novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata
Tampilkan postingan dengan label my cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2011

Kotaku Hilang




Hari ini aku kembali mengantri untuk berobat. Batuk yang disertai sesak nafas kembali menggerogotiku. Dalam bulan ini sudah 4 kali penyakit alergiku kumat. Sejak aku memutuskan untuk pergi dan pulang bekerja mengendarai sepeda motor. Debu dan polusi yang selalu mengepungku selama dalam perjalanan, tak dapat kuhindarkan setiap harinya. Karena debu yang selalu kuhirup, batuk pun datang menyerang tanpa ampun. Karena batuk tak mau berhenti, sesak nafaspun mengikuti. Benar-benar tersiksa rasanya. Mengalami batuk yang disertai sulit bernafas sekaligus. Mau tak mau aku pun menyerah untuk segera mendatangi rumah sakit. Meskipun aku tak suka dengan yang namanya rumah sakit. Sebab dipenuhi oleh aroma obat dan orang-orang dengan berbagai macam penyakit yang mereka bawa.

“Sebaiknya Anda menutupi hidung dengan sapu tangan selama mengendarai sepeda motor. Agar debu dan polusi tak langsung terhirup,”ucap dokter paruh baya sambil menuliskan sebuah resep untukku.

“Baiklah Dok,” jawabku sambil terbatuk-batuk. Menderita sekali rasanya bila batuk terus bersahutan-sahutan. Tenggorokan sakit dan gatal. Belum lagi perut sakit karena ikut tertarik ketika batuk. Benar-benar menyebalkan!

Akhirnya aku pulang setelah selesai menebus obat. Kuputuskan untuk naik taxi saja. Sepeda motorku sengaja kutinggal di kontrakan. Dalam keadaan sakit begini, mengendarai sepeda motor bukanlah pilihan yang tepat. Selain badan lemas, bisa-bisa penyakit alergiku bertambah parah. Aku sudah tak sabar bisa sampai dirumah. Untuk segera minum obat dan beristirahat.



Aku kembali pergi bekerja seperti biasanya. Badanku kini sudah lebih baikkan. Kutempuh perjalanan ke kantor dengan sepeda motor seperti biasanya. Namun aku merasa ada yang tak biasa! Biasanya aku selalu dikepung kemacetan. Tapi kali ini tidak. Benar-benar ajaib! Ternyata setelah kusadari, tak banyak kendaraan yang lewat di jalan yang kulalui. Dan yang lebih mengejutkan, satupun tak ada kendaraan roda empat di jalan ini. Semuanya diisi oleh kendaraan roda dua seperti yang kunaiki.

Aku pun melirik ke kanan dan kekiri. Benar! Hanya kendaraan roda dua yang lewat di jalan ini. Pantes saja perjalanan ke kantor berjalan mulus. Dalam hati, aku menjerit kegirangan. Itu artinya aku tak bete lagi selama di jalan karena terkena macet selama berjam-jam. Dan tentu saja tak akan terlambat lagi sampai di kantor. Ternyata kendaraan roda empat dan roda dua tak disatukan dalam satu jalan, tapi sendiri-sendiri. Jadi roda dua hanya boleh lewat di jalan yang khusus untuk roda dua. Begitu juga dengan kendaraan roda empat. Hanya boleh lewat di jalan yang khusus untuk roda empat. Bahkan ada jalan khusus untuk para pejalan kaki.

Aku benar-benar merasa surprise menghadapi perubahan kota yang menguntungkan bagi pengguna jalan ini. Tak hanya sampai disitu perubahan yang kurasakan. Aku dapati tak secuil pun sampah tercecer di pinggir jalan. Tampaknya orang-orang tak lagi berani buang sampah sembarangan. Memang di sepanjang jalan tertulis besar-besar “Bagi siapa saja yang berani membuang sampah sembarangan, akan dikenai denda.“ Bagus juga ada sanksi seperti ini, pikirku. Jadi kota terlihat benar-benar bersih dari sampah setiap harinya. Bahkan debu dan asap knalpot tak lagi tercium oleh hidungku. Udara segar benar-benar bisa kurasakan melewati paru-paruku. Kota benar-benar murni dari polusi. Bagaikan negara Switzerland yang terkenal akan kebersihan kotanya. Aku begitu bahagia membayangkan akan mengalami hal ini setiap harinya.

Aku tak perlu lagi memakai penutup hidung seperti saran dokter. Penyakit alergi tak akan lagi mengganggu hari-hariku. Aku susuri jalanan sambil menatap gedung-gedung yang tertata indah di sepanjang jalan. Mal-mal tak lagi berdiri seenaknya di tengah kota. Kini Mal-mal itu dibangun di daerah yang sudah disediakan khusus yaitu agak ke pinggiran kota. Tata kota yang benar-benar apik dimataku. Tumbuhan hijau tumbuh di mana-mana. Semakin menambah kesegaran udara dan pandangan mata kala melihatnya.

Aku juga tak menemui pengemis dan pengamen jalanan yang berkeliaran. Biasanya di setiap lampu merah, selalu ada pengamen dan pengemis yang meminta-meminta uang pada pengendara jalan. Betapa nyamannya mengendarai sepeda motor saat pergi ke kantor. Sebab kini kota benar-benar bersih dari gangguan apa pun. Apalagi para pengendara terlihat lebih tertib dari biasanya. Tak lagi ada yang suka menyalip dan menerjang lampu merah seenaknya. Hmmmm…aku menarik nafas lega dalam-dalam.



Tiba–tiba kuputar haluan motorku. Pagi ini, aku tak ingin langsung pergi ke kantor. Aku hendak mengitari kota dulu sepuasnya. Kota baruku yang kini kucintai. Aku ingin melihat seluruh perubahan baru yang ada di setiap sisi kota. Aku ingin menikmati keindahann dan kenyamanannya setiap hari. Sebelum memutuskan untuk berkeliling kota, kuputuskan untuk singgah sebentar ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli makanan dan minuman ringan. Sebagai pengisi perut sebelum melakukan survei kelilingku. Begitu sampai di dalam Mall, aku segera memilih makanan dan minuman yang kubutuhkan. Tapi begitu sampai dikasir aku kalut. Tiba-tiba saja dompetku sudah tak ada di saku celana belakang.

Disaat aku tengah sibuk mencari, tiba-tiba seorang pria menepuk pundakku.

“Ini dompet yang Anda cari?”

“Oh, iya betul. Terima kasih ya. Untung Saudara yang sudah menemukan dompet saya. Kalau orang lain mungkin….”

“Mungkin sudah hilang? Begitu kan maksud Anda? Apa Anda belum tahu bahwa para pencuri dan perampok di kota ini sudah tak ada lagi yang berani beraksi.”

“Oh ya? Bagaimana mungkin? Setahu saya, pencuri dan perampok itu pasti ada di negara manapun. Bahkan di negara kaya sekalipun. Hanya saja jumlahnya tak sebanyak di negara berkembang. Yang notabene masih banyak terdapat pengangguran,” jelasku antusias.

“Tapi negara kita sudah beda. Tak lagi seperti dulu. Pengamanan sudah semakin canggih. Kamu lihat, disetiap sudut ruangan terdapat alat yang bisa merekam setiap aksi kejahatan. Begitu ada yang mencoba mencuri atau berbuat yang tidak baik, mesin canggih itu akan langsung berbunyi.”

“Wahhh, benar-benar canggih,” aku menjawab takjub.

“Iya. Jadi mulai sekarang, Anda tak perlu lagi takut. Kota ini benar-benar aman dari tindakan kriminal.”

“Oh ya, Kalau boleh tahu saudara siapa yah? Kok bisa paham sampe sedetil itu tentang keamanan kota ini,” tanyaku heran.

“Kenalkan! Saya salah satu petugas keamanan kota yang baru. Tugas saya setiap hari memantau keadaan kota ini. Untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.,” lelaki berbadan tinggi dan tegap itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah. Aku pun terperangah setengah tak percaya. Benar-benar sebuah perubahan yang besar telah terjadi di kotaku. Aku pun membalas salam perkenalannya sebelum akhirnya pamit untuk pergi. Kudapati para wanita memakai perhiasan berupa kalung emas dan gelang dengan berani. Tak lagi takut dijambret seperti dulu karena keamanan sudah terjamin. Bahkan ada yang nekat memakai semua perhiasan di tubuhnya bak toko emas berjalan. Ck…ck..ck…benar-benar bebas mereka sekarang. Aku geleng-geleng kepala karena takjub.

Mulailah kususuri kota dengan penuh semangat. Aku akan menyaksikan setiap jengkal dari perubahan kotaku. Disaat melewati got-got, aku terperangah karena air mengalir dengan derasnya. Tak lagi mampet karena terhalang oleh sampah apapun. Bahkan air got yang dulu berwarna hitam pekat, kini berubah warna menjadi bening seperti air pam. Disepanjang jalan yang kulewati, terlihat para cleaning servis sedang asyik menggunakan sebuah mesin yang bisa membersihkan sampah dan menghisap debu dalam sekejap. Tak lagi manual seperti dulu. Benar-benar menghemat tenaga dan waktu! Aku terkagum-kagum melihat mesin canggih di tangan cleaning servis di depanku.

Aku berhenti dan mendekati petugas kebersihan yang tengah bekerja tersebut.

“Pak, sejak kapan membersihkan kota menggunakan mesin seperti ini?” tanyaku penasaran.

“Memangnya Adik bukan orang sini ya? Kok baru tahu?” jawab lelaki tua itu sambil menyelesaikan pekerjaannya.

“Saya memang bukan orang sini kok Pak. Saya pendatang dari gunung kidul Yogya,” jawabku sedikit gugup. Aku bingung menjawab pertanyaan bapak tua ini, bagaimana harus menjawabnya. Padahal aku sudah menetap dikota ini. Meski aslinya hanyalah seorang pendatang. Aku sendiri heran mengapa baru tahu sekarang? Padahal sudah 5 tahun lebih aku mengontrak rumah di kota ini.

“Benar-benar sudah banyak yang berubah yah Pak. Saluran air yang dulu sering mampet aja sekarang jalannya begitu lancar.”

“Makanya Dik, kalau hujan, kota ini tak pernah lagi dilanda banjir seperti dulu. Soalnya sudah ada petugas kota yang kerjanya mensurvei dan mengawasi kebersihan kota setiap harinya. Lagi-lagi aku bingung mendengar penjelasan bapak tua ini. Sebenarnya aku berada di kota mana sih? Kok semuanya terasa baru bagiku. Meski sangat senang dengan perubahan besaran-besaran dari kota ini, tak urung pikiranku dihujani oleh seribu pertanyaan.

Ditengah kebingungan, kuputuskan untuk segera pamit dan berlalu dari hadapan bapak tua tukang bersih kota itu. Segera kulanjutkan perjalananku. Lebih baik aku pulang ke kontrakan. Untuk memastikan apakah benar kontrakanku masih ada di kota ini. Jangan –jangan aku sudah terlempar ke suatu tempat oleh mesin waktu seperti dalam film yang pernah kutonton. Lagi-lagi aku bingung harus lewat jalan yang mana. Sebab tiba-tiba saja jalan yang biasa kulalui sudah banyak berubah. Tapi aku tetap mengendarai sepeda motorku. Meski sulit menemukan rumah kontrakanku yang dulu, tetap kunikmati pencarianku sambil melihat-lihat keindahan sekitar.

Setelah berjam-jam muter-muter kota, tiba-tiba aku sampai di sebuah pemukiman penduduk. Di pintu gerbang pemukiman terdapat pos satpam yang dilengkapi dengan alat deteksi keamanan yang canggih. Pemukiman terlihat begitu asri, karena disetiap halaman rumah, terdapat aneka tanaman hias dan pepohonan yang buahnya bergelantungan di pinggir pagar. Tak satupun rumah yang tak ditanami oleh tumbuhan hijau.

Penduduknya juga ramah tamah. Saat aku melihat-lihat, mereka melempar senyum padaku. Bahkan menawarkan diriku agar mau singgah di rumah mereka meski hanya sebentar. Aku pun tak kuasa menolak. Dan segera bergabung dengan sesama warga kompleks yang terlihat sangat akrab satu sama lain. Tak kutemukan kesan cuek orang kota seperti umumnya. Yaitu “siapa lu siapa gue”…Aku tak merasa terasing berada ditengah-tengah mereka. Meski mereka orang yang baru kukenal. Sampai akhirnya aku pulang dengan rasa berat, mengingat hari sudah beranjak sore.

Kembali kupacu sepeda motorku. Berharap bisa menemukan rumah kontrakanku yang dulu. Rasa lelah dan mengantuk menyerangku. Maklumlah! Hampir seharian kukitari kota tanpa rasa bosan. Tiba-tiba ada sebuah kendaraan melintas di depanku. Karena tak lagi konsentrasi mengendarai, motorku pun jatuh menabrak sebatang pohon. Duk! Saat aku mencoba menghindari sebuah sepeda didepanku. Namuan secara bersamaan, aku terbangun dari tidurku. Kupegangi kepalaku yang terasa sakit sekali, sebab terbentur ujung tempat tidur.

Akh, ternyata hanya sebuah mimpi.. Aku ingat sekarang. Begitu pulang dari rumah sakit, aku segera tidur tanpa mengganti baju lebih dahulu.. Hilang sudah kota idamanku. Kota yang selalu kuidam-idamkan hingga terbawa mimpi…Benar-benar sial!. Umpatku kesal. Aku pun kembali berkhayal. Tentang sebuah kota idaman yang suatu saat menjadi nyata. ***

dimuat di annida-online

Senin, 06 September 2010

cerpen memaafkan


Kata kata yang menghancurkan, meninggalkan bekas luka dihati. Memaafkan orang yang telah menggoreskan luka memang tak mudah. Butuh kesabaran dan keikhlasan hati dalam memberi maaf. Dihari kemenangan ini, mampukah ia melakukannya? Mengingat luka dihatinya cukup dalam pada mantan suaminya.
Gema takbir dan tahmid berkumandang.menyerukan kebesaran dan keagungan Tuhan subhanahu wata’ala. Rasa syukur dan haru membaur menjadi satu. Syukur,karena telah menjalankan ibadah puasa selama satu bulan dengan baik, meski tak penuh karena adanya tamu bulanan. Haru,karena sebentar lagi akan berpisah dengan bulan suci yang penuh rachmat. Semoga Ramadhan kali ini, bukanlah menjadi Ramadhan yang terakhir baginya. Begitu pula harapan umat muslim di seluruh penjuru dunia.
Begitu memasuki aidil fitri, setiap umat muslim dan muslimah terlahir suci kembali. Bagaikan kertas putih yang tanpa noda. Baik seorang bayi yang baru lahir kedunia. Hari-hari mendatang, akankah kertas putih bersih itu ia isi dengan catatan-catatan kebaikan?atau sebaliknya,catatan keburukan yang ia buat baik secara sengaja ataupun tidak.
Mampukah ia mempertankan kebersihan hati dan pikirannya dari amaraah dan dendam? Memang,sebuah perjuangan yang cukup sulit. Sebagai manusia, ia tak bisa lepas dari godaan. Dan godaan hawa nafsu merupakan cobaan terberat dalam hidup manusia. Hawa nafsu amarah, benci, dendam, dan gemerlapnya duniawi. Kedepannya akankah imannya bertambah? atau semakin berkurang adanya.Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu kelemahannya. Sebagai manusia,dia hanya bisa berusaha sambil berdo’a, untuk terus memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik.
Anisa memandang lepas keluar jendela. Menatap bintang yang berpijar-pijar indah dilangit yang tinggi. Kebiasaannya sejak kecil tak pernah hilang. Dulu bila ibu memarahinya karena salah, dia akan mengurung diri dikamar sambil menatap bintang-bintang, untuk mengobati rasa marahnya pada ibu. Sampai akhirnya ia mengantuk dan tertidur. Keesokan harinya rasa sedih dan marahnya tak ada lagi. Tapi sekarang, mengapa begitu sulit?
Sekarang batinnya sedang gundah. Hanya dengan menatap bintang-bintang di langit yang hitam, dia merasa sedikit tenang. Mencoba menenangkan kegundahan hatinya dengan menikmati cahya bintang dimalam hari. Sambil tak lupa berdjikir memuji keindahan semesta ciptaan yang Kuasa.
Kedua anaknya Alit dan Alisa sedang ikut neneknya kemesjid. Dia menikmati kesendiriannya. Dia perlu rehat sejenak setelah tubuhnya penat sehabis berbenah dan memasak aneka makanan untuk hidangan lebaran. Opor ayam, ambal aty, dan sayur lodeh, telah beres ia kerjakan.Sedangkan kue-kue kering, jauh-jauh hari sudah ia pesan pada teman arisannya Shinta, yang memang dikenal pintar membuat aneka cake di kompleks perumahan merka.
Akh…..sebenarnya tak ada tamu yang terlalu istimewa yang akan datang besok. Tapi bagi kedua anaknya, kedatangan ayah mereka dirasa sangat special. Seperti lebaran tahun lalu, ayah dari kedua anaknya itu akan datang lebih awal dari tamu-tamu yang lainnya. Tak sekedar menengok, tapi juga mengajak pergi Alisa dan Alit ketempat-tempat hiburan dan permainan. Setelah lebih dulu menyantap makanan bersama Alit dan Alisa. Dia ikut bahagia melihat binar-binar keceriaan diwajah kedua anak kesayangannya. Hanya itu yang ia rasa, tak lebih.
Meski mantan suaminya meencoba bersikap sangat manis padanya dibanding sewaktu mereka masih menjadi sepasang suami istri,dia tetap tak tergerak. Padahal kata-kata yang diucapkan Bang Togar tak lagi sekasar dulu, saat dia masih menjadi istrinya. Ia tak tahu pasti apakah Bang Togar benar-benar sudah berubah dan menyesali perbuatannya. Dengan berkali-kali memohon untuk ia maafkan. Ataukah sekedar siasat agar hatinya luluh dan mau rujuk kembali padanya?
“Demi anak Annisa. Apakah kau tega menghancurkan masa depan mereka dengan perpisahan kita? Berilah abang kesempatan kedua.”
“Tapi, aku belum bisa menerima Abang sekarang. Abang kan tahu, aku belum siap untuk berumah tangga lagi dengan abang,”jawabku dengan nada dingin.
Bang Togar pun tak berkata-kata lagi mendengar jawabannya. Yah…..sikapnya belum berubah pada mantan suaminya itu pada saat lebaran tahun lalu.Tapi,bagaimana kalau besok Bang Togar kembali membujuknya untuk rujuk? jawaban apa yang akan diberikan? Hal itulah yang membuat hatinya dilanda gundah dan bingung. Disatu sisi dia ingin melihat anaknya bahagia.tapi disisi yang lain, ada segores luka hati yang belum kering. Hanya saja, dia perlu waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan sayatan hatinya yang terluka cukup dalam.
Maafkan hamba ya Allah…..yang sampai detik ini tak jua dapat menerima ayah dari anak-anak hamba. Karena hati ini pernah berdarah-darah dibuatnya. Bang Togar yang awalnya dikenal sebagai seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab, ternyata seorang yang sangat temperamental. Apabila dia melakukan kesalahan sedikit saja, cacian dan makian akan terlontar begitu saja dari mulut suaminya. Apalagi bila menyangkut pengasuhan kedua anaknya. Bang togar sangat mendiktenya sedemikian rupa.
Perbedaan-perbedaan dalam pola asuh diantara mereka semakin tajam. Diapun sudah tak mampu bertahan lagi dalam biduk rumah tangga yang di dalamnya kerap terjadi percekcokan. Hampir tak ada lagi keharmonisan seperti di awal-awal pernikahan. Mungkin pola asuh dalam keluarga berperan besar dalam membentuk karakter suaminya.
Memang,sejak kecil Bang Togar di didik penuh dengan disiplin dan ketat oleh bapaknya. Maklum, bapak Bang Togar adalah seorang militer. Pukulan dan kata-kata kasar adalah makanan sehari-hari bagi mantan suaminya.
Berbeda dengan dirinya . Sedari kecil ia di didik dengan pola demokrasi dan penuh kasih sayang serta kelembutan. Hampir tak pernah dia mendapat perlakuan kasar dari kedua orang tuanya. Apalagi dia merupakan anak perempuan satu–satunya dikeluarga. Posisi tersebut membuatnya sedikit manja dan terkadang berlaku kekanak-kanakan. Dan tanpa sadar terbawa hingga ia memiliki suami. Salah satu yang membuat Bang Togar mengkritik tingkah lakunya.
Bang Togar ingin dia bersikap dewasa dan tegas.Dan dia sudah berusaha memenuhi harapan Bang Togar. Sudah banyak perubahan yang ia lakukan. Tapi Bang Togar tetap tidak mau berubah. Malah semakin membuatnya tertekan dengan mengekang kebebasannya. Membatasi segala aktivitasnya diluar rumah. Jadwal berkunjung kerumah keluarganya juga sangat dibatasi. Tak ada toleransi keluar rumah sekedar mengusir kejenuhan. Bang Togar hanya ingin ia dirumah saja mengurus anak-anak. Tak ayal, dia pun tak lagi merasakan rumah tangganya sebagai surga.
Malam bertambah larut .tapi dia tak jua bisa memejamkan mata, meski badannya terasa lelah. Pikirannya masih dipenuhi oleh pergulatan-pwrgulatan batin yang ta kunjung bisa ia temukan jalan keluarnya.
“Assalamualaikum…” kesendiriannya terusik mendengar suara salam dari Alit dan Alisa. Berbarengan. Rupanya mereka sudah pulang dari mesjid.
“Waalaikum salam...,”jawabnya . segera dia keluar kamar menemui kedua anaknya.
Hari mulai terang-terang laras.sanak keluarga yang sedari tadi ramai memenuhi rumah Mamak mulai pamit satu-persatu. Annisa pun membereskan rumah dan mencuci perabotan yang kotor.
“Alisa dan Alit. Ayo Bantu Ummi membereskan meja makan,” perintahnya lembut. Namun kedua malaikat vkecilnya itu tak jua beranjak dari kursi tamu. Wajah keduanya terlihat begitu tak bahagia. Ada rona kesedihan terpancar dari wajah anak-anaknya.
Annisa sangat mengerti kalau kedua buah hatinya sangat kecewa lebaran kali ini. Diantara semua tamu yang datang, hanya ayah mereka yang belum muncul sampai sesore ini. Meski dia tak terlalu memikirkannya, tapi dia tak bisa cuek untuk tak memikirkan perasaan permata hatinya. Bagaimanapun, tak ada yang namanya bekas ayah bagi seorang anak.
“Ayah kok belum datang juga Mi. Alisa kan pengen jalan-jalan sama ayah.”
“Iya. Alit juga pengen main games sama ayah.”
“Pokoknya kami enggak mau lebaran tanpa ayah!” kedua anaknya berseru kompak dan langsung masuk ke dalam kamar. Melihat itu, Annisa ikut sedih.
Rasanya, dia ingin menelepon Bang Togar. Menanyakan mengapa dia tak datang mengajak anak-anak? Tapi dia urungkan niat tersebut karena gengsi. Bukankah itu sudah kewajiban Bang Togar sebagai seorang ayah? Buat apa dia susah-susah mengingatkan. Tiba-tiba telepon diruang tamu berdering saat dia sedang sibuk di dapur. Tak lama kemudian Mamak menghampirinya, membawa berita yang tak pernah ia harapkan.
“Bang Togar sakit apa katanya Mak?” Annisa bertanya cemas.
“Yang Mamak dengar tadi terkena serangan jantung. Dan sekarang sedang dirawat diruang ICU.”
Tanpa menunggu lagi, dia segera mengajak Mamak, Alit dan Alisa ke rumah sakit malam itu juga. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, tak henti-hentinya dia berdoa. Dalam hatinya ada sejumput penyesalan, karena masih bersikap argan untuk tidak memaafkan mantan suaminya.
Ya Allah! Lenyapkanlah dendam dihati hamba. Agar lebih optimis dan ringan dalam melangkah. Juga bukakanlah pintu hati Bang Togar untuk bisa berubah. Amin…Ia menutup doanya dengan air mata berlinang.

dimuat di majalah alia

Selasa, 15 Juni 2010

ketika merpati patah sayapnya


Ketika Merpati Patah Sayapnya


Nadia merasakan kebahagiaan seutuhnya sebagai seorang wanita. Bukan karena memiliki karir yang sukses, atau memiliki suami kaya raya, yang memanjakannya dengan segudang materi. Juga bukan karena popularitas yang didambakan setiap wanita yang memilki kecantikan fisik seperti dirinya.
Nadia hanyalah seorang wanita biasa yang menikah dengan pria biasa juga. Winarto, seorang suami yang bertanggung jawab serta penegrtian. Itulah yang ia impikan dari seorang suami. Memiliki seorang anak yang cantik dan cerdas. Dirinya puas menjalani peran sebagai ibu rumah tangga saja.Waktunya banyak dihabiskan untuk mengurus anak dan suami. Semuanya ia lakukan sendiri tanpa bantuan pembantu.
Masih hangat dalam ingatannya, bagaimana reaksi ibunya ketika ia utarakan niat untuk menikah. Padahal usianya masih muda, belum 25 tahun. saat Winarto melamarnya.
“Mengapa buru-buru menikah? nikmati dulu kesuksesanmu, dengan mencapai karir yang gemilang Nadia, sebelum kamu memilki anak. Pikirkan masa depanmu!”
“Apakah berumah tangga dan memilki keluarga yang harmonis bukan masa depan, Bu?”
“Ibu tahu. Tapi, apa kau puas hanya menjadi ibu rumah tangga saja?”
“Insya Allah Bu.”
“Kalau itu keputusanmu, Ibu tak dapat memaksa. Semoga kamu dapat menjalaninya tanpa rasa penyesalan di kemudian hari.” Ibu pun berlalu dengan segurat kekecewaan diwajahnya.
Ah, Ibu. Tidakkah kau sadar, karena sibuk berkarirlah anakmu ini dulu sering kesepian. Dan yang lebih fatal lagi, ayah pergi meninggalkan Ibu karena sudah tidak tahan lagi dengan kesibukan ibu, yang seakan-akan tak pernah berhenti. Hingga tak ada waktu buat kami, aku dan ayah. Selain hanya karir dan karir. Walaupun dulu dia kagum dan bangga dengan kesuksesan ibunya, yang melesat dengan cepat. Namun waktu jualah yang menyaksikan betapa menderitanya dia. Diusia yang masih muda, harus menghadapi perceraian kedua orang tuanya. Keluarga broken home!
“Dari dulu Ibu tak pernah mengerti aku, Mas. Selalu membuat jarak denganku demi ambisinya.”
“Bagaimanapun, dia tetaplah Ibumu Nadia. Mungkin kitalah yang harus mengerti bahwa dia berniat baik, meski dia tak bisa memahami kita. Yang penting, kamu maukan menjadi ibu bagi anak-anakku?” Akupun memberikan senyum termanisku. Merasa tersanjung mendengarnya.
Pernikahan tetap berjalan, walau tanpa dukungan sepenuhnya dari Ibu. Ibu terpaksa merestui karena dia tahu, tak akan mengubah keputusa Nadia. Untuk menikah dan segera memilki anak. Impian memilki keluarga yang harmonis.
Tak sampai satu tahun, Nadia hamil. Betapa bahagia dirinya. Berbagai rencana pun bermunculan dalam menyambut mutiara hatinya. Mempersiapkan nama yang indah. Berbagia keperluan bayi, serta mempersiapkan mental dengan banyak membaca buku merawat dan membesarkan anak.
Membayangkan buah hatinya menatapnya manja disaat menyusui nanti. Dengan tatapannya yang masih lugu. Mendengarkan tawa anaknya yang jernih. Sejernih pikiran kanak-kanaknya. Nadia senyum-senyum sendiri membayangkan hari bahagia itu akan tiba.
“Kamu mengambil cuti Nadia? Berapa lama? Selamat ya, belum lama menikah sebentar lagi akan memilki momongan. Pasti dia cakep seperti Ibunya.”
“Bagaimanapun wajahnya, dia pastilah bayi tercantik bagiku. Oh, ya. Aku bukan hanya mengambil cuti, tapi berniat untuk fokus dulu pada anakku.”
Kamu tidak akan berhenti bekerja kan, Nadia? Sayang, karirmu lagi menanjak.” Dewi mentatapnya tak percaya.
Nadia tersenyum. Dewi tahu, Nadia adalah mahasiwi psikologi dari universitas ternama. Yang setiap tahunnya selalu mendapatkan beasiswa. Dan lulus dengan nilai cumlaude. Sebentar lagi akan naik jabatan sebagai kepala personalia. Bagaimana mungkin hanya puas sebagai ibu rumah tangga saja. Tak bisa dipercaya!
“Mengapa tidak? Aku rela melepas karirku demi menjadi ibu rumah tangga dan totalitas mengurus keluarga.”
“Sederhana sekali!” teman-teman kantornya memberi komentar setengah tak percaya.
“Apakah status rumah tangga itu hina? Serendah itukah panadangan kalian? Banyak anak-anak yang sukses ditangan seorang ibu rumah tangga biasa.”
“Tentu saja kami tidak apriori seperti itu,” tiba-tiba Melinda menyela.
“Iya Nadia. Kami hanya mempertanyakan dirimu yang kami tahu sangat berpotensi untuk menjadi wanita yang sukses di kantor ini,” temannya yang lain ikut bicara.
“Kalau begitu, terima kasih atas perhatian dan sanjungan kalian. Aku tetap tak terpengaruh,”jawab Nadia dengan senyum mengembang. Akhirnya teman-teman kantornya pun bungkam. Demi mendengar jawaban tulus dari Nadia.
Setelah dia keluar dari pekerjaanya, Nadia tetap menjalani perannya dengan senang hati. Walau dia harus berkutat dengan urusan rumah tangga, sementara teman temannya menapaki karier di perusahaan – perusahaan ternama.
Bagi Nadia, keluarga adalah segala – galanya. Dia takut hubungan emosional dengan anaknya akan jauh. Seperti yang pernah ia alami dulu dengan ibunya. Dia tidak siap harus bersaing dengan seorang pembantu, bila di bekerja. Ia ingin totalitas mengasuh dan membesarkan anaknya. Ia ingin menjadi orang yang pertama kali tahu perkembangan anaknya dari hari-ke hari, bukan orang lain, atau pembantu. Bukankah suatu keinginan yang sederhana? Keinginan setiap ibu rumah tangga.
Hidup adalah pilihan. Dan Nadia sudah memilih hidupnya. untuk menjadi seorang ibu rumah tangga biasa. Menjadi wanita karier, bukanlah impiannya kini. Waktu terus bergulir. Nadia disibukkan dengan anak pertamanya. Kini Putri telah berusia 6 tahun. Pagi – pagi dia sudah memasak dan menyiapkan sarapan buat putri dan Mas Win. Setelah itu, dia sendiri yang mengantar dan menjemput anaknya sekolah. Begitu seterusnya. Ia jalani rutinitas rumah tangga dengan senyum mengembang.
“Mama, tadi putri dipuji sama ibu guru. Putri mendapat nilai paling bagus dalam mengerjakan pe-er. Itu karena Mama selalu membantu putri mengerjakan pe-er. Makasih ya Ma,” Putri berkata sambil matanya bersinar-sinar. Tiba-tiba putri mendaratkan ciuman di pipinya.
Nadia terharu merasakan kehangatan itu mengalir ke seluruh pembuluh nadinya, hingga membuatnya merasa bahagia.
“Iya sayang?” jawabnya penuh cinta.
Ah putri… memang inilah yang Mama inginkan. Kau mendapatkan limpahan kasih sayang dan bimbinganku. Aku tak ingin masa laluku berulang padamu. Nadia memeluk putri dengan erat. Matanya berkaca-kaca.
“Mama kenapa? Tidak senang dengan ucapan putri?”
“Tidak sayang, Mama hanya bahagia mendengar ucapanmu.” Putri kembali memeluknya manja.
Andai putri tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan. Semasa kecil, dia memiliki mainan apa saja yang tak mungkin dimiliki oleh anak – anak seusianya. Secara materi, ibunya siap melimpahkan itu padanya. Tapi kasih sayang? Dulu dia ingin sekali ibu ada waktu untuk mendengarkan cerita – ceritanya. Mengantarkannya sekolah, seperti teman-temannya yang lain. Dia sangat rindu untuk bermanja-manja. Tapi hingga dewasa, keinginan itu sulit terwujud. Itu karena ibu terlalu asyik dengan kariernya di rumah. Walau sisi positifnya Ia menjadi lebih mandiri. Namun disisi lain, ia pernah terjerumus ke hal-hal Yang negatif, seperti teman-temannya. Melampiaskan kekecewaan mereka dengan menenggak obat-obatan terlarang, bahan sempat hamil di luar nikah. Tidak! Dia tak ingin semua itu menimpa putri. Cukup sudah pengalaman dirinya, dan orang-orang di luar sana. Yang berujung pada kehancuran masa depan dengan prilaku negatif, karena kurang perhatian dang bimbingan
Mama dan teman temannya sudah jarang berkomentar. Mereka melihat keahagiaan itu menghampirinya dari hari kehari. Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Sampai musibah yang tak pernah diduga-duganya menghampiri. Mas Win mengalami kecelakaan. Motornya remuk dihantam oleh sebuah truk, yang datang secara mendadak. Mas Win terpental jauh. Kepalanya membentur aspal yang keras dan tajam. Hingga tak sadarkan diri sewaktu dibawa kerumah sakit. Nadia menanti di luar ruangan dengan harap-harap cemas. Menunggu kabar baik, bahkan buruk sekalipun tentang suaminya.
Tiba–tiba pintu terkuak. Seorang dokter paruh baya keluar dengan wajah yang serius. Membuat detak jantungnya semakin tak mau berhenti. Yah…ia gelisah! Begitu cemas!
“Ada kerusakan di sumsum tulang belakangnya, yang mempengaruhi urat sarafnya. Kemungkinan suami Ibu harus berada di kursi roda.” Oh Tuhan! Akan cacatkah suaminya?
“Sampai berapa lama dokter?”
“Harapan itu masih ada. Suami ibu harus menjalani terapi, agar dapat berjalan lagi. Tentunya membutuhkan waktu yang lama.” Sanggupkah ia kini? Ya Rabbi! berilah hambamu ini kekuatan, doanya tak henti henti.
Nadia berada di atas bus yang akan mengantarnya pulang. Hari hampir menjelang malam. Nadia memutuskan untuk bekerja. Walau ia merasa berat, dan sering mengalami quilty mom syndrome. Rasa bersalah, karena sering meninggalkan anaknya dan suaminya yang lagi sakit. Keuangan mereka sudah terdesak. Satu persatu barang berharga sudah terjual, termasuk kendaraan roda dua yang mereka miliki. Itulah sebabnya ia pulang pergi naik bus.
Seorang wanita berambut pendek, tanpa riasan mengenakan baju kaos dan celana panjang, menggelantung di pintu belakang bus. Sungguh menarik perhatiannya. Tak banyak wanita yang berani menjadi kondektur. Mungkin dia terdesak. Menghilangkan rasa gengsinya, demi sesuap nasi bagi keluarganya. Dan tetap survive dengan hidupnya. Sementara dia? Haruskah lembek dalam menjalani hidupnya yang sekarang? Tiba tiba dia merasa bersyukur masih bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan layak. Di sebuah kantor ber ac, walau dia harus memulai lagi kariernya dari awal.
Memang tak mudah menjalani hidup seperti ini. Disamping bekerja, dia harus mengurus putri dan suaminya, yang kini tidak normal keadaan fisiknya. Apalagi suaminya kini lebih sensitive dibanding dulu, sewaktu masih sehat. Nadia bisa merasakan kalau kepercayaan diri Mas Win terganggu akibat lumpuh yang dideritanya, yang lebih membutuhkan perhatian dan dorongan. Namun dia tak bisa memenuhinya karena kesibukannya. Dirinya kini tak ubahnya merpati yang kehilangan sayapnya. Namun dia harus kuat agar bisa tetap terbang mengarungi hidup yang penuh cobaan ini. Nadia berusaha menjalaninya dengan ketulusan hati. Serta mencoba berpikir positif untuk menerima semua ini.
Nadia sudah sampai dirumah lebih cepat dari biasanya. Dia agak terkejut mendapati ibunya tengah asyik bermain dan bercanda bersama putrinya. Wajah Ibu begitu bahagia. Belum pernah ia melihat wajah Ibu sebahagia ini. Nadia tak ingin mendekat, takut mengganggu mereka. Namun Ibu keburu melihatnya, dan menghampirinya.
“Nadia ,” ia mendengar Ibu memanggilnya dengan hati-hati.
“Sebenarnya Ibu kemari untuk menwarkan bantuan uang. Kamu pasti membutuhkannya.”
“Nadia belum merasa perlu Bu. Nadia kan sudah bekerja. Ibu simpan saja uangnya.”
“Kamu serius? Ibu tahu, kamu membutuhkan banyak biaya untuk berobat suamimu. Ambillah!” Ibu tetap menyodorkan sebuah amplop padanya. Nadia tetap menolak. Ada perasaan malu dihatinya. Mungkinkah Ibu ingin membuktikan padanya bahwa dulu dia melepas karirnya yang tengah menanjak, bukanlah pilihan yang tepat. Kalau ternyata kini dia menghadapi masalah seberat ini.
Takdir hidup siapa yang tahu. Sedikit pun tak ada rasa penyesalan dihatinya. Dia merasakan kebahagiaan di hari hari yang lalu. Dan berusaha untuk tetap bahagia dihari ini.
“Mengapa kau menolak Ibu? Apakah salah Ibu membantumu keluar dari kesulitanmu yang sekarang?” tiba-tiba wajah Ibunya berubah mendung. Tak urung, ia terkejut melihat reaksi Ibunya.
“Ibu hanya ingin kau mau memaafkan kesalahan Ibu, Nadia. Karena pernah membesarkanmu tidak dengan sepenuh hati.”
“Nadia sudah memafkan Ibu. Nadia yakin, Ibu tak bermaksud untuk bercerai dari ayah, hingga membuatku merasa sangat sedih waktu itu. Sudahlah Bu, buat apa diungkit-ungkit lagi,” Nadia berusaha untuk tegar di depan Ibunya. Biarlah semua ini menjadi pelajaran berharga dalam hidupnya. Tiba-tiba timbul rasa penyesalan karena terus menerus menyalahkan Ibu. Walaupun hanya ia pendam di dalam hati. Apa jadinya bila Ibu tahu isi hatinya yang sangat sakit mendapati kedua orangtuanya berpisah disaat ia masih kecil. Hingga dia sempat menyimpan dendam yang cukup lama pada Ibunya itu.
“Dulu nenekmu juga pernah mengalami masalah seperti ini Kakekmu meninggal karena kanker. Dan nenek tidak punya biaya untuk terus mengobati kakek sampai sembuh. Ibu sangat sedih kehilangan kakekmu.”
Nadia mendengarkan cerita Ibunya dengan rasa tak percaya.
“Itulah sebabnya Ibu begitu berambisi untuk dapat hidup mandiri dan layak secara materi. Ibu tak ingin bila suatu saat kehilangan suami, tapi tak emmilki apa-apa seperti nenekmu. Karena rasa takut itulah Ibu lupa telah menelantarkanmu. Maafkan Ibu,” Ibu berkata dengan suara melemah. Lelah dengan hidup yang ia jalani selama ini. Nadia merasa sangat terharu.
“Ibu tak ingin kau menanggung sendiri bebanmu. Kamu bisa mengandalkan Ibu, Nadia,” Ibu berkata sambil berurai air mata.
Ternyata jauh dilubuk hatinya, Ibu tetaplah seorang Ibu yang mencintai anaknya. Bagaimanapun masalalunya, dia merasa wajib untuk berbakti dan memaafkan setiap kesalahannya.
“Baiklah Bu, aku akan menerimanya asalkan Ibu berjanji padaku.”
“Apa itu Nak? Ibu akan memenuhinya walau berat sekalipun,”jawab Ibu kembali bersemangat.
“Tidak berat kok Bu. Nadia hanya ingin Ibu sering kemari mengunjungi kami.”
Ibu tersenyum. Wajah mendungnya hilang. Berganti dengan wajah bahagia. Bahagia yang tak terlukiskan.
Medio oktober 2006
salam cinta untuk ketiga malaikat kecilku balqis, baim dan zakirah

dimuat di majalah paras

Senin, 05 April 2010

membeli laki-laki



Perasaanku campur aduk menjadi satu. Antara marah, juga malu. Meski Mande sangat senang karena Apaknya (adik lelaki Abak)berhasil mencarikan calon untukku. Marah, kenapa sih nasibku harus berakhir seperti ini? Malu, disaat usiaku sudah melewati kepala tiga, belum juga ada lelaki yang bersedia menikah denganku.

“Sudahlah, Pik. Apak kira, Mandemu bermaksud baik. Dia hanya khawatir anak padusinya hidup melajang terus.”

“Tapi Apak, tidak dengan cara seperti ini! Memangnya, Upik tidak bisa mencari sendiri sampai harus dijodoh-jodohkan? Sekarang kan, bukan lagi jaman Siti Nurbaya!”

“Kamu belum melihat calonnya Pik! Selain lulusan sarjana, dia juga seorang yang baik dan taat beragama. Meski sifatnya agak pendiam. Tapi Apak yakin, kamu bisa mengimbanginya setelah menjadi istrinya kelak.”

“Upik tetap akan mencari sendiri lelaki pilihan Upik, tanpa perlu dijodohkan seperti ini. Upik gengsi Apak!”

“Kamu tak perlu gengsi Pik. Ini baru tahap perkenalan saja. Bila hati Upik tak jua tertawan padanya saat dipertemukan nanti, yah tidak akan dipaksa.”






Aku hanya diam terpaku mendengar jawaban diplomatis dari Apak. Walaupun hatiku berontak karena merasa Apak terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadiku. Bukankah hati tak bisa dipaksakan? Tapi mengingat Apak sudah bersusah payah mencarikan lelaki yang pantas untuk menjadi pendamping hidupku, aku akhirnya menurut juga.

Aku sadar, bila aku tak segera menikah, Mande akan berkecil hati. Mengingat sudah lama Mande ingin menimang cucu dari anak semata wayangnya ini. Apalagi selama ini, Mande harus berjuang seorang diri dalam membesarkanku, hingga aku berhasil menjadi guru di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta.

“Tugas Mande sebagai seorang ibu rasanya belum sempurna sebelum melihat kamu menikah Nak,” begitu selalu ucap Mande padaku.

Bukannya Aku tak pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Sebagai anak yang berbakti, dulu aku tak ingin menentang Abak.

“Abak hanya ingin melihat anak padusi Abak satu-satunya menikah dengan Urang Awak juo.”

“Kenapa harus dengan Urang Awak Bak? Lelaki yang bukan satu suku sama kita juga banyak yang berkualitas. Baik dari segi kepribadiannya, juga ibadahnya,” Aku mencoba mendebat Abak.

“Masalahnya tidak sesederhana itu Pik. Kalau kamu nanti menikah dengan lelaki yang bukan urang awak, maka kebanggaanmu sebagai anak padusi disuku kita akan musnah. Kamu kan tahu, orang padang pariaman menganut aliran matrilineal yang kuat.”

“Maksud Abak apa?”


“Dalam suku kita, anak padusilah yang dominan kedudukannya. Tak hanya menerima warisan lebih banyak dari anak laki-laki, juga…”

“Punya kuasa membeli laki-laki. Iya kan Bak?”

“Bukan membeli, hanya membayar uang lamaran karena pihak padusilah yang melamar.”jawab Abak tersenyum bijak.

Sungguh! Aku tak bisa lupa kata-kata Abak itu. Meski dihati kecilku, aku tak suka kalau dalam melamar pria pilihan hati, harus disesuaikan harga pinangannya dengan tingginya pendidikan dan jabatannya. Seperti sebuah barang saja, yang bisa ditawar-tawar. Tapi tradisi membeli laki-laki (membayar uang lamaran dari pihak wanita) masih berlaku sampai sekarang di suku Pariaman.

Suatu hari, ada urang awak yang senang padaku. Dan akupun tertarik padanya, karena pribadinya yang ramah dan supel. Tapi nasib baik tak berpihak padaku. Lelaki yang kukira serius menjalin hubungan denganku itu, ternyata tak bersedia untuk diajak berumah tangga, dengan alasan belum siap.

Aku pikir, dia hanya ingin bersenang-senang saja denganku. Setelah hampir dua tahun kami bersama, tak jua ada kepastian darinya untuk mengikat hubungan kami dalam sebuah lembaga yang bernama pernikahan. Akhirnya, kutinggalkan lelaki yang tak memiliki komitmen itu.

Tak lama kemudian, akupun berkenalan dengan seorang lelaki yang benar-benar memenuhi kriteria dimataku, juga dimata Abak. Selain pintar, tampan, dan tekun beribadah, dia masih keturunan urang awak juga. Kepribadiannya juga baik dan menarik. Dan yang terpenting, dia serius untuk menjadikanku sebagai istrinya.



Namun, siapa yang bisa melawan takdir! Satu bulan sebelum pernikahan, lelaki yang kuharapkan bisa menjadi imamku itu, dipanggil Tuhan dengan cara yang sangat mengenaskan. Mati tertabrak mobil saat pulang dari kampung halamannya. Ketika ingin meminta restu dari kedua orang tuanya.

Abak pun menghibur hatiku dengan mengatakan mungkin dia bukanlah jodohku.Hingga Aku bisa kembali menjalani hari-hariku dengan hati yang lapang. Setelah sebelumnya tak bisa menerima kenyataan, akibat rasa terpukul yang amat dalam. Tapi sekarang, Abak tak lagi bisa menghibur hatiku yang sangat kesepian, karena masih sendirian diusiaku yang sudah sangat matang untuk menikah.

Pagi ini aku harus bersiap-siap untuk mengikuti Mande ke rumah calon suamiku. Tak ada salahnya aku mengikuti ajakan Mande, demi menyenangkan hatinya. Soal aku bersedia atau tidak, itu perkara nanti. Yang penting, aku bisa melihat lagi rona bahagia diwajah Mande. Setelah sekian lama tak aku dapati keceriaan diwajah keriputnya.

Dalam hati, aku merasa sangat bersalah bila kali ini tak bisa memenuhi harapannya. Sebagaimana aku juga menantikannya. Masalahnya, aku tak mudah untuk berbagi cinta dengan seorang pria. Siapa sih yang tak ingin hidup berbahagia sampai kakek-nenek dengan orang yang ia sayangi?

“Upik! Udah belum dandannya? Nanti kita kesiangan sampai dirumah Bagindo Sulaiman,”ucap Mande dari luar kamar.

“Sebentar Mande. Upik lagi membenarin kerudung,”jawabku sambil menarik nafas yang dalam.

Tampaknya, Mande sudah tak sabar ingin segera bertemu calon mantunya. Semoga Allah mengabulkan doa-doa Mande agar aku segera mendapatkan pendamping. Walaupun dengan cara seperti ini. Terus terang, aku sendiri tak lagi mempermasalahkan kesendirianku. Bagiku, jodoh sudah ada yang mengatur. Mau nikah di usia kepala empat
sekalipun, tak menjadi soal bagiku. Namun, Mandelah yang menjadi beban pikiranku. Aku tak ingin lagi mengecewakan hatinya yang lembut dan penuh kasih itu.

Dengan tergesa-gesa aku keluar dari kamar, saat Apak ikut memanggilku. Dia juga tengah menungguku diluar. Rencananya, kami akan pergi naik mobil kijang miliknya. Begitu sudah berada didalam mobil, Mande tak pernah berhenti menatapku dengan wajah sumringah..

“Begitu mengenal Zainal, kamu pasti jatuh hati Pik,” ucap Mande sambil melirikku. “Dia anak yang sopan dan hormat sama orang tua.”

Aku hanya diam membisu. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. Mungkin aku kelewat nervous. Jantungku masih berdegup kencang meski aku telah berusaha sekuat tenaga menetralisir perasaan gugupku. Ketika mobil Apak sudah memasuki halaman rumah Uda Zainal, jantungku semakin bertambah kuat degupnya.

Ya Tuhan…hilangkanlah kepanikan didalam diriku. Panik, kalau-kalau perjodohan ini tak berjalan seperti yang aku dan Mande harapkan.

“Pik…kamu tak perlu cemas. Semuanya akan berjalan dengan baik,” Apak berkata setelah kami turun dari mobil. Seolah mengerti apa yang tengah kurasakan.

“Iya Apak. Upik tahu apa yang terbaik buat hidup Upik.” Akupun kembali tersenyum sambil menggamit tangan Mande untuk segera mendekati rumah bercat biru laut didepanku. Begitu sampai di depan pintu, Mande mengucapkan salam. Tak lama kemudian, keluarlah seorang wanita yang kutaksir umurnya tak jauh beda dengan Mande.

“Ini si Upiak?” Amboi, Rancak bana Wa-ang! Anak Ambo pastilah tertarik.”

Aku hanya tersipu-sipu malu mendengarnya. Dengan ramah, wanita tua dihadapanku mempersilahkan kami masuk. Dengan sedikit enggan, aku mengikuti Mande duduk di kursi ruang tamu. Tanganku rasanya dingin semua. Bagaikan seorang terdakwa yang duduk di kursi persidangan. Menunggu nasib hidupku selanjutnya, yang sebentar lagi akan diputuskan.

Lalu, menit-menit berikutnya kami menunggu seorang pria yang sebentar lagi akan keluar menemui aku, Mande dan Apak diruangan ini. Sedangkan wanita ramah tadi masuk kedalam. Mungkin segera memanggil anak lelakinya. Tak lama kemudian,

“Iko Zainal anak Ambo yang paling tuo.” Laki-laki didepanku tersenyum manis kearahku, sebelum akhirnya duduk berhadapan denganku. Tak kuduga, wajahnya sangat tampan! Mirip bintang film KCB 2, dengan janggut tipis didagunya. Dalam hati, aku bersorak penuh kegirangan. Apak memang jempolan dalam mencarikan calon untukku. Selera Apak benar-benar tinggi! Tapi, apa dia juga suka denganku. Akh…kita lihat saja nanti, ucap suara didalam batinku.

“Memangnya, Uda belum pernah punya kekasih sebelumnya? hingga diusia 35 tahun belum menikah,” tanyaku saat kami sedang ngobrol berdua saja. Sementara Mande dan yang lainnya pergi keruangan lain. Mungkin sengaja, agar kami bisa saling mengenal lebih dekat lagi.

“Yah, begitulah! Bukannnya tidak ada yang mau hanya saja, Uda kelewat sibuk bekerja, hingga tak punya waktu buat pedekate dengan seorang gadis,” jawabnya serius.

“Upik sendiri bagaimana?” tanyanya lagi dengan hati-hati.

“Terus terang, Upik pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan seorang pria. Tapi semuanya tak pernah sampai ke pelaminan.” Aku pun menceritakan pengalaman pahitku padanya. “Mungkin belum berjodoh Da,” aku mengakhiri ceritaku dengan perasaan sendu.

“Mudah-mudahan kita berjodoh ya, Pik,” ucap Uda Zainal spontan. Aku yang mendengarnya tak urung menjadi malu. Wajahku pun bersemu merah, karena berbunga-bunga. Amin…doaku didalam hati. Tak terasa, hampir dua jam Aku dan Uda berbincang-bincang. Kami pun segera pamit pulang.

Ternyata, Uda Zainal asyik diajak bicara, meski orangnya serius dan agak pendiam. Dan aku berusaha untuk terus memancing pembicaraan, agar suasana tidak bertambah kaku. Dan hari-hari berikutnya kami saling ngobrol lewat telepon genggam. Sebab Uda Zainal orang yang sangat sibuk. Hatinya pun semakin tertawan dengan Uda Zainal. Begitu juga sebaliknya. Uda Zainal mengaku serius berhubungan dengannya.

Hingga disuatu hari yang cerah, aku mendekati Mande. “Jadi, kapan kita membeli Uda Zainal Mande,” tanyaku tak sabar.

“Apa maksud Upik?”

“Memang, Mande belum menanyakan berapa harga pinangan yang harus kita bayar untuk melamar Uda Zainal?” tanyaku sekali lagi dengan penasaran.

“Itulah masalahnya Pik! Mereka tidak mau menerima uang lamaran yang Mande ajukan,” jawab Mande dengan serius.

“Masak hanya gara-gara tak cocok harga mereka menolak kita Mande! Upik tak mau patah hati lagi, karena urung menikah untuk yang ketiga kalinya,” tanpa dikomando, akupun menangis sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Herannya lagi, Mande bukannya menghiburku, malah tertawa tergelak-gelak.

“Pik, Pik… Mande kan belum selesai bicara, kok kamu langsung tersurut begitu. Zainal itu memang orang padang, tapi bukan padang pariaman. Jadi, merekalah yang melamar kamu, bukan kita. Dan besok, akan datang iring-iringan pelamar dari keluarga si Zainal. Kamu siap-siap aja.”

Duh! Betapa malunya aku. Karena begitu inginnya menjadi istri Uda Zainal, sampai-sampai menyuruh Mande agar segera membelinya. Bagaikan benda yang sangat berharga. Dan benda berharga itu adalah cinta Uda Zainal padaku.

Catatan :
Mande : Ibu
Abak : Ayah
Padusi : anak perempuan
Uda : abang
Urang awak : suku kita
Rancak bana wa-ang : cantik sekali kamu
Ambo : Aku
Iko : ini
Paling Tuo : anak pertama/sulung

dimuat di annida-online

Rabu, 10 Maret 2010

bukan pernikahan cinderella



Akhirnya,

Putri Cinderella menikah dengan Sang Pangeran. Mereka pun hidup berbahagia

untuk selama-lamanya. Ever after… Dia terus bermimpi akan mengalami pernikahan

bak cerita Cinderella. Tapi pertukaran

nasib yang ia alami, membuatnya tak ingin lagi bermimpi.



Pagi menggeliat. Matahari mulai merangkak

perlahan-lahan. Denyut kehidupan pun dimulai. Seperti biasanya, Mas Adrian

masih tertidur pulas. Seakan-akan larut dalam mimpi yang tak berkesudahan. Dia

tak ingin membangunkannya. Akh…kapan suaminya sadar bahwa memilih-milih

pekerjaan, tak akan bisa menyelamatkan hidup mereka, yang semakin hari semakin

terdesak oleh himpitan ekonomi? Padahal perut setiap hari minta diisi. Dia

mendesah pilu.



Dia harus bergegas

untuk pergi ke rumah gedung diujung jalan. Bekerja sebagai pembantu rumah

tangga. Sebelum pergi, dia harus mempersiapkan sarapan dan makan siang dulu

buat suaminya, mengingat dia baru pulang disore hari.



Siapa mengira,

dulunya dia membayar gaji beberapa orang pembantu. Sekarang, dialah yang harus

dibayar. Pertukaran nasib telah menggeser kedudukannya.



Dia

mempercepat langkahnya, takut diomelin lagi oleh majikannya bila datang

kesiangan seperti kemarin.



“Tumben

sepagi ini kamu sudah datang,” seorang wanita pesolek berkata sinis padanya.

Dia hanya bisa tertunduk malu mendengarnya. Haruskah dia memberitahu Nyonya

besar ini? Bahwa dia harus membereskan rumah kontrakannya dulu, juga

mempersiapkan makan suaminya sebelum kesini. Tak ingin mendapat sindiran lebih

tajam lagi, segera dia masuk untuk melakukan tugas rumah seperti biasanya.



Tugasnya

dimulai dari mencuci baju secara manual, karena mesin cucinya rusak sebulan

yang lalu. Tepat awal mula dia bekerja disini. Mengapa majikannya tak mengganti

mesin cucinya yang rusak dengan yang baru? Padahal Nyonya tersebut mampu

membelinya. Meski hatinya penuh tanda tanya, tetap dia mencuci, meski tangannya

perih karena tidak terbiasa terkena detergen. Seperih hidup yang kini ia

jalani.



Dia

harus secepatnya menyelesaikan cucian, sebab masih banyak tugas lain yang

menunggunya. Setelah ini dia harus berbenah. Menyapu, melap setiap perabotan

juga jendela yang kotor, dan mengepel rumah besar berlantai dua ini sendirian.

Lagi-lagi hatinya memberontak. Mengapa rumah sebesar ini hanya mempekerjakan

seorang pembantu? Belum lagi taman yang lumayan luas yang harus ia sapu dan ia

urus.



Setelah

semuanya beres, dia harus menyetrika setumpuk pakaian. Setelah itu, memasak

makan siang untuk kedua anak majikannya. Sore hari dia berbenah lagi. Sebelum

pulang, dia kembali memasak untuk makan malam. Dia pun pulang ke kontrakan

dengan tubuh yang penat tak tertahankan.



Biduk rumah tangga yang ia jalani bersama Mas

Adrian, tak semanis dan tak seindah dulu lagi. Pada awal mereka menikah, Mas

Adrian adalah seorang pangeran baginya. Mapan, berkedudukan, romantis, tampan,

dan masih keturunan darah biru. Menempati rumah megah berlantaikan marmer

mengkilat. Dengan anak tangga yang meliuk-liuk indah hingga ke lantai dua,

kamar tidur mereka.



Perabotan-perabotan

merek bergengsi tertata secara elegan. Springbed empuk berharga puluhan juta,

mengisi kamar tidur mereka. Empat orang pelayan siap melayani mereka setiap

saat. Mulai dari tukang cuci, tukang masak, tukang kebun dan supir pribadi.

Hidup yang ia jalani persis dalam cerita dongeng. Tapi, buat apa mengingat

kemewahan yang sudah tak bisa dimiliki lagi? tanya suara hatinya.



Semenjak

perusahaan keluarga yang dipercayakan pada suaminya jatuh bangkrut, semua

kesenangan itu ikut amblas bersama mimpi-mimpi yang pernah mereka jalani. Kini,

mereka harus bangun menghadapi dunia realita. Lalu, bagaimana dengan Mas Adrian

sendiri? kapankah dia bangun menghadapi hidupnya? Apalagi keluarga besar Mas

Adrian sudah membuang suaminya, karena dianggap telah gagal dalam keluarga.



Sekarang,

mereka menempati kamar kontrakan yang sempit dengan perputaran udara yang tak

sehat, karena harus berhimpitan dengan rumah-rumah petak yang rapat. Udara

panas yang terasa, tak lagi bisa didinginkan dengan AC. Steak, bistik, serta

berbagai menu lezat lainnya, tak mampu lagi terhidangkan. Berganti dengan tempe dan tahu. Bahkan

disaat kepepet, hanya makan nasi berlaukkan garam.



Berlibur

keluar negeri, hanya tinggal kenangan manis yang tak bisa terlupakan.

Fasilitas-fasilitas yang memanjakan, terbang begitu saja. Tak ada lagi mobil

sedan yang bisa mengantarkan mereka ketempat-tempat yang ia dan suaminya

inginkan. Handphone kamera super canggih--televisi 29 inci berflat

datar--lemari pendingin super eksklusif, juga barang elektronik mahal lainnya

sudah tergadaikan. Termasuk istana mewah mereka. Demi melunasi hutang pada bank

dan para investor, juga dengan debt collector, yang selalu menteror dengan

kata-kata yang mengancam, dengan kepala mendidih dipenuhi kemarahan.



Pakaian

yang mereka pakai bisa dihitung dengan jari. Tak lagi tersimpan dilemari kayu

jati berukiran indah. Selain jumlahnya yang tak sebanyak dulu lagi, lemarinya

sendiri sudah tak terbeli semenjak dilelang dengan harga miring. Satu-satunya

harta yang tersisa adalah, kalung

berlian bertuliskan inisial namanya, Nindi Hapsari. Hadiah ulang tahun

pernikahan yang pertama dari suaminya. Akibat mempertahankan kalung inilah, ia

tak gengsi bekerja apa saja, termasuk menjadi pembantu rumah tangga. Agar tak

terjual demi menyelamatkan rasa lapar yang tak pernah mengenal gengsi.



“Sudahlah

Dik, jual saja kalung itu! Mas butuh butuh uang untuk mencari kerja.”



“Tapi

Mas, ini satu-satunya kenangan darimu. Adik tak ingin barang berharga ini ikut

tergadai. Biar sementara ini Adik bekerja saja, agar bisa memenuhi kebutuhan

hidup kita.”



“Ya

sudah kalau begitu, terserah Adik saja.”



Hati

ini rasanya tak siap mendengar jawaban Mas Adrian. Sebenarnya, dia ingin Mas

Adrian mengkhawatirkannya seperti dulu.



“Jangan

Dik, nanti tangan lembutmu menjadi kasar kalau mencuci baju. Biar tukang cuci

saja yang mengerjakannya.” Yah… dulu dirinya diperlakukan bagai seorang putri

oleh suaminya. Segala sesuatunya selalu dilayani. Tapi sekarang? dia bekerja beratpun, Mas

Adrian seperti menutup mata. Bagaimanapun, dia harus tetap survive dengan

hidupnya. Tidak boleh cengeng dan harus kuat, meski belum terbiasa bekerja

berat.



Dia

ingat, bagaimana susah dan malunya mencari pinjaman uang kesana-kemari.

Sedangkan Mas Adrian sendiri lebih betah menunggu panggilan kerja dikantor,

daripada bekerja yang lain. Tapi, dimanakah penghormatan suaminya padanya kini?

Yang tak terusik kala dia harus mempertaruhkan harga diri, untuk berhutang demi

hidup sehari-hari, juga demi memenuhi kebutuhan hidup suaminya. Mulai dari uang

rokok, uang transport, juga uang untuk ngerental ke warnet. Memang, Mas Adrian

lebih betah di warnet seharian daripada bekerja apa saja untuk menutupi biaya

hidupnya yang tak sedikit.



“Mas

harus sering-sering ke warnet Dik. Selain mencari imformasi kerja, Mas harus

mengirimkan surat

lamaran lewat e-mail. Mas yakin, diantara sekian puluh lamaran, pasti ada satu

dua yang keterima.”



dia

hanya mampu diam seribu bahasa, setiap kali mendengar alasaan Mas Adrian.

Padahal, sudah 6 bulan lebih tak jua ada

panggilan. Semoga suaminya bisa diterima bekerja dikantor sesuai keinginannya.



Dia juga tak

ingin selamanya menjadi pembantu rumah tangga. Sebab bila Maminya tahu

pekerjaannya yang sekarang, bisa–bisa Mami menangis dan segera memaksanya

pulang. Padahal apapun yang terjadi, dia tak akan sanggup meninggalkan Mas

Adrian sendiri. Dia akan tetap mendampingi Mas Adrian, dalam keadaan susah

maupun senang. Seperti mimpinya mengenai pernikahan. Tetap hidup langgeng

selamanya. Ever after…





Pagi ini

terlihat lebih bersemangat dari pagi-pagi sebelumnya. Mas Adrian diterima bekerja di salah satu kantor

ternama!



“Dik,

baju Mas kurang licin. Ayo setrika lagi!”



“Iya

Mas,” jawabku dengan senyum cerah.



“Dik,

air hangat untuk Mas mandi sudah dimasak belum?”



“Sudah

ada dikamar mandi Mas,” jawabku lagi masih dalam suasana hati senang.



“Oh,

ya Dik. Kamu sudah pinjam uang untuk transport Mas kan?”



Lagi-lagi

dia mengangguk. Mas Adrian

tersenyum puas mendapati semuanya beres. Untung majikannya mau meminjamkan uang

lagi. Meski setiap bulan gajinya harus dipotong. Tapi tak mengapa. Bukankah

mulai bulan depan, Mas Adrian sudah menerima gaji pertamanya? Batinnya riang.



Setelah

suaminya pamit, dia pun segera melesat ke rumah majikannya di ujung jalan.

Semoga bulan ini terakhir kali dia bekerja sebagai babu. Kalau boleh memilih,

dia ingin bekerja sesuai dengan kemampuannya. Bagaimanapun, ijazah D3 nya masih

bisa diandalkan. Berhubung terdesak sajalah, dia mau melakoni kerja berat

seperti ini. Syukur-syukur Mas Adrian bisa langgeng sampai akhirnya naik

jabatan. Sehingga dia dan suaminya bisa bangkit dari keterpurukan hidup, mseki

tak semewah dulu lagi. Kedepannya, dia sangat ingin memiliki buah hati. Agar

lengkaplah kebahagian hidup mereka.



Dua minggu sudah suaminya bekerja. Sore ini, dia

ingin secepatnya sampai dikontrakan. Tapi, mengapa wajah suaminya tak terlihat

bahagia?



“Mas tak betah

kerja diperintah-perintah seenaknya.”



Alasan itu

keluar dari mulut suaminya, saat dia bertanya mengapa tak mau melanjutkan

kontrak kerjanya? Dia pun kembali

menangis di dalam hati. Sebab nasib baik, belum mau bertukar dengannya. Mas Adrian memutuskan keluar

dari pekerjaannya. Padahal belum satu bulan dia bekerja. Yang lebih menyedihkan lagi, gaji Mas Adrian tak dibayar,

karena suaminya sendiri yang memutuskan untuk keluar.



Pagi ini, dia sudah bersiap-siap untuk pergi.

Dia buka kalung berlian pemberian Mas Adrian. Dengan hati-hati, ditaruhnya

diatas secarik kertas, disebelah Mas Adrian

yang sedang tertiur pulas.



Maafkan Adik Mas. Rasanya, tak ada gunanya

lagi Adik mempertahankan kalung ini. Sepeninggal diriku, Mas bisa menggadaikannya

untuk biaya hidup. Semoga Mas bisa

melihat realita hidup yang sebenarnya. Diapun segera berlalu, tanpa sanggup

menoleh lagi.

dimuat di majalah alia

Selasa, 23 Februari 2010

gila cemburu



Tidak ada yang istimewa dari wanita yang akan kujadikan pendamping hidupku ini. Wajahnya rata-rata, kulitnya coklat tua, dengan rambut sebahu yang tidak terlalu hitam. Badannya juga tak seputih dan setinggi mantan-mantan kekasihku. Tapi entah mengapa aku jatuh hati padanya, meski baru beberapa hari mengenalnya.

Sekali lagi, aku tidak main-main untuk menjadikannya sebagai istriku! Meski teman-temanku tak berhenti menyindirku dengan mengatakan, aku kena peletlah! Aku patah hatilah! Dan segala macam sindirin yang membuatku semakin tak ingin mundur dari niatku semula, untuk menikahi Lilis, gadis gunung yang sederhana.

Aku tahu, keputusanku ini terlalu terburu-buru. Mungkin karena Lilis begitu perhatian padaku, juga dengan anggota keluargaku.

Maklumlah! Sebagai anak sulung yang begitu dibanggakan dan diharapkan sebagai tulang punggung keluarga, aku harus tetap menunjukkan perhatian dan tanggung jawabku sebagai anak yang baik. Otomatis orang yang akan mendampingi hidupku kelak, haruslah wanita yang bisa menerima anggota keluargaku, terutama ibu. Dan Lilis melakukan itu semua diawal perkenalan kami. Setiap kubawa kerumah, dia tak pernah bertangan kosong. Ada saja oleh-oleh yang ia beli buat Ibu dan adik-adikku. Sikapnya juga begitu ramah pada Ibu, serta mampu mendekatkan diri dengan ketiga orang adikku

Adapun alasan yang lain karena aku bersimpati padanya. Selama ini dia hidup sebatang kara. Kakek yang merawatnya sedari kecil sudah meninggal dunia karena sakit. Sedangkan neneknya sudah wafat terlebih dulu. Lilis sendiri sedari kecil sudah tak memiliki ibu. Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. Sedangkan bapaknya, pergi begitu saja tanpa kabar berita. Mungkin menikah lagi aku tak tahu pasti. Yang aku tahu dari cerita Lilis, ayahnya menitipkan dirinya pada kakeknya sebelum pergi merantau ke Jakarta. Itulah alasan yang membuatku menerimanya.

Setelah menikah, baru kusadari bahwa Lilis begitu pencemburu. Mulanya Lilis cemburu pada semua wanita yang pernah dekat padaku. Aku maklumi, karena itu artinya dia begitu mencintaiku. Tapi disaat dia cemburu pada teman-teman priaku, aku merasa dia tak hanya sekedar cemburu. Sikapnya sudah mengarah pada prilaku possesif!. Mulanya aku tertekan, karena merasa Lilis sudah kelewatan.

Setelah merenung, aku pun mencoba mau mengerti. Mengingat kami masih pengantin baru. Mungkin Lilis tak ingin waktuku lebih banyak kuhabiskan tanpa dirinya disampingku. Lagi-lagi aku turuti maunya, untuk lebih memilih tinggal dirumah bersamanya.

Barangkali masalalunya yang pahit membuatnya takut kehilangan orang yang ia cintai, batinku. Akupun berusaha menghibur hatiku. Sejak menikah, aku tak lagi ngumpul-ngumpul dengan teman-teman gengku. Sepulang bekerja, aku langsung mendekam dirumah. Meski dihari libur sekalipun. Aku juga harus bisa menerima, saat teman-temanku mengatakan bahwa aku telah berubah seratus delapan puluh derajat! Tak lagi gaul seperti dulu.

Suatu hari Lilis mengetahui bahwa aku telah memberi uang belanja pada Ibu.

“Lilis ingin Aa’ memberi uang pada Ibu dan adik-adik lewat tangan Lilis,” ucapnya tegas.

“Apa maksud Lilis?” tanyaku menyelidik.

“Lilis merasa tersinggung kalau Aa’ memberikan uang pada Ibu dan adik-adik tanpa sepengetahuan Lis. Lilis kan kakak ipar mereka?” Begitu katanya saat aku bertanya alasannya.

Benar juga, pikirku. Seharusnya, aku tak menaruh prasangka negatif padanya. Untuk seterusnya, kupercayakan uang belanja dan biaya sekolah adik-adikku padanya.

Belakangan ini aku sering pulang lebih larut karena lembur. Badanku rasanya sakit semua. Seperti biasanya, Ibu akan memijatku penuh kasih sayang. Setelah badanku enakan, aku segera menemui Lilis di kamar. Sambutan Lilis tak seperti biasanya, yaitu penuh kelembutan. Dia juga tak menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Yang ada wajahnya kusut dan tak berkata sepatah katapun padaku. Tak salah lagi, Lilis ngambek!

Aku yang tak betah melihat sikapnya seperti itu, segera mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Tapi Lilis tetap bungkam, membuatku semakin tak enak hati. Karena tak tahan lagi, akupun mengancam akan tidur diluar. Akhirnya Lilis membuka suara, meskipun sambil menangis.

“Lilis memang istri yang tak bisa menyenangkan hati Aa’. Dimata Aa’, Lilis hanyalah istri yang tak berguna!”

“Mengapa Lilis berpikiran seperti itu?” tanyaku heran.

“Mengapa tak meminta Lilis saja yang memijat badan Aa’? Memangnya, pijatan Lis tidak enak?” ucapnya sambil menangis.

“Bukan Aa’ tak percaya sama Lilis. Aa sudah terbiasa dipijat Ibu sedari kecil. Ya sudah! Besok-besok Lilis saja yang memijat Aa,” jawabku merasa bersalah. Lilis pun kembali tersenyum mendengarnya.

Walau harus kuakui, tak ada yang bisa mengalahkan enaknya pijatan Ibu. Tapi aku berusaha untuk menahan diri--untuk tidak memberitahu Lilis yang sebenarnya-- kalau pijatan tangannya, tak senikmat dan sehangat pijatan tangan ibu.

Kisah kecemburuan Lilis tak berhenti sampai disitu. Selalu ada hal-hal kecil yang membangkitkan rasa cemburunya. Misalnya saat aku membelikan adik perempuanku sate ayam di hari libur. Lilis akan cemberut melihatnya. Padahal hal itu sudah aku lakukan sebelum menikah dengannya. Tak pelak, dia pun melontarkan sindiran-sindiran tajam. Atau tatkala aku membelikan hadiah buat adik lelakiku, saat dia meraih rangking pertama disekolahnya. Lilis terang-terangan menunjukkan sikap tak sukanya.

Dilain waktu ketika aku membelikan Ibu sepasang busana muslimah, Lilis terlihat sewot dan mengatakan, “Aa’ tidak adil! Mengapa Lilis tak dibeliin juga?” Akhirnya, aku pun membelikan busana muslimah yang sama buatnya.

Lilis kembali mencemburui sikapku yang begitu perhatian pada Ibu dan ketiga adikku. Padahal dari awal dia sudah tahu posisiku sebagai anak tertua, yang harus tetap menyayangi dan menafkahi keluarga, meskipun sudah menikah.

Mungkinkah sikap manis Lilis dulu pada keluargaku hanyalah basa-basi semata? Demi menarik simpati keluarga besar kami agar dirinya diterima? Akh… tak pantas kau berprasangka buruk pada istrimu. Hanya akan mengotori hatimu saja. Bisik hati nuraniku. Aku pun kembali membuang pikiran jelekku pada Lilis.

Situasi seperti ini tidak bisa dibiarkan, pikirku. Aku harus mengambil sebuah keputusan yang terbaik. Baik buat Lilis, juga buat Ibu dan adik-adikku. Dengan terpaksa, aku melakukan hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan--agar adik-adik dan Ibu tak lagi menjadi korban kecemburuan Lilis. Mungkin hidup berjauhan, akan menjauhkan konflik yang semakin sering terjadi diantara mereka.

“Ibu keberatan kalau kamu keluar dari rumah ini. Selain Ibu tak ingin berjauhan denganmu, siapa yang akan menjaga adik-adikmu? Ibu tak sanggup menanggung beban hidup sendiri semenjak ditinggal Bapakmu,” Ibu berkata sambil tersedu.

“Siapa bilang aku akan menelantarkan Ibu dan adik-adik begitu saja? Aku akan sering kemari Bu, meski kita tak lagi tinggal seatap.”

Ibu akhirnya setuju, walau aku tetap melihat keberatan itu dimatanya. Aku merasa keputusanku ini sudah tepat. Setelah beberapa hari mempertimbangkannya.

Semula dengan mengontrak rumah sendiri aku bisa bernafas lega, tak lagi capek meladeni sifat pencemburu Lilis, istriku. Kenyataannya, sifat pencemburu Lilis tidak hilang juga. Kali ini kecemburuan Lilis pada Ibu dan adik-adikku beralih sementara pada tetangga sebelah rumah kontrakan kami.

“Aa’ lihat enggak? Ros tetangga sebelah rumah kita baru saja membeli televisi yang layarnya datar. Bagus deh A’. Dia bilang, harganya tidak terlalu mahal kok,” ucap Lilis sambil melendot-lendot padaku. Aku sudah bisa menebak isi hati Lilis. Pasti dia ingin aku membelikannya juga. Meski aku sudah pura-pura tidak perduli dengan permintaannya, Lilis tak putus asa untuk terus mendesakku.

“Jadi, kapan Aa’ mau beliin Lis?” pintanya sambil merajuk.

“Iya secepatnya,” jawabku lembut. Aku pun kembali tak berdaya, untuk tidak memenuhi keinginannya. Terpaksa uang tabungan aku ambil sedikit demi sedikit untuk memenuhi rasa cemburunya.

Dilain waktu, Lilis kembali minta dibeliin handphone. “Lis ingin punya handphone yang ada kameranya A’, seperti punya si Ros.”

“Buat apa Lis? Bukankah handphone yang lama sudah cukup?” jawabku sambil menggerutu.

“Kalau Aa’ tidak mau beliin Lis, ya sudah!” ucapnya sambil merengut dan langsung mengunci diri di kamar. Seperti biasanya, Lilis pun menjalankan aksinya-- mogok bicara denganku selama beberapa hari. Terang saja aku tidak tahan didiamkan oleh istri sendiri. Kembali kuturuti kemauannya. Akhirnya, aku kembali menuruti semua kemauan Lilis yang dilandasi rasa cemburu yang membabi buta itu.

Kecemburuan Lilis untuk memiliki barang-barang seperti milik tetangga terus berlanjut. Aku dibuat lelah lahir dan batin dibuatnya. Mungkin benar kata Ibu, kalau badanku semakin hari semakin kurus seperti orang yang banyak pikiran. Sebetulnya, aku ingin berterus terang pada Ibu bahwa aku sering makan hati dengan tingkah laku Lilis. Tapi, aku berusaha berdalih karena kelelahan bekerja. Sebab aku tak ingin menambah beban pikiran Ibu.

Sementara uang yang aku gunakan untuk membeli semua barang permintaan Lilis adalah uang yang aku tabung untuk membetulkan rumah Ibu yang sudah rusak disana-sini. Aku berniat mengganti genteng yang bocor dengan asbes. Belum lagi bila hujan datang, Ibu dan adik-adikku harus tidur diruang tamu karena kamarnya basah.

Tak hanya mengganti genteng yang lama dengan yang baru. Kamar mandi juga sudah tak layak lagi untuk dipakai. Karena sudah tumbuh lumut disana sini. Aku berniat melapisi dindingnya dengan keramik. Dapur Ibu juga sudah jelek. Aku berniat akan membuatkan tungku yang baru untuk Ibu memasak.

Untuk menebus rasa bersalahku pada Ibu, akupun lebih giat lagi mencari uang, dengan mencari kerja sampingan. Setelah satu tahun uang pun terkumpul. Akupun mencatat berapa pengeluaran untuk merenovasi rumah Ibu. Setelah kurasa cukup, akupun segera memberitahu Ibu berita yang sangat ia nantikan ini. Ibu menitikkan air mata bahagia, saat tahu impiannya akan segera terwujud. Untuk memiliki rumah yang lebih layak bagi dirinya dan anak-anaknya.

Disaat Ibu tengah diliputi perasaan bahagia, tak begitu halnya dengan Lilis. Dia sedikitpun tak menunjukkan rasa senang, saat kuceritakan tentang niatku untuk mempercantik rumah Ibu.

“Harusnya Aa’ tahu, sebentar lagi kita akan memiliki seorang anak. Kebutuhan bayi kan banyak sekali!” ucapnya ketus.

“Tapi Aa’ sudah lama punya janji pada Ibu. Gak enak kalau harus menunda lagi. Aa’ rasa, gaji bulanan Aa’ masih cukup untuk membeli keperluan kamu dan anak kita, disaat melahirkan nanti,” jawabku agak jengkel. Tega-teganya Lilis mempermasalahkan yang sudah menjadi hak Ibu.

Aku tahu, pasti Lilis marah sekali padaku, karena aku tak mau mengikuti keinginannya kali ini. Tapi aku tak perduli lagi. Bagiku, ini sudah kewajiban seorang anak lelaki pada Ibunya. Apapun komentar Lilis, aku tak akan menggubrisnya.

Namun yang terjadi sungguh tak kuduga sebelumnya. Mulanya Lilis menangis seharian. Aku berusaha tak perduli! Karena aku tahu Lilis pintar bermain sandiwara. Besok-besoknya, dia berubah menjadi pendiam. Aku tak berminat menanyakannya, karena aku sudah jenuh dengan segala taktik yang dia mainkan selama ini. Namun saat dia sering berbicara sendiri, aku tidak bisa tinggal diam. Bagaimanapun, dia tetap istriku. Apapun bentuk kesalahannya. Apalagi dia tengah mengandung anakku. Aku pun kembali bersikap lembut padanya. Dan mencoba mengorek isi hatinya, mengapa akhir-akhir ini dia bertingkah seperti orang yang kurang waras. Tapi Lilis malah menjerit histeris. Tanpa menunggu lagi, akupun membawanya berobat ke psikiater.

“Tampaknya istri anda mengalami depresi yang cukup berat.”

“Akhir-akhir ini istri saya sering diliputi rasa cemburu. Mungkin rasa cemburu butanyalah yang telah membuatnya jadi begini, Dok!”

“Maksud Anda apa? Mungkin bisa Anda ceritakan secara lebih mendetail lagi.”

“Kecemburuan istri saya yang sangat besar, telah membutakan mata hatinya, hingga tak bisa melihat kebahagiaan orang lain. Termasuk kebahagiaan Ibu mertuanya sendiri Dok.” Dokter pun akhirnya bisa mengerti, setelah aku bercerita panjang lebar padanya, tentang perasaan cemburu Lilis yang sudah melampaui batas ini.

Sore ini setelah pulang dari rumah sakit, dengan langkah berat aku mengunjungi rumah Ibu untuk memberitahukan sebuah berita yang tidak ingin aku sampaikan. Sebab aku tahu pasti, berita ini akan sangat mengecewakan bagi Ibu dan adik-adikku.

“Karena bolak-balik membawa Lilis berobat ke psikiater, akhirnya uang untuk membangun rumah Ibu terpaksa aku gunakan dulu. Maafkan Asep Bu, karena belum bisa memenuhi harapan Ibu. Tapi Asep berjanji akan tetap memenuhi harapan Ibu suatu hari nanti,”

Dengan berat hati, kusampaikan pada Ibu masalah yang sebenarnya. Ibu mau mengerti meski aku tahu, betapa hancurnya hati Ibu.



dimuat di majalah alia

Selasa, 09 Februari 2010

rumah mande (terpilih menjadi cerpen terbaik bulan nopember annida-online)


Berat hati ini meninggalkan Mande seorang diri di kampung. Kegembiraan yang didapat karena baru saja diterima di Universitas Indonesia, seakan meluap bersama kegelisahan dan kegundahan. Meski Mande begitu senang dia bisa diterima di salah satu Universitas ternama di ibukota. Bagaimana mungkin dia bisa tenang meninggalkan Mande yang sudah tua dan sering sakit-sakitan?

“Sudahlah Mande. Kita jual saja rumah ini. Uang hasil penjualan kita pakai untuk membeli rumah di daerah Depok. Nanti siapa yang akan memperhatikan dan merawat Mande? Uda War dan Uni Upik pasti sangat setuju dengan saranku.”

“Rusli, Rusli. Mentang–mentang Mande sudah tua, bukan berarti Mande tidak bisa mengurus diri sendiri. Mande sudah terbiasa hidup mandiri.”

“Tapi Rusli mencemaskan Mande. Begitu juga Uda War dan Uni Upik”

“Sekarang yang penting, persiapkan semua keperluanmu untuk dibawa besok. Jangan sampai ada yang ketinggalan.”

“Rusli memilih kuliah di Padang saja ya Mande, agar bisa sering pulang untuk menjenguk Mande.”

“Kamu itu anak lelaki Rusli. Masak tidak bangga pergi merantau. Kita harus bangga bahwa anak negeri kita tersebar dimana-mana. Tapi kamu malah memilih tetap di Padang. Apa kamu tidak malu sama pemuda-pemuda Pariaman yang sukses dinegeri orang?”

Aku tak bisa berkutik mendengar jawaban cerdas dari Mande. Mande memang wanita yang keras kepala, selain tangguh dan mandiri. Meski terbersit rasa iba dihati melihat kondisi kesehatan Mande yang kian hari semakin menurun. Tapi sebagai anak yang berbakti, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tak ingin menentang Mande. Itu sama saja aku mengecewakan hati Mande yang tengah berbangga hati mendapati anak bungsunya berhasil diterima di sekolah negeri bergengsi. Mengalahkan banyak pesaing lainnya untuk bisa lolos masuk kesana.

Aku mengerti bahwa Mande bukan tak ingin tinggal bersamaku di Jakarta. Hanya saja, dia begitu berat bila harus disuruh menjual rumahnya. Rumah yang bagi Mande penuh kenangan manis bersama Abak. Rumah yang telah menjadi saksi selama bertahun-tahun akan asam manisnya hidup Mande bersama Abak. Dan Mande selalu mengulang-ngulang dengan bangga cerita tentang perjuangan Abak, merintis rumah makan padang dari bawah hingga mencapai puncak kejayaannya.

Abak benar-benar seorang pekerja keras, sama seperti Mandenya. Awalnya menjadi pelayan restoran padang. Lalu diangkat menjadi kasir. Setelah bertahun-tahun, oleh pemilik restoran Abak dipercaya untuk membuka cabang di lokasi yang lain. Hingga Abak bisa melakukan penjualan yang fantastis. Restoran tak pernah sepi setiap harinya dari pembeli. Itu semua berkat kepintaran Mande dalam meracik bumbu masakan. Juga berkat keramahan dan kerja keras Abak dalam mencari pelanggan. Cabang restoran itu pun akhirnya dipegang sepenuhnya oleh Abak. Namun disaat usaha rumah makan Abak sedang berada di puncak, musibah pun datang. Restoran Abak terbakar habis. Sejak itu, Abak sering sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal dunia.

Sepeninggal Abak, Mande berjuang sekuat tenaga untuk membesarkan keliga anaknya seorang diri. Meski sudah tak memiliki apa-apa, Mande tak ingin menjual rumah. Dia hanya menggadaikan sedikit perhiasan yang masih ia punya untuk modal membuka warung nasi kapau, meski hanya kecil-kecilan. Hingga warung tersebut bertambah maju dan besar. Mande akhirnya bisa menyekolahkan kami hingga menjadi sarjana.

Kini Mande semakin tua dan sakit-sakitan. Seperti rumah yang Mande tempati, semakin tua dan banyak kerusakan disana-sini. Tapi Mande tetap tak mau rumahnya direhab menjadi lebih bagus dan layak, apalagi sampai dijual. Padahal bangunan nya sudah tua, hingga semakin lapuk dan dindingnya semakin kusam warnanya. Bahkan Mande pun tak ingin mengganti lantainya yang sudah retak dan pecah-pecah dengan keramik yang baru.

“Mande tidak mau mengubah apapun dari banguanan rumah ini. Biarlah semuanya seperti dulu saja. Sebab Mande tak ingin sedikitpun kenangan dirumah ini ikut hilang bersama dengan perubahan disana-sini,” jawab Mande saat Uni Upik berniat ingin merenovasi rumahnya.

“Tapi Mande, lama-lama rumah ini bisa hancur bila tak diperbaiki, karena sudah tua hingga tak sekokoh dulu lagi. Mande tidak inginkan rumah ini perlahan-lahan habis tergerus dimakan usia? jawab Uda War ikut bicara.

“Mande rasa rumah peninggalan Abak kalian masih cukup kuat. Buktinya, sudah 40 tahun lebih masih bisa kita tempati.”

Kami pun tak bisa menentang Mande yang tetap pada pendiriannya. Apalagi untuk menjual rumahnya. Alasannya Mande tak ingin meninggalkan Abak dan kenangannya disini. Kalau bisa, dia ingin mati dirumah ini. Padahal niat kami hanya ingin mengurus Mande. Tidak seperti sekarang, Mande di Pariaman sendirian. Tepatnya di kampung dalam. Sementara anak-anaknya semua di kota metropolitan.

Hari ini kuliah selesai sampai sore. Tapi selama perkuliahan berlangsung pikiranku gelisah. Materi yang diajarkan begitu sulit masuk ke otakku. Memang belakangan ini aku sering bermimpi tentang Abak. Yang membuatku jadi teringat pada Mande di kampung dalam Pariaman. Abak datang dan hanya tersenyum padaku. Tanpa berucap sepatah katapun. Tak berapa lama kemudian Abak menjemput Mande. Dan Mande mengikuti Abak pergi. Aku berteriak-teriak memanggil, tapi kedua orangtuaku seolah tak mendengar teriakanku. Dan pergi berlalu begitu saja dibalik awan. Pertanda apakah ini? Tak sabar rasanya menunggu kuliah bubar, agar segera bisa menelepon Mande.

“Sebelum Bapak mengakhiri kuliah hari ini, ada yang mau bertanya?” Kulihat tak ada satupun yang mengangkat tangan. Aku lega. Berarti sebentar lagi kuliah usai.

“Baiklah! kuliah hari ini Bapak cukupkan sampai disini.” Anak-anak pun segera menyambut senang. Sama sepertiku, segera bersiap-siap untuk keluar dari kelas dengan tergesa. Mungkin karena hari sudah beranjak sore. Akupun berlomba dengan anak yang lain untuk segera sampai di pintu gerbang kampus.

Begitu sampai di kamar kost segera kubuka tasku, dan mengambil ponsel Nokia berwarna biru. Tut..tut..tut. tak nyambung. Kupencet sekali lagi, tetap terdengar bunyi yang sama. Aku makin kacau. Mengapa saluran ke Padang tiba-tiba sinyalnya terputus? Aku pun meletakkkan hpku dan segera mengambil segelas air mineral, dan meneguknya sampai dahagaku hilang. Aku kembali ke sisi tempat tidurku, lalu meraih remote untuk menyalakan televisi. Aku pun sibuk memencet channel secara berganti-ganti. Sambil bermalas-malasan sejenak di atas springbedku.

Kuputuskan untuk menonton acara berita sore. Sambil menonton berita, kucoba kembali untuk menelepon Mande. Siapa tahu bisa kembali tersambung. Tiba-tiba kudengar reporter televisi menyiarkan berita tentang gempa. Yang membuatku kalut setengah mati, gempa dahsyat berkekuatan 7,6 SR itu mengguncang Padang Pariaman! Dan… kampung tempat kelahiranku yang terparah, sampai-sampai banyak rumah yang sudah rata dengan tanah

Ya Rabbi! Pikiranku langsung tertuju pada Mande. Bagaimana ini? Ingin aku segera pulang sekarang untuk memastikan keadaan Mande secara langsung. Aku tak mampu berpikir lagi. Bingung harus melakukan apa. Telepon tetap belum bisa tersambung. Ditengah kecemasanku, segera kuputuskan untuk menelepon Uni Upik

“Sudahlah Rusli, gak usah terlalu cemas begitu. Kita doakan saja tak terjadi apa-apa pada Mande.Uni akan menghubungi Udamu dulu. nanti akan Uni kabari lagi.”

“Baiklah Ni, kabari Rusli bila ada perkembangan,” jawabku panik.

Seharian aku gelisah di kostku. Menunggu kabar selanjutnya dari Uni. Tapi belum ada berita apapun yang melegakanku. Selepas maghrib akhirnya Uda War datang ke kostnya bersama Uni Upik. Membicarakan apa rencana kami selanjutnya. Uni Upik Dan Uda War menyuruhku pulang lebih dulu. Dimana setelah urusan mereka kelar, barulah Uni dan Udanya menyusul ke kampung dalam segera.

Menjelang malam hari mataku sulit terpejam. Bahkan disaat jarum jam sudah menunjuk pukul tiga tengah malam. Aku bangun dan segera meminum segelas air mineral untuk menenangkan pikiranku. Besok aku akan bolos kuliah untuk bertolak ke Pariaman. Bagaimana mungkin aku hanya menunggu saja disini tanpa ada kepastian tentang keadaan Mande. Bagaimana kalau rumah Mande turut hancur ditimpa longsor akibat gempa yang mengguncang dengan sangat kencang? Kira-kira dimana Mande waktu terjadi gempa? Apakah sempat lari keluar rumah menyelamatkan diri? Atau sebaliknya? Tidak! Aku tak kuat membayangkan seandainya Mande terkurung reruntuhan rumah dan…aku semakin takut membayangkannya.

Aku terbayang wajah Mande saat melepaskanku di Bandara. Belum pernah Mande memelukku berulang-ulang kali dengan erat. Seakan–akan begitu berat melepas diriku. Adakah itu pertanda pertemuan terakhir kami? Tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk pada nasib Mande. Bagaimanapun, takdir di tangan Allah. Aku tidak pantas mendahului takdir. Untuk menenangkan hatiku, aku terus berdoa tak henti-hentinya, sambil memejamkan kedua mataku.

“Baik-baik kamu dirantau ya Nak, dan jangan pernah meninggalkan solat lima waktu,” pesan Mande sambil berurai air mata.

“Pasti Mande,” jawabku membalas pelukan Mande.

Mengingat itu, Rusli pun sesengggukan diatas tempat tidurnya. Dan semakin tak sabar menunggu datangnya pagi. Akhirnya, pagi yang ditunggu segera tiba. Rusli segera mandi dan setelah itu memasukkan baju ke tas ransel secukupnya. Dia memutuskan untuk naik bis saja, sebab pesawat belum ada yang terbang ke Padang karena berbagai alasan. Begitu sampai di terminal Rawamangun, dia segera menaiki bis jurusan Padang pariaman. Dan membayar tiketnya di dalam bis. Bis tak langsung berangkat, karena masih menunggu penumpang. Dia semakin tak tenang dan sedikit kesal. Tapi dia harus bisa bersabar. Yang penting lusa dia sudah sampai di kampungnya.

Begitu sampai di kampungnya, dia temukan sudah banyak orang-orang yang tinggal dipengungsian akibat rumahnya hancur, meski ada sebagian rumahnya cuma retak-retak saja. Hatinya begitu miris melihat banyaknya warga yang terluka parah. Ada yang kepalanya robek. Ada yang kakinya terpaksa diamputasi karena patah tertimpa reruntuhan selama dua hari. Sebagian lagi meraung-rauang karena sanak keluarganya masih tertimbun reruntuhan bangunan. Dia harus bergerak cepat, agar segera tahu bagaimana kondisi Mande dan rumahnya. Ya Tuhan!!! rumah Mande hancur 100%, pekiknya. Dimana Mande? Dia panik sekali, sebab tak seorang pun warga yang mengaku melihat keberadaan Mande.

Dia sudah hampir putus asa, karena tak berhasil menemukan Mande. Dia juga sudah mendatangi posko-posko terdekat, siapa tahu mereka pernah merawat Mande kalau memang Mande terluka. Tapi tak ada juga. Bagaimana ini? Rusli tak mampu berpikir lagi. Tiba-tiba dia teringat pada suatu tempat dimana Mande dulu sering kesana Yah…. siapa tahu Mande kesana, batinnya sedikit tenang. Begitu sampai di lokasi yang ia tuju, dia melihat seorang wanita seusia Mande sedang menangis di depan sebuah makam. Tak salah lagi, itu Mande!

“Habis Rusli…Habiss sudah semuanya! Mande sudah tidak punya tempat tinggal lagi di kampung Mande sendiri,”tangis Mande pun pecah dibahunya

“Sudahlah Mande, tak usah menyesali yang sudah tidak ada. Yang penting Mande masih ada bersama kita,” hiburku sambil memeluk Mande penuh rasa lega dan haru. Medio October 2009



dimuat di annida-online

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut