novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Minggu, 12 Juni 2011

"Ibuku Di Dunia Maya"



Setiap membuka Facebook, hatiku selalu mengharu biru kala membaca tulisan yang ku posting di notes facebook ku sendiri. Tak pelak, kedua mataku dipenuhi oleh titik-titik air mata yang mendesak keluar. Tak dapat kubendung rasa sedih dan kehilanganku bila mengingat semua kenangan manis bersama Ibuku. Yah, semua kenangan itu terekam abadi di dunia maya.

Saat itu tanggal 30 September 2009

Sore yang indah bersama Mamak di tempat tinggalku dibojonggede bogor. Kami baru saja selesai menonton acara berita yang mengabarkan peristiwa gempa berkekuatan 7,6 SR di Padang Pariaman. Mamak terlihat begitu cemas dan terus menelepon Udaku yang tinggal di Pariaman. Wajah Mamak yang tadinya keruh, akhirnya berubah ceria setelah tahu Udaku baik-baik saja meskipun rumah mereka sebagian hancur akibat gempa. Kami pun bisa kembali bercerita dengan tenang. Tiba-tiba terbersit ide dikepalaku dan seketika itu juga kuutarakan pada Mamak.

“Ati (nama kecilku) mau bikin cerita tentang gempa ah, Mak. Ceritanya rumah Mamak kena gempa tapi Mamak selamat,” ucapku antusias.

“Nanti rumah Mamak benar-benar kena gempa, Ti,” ucapnya sambil tertawa tergelak-gelak.

“Gak mungkinlah Mak. Ini kan cuma sebuah cerita,” jawabku ikut tertawa. Kami pun tertawa bersama-sama setelah itu. Baru kali ini kulihat Mamak bisa tertawa begitu senangnya. Setelah sekian lama hatinya dilanda duka.

Akhirnya dengan sedikit kerja keras, selesailah sebuah cerpenku yang kuberi judul “Rumah Mande”. Lagi-lagi terbersit ide dikepalaku untuk tak mengirimkannya ke media cetak, tapi ke annida online. Aku tertarik sebab setiap bulan annida-online akan memilih salah satu cerpen terbaik berdasarkan banyaknya polling pembaca annida. Besar harapanku cerpenku ini bisa terpilih. Subhanallah…harapanku terkabul juga. Akhirnya cerpen “Rumah Mande” terpilih sebagai cerpen terbaik bulan Nopember. Meskipun hanya para pembaca di dunia maya yang memilihnya. Segera kusampaikan berita gembira ini pada Mamak. Begitu mendengar kabar cerpenku dimuat dan terpilih, Mamak begitu senang dan terharu mendengarnya.

Namun satu tahun setelah itu, Mamak sering mengeluh sakit dipunggungnya. Memang sebelum pulang ke Medan, Mamak pernah menunjukkan sebuah benjolan kecil dipunggungnya. Saat kutanya “Sakit gak Mak?” “Ah, enggak Ti. Kadang-kadang aja terasa berdenyut,”jawab Mamak sambil tersenyum. Aku pun tak berpkir terlalu jauh tentang benjolan Mamak itu.

Namun setelah Mamak mengeluh bahwa benjolannya semakin terasa sakit dan mulai membesar, aku pun khawatir dan segera menyuruh Mamak berobat ke Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut. Astagfirullah! Begitu diperiksa hasil diagnosa dokter mengatakan bahwa Mamak terkena kanker getah bening. Hatiku dan kakak-kakakku yang lain begitu hancur mendengarnya. Belum lagi stroke yang dialami Mamak. Lengkap sudah penderitaan Mamak karena harus mengalami sakit yang bisa mematikan itu sembari melawan stroke yang semakin parah hingga membuatnya sulit untuk berbicara.
Dengan perasan sedih dan cemas tak terkira, kami pun bergantian merawat Mamak. Rasanya hati ini ingin menangis sekeras-kerasnya saat menatap wajah Mamak yang mengerang kesakitan. Matanya semakin layu menatap kami dari hari-kehari. Aku gak kuat! Sungguh benar-benar gak siap menghadapi kenyataan pahit ini. Hanya lewat tulisanlah beban hati ini bisa kutuangkan. Hingga terciptalah puisi ini untuk Mamak yang kutulis sambil berurai air mata. Lalu kubagikan puisiku di dunia maya. Tanpa bermaksud meminta simpati siapapun. Niat dihati hanyalah ingin berbagi cerita duka.

Bunda…
Kehangatan cinta ini tetap untukmu
Meski sorot matamu kini tak lagi bernyawa
Tak lagi sehangat dekapan dan belaianmu
Yang kini hanya tinggal cerita

Bunda…
Binar cintaku ini tetap milikmu
Meski binar bahagia dimatamu yang keriput redup ditelan usia
Tak lagi memiliki arti seperti dulu
Karena kini kau tergeletak lemah tanpa daya

Bunda…
Kurindu sinar kecemasan itu dimatamu
Saat mendapati diriku bermuram durja
Biarlah kini kecemasan itu menjadi milikku
Yang kian hari dipenuhi rasa putus asa

Bunda…
Tak akan mungkin kulupa
Kedua pelupuk matamu yang menganak sungai oleh air mata
Disaat bermunajat disepertiga malam demi keberhasilan ananda
Tapi kini kedua pelupuk mata tuamu selalu basah oleh air mata derita
Karena maut yang kelam mulai menggerogoti tubuhmu nan renta
Oleh penyakit yang tak mengenal hati dan cinta

Oh Bunda…
Waktu telah menjawab segala
Betapa cintamu selalu mengalir untukku
Bagaikan ricik air cinta yang tak pernah kering dihatimu

Ya Robbi! Perkenankanlah pintaku
Pinta yang kujalin dengan sepenuh cinta untuk Bunda
Dari tasbih, zikir dan doa
Agar kulihat lagi cinta dimatanya
Cinta yang tulus dan abadi hingga akhir masa

Tak lama setelah kuposting di Facebook, banyak komentar yang datang padaku. Komentar yang berisi simpati dan dukungan agar aku tabah dan kuat. Akh, tak sia-sia rasanya karena setelah itu aku mendapatkan dukungan moril yang semakin membuatku tegar dan tabah menjalani hari-hariku selama menemani Mamak. Namun Allah terlalu sayang pada Mamak melebih rasa sayang kami padanya. Akhirnya setelah hampir satu tahun menjalani pengobatan, Mamak berpulang untuk selama-lamanya. Sia-sia rasanya usaha yang kami lakukan untuk penyembuhan Mamak.

Kehilangan Mamak sungguh membuatku terpukul selama berhari-hari. Dan kembali kutuangkan curahan kesedihanku lewat facebook. Dan kembali teman-teman facebook memberi dukungan moril padaku dengan berbagai macam nasehat yang menyejukkan hati. Sampai suatu hari kudengar salah seorang facebooker Agnes Davonar mengadakan lomba kisah nyata tentang Ibu yang disponsori oleh ungu dan chocolates. Aku pun tertarik untuk mengikutkan kisah ibuku dalam lomba itu.

Tak ada niat untuk bisa menang dalam lomba. Hanya saja aku berniat bila terpilih dan mendapatkan hadiah berupa uang tunai, maka uang tersebut akan kusedekahkan sebagai amalan untuk Mamak disana. Ternyata Allah mendengar doaku. Cerita ibuku yang berjudul “Rumah Baru Untuk Ibuku” terpilih sebagai nominasi 20 pemenang diantara 30 ribu peserta. Aku bersujud sukur dan segera melaksanakan nazarku untuk memberikan uang hadiah lomba kepada anak yatim sebagai tambahan pahala untuk Ibuku di rumah barunya. Ucapan selamat yang berdatangan cukup menghibur hatiku yang sedang berduka.Meski kini Ibuku tak lagi bisa kutemui di dunia nyata. Namun kenangan indah bersama Ibuku tetap hidup bersamaku di dunia maya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut