novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Selasa, 27 Mei 2014

Ini Bukti Cintaku Untukmu Mande (Ibu)

Dia masih menggengam sebuah buku dengan rona bahagia. Euforia singgah dihatinya saat ini. Kala menatap buku ditangannya akhirnya diterbitkan juga di sebuah penerbit besar dan ternama. Elexmedia…..Rasanya tak percaya membayangkan impiannya bisa terwujud.  Untuk menerbitkan sebuah novel dengan bertuliskan namanya di sampul depan buku . Apalagi saat ia menatap bukunya terpajang di rak toko buku besar di Jakarta. Rasa bangga menyelinap begitu saja. Namun ditengah-tengah rasa bahagia, bangga dan euforianya, tiba-tiba wajahnya menciut takut mengingat kalau-kalau monster itu juga akan merenggutnya. Monster yang telah merenggut tiga orang yang ia sayangi, Monster yang tak punya hati karena dengan begitu saja mengambil nyawa kedua kakak dan Mandenya (ibu) dengan cara yang menyakitkan dan mengenaskan. Bukan tak mungkin monster itu juga suatu hari akan merenggut nya juga.




Kakak sulungnya merupakan anak kebanggaan keluarga termasuk bagi Mande. Anak yang begitu istimewa menurut Mande karena sedari kecil selalu mengukir prestasi hingga akhirnya bisa mendapatkan bea siswa keluar negeri. Namun disaat hidup Uda yang ia banggakan mencapai puncak kejayaannya, monster itu seenaknya merenggut Udanya . Setelah sebelumnya dia juga merenggut Uda (abang) keduanya yang dikenal sangat dermawan dan ramah semasa hidupnya. Hingga begitu banyak orang yang menangis menatap jasadnya. Bahkan ketika hendak dimakamkan, berduyun-duyun orang mengerubunginya. Begitu juga orang-orang yang hendak menshalatinya di mesjid, berebut tempat hingga penuh sampai keluar halaman. Seolah-olah mereka tak ingin melewatkan hari terakhir bersama sebelum Udanya itu dimakamkan. Dan korban berikutnya Mande yang sangat ia sayangi dan kagumi karena ketabahannya selama merawat sebelas orang anaknya di tengah kesulitan ekonomi.



Akh Mande ….Sebenarnya disaat menggoreskan pena ini, rasanya aku tak sanggup menahan kristal bening yang mendesak keluar dari kedua pelupuk mataku. Motivasi darimulah yang membuatku ingin selalu berbagi tulisan yang inspiratif dan penuh manfaat buat dunia. Aku ingat saat pertama kali memulai karirku di dunia tulis menulis. Kaulah orang pertama yang selalu memompa semangatku dengan ucapan yang meneguhkanku.
“Nak, teruslah berjuang mengukir dunia dengan tulisanmu yang penuh manfaat bagi semua orang. Sebab menulis adalah sebuah perjuangan yang akan kau kecap imbalannya di akhirat kelak,” ucapmu berkali-kali disaat semangatku melemah kala tak satupun cerpenku dimuat di media. Caramu mendukungku sangat indah dan mengharukanku. Hingga terus membekas dihati anak perempuanya yang paling kecil ini yaitu aku.

Masih kuingat waktu bersejarah itu. Penuh euphoria,  kuberitahu padamu tentang cerpenku yang akhirnya dimuat dengan judul ‘Rumah Mande’ di annida-online dan alhamdulillah menjadi cerpen pilihan pembaca nop 2009 hingga dibuatkan video testimoninya. Dengan antusias Mande memintaku untuk membacakan cerpenku itu untuknya. Berhubung mata Mande sudah kabur dan tak bisa lagi melihat, maka dengan senang hati aku membacakannya untuk Mande. Dengan tekun Mande menyimak sampai ceritanya selesai kubaca. Begitulah, setiap ceritaku dimuat di media, Mandelah orang pertama yang ingin tahu tentang isi cerpenku. Membuatku semakin termotivasi untuk terus menulis hingga kini. Lagi…dan lagi meski tak selalu tulisanku dimuat. Tapi aku belajar darimu untuk tak pantang berputus asa.





Kerap kusesali, mengapa Tuhan tak pernah mencegah disaat monster itu datang mengunjungi satu persatu anggota keluarganya? Lalu membawa mereka pergi dengan cara yang tak ingin ia ingat seumur hidupnya karena begitu menyakitkan. Monster yang telah meninggalkan bekas trauma dihatinya, hingga kecemasan dan ketakutan selalu menggelayutinya. Yah monster yang sedikitpun tak mengenal rasa cinta saat sudah berhadapan dengan korbannya.

Mengapa oh mengapa? Sang Pemilik hidup tak mengulurkan pertolongan dan keajaibannya untuk keluarganya. Disaat Monster itu telah semena-mena menyakiti dan mengambil paksa orang-orang terbaik dikeluarganya. Tanya mengapa itu terus mengganggu pikirannya. Namun tiba-tiba dia tersentak kala kembali menatap novel ditangannya. Sebuah bisikan malaikat menenangkannya. “Kamu harus ikhlas karena mereka sudah tenang di alam sana. Surga telah menanti mereka karena kesakitan yang mereka alami telah menggugurkan dosa-dosa mereka.”




Allahu Akbar... dia tersadar bahwa selama ini rasa tidak ikhlasnya lah yang telah membuatnya terpuruk dalam kubangan duka. Harusnya dia menyadari bahwa Yang Kuasa berhak mengambil nyawa siapapun termasuk ketiga orang keluarganya itu karena Dialah Pemilik Hidup hambanya yang sejatinya telah tertulis di Lauh Mahfuz jauh sebelum ia dan keluarganya dilahirkan. Kini rasa haru itu menyelimutinya karena banyak hikmah luar biasa yang ia dapatkan lewat Monster yang bernama kanker itu. Yah, kini dia menjadi lebih menghargai hidup. Lewat monster itu juga dia mendapakan sebuah ilmu bernama ‘ikhlas’ Ilmu yang tidak dipelajari disekolah manapun. Tapi hanya di dapat lewat sekolah kehidupan yang penuh kepahitan dan kesedihan. Akibat kehilangan orang-orang yang dicintai.

Mande…Kehangatan cinta ini tetap untukmu. Meski sorot matamu kini tak lagi bernyawa. Tak lagi sehangat dekapan dan belaianmu. Yang kini hanya tinggal cerita

Mande…Binar cintaku ini tetap milikmu Meski binar bahagia dimatamu yang keriput redup ditelan usia. Tak lagi memiliki arti seperti dulu. Karena kini kau tergeletak lemah tanpa daya

Mande…Kurindu sinar kecemasan itu dimatamu. Saat mendapati diriku bermuram durja. Biarlah kini kecemasan itu menjadi milikku. Yang kian hari dipenuhi rasa putus asa

Mande…Tak akan mungkin kulupa. Kedua pelupuk matamu yang menganak sungai oleh air mata. Disaat bermunajat disepertiga malam demi keberhasilan ananda

Tapi kini kedua pelupuk mata tuamu selalu basah oleh air mata derita. Karena maut yang kelam mulai menggerogoti tubuhmu nan renta. Oleh penyakit yang tak mengenal hati dan cinta.
Oh Mande…Waktu telah menjawab segala. Betapa cintamu selalu mengalir untukku. Bagaikan ricik air cinta yang tak pernah kering dihatimu

Ya Robbi! Perkenankanlah pintaku Pinta yang kujalin dengan sepenuh cinta untuk Mande. Dari tasbih, zikir dan doa, agar kulihat lagi cinta dimatanya. Cinta yang tulus dan abadi hingga akhir masa.
    
. Selamat jalan Mande…Kaulah motivator sejatiku….Untuk Mengobati rasa rinduku dan juga sebagai bukti cintaku, aku hanya bisa mengabadikan kisah hidupmu dan keluarga kita dalam buku ‘Rumah Mande’ yang aku tulis ini. Semoga kisahmu bisa membawa inspirasi bagi banyak anak di dunia ini agar lebih mencintai ibu mereka selagi masih bisa mereka dekap penuh cinta.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut