novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Senin, 20 September 2010

RINDU YANG TAK PERNAH DIAM



Begitu kuatnya ikatan batin diantara kita
Hingga rindu ini tak pernah diam. Untuk menyambangimu yang penuh sejuta kenangan bagiku.
Setiap detik selalu membayangkan dirimu yang nyaman dan artisitik itu.
Ketika berjalan sepanjang arcade mallioboro.
menikmati tembang kaki lima sambil menjawab ramah sapa orang-orang yang duduk bersila
yang menawarkan aneka cenderamata yang menawan hati
Serta berbagai karya yang penuh kreasi
Dari para pegiat senimu
Yang tak pernah mati inspirasi

meniti tapak-tapak kebersamaan
Meresapi sejuknya kabut kaliurang
Mendengarkan dedaunan basah berdendang
Mencengkram indahnya jalinan cinta dan persahabatan
Dipelataran hatiku yang lengang

Mendengarkan nyanyian ombak parangtritis nan mistis
Dengan hembusan udaranya yang ramah
Bagaikan dirimu
Yang begitu bersahabat penuh selaksa makna

Dan menepi sejenak
Di alun-alun selatan dan utara
Menikmati jagung bakar aneka rasa
Ditemani hangatnya wedang ronde
Untuk mencairkan bekunya hatiku karena tikaman rindu dan cinta.






Adakah diriku tengah mencari bahagia?
Laiknya each, pray, and love yang mencari mencari arti bahagia.
Sejatinya aku bahagia hidup bersama ketiga malaikat kecilku

dan belahan jiwaku


Aku tak hendak mencari kebahagiaan baru.
Aku hanya ingin mengunjungimu yang pernah membuat diriku bahagia dulu
Yah dulu….

Meski hanya sebuah masalalu. Tapi aku tak ingin menjadikanmu hanya sebagai persinggahan kenangan bagiku.

Kenangan saat menghabiskana masa remajaku nan ceria dan penuh inspirasi bersama sahabatku.




Kenangan saat menghabiskan waktu bersama pasangan jiwaku yang kini telah menjadi pendamping hidup setiaku


Kenangan saat menuntut ilmu yang berguna untuk dunia dan akhiratku. Hingga kutemukan ilmu tentang kehidupan itu sendiri darimu yang ramah, hangat dan bersahaja itu.

Ilmu bagaimana belajar berbagi dengan teman-teman dari berbagai kota yang merantau bersamaku. Hingga menangis dan tertawa bersama


Bagaimana belajar mandiri dalam menjalani hidup seorang diri ketika jauh dari sanak keluarga.
Serta belajar memecahkan masalah sendiri ditengah getir dan pahitnya hidup yang kujalani.
Semua itu terpatri indah dalam hidupku. Untuk kukenang dan kurindui sampai akhir hidupku.

Rinduku yogya.... Untuk yang kesekian kalinya.

Senin, 06 September 2010

cerpen memaafkan


Kata kata yang menghancurkan, meninggalkan bekas luka dihati. Memaafkan orang yang telah menggoreskan luka memang tak mudah. Butuh kesabaran dan keikhlasan hati dalam memberi maaf. Dihari kemenangan ini, mampukah ia melakukannya? Mengingat luka dihatinya cukup dalam pada mantan suaminya.
Gema takbir dan tahmid berkumandang.menyerukan kebesaran dan keagungan Tuhan subhanahu wata’ala. Rasa syukur dan haru membaur menjadi satu. Syukur,karena telah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan dengan baik, meski tak penuh karena adanya tamu bulanan. Haru,karena sebentar lagi akan berpisah dengan bulan suci yang penuh rachmat. Semoga Ramadhan kali ini, bukanlah menjadi Ramadhan yang terakhir baginya. Begitu pula harapan umat muslim di seluruh penjuru dunia.
Begitu memasuki aidil fitri, setiap umat muslim dan muslimah terlahir suci kembali. Bagaikan kertas putih yang tanpa noda. Baik seorang bayi yang baru lahir kedunia. Hari-hari mendatang, akankah kertas putih bersih itu ia isi dengan catatan-catatan kebaikan?atau sebaliknya,catatan keburukan yang ia buat baik secara sengaja ataupun tidak.
Mampukah ia mempertankan kebersihan hati dan pikirannya dari amaraah dan dendam? Memang,sebuah perjuangan yang cukup sulit. Sebagai manusia, ia tak bisa lepas dari godaan. Dan godaan hawa nafsu merupakan cobaan terberat dalam hidup manusia. Hawa nafsu amarah, benci, dendam, dan gemerlapnya duniawi. Kedepannya akankah imannya bertambah? atau semakin berkurang adanya.Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu kelemahannya. Sebagai manusia,dia hanya bisa berusaha sambil berdo’a, untuk terus memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik.
Anisa memandang lepas keluar jendela. Menatap bintang yang berpijar-pijar indah dilangit yang tinggi. Kebiasaannya sejak kecil tak pernah hilang. Dulu bila ibu memarahinya karena salah, dia akan mengurung diri dikamar sambil menatap bintang-bintang, untuk mengobati rasa marahnya pada ibu. Sampai akhirnya ia mengantuk dan tertidur. Keesokan harinya rasa sedih dan marahnya tak ada lagi. Tapi sekarang, mengapa begitu sulit?
Sekarang batinnya sedang gundah. Hanya dengan menatap bintang-bintang di langit yang hitam, dia merasa sedikit tenang. Mencoba menenangkan kegundahan hatinya dengan menikmati cahya bintang dimalam hari. Sambil tak lupa berdjikir memuji keindahan semesta ciptaan yang Kuasa.
Kedua anaknya Alit dan Alisa sedang ikut neneknya kemesjid. Dia menikmati kesendiriannya. Dia perlu rehat sejenak setelah tubuhnya penat sehabis berbenah dan memasak aneka makanan untuk hidangan lebaran. Opor ayam, ambal aty, dan sayur lodeh, telah beres ia kerjakan.Sedangkan kue-kue kering, jauh-jauh hari sudah ia pesan pada teman arisannya Shinta, yang memang dikenal pintar membuat aneka cake di kompleks perumahan merka.
Akh…..sebenarnya tak ada tamu yang terlalu istimewa yang akan datang besok. Tapi bagi kedua anaknya, kedatangan ayah mereka dirasa sangat special. Seperti lebaran tahun lalu, ayah dari kedua anaknya itu akan datang lebih awal dari tamu-tamu yang lainnya. Tak sekedar menengok, tapi juga mengajak pergi Alisa dan Alit ketempat-tempat hiburan dan permainan. Setelah lebih dulu menyantap makanan bersama Alit dan Alisa. Dia ikut bahagia melihat binar-binar keceriaan diwajah kedua anak kesayangannya. Hanya itu yang ia rasa, tak lebih.
Meski mantan suaminya meencoba bersikap sangat manis padanya dibanding sewaktu mereka masih menjadi sepasang suami istri,dia tetap tak tergerak. Padahal kata-kata yang diucapkan Bang Togar tak lagi sekasar dulu, saat dia masih menjadi istrinya. Ia tak tahu pasti apakah Bang Togar benar-benar sudah berubah dan menyesali perbuatannya. Dengan berkali-kali memohon untuk ia maafkan. Ataukah sekedar siasat agar hatinya luluh dan mau rujuk kembali padanya?
“Demi anak Annisa. Apakah kau tega menghancurkan masa depan mereka dengan perpisahan kita? Berilah abang kesempatan kedua.”
“Tapi, aku belum bisa menerima Abang sekarang. Abang kan tahu, aku belum siap untuk berumah tangga lagi dengan abang,”jawabku dengan nada dingin.
Bang Togar pun tak berkata-kata lagi mendengar jawabannya. Yah…..sikapnya belum berubah pada mantan suaminya itu pada saat lebaran tahun lalu.Tapi,bagaimana kalau besok Bang Togar kembali membujuknya untuk rujuk? jawaban apa yang akan diberikan? Hal itulah yang membuat hatinya dilanda gundah dan bingung. Disatu sisi dia ingin melihat anaknya bahagia.tapi disisi yang lain, ada segores luka hati yang belum kering. Hanya saja, dia perlu waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan sayatan hatinya yang terluka cukup dalam.
Maafkan hamba ya Allah…..yang sampai detik ini tak jua dapat menerima ayah dari anak-anak hamba. Karena hati ini pernah berdarah-darah dibuatnya. Bang Togar yang awalnya dikenal sebagai seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab, ternyata seorang yang sangat temperamental. Apabila dia melakukan kesalahan sedikit saja, cacian dan makian akan terlontar begitu saja dari mulut suaminya. Apalagi bila menyangkut pengasuhan kedua anaknya. Bang togar sangat mendiktenya sedemikian rupa.
Perbedaan-perbedaan dalam pola asuh diantara mereka semakin tajam. Diapun sudah tak mampu bertahan lagi dalam biduk rumah tangga yang di dalamnya kerap terjadi percekcokan. Hampir tak ada lagi keharmonisan seperti di awal-awal pernikahan. Mungkin pola asuh dalam keluarga berperan besar dalam membentuk karakter suaminya.
Memang,sejak kecil Bang Togar di didik penuh dengan disiplin dan ketat oleh bapaknya. Maklum, bapak Bang Togar adalah seorang militer. Pukulan dan kata-kata kasar adalah makanan sehari-hari bagi mantan suaminya.
Berbeda dengan dirinya . Sedari kecil ia di didik dengan pola demokrasi dan penuh kasih sayang serta kelembutan. Hampir tak pernah dia mendapat perlakuan kasar dari kedua orang tuanya. Apalagi dia merupakan anak perempuan satu–satunya dikeluarga. Posisi tersebut membuatnya sedikit manja dan terkadang berlaku kekanak-kanakan. Dan tanpa sadar terbawa hingga ia memiliki suami. Salah satu yang membuat Bang Togar mengkritik tingkah lakunya.
Bang Togar ingin dia bersikap dewasa dan tegas.Dan dia sudah berusaha memenuhi harapan Bang Togar. Sudah banyak perubahan yang ia lakukan. Tapi Bang Togar tetap tidak mau berubah. Malah semakin membuatnya tertekan dengan mengekang kebebasannya. Membatasi segala aktivitasnya diluar rumah. Jadwal berkunjung kerumah keluarganya juga sangat dibatasi. Tak ada toleransi keluar rumah sekedar mengusir kejenuhan. Bang Togar hanya ingin ia dirumah saja mengurus anak-anak. Tak ayal, dia pun tak lagi merasakan rumah tangganya sebagai surga.
Malam bertambah larut .tapi dia tak jua bisa memejamkan mata, meski badannya terasa lelah. Pikirannya masih dipenuhi oleh pergulatan-pwrgulatan batin yang ta kunjung bisa ia temukan jalan keluarnya.
“Assalamualaikum…” kesendiriannya terusik mendengar suara salam dari Alit dan Alisa. Berbarengan. Rupanya mereka sudah pulang dari mesjid.
“Waalaikum salam...,”jawabnya . segera dia keluar kamar menemui kedua anaknya.
Hari mulai terang-terang laras.sanak keluarga yang sedari tadi ramai memenuhi rumah Mamak mulai pamit satu-persatu. Annisa pun membereskan rumah dan mencuci perabotan yang kotor.
“Alisa dan Alit. Ayo Bantu Ummi membereskan meja makan,” perintahnya lembut. Namun kedua malaikat vkecilnya itu tak jua beranjak dari kursi tamu. Wajah keduanya terlihat begitu tak bahagia. Ada rona kesedihan terpancar dari wajah anak-anaknya.
Annisa sangat mengerti kalau kedua buah hatinya sangat kecewa lebaran kali ini. Diantara semua tamu yang datang, hanya ayah mereka yang belum muncul sampai sesore ini. Meski dia tak terlalu memikirkannya, tapi dia tak bisa cuek untuk tak memikirkan perasaan permata hatinya. Bagaimanapun, tak ada yang namanya bekas ayah bagi seorang anak.
“Ayah kok belum datang juga Mi. Alisa kan pengen jalan-jalan sama ayah.”
“Iya. Alit juga pengen main games sama ayah.”
“Pokoknya kami enggak mau lebaran tanpa ayah!” kedua anaknya berseru kompak dan langsung masuk ke dalam kamar. Melihat itu, Annisa ikut sedih.
Rasanya, dia ingin menelepon Bang Togar. Menanyakan mengapa dia tak datang mengajak anak-anak? Tapi dia urungkan niat tersebut karena gengsi. Bukankah itu sudah kewajiban Bang Togar sebagai seorang ayah? Buat apa dia susah-susah mengingatkan. Tiba-tiba telepon diruang tamu berdering saat dia sedang sibuk di dapur. Tak lama kemudian Mamak menghampirinya, membawa berita yang tak pernah ia harapkan.
“Bang Togar sakit apa katanya Mak?” Annisa bertanya cemas.
“Yang Mamak dengar tadi terkena serangan jantung. Dan sekarang sedang dirawat diruang ICU.”
Tanpa menunggu lagi, dia segera mengajak Mamak, Alit dan Alisa ke rumah sakit malam itu juga. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, tak henti-hentinya dia berdoa. Dalam hatinya ada sejumput penyesalan, karena masih bersikap argan untuk tidak memaafkan mantan suaminya.
Ya Allah! Lenyapkanlah dendam dihati hamba. Agar lebih optimis dan ringan dalam melangkah. Juga bukakanlah pintu hati Bang Togar untuk bisa berubah. Amin…Ia menutup doanya dengan air mata berlinang.

dimuat di majalah alia

Rabu, 01 September 2010

pernikahan yang tak biasa





Sedikitpun tak pernah terbayangkan kalau suatu saat aku akan menjadi pengantin tanpa didampingi oleh mempelai pria. Bayanganku dulu, aku akan bersanding dengan seorang pria pujaannku disaat menikah dengan memakai gaun yang indah. Apa mau dikata, karena terlalu terburu-buru untuk segera menjadi suami istri, aku dan pasangan rela menjalani pernikahan jarak jauh. Menjalani pernikahan yang tidak biasa.
Ceritanya begini. Kami berpisah sudah dua tahun lamanya. Pasanganku memilih bekerja di luar negeri, dan meninggalkanku di tanah air. Kami berhubungan lewat internet, dan hanya sesekali lewat telepon, karena biayanya yang mahal. Maklum, pulsanya dihitung Internasional. Bisa-bisa habis gajinya untuk membayar pulsa yang pasti akan membengkak hebat, bila sering-sering menelpon. Jadi, kami lebih banyak berkirim e-mail dan chatting saja lewat internet.
Tak terasa, sudah hampir dua tahun kami menjalani hubungan antara Auckland dan Yogya ( waktu itu kebetulan aku masih sekolah di kota gudeg) Bayangkan, betapa besar rindu yang kami pendam karena lamanya berpisah. Mungkin tepat bila dibilang kami saling rindu dendam he..he..he..
Pasanganku mulai berbicara soal pernikahan, karena takut kehilanganku. Memang niat kami dari awal serius untuk berumah tangga. Tapi, dia belum bisa memastikan kapan akan pulang ke Indonesia. Aku pun bisa mengerti.
Mulailah kami bicarakan niat kami pada orang tua masing-masing. Bisa ditebak, apa jawaban kedua orang tua kami. “ Mengapa tidak menunggu pasanganku pulang ke Indonesia saja menikahnya?” tanya keluarga besarku. “Atau, kau pulang saja dulu untuk melangsungkan pernikahan, baru setelah itu kembali ke New Zealand bersama istrimu, jawab mertuaku, saat kekasihku mengutarakan niatnya untuk menikahiku segera.
Calon suamiku pun menjelaskan bahwa dia tidak bisa pulang seenaknya, karena masih terikat kontrak kerja. Dia katakan pada keluarganya kalau dia sudah tak sabar agar aku segera menyusulnya ke sana. Sebab sudah tidak sanggup berpisah denganku, begitu
juga aku. Untuk lebih amannya dia mengajakku menikah. Sehingga begitu kami bertemu, sudah sah menjadi suami istri.
Aku pun segera pergi ke KUA untuk mengurus surat-surat pernikahan kami. Dimana rencananya yang menjadi mempelai pria adalah adik lelakinya. Suamiku disuruh membuat surat kuasa yang menyatakan bahwa adiknya diberi kuasa mewakili dirinya dalam akad nikah nanti. Lumayan repot juga sih, sebab aku juga harus mengurus paspor dan Visa. Dan semangatku lebih dari semangat 45. Mungkin karena sebentar lagi aku bisa bertemu kekasihku yang tak lama lagi akan menjadi suamiku.
Aku nervous ketika acara puncak akan dimulai, yaitu akad nikah! Saking gugupnya, aku tidak menyimak apa yang dikatakan oleh adik calon suamiku. Yang aku ingat hanya kata terakhirnya saja yaitu sah..? sah..diiringi dengan tangis haru dari kedua orang tuanya. Aku pun tak dapat menahan air mata untuk tidak keluar.


Ketika sampai di Auckland, suamiku pun tak malu-malu lagi memeluk dan memegangiku sepanjang perjalanan ke apartemennya. Karena dia merasa kami sudah sah menjadi suami istri. Meski dia merasa sedikit aneh dan berkata “Rasanya lucu saja dan sedikit tidak percaya kalau sekarang aku sudah menjadi istrinya, sebab dia merasa tak pernah mengucapkan ijab kabul. (karena adiknya yang ia kuasakan untuk mengucapkannya) Eh tahu-tahu aku sudah menjadi istrinya.

Jumat, 27 Agustus 2010

rumah baru untuk ibuku




oleh Iir Harun pada 28 Agustus 2010 jam 11:34

ceritaku yang masuk nominasi 20 pemenang dari 30 ribu peserta dalam lomba 100- blog kisah tentang ibu bersama ungu

Ibu tak pernah mau rumahnya dijual, meski dia harus tinggal sendiri tanpa anak-anaknya. Padahal kami khawatir dengan ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan. Bayangkan saja, hampir semua anak ibuku tinggal dirantau. Ada yang di Jakarta, ada yang di Padang, dan ada yang di Yogyakarta.. Sebenarnya bukan setelah anak-anaknya menikah saja ibu harus rela ditinggal sendiri di Medan. Semenjak anak-anak ibuku tamat SMA, hampir semuanya memilih merantau ke Yogya untuk kuliah, termasuk diriku. Tak dapat kubayangkan bagaimana kesepiannya ibuku. Apalagi ayahku telah lebih dahulu dipanggil Tuhan. Otomatis ibu sering sendirian.

Tapi ibuku tak pernah melarang anak-anaknya untuk pergi. Baginya yang utama adalah, anak-anaknya menjadi orang yang pinter dan bisa bersekolah setinggi-tingginya. Meski harus merantau meninggalkan dirinya. Ibuku benar-benar mengikuti sunnah nabi yang berbunyi “ tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Sungguh luar biasa sosok ibuku di mataku. Padahal setiap kami kembali lagi ke Yogya setelah masa liburan habis, mata ibu akan berembun karena sedih dan haru. Sedih karena harus kembali ditinggal anak-anaknya dalam jangka waktu yang lama. Haru, demi melihat kami bisa mencicipi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Setelah menikah, aku sangat ingin ibu pindah ke Jakarta. Selain semua anaknya tinggal di ibukota, aku ingin tinggal berdekatan dengan ibu. Maklumlah. Sedari SMA hingga menikah, aku hidup dirantau terus. Aku ingin membahagiakan beliau dengan sering mengunjunginya dan mengurusnya. Dan itu bisa terlaksana kalau ibu tinggal tak jauh dariku. Tapi ibu menolak dengan alasan tak ingin meninggalkan rumahnya yang penuh kenangan asam dan manisnya hidup bersama Abak. Akh, ibu. Tak inginkah dihari tuamu, kau bisa berkumpul dengan anak-anakmu? Padahal kami sangat merindukan hal itu.

Untuk mengobati rasa kangenku pada ibu, setahun sekali ibu kukirimi ongkos untuk datang ke Jakarta. Begitu sampai di Jakarta, ibu akan kubawa pergi jalan-jalan kemanapun dia suka. Bahkan ke kolam renang sekalipun, bersama anak-anakku yang ingin berenang. Tapi ibu paling suka bila kuajak ke pasar Anyar Bogor. Kebetulan aku tinggal di daerah bojonggede yang tak jauh dari bogor. Jadilah dengan nekat kuajak ibu naik kereta. Meski awalnya ibu takut, tapi kulihat dari matanya ibu begitu antusias dan bahagia dengan ajakanku.

Namun saat ibu harus kembali lagi ke Medan, aku tak dapat menutupi rasa sedihku padanya. Dan lagi-lagi aku meminta agar rumah di Medan dijual saja, supaya ibu bisa membeli rumah tak jauh dari rumahku. Agar setiap saat aku bisa bersama ibu dan mengajaknya jalan-jalan. Juga membacakan cerita-ceritaku padanya. Kebetulan aku suka menulis cerpen dan sering dimuat di media. Ibu berkata akan mempertimbangkannya. Aku merasa diberi setitik harapan. Hingga berdoa semoga ibu tak merubah niatnya untuk membeli rumah di daerah bojongggede. Karena ibu merasa betah tinggal di daerah tempat tinggalku yang menurutnya sejuk dan tidak panas seperti di Jakarta.

Beberapa bulan setelah ibu pulang ke Medan, ibu jatuh sakit. Kami pun memutuskan untuk mengobati ibu di Jakarta saja, agar lebih efisien dan efektif. Mengingat hampir semua anaknya tinggal di kota metropolitan. Ibu pun tak menolak dan segera kembali lagi ke Jakarta untuk berobat. Begitu sampai, ibu segera kami bawa berobat ke dokter. Dan vonis yang mengerikan itu benar-benar menghancurkan hati kami anak-anaknya. Ibuku positif terkena kanker ganas. Duh Robbi!

Benar-benar tak kuduga sebelumnya. Ditengah kebahagiaanku mendapat kabar bahwa salah satu cerpenku di annida online akan dibukukan bersama 11 penulis lainnya, ibu harus terkapar dirumah sakit karena menderita kanker dan komplikasi paru-paru yang parah. Mengapa cobaan itu datang ditengah kegembiraan yang seharusnya kubagi dengan Ibu, yang selama ini selalu setia mendengar cerita –ceritaku.

Aku tak bisa lupa betapa antusiasnya ibu memintaku untuk membacakan ceritaku yang dimuat, karena matanya mulai kabur diusianya yang sudah beranjak senja. Dengan senang hati aku pun membacakan ceritaku sendiri untuk ibu hingga selesai. Dia pun dengan tekun menyimak setiap kata demi kata yang aku bacakan untuknya. Juga ketika kuutarakan pada ibu bahwa aku ingin membuat cerpen tentang gempa dengan judul “ Rumah mande” Cerpenku yang akhirnya di muat oleh annida –online dan menjadi cerpen pilhan pembaca dibulan nop 2009. hingga dibuatkan video testimoninya.

“Nanti rumah ibu benar-benar kena gempa, Ti,” ucapnya sambil tertawa tergelak-gelak.

“Gak mungkinlah bu. Ini kan cuma sebuah cerita,” jawabku ikut tertawa. Kami pun tertawa bersam-sama setelah itu. Baru kali ini kulihat ibu bisa tertawa begitu senangnya. Setelah sekian lama hatinya dilanda duka.







Yah sejak kedua kakak lelakiku meninggal karena kanker, ibuku sempat murung dan bersedih. Bahkan tak lama abang tertuaku meninggal karena kanker hati. ibu pergi berjalan seorang diri entah kemana. Dia terus berjalan tanpa tujuan. Dan akhirnya pulang setelah kami menunggu dengan cemas dirumah.

“Entah mengapa, ibu tiba-tiba ingin berjalan kaki kemana ibu suka,” jawabnya saat kami tanya kemana saja dirinya. Akh…mungkin ibuku bingung harus bagaimana melepaskan rasa sedihnya karena baru kehilangan anak kebanggaannya yaitu Uda Wan, kakak tertuaku. Anaknya yang paling cerdas dan berprestasi. Hingga bisa sekolah keluar negeri tanpa biaya. Sekaligus tulang punggung keluarga penggati Abak yang telah lebih dulu meninggalkan kami.

Sungguh! Hati ini tak kuat membayangkan tubuh ibu yang sudah renta itu harus menjalani pengobatan seperti kemotrapi dsb. Apalagi yang kudengar dari orang-orang yang pernah terkena kanker mengatakan bahwa setelah habis dikemo, rasanya sakit sekali. Lebih baik digebug oleh orang sekampung daripada harus dikemo. Duh Robbi! betapa pilunya hati ini mendengarnya. Setiap malam aku menangis memikirkan ibu. Aku tak kuat memandang wajahnya yang selalu meringis menahan sakit

Aku hanya bisa berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk ibuku. Ya Allah…kalau memang ibu masih diberi umur, sembuhkanlah penyakitnya. Tapi kalau memang umurnya sudah sampai, Mudahkanlah jalannya menuju tempat-Mu disana. Ringankanlah sakitnya. Berilah ia kekuatan dan ketabahan dalam menjalani penyakitnya. Doaku tiada henti

Akhirnya doaku dikabulkan oleh yang kuasa. Setelah beberapa bulan berjuang melawan sakitnya, akhirnya Ibu dipanggil oleh Allah dengan tenang dan mudah. Kami pun memutuskan untuk memakamkan ibu tak jauh dari rumahku. Niat untuk menguburkan ibu di Medan disamping makam ayah, tak bisa kami wujudkan. Mengingat akan menelan biaya yang sangat mahal dan memberatkan ibu sendiri. Karena harus menunda-nunda pemakamnnya dengan segera.

Akhirnya, ibuku benar-benar tinggal tak jauh dariku dirumah barunya.. Selamat jalan Bu. Semoga dirumahmu yang baru ini, kau akan merasa bahagia selama-lamanya. Karena doa kami anak-anakmu, akan selalu menemanimu disana. Amin…

Rabu, 25 Agustus 2010

ketika balitaku punya adik


Anakku protes dan menjerit histeris


Ketika pertama kali balqis anak pertamaku punya adik, ada rasa khawatir dihatiku. Maklumlah, selama ini hanya dia yang selalu kuurus dan kuperhatikan. Setelah adiknya lahir, otomatis perhatianku terbagi. Apalagi jarak mereka cukup dekat, yaitu 1 tahun setengah. Aku tak bisa lagi fokus mengurus balqis sepenuhnya. Seperti menyuapinya makan, memandikannya, hingga menidurkannya sambil mendendangkan lagu. Semua itu tak bisa lagi kulakukan rutin setiap harinya seperti dulu.
Tapi yang paling repot adalah mengurus makannya Balqis. Anak pertama ku ini paling susah makan kalau tidak disuapi. Selama ini aku dengan sabar menyuapinya makan. Tapi setelah adik lelakinya lahir, aku sering tak sempat apalagi disaat adiknya rewel atau sedang menyusui. Aku pun berinisiatif mempekerjakan pembantu yang khusus mengurusi balqis. Padahal tak mudah mencari pembantu yang cocok dan sayang dengan anak kecil.
Sempat kesel juga saat menemukan pembantu yang tak sabaran dalam mengurus anak kita sendiri. Selain kasihan, aku menjadi lebih repot karena harus gonta-ganti pembantu sampai ketemu yang cocok dan telaten mengurus Balqis anakku. Untunglah pada akhirnya kutemukan juga pembantu yang sesuai kriteriaku. Telaten, sabar dan sayang anak kecil. Masalah pertama pun selesai. Namun prakteknya tak semudah yang kubayangkan.
Suatu hari Balqis tiba-tiba ngadat dan tak mau disupain sama mbaknya. Dan puncaknya, dia menjerit histeris. Aku pun panik dan segera membujuknya. Tapi Balqis tetap menangis malah semakin keras tangisnya. Aku bingung sekali. Tampaknya Balqis benar-benar frustrasi dengan perlakuanku yang tak lagi seperti dulu.
Mungkin dalam pikiran kanak-kanaknya, ibunya lebih sayang pada adiknya dari pada dirinya, karena lebih banyak mengurus adiknya yang masih bayi. Apalagi malamnya aku sering bangun untuk menyusui. Maka siangnya disaat adiknya tidur kuusahakan untuk tidur juga. Demi melunasi hutang tidurku. Setelah kutanya berulang-ulang rupanya Balqis keberatan bila aku tak mengajaknya bermain, tapi memilih tidur. Dia pun menjerit sekeras-kerasnya menunjukkan rasa protesnya padaku. Weleh..weleh…!
Pernah juga aku dikejutkan oleh ulah balqis yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Ketika aku sedang memasak di dapur, tiba-tiba perasaanku tak enak dan ingin segera melihat anakku di kamar. Masya Allah! Dengan mata kepalaku sendiri kulihat Balqis tengah menutupi wajah adiknya dengan sebuah bantal. Segera aku berteriak histeris sambil berlari untuk mengangkat bantal yang ada di tangan anak pertamaku itu. Aku benar-benar shok membayangkan seandainya aku telat sedikit, pasti adiknya menjadi korban. Balqis pun ikut menangis karena terkejut mendengar suaraku yang cukup keras saat berteriak tadi.
Sejak itu, aku tak ingin lengah lagi. Bila si mbaknya belum datang, kuputuskan untuk tidak meninggalkan adiknya ke dapur ataupun ke kamar mandi meskipun hanya sebentar. Anak seusia balqis memang masih polos. Dia belum mengerti dengan apa yang dia lakukan. Bahkan pernah juga kudapati balqis tengah menduduki adiknya. Maksudnya ingin mengajak adiknya bermain kuda-kudaan. Terang aja aku berteriak-teriak karena panik. Ya ampyun! Balqis benar-benar gak bisa ditinggalkan berdua dengan adiknya saja. Aku pun semakin berhati-hati dengan lebih mengawasi anak perempuanku itu.
Aku kerap merasa bersalah bila menyalahkan Balqis. Sebab dia belum tahu apa-apa. Sebagai gantinya, aku kerap melibatkan balqis dalam mengurus adiknya. Misalnya minta tolong untuk mengambilkan celana adiknya, bedaknya, juga mengajaknya memandikan adiknya. Tak kuduga, balqis senang sekali dilibatkan dalam mengasuh adiknya. Perlahan-lahan, dia pun mulai sayang pada adik barunya. Dan aku sendiri berusaha untuk tak berubah drastis dalam memberi perhatian padanya. Hatiku pun menjadi lega, saat balqis tak lagi rewel seperti awal pertama kali dia punya adik. Apalagi saat dia berkata dengan bangga pada teman-temannya, bahwa dia sekarang sudah punya adik yang lucu. Hatiku pun ikut bahagia mendengarnya.

Selasa, 27 Juli 2010

cinta untuk bunda




Bunda…
Kehangatan cinta ini tetap untukmu
Meski sorot matamu kini tak bernyawa
Tak lagi sehangat dekapan dan belaianmu
Yang kini hanya tinggal cerita



Bunda…
Binar cintaku ini tetap milikmu
Meski binar bahagia dimatamu yang keriput redup ditelan usia
Tak lagi memiliki arti seperti dulu
Karena kini kau tergeletak lemah tanpa daya


Bunda…
Kurindu sinar kecemasan itu dimatamu
Saat mendapati diriku bermuram durja
Biarlah kini kecemasan itu menjadi milikku
Yang kian hari dipenuhi rasa putus asa

Bunda…
Tak akan mungkin kulupa
Kedua pelupuk matamu yang menganak sungai oleh air mata
Disaat bermunajat disepertiga malam demi keberhasilan ananda
Tapi kini kedua pelupuk mata tuamu selalu basah oleh air mata derita
Karena maut yang kelam mulai menggerogoti tubuhmu nan renta
Oleh penyakit yang tak mengenal hati dan cinta

Oh Bunda…
Waktu telah menjawab segala
Betapa cintamu selalu mengalir untukku
Bagaikan ricik air cinta yang tak pernah kering dihatimu

Ya Robbi!
Perkenankanlah pintaku
Pinta yang kujalin dengan sepenuh cinta untuk Bunda
Dari tasbih, zikir dan doa
Agar kulihat lagi cinta dimatanya
Cinta yang tulus dan abadi hingga akhir masa

Selasa, 20 Juli 2010

manfaat positif dari jejaring sosial



Tak selamanya jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog dan sejenisnya membawa pengaruh yang negatif. Mungkin hanya sebagian kecil saja yang memiliki pendapat seperti itu. Asal digunakan untuk hal-hal yang berbau positif, maka akan membawa pengaruh dan manfaat yang positif juga bagi penggunanya. Banyak manfaat yang bisa diambil dari jejaring sosial yang kita ikuti diantaranya,
1) Sebagai sarana untuk berbagi. Entah itu berbagi imformasi, atau berbagi pengalaman hidup baik suka maupun duka. Sebagai makhluk sosial, kita tentu ingin berbagi kegembiraan dan kesedihan dengan orang lain. Entah itu dengan teman dekat, sanak saudara, juga orang-orang yang kita kenal. Dijaman internet seperti sekarang, teman tak hanya kita temukan dalam dunia nyata saja, tapi juga dalam dunia maya. Kita tentu masih ingat kasus yang menimpa Prita mulyasari. Begitu banyak dukungan yang ia dapatkan dari para facebooker. Ketika tertimpa kasus sebagai orang yang dituduh mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit internasional di Jakarta.
Disaat kita mengikuti jejaring social seperti facebook, maka otomatis kita mencari teman untuk berbagi pengalaman suka dan duka tadi. Dengan harapan untuk mendapatkan dukungan. Entah itu dengan teman lama yang sudah memiliki akun difacebook, atau yang baru kita kenal. Bahkan mungkin seprofesi dengan kita. Misalnya sama-sama penulis atau sama-sama suka berdagang.
Selain facebook, ada banyak milis yang bisa kita ikuti untuk berbagi. Disamping untuk memperluas jaringan social serta menambah wawasan kita. Ada milis seputar dunia ibu dan anak yang bisa diikuti oleh para ibu dan wanita yang baru menikah, Contohnya milis parenting. Sedangkan untuk wanita bisa mengikuti milis femina group. Dan masih banyak lagi milis yang lainnya. Asal kita terus mau mencari lewat internet dan memutuskan untuk bergabung dengan niat dan tujuan yang baik.
2) Sebagai sarana promosi. Bagi yang suka berdagang, media pemasaran bisa lebih meluas. Tak hanya dilakukan secara offline, tapi kini bisa dilakukan secara online. Salah satunya dengan memajang foto foto produk dan mempromosikan barang dagangan yang akan kita jual lewat facebook, website, ataupun blog pribadi. Dengan harapan, teman-teman yang ada di dunia maya tertarik setelah melihat barang apa saja yang kita tawarkan. Hingga memutuskan untuk membelinya
3) Sebagai sarana untuk menyalurkan hobbi. Bagi yang suka menulis, jejaring social menyediakan banyak info-info lomba menulis sekaligus ajakan menulis dari para penulis yang lebih dulu terjun dalam bidang kepenulisan. Salah satunya lewat facebook. Bahkan tak sedikit milis-milis yang bisa diikuiti oleh penulis pemula. Sebagai tempat untuk belajar dan menimba ilmu dari penulis yang lebih senior. Seperti milis penulis bacaan anak. Milis penulis lepas, juga milis-milis lainnya yang berhubungan dengan dunia kepenulisan. Tentunya kita bebas memilih untuk mengikuti milis apa saja yang sesuai untuk kita dan yang kita sukai.
4) Sebagai sarana untuk berekspresi. Salah satunya dalam bidang menulis. Kita bebas mempromosikan tulisan kita tanpa takut diedit atau ditolak seperti yang dilakukan oleh media cetak. Baik berupa puisi, cerpen, ataupun dalam bentuk essay dan artikel. Entah itu lewat blog ataupun komunitas blog. Adapun komunitas blog yang bisa diikuti oleh penulis baik itu pemula ataupun yang sudah senior. diantaranya komunitas blogfam, blogindosiar, dan masih banyak komunitas blog di bidang dunia tulis menulis yang bisa diikuti. Bahkan kita juga bisa men-tag tulisan kita lewat facebook ataupun situs pertemanan yang lainnya..Dari tulisan yang kita tulis, kita bisa meminta orang-orang untuk memberikan masukan yang bermanfaat bagi kemajuan menulis kita. Baik lewat pujian maupun kritik yang membangun.
Ini hanyalah sebagian dari manfaat jejaring sosial. Masih banyak manfaat lainnya yang bisa kita gali dari jejaring social seperti facebook, website, blog dan yang lainnya. Dengan menyadari banyaknya hal positif serta manfaat yang bisa kita peroleh dari jejaring sosial yang kita ikuti, maka jejaring sosial yang sehat dan aman akan tercipta dengan sendirinya.

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut