novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata
Tampilkan postingan dengan label ungkapan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ungkapan hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Januari 2011

Tampil cantik tak harus wah!



Siapa bilang kalo dandan seadanya (minimalis) gak bisa bikin kita terlihat lebih cantik? Namanya juga dandanan minimalis. Jadi berdandan seadanya saja. Mungkin begitu pikir sebagian wanita. Mau dandan minimalis atau wah, Yang penting bagaimana cara kita menyiasati dandanan itu sendiri, agar terlihat sesuai dengan warna kulit, bentuk bibir, mata dan wajah kita.
Untuk dandanan minimalis sendiri kita mulai dari wajah. Gunakanlah pelembab wajah terlebih dahulu. Sebaiknya pilih pelembab wajah yang mengandung sinar ultra violet agar wajah terlindung dari sinar matahari. Setelah itu baru deh kita poles wajah dengan bedak yang sesuai dengan jenis kulit kita. Oh ya, jangan lupa untuk membersihkan wajah terlebih dahulu sebelum melakukan ritual ini. Tentunya memakai pembersih wajah yang sesuai dengan jenis kulitmu yaitu kering, berminyak atau normal. Satu lagi yang tak kalah penting nih. Jangan suka gonta-ganti pembersih muka seenaknya. Iya kalo cocok, kalo enggak? Bisa-bisa mukamu jadi korban bro!
Sekarang giliran mata. Kalo ada pakailah eye shadow berwarna coklat muda atau yang sesuai dengan warna kulitmu. Setelah itu pertegas alismu yang tipis dengan alis mata berwarna coklat tua atau hitam. Pakailah pelentik bulu mata bagi yang matanya belum lentik..Diikuti dengan pakai mascara juga boleh, agar kesannya terlihat lebih tebal. Sementara buat yang bola matanya kecil bisa menggunakan eye liner agar terlihat lebih besar. Tentu saja yang matanya sudah besar gak perlu pakai eye liner. Kalau masih ingin memakainya juga tipis-tipis saja agar mata tak bertambah belo.
Yang terakhir olesi bibir dengan lip gloss atau lip blam. Untuk bibir yang tipis pilihlah lip gloss berwarna pink tegas. Agar bibir terkesan lebih tebal. Sebaliknya untuk bibir yang tebal pilihlah lip gloss berwarna pink muda/ pucat. Agar bibir gak terkesan terlalu tebal. Ternyata sangat mudahkan agar bisa tampil cantik dengan cara yang sederhana dan cepat? Pasti semua wanita bisa melakukannya. Selamat mencoba!

Minggu, 23 Januari 2011

Ayo! Selamatkan Bumi Dengan Peduli Lingkungan







Sebagai manusia yang telah bertahun-tahun menempati bumi ini, pernah gak terpikirkan oleh kita untuk menjaga lingkungan bumi dengan serius? Tentu jawaban itu berpulang pada diri kita masing-masing. Padahal action sekecil apapun itu dalam rangka menjaga dan memelihara lingkungan bumi, akan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup kita kelak. Minimal dengan menjaga lingkungan sekitar rumah kita masing-masing.

Kenyataannya masih banyak kita temui orang-orang yang tanpa merasa bersalah melakukan kerusakan lingkungan itu sendiri. Hingga tak heran bila belakangan ini sering terjadi bencana alam. Misalnya melakukan perambahan hutan secara liar dan besar-besaran yang berdampak pada gundulnya hutan. Jika hutan tak ditanami lagi setelah ditebang, maka hutan yang gundul tadi saat terkena terik matahari, tanahnya menjadi rapuh dan berongga. Begitu hujan besar datang, maka terjadilah pengikisan tanah (erosi). Akibatnya sejumlah tanah terbawa aliran air yang mengakibatkan terjadinya tanah longsor. Bahkan penambangan untuk mencari bahan tambang itu sendiri, tanpa diikuti dengan memperbaiki lingkungan sisa penambangan sesudahnya.

Belum lagi pemanasan global yang kian menghebat belakangan ini. Orang-orang dengan seenaknya membangun rumah kaca disana-sini, dan menggunakan energi listrik dengan borosnya. Yang mengakibatkan lapisan ozon kian menipis setiap harinya. Lihat saja, kita lebih memilih Air Conditioning sebagai penyejuk ruangan dari hawa panas. Padahal kita bisa memanfaatkan AC alami yaitu angin sejuk yang berhembus dari luar rumah. Dengan membuat jendela yang cukup banyak dan lebar sebagai jalan keluar masuknya angin dan udara segar. Padahal dengan banyak jendela yang bisa dibuka, otomatis ruangan di dalam rumah akan menjadi terang. Sehingga kita tak perlu menghidupkan lampu disiang hari. Bukankah semua itu bisa menghemat energi listrik? Belum lagi pencemaran yang terjadi disana-sini.

Pabrik-pabrik besar juga dengan seenaknya membuang limbah beracun ke dalam sungai yang mengakibatkan tercemarnya air bersih. Padahal air bersih sangat diperlukan manusia untuk memasak, minum dan keperluan rumah tangga lainnya. Juga kecenderungan kita untuk membuang sampah secara sembarangan. Yang mengakibatkan saluran air sungai dan got-got mampet. Ketika hujan lebat turun, air sungai dan got tadi meluap keatas sehingga terjadilah banjir.

Apalagi bila sampah itu berupa sampah plastik, yang membutuhkan 500-1000 tahun untuk bisa terurai secara sempurna didalam tanah. Karena sifat sampah plastik yang sulit terurai secara alami juga sulit untuk didaur ulang. Padahal saat terurai, partikel-partikel plastic akan mencemari tanah dan air sekecil apapun itu. Mendapati kenyataan ini, mengapa kita tak mengurangi komsumsi plastik dalam kehidupan kita? Minimal saat belanja ke pasar. Kita bisa menggunakan tas belanjaan yang terbuat dari rotan atau anyaman daun pandan seperti yang digunakan nenek-nenek kita dulu.

Tak hanya itu, polusi udara selalu menggerogoti paru-paru kita. Lewat debu dan asap knalpot yang setiap hari kita hirup. Untuk itulah kita perlu menutup hidung dengan saputangan agar tak langsung menghirupnya. Seandainya setiap orang mau menggunakan sepeda atau angkutan umum untuk bepergian. Baik itu ke kantor atau ke tempat lainnya-- dan berinisiatif menggunakan mobil hanya untuk bepergian keluar kota saja. Otomatis polusi udara bisa diminimalisasi. Pasti kita semua ingin kota benar-benar murni dari polusi. Bagaikan negara Switzerland yang terkenal akan kebersihan kotanya. Dan Allah sendiri melaknat orang-orang yang merusak lingkungan sebagaimana yang Allah katakan dalam alqur’an yaitu

“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya..” (Al-A’raaf: 56)
“Makan dan minumlah dari rizki Allah dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan” (Al-Baqarah: 60)
“..dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Al-Maidah: 64)

Jadi kesimpulannya, perlakukanlah bumi sebagai tempat tinggal kita dengan menjaga lingkungan bumi itu sendiri sebaik-baiknya. Sebab bila bumi ini sudah rusak, adakah bumi lain yang bisa kita tempati?

Referensi:
Koran kompas
Buku pendidikan lingkungan hidup kelas 3 SD

Selasa, 20 Juli 2010

manfaat positif dari jejaring sosial



Tak selamanya jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog dan sejenisnya membawa pengaruh yang negatif. Mungkin hanya sebagian kecil saja yang memiliki pendapat seperti itu. Asal digunakan untuk hal-hal yang berbau positif, maka akan membawa pengaruh dan manfaat yang positif juga bagi penggunanya. Banyak manfaat yang bisa diambil dari jejaring sosial yang kita ikuti diantaranya,
1) Sebagai sarana untuk berbagi. Entah itu berbagi imformasi, atau berbagi pengalaman hidup baik suka maupun duka. Sebagai makhluk sosial, kita tentu ingin berbagi kegembiraan dan kesedihan dengan orang lain. Entah itu dengan teman dekat, sanak saudara, juga orang-orang yang kita kenal. Dijaman internet seperti sekarang, teman tak hanya kita temukan dalam dunia nyata saja, tapi juga dalam dunia maya. Kita tentu masih ingat kasus yang menimpa Prita mulyasari. Begitu banyak dukungan yang ia dapatkan dari para facebooker. Ketika tertimpa kasus sebagai orang yang dituduh mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit internasional di Jakarta.
Disaat kita mengikuti jejaring social seperti facebook, maka otomatis kita mencari teman untuk berbagi pengalaman suka dan duka tadi. Dengan harapan untuk mendapatkan dukungan. Entah itu dengan teman lama yang sudah memiliki akun difacebook, atau yang baru kita kenal. Bahkan mungkin seprofesi dengan kita. Misalnya sama-sama penulis atau sama-sama suka berdagang.
Selain facebook, ada banyak milis yang bisa kita ikuti untuk berbagi. Disamping untuk memperluas jaringan social serta menambah wawasan kita. Ada milis seputar dunia ibu dan anak yang bisa diikuti oleh para ibu dan wanita yang baru menikah, Contohnya milis parenting. Sedangkan untuk wanita bisa mengikuti milis femina group. Dan masih banyak lagi milis yang lainnya. Asal kita terus mau mencari lewat internet dan memutuskan untuk bergabung dengan niat dan tujuan yang baik.
2) Sebagai sarana promosi. Bagi yang suka berdagang, media pemasaran bisa lebih meluas. Tak hanya dilakukan secara offline, tapi kini bisa dilakukan secara online. Salah satunya dengan memajang foto foto produk dan mempromosikan barang dagangan yang akan kita jual lewat facebook, website, ataupun blog pribadi. Dengan harapan, teman-teman yang ada di dunia maya tertarik setelah melihat barang apa saja yang kita tawarkan. Hingga memutuskan untuk membelinya
3) Sebagai sarana untuk menyalurkan hobbi. Bagi yang suka menulis, jejaring social menyediakan banyak info-info lomba menulis sekaligus ajakan menulis dari para penulis yang lebih dulu terjun dalam bidang kepenulisan. Salah satunya lewat facebook. Bahkan tak sedikit milis-milis yang bisa diikuiti oleh penulis pemula. Sebagai tempat untuk belajar dan menimba ilmu dari penulis yang lebih senior. Seperti milis penulis bacaan anak. Milis penulis lepas, juga milis-milis lainnya yang berhubungan dengan dunia kepenulisan. Tentunya kita bebas memilih untuk mengikuti milis apa saja yang sesuai untuk kita dan yang kita sukai.
4) Sebagai sarana untuk berekspresi. Salah satunya dalam bidang menulis. Kita bebas mempromosikan tulisan kita tanpa takut diedit atau ditolak seperti yang dilakukan oleh media cetak. Baik berupa puisi, cerpen, ataupun dalam bentuk essay dan artikel. Entah itu lewat blog ataupun komunitas blog. Adapun komunitas blog yang bisa diikuti oleh penulis baik itu pemula ataupun yang sudah senior. diantaranya komunitas blogfam, blogindosiar, dan masih banyak komunitas blog di bidang dunia tulis menulis yang bisa diikuti. Bahkan kita juga bisa men-tag tulisan kita lewat facebook ataupun situs pertemanan yang lainnya..Dari tulisan yang kita tulis, kita bisa meminta orang-orang untuk memberikan masukan yang bermanfaat bagi kemajuan menulis kita. Baik lewat pujian maupun kritik yang membangun.
Ini hanyalah sebagian dari manfaat jejaring sosial. Masih banyak manfaat lainnya yang bisa kita gali dari jejaring social seperti facebook, website, blog dan yang lainnya. Dengan menyadari banyaknya hal positif serta manfaat yang bisa kita peroleh dari jejaring sosial yang kita ikuti, maka jejaring sosial yang sehat dan aman akan tercipta dengan sendirinya.

Selasa, 15 Juni 2010

ketika rumah jadi kuburan




Tentu anda bertanya-tanya, apa mungkin rumah jadi kuburan? Bagaimana bisa? Sepenggal judul diatas menggelitik saya untuk menuliskannya disini, setelah membaca sebuah kajian di majalah Ummi. Tentang rumah yang didalamnya berisi orang-orang yang tak pernah menghidupkan rumah mereka dengan bacaan Al-qur’an. Karena sepi dari bacaan, hapalan serta lantunan Alqur’an. maka penghuni rumah tersebut diibaratkan mayit yang hidup tanpa ruh. Bukankah tempat tinggal yang pantas bagi mayat adalah kuburan?
Sebagaimana rasulullah pernah bersabda “jangan jadikan rumah-rumah kalian kuburan. Sesungguhnya syeitan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR Muslim) Wajar bila rumah yang dihuni oleh para mayit akan didatangi oleh syetan dengan senang hati. Akibatnya rumah pun akan jauh dari rahmat dan berkah dari Allah.
Saya jadi ingat sebuah keluarga yang letaknya tak jauh dari lingkungan tempat tinggal saya. Sebut saja keluarganya si A. sebab tak etis rasanya saya menyebutkan nama mereka. Karena niat saya hanya ingin berbagi terhadap apa yang saya lihat dan dengar untuk diambil ibrohnya.
Keluarga si A, terutama ayah dan ibunya, hampir tak pernah membaca apalagi mempelajari Al-quran. Dan yang lebih tragis lagi, kebiasaan tersebut ia terapkan pada anak-anaknya.. Jadilah semua anaknya tak ada yang bisa membaca kitab suci, sebab sedari kecil tak pernah diajarkan membaca Al-quran. Bahkan sampai anaknya menikah dan memiliki anak.
Alhasil tak satupun anaknya yang menunaikan solat, karena tak mengerti bacaannya. Sementara orang tuanya tenang-tenang saja menyikapinya. Mungkin menganggap bahwa mengajarkan anak membaca dan mempelajari kitab Allah bukanlah suatu kewajiban, yang kelak dimintai pertanggung-jawabannya diakhirat nanti.
Kita juga sering mendapati sebuah rumah mewah yang harganya mungkin milyaran rupiah. Alangkah bagusnya rumah ini, kita mungkin berdecak kagum tanpa bisa dihindari. Namun saat kita tahu ternyata rumah tersebut sesungguhnya seperti kuburan, tatkala rumah itu sepi dari Alquran. Maka kekaguman kita seketika lenyap dan berganti dengan rasa bergidik membayangkan para penghuninya lebih sibuk dalam urusan duniawi hingga tak sempat menghidupkan hati dan rumah mereka dengan merdu dan indahnya lantunan Kitab Illahi Robbi yaitu kitab suci. Seketika kita memandang rumah tersebut tak lagi bercahaya meski bangunanya dari luar bagus dan megah.
Rasanya amat bangga dan senang bila anak-anak kita bisa lancar dan fasih membaca alquran, setelah kita masukkan ke TPA. Tentu peran guru ngaji tak bisa dianggap enteng disini. Andilnya cukup besar karena telah menghidupkan hati anak-anak kita dengan Alqur’an. Padahal bayarannya tidaklah seberapa dengan yang mereka terima.karena mengharap besarnya ganjaran pahala dari Allah. Hati yang hidup akan mudah menerima kebenaran. Kita bisa ambil sebuah pelajaran dari orang-orang yang dengan entengnya melakukan korupsi atau tindakan keji tanpa perasaan. Seolah-olah mereka tak lagi memiliki hati nurani. Dikarenakan hati mereka sudah lama mati. Nauzubillah minzalik.

Minggu, 02 Mei 2010

mental yang juara


Belakangan ini semakin semarak diadakannya aneka lomba. Baik itu lomba menyanyi, menulis, menggambar, juga lomba yang lainnya. Selain persiapan yang matang, kesiapan mental juga sangat diperlukan. Dan mental juara itulah yang harus dimiliki oleh setiap peserta lomba. Dengan begitu, akan tumbuh semangat untuk menjadi pemenang. Seseorang yang memiliki mental juara tentu memilki rasa percaya diri yang tinggi, karena merasa usaha dan persiapan dilakukan semaksimal mungkin, agar memenuhi syarat untuk menjadi seorang juara.
Namun bila segala usaha telah dilakukan tapi akhirnya kita tak terpilih sebagai pemenang, akankah kita menghujat orang lain atas kekalahan kita? Menganggap telah terjadi kecurangan atau adanya indikasi pilih kasih misalnya. Atau dengan sombongnya mengatakan bahwa seharusnya sayalah yang jadi juara, karena merasa telah melakukan yang terbaik. Dan beranggapan hasilnya juga yang terbaik diantara peserta lainnya.
Kita lupa bahwa yang kalah bukan diri kita seorang. Yang lain juga merasakannya. Apakah mereka juga menggugat juri atau pihak penyelenggara lomba? Menyadari tak sedikit jumlah peserta yang ikut, bahkan bisa ribuan orang. Jadi wajar kalau juri harus memilih salah satu peserta terbaik diantara yang terbaik. Yang harus kita ingat adalah seandainya kita menang, sudah pantaskah kita menjadi pemenang? Dan bila kita kalah, mungkin kita belum pantas untuk keluar sebagai pemenangnya. Bukankah dalam sebuah lomba harus ada yang kalah dan yang menang? Dan itu merupakan sebuah keharusan. Yang terpenting bukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Tapi mental untuk menerima kekalahan dan kemenangan itu sendiri. Barulah seseorang bisa dikatakan memiliki mental yang juara.

Kamis, 22 April 2010

hidup bahagia dengan cara sederhana




Siapa sih didunia ini yang tak ingin hidup bahagia? Berbagai cara ditempuh untuk meraih kebahagiaan tersebut. Ada yang beranggapan dengan memiliki harta dan uang yang banyak, maka kebahagian bisa dibeli. Tak perduli apakah cara yang ditempuh ujung-ujungnya tak akan melahirkan sebuah kebahagiaan yang dicari.
Orang tua yang super sibuk mencari nafkah dengan alasan demi memberi kebahagiaan buat keluarga lewat hidup yang mapan. Tapi lupa kalau anggota keluarga anak atau istri misalnya tak hanya butuh materi, tapi juga perhatian dan kasih sayang, yang tak didapat saat waktu suami atau istrinya lebih banyak diluar rumah
Seorang suami yang melakukan korupsi demi memenuhi tuntutan dari diri sendiri atau pasangannya dengan pemikiran bahwa uang banyak yang diterima secara tidak halal akan membahagiakan karena bisa membawa mereka jalan-jalan keluar negeri atau membeli mobil mewah dll.
Kita pun jadi bertanya-tanya, apakah sebatas itu definisi sebuah kebahagiaan? Berarti kebahagian itu didapat dari luar diri kita, bukan dari dalam diri kita. Padahal rasa bahagia lahir dari dalam diri seseorang. Tak perduli dia kaya atau kekurangan. Cantik atau jelek. Cacat atau normal.
Kalau seseorang yang memiliki banyak harta bisa bahagia itu hanyalah sebuah efek dari usaha keras yang dia lakukan. Harta Bukanlah salah satu sumber bahagia. Banyak kok orang yang hidup dalam kemiskinan tapi masih bisa tersenyum dan tertawa, meski mereka merasa hidup ini berat dan penuh perjuangan. Tatkala mereka merasa bersyukur dengan melihat kebawah bahwa masih ada yang lebih susah lagi. Seorang yang cacat masih bisa menjalani hidup dengan tersenyum karena rasa syukur masih diberi oleh Tuhan kesempatan hidup, dibandingkan dengan orang-orang yang menderita sakit berat seperti kanker .
Jadi apapun keadaan kita, berupayalah untuk menyederhanakan arti sebuah kebahagiaan. Dengan melahirkan rasa syukur setiap saat, dengan berupaya untuk tak melihat ke atas terus. Semoga kita tak menjadi orang yang kufur nikmat. Bukankah Tuhan pernah berjanji bahwa Dia akan menambah nikmatnya bagi orang-orang yang tahu bersyukur. Sungguh sederhana yang dipinta olehNYa.
Iir di http://seuntaikatahati.blogspot.com

Sabtu, 06 Februari 2010

hikmah tinggal di desa



Tak selamanya sesuatu yang tidak kita sukai, akan merugikan kita. Bukankah Tuhan pernah berkata, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal dibalik semua itu tersimpan sebuah kebaikan untukmu. Suamiku mencoba menasehatiku disaat aku berkali-kali mengeluhkan tempat tinggal kami yang jauh terpencil.

Awal mula suami memberitahu akan membeli tanah di desa, aku tak setuju. Tapi karena tak ada pilihan aku menurut saja. Kukatakan tak ada pilihan karena keuangan kami memang tak cukup untuk membeli rumah di ibukota. Mau mengambil perumahan suami merasa tidak sreg. Alasannya cicilannya berlangsung cukup lama. Rumah yang didapat juga sangat kecil. Paling runah tipe 36 yang bisa sesuai kantong kita, begitu katanya. Bagiku, biar rumah kecil asal dekat kemana-mana kan tidak masalah? Tapi pikiranku mengenai tempat tinggal berbeda dengan suami. Baginya lebih enak membeli tanah yang cukup luas karena bisa membangun rumah yang cukup besar dibandingkan mengambil perumahan, sebab harga tanah cukup murah di desa. Apalagi kami memiliki anak yang masih kecil-kecil. Rumah yang luas dengan halaman yang lebar akan membuat ruang gerak ketiga buah hati kami cukup lega. Lagipula suami pergi kerja naik kereta. Dan menurutnya untuk sampai kestasiun tidak terlalu jauh. Suami saya memilih naik motor yang menghabiskan waktu 15 menitan. Dimana motornya ia titip di stasiun saat akan naik kereta api ekonomi jurusan jakarta kota.

Setelah rumah selesai dibangun diatas tanah seluas 200 meter, kami pun segera menempatinya. Suami begitu gembira begitu juga anak-anak. Tapi aku tetap tidak suka membayangkan tingggal di desa selamanya. Bandingkan saja. Selama ngontrak di Jakarta aku bisa pergi kemana-mana hanya dengan angkot atau bis yang ongkosnya cuma 2000 perak. Sementara semenjak tinggal di desa aku harus naik ojek ke pasar dengan ongkos 15000 pp. Alhasil, akupun memutuskan untuk pergi belanja sekali seminggu saja mengingat uang transportnya lumayan besar bila pergi setiap hari. Disamping itu aku tak bisa lagi jalan-jalan cuci mata ke mall, sebab tinggal didaerah tak ada supermarket apalagi Mall. Pokoknya kemana-mana serba jauh. Akibatnya aku pun jarang keluar seperti dulu, dan lebih banyak tinggal dirumah saja. Mulanya hari-hari yang kurasakan begitu membosankan. Tapi mau bagaimana lagi? Tak mungkin aku berdebat terus dengan suamiku dan menuntutnya untuk segera pindah ke kota. Bisa-bisa kami bertengkar terus hingga rumah tangga tak lagi harmonis.

Ditengah rasa jenuh karena tidak lagi bisa pergi kemana-mana aku pun menuangkan uneg-unegku dengan menulis. Selain itu waktuku banyak kuhabiskan dengan membaca. Kebetulan aku memang suka membaca dan menulis. Hanya dulu sebatas menulis puisi dan catatan harian.Terbersit ide dikepalaku untuk menulis pengalaman hidupku selama tinggal didesa. Kuceritakan bahwa sebenarnya banyak hal positif yang kudapat selama tinggal di daerah. Pertama udaranya jelas lebih sejuk dan bersih dari daerah perkotaan, tempatku mengontrak dulu. Masih banyaknya pepohonan hijau, membuat lingkungan sekitar tempat tinggal kami begitu sehat ditambah tak banyaknya kendaraan yang lalu lalang hingga bebas dari polusi.

Yang kedua, masyarakatnya hidup sangat sederhana dan ramah-tamah. Bila bertemu selalu menyapa duluan dan suka tersenyum. Kalau dijakarta bor-boro. Yang ada siapa elu siapa gue. Meski tak hampir semuanya begitu. Karena kesederhanaan warganya membuatku jadi tahu hidup prihatin. Tak lagi membuang-buang uang untuk belanja yang tidak perlu seperti dulu, apalagi kalau sudah ke Mall. Padahal awalnya cuma ingin cuci mata. Nyatanya tergoda untuk membeli yang sesungguhnya kurang kuperlukan.

Yang ketiga, semangat kebersamaan warga desa cukup tinggi bila dibandingkan dengan warga kota. Bila ada warga yang terkena musibah, mereka saling membantu dengan memberikan apa saja yang mereka miliki. Bisa beras, makan kering, uang ataupun tenaga. Hingga yang terkena musibah merasa diringankan. Begitu juga bila ada yang keriyaan (red: hajatan) maka hal yang sama juga mereka lakukan.

Semua pengalaman yang kutulis aku kirimkan ke sebuah majalah wanita. Saat dimuat akupun sangat senang sekaligus bersyukur karena bisa membagi pengalamanku dengan banyak orang.

cerita yang sama pernah dimuat di majalah ummi

Senin, 01 Februari 2010

Memilih hidup untuk lebih berbahagia



Setiap insan pasti tidak ingin hidup dalam kesedihan terus menerus, kala dirinya dilanda cobaan berat sekalipun.. Itu sudah pasti dan manusiawi sebab manusia ingin selalu merasa bahagia dalam hidupnya. Tapi adakalanya kita tak bisa menghindarkan hadirnya berbagai ujian hidup yang mau tak mau menghadirkan rasa sedih dalam ruang lingkup kehidupan kita. Tinggal bagaimana cara kita menyikapi cobaan tersebut. Apakah memilih untuk larut dalam kesedihan tak berujung? atau mencoba pasrah sambil berdoa untuk bisa sabar menghadapinya.

Menurutku, hidup ini bagaikan pelangi. Penuh dengan warna –warni. Suka dan duka itulah yang akan mewarnai hidup kita. Air mata sedih dan bahagia akan menyertainya. Tak pelak, kita harus percaya bahwa hidup akan selalu berganti warna. Tak selamanya masalah yang berat sekalipun tak ada jalan pemecahannya. Setidak-tidaknya kita memperoleh hikmah darinya. Dan tak selamanya juga roda itu selalu berada diatas. Kita pun harus bersiap-siap bila suatu saat roda hidup kita berada dibawah.

Ketika aku mengalami cobaan dalam fase kehidupanku, aku selalu memilih untuk larut dalam kesedihan. Yang mengakibatkan diriku tak lagi fokus untuk mencapai kesuksesan hidup. Sebagai seorang anak, aku pernah mengalami sedihnya kehilangan seorang ayah dalam usia muda. Aku menjadi yatim diusia 12 tahun. Kami juga hidup dalam kesulitan ekonomi karena ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang tak punya kecakapan dalam mencari nafkah. Hidup susah tanpa seorang ayah sungguh membuat masa kecilku jauh dari keceriaan. Aku merasa hidup ini tidak adil, hingga aku sering bolos sekolah karena tak memiliki motivasi dalam hidup.

Setelah dewasa, aku kembali merasa terpukul karena kakak lelakiku meninggal dunia karena kanker. Padahal semasa hidup, hanya dialah yang bisa mengerti aku dan begitu menyayangiku. Apalagi aku telah menganggapnya sebagai pengganti ayah dalam hidupku. Cukup lama aku berkubang dalam kesedihan. Tenggelam dalam depresi hingga kuliahku pun tak pernah selesai. Aku selalu menangis bila ingat betapa cepatnya kakakku meninggalkanku. Aku merasa tak lagi memiliki orang yang bisa memperhatikan dan menyayangi diriku.

Ketika Allah mengirimkan seorang lelaki untuk menjadi suamiku, aku merasa mendapatkan kasih sayang kembali. Suamiku bisa berperan sebagai teman, sahabat, juga kakak bagiku. Namun dikala sendiri, tetap saja aku bersedih bila mengingat masa laluku. Padahal Allah telah memberikan tiga orang malaikat kecil yang setiap saat menghiburku dengan tingkah polos mereka.

Akupun merenung, buat apa aku terus mengingat masa lalu yang membuatku tetap berkubang dalam lumpur kesedihan? Aku pun memutuskan untuk tak mengingat lagi masa kelamku, dengan menyibukkan diriku. Kebetulan aku sangat suka menulis. Akupun mencoba untuk menulis cerpen dan mengirimkannya ke sebuah majalah. Tak dinyana, cerpen pertamaku dimuat di majalah paras. Aku sangat bahagia saat membaca tulisanku terpampang di majalah. Ternyata, tak sulit untuk memilih hidup untuk lebih berbahagia. Dengan kesibukan baruku yaitu menulis, akupun tak punya waktu lagi untuk bersedih.

Ketika anak mogok sekolah




Pada waktu saya membaca sebuah tabloid wanita, saya tertarik dengan artikelnya yang mengulas tentang Homeschooling. Saya membaca beberapa alasan yang diceritakan oleh beberapa orang anak mengapa mereka memilih sekolah dirumah. Dimana orangtua mereka mendukung anaknya untuk mengikuti sekolah nonformal tersebut.

Cerita anak pertama, bahwa dia tidak mau sekolah karena sudah sering dilecehkan oleh teman-temannya. Mulai dari barang-barangnya yang sering diambil, sering diejek karena posturnya yang gemuk, bahkan sampai ada yang memukulnya. Yang lebih menyakitkan si anak, tatkala teman-temannya sering mengolok-olok kekurangannya yang tidak bisa mendengar. Si anak memang memakai alat bantu pendengaran ke sekolah. Semua perlakuan itu membuat si anak menderita dan merasa tidak tahan lagi, hingga memutuskan enggak mau sekolah lagi.

Cerita anak kedua lain lagi. Dia merasa jenuh karena sekolahnya mulai dari pagi sampai sore. Tapi yang paling membuatnya jenuh karena stress dengan perlakuan gurunya yang tidak menghargainya, bahkan cenderung melecehkannya. Akibatnya dia sering tidak masuk sekolah.

Masalah yang dialami kedua anak diatas merupakan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru dan teman-teman sekolah mereka. Dampak jangka pendek akibat anak mendapakan tindakan kekerasan dalam pendidikan adalah anak tiba-tiba mogok sekolah. Adapun dampak jangka panjangnya menurut Kak Seto psikolog anak, bisa memicu prilaku tawuran pada anak dikemudian hari, juga mengakibatkan depresi pada anak.

Orang tua manapun tentu keberatan bila anak mereka mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi itu. Padahal tujuan mereka menyekolahkan anaknya agar mendapatkan pendidikan dengan baik. Tapi bagaimana mungkin? Bila belum apa-apa mental anak mereka sudah dibuat jatuh oleh sikap guru dan teman-temannya. Si anak akhirnya merasa bahwa kehidupan sekolah tak lagi nyaman, karena telah membuatnya tertekan.

Sebagai orang tua, kita harus jeli melihat masalah yang dihadapi anak disekolah. Dengan membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Sehingga kita tahu apa masalah yang sebenarnya. Tak jarang anak yang tertutup takut untuk menceritakan masalah yang ia hadapi. Orang tualah yang harus memulainya terlebih dahulu. Kalau perlu, kita ajak gurunya bicara baik-baik. Kalau tidak mempan juga, barulah kita ambil tindakan lain yang lebih baik buat anak kita. Apakah anak kita pindahkan sekolahnya, atau alternatif lainnya.

Alangkah baiknya sebagai orang tua, kita melakukan survei terlebih dahulu sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah. Kita tinjau bagaimana karakter guru-gurunya, lingkungan teman-temannya, juga cara mengajar disekolah tersebut. Sebab saya sering melihat banyak sekolah yang kelasnya terdiri dari 50 orang dalam satu ruangan. Tentu saja ini kurang efektif bagi prose belajar mengajar.

Ini pe-er buat semua guru dan pihak sekolah. Bahwa kekerasan bukanlah cara yang efektif untuk mencerdaskan anak didik. Yang mengakibatkan para orang tua semakin tidak percaya pada sekolah formal. Sehingga alternatif sekolah di rumah atau yang di kenal dengan Homeschooling semakin banyak diminati.

Menurut teguh Imanto, kepala subdit pengembangan teknologi direktorat pendidikan kesetaraan dirjen pendidikan nonformal dan informal, Homeschooling awalnya diselenggarakan pemerintah karena adanya siswa yang merasa minatnya tidak terlayani di sekolah formal. Dimana materi pelajaran yang diberikan kepada anak HS sudah disetarakan dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah formal. Jadi, bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi sekolah-sekolah formal akan sepi murid-murid yang bersekolah, karena orang tua lebih percaya pada alternatif pendidikan lain, salah satunya Homeschooling.

Harta yang sangat mahal itu bernama kesehatan




Ibuku mengalami musibah dengan kehilangan kedua anaknya sekaligus karena penyakit yang sama yaitu kanker hati. Sebagai anak sekaligus seorang ibu, aku bisa merasakan betapa terpukulnya batin ibuku. Apalagi disaat kedua kakak lelakiku itu dipanggil Tuhan, sementara kala itu ayahku sudah lebih dulu tiada. Sehingga ibu hanya bisa membagi kesedihannya pada kami anak-anaknya.

Memang semasa hidupnya mereka (red; kedua kakak lelakiku) itu kurang pintar menjaga kesehatan. Pola makan mereka terbilang kurang baik, alias tidak berpantang. Hampir setiap hari sukanya makan yang berlemak tinggi seperti makanan bersantan, daging ayam, terutama rendang. Mungkin karena kami orang padang. Tapi celakanya tidak dibarengi dengan memakan sayuran karena kedua kakakku itu tidak suka makan sayur, apalagi sayur yang bening-bening. Ditambah lagi jarang berolahraga.

Masih terbayang dibenakku bagaimana kondisi kakakku yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Meski ditengah penyakit kanker yang tengah menyerangnya dia masih memiliki semangat hidup yang tinggi. Akhirnya barang-barang miliknya termasuk tanah seluas 500 meter terpaksa dijual oleh istrinya, demi membiayai pengobatan suaminya yang sangat mahal. Padahal mereka masih mengontrak waktu itu.

Sebagai seorang ibu yang memiliki tiga orang anak, aku juga pernah merasakan betapa sedihnya ketika anak-anakku mendapatkan penyakit hingga sampai dirawat. Anakku yang pertama pernah dirawat gara-gara diare hingga sepuluh hari lamanya. Anakku yang kedua juga pernah dirawat karena diare, bahkan lebih lama lagi dirawat yaitu hampir dua minggu lamanya. Hingga tabungan kami terpaksa dikuras karena tak sedikit biaya yang harus dibayar. Sementara saat mengandung anak ketiga aku sering keluar masuk rumah sakit karena sakit maag. Karena kondisiku yang sangat lemah, aku pun melahirkan dengan cara di operasi. Mengingat banyaknya biaya yang dikeluarkan dari semenjak hamil hingga melahirkan, anakku pun disebut sebagai anak mahal oleh para perawat dan orang sekitarku.

Hikmah dari semua kejadian ini membuatku semakin termotivasi untuk lebih menjaga kesehatan tubuhku. Mengingat bahwa tubuh kita adalah amanah dari Allah. Hingga kita wajib menjaga dan memeliharanya. Bukankah Rasulullah sendiri pernah bersabda “Makanlah sebelum lapar. Dan berhentilah sebelum kenyang. Agar tersisa ruang 1/3 buat makananmu, 1/3 untuk minummu, dan 1/3 lagi untuk kau bernafas.”

Dari sabda Nabi saw diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa perut kita ini bukanlah tong sampah, yang bisa dimasuki oleh makanan apapun juga. Tak perduli apakah makanan itu sehat dan baik untuk tubuh kita. Ataupun tak memperhatikan kehalalannya. Bukankah kalau kita sudah terkena penyakit, maka penderitaanlah yang kita rasakan dalam menahan rasa sakit tersebut. Belum lagi biaya-biaya yang tidak sedikit yang harus kita keluarkan agar segera cepat sembuh. Kalau sudah begitu, barulah kita menyadarai betapa mahalnya harga kesehatan.

Cinta = Menerima pasangan apa adanya





Apakah kita mencintai pasanganku kita? Sudah pasti kita akan segera menjawab “Tentu saja! kalau tidak, mana mungkin saya mau menikah dengannya.” Bila pertanyaan tersebut ditujukan pada saya, jawabnya juga tak jauh berbeda. Saya mau menikah dengan suami saya karena adanya cinta pada dirinya. Tapi, sudahkah selama ini saya bisa menerima semua kekurangan suami? Terus terang saya tak akan menjawab dengan segera, alias bertanya dulu pada hati kecil saya dengan jujur. Karena saya tak mau munafik untuk mengatakan “iya.” Padahal tidak seratus persen benar.

Sebagai manusia saya juga tak sempurna. Karena kesempurnaan itu mutlak milik Allah. Karena ketidak sempurnaan sayalah hingga saya menyadari kekurangan saya yang sering merasa kurang puas diri. Meski sebagai manusia kita juga dituntut untuk menjadi manusia yang sempurna menurut agama. Terutama dalam hal perilaku kita.

Saya tak bisa memungkiri kalau selama ini saya sering mengeluh, mengapa suami saya tak sekaya suami si anu. Atau, mengapa suami saya tak seperti suami yang lain yang kerjanya selalu pulang tepat waktu. Sementara suami saya selalu pulang larut malam, itu masih dalam hal pekerjaan. Belum lagi dalam hal yang lainnya. Mungkin saya perlu bercermin dari kisah dua orang teman saya yang begitu mencintai suaminya, karena sudah terbukti bisa menerima suaminya apa adanya.

salah memilih jodoh





Salah seorang teman saya yang dikenal berprestasi dikeluarganya dan merupakan anak kebanggaan sedari kecil, tiba-tiba memilih lelaki yang menjadi karyawannya untuk menjadi pendamping hidupnya. Meski keluarga besarnya kurang setuju, mengingat perbedaan mereka yang cukup mencolok. Namun teman saya itu tetap tak terpengaruh, karena merasa tidak main-main dengan pilihannya. Mengingat selama ini dia sangat sulit jatuh cinta, maka dia tetap pada pendiriannya untuk menikahi lelaki yang notabene masih dibawahnya. Tidak hanya dalam hal karir (sebab teman saya itu bosnya si calon suami) tapi juga dari segi usia.

Dan takdir hidup siapa yang tahu. Tiba-tiba usaha teman saya itu yaitu usaha dibidang restoran, mengalami kebangkrutan. Otomatis kehidupan ekonominya jauh dari mapan seperti dulu. Sedangkan lelaki yang sekarang sudah menjadi suaminya, hanya mampu bekerja sebagai pelayan restoran atau bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya dan kedua orang anaknya, karena tidak memiliki keahlian dan tingkat pendidikan yang tinggi, sebab hanya tamatan SMA. Dan, percekcokan pun sering terjadi, karena masalah ekonomi. Wajar saja, mengingat dulunya teman saya biasa hidup senang, tapi sekarang sering mengalami kesulitan keuangan.

Keluarga besarnya pun mulai berkomentar, “Mengapa dulu mau saja menikah dengan lelaki yang lebih rendah penghasilannya? hingga tidak bisa memberikan kehidupan ekonomi yang mapan.” Dan mengatakan bahwa teman saya itu telah salah memilih suami. Mulanya teman saya sebut saja si A, merasa malu dan menyesal dengan pilihannya. Tapi lama-lama akhirnya bisa menerima kekurangan suaminya yang tak bisa memberikannya materi berlimpah seperti dulu. Mengingat sang suami begitu menyayangi dirinya dan anak-anaknya. Disamping itu teman saya menyadari kelebihan suaminya yang lain, yaitu tak pernah gengsi membantu dirinya mengurus anak, bahkan mencuci pakaian sekalipun bila dia sedang repot ataupun capek mengurus rumah tangga sendiri. Maklumlah tak ada pembantu. Mengingat mereka tidak sanggup menggaji seorang pembantu karena uang gaji suaminya hanya cukup buat makan sehari-hari. Teman saya pun akhirnya menyadari bahwa bila hanya melihat dari segi materi saja, jelas kekecewaan yang ia rasakan terus-menerus. Teman saya pun akhirnya bangkit dari rasa kecewanya secara perlahan-lahan. Dan mulai ikhlas dengan jalan hidup yang ia pilih sendiri, hingga tak pernah berpikir untuk bercerai dari suaminya.

Setiap wanita ingin mendapatkan suami yang mendekati sempurna. Baik dari segi materi, fisik, budi pekerti juga agamanya. Dialah lelaki sejati yang didambakan oleh semua kaum hawa. Padahal mencari pasangan yang ideal menurut kita tentulah tidak mudah. Biasanya sebelum kita memilihnya menjadi suami, kita merasa dialah lelaki yang tepat buat kita, selain rasa cinta yang kuat. Tapi, mengapa masih banyak saja kita dengar dan lihat akhirnya sang wanita memilih bercerai ataupun tega menduakan suaminya dengan alasan ekonomi, perbedaan prinsip, juga hal lainnya.

Apakah sang wanita merasa telah salah memilih suami? hingga memutuskan jalan perceraian atau perselingkuhanlah yang bisa menyelesaikan masalah rumah tangganya. Rasa kecewa pun muncul karena merasa suami yang dipilih tak sesuai harapan. Kata orang-orang bagaikan membeli kucing di dalam karung. Jadi selama pedekate dia hanya melihat yang indah-indahnya saja dari calon pasangannya. Kejelekannya seolah tak tampak di depan mata. Setelah menjadi istrinya, dia pun merasa tertipu. Padahal kalau kita mengikuti kaidah agama tentang mencari calon suami yang baik, Alqur’an sudah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa kriteria memilih pasangan yang paling utama lihatlah agamanya. Sedangkan harta dan ketampanan baru disebutkan kemudian.

Orang yang baik agamanya insya Allah baik juga akhlaknya.Tapi soal cocok tidaknya dia menjadi suami kita, hanya Allahlah yang tahu yang terbaik buat kita. Itulah perlunya sebelum kita menjatuhkan pilihan, kita disuruh memohon kepada Allah untuk ditunjukkan siapa jodoh terbaik yang Tuhan pilihkan buat kita. Salah satunya melalui solat istikhoroh. Karena boleh jadi sesorang yang mulanya tidak kita sukai, tapi menurut Allah dia adalah orang yang terbaik untuk mendampingi hidup kita di dunia dan akhirat. Karena Allah sendiri sudah mengatakan bahwa lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula. Wallahu a’lam bissawab.

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut