik. Bukankah semakin cepat dibayar, semakin baik agar listrik dirumah tak segera dicabut.
Begitu tiba dirumah, hari sudah sore. Tumben Bintang sudah ada dirumah begitu aku sampai.
“Mande darimana saja?”
“Dari rumah Etekmu meminjam uang untuk bayar listrik,” jawabku tersenyum. Mencoba menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Bagaimanapun Bintang tak boleh tahu betapa hancurnya hatiku mendengar sindiran tajam Eteknya.
“Kenapa Mande gak nunggu Bintang dulu? Biar Bintang yang pergi dari pada Mande harus keluar sampe sore begini. Bintang khawatir.”
“Sudahlah Nak, semuanya sudah beres kok. Kamu gak perlu terlalu mencemaskan Mande. Yang penting listrik dirumah kita gak jadi diputus.”
“Mande, Bintang benar-benar belum bisa membahagiakan keluarga kita. Bintang harus berbuat apa lagi agar kita segera terlepas dari kesulitan keuangan,” jawab Bintang lesu.
“Kamu jangan berputus asa Nak. Mande yakin kamu akan dapat pekerjaan tak lama lagi.”
“Itulah yang Bintang tunggu-tunggu Mande. Tapi sampai kapan? Sudah hampir satu tahun Bintang menunggu. Mengapa nasib baik belum juga berpihak pada Bintang? Bintang memang anak yang tak berguna! Ucapnya lagi.
“Bintang, kamu tak boleh menghukum dirimu sendiri. Banyaklah beribadah dan berserah diri padaNya. Mande tak pernah memaksa Bintang harus bekerja sekarang. Kalau memang Allah belum memberi, kita harus bisa terima Nak. Nanti juga tiba saatnya,” hiburku mencoba bersikap tegar dihadapan Bintang.
“Tapi Bintang gak tega melihat adik-adik yang kadang makan hanya berlaukkan garam seperti sekarang.”
“Kita harus tetap bersyukur Nak, yang penting masih bisa makan. Toh gak setiap hari adikmu makan tanpa lauk. Si Rusli masih suka membawa lauk sepulang dari tempatnya bekerja meski hanya sesekali.”
“Iya Mande, tapi kalo sampe bulan depan Bintang belum mendapat panggilan juga, Bintang akan merantau ke Jakarta dari pada menunggu terus tanpa kepastian. “
“Pergilah Nak, Mande tak akan pernah melarang. Yang penting kamu bisa menjaga diri. Sekarang kamu istirahatlah dulu, pasti capek karena sudah berjalan jauh untuk mengajar.” Bintang pun menurutiku. Setelah makan malam, dia segera masuk ke kamar dan menenggelamkan dirinya pada buku-buku. Hingga tertidur dengan buku menutupi wajahnya.
Aku sendiri tak dapat memejamkan mata. Hatiku masih sedih mengingat perkataan Eteknya tadi. Segera aku pergi berwudu’ dan menunanikan solat malam. Lalu berdoa dengan sepenuh hati.
“Duh Robbi! tolonglah kembalikan nama baik anakku Bintang. Aku tahu, dia sudah berusaha bekerja keras demi kami. Tapi usaha yang dia lakukan belum jua menampakkan hasil. Sebagai ibunya, hamba hanya bisa berdoa agar Kau memudahkan jalannya menuju kesuksesan. Kesukesan hidupnya dunia dan akhirat. Hanya kepadamu kami bergantung. Perkenankanlah permohonan hambamu yang lemah ini. Amin…”
Hari ini begitu cerahnya. Beda dengan hari-hari sebelumnya. Langit diterangi sinar mentari yang tak terlalu panas menyengat kulitku. Semangat baru seakan timbul kembali dihatiku. Entahlah, apa ini perasaanku saja. Kebetulan aku tak ada jadwal les privat hari ini. Aku akan kembali menata hidupku dengan menuliskan lamaran kerja yang baru. Tiba-tiba keasyikanku dikejutkan oleh suara tukang pos di depan rumah.
“Pos..pos..ada kiriman dari Jakarta,” teriak tukang pos nyaring. Seketika aku melompat dari tempat dudukku. Dan bergegas keluar kamar menghampirinya si tukang pos.
“Makasih yah pak,” ucapku riang setelah lebih dulu menandatangai surat tanda terima.
“Dari siapa Mande?” Tanya Bintang dari dalam rumah.
“Gak tahu Nak, tapi yang jelas dari Jakarta.”
“Mungkin saja surat panggilan kerja,” tiba-tiba Bintang sudah berdiri disampingku.
“Bintang buka dulu yah Mande, biar tahu isinya.”
“Bukalah, Mande sudah tak sabar.” Dengan hati-hati, ia sobek pinggir sampul surat yang berwarna coklat ditangannya. Tak lama kemudian,
“Akhirnya Bintang mendapat panggilan kerja dari perusahaan Perancis Mande,” ucap Bintang sambil memelukku senang.
“Alhamdulillaaahhh. Allah benar-benar mengabulkan doa Mande.”
“Bintang harus bersiap-siap untuk ke Jakarta besok. Soalnya tes wawancaranya dimulai minggu depan Mande.”
“Iya Nak, Mande akan bantu kamu bersiap-siap. Oh ya, kamu punya ongkos buat ke Jakarta?”
“Untuk ongkos ada kok Mande.”
“Tapi kamu perlu uang saku juga Nak. Untuk makan dan transfort selama di Ibukota. Kamu kan baru diterima bekerja, jadi belum menerima gaji kan?”
“Mande gak usah terlalu memikirkan hal itu. Bintang akan mencari pinjaman pada teman. Nanti setelah menerima gaji pertama akan Bintang lunasi.”
“Bintang, maafkan Mande yang gak bisa memberikan uang saku padamu. Andai saja perhiasan emas Mande belum terjual semuanya. Pasti kamu gak perlu bersusah payah seperti ini.
“Sudahlah Mande, Bintang gak papa kok minjam duit teman. Lagipula perhiasan Mande terjual buat menyekolahkan Bintang dan adik-adik juga. Bintang akan mengganti semua perhiasan Mande setelah Bintang bekerja dan menerima gaji nanti.”
“Gak perlu Nak, yang penting kamu dan adik-adik bisa berhasil. Itu sudah cukup bagi Mande.”
“Terima kasih yah Mande. Bintang sangat bersyukur memiliki Mande yang selalu mendorong Bintang untuk terus maju,” jawab Bintang tersenyum. Air mata haru membasahi kedua pelupuk mataku. Sungguh bahagia rasanya memiliki anak yang cerdas dan berbakti seperti Bintang.
Sepanjang hari, aku dan anak-anak menghabiskan waktu dengan hati yang riang. Seolah kedukaan dalam hidup yang kami alami kemarin sirna dalam sehari. Kami tak punya uang untuk merayakan keberhasilan Bintang dengan selamatan ataupun makan-makan. Malam harinya kami menghabiskan waktu dengan makan bersama dan berkumpul sambil bertukar cerita. Rusli, Upik, Iqra dan Mukhlis terus mengajak Bintang ngobrol. Mungkin karena besok mereka sudah berpisah. Jadi mereka habiskan waktu malam ini bersama Udanya. Biasanya mereka sudah tidur sebelum jam sembilan malam. Tapi malam ini meski jam telah menunjukkan pukul duabelas malam, mereka belum juga beranjak dari kamar bintang.
Bintang terus menanyakan pada adik-adiknya apa saja yang mereka butuhkan untuk keperluan sekolah. Bintang berjanji akan memenuhi kebutuhan mereka dengan rutin mengirimkan sebagian uang gajinya setiap bulan. Bintang juga menyuruh Rusli untuk berhenti bekerja dan meneruskan sekolah ke jenjang sarjana. Suara Upik, Iqra dan Mukhlis terdengar begitu semangat menyebutkan satu-persatu keinginan mereka. Aku menangis bahagia mendengar suara riuh mereka dari luar kamar. Begitu akrabnya mereka satu sama lain.
Begitu sayang dan perhatiannnya Bintang pada adik-adiknya. Sebuah berkah luar biasa yang Allah berikan untuk keluarga yang kumiliki. Sementara Abaknya Bintang sudah tertidur pulas. Dia seperti tak perduli dengan apa yang terjadi. Hidupnya hanya dihabiskan dengan makan, tidur, dan duduk diruang tamu melihat orang-orang yang lalu lalang. Sesekali anak-anak bergantian mengajak Abaknya jalan pagi atau sekedar menemaninya berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan rasa jenuh.
Menjelang larut malam, suasana mulai hening. Rupanya anak-anak sudah tertidur pulas karena lelah. Sementara aku masih terjaga dan berniat akan melakukan solat malam. Untuk mengadukan kegembiraan hatiku pada yang Kuasa sembari mengucap syukur pada-Nya atas diterimanya Bintang bekerja. Akupun segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudu’. Meski ditengah rasa kantuk yang tak tertahankan. Keesokan harinya, aku lebih sibuk karena harus mempersiapkan keberangkatan Bintang. Adik-adiknya Bintang juga sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Hanya Rusli yang menemaniku ke bandara dengan bolos bekerja.
“Uda, Upik ingin mengantarkan Uda ke bandara. Tapi Upik lagi ujian jadi gak bisa ditinggal.”
“Iqra juga Da. Nanti Uda sering-sering kirim surat ya?”
“Iya, itu sudah pasti. Kalian belajar yang rajin yah. Jaga Mukhlis baik-baik. Bantu Mande di rumah,” nasehat Bintang lembut.
“Mukhlis ingin dibelikan sepeda Da,” ucap Mukhlis manja.
“Kalau kamu nanti juara di sekolah, Uda akan kasih hadiah sepeda yang bagus. Jadi tetap semangat ya.”
“Iya Da, semangat!,” jawab Muhklis. Kami pun tertawa mendengarnya.
Setelah satu persatu adiknya Bintang pergi, kini giliran Bintang minta ijin pada Abaknya sebelum berangkat.
“Bak, Bintang akan ke Jakarta untuk bekerja. Bintang minta restu yah Bak.”
“Oh, Wa-ang? Pailah abak senang Wa-ang sudah diterima bekerja.” Tak berapa sesampainya di Bandara, pesawat datang tepat waktu. Bintang pun bersiap-siap untuk naik pesawat.
“Mande, Bintang mohon doa restu agar selama disana dimudahkan urusannya,” ucap Bintang sambil memelukku.
“Rusli, Uda titipkan adik-adik padamu. Jaga mereka baik-baik yah..”
“Sudah pasti Uda, gak usah khawatir,” jawab Rusli haru.
“Pergilah Nak. Doa Mande menyertaimu. Sering-sering kirim kabar yah?”
“Iya Mande, Bintang pamit dulu.” Aku pun melepasnya dengan berurai air mata. Berat rasanya harus hidup berjauhan dengan Bintang. Tapi hidup dan keberhasilan Bintang lebih utama. Aku harus kuat dan tegar melepasnya. Demi masa depan Bintang dan adik-adiknya. Kutatap terus punggung Bintang sampai hilang dari pandangan. Aku dan Rusli melepas Bintang dengan hati yang penuh harapan. Sebelum jauh, sekali lagi Bintang melambaikan tangannya dan tak menoleh lagi ke belakang.(bersambung)

Minggu, 25 September 2011

Teardrop In Heaven 3




Suatu hari sehabis pulang bermain, Bintang merengek-rengek agar dijinkan untuk berjualan es mambo. Terang saja aku heran dengan niatnya itu. Anak sekecil dia kok sudah minta berdagang.

“Sudahlah Layla, turuti saja permintaan Bintang,” jawab Abaknya saat kuceritakan tentang keinginan kuat Bintang.

“Tapi Uda, apa kata orang nanti? Mereka kira kita sengaja mempekerjakan anak sendiri untuk biaya hidup. Padahal hidup kita tidak kekurangankan?” aku berkata sedikit emosi.

“Untuk apa kita lebih memperdulikan orang lain daripada anak sendiri? Mungkin Bintang ingin belajar berdagang. Pastilah darah itu menurun dari aku,” ucap Abaknya bangga.

“Ya syukurlah kalau Uda memang setuju. Besok akan Layla buatkan es mambo untuk dijual oleh Bintang.”

“Gak perlu banyak-banyak Layla. Sekedar untuk membuat anak kita senang aja, karena keinginannya untuk jualan tersalurkan,” ucap suamiku tersenyum senang. Mendapati anak sulungnya memiliki darah berdagang seperti dirinya. Aku yakin, besok akan kulihat wajah senang itu juga di wajah Bintang. Saat tahu aku mengijinkannya jualan es mambo. Ada-ada saja keinginan Bintang. Buat apa juga susah-susah jualan. Padahal dari segi ekonomi Bintang tak pernah kekurangan. Uang jajan Bintang mungkin lebih besar dari untung yang ia dapat dari berjualan. Aku pun tersenyum melihat Bintang yang sedang tertidur pulas. Kuelus-elus rambutnya dengan penuh cinta.

“Bintang, besok kau akan mendapatkan pengalaman yang baru dalam hidupmu.” Aku pun tak dapat memejamkan mata selain menatap wajah Bintang kecilku. Rasanya sulit membayangkan Bintang harus berjualan disaat anak-anak lain sedang bermain-main dengan sepuasnya.
“Asyik…asyik..asyik…Bintang boleh jualan…. Bintang boleh jualan…Mande memang baik,” Bintang berkata sambil melonjak-lonjak kegirangan.
“Tapi jualannya jangan jauh-jauh yah sayang. Dekat-dekat sini aja,” perintahku lembut.
“Kalau ke pasar boleh gak Mande?”
“Ngapain sampe ke pasar Nak. Dekat rumah aja jualannya.”
“Tapi pasar kan dekat dari sini Mande. Boleh yah?” wajah Bintang memohon.
“Baiklah! Akan Mande antar kamu ke pasar. Yuk! Anak manis,” aku segera menggamit tangannya dan menemaninya sampai ke pasar.
“Sudah, Mande pulang aja. Biar Bintang jualan sendiri.”
“Benar Bintang berani sendiri?” tanyaku lagi dengan hati yang penuh was-was.
“Tentu saja Bintang berani Mande. Semua orang dipasar ini Bintang kenal,” jawab Bintang lantang. Aku pun sedikit lega mendengarnya. Benar juga pikirku.

Dulu kan Bintang sering dibawa ke pasar oleh Abaknya untuk melihat restoran. Aku masih ingat betapa orang-orang gemes dan sayang begitu melihat Bintang. Apalagi Bintang mau dengan siapa saja. Akhirnya sebelum pulang, aku titipkan Bintang pada orang-orang di pasar.

“Tenang saja Ni, kami akan mengawasi bintang selama dia berjualan,” jawab salah seorang yang kukenal.
“Makasih ya,” jawabku lega. Sebelum pulang, kuhampiri Bintang yang lagi duduk dipinggir pasar bersama orang-orang yang sudah familiar dengan keluarga kami.
“Bintang, jangan lama-lama jualannya yah Nak. Sebelum makan siang habis gak habis esnya harus sudah pulang,” nasehatku lagi sebelum meninggalkannya.
“Pasti habis es mambonya Mande. Lihat saja nanti,” ucap Bintang dengan semangat empat lima.

Aku benar-benar merasa bangga pada kemauan kuat Bintang. Lalu segera mencium pipinya sebelum pulang. Dari kejauhan kulihat orang-orang mengerubungi anakku. Orang-orang tertawa senang menyaksikan Bintang yang tengah bernyanyi dengan lincahnya.
Siang harinya Bintang kembali kerumah dengan wajah yang berbinar-binar.

“Mande! es mambo Bintang sudah habis nih,” ucapnya girang sambil menunjukkan kotak termos es padaku.
“Wah, Bintang memang hebat!
“Orang-orang mau beli es mambo asalkan Bintang mau disuruh menyanyi Mande. Jadi Bintang menyanyi aja asalkan esnya dibeli,” jawabnya polos.
“Oh, begitu ceritanya. Pantesan esnya cepat laku,” gelakku sambil memeluk Bintang. “Karena Bintang sudah capek berdagang, pasti sekarang perutnya lapar. Iya kan?” tanyaku dengan hati yang bungah karena bahagia.
“Iya Mande. Sekarang Bintang mau makan dulu dengan daging rendang yang banyak.”
“Sudah Mande siapkan diatas meja. Tapi Bintang cuci tangan dulu yah,” perintahku lembut.
“Oke Mande.” Bintang pun segera mengambil sabun dan mencuci tangannya hingga bersih. Setelah itu segera duduk menghadapi piring dan aneka lauk diatas meja. Dengan lahapnya Bintang menghabiskan nasinya. Aku tersenyum menyaksikan itu semua. Bintang kecilku ternyata benar-benar lapar.

20 tahun kemudian
Aku masih menunggu Bintang dengan gelisah. Sudah selarut ini dia belum juga kembali. Dari tadi pikiranku tak tenang. Sementara adik-adiknya Bintang telah terbang ke alam mimpi. Tiba-tiba kulihat sesosok lelaki jangkung memasuki halaman rumah. Aku bernafas lega. Bintang akhirnya pulang juga.

“Darimana saja kamu Nak. Mande khawatir sekali jam segini baru keliatan,” sambutku di depan pintu.
“Seperti biasa Mande, Bintang harus memberi les privat dulu pada murid-murid Bintang. Apalagi rumah mereka jauh-jauh. Jadi Bintang kemalaman terus sampai dirumah,” jawab Bintang sambil mencium tanganku.
Meski kagum pada kegigihannya, tapi jauh dilubuk hatiku merasa trenyuh melihat keadaan Bintang yang sekarang. Memang Bintang tetap menyinari hari-hariku dengan kepintarannya. Hanya saja fisiknya tak lagi seberisi dulu. Terlihat semakin kurus dengan warna kulit yang lebih hitam. Maklumlah, rumah murid-muridnya sangat jauh. Bahkan pernah bintang berjalan kaki disaat tak punya uang transfort. Rambutnya yang ikal terlihat gondrong karena Bintang tak punya waktu lagi untuk pergi ke tukang pangkas.

Akh, sejak restoran terbakar, abaknya Bintang hanya bisa kerja serabutan. Untuk memulai usaha lagi dari awal sudah tak mampu. Mengingat usianya yang semakin menua. Kondisi fisiknya tak lagi memungkinkan untuk bekerja keras. Selain tak punya modal yang cukup. Dan kini abaknya sudah tak lagi bekerja. Beban keluarga pun berpindah ke pundak bintang. Sementara Adik-adiknya Bintang masih kecil-kecil. Walau yang sudah agak besar seperti Adnan dan Rusli tak lepas tangan. Tapi hanya bintang yang bisa diandalkan.

Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa mendorong dan mendoakannya. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak pernah bekerja mencari nafkah. Sepanjang hidupku kuhabiskan untuk mengurus keenam orang anak yang lahir berturut-turut dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Begitu anak-anak sudah besar, aku tak memiliki keahlian apa-apa. Selain mataku yang semakin rusak dan kabur, waktuku juga tak memungkinkan untuk mencari nafkah. Apalagi sekarang Abaknya sering sakit-sakitan. Otomatis waktuku habis untuk mengurusnya.

Masa-masa sulit harus kualami dalam membesarkan adik-adiknya Bintang. Aznan putra keduaku tak sesehat dan sesempurna bintang. Ketika duduk dibangku SMP sebuah musibah menimpanya. Kepalanya geger otak sehabis berkelahi dengan teman sekolahnya. Akibat lemparan batu yang tepat mengenai kepala belakangnya. Ditambah lagi penyakit malaria akut yang menimpanya. Tak jarang disaat panasnya tinggi, Aznan suka mengamuk karena panasnya sampai ke otak. Perabotan rumah hampir setiap hari hancur berantakan akibat amukannya. Akhirnya Allah memanggilnya di usia yang masih belia. Meski sangat sedih dan hancur, aku mencoba mengikhlaskan kepergian adiknya Bintang.

Allah mungkin lebih tahu tentang diriku. Seandainya Aznan terus hidup, dia akan terus menyusahkanku dengan penyakitnya itu. Karena selama hidupnya, Aznan sering mengamuk dengan menghancurkan perabotan rumah. Juga sering melempari orang-orang sekitarnya disaat panas tinggi menghinggapi otaknya. Hingga aznan melampiaskan rasa sakit yang dia rasakan dengan amukan. Airmataku pun sudah kering dalam menghadapinya. Mungkin inilah jalan keluar terbaik dari Yang Kuasa pada seorang ibu yang tiada daya sepertiku. Yang aku sendiri tak mungkin sanggup memikulnya terus. Aku tahu Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Aku yakin selalu ada hikmah dibalik setiap masalah yang kualami.
Adik bungsu Bintang lain lagi masalahnya. Dia sering mengeluh merasakan sakit dibagian perut dan dadanya. Bolak-bolak aku membawanya ke dokter. Tapi tak kunjung sembuh jua. Yang lebih mengejutkan lagi, setelah diperiksa luar dalam tak ditemukan penyakit apapun. Benar-benar diluar jangkauanku sebagai seorang manusia. Hingga suatu hari aku menemukan sebuah kain yang dibungkus rapi. Begitu dibongkar terlihatlah isi yang sungguh aneh. Beberapa buah jarum dan serbuk besi terbungkus didalamnya. Oleh orang pintar Mukhlis dibilang terkena santet.
Akh, aku tak ingin menduakan Tuhan. Lagipula siapa yang sudah begitu tega berbuat itu padaku dan anakku? Aku merasa tak pernah memiliki musuh. Kupasrahkan semua pada Ilahi. Kubawa adiknya Aznan berobat ke seorang ustad. Setelah diterapi dan didoakan, akhirnya penyakit Mukhlis bisa disembuhkan.
Takdirkah ini semua? Aku tak pernah menyesal pernah menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua. Hingga saat anak-anakku beranjak dewasa suamiku sudah begitu renta. Dan kini menjadi beban tanggung jawabku dan anak-anak untuk mengurusnya.
“Bintang. Kamu jangan terlalu memaksakan diri mencari penghasilan tambahan Nak. Kan masih ada Rusli adikmu yang juga bekerja. Mande takut kau nanti jatuh sakit,” ucapku khawatir.
“Tidak apa-apa Mande. Bintang baik-baik saja kok,” jawabnya tersenyum.
“Kamu tak perlu berjalan sejauh itu setiap hari Nak. Jangan terlalu menghemat uang ongkos demi kami yang ada dirumah.”
“Bintang sudah terbiasa berjalan jauh kok Mande. Meski lebih capek, tapi kaki bintang jadi semakin kuat,” ucap Bintang lagi.
“Tapi kalau terlalu capek, kamu tak bisa belajar dengan baik. Karena begitu sampai dirumah langsung tertidur karena letih. Bisa-bisa pelajaran kuliahmu terbengkalai.”
“Jangan terlalu cemas Mande. Bintang bisa belajar dimana saja. Bahkan di dalam kendaraan sekalipun,” jawabnya mencoba menghiburku. Aku hanya bisa pasrah mendengar jawaban cerdas Bintang. Dia semakin dewasa di usianya yang sekarang.
Itulah Bintang. Meski ditengah keadaan ekonomi keluarga yang semakin morat-marit, dia tetap ngotot untuk terus melanjutkan kuliahnya. Dia memiliki cita-cita yang sanagat tinggi yaitu ingin bersekolah ke luar negeri. Dia juga berambisi untuk bisa mengantarkan adik-adiknya kejenjang sarjana. Untuk itulah Bintang mencari uang sendiri dalam membiayai kuliahnya. Disamping untuk membantu ekonomi keluarga.
Aku begitu bahagia memiliki anak seperti Bintang. Selama hidupnya Bintang selalu menghiasi hidupku dengan kecerdasannya. Dia selalu rangking disekolah. Hingga bisa masuk ke sekolah favorit dari mulai SD hingga kuliah. Yah, Bintang diterima di fakultas negeri jurusan ekonomi dengan skor yang tinggi. Ketekunan dan kesukaannya pada bukulah yang membuatnya selalu menjadi nomor satu disekolah. Memang sejak kecil Bintang suka membaca. Bahkan kertas bungkus belanjaan pun tak luput ia baca. Hingga sedari kecil dia sudah kubelikan buku-buku cerita agar minat bacanya tersalurkan. Sekarang Bintang sudah menjadi lelaki dewasa yang penuh tanggung jawab. Aku semakin bangga padanya.

Hari ini kami sekeluarga begitu berbahagia, karena Bintang akan diwisuda menjadi seorang sarjana ekonomi. Aku, suamiku, juga adik-adiknya Bintang datang untuk menghadirinya dengan sukacita. Pagi-pagi sekali kami sudah sampai dikampus Bintang. Meski acara belum dimulai, kami menunggu dengan sabar dan senang. Berkali-kali kutatap wajah Bintang yang sedang berbinar-binar bahagia.
“Sebentar lagi kerja kerja kerasmu akan terbayar Nak. Mande bangga sekali padamu,” ucapku sambil memegang erat tangan Bintang.
“Iya Mande. Tak sia-sia usaha keras Bintang selama ini. Ini semua Bintang lakukan demi Mande dan adik-adik. Bintang akan segera mencari kerja setelah ini. Doakan Bintang yah Mande,” ucap Bintang sambil menatapku bahagia.
“Tentu saja Nak. Mande tak akan pernah berhenti mendokanmu,” jawabku sambil tersenyum. Senyum bahagia yang sulit kulukiskan. Tak lama lagi Bintangku akan semakin bersinar dalam hidupnya.
Tiba saatnya acara wisuda dimulai. Kami segera masuk ke dalam atrium yang cukup besar. Tamu-tamu undangan sudah banyak yang hadir. Mereka para orangtua siswa dan teman-teman siswa yang hendak diwisuda. Satu-persatu para wisudawan naik ke atas panggung saat dipanggil. Pas giliran Bintang yang naik, kami sudah bersiap-siap hendak memotretnya. Air mata haru menetes dikedua pelupuk mataku, saat melihat Bintang memakai toga dan dilantik untuk diwisuda. Kulihat mata Abaknya berkaca-kaca. Adik-adiknya Bintang tersenyum gembira melihat Udanya yang terlihat gagah saat diwisuda.
Setelah acara wisuda selesai, kami segera mendekati Bintang. Memeluknya dan memberinya ucapan selamat. Sebagai ungkapan kebahagiaan, kami berfoto bersama. Bintang juga menyediakan dirinya untuk difoto oleh teman-temannya. Mereka saling berangkulan dan memberi ucapan selamat.
“Apa rencanamu setelah ini,” Tanya salah seorang teman Bintang.
“Aku mau cari kerja ke Jakarta Wan, kamu sendiri?” Tanya Bintang.
“Aku mau melanjutkan S2 ke Amrik,” jawab Wawan.
“Aku juga ingin melanjutkan S2 Wan, tapi gak sekarang. Aku harus cari kerja dulu agar punya bekal untuk itu. Maklumlah aku tidak sekaya kamu Wan.”
“Kamu kan bisa sekolah ke luar negeri dengan mencari beasiswa. Apalagi otakmu encer. Coba-coba aja Bintang. Aku yakin kamu bisa lolos.”
“Kamu bisa aja Wan. Nantilah aku pikirkan hal itu. Yang terpenting sekarang aku hendak mencari pekerjaan dulu.”
“Semoga semuanya lancar yah,” ucap Wawan sebelum pamit pergi. Aku yang mendengarnya merasa terharu. Ternyata Bintang tetap menyimpan cita-cita yang sangat tinggi Semoga Bintang bisa mewujudkannya suatu hari nanti. Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa mendoakannya. Setelah selesai berfoto-foto dan saling bertukar cerita dengan teman-teman wisudanya, Bintang pun mengajak kami pulang. Sepanjang perjalanan, masih tersisa binar-binar keceriaan itu di wajah Bintang. Selama didalam mobil, dia terus bercerita dengan penuh semangat tentang rencana hidupnya yaitu ingin segera membahagiakan aku dan adik-adiknya.

Kamis, 22 September 2011

Teardrop In Heaven Part 2




Suatu hari sepulang bekerja dari restoran, Mande membawa berita yang mengejutkan bagiku dan Mande. Mengejutkan bagiku karena aku benar-benar tak ingin mendengarnya. Sementara bagi Mande berita inilah yang sudah lama ia tunggu-tunggu.

“Kamu mau kan Layla?” Tanya Mande penuh harap padaku. Mencoba mendengar kepastian itu dari mulutku.
“Bukan aku tidak mau Mande, tapi mengapa secepat ini? jawabku sambil menghapus kristal-kristal putih yang menetes di kedua pipiku.
“Soalnya Bagindo Sulaiman tak ingin berlama-lama menunggu. Kamu harus tahu Layla, bagi seorang duda tanpa seorang istri dalam jangka waktu yang lama sungguhlah berat. Bagindo Sulaiman begitu kesepian.”
“Tapi Layla belum siap Mande,”jawabku masih terisak.

Sepertinya keputusan Mande sudah final. Dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Mande memang seorang ibu yang begitu sayang dan perhatian padaku. Tapi Mande juga seorang ibu yang keras dan tegas dalam mendidik anaknya.
Meski aku tahu tujuan Mande baik dengan menjodohkan aku dengan lelaki pilihannya. Tapi bagaimana dengan rasa cintaku pada Ardy? Benarkah cinta bisa tumbuh di kemudian hari? Diam-diam aku menyusun sebuah rencana. Aku harus membatalkan lamaran ini dengan caraku. Ini menyangkut masa depanku sendiri. Aku tak akan menyerah begitu saja. Meski kutahu setelah ini Mande akan kecewa padaku.

Keesokan harinya. Kumasukkan baju beberapa helai ke dalam tas. Semua perlengkapanku sudah tersimpan rapi di dalamnya. Kuputuskan siang ini untuk kabur dari rumah, mumpung Mande belum pulang dari restoran. Kukuatkan hati untuk pergi. Tak ada lagi yang bisa menahanku di rumah ini. Aku berbuat nekat seperti ini agar Mande tahu bahwa aku serius dengan keputusanku. Aku tak bersedia menerima lamaran Bagindo Sulaiman. Setelah kurasa aman sambil celingak-celinguk ke kiri dan kekanan, akupun keluar dan mengunci rumah dari luar.

Dengan cepat segera kulangkahkan kaki tanpa melihat ke belakang. Aku harus berpacu dengan waktu sebelum ketahuan oleh orang-orang. Dadaku berdegup sangat kencang. Nafasku tak beraturan. Perasaan was-was, panik dan takut berkecamuk dibenakku. Aku harus segera pergi meninggalkan kampung ini dan Mande. Tiba-tiba langkahku terhenti sejenak, saat berpapasan dengan salah seorang tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumahku.

“Hendak kemana kau Layla dengan tas sebesar itu?” Tanya Rida heran.
“Oh, aku hendak pergi ke rumah Etek di Padang ,”jawabku gugup
“Tumben Mandemu gak ikut mengantar. Tapi hati-hati yah di jalan,” ucap Rida lagi. Aku pun mencoba bersikap tenang dan menjawab seadanya.
“Makasih ya Rida aku sedang buru-buru nih. Aku duluan yah,” ucapku sedikit panik. Rida semakin heran dengan sikapku. Begitu Rida berlalu dari hadapanku, segera kuambil langkah seribu. Aku tak ingin semua rencana kaburku ini sampai gagal total. Aku harus segera sampai di ujung jalan untuk menyetop angkutan yang akan membawaku ke terminal bukit tinggi. Setengah berlari, kupacu jalanku agar segera sampai.Tiba-tiba seseorang memanggilku lantang dari belakang.

“Layla! Mau kemana kau?”
“Mande….” Desisku lemes. Buyar sudah rencanaku.
“Layla, apa yang kaulakukan? Mengapa kau ingin pergi diam-diam?” Tanya Mande bertubi-tubi setelah jarak kami begitu dekat.
“Maafkan Layla Mande. Layla ingin kabur dari rumah karena… “
“Karena ingin menghindar dari lamaran itu kan? Pulanglah Nak! Kau berhak menentukan hidupmu. Mande tak akan memaksamu lagi. Lebih baik Mande melihatmu tak jadi menikah daripada harus kau tinggalkan Layla,” ucap Mande sambil bersimbah air mata. Aku pun segera memeluk Mande dengan rasa bersalah.

Setelah Mande berterus terang, Bagindo Sulaiman tak jadi datang melamar. Tapi dia tetap datang ke rumah dengan alasan tak ingin putus tali silaturahmi dengan Mande. Lama-lama hatiku jadi simpatik melihat kebaikan Bagindo Sulaiman. Ternyata selama ini sikap baiknya pada kami benar-benar tulus. Tapi apa balasan yang sudah kuberikan? Meski Mande menuruti keinginanku untuk tak jadi menikah. Tapi wajah Mande tak bisa menipuku bahwa sebenarnya ia kecewa dengan keputusanku. Hanya saja Mande tak ingin melihatku sedih dan menderita dengan pernikahan paksa. Dan aku tak sanggup melihat wajah Mande yang tak lagi secerah kemarin.

Mande terlihat lebih murung dari biasanya. Bagaimana ini? apa yang harus kulakukan? Mengapa aku begitu egois? Padahal Mande sudah berusaha keras ingin membuatku bahagia. Pasti Mande memiliki keyakinan yang kuat bahwa Bagindo Sulaiman mampu membahagiakanku. Sebab dia sudah mengenalnya luar dalam. Lewat persahabatan mereka yang harmonis selama ini. Sementara aku hanyalah anak bau kencur. Yang belum banyak pengalaman dalam mengenal orang lain. Buktinya Ardy yang kucintai tak pernah lagi muncul batang hidungnya. Kupikir Ardy tak pernah serius berhubungan denganku.
Aku hanyalah seorang wanita yang tak memiliki apa-apa. Tak memiliki karir dan kesibukan berarti selain mengurus rumah dan bermain-main. Apalagi yang harus kutunggu? Untuk ukuran orang kampung sepertiku menikah adalah pilihan terbaik. Apalagi bila Tuhan telah mendekatkan jodohku. Akhirnya disaat berdua dengan Mande, kuberanikan diri untuk mengatakan isi hatiku yang sebenarnya.

“Mande. Layla bersedia kok, menikah dengan calon pilihan Mande.”
“Maksudmu dengan Bagindo Sulaiman?”
“Iya Mande dengan duda itu. Tapi Layla punya satu permintaan.”
“Apa itu Layla? Katakan saja,”ucap Mande sambil mengusap rambutku.
“Bila setahun setelah menikah Layla tak juga bisa mencintai Bagindo Sulaiman, Layla bolehkan minta cerai?”
“Pernikahan bukanlah lembaga uji coba Layla. Pernikahan sebuah lembaga yang suci dan sakral. Bukan hal main-main.”
“Layla hanya ingin mengetahui apa benar Bagindo Sulaiman jodoh Layla. Itu saja.”
“Baiklah! Nanti akan Mande sampaikan pada Bagindo Sulaiman. Mudah-mudahan dia mau mengerti,” ucap Mande lembut.

Tiba-tiba dadaku yang tadinya terasa berat menjadi lebih ringan. Seolah-olah beban berat itu terangkat dari tubuhku. Aku tak ingin lagi mengeluarkan air mata. Selain air mata dihari pernikahanku nanti. Airmata yang kelak akan membawaku ke surga. Demi baktiku pada Mande yang kucinta. Aku pun segera menutup hatiku pada pria lain termasuk Ardy kekasihku.

Setahun kemudian
Seorang perawat muda masuk kedalam kamarku sambil membawa seorang bayi mungil.
“Dia tampan sekali Layla. Hidungnya bangir sepertimu. Rambutnya ikal dan hitam seperti rambutmu. Namun keningnya lebar seperti suamimu,” Mande berkata dengan wajah sumringah.
“Mungkin anak Ibu haus. Dari tadi menangis terus,” ucap perawat sambil menyerahkan malaikat kecilku. Kuterima dengan dada yang membuncah senang. Dan segera tangis anakku berhenti begitu kususui.

Yah, hari ini tepat tanggal 5 desember aku melahirkan seorang anak lelaki yang tampan. Kulitnya kuning bersih, hidungnya mancung dengan rambut ikal yang indah. Kuberi dia nama Bintang. Kelak dia menjadi bintang yang paling bersinar diantara semua bintang yang kumiliki. Kutatap matanya yang menatap manja kearahku. Begitu indah dan polos. Terpancar kecerdasan dari kedua matanya yang bulat dan hitam.

Kakinya menendang-nendang kuat kearah perutku saat menyusuinya. Dengan lahap, bintang terus menghisap asiku. Seketika kebahagiaan mengalir keseluruh pembuluh nadiku. Membuatku tak dapat menahan tangis haru yang keluar begitu saja saat menatapnya. Airmata syukur dan haru bercampur menjadi satu. Lengkap sudah kebahagiaanku.

Yah, aku memang tak jadi meminta cerai pada Bagindo Sulaiman. Karena cinta itu perlahan-lahan tumbuh dihatiku. Berkat kelembutan dan kesabarannya dalam menghadapiku. Kuputuskan untuk terus mendampinginya hingga akhir hayat menjemput. Sedangkan kelima anak tiriku tak ikut bersama kami. Tapi tinggal bersama sanak saudara Bagindo Sulaiman dikampung.

Alangkah cepatnya waktu berlalu. Tanpa terasa, Bintang sudah berumur lima tahun. Kelincahan dan kecerdasannya tumbuh pesat. Selalu bergerak aktif kesana kemari tanpa mengenal lelah. Energinya seakan tak pernah habis. Aku sering kewalahan menghadapinya. Sejak Bintang mulai bisa berjalan, aku tak boleh meleng sedikitpun. Sebab Bintang senang melompat-lompat dan berlari. Tak sekali dia jatuh dan lututnya berdarah.

Meski bahagia melihat kegesitannya tak urung aku sering cemas menghadapi tingkah lakunya yang tak bisa duduk tenang. Ada saja yang ia kerjakan. Kecerdasannya juga sering membuatku takjub. Bintang dengan cepat menangkap apa saja yang diucapkan oleh orang dewasa. Bagaikan burung beo yang selalu meniru apa pun yang ia dengar. Meski beo tak pernah paham dengan ucapan yang ia tiru. Persis seperti Bintang. Hanya saja keingintahuan Bintang sangat tinggi. Dia selalu bertanya tentang sesuatu. Baik yang ia lihat maupun yang ia dengar.

Tapi dalam keadaan hamil anak kedua seperti sekarang, aku tak bisa lagi mengejar-ngejarnya seperti dulu. Sudah pasti aku kalah cepat dengannya. Terpaksalah aku minta bantuan Mande untuk menjaga Bintang. Mande sangat senang sekali. Dia merasa punya peluang untuk lebih memanjakan Bintang. Bahkan saat makan pun Mande selalu melayani Bintang bak raja. Bayangkan saja, Bintang selalu makan di meja makan lengkap dengan lauk-pauk diatasnya. Akhirnya Bintang jadi terbiasa kalau makan selalu dilayani.

Dia tak mau makan bila belum terhidang lauk yang enak-enak diatas meja terlebih dahulu. Untung Abaknya punya restoran padang yang cukup besar. Jadi kami tidak kewalahan menuruti keinginan Bintang. Yang ingin selalu tersedia rendang saat dia makan. Dan Abaknya bintang mendukung sikap Mande itu. Akh, aku hanya menuruti saja apa yang Mande dan Abaknya lakukan, yang penting Bintang tumbuh sehat dan cerdas. Dengan terpenuhinya gizi Bintang dengan baik dan sempurna. Tubuh Bintang pun semakin montok dan tinggi. Badannya tumbuh lebih besar dari anak seusianya.(bersambung)

Rabu, 21 September 2011

Teardrop In Heaven Part 1



Aku tak bisa berbuat banyak saat ini. Duda beranak lima itu begitu pintar mengambil hati Mande. Tapi tidak untuk hatiku. Meski kemewahan sekalipun yang ia tawarkan padaku. Bagiku, cinta tak bisa dibeli dengan apapun, apalagi uang dan benda-benda berharga. Tapi aku harus menemuinya demi Mande. Yah, demi Mande yang kusayangi.
Hanya Mande di dunia ini yang aku punya. Sejak Abak meninggalkan diriku sewaktu kecil. Abak sakit-sakitan selama 6 bulan sebelum akhirnya meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Aku menjadi yatim sejak usia dini. Sebuah kenyataan pahit bagi seorang anak wanita sepertiku. Yang sangat memerlukan campur tangan seorang ayah dalam membimbing dan mengasihiku. Kini Mandelah tumpuan hidupku. Tempatku bersandar sedari kecil hingga dewasa. Otomatis bila aku sudah menikah, beban Mande akan berkurang.

Aku tahu, Mande harus bekerja keras disebuah restoran padang sebagai juru masak demi menghidupiku, anak perempuan satu-satunya. Sebab hanya memasaklah yang Mande kuasai. Terutama daging rendang. Dan Mande telah bertahun-tahun bekerja di restoran duda beranak lima sekaligus bosnya itu. Sampai akhirnya perjodohan ini terlaksana. Perjodohan yang lahir dari kekaguman seorang karyawan pada bosnya sendiri.
Mengapa tidak Mande saja yang menikah dengan bosnya itu? Karena usia mereka tak terpaut jauh pikirku. Tapi cinta memilih kepada siapa dia hendak berlabuh. Dan cinta bosnya Mande memilih untuk mencintai wanita yang usianya terpaut 25 tahun dengannya yaitu aku. Akh, aku berada dalam dilema. Dilema antara Mande dan duda beranak lima itu, yang sekarang tengah menungguku di ruang tamu. Dengan setengah hati, aku keluar menemui tamu yang istimewa bagi Mande itu. Kuseret kakiku yang terasa berat untuk melangkah. Harus kulakukan ini semua demi Mande.

“Ini anak padusi ambo satu-satunya Bagindo. Namanya Layla,” Mande berkata dengan senyum teramahnya.

“Ambo udah tahu Aini. Sejak pertama bertemu, ambo udah jatuh hati pada anak padusimu ini,”jawab Bagindo Sulaiman sambil menatap wajahku yang tertunduk malu.

Perasaanku campur aduk. Antara marah, benci, juga malu. Tidak sadarkah mereka? kalau sekarang bukan lagi jaman Siti Nurbaya. Yang masih memaksakan perjodohan dengan seenaknya. Ingin rasanya segera pergi dari pertemuan yang tak kuinginkan ini. Tapi apa daya, aku tak punya keberanian untuk memaki dan mengusir duda beranak lima dihadapanku. Untuk segera angkat kaki dari rumahku. Kalau bisa, tak usah kembali lagi untuk selama-lamanya. Tapi aku tak kuasa melakukan itu demi melihat wajah Mande yang bersinar-sinar.

Aku tahu Mande sudah berusaha untuk mencarikan jodoh yang terbaik buatku. Tak mungkin Mande tega menjerumuskan anaknya sendiri. Tapi mengapa harus dengan duda beranak lima? Meskipun menurut Mande dia lelaki yang tepat untuk menjadi suamiku. Selain taat beribadah, dia juga pekerja keras dan bertanggung jawab.

Kekaguman Mandelah yang membuat Mande nekat menjodohkan anaknya sendiri dengan lelaki yang sudah pernah beristri dan memiliki lima orang anak itu. Tidakkkah Mande berpikir apakah aku siap menjadi ibu dari kelima orang anak tiriku? Padahal usiaku belum genap dua puluh tahun.

“Ambo tidak bisa lama-lama Aini. Masih banyak urusan yang harus ambo selesaikan. Ini ada sedikit oleh-oleh buat Layla. Semoga adinda berkenan,” ucap Bagindo Sulaiman sambil menyodorkan sebuah bungkusan padaku.

“Apakah ini sebuah sogokan Bagindo?” Ambo indak tertarik,” jawabku ketus.

“Layla! Indak boleh ngomong baitu. Bagindo hanya ingin menunjukkan perhatiannya padamu,”Mande mendelik marah kearahku.

“Kamu jangan terlalu keras padanya Aini. Lama-lama Layla akan menerima ambo, meskipun tidak sekarang. Semuanya butuh waktu dan proses. Ambo indak mau Layla merasa terpaksa.”

Aku hanya bisa menahan sabar menghadapi situasi yang serba salah ini. Harusnya aku tak boleh ngomong kasar pada lelaki ini. Bagaimanapun dia tamu dirumahku. Apalagi sikapnya sangat baik padaku dan Mande. Meskipun dia punya maksud tertentu.

“Kalau begitu, Ambo pamit dulu Aini. Assalamualakikum.”

“Waalaikum salam. Terima kasih atas kedatangannya Bagindo,” jawab Mande melepaskan kepergian Bagindo Sulaiman di depan pintu. Aku sendiri langsung masuk ke kamar. Rasanya lega sekali melihat duda itu sudah pulang.

“Layla!” Panggil Mande dari luar kamar.

“Ada apa Mande,”aku segera keluar menemui Mande.

“Manga oleh-oleh dari Bagindo dibiarkan sajo di ruang tamu? Tanya Mande dengan wajah kesal.

“Ambil saja buat Mande. Layla tidak tertarik sedikitpun.”

“Wa-ang benar-benar indak menghargai pemberian orang lain. Ayo ambil! dan buka
bungkusnya. Mande ingin tahu apa isinya,” perintah Mande tegas.
Dengan hati terpaksa, segera kubuka bungkusan dari duda itu di depan Mande.

“Bagus sekali baju ini Layla. Selera Bagindo Sulaiman benar-benar tinggi. Motifnya lagi trend dan warnanya merah cerah. Serasi dengan warna kulitmu yang kuning langsat.”

“Buat Mande sajalah. Layla gak suka dengan warnanya.”

“Jangan begitu Layla. Nanti kalau Bagindo Sulaiman datang lagi, kamu bisa pakai baju ini. Agar dia bisa melihat betapa cantiknya anak padusi Mande.”

“Mande…Mande… Itu sama saja Layla menarik perhatian Bagindo agar semakin suka dengan Layla,” jawabku sambil memasang wajah cemberut.

“Memangnya kenapa kalau Bagindo Sulaiman semakin tertarik padamu Layla? Bukankah itu yang kita harapkan?”

“Tapi Layla tak mengharapkan itu Mande, karena hati Layla sudah terpaut dengan pria lain.”

“Tukang ngantar surat itu maksudmu? Apa yang kamu harapkan dari lelaki tukang pos macam dia?”

“Tapi dia mau menerima Layla apa adanya Mande.”

“Bagindo Sulaiman juga bisa menerima dirimu apa adanya,” ucap Mande tak mau kalah.

“Masalahnya Layla gak cinta dengan bos Mande itu,” jawabku lagi.

“Cinta bisa datang belakangan Layla. Mande juga dulu menikah tanpa cinta. Tapi akhirnya bisa menyayangi Abakmu hingga kau dan Udamu lahir.”

“Layla capek berdebat terus dengan Mande,” jawabku segera masuk ke dalam kamar. Mengunci diri dan kembali merenungi nasib.

Mengapa Tuhan tak bersikap adil padaku? Coba Abak masih hidup, pasti perjodohan ini tak akan terjadi. Aku bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa harus dikejar–kejar usia untuk segera menikah. Mande memang kolot. Baginya anak padusi tidak perlu bersekolah tinggi. Yang penting bisa membahagiakan suami. Padahal aku ingin sekali bersekolah. Apalagi aku senang membaca. Meski sebelah mataku tak lagi berfungsi. Sejak operasi mata yang kujalani tak berhasil. Sementara mata yang sebelahnya agak kabur bila melihat sesuatu. Aku harus memakai kacamata agar bisa melihat.

Aku juga suka menjahit bordir. Sudah banyak jahitan bordir yang kuhasilkan. Buku-buku tentang pola bordir koleksiku lumayan banyak. Tapi sayang, sejak mataku rusak akibat operasi yang gagal, mataku tak kuat lagi untuk menjahit. Paling hanya membaca buku dengan bantuan kacamata. Itupun tak bisa lama-lama membaca. Bisa berakibat pedih dan gatal pada sebelah mataku yang masih berfungsi.
Hari ini Bagindo Sulaiman kembali datang. Seperti biasanya dia selalu membawa oleh-oleh buatku. Kali ini perhiasan emas yang ia berikan. Meski dalam hati aku takjub dan senang mendapati barang sebagus itu. Tapi entah mengapa hatiku tak jua luluh.

“Bagaimana Layla? Apa kamu belum bisa membuka hatimu untuk Bagindo Sulaiman? Tanya Mande ketika duda itu sudah pulang.

“Bagaimana yah Mande, Layla gak mudah jatuh cinta pada seorang pria. Kita lihat nanti sajalah Mande,”jawabku segera berlalu. Mencoba menghindari pertanyaan Mande selanjutnya. Meski kulihat segurat kekecewaan di wajah Mande.

“Bagaimanapun jodoh ditangan Tuhan. Mande pasrah pada ketentuan-Nya. Siapapun yang menjadi suamimu nanti, walau orang itu bukan Bagindo Sulaiman akan Mande terima. Asalkan dia bisa membahagiakanmu Layla.” Ucap Mande pasrah saat beradu mulut soal calon suami padaku beberapa hari yang lalu.

Dalam hati, timbul rasa penyesalan yang dalam. Maafkan aku Mande, yang belum bisa menerima perjodohanmu ini.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan perjodohan ini. Bagindo Sulaiman tidaklah sama dengan datuk maringgih yang memiliki banyak istri karena doyan kawin. Bagindo Sulaiman memilih untuk menikah lagi karena istri-istrinya sudah meninggal dan ada yang sudah diceraikan karena adanya ketidakcocokan. Wajar kalau dia membutuhkan pendamping hidup setelah cukup lama menduda. Tapi mengapa pilihannya jatuh padaku? Tidak pada wanita lain yang usianya tak berbeda jauh dengan Mande.

Tapi siapa yang bisa menyalahkan hadirnya cinta pada diri seorang pria? Mungkinkah ini jodoh? Tidak! Aku akan tetap pada pendirianku untuk menikah dengan lelaki yang usianya tak terpaut jauh dariku. Dan aku telah menemukan lelaki yang tepat yaitu Ardy si tukang pos. Aku harus berterus terang pada Bagindo Sulaiman ketika dia datang nanti. Dengan halus akan kukatakan padanya bahwa aku sama sekali tak tertarik untuk menjadi istri dan ibu dari kelima anaknya. Sebab aku tak bisa membayangkan harus mengasuh lima anak tiri dari suamiku padahal aku sama sekali belum pernah mengasuh anak. Perlu kesiapan mental yang cukup untuk menjalani semua itu. Meski Mande terus menyakinkanku bahwa aku bisa melewatinya setelah menikah nanti. (bersambung)

Minggu, 12 Juni 2011

"Ibuku Di Dunia Maya"



Setiap membuka Facebook, hatiku selalu mengharu biru kala membaca tulisan yang ku posting di notes facebook ku sendiri. Tak pelak, kedua mataku dipenuhi oleh titik-titik air mata yang mendesak keluar. Tak dapat kubendung rasa sedih dan kehilanganku bila mengingat semua kenangan manis bersama Ibuku. Yah, semua kenangan itu terekam abadi di dunia maya.

Saat itu tanggal 30 September 2009

Sore yang indah bersama Mamak di tempat tinggalku dibojonggede bogor. Kami baru saja selesai menonton acara berita yang mengabarkan peristiwa gempa berkekuatan 7,6 SR di Padang Pariaman. Mamak terlihat begitu cemas dan terus menelepon Udaku yang tinggal di Pariaman. Wajah Mamak yang tadinya keruh, akhirnya berubah ceria setelah tahu Udaku baik-baik saja meskipun rumah mereka sebagian hancur akibat gempa. Kami pun bisa kembali bercerita dengan tenang. Tiba-tiba terbersit ide dikepalaku dan seketika itu juga kuutarakan pada Mamak.

“Ati (nama kecilku) mau bikin cerita tentang gempa ah, Mak. Ceritanya rumah Mamak kena gempa tapi Mamak selamat,” ucapku antusias.

“Nanti rumah Mamak benar-benar kena gempa, Ti,” ucapnya sambil tertawa tergelak-gelak.

“Gak mungkinlah Mak. Ini kan cuma sebuah cerita,” jawabku ikut tertawa. Kami pun tertawa bersama-sama setelah itu. Baru kali ini kulihat Mamak bisa tertawa begitu senangnya. Setelah sekian lama hatinya dilanda duka.

Akhirnya dengan sedikit kerja keras, selesailah sebuah cerpenku yang kuberi judul “Rumah Mande”. Lagi-lagi terbersit ide dikepalaku untuk tak mengirimkannya ke media cetak, tapi ke annida online. Aku tertarik sebab setiap bulan annida-online akan memilih salah satu cerpen terbaik berdasarkan banyaknya polling pembaca annida. Besar harapanku cerpenku ini bisa terpilih. Subhanallah…harapanku terkabul juga. Akhirnya cerpen “Rumah Mande” terpilih sebagai cerpen terbaik bulan Nopember. Meskipun hanya para pembaca di dunia maya yang memilihnya. Segera kusampaikan berita gembira ini pada Mamak. Begitu mendengar kabar cerpenku dimuat dan terpilih, Mamak begitu senang dan terharu mendengarnya.

Namun satu tahun setelah itu, Mamak sering mengeluh sakit dipunggungnya. Memang sebelum pulang ke Medan, Mamak pernah menunjukkan sebuah benjolan kecil dipunggungnya. Saat kutanya “Sakit gak Mak?” “Ah, enggak Ti. Kadang-kadang aja terasa berdenyut,”jawab Mamak sambil tersenyum. Aku pun tak berpkir terlalu jauh tentang benjolan Mamak itu.

Namun setelah Mamak mengeluh bahwa benjolannya semakin terasa sakit dan mulai membesar, aku pun khawatir dan segera menyuruh Mamak berobat ke Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut. Astagfirullah! Begitu diperiksa hasil diagnosa dokter mengatakan bahwa Mamak terkena kanker getah bening. Hatiku dan kakak-kakakku yang lain begitu hancur mendengarnya. Belum lagi stroke yang dialami Mamak. Lengkap sudah penderitaan Mamak karena harus mengalami sakit yang bisa mematikan itu sembari melawan stroke yang semakin parah hingga membuatnya sulit untuk berbicara.
Dengan perasan sedih dan cemas tak terkira, kami pun bergantian merawat Mamak. Rasanya hati ini ingin menangis sekeras-kerasnya saat menatap wajah Mamak yang mengerang kesakitan. Matanya semakin layu menatap kami dari hari-kehari. Aku gak kuat! Sungguh benar-benar gak siap menghadapi kenyataan pahit ini. Hanya lewat tulisanlah beban hati ini bisa kutuangkan. Hingga terciptalah puisi ini untuk Mamak yang kutulis sambil berurai air mata. Lalu kubagikan puisiku di dunia maya. Tanpa bermaksud meminta simpati siapapun. Niat dihati hanyalah ingin berbagi cerita duka.

Bunda…
Kehangatan cinta ini tetap untukmu
Meski sorot matamu kini tak lagi bernyawa
Tak lagi sehangat dekapan dan belaianmu
Yang kini hanya tinggal cerita

Bunda…
Binar cintaku ini tetap milikmu
Meski binar bahagia dimatamu yang keriput redup ditelan usia
Tak lagi memiliki arti seperti dulu
Karena kini kau tergeletak lemah tanpa daya

Bunda…
Kurindu sinar kecemasan itu dimatamu
Saat mendapati diriku bermuram durja
Biarlah kini kecemasan itu menjadi milikku
Yang kian hari dipenuhi rasa putus asa

Bunda…
Tak akan mungkin kulupa
Kedua pelupuk matamu yang menganak sungai oleh air mata
Disaat bermunajat disepertiga malam demi keberhasilan ananda
Tapi kini kedua pelupuk mata tuamu selalu basah oleh air mata derita
Karena maut yang kelam mulai menggerogoti tubuhmu nan renta
Oleh penyakit yang tak mengenal hati dan cinta

Oh Bunda…
Waktu telah menjawab segala
Betapa cintamu selalu mengalir untukku
Bagaikan ricik air cinta yang tak pernah kering dihatimu

Ya Robbi! Perkenankanlah pintaku
Pinta yang kujalin dengan sepenuh cinta untuk Bunda
Dari tasbih, zikir dan doa
Agar kulihat lagi cinta dimatanya
Cinta yang tulus dan abadi hingga akhir masa

Tak lama setelah kuposting di Facebook, banyak komentar yang datang padaku. Komentar yang berisi simpati dan dukungan agar aku tabah dan kuat. Akh, tak sia-sia rasanya karena setelah itu aku mendapatkan dukungan moril yang semakin membuatku tegar dan tabah menjalani hari-hariku selama menemani Mamak. Namun Allah terlalu sayang pada Mamak melebih rasa sayang kami padanya. Akhirnya setelah hampir satu tahun menjalani pengobatan, Mamak berpulang untuk selama-lamanya. Sia-sia rasanya usaha yang kami lakukan untuk penyembuhan Mamak.

Kehilangan Mamak sungguh membuatku terpukul selama berhari-hari. Dan kembali kutuangkan curahan kesedihanku lewat facebook. Dan kembali teman-teman facebook memberi dukungan moril padaku dengan berbagai macam nasehat yang menyejukkan hati. Sampai suatu hari kudengar salah seorang facebooker Agnes Davonar mengadakan lomba kisah nyata tentang Ibu yang disponsori oleh ungu dan chocolates. Aku pun tertarik untuk mengikutkan kisah ibuku dalam lomba itu.

Tak ada niat untuk bisa menang dalam lomba. Hanya saja aku berniat bila terpilih dan mendapatkan hadiah berupa uang tunai, maka uang tersebut akan kusedekahkan sebagai amalan untuk Mamak disana. Ternyata Allah mendengar doaku. Cerita ibuku yang berjudul “Rumah Baru Untuk Ibuku” terpilih sebagai nominasi 20 pemenang diantara 30 ribu peserta. Aku bersujud sukur dan segera melaksanakan nazarku untuk memberikan uang hadiah lomba kepada anak yatim sebagai tambahan pahala untuk Ibuku di rumah barunya. Ucapan selamat yang berdatangan cukup menghibur hatiku yang sedang berduka.Meski kini Ibuku tak lagi bisa kutemui di dunia nyata. Namun kenangan indah bersama Ibuku tetap hidup bersamaku di dunia maya.

Rabu, 01 Desember 2010

kauman dan kenangan




Begitu membaca buku yang berjudul Kauman yang ditulis oleh Dr.Sidik jatmika, MSi dan M Zahrul Anam , S.Ag, Msi, kenangan-demi kenangan pun muncul kembali ke permukaan. Kenangan saat menjadi murid di sebuah Madrasah Muhammadyah dan tinggal di asrama. Kenangan gugupnya saat praktek mengajar di SD Pawiyatan Muhammadyah khusus putri..Kenangan betapa senangnya melihat sekatenan dan sholat di masjid gedhe. Kenangan saat bulan Ramadhan ketika membeli bukaan di kauman yang dikenal dengan pasar tiban Ramadhan. Juga kenangan sedih ketika salah seorang teman meninggal di rumah sakit PKU Muhammadyah akibat kecelakan, Tapi kenangan yang paling berkesan adalah saat tinggal diasrama putri di daerah Kauman.
Kauman sendiri sebuah daerah di kelurahan Ngupasan kecamatan Gondomanan kota yogyakarta yang terletak sekitar 500 meter kearah selatan dari ujung Mallioboro. Dan 200 meter dari pagelaran utara keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kauman merupakan kampung yang termasyhur karena disinilah Muhammadiyah lahir. Yaitu tepat tanggal 8 Dzulhijjah 1330. bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 1912 oleh seorang tokoh yang dikenal dengan nama K.H. Ahmad Dahlan. Dan saya bangga menjadi salah satu murid di sekolah milik K. H dahlan ini.
Baru saya sadari, banyak hal yang saya dapatkan selama mengecap pendidikan disana. Tak hanya ilmu umum yang saya terima, tapi ilmu tentang bagaimana menjadi seorang putri muslimah yang baik. Lewat ilmu keputrian, ilmu agama, ilmu kejiwaan, ilmu mendidik, dan ilmu tentang bagaimana bermasyarakat lewat kegiatan pramuka, organisasi islam, dan kegiatan positif lainnya yang saya terima.
Saya juga mendapatkan banyak pengalaman yang menarik, unik dan berkesan selama diasrama. Selama tinggal diasrama, saya bertemu banyak orang dengan berbagai karakter unik yang mereka bawa. Hingga saya tertarik untuk mempelajari ilmu tentang manusia. Untuk itulah setelah tamat, saya memilih kuliah jurusan psikologi. Tak hanya sampai disitu. Kejadian-kejadian yang saya alami selama tinggal diasrama putri, memperkaya hidup saya dengan pengalaman-pengamalan yang baru.
Saya yang tadinya tidak pernah mencuci baju, begitu tinggal diasrama harus mau mencuci baju sendiri. Saya yang tadinya suka memilih-milih makanan, begitu tinggal diasarama harus mau makan dengan lauk seadanya. Meski jatah nasi tak dibatasi. Tetapi lauk tetap satu jua. Yaitu satu buah tempe, satu buah kerupuk dan semangkuk sayur sup. He..he.. Tapi terasa begitu nikmat karena makan bareng teman-teman dari berbagai daerah. Saya yang tadinya suka bangun kesiangan dan selalu terlambat pergi kesekolah, harus rela bangun pagi-pagi buta untuk sholat subuh. Saya benar-benar diajarkan tentang kemandirian, keberanian, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab lewat tugas-tugas piket selama di asrama. Benar-benar sekolah kehidupan yang tak akan saya dapatkan disekolah yang lainnya. Dan kenangan-kenangan itu tak berdiri sendiri. Ada kenangan tentang kauman didalamnya. Sebab sekolah saya terletak di daerah Notoprajan Kauman. Sedangkan asrama saya terletak di sebelah barat Kauman yaitu daerah Gerjen.
Tak mungkin saya lupa, betapa nervousnya saya saat pertama kali praktek mengajar di SD Pawiyatan Muhammadyah Yogya khusus putri ini. Yang harus saya jalani sebagai salah satu syarat kelulusan. Memang kami disiapkan untuk bisa menjadi pendidik yang baik setelah tamat dari sekolah ini. Tak hanya menjadi pendidik di sekolah-sekolah tapi juga mampu menjadi pendidik dirumah untuk anak-anaknya kelak.
Atau saat pergi ke sekaten dengan rombongan anak asrama di malam hari. Kami disuruh berbaris tertib sampai di depan gerbang sekaten. Setelah masing–masing mendapatkan tiket masuk, kami berpencar untuk melihat-melihat sekeliling. Bagi yang punya uang, bisa membeli barang yang dijual. Tapi bagi yang uangnya pas-pasan, hanya bisa melihat-lihat saja. Tapi bagi anak asrama untuk bisa keluar dan melihat sekaten saja sudah senangnya minta ampun. Maklum, selama ini jarang keluar karena hampir 24 jam tinggal diasrama. Sebab untuk bisa keluar harus meminta ijin terlebih dulu. Tentunya dengan alasan penting dan masuk akal.
Ada kebiasaan anak asrama yang sering membuatku tertawa sekaligus prihatin bila mengingatnya. Mulai dari kebiasaan yang bisa ditolerir sampe yang benar-benar harus diberi hukuman karena sudah kelewat batas. Misalnya saat ngantri kamar mandi. Ada yang diam-diam suka merebut antrian tanpa rasa bersalah. Padahal kita sudah ngantri dari subuh. hingga yang mendapat antrian terakhir membatalkan niat untuk mandi, karena takut terlambat sekolah.
Atau kebiasaan temanku yang suka sekali baca komik. Sampe-sampe dia lupa mandi dan belajar. Bahkan suka tertawa-tawa sendiri saat sedang asyik membacanya. Pokoknya cuek is the best. Ada lagi kebiasaan temanku yang suka makan gorengan tapi gak pernah bayar. Istilahnya Jumanji. Ngambil lima ngaku siji. Alhasil si tukang gorengan yang menitipkan dagangannya diasrama tumpur Bandar. Terpaksalah ketua asrama menggantinya pake uang kas dari bendahara.
Ada juga temanku yang sok sibuk. Hampir setiap hari minta ijin keluar asrama dengan alasan ada urusan organisasi. Pamong asrama percaya saja sebab untuk kepentingan sekolah. Tapi ujung-ujungnya malah telepon-teleponan dengan seorang cowok. Koin setumpuk pun sudah disiapkan terlebih dahulu. Di akhir kisah temanku yang sok sibuk ini ketahuan telah menikah siri dengan pacarnya. Akhirnya dia cuti dari sekolah karena hamil disaat duduk di kelas 3 Madrasah.
Kebiasaan temanku yang benar-benar diluar batas adalah suka mencuri. Suatu hari akhirnya ketahuan juga aksi temanku ini. Setelah anak-anak mengadakan penggeledahan dengan membongkar setiap kamar. Ditemukanlah sebuah kardus yang berisi barang anak-anak yang hilang dibawah kolong tempat tidur sebut saja namanya si A. si A pun dibawa ke aula untuk disidang. Tapi anak-anak sangat susah membuatnya mengaku. Begitu pamong asrama turun tangan barulah dia mau mengaku sambil menangis. Rupa-rupanya dia takut kalo nanti diberi minum yang sudah dibaca-bacain oleh bapak asrama lebih dulu.. Dimana reaksinya akan segera terlihat apabila orang yang meminumnya benar-benar mencuri. Yaitu badan akan bengkak-bengak dan merah-merah. Yang lebih edan lagi ada yang suka mencuri pakaian dalam. Setelah diketahui pelakunya anak yang cukup berada. Ternyata dia mencuri hanya sekedar iseng saja, bukan karena butuh. Persis pelaku kleptomania. Aya-aya wae pikirku
Yang paling berkesan adalah saat guru matematika mengajar dikelas. Anak-anak yang tadinya males-malesan dan suka tidur waktu dikelas, kembali bersemangat mengikuti pelajaran. Maklumlah, hampir setiap hari hanya bertemu wanita semua. Begitu bertemu guru lelaki yang tampan dan masih muda. Wajah anak-anak langsung cerah lagi. Bahkan ada juga temanku yang pelit bin medit dengan barang-barang miliknya. Sampe sampe makanan atau paket yang ia terima dari rumah dikunci dilemari. Padahal kebiasaan anak asrama bila punya makanan atau baru dapat paket, akan selalu membagi-bagikannya dengan teman minimal teman sekamar. Alhasil makanan yang ia simpan lama-kelamaan berjamur. Akhirnya dibuang percuma begitu saja. Benar-benar mubazir.
Banyak kisah manis, lucu, dan mendebarkan selama di asrama. Dan semua itu akan terus hidup sampai saya menjadi nenek-nenek. Keakraban yang terjalin begitu erat. Tiga tahun tinggal bersama dalam satu asrama membuat hubungan kami layaknya saudara sendiri. Suka dan duka hidup dirantau dikecap bersama-sama. Apalagi banyak diantara anak-anak yang berasal dari luar kota. Bahkan ada yang dari kalimatan, sumatera dan aceh. Semuanya disatukan dengan membawa ciri kahs masing-masing. Setiap perbedaan yang ada lebur menjadi satu dengan saling memahami dan saling mengerti.
Saat kelulusan sekolah tiba, kami pun dengan penuh haru menyanyikan lagu perpisahan.
Kini terasa sungguh, semakin engkau jauh semakin tersa dekat. Akan kukembangkan, ilmu yang kau tanam di dalam hatikuuu… dirimu nuansa-nuansa bening. Hamparan laut tiada bertepi. Begitulah kira-kira bait lagunya. Sungguh membuat hati ini rindu bila mengenangnya kembali Rindu dengan Kauman dan kenangan yang ada didalamnya.

Rabu, 01 September 2010

pernikahan yang tak biasa





Sedikitpun tak pernah terbayangkan kalau suatu saat aku akan menjadi pengantin tanpa didampingi oleh mempelai pria. Bayanganku dulu, aku akan bersanding dengan seorang pria pujaannku disaat menikah dengan memakai gaun yang indah. Apa mau dikata, karena terlalu terburu-buru untuk segera menjadi suami istri, aku dan pasangan rela menjalani pernikahan jarak jauh. Menjalani pernikahan yang tidak biasa.
Ceritanya begini. Kami berpisah sudah dua tahun lamanya. Pasanganku memilih bekerja di luar negeri, dan meninggalkanku di tanah air. Kami berhubungan lewat internet, dan hanya sesekali lewat telepon, karena biayanya yang mahal. Maklum, pulsanya dihitung Internasional. Bisa-bisa habis gajinya untuk membayar pulsa yang pasti akan membengkak hebat, bila sering-sering menelpon. Jadi, kami lebih banyak berkirim e-mail dan chatting saja lewat internet.
Tak terasa, sudah hampir dua tahun kami menjalani hubungan antara Auckland dan Yogya ( waktu itu kebetulan aku masih sekolah di kota gudeg) Bayangkan, betapa besar rindu yang kami pendam karena lamanya berpisah. Mungkin tepat bila dibilang kami saling rindu dendam he..he..he..
Pasanganku mulai berbicara soal pernikahan, karena takut kehilanganku. Memang niat kami dari awal serius untuk berumah tangga. Tapi, dia belum bisa memastikan kapan akan pulang ke Indonesia. Aku pun bisa mengerti.
Mulailah kami bicarakan niat kami pada orang tua masing-masing. Bisa ditebak, apa jawaban kedua orang tua kami. “ Mengapa tidak menunggu pasanganku pulang ke Indonesia saja menikahnya?” tanya keluarga besarku. “Atau, kau pulang saja dulu untuk melangsungkan pernikahan, baru setelah itu kembali ke New Zealand bersama istrimu, jawab mertuaku, saat kekasihku mengutarakan niatnya untuk menikahiku segera.
Calon suamiku pun menjelaskan bahwa dia tidak bisa pulang seenaknya, karena masih terikat kontrak kerja. Dia katakan pada keluarganya kalau dia sudah tak sabar agar aku segera menyusulnya ke sana. Sebab sudah tidak sanggup berpisah denganku, begitu
juga aku. Untuk lebih amannya dia mengajakku menikah. Sehingga begitu kami bertemu, sudah sah menjadi suami istri.
Aku pun segera pergi ke KUA untuk mengurus surat-surat pernikahan kami. Dimana rencananya yang menjadi mempelai pria adalah adik lelakinya. Suamiku disuruh membuat surat kuasa yang menyatakan bahwa adiknya diberi kuasa mewakili dirinya dalam akad nikah nanti. Lumayan repot juga sih, sebab aku juga harus mengurus paspor dan Visa. Dan semangatku lebih dari semangat 45. Mungkin karena sebentar lagi aku bisa bertemu kekasihku yang tak lama lagi akan menjadi suamiku.
Aku nervous ketika acara puncak akan dimulai, yaitu akad nikah! Saking gugupnya, aku tidak menyimak apa yang dikatakan oleh adik calon suamiku. Yang aku ingat hanya kata terakhirnya saja yaitu sah..? sah..diiringi dengan tangis haru dari kedua orang tuanya. Aku pun tak dapat menahan air mata untuk tidak keluar.


Ketika sampai di Auckland, suamiku pun tak malu-malu lagi memeluk dan memegangiku sepanjang perjalanan ke apartemennya. Karena dia merasa kami sudah sah menjadi suami istri. Meski dia merasa sedikit aneh dan berkata “Rasanya lucu saja dan sedikit tidak percaya kalau sekarang aku sudah menjadi istrinya, sebab dia merasa tak pernah mengucapkan ijab kabul. (karena adiknya yang ia kuasakan untuk mengucapkannya) Eh tahu-tahu aku sudah menjadi istrinya.

Jumat, 27 Agustus 2010

rumah baru untuk ibuku




oleh Iir Harun pada 28 Agustus 2010 jam 11:34

ceritaku yang masuk nominasi 20 pemenang dari 30 ribu peserta dalam lomba 100- blog kisah tentang ibu bersama ungu

Ibu tak pernah mau rumahnya dijual, meski dia harus tinggal sendiri tanpa anak-anaknya. Padahal kami khawatir dengan ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan. Bayangkan saja, hampir semua anak ibuku tinggal dirantau. Ada yang di Jakarta, ada yang di Padang, dan ada yang di Yogyakarta.. Sebenarnya bukan setelah anak-anaknya menikah saja ibu harus rela ditinggal sendiri di Medan. Semenjak anak-anak ibuku tamat SMA, hampir semuanya memilih merantau ke Yogya untuk kuliah, termasuk diriku. Tak dapat kubayangkan bagaimana kesepiannya ibuku. Apalagi ayahku telah lebih dahulu dipanggil Tuhan. Otomatis ibu sering sendirian.

Tapi ibuku tak pernah melarang anak-anaknya untuk pergi. Baginya yang utama adalah, anak-anaknya menjadi orang yang pinter dan bisa bersekolah setinggi-tingginya. Meski harus merantau meninggalkan dirinya. Ibuku benar-benar mengikuti sunnah nabi yang berbunyi “ tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Sungguh luar biasa sosok ibuku di mataku. Padahal setiap kami kembali lagi ke Yogya setelah masa liburan habis, mata ibu akan berembun karena sedih dan haru. Sedih karena harus kembali ditinggal anak-anaknya dalam jangka waktu yang lama. Haru, demi melihat kami bisa mencicipi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Setelah menikah, aku sangat ingin ibu pindah ke Jakarta. Selain semua anaknya tinggal di ibukota, aku ingin tinggal berdekatan dengan ibu. Maklumlah. Sedari SMA hingga menikah, aku hidup dirantau terus. Aku ingin membahagiakan beliau dengan sering mengunjunginya dan mengurusnya. Dan itu bisa terlaksana kalau ibu tinggal tak jauh dariku. Tapi ibu menolak dengan alasan tak ingin meninggalkan rumahnya yang penuh kenangan asam dan manisnya hidup bersama Abak. Akh, ibu. Tak inginkah dihari tuamu, kau bisa berkumpul dengan anak-anakmu? Padahal kami sangat merindukan hal itu.

Untuk mengobati rasa kangenku pada ibu, setahun sekali ibu kukirimi ongkos untuk datang ke Jakarta. Begitu sampai di Jakarta, ibu akan kubawa pergi jalan-jalan kemanapun dia suka. Bahkan ke kolam renang sekalipun, bersama anak-anakku yang ingin berenang. Tapi ibu paling suka bila kuajak ke pasar Anyar Bogor. Kebetulan aku tinggal di daerah bojonggede yang tak jauh dari bogor. Jadilah dengan nekat kuajak ibu naik kereta. Meski awalnya ibu takut, tapi kulihat dari matanya ibu begitu antusias dan bahagia dengan ajakanku.

Namun saat ibu harus kembali lagi ke Medan, aku tak dapat menutupi rasa sedihku padanya. Dan lagi-lagi aku meminta agar rumah di Medan dijual saja, supaya ibu bisa membeli rumah tak jauh dari rumahku. Agar setiap saat aku bisa bersama ibu dan mengajaknya jalan-jalan. Juga membacakan cerita-ceritaku padanya. Kebetulan aku suka menulis cerpen dan sering dimuat di media. Ibu berkata akan mempertimbangkannya. Aku merasa diberi setitik harapan. Hingga berdoa semoga ibu tak merubah niatnya untuk membeli rumah di daerah bojongggede. Karena ibu merasa betah tinggal di daerah tempat tinggalku yang menurutnya sejuk dan tidak panas seperti di Jakarta.

Beberapa bulan setelah ibu pulang ke Medan, ibu jatuh sakit. Kami pun memutuskan untuk mengobati ibu di Jakarta saja, agar lebih efisien dan efektif. Mengingat hampir semua anaknya tinggal di kota metropolitan. Ibu pun tak menolak dan segera kembali lagi ke Jakarta untuk berobat. Begitu sampai, ibu segera kami bawa berobat ke dokter. Dan vonis yang mengerikan itu benar-benar menghancurkan hati kami anak-anaknya. Ibuku positif terkena kanker ganas. Duh Robbi!

Benar-benar tak kuduga sebelumnya. Ditengah kebahagiaanku mendapat kabar bahwa salah satu cerpenku di annida online akan dibukukan bersama 11 penulis lainnya, ibu harus terkapar dirumah sakit karena menderita kanker dan komplikasi paru-paru yang parah. Mengapa cobaan itu datang ditengah kegembiraan yang seharusnya kubagi dengan Ibu, yang selama ini selalu setia mendengar cerita –ceritaku.

Aku tak bisa lupa betapa antusiasnya ibu memintaku untuk membacakan ceritaku yang dimuat, karena matanya mulai kabur diusianya yang sudah beranjak senja. Dengan senang hati aku pun membacakan ceritaku sendiri untuk ibu hingga selesai. Dia pun dengan tekun menyimak setiap kata demi kata yang aku bacakan untuknya. Juga ketika kuutarakan pada ibu bahwa aku ingin membuat cerpen tentang gempa dengan judul “ Rumah mande” Cerpenku yang akhirnya di muat oleh annida –online dan menjadi cerpen pilhan pembaca dibulan nop 2009. hingga dibuatkan video testimoninya.

“Nanti rumah ibu benar-benar kena gempa, Ti,” ucapnya sambil tertawa tergelak-gelak.

“Gak mungkinlah bu. Ini kan cuma sebuah cerita,” jawabku ikut tertawa. Kami pun tertawa bersam-sama setelah itu. Baru kali ini kulihat ibu bisa tertawa begitu senangnya. Setelah sekian lama hatinya dilanda duka.







Yah sejak kedua kakak lelakiku meninggal karena kanker, ibuku sempat murung dan bersedih. Bahkan tak lama abang tertuaku meninggal karena kanker hati. ibu pergi berjalan seorang diri entah kemana. Dia terus berjalan tanpa tujuan. Dan akhirnya pulang setelah kami menunggu dengan cemas dirumah.

“Entah mengapa, ibu tiba-tiba ingin berjalan kaki kemana ibu suka,” jawabnya saat kami tanya kemana saja dirinya. Akh…mungkin ibuku bingung harus bagaimana melepaskan rasa sedihnya karena baru kehilangan anak kebanggaannya yaitu Uda Wan, kakak tertuaku. Anaknya yang paling cerdas dan berprestasi. Hingga bisa sekolah keluar negeri tanpa biaya. Sekaligus tulang punggung keluarga penggati Abak yang telah lebih dulu meninggalkan kami.

Sungguh! Hati ini tak kuat membayangkan tubuh ibu yang sudah renta itu harus menjalani pengobatan seperti kemotrapi dsb. Apalagi yang kudengar dari orang-orang yang pernah terkena kanker mengatakan bahwa setelah habis dikemo, rasanya sakit sekali. Lebih baik digebug oleh orang sekampung daripada harus dikemo. Duh Robbi! betapa pilunya hati ini mendengarnya. Setiap malam aku menangis memikirkan ibu. Aku tak kuat memandang wajahnya yang selalu meringis menahan sakit

Aku hanya bisa berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk ibuku. Ya Allah…kalau memang ibu masih diberi umur, sembuhkanlah penyakitnya. Tapi kalau memang umurnya sudah sampai, Mudahkanlah jalannya menuju tempat-Mu disana. Ringankanlah sakitnya. Berilah ia kekuatan dan ketabahan dalam menjalani penyakitnya. Doaku tiada henti

Akhirnya doaku dikabulkan oleh yang kuasa. Setelah beberapa bulan berjuang melawan sakitnya, akhirnya Ibu dipanggil oleh Allah dengan tenang dan mudah. Kami pun memutuskan untuk memakamkan ibu tak jauh dari rumahku. Niat untuk menguburkan ibu di Medan disamping makam ayah, tak bisa kami wujudkan. Mengingat akan menelan biaya yang sangat mahal dan memberatkan ibu sendiri. Karena harus menunda-nunda pemakamnnya dengan segera.

Akhirnya, ibuku benar-benar tinggal tak jauh dariku dirumah barunya.. Selamat jalan Bu. Semoga dirumahmu yang baru ini, kau akan merasa bahagia selama-lamanya. Karena doa kami anak-anakmu, akan selalu menemanimu disana. Amin…

Sabtu, 06 Februari 2010

cobaan dalam memberi asi



Allah akan menguji kesabaran hambanya-Nya. Namun tidak akan menguji diluar batas kemampuannya..Sewaktu hamil anak pertama, aku mengalami cobaan yang lumayan berat. Ditinggal oleh suami bekerja ke Jakarta. Waktu itu aku tengah hamil 2 bulan. Kuputuskan untuk tetap tinggal dirumah orangtua di Medan, karena terlalu riskan rasanya mengikuti suami dalam keadaan hamil muda.

Mulanya aku kira bisa tegar seperti yang kupikirkan. Ternyata setelah menjalani kehamilan tanpa kehadiran suami, rasanya berat juga. Apalagi aku sedang mual-mualnya. Dan baru merasa enak makan setelah hamil 5 bulan. Meski didekat orang tua yang siap memberi dukungan, tetap saja kurasakan berbeda.

Misalnya saja. Keinginan untuk bermanja-manja dengan suami tak tercapai. Belum lagi rasa rindu yang tak bisa kutumpahkan setiap saat. Untungnya suamiku pengertian. Hampir setiap hari dia menanyakan keadaanku lewat telepon. Lewat teleponlah aku bisa bermanja-manja pada suamiku. Tapi, tetap saja ada yang kurasakan kurang.

Terkadang aku ingin sekali saat periksa kehamilan ke bidan, suamiku bisa menemaniku, karena ibukulah yang selalu menemaniku periksa. Atau saat kehamilanku sudah besar, aku ingin sekali dia mengelus-ngelus perutku. Merasakan betapa gesitnya anak kami didalamnya.

Tibalah saatnya melahirkan. Meski sudah diberitahu oleh dokter kapan tanggal dan bulannya anakku akan lahir, tetap saja suamiku belum bisa pulang., karena dia baru diterima bekerja, hingga tidak bisa seenaknya meminta ijin. Apalagi tidak bisa dipastikan kapan tepatnya aku melahirkan. Bisa saja lebih cepat atau mundur dari tanggal yang diperkirakan. Alhasil begitu perutku mules-mules dan sudah pembukaan 2, baru keluarga besarku menelepon suamiku.

Impian agar melahirkan didampingi oleh suami pun tak bisa terpenuhi.. Padahal aku ingin sekali suami berada didekatku, disaat aku berjuang ditengah rasa kesakitan yang baru pertama kali aku rasakan. Jadilah aku melahirkan hanya ditemani oleh ibuku. Setelah anakku lahir, barulah suamiku datang. Meski suamiku sudah berusaha mendapatkan tiket pesawat yang pertama, tapi nyatanya dia baru bisa dapatkan tiket berikutnya, hingga tak terkejar waktunya untuk menemaniku melahirkan anak pertama kami, yang berjenis kelamin perempuan.

Tak sampai disitu cobaan kualami. Sehabis melahirkan aku mengalami babi blues. Memang katanya perempuan yang baru melahirkan hormonnya belum normal kembali. Apalagi suamiku hanya dikasi ijin sebentar. Diapun kembali ke jakarta. Aku baru boleh menyusulnya setelah anak kami berumur lima bulan.

Karena dilanda depresi, aku pun sempat menolak menyusui anakku, ditambah lagi aku kurang percaya diri dalam menyusui. Entah mengapa, setiap hari aku dilanda kecemasan yang amat sangat. Takut anakku sakit atau terjadi apa-apa dengan bayi kami. Belum lagi rasa panik karena takut tidak bisa mengurus sikecil. Kerap aku menangis tanpa sebab. Bawaannya sedih terus. Padahal semuanya baik-baik saja.

Karena lebih sering kuberi susu sapi, akibatnya anakku mengalami alergi. Badannya merah-merah hingga kewajahnya. Tak hanya itu, tinjanya juga keras, sehingga dia kerap menjerit bila ingin buang air besar. Akupun bertambah kalut dan tertekan. Karena harus bolak-balik membawanya ke dokter. Setelah kondisi psikisku normal kembali, aku pun berusaha mengurus sikecil dengan sebaik-baiknya. Tapi yang membuatku merasa bersalah, saat asiku tak lagi keluar karena jarang menyusui. Padahal aku ingin sekali menyusui anakku kembali.

Aku benar-benar merasa bersalah hingga kini. Karena kondisi anak pertamaku yang kini berumur 7 tahun, berbeda dengan kedua adik-adiknya. Dia mudah sakit bila sedang kecapekan atau terkena hujan. Tak jarang dia sesak nafas bila batuknya tak mau berhenti. Dalam hati, akupun bertekad untuk menyusui bila punya anak lagi. Ketika anak kedua lahir akupun menyusuinya dengan penuh percaya diri. Meski hanya sampai usia enam bulan.

Aku berhenti menyusui karena lagi-lagi Tuhan mencoba kami. Tiba-tiba anak keduaku diserang diare yang kronis.Hampir satu bulan kami bolak-balik membawanya berobat. Tapi tak jua sembuh. Sampai dokter menyarankan agar anak kami dirawat inap. Dan setelah tinjanya diperiksa dilaboratorium, ternyata ada virus yang menggerogoti ususnya. Dan virus tersebut sangat asing serta jarang ditemui didunia kedokteran. Hingga anak kami disarankan untuk berpuasa selama tiga hari, agar ususnya diistirahatkan dulu.

Betapa sedihnya menyaksikan putra kami menangis disaat kehausan. Kami tak boleh memberikannya apa-apa, selain obat. Bahkan air putih sekalipun. Aku juga disuruh berhenti dulu menyusuinya. Sebab setiap kususui, anakku langsung mencret. Jadi dia hanya diberi infus saja selama berpuasa, agar kondisinya tidak terlalu lemah.

Aku tak mengerti mengapa tak boleh menyusui anakku. Aku tak ingin berprasangka macam-macam pada dokter waktu itu. Yang ada dipikiranku anakku segera sembuh. Meski belakangan banyak kudengar kritikan dari orang-orang sekitar bahwa tak masuk diakal anak yang sakit tidak boleh diberi asi.

Tapi aku tak mau menyalahkan siapa-siapa. Karena akhirnya anak kedua kami bisa sembuh setelah selesai menjalani puasanya selama tiga hari. Anakku hanya boleh diberi susu kedelai sampai beberapa bulan.Kini setelah berusia 5 tahun, anak keduaku tumbuh sehat. Dia tidak gampang sakit seperti kakaknya. Mungkin karena pernah kuberi asi hingga 6 bulan. Jadi lebih kuat fisiknya.

Disaat hamil anak ketiga, kembali cobaan berat aku alami.Bahkan aku merasa lebih berat dari hamil anak pertama. Tak seperti hamil anak pertama dan kedua. Mual dan muntah yang biasanya hanya kualami selama trimester pertama usia kehamilan, dihamil kali ini aku alami sampai trimester ketiga. Aku sulit makan, karena selalu enek. Belum lagi muntah yang tak kunjung hilang meski usia kehamilanku sudah menginjak sembilan bulan.

Aku begitu stress sebab perut rasanya selalu perih minta diisi, tapi selera makan tak ada karena mual yang selalu datang. Karena siangnya aku tak makan, maka malam hari aku tak bisa tidur karena perut keroncongan. Tak kuduga, suamiku rela bangun tengah malam untuk membuatkan bubur untukku, walau hanya bisa masuk beberapa suap.

Dia juga mau membuatkan teh manis disaat aku ingin makan biscuit saja, walau hanya beberapa potong. Kegiatan lebih banyak kulakukan di tempat tidur, karena kondisi fisikku yang lemah. Bahkan untuk buang air kecil aku harus menggunakan pispot. Sudah empat kali aku dirawat di rumah sakit, karena maagku kumat.

Karena tidak kuat menjalani kehamilanku, aku pun mengalami depresi. Aku kehilangan minat terhadap apapun. Yang kulakukan hanya menangis. Bahkan untuk tersenyum pun aku sulit. Bila ada yang mengajakku berbicara, termasuk suamiku, aku tak berminat untuk menjawab. Aku lebih banyak diam. Tiba-tiba saja aku kehilangan semangat. Aku menjadi pribadi yang lemah dan tidak ikhlas dalam menjalani kehamilanku.

Ditengah kondisi mental yang seperti itu, suamiku tak pernah berhenti untuk memberikan dukungan moril padaku. Mengingatkanku agar sabar dalam menjalani cobaan ini. Penuh kasih sayang dia mengatakan bahwa aku harus ikhlas menerima kehamilanku.

Tak hanya itu, selama di rumah sakit, dengan sabar suamiku menunggui dan merawatku. Sampai-sampai dia sering cuti dari pekerjaannya. Aku sangat terharu melihat sikap suamiku padaku. Baru kusadari, betapa besar cintanya padaku. Sungguh beruntung aku menjadi istrinya. Meski suamiku bukanlah seorang lelaki yang kaya raya.

Karena kondisiku yang lemah, dan anak yang kukandung dalam posisi sungsang, aku pun melahirkan dengan cara dioperasi. Rasa takut akan dioperasipun kualami. Setelah dibius lokal, aku tiba-tiba merasa panik, hingga perutku bertambah mual. Untunglah aku bisa melewatinya.

Anak ketigaku lahir dengan selamat. Meski beratnya pas-pasan yaitu dua kilo setengah, tapi dia terlihat begitu sehat.Sesuai tekadku, aku pun menyusuinya hingga sekarang dia berumur satu tahun lebih. Bahkan susu sapi dari rumah sakit tak kuberikan pada anakku. Sebab aku hanya ingin dia meminum asiku saja.

Meski diawal-awal aku harus menahan sakit karena habis operasi. Aku berniat untuk menyusuinya terus hingga dua tahun. Syukurlah air susuku selalu cukup. Mungkin karena aku semakin percaya diri dalam menyusui, juga dengan tekad yang benar-benar bulat. Hasilnya, anak ketigaku yang berjenis kelamin perempuan sangat gesit dan ceria, meski badanya tergolong kecil.

Sejak lahir hampir tak pernah dia sakit-sakitan. Apalagi batuk atau pilek.Kondisi fisiknya kuperhatikan juga lebih kuat dari kedua kakaknya. Manfaat dari menyusui benar-benar terbukti.Aku sangat bersyukur pada Tuhan, karena telah memberikanku kembali kesempatan untuk menyusui anakku hingga sekarang. Apalagi anak ketigaku ini terlihat lebih cerdas dan sehat dari anakku yang lainnya. Aku begitu bahagia setiap melihat senyum polosnya yang begitu menghibur kami sekeluarga.

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut