novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Sabtu, 12 April 2014

Cinta Rasa Kiwi - Cerpen

" TEETT…Teeettt…..!"
Bis berwarna kuning kemerahan segera berhenti tepat di depan sebuah halte ketika mendengar suara bel dari kursi salah satu penumpangnya. Seorang wanita berbalut mantel berbulu bergegas turun dengan langkah gesit. Melihat ke kiri dan kanan dengan wajah lelah sebelum menyebarang jalan untuk menuju ke apartemen mungilnya.. Kehangatan mulai menyergap tubuhnya begitu memasuki apartemen. Setelah beberapa menit tubuh langsingnya bergelut dengan udara dingin di sepanjang jalan kota Auckland. Tapi tidak dengan hatinya sejak ditinggal Eki suaminya, yang memilih pindah apartemen.

Hal pertama yang dilakukannya adalah menuju dapur sambil membawa sekantung buah yang baru saja ia beli di supermarket Two Double Seven. Salah satu supermarket terbesar di kota Auckland. Sebelum ia menuju kamarnya yang lengang tanpa suara dan sambutan hangat Eki seperti biasanya. Memilih dan mengupas buah yang kulit dan rupanya mirip sawo itu dengan sepenuh cinta untuk ia buat jus yang menyegarkan.

Gold kiwi lebih ia sukai daripada Green kiwi. Selaian rasanya yang lebih nikmat, ada bonus tambahan yaitu vitamin E yang lebih tinggi untuk kecantikan kulitnya. Sebagaimana dirinya yang selalu mengejar bonus tambahan jam kerja agar dolarnya juga bertambah. I love it! Di tengah aroma kiwi yang unik, terngiang-ngiang kembali perkataan Eki sebulan yang lalu.

"Kapan tabungan kita bisa penuh, kalo terus kamu kirimkan ke Bandung? Aku kecewa padamu dalam hal mengatur keuangan rumah tangga kita. Tak mungkin kan, seumur hidup kita bekerja keras terus di negeri asing?" protes Eki di tiga tahun usia pernikahan mereka.

Deg! Serasa beribu-ribu benda tajam menusuk ulu hatinya di tengah kebimbangan akut. Siapa yang harus ia pilih? Keluarganya atau suaminya? Akh, terlalu sulit sebab keduanya bukanlah untuk dipilih.

Tapi untuk diajak bekerja sama agar bisa mengerti dirinya. Mamanya dan adik-adiknya yang selalu menuntut uang untuk biaya hidup karena terbiasa hidup enak ataukah Eki suaminya yang gajinya tak setinggi dirinya.

Sehingga dia harus lebih bekerja ekstra demi kelangsungan keuangan rumah tangga mereka dan keuangan keluarganya.

Dulu selama ayahnya baru menjabat sebagai pengacara, fasilitas hidup mereka terasa membuai. Rumah besar, mobil kantor dan gaji ayah yang lumayan. Namun semua fasilitas dan kemewahan hidup melayang sejak ayahnya tak pernah mau menerima uang sogokan. Yah, sebagai pengacara ayahnya kelewat lurus.

Bagi ayahnya bekerja adalah sebuah kecintaan dan pengabdian, bukan semata-mata karena uang. Sepeninggal ayahnya, prinsip itu terus ia pegang dengan mencari uang secara halal meski harus membanting tulang.

Dia kembali asyik dengan kiwi di tangannya. Meskipun bayang-bayang kepahitan hidup terus mengganggunya. Pertama kali mengenal dan merasakan khasiat buah kiwi yang dahsyat, dia mulai jatuh cinta karena merasakan adanya kecocokan dengan buah unik ini.

Kandungan antioksidannya yang tinggi dan vitamin C nya yang dua kali lipat lebih banyak dari buah yang lainnya memang sangat dibutuhkan untuk stamina tubuhnya yang sering bekerja di luar batas.

Sayangnya mengapa tak secocok dirinya dengan Eki? Terutama dalam hal keuangan. Lelaki yang telah mampu membuatnya jatuh cinta dibanding lelaki-lelaki yang selama ini pernah mengejarnya. Eki memang beda, karena berani meluluhkan hati seorang wanita yang kelewat mandiri dan tangguh seperti dirinya. Akibat terus ditempa oleh hidup yang tidak ringan.

Sementara lelaki lain memilih mundur teratur karena menganggap dirinya adalah wanita yang tak membutuhkan pendamping. Wanita yang tak umum di mata pria yang hanya beranggapan bahwa wanita adalah makhluk lemah yang harus selalu dilindungi dan dijaga bak porselen. Sementara dirinya terbiasa memecahkan semua persoalan hidupnya sendirian.

Tapi benarkah demikian? Sejatinya dia juga seorang wanita yang butuh penguatan dari seorang pria sejati.

Tapi untuk detik ini dia tak butuh Eki ataupun mesin penghangat apa pun untuk kembali membuat hatinya yang dingin menjadi panas kembali oleh semangat yang membara. Yang dia butuhkan hanyalah segelas jus kiwi yang segar dan menggoda. Meskipun tak ia pungkiri kehadiran Eki dalam hidupnya semakin membakar geloranya, terutama dalam bekerja.

Namun Eki sendiri juga yang berusaha melumerkan kehangatan itu lewat sikapnya yang lebih dingin dari salju negara manapun di musim dingin yang menggigit. Hingga kengiluan yang teramat perih mengalir di sekujur tubuh ringkihnya.

Dia benar-benar butuh pertahanan lebih untuk raganya yang mulai membeku kedinginan dan terkepung keletihan yang amat sangat akibat bekerja lembur beberapa hari ini.

Jangan sampai fisiknya ambruk karena kurangnya suplemen penting penopang hari-harinya selama di negeri orang. Pilihannya jatuh pada suplemen alami yaitu buah yang bertekstur halus dengan rasanya yang unik. Buah dengan perpaduan rasa manis dan asam yang sempurna. Seunik asam manisnya cinta yang ia alami. Yah, Buah Kiwi! Buah yang namanya diambil dari nama burung yang tak bisa terbang dari Selandia Baru. Yang menjadi simbol nasional negara persemakmuran ini.

Cerita hidupnya sendiri dimulai ketika ia memutuskan untuk pergi ke Auckland karena desakan ekonomi. Setelah puas mengadu nasib sebelumnya di negeri Jiran Malaysia dan Hongkong sebagai Babu.

Tapi sesampainya di negeri Kiwi tak mudah untuk segera mendapatkan pekerjaan. Tak seperti di Malaysia atau Hongkong yang banyak membutuhkan tenaga rumah tangga. Di Auckland pekerjaan seperti itu jarang ada lowongan. Paling banyak diterima sebagai tukang cuci piring atau chef. di restoran-restoran. Pernah hampir 3 hari ia berkeliling berjalan kaki mencari pekerjaan.

Sampai akhirnya di sebuah cafe Turki di daerah ponsonby ia diberi kesempatan untuk dipekerjakan sebagai tukang cuci piring. Ia ingat, malam itu malam Sabtu, weekend, restoran lumayan ramai.

Perihnya ia yang tidak punya pengalaman sama sekali hingga jadi bulan-bulanan. Diperintah dengan nada yang tinggi, dibentak, dimaki-maki karena tidak tau cara mengoperasikan dish washer. Ia juga disuruh bekerja lebih cepat, lebih cepat lagi. Padahal sudah setengah mati ia berusaha untuk bekerja secepat yang ia sanggup.

Setelah semua pekerjaan selesai-- piring-piring dan semua perkakas bersih-- sampah-sampah sudah dibungkus rapi dan diletakkan di tempat sampah--seluruh lantai yang lumayan luas sampai dengan toilet sudah mengkilat ia pel, dengan entengnya mereka mengatakan padanya bahwa ia tidak dapat bekerja lagi di tempat itu. Ternyata mereka hanya memanfaatkan tenaganya saja! karena tukang cuci piring mereka yang juga orang Turki tidak datang malam itu.

Tragisnya lagi ia sama sekali tak diberi upah atas kerja kerasnya malam itu. Akhirnya dengan keadaan keuangan yang masih tak menentu, ia hanya bisa tinggal di lantai atas sebuah toko milik seorang imigran dari Afghanistan yang berada di daerah Queen Street. Tempatnya lusuh dan tidak terawat, hanya saja lapang dan dapat ditiduri banyak orang. Jadi ia bisa menghemat pengeluaran untuk tempat tinggal karena cara membayar sewanya secara keroyokan tiap minggunya.

Sampai akhirnya keberuntungan berpihak padanya. Seorang teman yang berasal dari Jakarta, menawarinya pekerjaan untuk menggantikannya sebagai Kitchen Hand. Meski sedikit senang karena akhirnya mendapatkan pekerjaan, ia bertekad untuk memperbaiki nasib! Bukan hanya karena tangannya sering bengkak akibat mencuci piring seharian-- sebab ukuran piringnya yang jauh lebih besar dari piring di negerinya.

Alasan lainnya tak mungkin selamanya ia menjadi tukang cuci piring di negeri orang. Harus terjadi perubahan agar penghasilannya meningkat. Untuk itulah di tengah mengurusi piring-piring yang kotor, ia sempatkan untuk belajar memasak pada Paul, chef senior restaurant.

Akhirnya kesempatan itu datang juga padanya. Ternyata buatannya dipuji oleh head chef. Sejak itu ia dipercayakan untuk mengolah aneka dessert dan muffin untuk breakfast. Sampai akhirnya ia bisa membuat bermacam-macam aneka dessert, muffin dan cake. Dia pun terus mengolah keahliannya sebagai chef baru.

Disamping ilmunya ia dapatkan dari para chef, ia juga rajin browsing resep lewat internet dan mencobanya di kitchen berdasarkan kreatifitasnya sendiri. Dan hasilnya benar-benar tidak mengecewakan.

Otomatis setelah menjadi chef, penghasilannya meningkat jauh lebih tinggi dari penghasilannya selama menjadi kitchen hand alias tukang cuci piring. Akhirnya ia dapat mencicil hutang-hutangnya, mengirimkan sebagian gajinya ke Bandung dan mengumpulkan uang sedikit-demi sedikit untuk ditabung. Di tengah dia mengiris - iris Gold kiwi tiba-tiba "beb …beb…bebbbbb", Hp nya berbunyi. Setengah malas ia mengangkatnya.

"Oh Mama. Ada apa Ma?." Kira-kira apalagi nih, batinnya lesu.
"Dira, adikmu Tedi masuk penjara.karena kasus narkoba. Kita harus segera menebusnya Dira. Mama takut sekali bila dia harus lama mendekam di sana," isak suara Mamanya nun jauh di sana.

"Iya Ma segera," jawabnya malas.
Niatnya untuk membuat jus kiwi murni, akhirnya berubah haluan. Di tengah gemuruh nafasnya yang memburu karena rasa marah, dia segera mengeluarkan aneka sayuran dan buah lainnya sebagai campuran.

Sebelum di jus, terlebih dulu sayuran mentah seperti wortel, sawi daging, dan buah beetroot untuk menurunkan tekanan darahnya yang mulai meninggi ia rendam dalam air dingin yang diberi sedikit garam dan perasan jeruk nipis selama 5 menit. Harapannya, dengan banyaknya campuran, rasa asam pada kiwi akan semakin tersamarkan. Bagaimanapun, dia harus bisa meminimalkan asam pahitnya kehidupan yang kini ia jalani.

Sekali lagi ia dapatkan bonus tambahan karena Raw Juice juga berguna untuk mencegah berkembangnya radikal bebas dalam tubuh.

Minuman yang tak boleh ia sia-siakan! Alhasil, dia berhasil menyaksikan irisan-irisan buah dan sayur hancur dibantai oleh blender kapasitas tinggi dengan rasa puas. Sebagaimana hidupnya yang terus dibantai oleh masalah. Sudah ia duga akan begini jadinya. Jauh sebelum diperingatkan, Tedi adiknya tak pernah menuruti perintah keluarga termasuk dirinya, agar jangan main-main dengan obat haram tersebut. Tapi bukan Tedi namanya kalo belum kena batunya dia tak akan pernah berhenti.

"Sekarang tanggunglah sendiri akibatnya," umpatnya kesal. Dia tak mau mengeluarkan uang sepeser pun demi kebebasan Tedi. Masalah Mama adalah urusan belakangan. Sekaranglah saatnya keluarganya harus tahu bahwa uang yang ia peroleh selama ini adalah hasil kerja keras, bukan untuk dihambur-hamburkan. Biar Tedi juga bisa merasakan sulitnya mencari uang dari hasil keringat sendiri.

Selama ini dia mengira dengan selalu menuruti kemauan keluarganya untuk mengirimkan sejumlah uang yang jumlahnya kian meningkat seiring pendapatannya yang terus melambung adalah salah satu cara untuk bisa berbuat adil. Nyatanya? Dia tak pernah adil pada dirinya sendiri. Sudah saatnya dia memperhitungkan kebahagiaan hidupnya sendiri.Yah, hidupnya tak harus selalu merasakan asamnya saja, tapi butuh yang manis juga.

Dan kebahagiaan hidup bersama Eki adalah sesuatu yang sangat manis untuk diperjuangkan. Tanpa menunggu lagi, dia segera mengambil jaket bulunya dan bergegas ke luar apartemen dan menyebrang jalan menuju halte yang bisa mengantarkannya ke Onehunga, apartemen Eki.

"Tunggu aku my sweetheart. Akan kita selesaikan masalah rumah tangga kita yang kelewat asam menjadi indah dan manis seperti coklat."(Oleh: Irhayati Harun)

Dimuat Di MedanBisnisDaily 30 maret 2014

Rabu, 05 Februari 2014

“Surat untuk Stiletto Book”

                                                  Rindu Yang Tak Pernah Diam Padamu



Pertama kali melihat dan membaca nama stiletto www.StilettoBook.com, saya terbius dengan slogannya dan gambarnya berupa sebuah sepatu tinggi ditambah lagi cover buku buku terbitannya yang manis dan lembut. So sweet pokoknya perempuan banget deh. Femininya benar benar kerasa sampai ke hati. Untuk itulah sebagai penulis pemula waktu itu saya langsung jatuh cinta sehingga timbullah rindu untuk bisa menerbitkan naskah saya di Stiletto www.StilettoBook.com. Saya sudah membayangkan cover buku saya yang feminim mejeng di toko buku dengan foto profil saya yang feminim juga karena asli saya feminim banget menurut orang orang terdekat saya loh hehehe. Sehingga saya merasa sejiwa dengan Stiletto dari karakter dan kesukaan juga tema tema tulisan saya yang seputar perempuan juga. Seperti tema pernikahan, mendidik anak dan novel tentang wanita.. Lembut, manis, feminim deh pokoknya. Itu saya semuaaa hukhukhuk jangan ditimpuk yah karena ngeliat keg e-er an saya dengan Stiletto.

    Maka, mulailah saya mengejar Stiletto www.StilettoBook.com dengan karya karya saya. Bagaikan seseorang yang sedang kasmaran dan dilanda rindu. Dengan penuh keyakinan dan usaha keras, saya pun mencoba mendekati Stiletto lewat kiriman email naskah saya. Jawabannya sungguh sesuai dengan harapan yaitu naskah saya di acc! Senang dan lonjak lonjak karena euphoria. Tapi, olalala karena tak ada kesamaan visi dan konsep akhirnya dengan berat hati saya tarik kembali naskah pertama saya meskipun dengan hati yang sangat berat. Katanya cinta dan rindu ingin segera bersama Stilettto tapi mengapa begitu ada peluang saya malah mundur? nyesal juga sih hanya gara gara perbedaan diantara kami yang tidak bisa terelakkan.

    Tak putus asa, di lain waktu saya mencoba  mendekati Stiletto lagi lewat audisi antologi cup of tea nya. Siapa tahu kali ini ada kesamaan diantara kami hingga naskah saya diterima untuk dibukukan meskipun secara keroyakan. Tak mengapa yang penting bisa bersama Stiletto dalam satu buku pikir saya lagi. Saya pun sudah membayangkan bisa memegang buku tersebut dengan covernya yang feminim dan cantik saat terbit nanti. Tapi ternyata takdir belum mau mempertemukan kami kembali karena naskah saya tidak lolos audisi! Sedih sudah pasti. Tapi tetap aja rindu ini tak bisa diam untuk terus menyambangi Stiletto lewat karya karya saya. Tapi saya tetap sportif dengan tidak pergi ke dukun loh hehehe. Istilahnya cinta ditolak dukun bertindak.Hohohoho..





    Akhirnya saya pantengin terus Stiletto www.StilettoBook.com sampai akhirnya keluar juga  woro woro lamaran menulis dari Stiletto  yang mana kita disuruh membuat outline sesuai tema yang diminta. Bila outline kita lolos seleksi maka kemungkinan naskah kita diterbitkan akan terbuka lebar di depan mata. Yuhuuuu, tak mau ketinggalan saya pun ikut mencoba kembali mendekati Stiletto lewat kiriman outline outline saya. Je derrr! lagi lagi tak sesuai dengan yang diminta oleh Stiletto www.StilettoBook.com. Saya pun mulai putus asa mungkin kami tidak berjodoh kali yah, bathin saya. Huhuhuhu menangislah saya di dalam hati. Tapi rindu ini tetap tak bisa diam untuk terus mencoba menjajaki Stilettto. Akhirnya lagi dan lagi saya mencoba mengirimkan naskah juga outline-outline saya. Kalau memang berjodoh, suatu hari nanti pasti naskah saya bisa diterbitin oleh Penerbit Stiletto www.StilettoBook.comyang smart dan Sexy. Yang penting kudu berusaha terus tak kenal lelah. karena menurut saya mental baja mutlak dan kudu! di miliki oleh para penulis. Pesan saya jangan pernah kapok saya gencar dan dekati terus yah Stiletto:) sampai tercapai keinginan saya untuk bisa berfoto bersama buku terbitanmu yang sweet abisss…Meskipun sudah banyak buku saya yang diterbitin di penerbit yang lainnya. Tapi rindu ini tetap padamu...



     Harapan saya sebagai penggemar dan pecinta dirimu, tetaplah sexy dan feminim dalam berkarya dan menerbitkan buku buku yang mencerahkan. Oh ya kapan dong dibuka buku khusus lini islami? Satu hal yang saya suka dari Stiletto www.StilettoBook.com meskipun pernah sebel belum juga diterima yaitu penolakanmu yang halus pada kami saat naskah ditolak dengan kata kata salam yang saya suka yaitu 'Salam untuk teman teman perempuan Anda'.:)  Serta selalu merespon dengan cepat naskah yang masuk. Pokoknya Sukses buat Stiletto dan teman teman penulis semua ganbatte!

Irhayati Harun
Email Irhayatiharun@yahoo.co.id

Sabtu, 18 Januari 2014

Makan Dong Sayang

 Bunda tentu sering kewalahan menghadapi aksi tutup mulut si kecil. Bahkan sampai harus kejar-kejaran dengannya. Yups! bunda tak sendirian sebab hampir semua bunda pernah mengalaminya termasuk saya. Perasaan panik, cemas, dan takut kalo si kecil kurang gizi terus menjadi pikiran.

Perlu bunda ketahui bahwa setiap anak itu unik, begitu juga dalam menyikapi makanan. Misalnya ada anak yang memilih-milih makanan dan sukanya makan nugget saja. Sementara anak yang lain menolak makanan tertentu karena kurang suka dengan bau atau teksturnya yang kasar atau yang terlalu lembek. Disinilah kesabaran dan kreatifitas bunda diuji.

Pada dasarnya setiap anak terlahir unik, begitu pula dalam perilaku makannya. Ada yang memilih-milih makanan, ada yang sukanya makanan itu-itu saja seperti nugget dan ada yang menolak makan nasi sama sekali. Jadi senangnya hanya minum susu susu saja.






Sebagai orangtua yang menginginkan anaknya tumbuh secara sempurna, tentu akan merasa panik bila anaknya mengalami gangguan makan seperti memilih-milih makanan, menolak makanan, atau hanya mau minum susu saja tanpa mau makan makanan padat. Bahkan ada juga anak yang tidak mau sama sekali makan nasi! Tentulah orang tua merasa panik dan pusing tujuh keliling. Padahal bila kita tahu cara mengatasi dan menghadapinya, rasa stress dan cemas tak lagi menghinggapi. Sebagai orang tua, kita perlu memiliki kesabaran dan cinta yang segudang untuk menghadapi perilaku anak  terkait pemberian makan secara sehat dan tepat gizi.

Buku ini mengupas tentang perilaku makan pada anak secara komplit. Ada juga tentang pesan atau makna yang ingin disampaikan oleh anak yang sukanya mengemut, menyembur makanan, menolak makan, memuntahkan makannya sampai yang hanya mau minum susu saja di bab 1. 


Di bab 2 mengupas tentang proses belajar makan pada anak, mengajarkan anak makan dimeja, melatih kemandirian anak dengan menyuruhnya memilih makan sendiri sampai bagaimana mengajarkan etika makan pada anak sejak dini.


Bab 3 mengupas masalah makan pada anak dan cara menyikapinya. Sedangkan di bab 4 mengupas betapa pentingnya bekal sehat pada anak dan tips memilih tempat bekal yang aman disertai dengan resep-bekal yang disukai anak. 


Sedangkan di bab 5 mengupas tentang apa itu makan cerdas atau ‘smart eating’ dan apa saja kiat-kiat membentuk makan cerdas pada anak.


 Bab 6 mengupas bagaimana harus menyikapi anak yang vegetarian dan terlanjur mengalami obesitas serta menerapkan diet yang benar untuk anak. Ada juga menu dan makanan terbaik apa saja untuk kecerdasan anak. Terakhir mengupas perlukah suplemen pada anak dan makanan tepat apa yang bisa diberikan untuk anak yang sakit. 



Selamat berkreasi yah bunda demi buah hati kita:)



Sabtu, 28 Desember 2013

Ikatan Surga Abadi





Siapa yang bisa menyangkal bahwa ikatan cinta antara ibu dan anak takkan pernah padam sampai kapanpun. Meskipun masih saja sering kita dengar adanya kasus ibu yang durhaka karena telah tega membuang, menyiksa bahkan membunuh anaknya. Bahkan sebaliknya, masih ada anak yang durhaka pada ibunya bahkan dengan tega menyakiti dan membunuh ibu yang telah mengandung dan melahirkannya.  Ibunya yang telah berjuang mengurusnya sedari kecil. Sehingga kita mengenal malin kundang si anak durhaka. Tapi itu hanyalah segelintir dari kisah ibu dan anak yang kehilangan cinta kodrati yang harusnya mereka miliki. Masih banyak ibu yang sangat menyayangi dan mencintai anaknya. Demikian juga sebaliknya. Masih banyak anak yang berbakti selalu pada ibunya.


Judul buku :  3 Anak  Badung
 Penulis       : Boim Lebon
ISBN            : 978-602-8277-82-2
Cetakan      : I, Maret 2013
Penerbit      : Indiva
Tebal           : 192 hal
Ukuran        :  19 cm
Harga          : Rp 22.500,00

 

Buku ini mengisahkan tiga orang anak badung yaitu Mola ( 7th ), Rama ( 6th ), dan Reh ( 4th) yang dibuang oleh emak mereka Bunga Cinta Lebay karena sudah tidak sanggup lagi mengurus ketiga anaknya tanpa suaminya. Suami yang tega meninggalkannya begitu saja tanpa memberinya nafkah lahir dan bathin, dengan 3 anak yang badung pula . Mulanya mereka bertiga menyangka kalau emaknya hanya ingin menyuruh mereka mengamen di kereta sambil mencari bapak mereka yang tidak pulang pulang tiga kali lebaran. Untuk itulah mereka mau saja disuruh naik kereta ekonomi jurusan Yogya.

    Tapi begitu sampai di Yogya, sang emak tidak juga kelihatan menyusul. Akhirnya Rama, Mola dan Reh memilih mengamen di Mallioborro setelah bolak-balik dari stasiun Lempuyangan ke stasiun Tugu mencari emaknya yang tak kunjung datang. Tapi mereka malah dikejar-kejar sama anak buah Mas Gundul. Anak-anak jalanan yang merasa menguasai wilayah Mallioborro tempat mereka mengamen. Akhirnya ketiga anak badung ini pun memutuskan untuk balik lagi ke Jakarta karena tidak tahan dikejar-kejar terus oleh Gundul dan anak buahnya. Menumpang truk yang bermuatan kambing jawa, akhirnya mereka sampai kembali di tanah Abang. Tapi begitu sampai di Jakarta mereka malah terpisah-pisah. Untungnya Mola dan Rama bertemu dengan Bang Sofwan sopir truk yang taat ibadah, dan mau mengajari mereka sholat. Sementara si bungsu Reh harus berurusan dengan preman dan Bandar narkoba.

    Meskipun begitu, mereka tetap terus mencari keberadaan emak mereka Bunga Cinta Lebay yang biasa dipanggil Mpok Bung. Sepuluh tahun sudah mereka tak bertemu, dimanakah emak berada? Mola, Rama dan Reh hanya bisa pasrah sambil terus berusaha. Mereka yakin, emak masih merindukan dan menyayangi mereka. Ternyata Mpok Bung alias Bunga Cinta Lebay emak mereka juga merasakan hal yang sama dengan selalu merindukan dan juga terus mencari Mola, Rama dan Reh anaknya. Meskipun mereka bertiga anak badung yang dulu suka menyusahkannya. Mpok Bung benar benar merasa menyesal telah membuang mereka. Berhasilkah akhirnya ibu dan anak ini bertemu kembali?

Memang buku ini merupakan cerita humor. Terlihat dari covernya yang lucu yaitu gambar Mola dengan giginya yang besar dan jarang-jarang. Sementara Rama memegang gitar kecil yang menggambarkan dirinya pintar mengamen. Untuk si bungsu Reh digambarkan rambutnya jabrik dengan bandul gembok  kunci di kalungnya.


Selain itu hal yang membuat kita tersenyum geli adalah lagu krisdayanti makin aku cinta yang diplesetkan menjadi makin aku sebel oleh Bunga Cinta Lebay, tokoh emak dalam buku ini karena saking sebelnya ama suaminya. Bahkan judul-judul yang tertera di novel ini  terbilang kocak diantaranya , cause everything gonna be okay, 4 L , Lari Lagi Lari lagi, Berani karena Tul betul Tak Ye ! dan  Imposible is Nothing.

Tapi hebatnya Boim Lebon berhasil menyajikan cerita ini dengan sangat mengharukan. Pokoknya kita akan menangis dan tertawa bersamaan dalam membaca novel yang bisa dinikmati oleh semua umur ini. Selain ceritanya yang seru, lucu dan mengharukan, kita juga akan menemukan kalimat-kalimat yang sarat hikmah didalamnya. Misalnya,

 “Kalau kita ingin jadi orang baik, yang Maha Kuasa akan ngejagain kita” (hal108), “ Berdzikir dan berdoa adalah salah satu cara ampuh mengatasi setiap masalah” (hal 86)

 Boim Lebon sendiri  memiliki nama asli H Sudiyanto bin H Pandi bin Karyokromo. Dia telah menulis beberapa serial Lupus Kecil, Lupus Abg, dan novel humor lainnya . Selain pernah bekerja sebagai script writer drama di Indosiar bareng Hilman dan sekarang bekerja di RCTI sebagai Head Writer Drama, Sehingga kepiawaiannya menulis cerita terutama komedi tak diragukan lagi.


Hikmah dalam buku ini sangat menarik bahwa anak adalah harta berharga bagi orangtua sehingga para ibu bisa mengambil ibrohnya untuk tak menyia-nyiakan harta berharga miliknya begitu saja yaitu anak. Sementara hikmah bagi seorang anak yaitu bagaimanapun kesalahan yang pernah diperbuat ibu kita, beliau tetaplah seorang ibu yang akan selalu mencintai anaknya. Seorang ibu mungkin punya alasan mengapa mereka tega melakukannya seperti yang dikisahkan dalam buku ini. Juga yang dipaparkan dalam prolog buku ini seputar berita berita yang tersiar dikoran tentang ibu yang akhirnya berlaku durhaka pada anaknya. Tugas kitalah untuk selalu berbakti padanya dan terus menyayanginya apapun kesalahan yang pernah ibu kita lakukan. Sebagaimana kalimat yang tertulis dalam buku ini yaitu: Kita nggak boleh menyerah untuk menemukan kasih sayang seorang emak, karena perhatian dan kasih sayang seorang emak merupakan salah satu jalan untuk meraih kesuksesan...”(halaman 169)

Bagaimanapun ikatan cinta antara ibu dan anak adalah ikatan abadi berbuah surga. Bila keduanya saling menjaga ikatan cinta abadi yang ada dengan tidak saling mendurhakai. Niscaya Allah akan memberikan ganjaran berupa surga nan abadi bagi keduanya yaitu pada si ibu dan anaknya
.

Jumat, 20 Desember 2013

Merasa Smart Saat Menjadi Seorang Ibu


Mendengar kata Smart www.smartfren.com dulu yang terbayang di pikiran saya adalah bila seorang wanita itu sekolah tinggi hingga perguruan tinggi. Sehingga saya beranggapan ibu saya yang hanya sekolah sampai bangku SD saja bukanlah ibu yang Smart www.smartfren.com. Duh, apakah gue anak durhaka yah. Tapi itu dulu loh… Saya pun menganggap bahwa ibu ibu lulusan universitas pastilah ibu yang Smart www.smartfren.com. Sehingga sewaktu kecil dulu saya pernah protes pada ibu saya “ Mak, kok gak KB aja sih, kan anak Mamak udah banyak 11 orang,” tanya saya selalu. Eh dengan santainya Mamak (ibu dalam bahasa Medan) saya menjawab

“Kalau Mamak KB gak lahirlah kau!” hehehehe Mamakku ada ada aja yah. Ya iyalah masak ya iya dong Mak. Padahal saya sempat kesel karena tidak mendapatkan jawaban yang saya inginkan. waktu itu. Ditambah lagi rasa ketidak percayaan saya pada Emak yang hanya lulusan SD. Namun semua persepsi itu sirna begitu saya menjadi ibu.




Hohoho…ternyata tidak mudah menjadi ibu meskipun saya lulusan sarjana. Saya pun terkenang bagaimana dulu emak bisa menjalani perannya menjadi ibu yang berhasil mengurus kesebelas anaknya hingga kami semua bisa bersekolah tinggi sampai S1. Bahkan abang tertua saya bisa lulus kuliah S2 dengan beasiswa. Hebat Euy Emak saya hanya lulusan SD tapi anak anaknya semua lulus sarjana.
Sikap merendahkan Emak pun berganti rasa kagum. Saya sendiri mengurus anak tiga saja udah kelimpungan. Meski akhirnya saya bisa juga menjalani peran sebagai ibu dnegan terus belajar.



Bagi saya seorang ibu mau dia lulusan SD saja kek, atau lulusan luar negeri sekalipun maka dia bisa dibilang Smart www.smartfren.com bila bisa menjalani berbagai peran sejak menjadi ibu. Hanya ibu yang mampu berperan multitaskinglah yang bisa dikatakan Smart!www.smartfren.com Bayangkan saat anak sakit, seorang ibu harus bisa berperan menjadi dokter bagi anaknya sendiri. Ketika anak susah makan maka mendadak sang ibu menjadi koki handal yang harus menciptakan menu enak dan sehat untuk anak anaknya yang bosan bila menunya itu itu aja. Begitu juga saat anak mengalami stress atau masalah, sang ibu pun harus bisa menjadi psikolog bagi anaknya sendiri. Ibu yang bisa menjadi tempat curhatan anak anaknya sekaligus memberikan solusi yang dibutuhkan anak. Bahkan ibu juga harus bisa menjadi motivator handal bagi anaknya ketika anak butuh dorongan orang tua saat ragu tampil dan ikut pertandingan misalnya.



Peran hebat lainnya yang dijalani seorang ibu adalah menjadi menteri yaitu menteri keuangan! hebatkan? Menteri gituloh…..karena sang ibu harus bisa memutar otak bagaimana mengirit dan mengatur keuangan keluarga agar bisa cukup sampai awal bulan ketika suami kembali gajian. Kalau tidak, maka dapur tak kan bisa mengepul setiap hari. Anak anak tak akan dapat uang saku sampai tanggal muda. Bandingkan bila ibu seorang yang konsumtif dan boros….Keuangan keluarga bisa terancam booo…Selain itu ibu juga bisa menjadi guru ngaji bagi anak anaknya saat mengajarkan anaknya membaca Al quran dan shalat. Tak hanya itu, seorang ibu juga sewaktu waktu bisa berperan menjadi artis multitalenta yang bisa bernyanyi saat menidurkan anak dan menari untuk menghibur anaknya. Disamping menjadi pendongeng yang baik saat membacakan anak buku cerita. Apalagi bila si ibu juga bisa betulin genteng, kran yang bocor, dsb..Sungguh luarrrr biasa:)

Kesimpulannya mereka para ibu sebenarnya sudah memiliki 3 kecerdasan sekaligus dengan perannya yang multitasking tersebut yaitu

1.    Cerdas secara Intelegensi dengan kepintarannya memasak, mengurus rumah, mengobati anak sakit dsb
2.    Cerdas secara Emotional karena mampu berperan sebagai psikolog bagi anak anaknya dan tetap bisa bersosialisasi di masyarakat dan lingkungannya ditengah keterbatasan waktunya mengurus anak dan suami.
3.    Cerdas secara Spirituil karena seorang ibu tak pernah menginginkan sebuah ganjaran ataupun hadiah dari siapapun karena mereka yakin ganjaran pahala dari Allahlah yang akan mereka dapatkan di akhirat kelak dalam menjalani beratnya peran sebagai ibu. Jadi menyadari dengan cerdas bahwa tujuan hidup tak hanya di dunia tapi juga di alam akhirat.

Ckckckc. Seorang ibu benar-benar memiliki kecerdasan multitasking…Belum lagi bila sang ibu juga harus bekerja membantu suami di luar rumah sebagai wanita karir. Maka tak mudah menjalani peran keduanya sekaligus. Butuh kecerdasan lebih karena kedua peran itu sama sama menyita waktu dan pikiran…Bahkan saat sang ibu harus menjalani peran sebagai single parent. Maka dia tak hanya berperan sebagai ibu dan pencari nafkah bagi anak anaknya. Tapi dia juga harus berperan sebagai ayah juga. Jadi Smart www.smartfren.com menurut saya adalah saat seorang wanita mampu berperan menjadi ibu yang multitasking . Begitulah yang saya rasakan juga saat menjadi seorang ibu hingga tak pernah putus ide di kepala untuk menuliskan buku tema seputar parenting hingga bisa terbit dan dinikmati oleh ibu ibu juga. Meskipun dikepung kesibukan karena harus menjalani peran multitasking seperti yang saya sebutkan diatas. Saya menjadi merasa bertambah Smart! Untuk itulah saya ingin mengatakan bahwa  semua emak emak adalah sosok yang hebat tak terkecuali ibu saya gitu loh….

Hiks jadi kangen Mak! Moga dirimu bahagia di alam sana. Percayalah, aku anakmu akan meneruskan perjuangan mu sebagai ibu. Meski awalnya tak semudah membalikkan telapak tangan Tapi aku harus bisa meneruskan perjuangan mu melahirkan anak anak yang bisa bermanfaat buat dirinya dan orang lain. Sehingga terciptalah generasi yang mumpuni yaitu cerdas secara intelegensi, emosional dan spiritual. Sebab anak adalah calon pemimpin baik bagi dirinya, keluarganya dan negaranya.yang sejatinya harus menjalani tugas sebagai khalifah di muka bumi ini. Hidup para Emak!


                              (http://emakgaoel.blogspot.com/)



"Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel"   http://emakgaoel.blogspot.com/2013/11/lomba-blog-3-challenges-to-win-gadgets.html#more

Selasa, 17 Desember 2013

Pentingnya Peran Ayah





“Urusan rumah tangga dan mengurus anak kan tugas para ibu, kami ayahnya hanya bertugas mencari nafkah. Kalau kami juga ikut mengurus pekerjaan rumah tangga, lantas siapa yang mencari uang? Padahal tanpa uang mana bisa membeli keperluan anak seperti susu dan keperluan rumah tangga lainnya.”

Mungkin kita sering mendengar para ayah berdalih seperti ini. Tanpa maksud menggurui sebenarnya para ibu bukan melarang suaminya bekerja dan menyuruhnya menggantikan tugas di rumah. Hanya saja para ibu ingin para ayah juga ikut ambil bagian dalam membesarkan anak. Jangan sampai pekerjaan menyita seluruh waktu para ayah sehingga tak punya waktu untuk ikut mendampingi tumbuh kembang anaknya. Sejatinya pengasuhan anak memang tugas para ibu tapi untuk penanaman nilai-nilai mutlak tugas para ayah.

Al-qur’an sendiri mengabadikan Luqman al-Hakim sebagai sosok orang tua teladan yang mendidik anaknya berdasarkan prinsip tauhidullah dan akhlak yang mulia. Luqman sendiri bukanlah seorang nabi tapi seorang wali Allah yang sholeh, berakhlak mulia, berpengetahuan luas, dan tidak banyak berbicara, tetapi bila berbicara ia pandai mengungkapkan kata-kata yang penuh hikmah. Maka dikenallah nasehat-nasehat Luqman pada anaknya yang diabadikan dalam Al-qur’an. Kita juga mengetahui bahwa Rasulullah adalah sosok ayah teladan. Jadi jelaslah bahwa tugas utama mendidik anak adalah tugas seorang ayah karena mereka adalah pemimpin keluarga yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Bila istri dan anaknya berbuat dosa dan kerusakan selama di dunia, maka dialah yang akan menanggung siksanya. Jadi tidak main-main hukumannya.

Namun kondisi sekarang telah membuat para ayah sedikit waktu untuk ikut terlibat dalam mendidik anak akibat jam kerja yang tinggi. Dimana dari mulai subuh sudah berangkat kerja dan baru pulang setelah anak-anaknya terlelap. Terutama di kota-kota besar. Seandainya bisa, para ibu ingin agar suaminya bisa memangkas jam kerja para suaminya sehingga bisa pulang lebih cepat. Tapi apa daya, itulah fenomena kehidupan jaman sekarang. Tapi bukan tak mungkin asal ada kemauan dan rasa cinta. Sebenarnya para ayah masih bisa ikut andil misalnya saat libur kerja. Tapi yang sering kita dapatkan justru waktu libur digunakan mereka untuk istirahat penuh dengan alasan lelah telah bekerja dari senin sampai sabtu. Kalau sudah begini, para ibu hanya bisa mengelus dada. Meskipun tidak semua para ayah begitu. Disamping kesibukan para ayah, adanya krisis peran ini terjadi karena sejak dahulu sangat sedikit contoh figure ayah teladan di negeri Indonesia dengan banyaknya ibu ibu yang mengeluh dengan mengatakan

“Sebenarnya kami para ibu lebih capek karena bekerja full time 24 jam dan tak ada cuti dibandingkan para suami yang masih diberi libur dari kantor.”



Dalam kenyataan sekarang yang memprihatinkan seperti ini, tentunya masih ada beberapa orang ayah yang care pada anaknya terutama dalam hal mendidik anak. Kita bisa lihat contoh dari seorang tokoh anak yang begitu dicintai seperti Kak Seto yang begitu perduli pada dunia perkembangan anak dan seorang ayah yang



juga penulis buku yang kita kenal dengan sebutan Ayah Edi. Seorang praktisi dan konsultan pendidikan anak ini juga mengatakan bahwa, "Semua berawal dari keluarga. Ya, keluarga! Organisasi inti terkecil yang sering dilupakan banyak orang, termasuk yang membina keluarga itu sendiri.” Mereka ini adalah sedikit contoh ayah yang begitu perduli dan mencintai anaknya tanpa terganggu dengan perannya sama sekali sebagai pencari nafkah. Dalam Al qur’an  disebutkan bahwa Rasulullah sendiri telah mencontohkan sikap terbaik dalam menjalankan perannya sebagai seorang ayah. Beliau amat dekat dengan putrinya, Fatimah Azzahra. Sehingga sering beliau mencium kening putrinya itu. Begitupun Fatimah tak pernah segan menumpahkan curahan hatinya kepada beliau. Kedekatan itu digambarkan dengan suatu julukan untuk fatimah, yaitu




“Ummu abiha” ( Ibu bagi ayahnya) Tak heran jika karakteristik Fatimah mirip sekali dengan Rasulullah. Yah  di dalam Al Quran juga disebutkan  adanya  dialog antara anak dengan ayahnya, bukan dengan ibunya. Hal ini terlihat dalam dialog Nabi Ibrahim dengan putranya Ismail dan nasihat Luqman kepada anaknya. Sebagaimana disebutkan oleh  Syaikh Doktor Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pendidikan Anak Dalam Islam yang menyebutkan bahwa ayah memiliki peran yang sangat sentral dalam hal pembentukkan kepribadian seorang anak. Kita juga mendapati adanya kedekatan antara ayah dan anak lewat sebuah lagu ciptaan bimbo yang lagunya begini “ada anak bertanya pada bapaknya…dst” Untuk menjadi ayah yang mampu mendidik dan membina anak-anaknya tentu saja dibutuhkan bekal yaitu ilmu, iman dan taqwa.
Dengan begitu tugas menjadi ayah tak lagi dirasa berat bila sudah memiliki ketiga hal pokok ini.

Dalam buku Tanya jawab seputar masalah perilaku anak, Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi memberi beberapa trik yang bisa dicoba untuk mendekatkan anak sejak balita dengan ayah :

•    Usahakan ayah hadir dalam aktivitas rutin anak sehingga anak terbiasa dengan kehadiran ayah, misalnya sesekali makan bersama di meja makan pada akhir pekan atau sesekali ayah bisa ikut memandikan anak
•    Ciptakan komunikasi rutin meski ayah tidak ada di rumah, misalnya menelepon ke rumah pada saat jam istirahat kantor sekedar agar anak mendengar suara ayah
•    Luangkan waktu sepulang dari kantor untuk bermain bersama anak. Biasanya anak laki-laki sangat menyukai “bermain kasar” dengan ayah seperti main kuda-kudaan dengan ayah sebagai “kudanya” Jika sempat, luangkan pula untuk ritual ini di pagi hari sebelum berangkat ke kantor. Selain bermain, kedekatan juga bisa terjalin dalam aktivitas lain, misalnya ayah membacakan buku untuk anak
•    Ayah juga perlu menjaga perasaan anak ketika berdua saja dengan anak. Kebanyakan ayah mungkin merasa khawatir atau gelisah ketika berdua saja dengan anak (takut anak ngompol dan sebagainya) Kegelisahan ayah ini bisa loh tertangkap oleh anak sehingga membuat anak merasa tidak nyaman.
•    Berikan kesempatan pada anak untuk ikut dalam aktivitas rutin ayah seperti mencuci atau mengutak atik motor meskipun ia hanya melihat saja. Saat itu ayah bisa mengajaknya bicara tentang apa yang sedang ayah lakukan. Biarkan anak bertanya dan usahakan tidak terlalu banyak larangan agar anak menikmati kebersamaan dengan ayahnya ini.


 Lantas bagaimana dengan para single parents? Mampukah mereka menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya?  Dalam keadaan seperti ini Allah pasti akan ikut campur dalam membesarkan anak kita. Sebagai contoh Rasulullah yang sejak kecil telah menjadi yatim piatu tapi bisa tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan penuh teladan. Jadi tak perlu risau karena para single parents tak pernah sendiri dalam membesarkan anaknya. Saya sendiri sejak kecil juga sudah menjadi yatim. Ibu saya juga bukan seorang yang hebat untuk bisa menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak2nya. Tapi saya bisa merasakan kalau Allah telah turut campur dalam membesarkan saya hingga bisa tumbuh seperti sekarang ini. Dalam membesarkan kami ibu saya juga meminta kekuatan dari Allah lewat doa-doanya .



 Artikel ini diikutkan dalam #Positif Parenting Lomba Blog Nakita

Menjadi Pendidik Yang Mendidik Dengan Hati

Saya pernah mendengar seorang teman mengeluhkan bahwa anaknya tidak lagi mau pergi kesekolah dan akan menangis bila tetap disuruh berangkat. Usut punya usut ternyata anaknya takut dan masih trauma dengan sikap gurunya yang galak dan suka memukul murid bila berbuat salah atau tidak mengerjakan pe-er. Mendengar ceritanya saya jadi tak habis pikir kok masih ada guru dijaman sekarang yang masih bersikap primitif seperti itu dalam mengajar. Padahal keberhasilan proses belajar mengajar bisa didapat bila ada respon yang baik dari kedua belah pihak yaitu dari murid dan guru.  Kalau gurunya saja sudah membuat anak muridnya takut, bagaimana bisa ilmu ditanamkan kehati anak didiknya dengan baik? Yang ada murid-muridnya trauma bila harus diajar olehnya. Selain itu wibawa guru didepan murid juga akan jatuh.  




 Pantaslah seorang pengamat anak Kak Seto Mulyadi sendiri pernah mengatakan bahwa mendidik anak tidak perlu dengan kekerasan dan kekasaran. Mendidik itu dilakukan dengan hati. Kalau anak diajari dengan kasar dan kekerasan, anak tidak akan tumbuh sebagai pembelajar sejati dalam hidupnya. Jadi para pendidik harus terus belajar dan berpikir secara kreatif dalam mengajarkan ilmu kepada anak-anaknya secara menyenangkan. Jika hal ini terus menerus diasah, maka anak akan tumbuh menjadi seorang pembelajar yang sejati. Anak-anak akan memahami betul apa makna belajar, yaitu berusaha memahami, merasakan dan menyelesaikan sebuah permasalahan. Tentu saja sebagai pendidik baik itu guru maupun orang tua karena pada dasarnya kita semua adalah pendidik harus terlebih dulu membersihkan hati dari bibit2 dosa yang mampu mengotori hati. Karena bagaimanapun fungsi hati akan lebih maksimal kerjanya bila sudah bersih. Sebagaimana telah Rasulullah sebutkan dalam hadistnya




“Ingatlah, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Bila segumpal daging itu baik, seluruh tubuh akan menjadi baik. Tetapi bila ia rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuh. Segumpal daging itu bernama Qolbu. (HR Bukhari dan Muslim)

Pentingnya mendidik dengan hati karena hati adalah dasar dari pemikiran. Bila baik hatinya maka baiklah pikirannya. Jadi salah besar bila kita lebih menjejali otak anak dengan nilai-nilai akademik yang tinggi semata sementara hatinya tetap kita biarkan kering dan gersang. Padahal ilmu pengetahuan sendiri berhasil membuktikan bahwa kualitas elektromagnetik jantung (hati) 5000 kali lebih kuat daripada otak. Lantas, mengapa kita hanya  berpikir untuk memaksimalkan potensi otaknya saja yang jauh lebih sedikit kualitasnya dari potensi/kekuatan hati? Tapi kebanyakan kurikulum pendidikan sekarang kurang menekankan pendidikan karakter seperti ini dan hanya menitikberatkan pada nilai akademik saja sehingga lahirlah generasi yang hanya cerdas intelegensi tapi kurang cerdas dalan emotional dan spiritualnya.
Dalam workshop mendidik dengan hati yang saya ikuti ternyata menjadi Pendidik yang bisa  mendidik dengan hati kita perlu tahu rahasianya yaitu:

* Meluruskan niat. Sebagaimana disebutkan dalam QS 29: 69 “ Dan orang-orang yang sungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan ) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan. Sehingga bila meniatkan karena Allah maka kerja adalah
-    Ibadah
-    Memberi yang terbaik karena Allah
-    Aktualisasi potensi diri
-    Rahmat dan syukur
-    Ladang amal dan tiket ke surga

*. Melihat dan memaknai suatu persoalan dengan hati. Jadi seburuk apapun suatu kejadian, bila dilihat dengan hati yang positif dan pikiran yang positif maka hasilnya akan positif. Sebagaimana I Ching berkata  “ Peristiwanya tidaklah penting, tetapi respon terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.”

* Mendengar suara hati anak didik  yaitu anak ingin perasaan hatinya didengarkan, dikenali, diterima, dimengerti dan dihargai. Untuk itu perlu memantaskan diri sebagai pendidik. Yang memiliki 9 kepribadian yang diinginkan anak diantaranya

1. Berjiwa tulus dan ikhlas
2. Penuh kasih sayang pada anak
3. Memiliki sikap amanah dan tanggung jawab
4. Memiliki kesabaran dan rasa syukur
5. Berpikiran maju
6. Cerdas
7. Kreatif
8. Penuh Keteladanan
9. Dan mampu melayani anak dengan hati

*. Efektif merubah perilaku anak. Tentunya dimulai dari diri sendiri. Sebagaimana disebutkan dalam QS As-Shaff ayat 2 dan 3 “ Hai orang orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Jadi kita haruslah bisa menjadi teladan bagi anak.

*. Mampu menyelesaikan persoalan hidup. Kita harus waspada dalam mengasuh anak, jangan sampai salah asuh.  Buckminster Fuller berpendapat Pada dasarnya semua bayi dilahirkan cerdas; 9.999 dari setiap 10.000 bayi itu dengan begitu cepat, dan sembrono dijadikan tidak cerdas bagi orang-orang dewasa. Terbukti kita dapati banyak anak-anak jenius dan berbakat yang tidak menjadi apa apa karena salah asuh oleh orang-orang dewasa, terutama oleh orang tua dan gurunya dikarenakan ketidak mengertian mereka. Tragis bukan? Dalam bukunya Hypno Heart Teaching Alpiyanti sendiri mengatakan bahwa peran pendidik diharapkan mampu menggali, mengenali, melatih, mendidik, dan mengembangkan potensi-potensi yang bersifat potensial tersebut menjadi kekuatan personal bagi peserta didik itu sendiri sehingga ia menjadi dirinya sendiri yang mandiri untuk orang lain dan kehidupannya.

Dengan demikian perlu bagi kita sebagai pendidik untuk dapat mengembalikan ruh pendidikan ke rel yang sebenarnya.  Sebagaimana Rheinal Kasali mengungkapkan kekhawatirannya “Benarkah cara-cara yang ditempuh disekolah sekarang akan melahirkan manusia-manusia hebat? Manusia hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai mata pelajaran yang tinggi-tinggi, melainkan manusia berkarakter kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka, dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik. Kalau ini sudah jelas, buat apa membuang waktu sia-sia.?”

 Belum lagi kita jumpai masih ada  pendidik sering menggunakan kata-kata yang tidak patut yang cenderung membelenggu kreativitas anak. Seperti kata-kata “ bodoh, nakal, malas, ancaman “ kalau tidak belajar tidak naik kelas” atau tidak lulus dsb. Padahal kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat. Untuk itu betapa penting kata-kata yang positif karena bila diucapkan dengan tulus dan baik kepada anak akan membuat mereka merasa nyaman, bahagia, terinspirasi, menyembuhkan dan memberi semangat bahkan dapat mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Kita bisa melihat kisah Andy F Noya seorang pemandu acara TV yang sangat inspiratif dimana Kick Andy selama bertahun-tahun berusaha mencari keberadaan guru SD nya Ibu Ana. Rupanya sosok Ibu Ana begitu melekat di hatinya karena pernah menghiburnya dengan kekuatan kata-kata” Andy, kamu anak pandai, kamu tak perlu cemas dengan kepandaianmu mengarang, Bu Ana yakin kelak engkau akan menjadi seorang wartawan yang Handal!



Ternyata setelah berpuluh-puluh tahun Andy benar berhasil menjadi wartawan handal. Ternyata menurut Andy kata-kata Bu Ana telah mampu membangkitkan kepercayaan dirinya.  Sehingga ketika Andy dapat bertemu kembali dengan gurunya itu, ia menangis sambil mengucapkan terima kasih. Luar biasa sekali. ...
Selain mendidik dengan qalbu, sebagai pendidik baik orang tua maupun guru, perlu mengetahui bahwa  setiap anak dilahirkan dengan beragam karakter dan potensi yang ada. Tugas kitalah sebagai orang tua untuk bisa mencetak anak agar bisa menjadi bibit unggul yang mampu memimpin di masa depan dengan mendidiknya untuk bersikap mandiri, percaya diri, rendah hati, jujur, kritis memiliki kecerdasan spiritual serta emosional dan memiliki karakter tangguh dan baik lainnya.

Intinya untuk menjadi pendidik yang mendidik dengan hati sangat penting mendengarkan suara hati anak didik  yang ingin didengarkan, dikenali, diterima, dimengerti dan dihargai selain meluruskan niat. Sehingga bila niatnya mendidik karena ibadah, maka akan berusaha memberi yang terbaik pada anak didik  karena Allah.





artikel ini diikutkan dalam #postif parenting lomba blog nakita


translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut