novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Selasa, 15 Juni 2010

ketika rumah jadi kuburan




Tentu anda bertanya-tanya, apa mungkin rumah jadi kuburan? Bagaimana bisa? Sepenggal judul diatas menggelitik saya untuk menuliskannya disini, setelah membaca sebuah kajian di majalah Ummi. Tentang rumah yang didalamnya berisi orang-orang yang tak pernah menghidupkan rumah mereka dengan bacaan Al-qur’an. Karena sepi dari bacaan, hapalan serta lantunan Alqur’an. maka penghuni rumah tersebut diibaratkan mayit yang hidup tanpa ruh. Bukankah tempat tinggal yang pantas bagi mayat adalah kuburan?
Sebagaimana rasulullah pernah bersabda “jangan jadikan rumah-rumah kalian kuburan. Sesungguhnya syeitan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR Muslim) Wajar bila rumah yang dihuni oleh para mayit akan didatangi oleh syetan dengan senang hati. Akibatnya rumah pun akan jauh dari rahmat dan berkah dari Allah.
Saya jadi ingat sebuah keluarga yang letaknya tak jauh dari lingkungan tempat tinggal saya. Sebut saja keluarganya si A. sebab tak etis rasanya saya menyebutkan nama mereka. Karena niat saya hanya ingin berbagi terhadap apa yang saya lihat dan dengar untuk diambil ibrohnya.
Keluarga si A, terutama ayah dan ibunya, hampir tak pernah membaca apalagi mempelajari Al-quran. Dan yang lebih tragis lagi, kebiasaan tersebut ia terapkan pada anak-anaknya.. Jadilah semua anaknya tak ada yang bisa membaca kitab suci, sebab sedari kecil tak pernah diajarkan membaca Al-quran. Bahkan sampai anaknya menikah dan memiliki anak.
Alhasil tak satupun anaknya yang menunaikan solat, karena tak mengerti bacaannya. Sementara orang tuanya tenang-tenang saja menyikapinya. Mungkin menganggap bahwa mengajarkan anak membaca dan mempelajari kitab Allah bukanlah suatu kewajiban, yang kelak dimintai pertanggung-jawabannya diakhirat nanti.
Kita juga sering mendapati sebuah rumah mewah yang harganya mungkin milyaran rupiah. Alangkah bagusnya rumah ini, kita mungkin berdecak kagum tanpa bisa dihindari. Namun saat kita tahu ternyata rumah tersebut sesungguhnya seperti kuburan, tatkala rumah itu sepi dari Alquran. Maka kekaguman kita seketika lenyap dan berganti dengan rasa bergidik membayangkan para penghuninya lebih sibuk dalam urusan duniawi hingga tak sempat menghidupkan hati dan rumah mereka dengan merdu dan indahnya lantunan Kitab Illahi Robbi yaitu kitab suci. Seketika kita memandang rumah tersebut tak lagi bercahaya meski bangunanya dari luar bagus dan megah.
Rasanya amat bangga dan senang bila anak-anak kita bisa lancar dan fasih membaca alquran, setelah kita masukkan ke TPA. Tentu peran guru ngaji tak bisa dianggap enteng disini. Andilnya cukup besar karena telah menghidupkan hati anak-anak kita dengan Alqur’an. Padahal bayarannya tidaklah seberapa dengan yang mereka terima.karena mengharap besarnya ganjaran pahala dari Allah. Hati yang hidup akan mudah menerima kebenaran. Kita bisa ambil sebuah pelajaran dari orang-orang yang dengan entengnya melakukan korupsi atau tindakan keji tanpa perasaan. Seolah-olah mereka tak lagi memiliki hati nurani. Dikarenakan hati mereka sudah lama mati. Nauzubillah minzalik.

ketika merpati patah sayapnya


Ketika Merpati Patah Sayapnya


Nadia merasakan kebahagiaan seutuhnya sebagai seorang wanita. Bukan karena memiliki karir yang sukses, atau memiliki suami kaya raya, yang memanjakannya dengan segudang materi. Juga bukan karena popularitas yang didambakan setiap wanita yang memilki kecantikan fisik seperti dirinya.
Nadia hanyalah seorang wanita biasa yang menikah dengan pria biasa juga. Winarto, seorang suami yang bertanggung jawab serta penegrtian. Itulah yang ia impikan dari seorang suami. Memiliki seorang anak yang cantik dan cerdas. Dirinya puas menjalani peran sebagai ibu rumah tangga saja.Waktunya banyak dihabiskan untuk mengurus anak dan suami. Semuanya ia lakukan sendiri tanpa bantuan pembantu.
Masih hangat dalam ingatannya, bagaimana reaksi ibunya ketika ia utarakan niat untuk menikah. Padahal usianya masih muda, belum 25 tahun. saat Winarto melamarnya.
“Mengapa buru-buru menikah? nikmati dulu kesuksesanmu, dengan mencapai karir yang gemilang Nadia, sebelum kamu memilki anak. Pikirkan masa depanmu!”
“Apakah berumah tangga dan memilki keluarga yang harmonis bukan masa depan, Bu?”
“Ibu tahu. Tapi, apa kau puas hanya menjadi ibu rumah tangga saja?”
“Insya Allah Bu.”
“Kalau itu keputusanmu, Ibu tak dapat memaksa. Semoga kamu dapat menjalaninya tanpa rasa penyesalan di kemudian hari.” Ibu pun berlalu dengan segurat kekecewaan diwajahnya.
Ah, Ibu. Tidakkah kau sadar, karena sibuk berkarirlah anakmu ini dulu sering kesepian. Dan yang lebih fatal lagi, ayah pergi meninggalkan Ibu karena sudah tidak tahan lagi dengan kesibukan ibu, yang seakan-akan tak pernah berhenti. Hingga tak ada waktu buat kami, aku dan ayah. Selain hanya karir dan karir. Walaupun dulu dia kagum dan bangga dengan kesuksesan ibunya, yang melesat dengan cepat. Namun waktu jualah yang menyaksikan betapa menderitanya dia. Diusia yang masih muda, harus menghadapi perceraian kedua orang tuanya. Keluarga broken home!
“Dari dulu Ibu tak pernah mengerti aku, Mas. Selalu membuat jarak denganku demi ambisinya.”
“Bagaimanapun, dia tetaplah Ibumu Nadia. Mungkin kitalah yang harus mengerti bahwa dia berniat baik, meski dia tak bisa memahami kita. Yang penting, kamu maukan menjadi ibu bagi anak-anakku?” Akupun memberikan senyum termanisku. Merasa tersanjung mendengarnya.
Pernikahan tetap berjalan, walau tanpa dukungan sepenuhnya dari Ibu. Ibu terpaksa merestui karena dia tahu, tak akan mengubah keputusa Nadia. Untuk menikah dan segera memilki anak. Impian memilki keluarga yang harmonis.
Tak sampai satu tahun, Nadia hamil. Betapa bahagia dirinya. Berbagai rencana pun bermunculan dalam menyambut mutiara hatinya. Mempersiapkan nama yang indah. Berbagia keperluan bayi, serta mempersiapkan mental dengan banyak membaca buku merawat dan membesarkan anak.
Membayangkan buah hatinya menatapnya manja disaat menyusui nanti. Dengan tatapannya yang masih lugu. Mendengarkan tawa anaknya yang jernih. Sejernih pikiran kanak-kanaknya. Nadia senyum-senyum sendiri membayangkan hari bahagia itu akan tiba.
“Kamu mengambil cuti Nadia? Berapa lama? Selamat ya, belum lama menikah sebentar lagi akan memilki momongan. Pasti dia cakep seperti Ibunya.”
“Bagaimanapun wajahnya, dia pastilah bayi tercantik bagiku. Oh, ya. Aku bukan hanya mengambil cuti, tapi berniat untuk fokus dulu pada anakku.”
Kamu tidak akan berhenti bekerja kan, Nadia? Sayang, karirmu lagi menanjak.” Dewi mentatapnya tak percaya.
Nadia tersenyum. Dewi tahu, Nadia adalah mahasiwi psikologi dari universitas ternama. Yang setiap tahunnya selalu mendapatkan beasiswa. Dan lulus dengan nilai cumlaude. Sebentar lagi akan naik jabatan sebagai kepala personalia. Bagaimana mungkin hanya puas sebagai ibu rumah tangga saja. Tak bisa dipercaya!
“Mengapa tidak? Aku rela melepas karirku demi menjadi ibu rumah tangga dan totalitas mengurus keluarga.”
“Sederhana sekali!” teman-teman kantornya memberi komentar setengah tak percaya.
“Apakah status rumah tangga itu hina? Serendah itukah panadangan kalian? Banyak anak-anak yang sukses ditangan seorang ibu rumah tangga biasa.”
“Tentu saja kami tidak apriori seperti itu,” tiba-tiba Melinda menyela.
“Iya Nadia. Kami hanya mempertanyakan dirimu yang kami tahu sangat berpotensi untuk menjadi wanita yang sukses di kantor ini,” temannya yang lain ikut bicara.
“Kalau begitu, terima kasih atas perhatian dan sanjungan kalian. Aku tetap tak terpengaruh,”jawab Nadia dengan senyum mengembang. Akhirnya teman-teman kantornya pun bungkam. Demi mendengar jawaban tulus dari Nadia.
Setelah dia keluar dari pekerjaanya, Nadia tetap menjalani perannya dengan senang hati. Walau dia harus berkutat dengan urusan rumah tangga, sementara teman temannya menapaki karier di perusahaan – perusahaan ternama.
Bagi Nadia, keluarga adalah segala – galanya. Dia takut hubungan emosional dengan anaknya akan jauh. Seperti yang pernah ia alami dulu dengan ibunya. Dia tidak siap harus bersaing dengan seorang pembantu, bila di bekerja. Ia ingin totalitas mengasuh dan membesarkan anaknya. Ia ingin menjadi orang yang pertama kali tahu perkembangan anaknya dari hari-ke hari, bukan orang lain, atau pembantu. Bukankah suatu keinginan yang sederhana? Keinginan setiap ibu rumah tangga.
Hidup adalah pilihan. Dan Nadia sudah memilih hidupnya. untuk menjadi seorang ibu rumah tangga biasa. Menjadi wanita karier, bukanlah impiannya kini. Waktu terus bergulir. Nadia disibukkan dengan anak pertamanya. Kini Putri telah berusia 6 tahun. Pagi – pagi dia sudah memasak dan menyiapkan sarapan buat putri dan Mas Win. Setelah itu, dia sendiri yang mengantar dan menjemput anaknya sekolah. Begitu seterusnya. Ia jalani rutinitas rumah tangga dengan senyum mengembang.
“Mama, tadi putri dipuji sama ibu guru. Putri mendapat nilai paling bagus dalam mengerjakan pe-er. Itu karena Mama selalu membantu putri mengerjakan pe-er. Makasih ya Ma,” Putri berkata sambil matanya bersinar-sinar. Tiba-tiba putri mendaratkan ciuman di pipinya.
Nadia terharu merasakan kehangatan itu mengalir ke seluruh pembuluh nadinya, hingga membuatnya merasa bahagia.
“Iya sayang?” jawabnya penuh cinta.
Ah putri… memang inilah yang Mama inginkan. Kau mendapatkan limpahan kasih sayang dan bimbinganku. Aku tak ingin masa laluku berulang padamu. Nadia memeluk putri dengan erat. Matanya berkaca-kaca.
“Mama kenapa? Tidak senang dengan ucapan putri?”
“Tidak sayang, Mama hanya bahagia mendengar ucapanmu.” Putri kembali memeluknya manja.
Andai putri tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan. Semasa kecil, dia memiliki mainan apa saja yang tak mungkin dimiliki oleh anak – anak seusianya. Secara materi, ibunya siap melimpahkan itu padanya. Tapi kasih sayang? Dulu dia ingin sekali ibu ada waktu untuk mendengarkan cerita – ceritanya. Mengantarkannya sekolah, seperti teman-temannya yang lain. Dia sangat rindu untuk bermanja-manja. Tapi hingga dewasa, keinginan itu sulit terwujud. Itu karena ibu terlalu asyik dengan kariernya di rumah. Walau sisi positifnya Ia menjadi lebih mandiri. Namun disisi lain, ia pernah terjerumus ke hal-hal Yang negatif, seperti teman-temannya. Melampiaskan kekecewaan mereka dengan menenggak obat-obatan terlarang, bahan sempat hamil di luar nikah. Tidak! Dia tak ingin semua itu menimpa putri. Cukup sudah pengalaman dirinya, dan orang-orang di luar sana. Yang berujung pada kehancuran masa depan dengan prilaku negatif, karena kurang perhatian dang bimbingan
Mama dan teman temannya sudah jarang berkomentar. Mereka melihat keahagiaan itu menghampirinya dari hari kehari. Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Sampai musibah yang tak pernah diduga-duganya menghampiri. Mas Win mengalami kecelakaan. Motornya remuk dihantam oleh sebuah truk, yang datang secara mendadak. Mas Win terpental jauh. Kepalanya membentur aspal yang keras dan tajam. Hingga tak sadarkan diri sewaktu dibawa kerumah sakit. Nadia menanti di luar ruangan dengan harap-harap cemas. Menunggu kabar baik, bahkan buruk sekalipun tentang suaminya.
Tiba–tiba pintu terkuak. Seorang dokter paruh baya keluar dengan wajah yang serius. Membuat detak jantungnya semakin tak mau berhenti. Yah…ia gelisah! Begitu cemas!
“Ada kerusakan di sumsum tulang belakangnya, yang mempengaruhi urat sarafnya. Kemungkinan suami Ibu harus berada di kursi roda.” Oh Tuhan! Akan cacatkah suaminya?
“Sampai berapa lama dokter?”
“Harapan itu masih ada. Suami ibu harus menjalani terapi, agar dapat berjalan lagi. Tentunya membutuhkan waktu yang lama.” Sanggupkah ia kini? Ya Rabbi! berilah hambamu ini kekuatan, doanya tak henti henti.
Nadia berada di atas bus yang akan mengantarnya pulang. Hari hampir menjelang malam. Nadia memutuskan untuk bekerja. Walau ia merasa berat, dan sering mengalami quilty mom syndrome. Rasa bersalah, karena sering meninggalkan anaknya dan suaminya yang lagi sakit. Keuangan mereka sudah terdesak. Satu persatu barang berharga sudah terjual, termasuk kendaraan roda dua yang mereka miliki. Itulah sebabnya ia pulang pergi naik bus.
Seorang wanita berambut pendek, tanpa riasan mengenakan baju kaos dan celana panjang, menggelantung di pintu belakang bus. Sungguh menarik perhatiannya. Tak banyak wanita yang berani menjadi kondektur. Mungkin dia terdesak. Menghilangkan rasa gengsinya, demi sesuap nasi bagi keluarganya. Dan tetap survive dengan hidupnya. Sementara dia? Haruskah lembek dalam menjalani hidupnya yang sekarang? Tiba tiba dia merasa bersyukur masih bisa mendapatkan pekerjaan yang baik dan layak. Di sebuah kantor ber ac, walau dia harus memulai lagi kariernya dari awal.
Memang tak mudah menjalani hidup seperti ini. Disamping bekerja, dia harus mengurus putri dan suaminya, yang kini tidak normal keadaan fisiknya. Apalagi suaminya kini lebih sensitive dibanding dulu, sewaktu masih sehat. Nadia bisa merasakan kalau kepercayaan diri Mas Win terganggu akibat lumpuh yang dideritanya, yang lebih membutuhkan perhatian dan dorongan. Namun dia tak bisa memenuhinya karena kesibukannya. Dirinya kini tak ubahnya merpati yang kehilangan sayapnya. Namun dia harus kuat agar bisa tetap terbang mengarungi hidup yang penuh cobaan ini. Nadia berusaha menjalaninya dengan ketulusan hati. Serta mencoba berpikir positif untuk menerima semua ini.
Nadia sudah sampai dirumah lebih cepat dari biasanya. Dia agak terkejut mendapati ibunya tengah asyik bermain dan bercanda bersama putrinya. Wajah Ibu begitu bahagia. Belum pernah ia melihat wajah Ibu sebahagia ini. Nadia tak ingin mendekat, takut mengganggu mereka. Namun Ibu keburu melihatnya, dan menghampirinya.
“Nadia ,” ia mendengar Ibu memanggilnya dengan hati-hati.
“Sebenarnya Ibu kemari untuk menwarkan bantuan uang. Kamu pasti membutuhkannya.”
“Nadia belum merasa perlu Bu. Nadia kan sudah bekerja. Ibu simpan saja uangnya.”
“Kamu serius? Ibu tahu, kamu membutuhkan banyak biaya untuk berobat suamimu. Ambillah!” Ibu tetap menyodorkan sebuah amplop padanya. Nadia tetap menolak. Ada perasaan malu dihatinya. Mungkinkah Ibu ingin membuktikan padanya bahwa dulu dia melepas karirnya yang tengah menanjak, bukanlah pilihan yang tepat. Kalau ternyata kini dia menghadapi masalah seberat ini.
Takdir hidup siapa yang tahu. Sedikit pun tak ada rasa penyesalan dihatinya. Dia merasakan kebahagiaan di hari hari yang lalu. Dan berusaha untuk tetap bahagia dihari ini.
“Mengapa kau menolak Ibu? Apakah salah Ibu membantumu keluar dari kesulitanmu yang sekarang?” tiba-tiba wajah Ibunya berubah mendung. Tak urung, ia terkejut melihat reaksi Ibunya.
“Ibu hanya ingin kau mau memaafkan kesalahan Ibu, Nadia. Karena pernah membesarkanmu tidak dengan sepenuh hati.”
“Nadia sudah memafkan Ibu. Nadia yakin, Ibu tak bermaksud untuk bercerai dari ayah, hingga membuatku merasa sangat sedih waktu itu. Sudahlah Bu, buat apa diungkit-ungkit lagi,” Nadia berusaha untuk tegar di depan Ibunya. Biarlah semua ini menjadi pelajaran berharga dalam hidupnya. Tiba-tiba timbul rasa penyesalan karena terus menerus menyalahkan Ibu. Walaupun hanya ia pendam di dalam hati. Apa jadinya bila Ibu tahu isi hatinya yang sangat sakit mendapati kedua orangtuanya berpisah disaat ia masih kecil. Hingga dia sempat menyimpan dendam yang cukup lama pada Ibunya itu.
“Dulu nenekmu juga pernah mengalami masalah seperti ini Kakekmu meninggal karena kanker. Dan nenek tidak punya biaya untuk terus mengobati kakek sampai sembuh. Ibu sangat sedih kehilangan kakekmu.”
Nadia mendengarkan cerita Ibunya dengan rasa tak percaya.
“Itulah sebabnya Ibu begitu berambisi untuk dapat hidup mandiri dan layak secara materi. Ibu tak ingin bila suatu saat kehilangan suami, tapi tak emmilki apa-apa seperti nenekmu. Karena rasa takut itulah Ibu lupa telah menelantarkanmu. Maafkan Ibu,” Ibu berkata dengan suara melemah. Lelah dengan hidup yang ia jalani selama ini. Nadia merasa sangat terharu.
“Ibu tak ingin kau menanggung sendiri bebanmu. Kamu bisa mengandalkan Ibu, Nadia,” Ibu berkata sambil berurai air mata.
Ternyata jauh dilubuk hatinya, Ibu tetaplah seorang Ibu yang mencintai anaknya. Bagaimanapun masalalunya, dia merasa wajib untuk berbakti dan memaafkan setiap kesalahannya.
“Baiklah Bu, aku akan menerimanya asalkan Ibu berjanji padaku.”
“Apa itu Nak? Ibu akan memenuhinya walau berat sekalipun,”jawab Ibu kembali bersemangat.
“Tidak berat kok Bu. Nadia hanya ingin Ibu sering kemari mengunjungi kami.”
Ibu tersenyum. Wajah mendungnya hilang. Berganti dengan wajah bahagia. Bahagia yang tak terlukiskan.
Medio oktober 2006
salam cinta untuk ketiga malaikat kecilku balqis, baim dan zakirah

dimuat di majalah paras

Sabtu, 15 Mei 2010

ketika anak demam tinggi




Salah seorang teman baikku mengalami ujian yang cukup berat. Bermula dari panas yang tiba-tiba menyerang anak mereka satu-satunya. Betapa kasihan melihatnya. Dari yang tadinya ceria sekarang terbaring lemah tak berdaya dirumah sakit. Tapi yang paling membuat mereka kalut adalah saat panasnya sudah turun dan dibawa pulang kerumah, gak tahunya 2 hari kemudian panasnya naik lagi ditambah kejang-kejang. Sebagai seorang ibu, aku dapat merasakan kepanikan dan kecemasan dari mata mereka.
Akhirnya setelah dirawat 3 hari, dokter mengatakan menyerah dan memberi rujukan untuk dibawa kerumah sakit yang lebih besar dan lengkap fasilitasnya. Mereka pun pusing tujuh keliling. Darimana lagi mencari uang untuk biaya berobat? Padahal suaminya hanya karyawan biasa yang gaji bulanannya tak seberapa. Karena sudah tak sanggup lagi, mereka pun memutuskan untuk membawa anaknya pulang kerumah.
Aku pun berpikir, betapa kasihannya bila orang kecil mengalami sakit parah. Dimana rumah sakit yang mau dibayar gratis? Apalagi bila dirujuk kerumah sakit swasta. Sekalipun ada, pastinya urusannya agak ribet. Akhirnya anak mereka diobati dengan cara kampung saja. Untunglah warga kampung mau membantu. Ada yang membantu secara materi dengan urunan semampunya. Dan bantuan moril seperti menunggui anaknya yang sakit sewaktu dirumah sakit juga ketika sudah pulang kerumah. Hingga temanku itu merasa mendapatkan dukungan.
Setelah beberapa hari diobati dirumah, suatu hari anaknya mendadak diam seperti tak bernyawa. Namun kedua matanya terbuka lebar. Mereka pun bertambah stress dan begitu tertekan melihat kondisi anaknya. Lagi lagi warga kampung terus membacakan doa dan syalawat dikuping anaknya yang terlihat seperti orang yang tengah sekarat. Ya Alllah…sungguh tak sampai hati melihatnya. Diam-diam aku berdoa didalam hati agar penyakit anaknya segera diambil saja, agar penderitaanya berkurang. Jangan dulu kau ambil anaknya ya Rabbi. Rasanya berat sekali bagi temanku kalau sampai kehilangan anak satu-satunya. Mengingat selama ini begitu susahnya dia memiliki anak.
Terus terang, aku jadi ikut tidak tenang. Naluri seorang ibu tiba-tiba terasa begitu dalam. Sehingga aku pun bolak-balik melihat perkembangan anaknya. Syukurlah setelah diobati oleh orang pintar dengan dibacakan ayat-ayat suci alqur’an anaknya bisa tertidur pulas dengan mata terpejam. Setelah beberapa hari selalu terbuka. Menurut dokter panasnya sudah mempengaruhi syaraf otaknya. Itulah yang membuat anaknya sulit memejamkan mata.
Setelah merasa sedikit tenang, kembali temanku dilanda kepanikan yang amat sangat. Tiba-tiba saja anaknya tak mau makan dan minum susu. Yang lebih tragis lagi, sebentar-sebentar tangannya terkepal dan badannya mengejang seperti menahan rasa sakit yang amat sangat. Dan itu berlangsung terus sampai hari ketiga. Malah sekarang matanya membelalak keatas. Dan mulutnya miring kesamping. Dan benar saja. Keesokan harinya, temanku menyampaikan dengan berurai air mata bahwa anaknya diambil kembali oleh Yang Kuasa.

Menghadapi anak yang demam, apalagi sampai demam tinggi tentu membuat kita panik. Kebetulan ketiga anak saya berbeda-beda daya tahan tubuhnya. Anakku yang pertama walau panasnya sudah tinggi tapi masih kuat. Sedangkan anak keduaku bila panas tinggi akan mengalami kejang-kejang. Untuk itulah sebagai seorang ibu, kita harus mengenal tabiat masing-masing anak. Usahakan selalu sedia obat panas dirumah untuk berjaga-jaga.
Bila demam tak juga turun lebih dari tiga hari, segeralah bawa berobat ke dokter untuk diperiksa darahnya. Karena bisa saja anak kita terindikasi demam berdarah, typus, atau penyakit serius lainnya. Terkadang saat anak mau tumbuh gigi ada juga yang tidak kuat sehingga menjadi demam. Contohnya anak saya yang paling kecil. Setiap giginya mau tumbuh, biasanya bisa demam sampe tiga hari. Demam bisa juga terjadi karena anak kita baru diimunisasi. Terutama imunisasi dpt. Hanya saja demam seperti ini tidaklah bahaya. Kita hanya perlu minta obat penurun panas pada bidan atau dokter tempat anak kita diberi vaksin tersebut.
Usahakan saat anak demam, jangan memakai baju yang serba tertutup dan tebal. Pakailah baju yang nyaman dan tipis serta terbuka. Apalagi sampai disekap atau diselimuti. Bisa- bisa hawa panasnya masuk kedalam tubuh. Bisa tambah bahaya. Lebih baik lagi bila demam masih tinggi setelah diberi obat, segera kita kompres dengan air hangat, bukan air dingin. Untuk menyesuaikan dengan suhu tubuhnya. Semoga bermanfaat pengalaman yang saya bagikan ini.

Minggu, 02 Mei 2010

mental yang juara


Belakangan ini semakin semarak diadakannya aneka lomba. Baik itu lomba menyanyi, menulis, menggambar, juga lomba yang lainnya. Selain persiapan yang matang, kesiapan mental juga sangat diperlukan. Dan mental juara itulah yang harus dimiliki oleh setiap peserta lomba. Dengan begitu, akan tumbuh semangat untuk menjadi pemenang. Seseorang yang memiliki mental juara tentu memilki rasa percaya diri yang tinggi, karena merasa usaha dan persiapan dilakukan semaksimal mungkin, agar memenuhi syarat untuk menjadi seorang juara.
Namun bila segala usaha telah dilakukan tapi akhirnya kita tak terpilih sebagai pemenang, akankah kita menghujat orang lain atas kekalahan kita? Menganggap telah terjadi kecurangan atau adanya indikasi pilih kasih misalnya. Atau dengan sombongnya mengatakan bahwa seharusnya sayalah yang jadi juara, karena merasa telah melakukan yang terbaik. Dan beranggapan hasilnya juga yang terbaik diantara peserta lainnya.
Kita lupa bahwa yang kalah bukan diri kita seorang. Yang lain juga merasakannya. Apakah mereka juga menggugat juri atau pihak penyelenggara lomba? Menyadari tak sedikit jumlah peserta yang ikut, bahkan bisa ribuan orang. Jadi wajar kalau juri harus memilih salah satu peserta terbaik diantara yang terbaik. Yang harus kita ingat adalah seandainya kita menang, sudah pantaskah kita menjadi pemenang? Dan bila kita kalah, mungkin kita belum pantas untuk keluar sebagai pemenangnya. Bukankah dalam sebuah lomba harus ada yang kalah dan yang menang? Dan itu merupakan sebuah keharusan. Yang terpenting bukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Tapi mental untuk menerima kekalahan dan kemenangan itu sendiri. Barulah seseorang bisa dikatakan memiliki mental yang juara.

Kamis, 22 April 2010

hidup bahagia dengan cara sederhana




Siapa sih didunia ini yang tak ingin hidup bahagia? Berbagai cara ditempuh untuk meraih kebahagiaan tersebut. Ada yang beranggapan dengan memiliki harta dan uang yang banyak, maka kebahagian bisa dibeli. Tak perduli apakah cara yang ditempuh ujung-ujungnya tak akan melahirkan sebuah kebahagiaan yang dicari.
Orang tua yang super sibuk mencari nafkah dengan alasan demi memberi kebahagiaan buat keluarga lewat hidup yang mapan. Tapi lupa kalau anggota keluarga anak atau istri misalnya tak hanya butuh materi, tapi juga perhatian dan kasih sayang, yang tak didapat saat waktu suami atau istrinya lebih banyak diluar rumah
Seorang suami yang melakukan korupsi demi memenuhi tuntutan dari diri sendiri atau pasangannya dengan pemikiran bahwa uang banyak yang diterima secara tidak halal akan membahagiakan karena bisa membawa mereka jalan-jalan keluar negeri atau membeli mobil mewah dll.
Kita pun jadi bertanya-tanya, apakah sebatas itu definisi sebuah kebahagiaan? Berarti kebahagian itu didapat dari luar diri kita, bukan dari dalam diri kita. Padahal rasa bahagia lahir dari dalam diri seseorang. Tak perduli dia kaya atau kekurangan. Cantik atau jelek. Cacat atau normal.
Kalau seseorang yang memiliki banyak harta bisa bahagia itu hanyalah sebuah efek dari usaha keras yang dia lakukan. Harta Bukanlah salah satu sumber bahagia. Banyak kok orang yang hidup dalam kemiskinan tapi masih bisa tersenyum dan tertawa, meski mereka merasa hidup ini berat dan penuh perjuangan. Tatkala mereka merasa bersyukur dengan melihat kebawah bahwa masih ada yang lebih susah lagi. Seorang yang cacat masih bisa menjalani hidup dengan tersenyum karena rasa syukur masih diberi oleh Tuhan kesempatan hidup, dibandingkan dengan orang-orang yang menderita sakit berat seperti kanker .
Jadi apapun keadaan kita, berupayalah untuk menyederhanakan arti sebuah kebahagiaan. Dengan melahirkan rasa syukur setiap saat, dengan berupaya untuk tak melihat ke atas terus. Semoga kita tak menjadi orang yang kufur nikmat. Bukankah Tuhan pernah berjanji bahwa Dia akan menambah nikmatnya bagi orang-orang yang tahu bersyukur. Sungguh sederhana yang dipinta olehNYa.
Iir di http://seuntaikatahati.blogspot.com

Senin, 05 April 2010

membeli laki-laki



Perasaanku campur aduk menjadi satu. Antara marah, juga malu. Meski Mande sangat senang karena Apaknya (adik lelaki Abak)berhasil mencarikan calon untukku. Marah, kenapa sih nasibku harus berakhir seperti ini? Malu, disaat usiaku sudah melewati kepala tiga, belum juga ada lelaki yang bersedia menikah denganku.

“Sudahlah, Pik. Apak kira, Mandemu bermaksud baik. Dia hanya khawatir anak padusinya hidup melajang terus.”

“Tapi Apak, tidak dengan cara seperti ini! Memangnya, Upik tidak bisa mencari sendiri sampai harus dijodoh-jodohkan? Sekarang kan, bukan lagi jaman Siti Nurbaya!”

“Kamu belum melihat calonnya Pik! Selain lulusan sarjana, dia juga seorang yang baik dan taat beragama. Meski sifatnya agak pendiam. Tapi Apak yakin, kamu bisa mengimbanginya setelah menjadi istrinya kelak.”

“Upik tetap akan mencari sendiri lelaki pilihan Upik, tanpa perlu dijodohkan seperti ini. Upik gengsi Apak!”

“Kamu tak perlu gengsi Pik. Ini baru tahap perkenalan saja. Bila hati Upik tak jua tertawan padanya saat dipertemukan nanti, yah tidak akan dipaksa.”






Aku hanya diam terpaku mendengar jawaban diplomatis dari Apak. Walaupun hatiku berontak karena merasa Apak terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadiku. Bukankah hati tak bisa dipaksakan? Tapi mengingat Apak sudah bersusah payah mencarikan lelaki yang pantas untuk menjadi pendamping hidupku, aku akhirnya menurut juga.

Aku sadar, bila aku tak segera menikah, Mande akan berkecil hati. Mengingat sudah lama Mande ingin menimang cucu dari anak semata wayangnya ini. Apalagi selama ini, Mande harus berjuang seorang diri dalam membesarkanku, hingga aku berhasil menjadi guru di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta.

“Tugas Mande sebagai seorang ibu rasanya belum sempurna sebelum melihat kamu menikah Nak,” begitu selalu ucap Mande padaku.

Bukannya Aku tak pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Sebagai anak yang berbakti, dulu aku tak ingin menentang Abak.

“Abak hanya ingin melihat anak padusi Abak satu-satunya menikah dengan Urang Awak juo.”

“Kenapa harus dengan Urang Awak Bak? Lelaki yang bukan satu suku sama kita juga banyak yang berkualitas. Baik dari segi kepribadiannya, juga ibadahnya,” Aku mencoba mendebat Abak.

“Masalahnya tidak sesederhana itu Pik. Kalau kamu nanti menikah dengan lelaki yang bukan urang awak, maka kebanggaanmu sebagai anak padusi disuku kita akan musnah. Kamu kan tahu, orang padang pariaman menganut aliran matrilineal yang kuat.”

“Maksud Abak apa?”


“Dalam suku kita, anak padusilah yang dominan kedudukannya. Tak hanya menerima warisan lebih banyak dari anak laki-laki, juga…”

“Punya kuasa membeli laki-laki. Iya kan Bak?”

“Bukan membeli, hanya membayar uang lamaran karena pihak padusilah yang melamar.”jawab Abak tersenyum bijak.

Sungguh! Aku tak bisa lupa kata-kata Abak itu. Meski dihati kecilku, aku tak suka kalau dalam melamar pria pilihan hati, harus disesuaikan harga pinangannya dengan tingginya pendidikan dan jabatannya. Seperti sebuah barang saja, yang bisa ditawar-tawar. Tapi tradisi membeli laki-laki (membayar uang lamaran dari pihak wanita) masih berlaku sampai sekarang di suku Pariaman.

Suatu hari, ada urang awak yang senang padaku. Dan akupun tertarik padanya, karena pribadinya yang ramah dan supel. Tapi nasib baik tak berpihak padaku. Lelaki yang kukira serius menjalin hubungan denganku itu, ternyata tak bersedia untuk diajak berumah tangga, dengan alasan belum siap.

Aku pikir, dia hanya ingin bersenang-senang saja denganku. Setelah hampir dua tahun kami bersama, tak jua ada kepastian darinya untuk mengikat hubungan kami dalam sebuah lembaga yang bernama pernikahan. Akhirnya, kutinggalkan lelaki yang tak memiliki komitmen itu.

Tak lama kemudian, akupun berkenalan dengan seorang lelaki yang benar-benar memenuhi kriteria dimataku, juga dimata Abak. Selain pintar, tampan, dan tekun beribadah, dia masih keturunan urang awak juga. Kepribadiannya juga baik dan menarik. Dan yang terpenting, dia serius untuk menjadikanku sebagai istrinya.



Namun, siapa yang bisa melawan takdir! Satu bulan sebelum pernikahan, lelaki yang kuharapkan bisa menjadi imamku itu, dipanggil Tuhan dengan cara yang sangat mengenaskan. Mati tertabrak mobil saat pulang dari kampung halamannya. Ketika ingin meminta restu dari kedua orang tuanya.

Abak pun menghibur hatiku dengan mengatakan mungkin dia bukanlah jodohku.Hingga Aku bisa kembali menjalani hari-hariku dengan hati yang lapang. Setelah sebelumnya tak bisa menerima kenyataan, akibat rasa terpukul yang amat dalam. Tapi sekarang, Abak tak lagi bisa menghibur hatiku yang sangat kesepian, karena masih sendirian diusiaku yang sudah sangat matang untuk menikah.

Pagi ini aku harus bersiap-siap untuk mengikuti Mande ke rumah calon suamiku. Tak ada salahnya aku mengikuti ajakan Mande, demi menyenangkan hatinya. Soal aku bersedia atau tidak, itu perkara nanti. Yang penting, aku bisa melihat lagi rona bahagia diwajah Mande. Setelah sekian lama tak aku dapati keceriaan diwajah keriputnya.

Dalam hati, aku merasa sangat bersalah bila kali ini tak bisa memenuhi harapannya. Sebagaimana aku juga menantikannya. Masalahnya, aku tak mudah untuk berbagi cinta dengan seorang pria. Siapa sih yang tak ingin hidup berbahagia sampai kakek-nenek dengan orang yang ia sayangi?

“Upik! Udah belum dandannya? Nanti kita kesiangan sampai dirumah Bagindo Sulaiman,”ucap Mande dari luar kamar.

“Sebentar Mande. Upik lagi membenarin kerudung,”jawabku sambil menarik nafas yang dalam.

Tampaknya, Mande sudah tak sabar ingin segera bertemu calon mantunya. Semoga Allah mengabulkan doa-doa Mande agar aku segera mendapatkan pendamping. Walaupun dengan cara seperti ini. Terus terang, aku sendiri tak lagi mempermasalahkan kesendirianku. Bagiku, jodoh sudah ada yang mengatur. Mau nikah di usia kepala empat
sekalipun, tak menjadi soal bagiku. Namun, Mandelah yang menjadi beban pikiranku. Aku tak ingin lagi mengecewakan hatinya yang lembut dan penuh kasih itu.

Dengan tergesa-gesa aku keluar dari kamar, saat Apak ikut memanggilku. Dia juga tengah menungguku diluar. Rencananya, kami akan pergi naik mobil kijang miliknya. Begitu sudah berada didalam mobil, Mande tak pernah berhenti menatapku dengan wajah sumringah..

“Begitu mengenal Zainal, kamu pasti jatuh hati Pik,” ucap Mande sambil melirikku. “Dia anak yang sopan dan hormat sama orang tua.”

Aku hanya diam membisu. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. Mungkin aku kelewat nervous. Jantungku masih berdegup kencang meski aku telah berusaha sekuat tenaga menetralisir perasaan gugupku. Ketika mobil Apak sudah memasuki halaman rumah Uda Zainal, jantungku semakin bertambah kuat degupnya.

Ya Tuhan…hilangkanlah kepanikan didalam diriku. Panik, kalau-kalau perjodohan ini tak berjalan seperti yang aku dan Mande harapkan.

“Pik…kamu tak perlu cemas. Semuanya akan berjalan dengan baik,” Apak berkata setelah kami turun dari mobil. Seolah mengerti apa yang tengah kurasakan.

“Iya Apak. Upik tahu apa yang terbaik buat hidup Upik.” Akupun kembali tersenyum sambil menggamit tangan Mande untuk segera mendekati rumah bercat biru laut didepanku. Begitu sampai di depan pintu, Mande mengucapkan salam. Tak lama kemudian, keluarlah seorang wanita yang kutaksir umurnya tak jauh beda dengan Mande.

“Ini si Upiak?” Amboi, Rancak bana Wa-ang! Anak Ambo pastilah tertarik.”

Aku hanya tersipu-sipu malu mendengarnya. Dengan ramah, wanita tua dihadapanku mempersilahkan kami masuk. Dengan sedikit enggan, aku mengikuti Mande duduk di kursi ruang tamu. Tanganku rasanya dingin semua. Bagaikan seorang terdakwa yang duduk di kursi persidangan. Menunggu nasib hidupku selanjutnya, yang sebentar lagi akan diputuskan.

Lalu, menit-menit berikutnya kami menunggu seorang pria yang sebentar lagi akan keluar menemui aku, Mande dan Apak diruangan ini. Sedangkan wanita ramah tadi masuk kedalam. Mungkin segera memanggil anak lelakinya. Tak lama kemudian,

“Iko Zainal anak Ambo yang paling tuo.” Laki-laki didepanku tersenyum manis kearahku, sebelum akhirnya duduk berhadapan denganku. Tak kuduga, wajahnya sangat tampan! Mirip bintang film KCB 2, dengan janggut tipis didagunya. Dalam hati, aku bersorak penuh kegirangan. Apak memang jempolan dalam mencarikan calon untukku. Selera Apak benar-benar tinggi! Tapi, apa dia juga suka denganku. Akh…kita lihat saja nanti, ucap suara didalam batinku.

“Memangnya, Uda belum pernah punya kekasih sebelumnya? hingga diusia 35 tahun belum menikah,” tanyaku saat kami sedang ngobrol berdua saja. Sementara Mande dan yang lainnya pergi keruangan lain. Mungkin sengaja, agar kami bisa saling mengenal lebih dekat lagi.

“Yah, begitulah! Bukannnya tidak ada yang mau hanya saja, Uda kelewat sibuk bekerja, hingga tak punya waktu buat pedekate dengan seorang gadis,” jawabnya serius.

“Upik sendiri bagaimana?” tanyanya lagi dengan hati-hati.

“Terus terang, Upik pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan seorang pria. Tapi semuanya tak pernah sampai ke pelaminan.” Aku pun menceritakan pengalaman pahitku padanya. “Mungkin belum berjodoh Da,” aku mengakhiri ceritaku dengan perasaan sendu.

“Mudah-mudahan kita berjodoh ya, Pik,” ucap Uda Zainal spontan. Aku yang mendengarnya tak urung menjadi malu. Wajahku pun bersemu merah, karena berbunga-bunga. Amin…doaku didalam hati. Tak terasa, hampir dua jam Aku dan Uda berbincang-bincang. Kami pun segera pamit pulang.

Ternyata, Uda Zainal asyik diajak bicara, meski orangnya serius dan agak pendiam. Dan aku berusaha untuk terus memancing pembicaraan, agar suasana tidak bertambah kaku. Dan hari-hari berikutnya kami saling ngobrol lewat telepon genggam. Sebab Uda Zainal orang yang sangat sibuk. Hatinya pun semakin tertawan dengan Uda Zainal. Begitu juga sebaliknya. Uda Zainal mengaku serius berhubungan dengannya.

Hingga disuatu hari yang cerah, aku mendekati Mande. “Jadi, kapan kita membeli Uda Zainal Mande,” tanyaku tak sabar.

“Apa maksud Upik?”

“Memang, Mande belum menanyakan berapa harga pinangan yang harus kita bayar untuk melamar Uda Zainal?” tanyaku sekali lagi dengan penasaran.

“Itulah masalahnya Pik! Mereka tidak mau menerima uang lamaran yang Mande ajukan,” jawab Mande dengan serius.

“Masak hanya gara-gara tak cocok harga mereka menolak kita Mande! Upik tak mau patah hati lagi, karena urung menikah untuk yang ketiga kalinya,” tanpa dikomando, akupun menangis sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Herannya lagi, Mande bukannya menghiburku, malah tertawa tergelak-gelak.

“Pik, Pik… Mande kan belum selesai bicara, kok kamu langsung tersurut begitu. Zainal itu memang orang padang, tapi bukan padang pariaman. Jadi, merekalah yang melamar kamu, bukan kita. Dan besok, akan datang iring-iringan pelamar dari keluarga si Zainal. Kamu siap-siap aja.”

Duh! Betapa malunya aku. Karena begitu inginnya menjadi istri Uda Zainal, sampai-sampai menyuruh Mande agar segera membelinya. Bagaikan benda yang sangat berharga. Dan benda berharga itu adalah cinta Uda Zainal padaku.

Catatan :
Mande : Ibu
Abak : Ayah
Padusi : anak perempuan
Uda : abang
Urang awak : suku kita
Rancak bana wa-ang : cantik sekali kamu
Ambo : Aku
Iko : ini
Paling Tuo : anak pertama/sulung

dimuat di annida-online

Rabu, 10 Maret 2010

bukan pernikahan cinderella



Akhirnya,

Putri Cinderella menikah dengan Sang Pangeran. Mereka pun hidup berbahagia

untuk selama-lamanya. Ever after… Dia terus bermimpi akan mengalami pernikahan

bak cerita Cinderella. Tapi pertukaran

nasib yang ia alami, membuatnya tak ingin lagi bermimpi.



Pagi menggeliat. Matahari mulai merangkak

perlahan-lahan. Denyut kehidupan pun dimulai. Seperti biasanya, Mas Adrian

masih tertidur pulas. Seakan-akan larut dalam mimpi yang tak berkesudahan. Dia

tak ingin membangunkannya. Akh…kapan suaminya sadar bahwa memilih-milih

pekerjaan, tak akan bisa menyelamatkan hidup mereka, yang semakin hari semakin

terdesak oleh himpitan ekonomi? Padahal perut setiap hari minta diisi. Dia

mendesah pilu.



Dia harus bergegas

untuk pergi ke rumah gedung diujung jalan. Bekerja sebagai pembantu rumah

tangga. Sebelum pergi, dia harus mempersiapkan sarapan dan makan siang dulu

buat suaminya, mengingat dia baru pulang disore hari.



Siapa mengira,

dulunya dia membayar gaji beberapa orang pembantu. Sekarang, dialah yang harus

dibayar. Pertukaran nasib telah menggeser kedudukannya.



Dia

mempercepat langkahnya, takut diomelin lagi oleh majikannya bila datang

kesiangan seperti kemarin.



“Tumben

sepagi ini kamu sudah datang,” seorang wanita pesolek berkata sinis padanya.

Dia hanya bisa tertunduk malu mendengarnya. Haruskah dia memberitahu Nyonya

besar ini? Bahwa dia harus membereskan rumah kontrakannya dulu, juga

mempersiapkan makan suaminya sebelum kesini. Tak ingin mendapat sindiran lebih

tajam lagi, segera dia masuk untuk melakukan tugas rumah seperti biasanya.



Tugasnya

dimulai dari mencuci baju secara manual, karena mesin cucinya rusak sebulan

yang lalu. Tepat awal mula dia bekerja disini. Mengapa majikannya tak mengganti

mesin cucinya yang rusak dengan yang baru? Padahal Nyonya tersebut mampu

membelinya. Meski hatinya penuh tanda tanya, tetap dia mencuci, meski tangannya

perih karena tidak terbiasa terkena detergen. Seperih hidup yang kini ia

jalani.



Dia

harus secepatnya menyelesaikan cucian, sebab masih banyak tugas lain yang

menunggunya. Setelah ini dia harus berbenah. Menyapu, melap setiap perabotan

juga jendela yang kotor, dan mengepel rumah besar berlantai dua ini sendirian.

Lagi-lagi hatinya memberontak. Mengapa rumah sebesar ini hanya mempekerjakan

seorang pembantu? Belum lagi taman yang lumayan luas yang harus ia sapu dan ia

urus.



Setelah

semuanya beres, dia harus menyetrika setumpuk pakaian. Setelah itu, memasak

makan siang untuk kedua anak majikannya. Sore hari dia berbenah lagi. Sebelum

pulang, dia kembali memasak untuk makan malam. Dia pun pulang ke kontrakan

dengan tubuh yang penat tak tertahankan.



Biduk rumah tangga yang ia jalani bersama Mas

Adrian, tak semanis dan tak seindah dulu lagi. Pada awal mereka menikah, Mas

Adrian adalah seorang pangeran baginya. Mapan, berkedudukan, romantis, tampan,

dan masih keturunan darah biru. Menempati rumah megah berlantaikan marmer

mengkilat. Dengan anak tangga yang meliuk-liuk indah hingga ke lantai dua,

kamar tidur mereka.



Perabotan-perabotan

merek bergengsi tertata secara elegan. Springbed empuk berharga puluhan juta,

mengisi kamar tidur mereka. Empat orang pelayan siap melayani mereka setiap

saat. Mulai dari tukang cuci, tukang masak, tukang kebun dan supir pribadi.

Hidup yang ia jalani persis dalam cerita dongeng. Tapi, buat apa mengingat

kemewahan yang sudah tak bisa dimiliki lagi? tanya suara hatinya.



Semenjak

perusahaan keluarga yang dipercayakan pada suaminya jatuh bangkrut, semua

kesenangan itu ikut amblas bersama mimpi-mimpi yang pernah mereka jalani. Kini,

mereka harus bangun menghadapi dunia realita. Lalu, bagaimana dengan Mas Adrian

sendiri? kapankah dia bangun menghadapi hidupnya? Apalagi keluarga besar Mas

Adrian sudah membuang suaminya, karena dianggap telah gagal dalam keluarga.



Sekarang,

mereka menempati kamar kontrakan yang sempit dengan perputaran udara yang tak

sehat, karena harus berhimpitan dengan rumah-rumah petak yang rapat. Udara

panas yang terasa, tak lagi bisa didinginkan dengan AC. Steak, bistik, serta

berbagai menu lezat lainnya, tak mampu lagi terhidangkan. Berganti dengan tempe dan tahu. Bahkan

disaat kepepet, hanya makan nasi berlaukkan garam.



Berlibur

keluar negeri, hanya tinggal kenangan manis yang tak bisa terlupakan.

Fasilitas-fasilitas yang memanjakan, terbang begitu saja. Tak ada lagi mobil

sedan yang bisa mengantarkan mereka ketempat-tempat yang ia dan suaminya

inginkan. Handphone kamera super canggih--televisi 29 inci berflat

datar--lemari pendingin super eksklusif, juga barang elektronik mahal lainnya

sudah tergadaikan. Termasuk istana mewah mereka. Demi melunasi hutang pada bank

dan para investor, juga dengan debt collector, yang selalu menteror dengan

kata-kata yang mengancam, dengan kepala mendidih dipenuhi kemarahan.



Pakaian

yang mereka pakai bisa dihitung dengan jari. Tak lagi tersimpan dilemari kayu

jati berukiran indah. Selain jumlahnya yang tak sebanyak dulu lagi, lemarinya

sendiri sudah tak terbeli semenjak dilelang dengan harga miring. Satu-satunya

harta yang tersisa adalah, kalung

berlian bertuliskan inisial namanya, Nindi Hapsari. Hadiah ulang tahun

pernikahan yang pertama dari suaminya. Akibat mempertahankan kalung inilah, ia

tak gengsi bekerja apa saja, termasuk menjadi pembantu rumah tangga. Agar tak

terjual demi menyelamatkan rasa lapar yang tak pernah mengenal gengsi.



“Sudahlah

Dik, jual saja kalung itu! Mas butuh butuh uang untuk mencari kerja.”



“Tapi

Mas, ini satu-satunya kenangan darimu. Adik tak ingin barang berharga ini ikut

tergadai. Biar sementara ini Adik bekerja saja, agar bisa memenuhi kebutuhan

hidup kita.”



“Ya

sudah kalau begitu, terserah Adik saja.”



Hati

ini rasanya tak siap mendengar jawaban Mas Adrian. Sebenarnya, dia ingin Mas

Adrian mengkhawatirkannya seperti dulu.



“Jangan

Dik, nanti tangan lembutmu menjadi kasar kalau mencuci baju. Biar tukang cuci

saja yang mengerjakannya.” Yah… dulu dirinya diperlakukan bagai seorang putri

oleh suaminya. Segala sesuatunya selalu dilayani. Tapi sekarang? dia bekerja beratpun, Mas

Adrian seperti menutup mata. Bagaimanapun, dia harus tetap survive dengan

hidupnya. Tidak boleh cengeng dan harus kuat, meski belum terbiasa bekerja

berat.



Dia

ingat, bagaimana susah dan malunya mencari pinjaman uang kesana-kemari.

Sedangkan Mas Adrian sendiri lebih betah menunggu panggilan kerja dikantor,

daripada bekerja yang lain. Tapi, dimanakah penghormatan suaminya padanya kini?

Yang tak terusik kala dia harus mempertaruhkan harga diri, untuk berhutang demi

hidup sehari-hari, juga demi memenuhi kebutuhan hidup suaminya. Mulai dari uang

rokok, uang transport, juga uang untuk ngerental ke warnet. Memang, Mas Adrian

lebih betah di warnet seharian daripada bekerja apa saja untuk menutupi biaya

hidupnya yang tak sedikit.



“Mas

harus sering-sering ke warnet Dik. Selain mencari imformasi kerja, Mas harus

mengirimkan surat

lamaran lewat e-mail. Mas yakin, diantara sekian puluh lamaran, pasti ada satu

dua yang keterima.”



dia

hanya mampu diam seribu bahasa, setiap kali mendengar alasaan Mas Adrian.

Padahal, sudah 6 bulan lebih tak jua ada

panggilan. Semoga suaminya bisa diterima bekerja dikantor sesuai keinginannya.



Dia juga tak

ingin selamanya menjadi pembantu rumah tangga. Sebab bila Maminya tahu

pekerjaannya yang sekarang, bisa–bisa Mami menangis dan segera memaksanya

pulang. Padahal apapun yang terjadi, dia tak akan sanggup meninggalkan Mas

Adrian sendiri. Dia akan tetap mendampingi Mas Adrian, dalam keadaan susah

maupun senang. Seperti mimpinya mengenai pernikahan. Tetap hidup langgeng

selamanya. Ever after…





Pagi ini

terlihat lebih bersemangat dari pagi-pagi sebelumnya. Mas Adrian diterima bekerja di salah satu kantor

ternama!



“Dik,

baju Mas kurang licin. Ayo setrika lagi!”



“Iya

Mas,” jawabku dengan senyum cerah.



“Dik,

air hangat untuk Mas mandi sudah dimasak belum?”



“Sudah

ada dikamar mandi Mas,” jawabku lagi masih dalam suasana hati senang.



“Oh,

ya Dik. Kamu sudah pinjam uang untuk transport Mas kan?”



Lagi-lagi

dia mengangguk. Mas Adrian

tersenyum puas mendapati semuanya beres. Untung majikannya mau meminjamkan uang

lagi. Meski setiap bulan gajinya harus dipotong. Tapi tak mengapa. Bukankah

mulai bulan depan, Mas Adrian sudah menerima gaji pertamanya? Batinnya riang.



Setelah

suaminya pamit, dia pun segera melesat ke rumah majikannya di ujung jalan.

Semoga bulan ini terakhir kali dia bekerja sebagai babu. Kalau boleh memilih,

dia ingin bekerja sesuai dengan kemampuannya. Bagaimanapun, ijazah D3 nya masih

bisa diandalkan. Berhubung terdesak sajalah, dia mau melakoni kerja berat

seperti ini. Syukur-syukur Mas Adrian bisa langgeng sampai akhirnya naik

jabatan. Sehingga dia dan suaminya bisa bangkit dari keterpurukan hidup, mseki

tak semewah dulu lagi. Kedepannya, dia sangat ingin memiliki buah hati. Agar

lengkaplah kebahagian hidup mereka.



Dua minggu sudah suaminya bekerja. Sore ini, dia

ingin secepatnya sampai dikontrakan. Tapi, mengapa wajah suaminya tak terlihat

bahagia?



“Mas tak betah

kerja diperintah-perintah seenaknya.”



Alasan itu

keluar dari mulut suaminya, saat dia bertanya mengapa tak mau melanjutkan

kontrak kerjanya? Dia pun kembali

menangis di dalam hati. Sebab nasib baik, belum mau bertukar dengannya. Mas Adrian memutuskan keluar

dari pekerjaannya. Padahal belum satu bulan dia bekerja. Yang lebih menyedihkan lagi, gaji Mas Adrian tak dibayar,

karena suaminya sendiri yang memutuskan untuk keluar.



Pagi ini, dia sudah bersiap-siap untuk pergi.

Dia buka kalung berlian pemberian Mas Adrian. Dengan hati-hati, ditaruhnya

diatas secarik kertas, disebelah Mas Adrian

yang sedang tertiur pulas.



Maafkan Adik Mas. Rasanya, tak ada gunanya

lagi Adik mempertahankan kalung ini. Sepeninggal diriku, Mas bisa menggadaikannya

untuk biaya hidup. Semoga Mas bisa

melihat realita hidup yang sebenarnya. Diapun segera berlalu, tanpa sanggup

menoleh lagi.

dimuat di majalah alia

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut