novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Sabtu, 20 Juli 2013

mempelai pria




Sedikitpun tak pernah terbayangkan kalau suatu saat aku akan menjadi pengantin tanpa didampingi oleh mempelai pria! Bayanganku dulu, aku akan bersanding dengan seorang pria pujaannku disaat menikah dengan memakai gaun yang indah. Apa mau dikata, karena terlalu terburu-buru untuk segera menjadi suami istri, aku dan pasangan rela menjalani pernikahan jarak jauh. Menjalani pernikahan yang tidak biasa.

    Ceritanya begini. Kami berpisah sudah dua tahun lamanya. Pasanganku memilih bekerja di luar negeri, dan meninggalkanku di tanah air. Kami berhubungan lewat internet, dan hanya sesekali lewat telepon, karena biayanya yang mahal. Maklum, pulsanya dihitung Internasional. Bisa-bisa habis gajinya untuk membayar pulsa yang pasti akan membengkak hebat, bila sering-sering menelpon.  Jadi, kami lebih banyak berkirim e-mail dan chatting saja dari warnet.

    Tak terasa, sudah hampir dua tahun kami menjalani hubungan antara Auckland dan Yogya ( waktu itu kebetulan aku masih sekolah di kota gudeg) Bayangkan, betapa besar rindu yang kami pendam karena lamanya berpisah. Mungkin tepat bila dibilang kami saling rindu dendam he..he..he..
    Pasanganku mulai berbicara soal pernikahan, karena takut kehilanganku. Memang niat kami dari awal serius untuk berumah tangga. Tapi, dia belum bisa memastikan kapan akan pulang ke Indonesia. Karena dia masih harus memenuhi pundi-pundinya dulu yang mungkin bisa beberapa tahun lagi. Untuk pulang ke Jakarta, dia merasa belum percaya diri, mengingat tabungannya masih jauh dari harapannya. Aku pun bisa mengerti.

    Mulailah kami bicarakan niat kami pada orang tua masing-masing. Bisa ditebak, apa jawaban kedua orang tua kami.
“ Mengapa tidak menunggu pasanganku pulang ke Indonesia saja menikahnya?” tanya keluarga besarku. “Atau, kau pulang saja dulu untuk melangsungkan pernikahan, baru setelah itu kembali ke New Zealand bersama istrimu, jawab mertuaku, saat kekasihku mengutarakan niatnya untuk menikahiku segera.

    Calon suamiku pun menjelaskan bahwa dia tidak bisa pulang seenaknya, karena masih terikat kontrak kerja. Dia katakan pada keluarganya kalau dia sudah tak sabar agar aku segera menyusulnya ke sana. Sebab sudah tidak sanggup berpisah denganku, begitu juga aku.  Untuk lebih amannya dia mengajakku menikah. Sehingga begitu kami bertemu, sudah sah menjadi suami istri.

    Aku pun segera pergi ke KUA untuk mengurus surat-surat pernikahan kami. Dimana rencananya yang menjadi mempelai pria adalah adik lelakinya. Suamiku disuruh membuat surat kuasa yang menyatakan bahwa adiknya diberi kuasa mewakili dirinya dalam akad nikah nanti. Lumayan repot juga sih, sebab aku juga harus mengurus paspor dan Visa. Dan  semangatku lebih dari semangat 45. Mungkin karena sebentar lagi aku bisa bertemu kekasihku yang tak lama  lagi akan menjadi suamiku.
  
    Tiba-tiba kakak iparku menganjurkan agar acara pernikahanku dipestakan. Padahal niatku semula hanya sederhana saja. Sebab pikirku buat apa dipestakan bila mempelai prianya tak ada? Masak aku harus duduk sendiri dipelaminan? Tidak lucukan? Namun ibu menyambut baik niat tersebut katanya, masak nikah seperti janda saja. Tanpa ada acara atau resepsi. Alamak! Aku pun tak bisa berkutik. Dan akhirnya mengiyakan. Daripada tidak jadi menikah, batinku.

    Dibuatlah acara yang lumayan meriah. Dengan mengundang sanak-saudara dan teman-teman dari kedua keluarga. Katering pun dipesan dengan porsi yang lumayan banyak. Tukang rias pun dipanggil. Aku pasrah saja dirias laksana pengantin dengan memakai baju adat Padang. Pelaminan juga didekorasi dengan latar belakang daerah Sumatera Barat.

    Aku semakin nervous ketika acara puncak akan dimulai, yaitu akad nikah! Saking gugupnya, aku tidak menyimak apa yang dikatakan oleh adik calon suamiku. Yang aku ingat hanya kata terakhirnya saja yaitu sah..? sah..diiringi dengan tangis haru dari kedua orang tuanya. Aku pun tak dapat menahan air mata untuk tidak keluar.

    Tibalah saatnya pengantin duduk dipelaminan. Aku merasa geli dan malu hati duduk berlama-lama. Aku pun akhirnya lebih banyak  berdiri sambil berfoto-foto dengan para tamu yang datang juga keluargaku dan keluarga suami. Setelah acara foto-foto selesai, tanpa dikomando akupun segera masuk ke dalam kamar. Untung tidak ada yang nyeletuk

 “ Loh…loh…Pelaminan kok tak ada pengantinnya!” hehehehe. Itulah sebabnya  aku merasa lega sekali begitu acara selesai. Walau didalam hati menyesal juga, kok aku mau didaulat jadi pengantin tanpa teman bersanding. Apalagi saudara-saudara sempat-sempatnya mencandaiku

“Ada pengantin lagi sendirian.” Duh malunya…
Ketika sampai di Auckland, suamiku pun tak malu-malu lagi memeluk dan memegangiku sepanjang perjalanan ke apartemennya. Karena dia merasa kami sudah sah menjadi suami istri. Meski dia merasa sedikit aneh dan berkata




“Rasanya lucu saja dan sedikit tidak percaya kalau sekarang Adik sudah menjadi istri Abang,” ucapnya sambil tersenyum simpul. Terang aja, sebab dia merasa tak pernah mengucapkan ijab kabul. (karena adiknya yang ia kuasakan untuk mengucapkannya) Eh tahu-tahu aku sudah menjadi istrinya.

    Kini anakku sudah tiga. Kalau ingat kejadian itu, aku suka geli sendiri. Kok Bisa ya? Apalagi saat melihat foto aku menjadi pengantin. Kubandingkan dengan foto-foto saat kakak-kakakku menjadi pengantin. Dengan mesranya duduk bersanding dipelaminan bersama suami-suaminya. Sedangkan aku? Dengan pedenya berfoto sendiri di depan pelaminan. Yang aku syukuri, suamiku begitu menyayangiku dan memanjakanku, hinggga pernikahan kami awet sampai sekarang. Meski pernikahan kami tanpa foto-foto dan pesta meriah digedung mewah seperti pesta pada umumnya.



dimuat dirubrik gado-gado femina edisi akhir juni

8 komentar:

  1. Aku lagi belajar nulis gado-gado nih dari mba Ir. Doain lolos ya mba :-)

    BalasHapus
  2. Mak Irhayati Harun, gmna kalau foto2 berdua sama suami dg pakaian adat layaknya pengantin. Yah, foto after wedding, gitu *cuma usul. lumayan utk ngilangin penasaran karena gak bersanding saat resepsi dulu. :-D.Semoga jadi keluarga Samara, ya, Mak.
    Salam kenal

    BalasHapus
  3. Wah, sungguh sebuah kisah sakral yg unik ya, Mbak. Jujur, sy baru tau jika mempelai pria bisa dikuasakan utk ijab kabul. :) semoga langgeng, aman tentram rumah tangganya, ya Mbak. :)

    BalasHapus
  4. waaa, baru tahu nih ada pernikahan model begini, yg pernah saya baca ada pernikahan virtual, jd pengantin pria n wanita beda wilayah, tapi tetep melakukan ijab kabul dg bantuan virtual, jd sama2 live gitu

    BalasHapus
  5. oh bisa ya menikah seperti itu? hehe...

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih teman-teman udah mau berkunjung dan ninggalin jejak. waktu itu saya dan suami masih muda kali yah jadi masih sama sama gak berpikir panjang dan sama2 keras kepala juga hahahaha. untuk nikah seperti itu keluarga besar ikut mengurus dgn bertanya pada ustadz hingga buku nikah bisa dikeluarkan . sayangnya ampe sekarang foto pengantin berdua suami gak ada yg ada cuma foto saya sendiri krn suami gak pernah mau diajak berfoto dgn alasan buat apa yg penting kita udah bahagia. dan cerita kelanjutan ttg foto pengantin yg saya permasalahkan ma suami pernah dimuat di setetes embun akan saya posting di blog ini buat teman-teman:)

      Hapus

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut