novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Sabtu, 06 Februari 2010

cobaan dalam memberi asi



Allah akan menguji kesabaran hambanya-Nya. Namun tidak akan menguji diluar batas kemampuannya..Sewaktu hamil anak pertama, aku mengalami cobaan yang lumayan berat. Ditinggal oleh suami bekerja ke Jakarta. Waktu itu aku tengah hamil 2 bulan. Kuputuskan untuk tetap tinggal dirumah orangtua di Medan, karena terlalu riskan rasanya mengikuti suami dalam keadaan hamil muda.

Mulanya aku kira bisa tegar seperti yang kupikirkan. Ternyata setelah menjalani kehamilan tanpa kehadiran suami, rasanya berat juga. Apalagi aku sedang mual-mualnya. Dan baru merasa enak makan setelah hamil 5 bulan. Meski didekat orang tua yang siap memberi dukungan, tetap saja kurasakan berbeda.

Misalnya saja. Keinginan untuk bermanja-manja dengan suami tak tercapai. Belum lagi rasa rindu yang tak bisa kutumpahkan setiap saat. Untungnya suamiku pengertian. Hampir setiap hari dia menanyakan keadaanku lewat telepon. Lewat teleponlah aku bisa bermanja-manja pada suamiku. Tapi, tetap saja ada yang kurasakan kurang.

Terkadang aku ingin sekali saat periksa kehamilan ke bidan, suamiku bisa menemaniku, karena ibukulah yang selalu menemaniku periksa. Atau saat kehamilanku sudah besar, aku ingin sekali dia mengelus-ngelus perutku. Merasakan betapa gesitnya anak kami didalamnya.

Tibalah saatnya melahirkan. Meski sudah diberitahu oleh dokter kapan tanggal dan bulannya anakku akan lahir, tetap saja suamiku belum bisa pulang., karena dia baru diterima bekerja, hingga tidak bisa seenaknya meminta ijin. Apalagi tidak bisa dipastikan kapan tepatnya aku melahirkan. Bisa saja lebih cepat atau mundur dari tanggal yang diperkirakan. Alhasil begitu perutku mules-mules dan sudah pembukaan 2, baru keluarga besarku menelepon suamiku.

Impian agar melahirkan didampingi oleh suami pun tak bisa terpenuhi.. Padahal aku ingin sekali suami berada didekatku, disaat aku berjuang ditengah rasa kesakitan yang baru pertama kali aku rasakan. Jadilah aku melahirkan hanya ditemani oleh ibuku. Setelah anakku lahir, barulah suamiku datang. Meski suamiku sudah berusaha mendapatkan tiket pesawat yang pertama, tapi nyatanya dia baru bisa dapatkan tiket berikutnya, hingga tak terkejar waktunya untuk menemaniku melahirkan anak pertama kami, yang berjenis kelamin perempuan.

Tak sampai disitu cobaan kualami. Sehabis melahirkan aku mengalami babi blues. Memang katanya perempuan yang baru melahirkan hormonnya belum normal kembali. Apalagi suamiku hanya dikasi ijin sebentar. Diapun kembali ke jakarta. Aku baru boleh menyusulnya setelah anak kami berumur lima bulan.

Karena dilanda depresi, aku pun sempat menolak menyusui anakku, ditambah lagi aku kurang percaya diri dalam menyusui. Entah mengapa, setiap hari aku dilanda kecemasan yang amat sangat. Takut anakku sakit atau terjadi apa-apa dengan bayi kami. Belum lagi rasa panik karena takut tidak bisa mengurus sikecil. Kerap aku menangis tanpa sebab. Bawaannya sedih terus. Padahal semuanya baik-baik saja.

Karena lebih sering kuberi susu sapi, akibatnya anakku mengalami alergi. Badannya merah-merah hingga kewajahnya. Tak hanya itu, tinjanya juga keras, sehingga dia kerap menjerit bila ingin buang air besar. Akupun bertambah kalut dan tertekan. Karena harus bolak-balik membawanya ke dokter. Setelah kondisi psikisku normal kembali, aku pun berusaha mengurus sikecil dengan sebaik-baiknya. Tapi yang membuatku merasa bersalah, saat asiku tak lagi keluar karena jarang menyusui. Padahal aku ingin sekali menyusui anakku kembali.

Aku benar-benar merasa bersalah hingga kini. Karena kondisi anak pertamaku yang kini berumur 7 tahun, berbeda dengan kedua adik-adiknya. Dia mudah sakit bila sedang kecapekan atau terkena hujan. Tak jarang dia sesak nafas bila batuknya tak mau berhenti. Dalam hati, akupun bertekad untuk menyusui bila punya anak lagi. Ketika anak kedua lahir akupun menyusuinya dengan penuh percaya diri. Meski hanya sampai usia enam bulan.

Aku berhenti menyusui karena lagi-lagi Tuhan mencoba kami. Tiba-tiba anak keduaku diserang diare yang kronis.Hampir satu bulan kami bolak-balik membawanya berobat. Tapi tak jua sembuh. Sampai dokter menyarankan agar anak kami dirawat inap. Dan setelah tinjanya diperiksa dilaboratorium, ternyata ada virus yang menggerogoti ususnya. Dan virus tersebut sangat asing serta jarang ditemui didunia kedokteran. Hingga anak kami disarankan untuk berpuasa selama tiga hari, agar ususnya diistirahatkan dulu.

Betapa sedihnya menyaksikan putra kami menangis disaat kehausan. Kami tak boleh memberikannya apa-apa, selain obat. Bahkan air putih sekalipun. Aku juga disuruh berhenti dulu menyusuinya. Sebab setiap kususui, anakku langsung mencret. Jadi dia hanya diberi infus saja selama berpuasa, agar kondisinya tidak terlalu lemah.

Aku tak mengerti mengapa tak boleh menyusui anakku. Aku tak ingin berprasangka macam-macam pada dokter waktu itu. Yang ada dipikiranku anakku segera sembuh. Meski belakangan banyak kudengar kritikan dari orang-orang sekitar bahwa tak masuk diakal anak yang sakit tidak boleh diberi asi.

Tapi aku tak mau menyalahkan siapa-siapa. Karena akhirnya anak kedua kami bisa sembuh setelah selesai menjalani puasanya selama tiga hari. Anakku hanya boleh diberi susu kedelai sampai beberapa bulan.Kini setelah berusia 5 tahun, anak keduaku tumbuh sehat. Dia tidak gampang sakit seperti kakaknya. Mungkin karena pernah kuberi asi hingga 6 bulan. Jadi lebih kuat fisiknya.

Disaat hamil anak ketiga, kembali cobaan berat aku alami.Bahkan aku merasa lebih berat dari hamil anak pertama. Tak seperti hamil anak pertama dan kedua. Mual dan muntah yang biasanya hanya kualami selama trimester pertama usia kehamilan, dihamil kali ini aku alami sampai trimester ketiga. Aku sulit makan, karena selalu enek. Belum lagi muntah yang tak kunjung hilang meski usia kehamilanku sudah menginjak sembilan bulan.

Aku begitu stress sebab perut rasanya selalu perih minta diisi, tapi selera makan tak ada karena mual yang selalu datang. Karena siangnya aku tak makan, maka malam hari aku tak bisa tidur karena perut keroncongan. Tak kuduga, suamiku rela bangun tengah malam untuk membuatkan bubur untukku, walau hanya bisa masuk beberapa suap.

Dia juga mau membuatkan teh manis disaat aku ingin makan biscuit saja, walau hanya beberapa potong. Kegiatan lebih banyak kulakukan di tempat tidur, karena kondisi fisikku yang lemah. Bahkan untuk buang air kecil aku harus menggunakan pispot. Sudah empat kali aku dirawat di rumah sakit, karena maagku kumat.

Karena tidak kuat menjalani kehamilanku, aku pun mengalami depresi. Aku kehilangan minat terhadap apapun. Yang kulakukan hanya menangis. Bahkan untuk tersenyum pun aku sulit. Bila ada yang mengajakku berbicara, termasuk suamiku, aku tak berminat untuk menjawab. Aku lebih banyak diam. Tiba-tiba saja aku kehilangan semangat. Aku menjadi pribadi yang lemah dan tidak ikhlas dalam menjalani kehamilanku.

Ditengah kondisi mental yang seperti itu, suamiku tak pernah berhenti untuk memberikan dukungan moril padaku. Mengingatkanku agar sabar dalam menjalani cobaan ini. Penuh kasih sayang dia mengatakan bahwa aku harus ikhlas menerima kehamilanku.

Tak hanya itu, selama di rumah sakit, dengan sabar suamiku menunggui dan merawatku. Sampai-sampai dia sering cuti dari pekerjaannya. Aku sangat terharu melihat sikap suamiku padaku. Baru kusadari, betapa besar cintanya padaku. Sungguh beruntung aku menjadi istrinya. Meski suamiku bukanlah seorang lelaki yang kaya raya.

Karena kondisiku yang lemah, dan anak yang kukandung dalam posisi sungsang, aku pun melahirkan dengan cara dioperasi. Rasa takut akan dioperasipun kualami. Setelah dibius lokal, aku tiba-tiba merasa panik, hingga perutku bertambah mual. Untunglah aku bisa melewatinya.

Anak ketigaku lahir dengan selamat. Meski beratnya pas-pasan yaitu dua kilo setengah, tapi dia terlihat begitu sehat.Sesuai tekadku, aku pun menyusuinya hingga sekarang dia berumur satu tahun lebih. Bahkan susu sapi dari rumah sakit tak kuberikan pada anakku. Sebab aku hanya ingin dia meminum asiku saja.

Meski diawal-awal aku harus menahan sakit karena habis operasi. Aku berniat untuk menyusuinya terus hingga dua tahun. Syukurlah air susuku selalu cukup. Mungkin karena aku semakin percaya diri dalam menyusui, juga dengan tekad yang benar-benar bulat. Hasilnya, anak ketigaku yang berjenis kelamin perempuan sangat gesit dan ceria, meski badanya tergolong kecil.

Sejak lahir hampir tak pernah dia sakit-sakitan. Apalagi batuk atau pilek.Kondisi fisiknya kuperhatikan juga lebih kuat dari kedua kakaknya. Manfaat dari menyusui benar-benar terbukti.Aku sangat bersyukur pada Tuhan, karena telah memberikanku kembali kesempatan untuk menyusui anakku hingga sekarang. Apalagi anak ketigaku ini terlihat lebih cerdas dan sehat dari anakku yang lainnya. Aku begitu bahagia setiap melihat senyum polosnya yang begitu menghibur kami sekeluarga.

Senin, 01 Februari 2010

Kanker telah merenggut nyawa anak kebanggaanku




Tepat tanggal 5 desember empat puluh tahun yang lalu, aku melahirkan seorang anak yang sangat tampan. Kulitnya kuning bersih. Hidungnya mancung dengan rambut ikal yang indah. Kuberi dia nama bintang (bukan nama sebenarnya) Dialah kelak yang akan menjadi bintang yang paling bersinar diantara semua bintang yang aku miliki. Aku akan memulai kisah ini dari cerita hidupku sampai aku memiliki 10 orang anak. Aku menikah karena dijodohkan oleh ibuku, neneknya bintang anakku.

Mulanya aku menolak habis-habisan karena dia seorang duda beranak lima. Bagaimana mungkin ibuku tega menjodohkan aku dengan lelaki yang sudah memiliki 5 anak? Tapi belakangan baru aku tahu bahwa neneknya bintang bermaksud baik, yaitu untuk membahagiakan aku. Menurut neneknya bintang, lelaki itu memang sudah pernah menikah, tapi semua istrinya sudah tak lagi bersamanya. Ada yang diceraikannya, ada juga yang telah meninggal dunia. Masih menurut ibuku, Dia juga lelaki yang taat beribadah, baik, santun, pekerja keras dan bertanggung jawab.

Selama neneknya bintang menjadi tukang masak di restoran milik lelaki 40 tahunan itu, dia diperlakukan sangat baik olehnya. Diam-diam ibuku mengagumi bosnya itu, dan berniat menjodohkannya dengan aku. Apalagi lelaki itu terang-terangan mengatakan kalau dia jatuh hati padaku. Tentu saja lewat ibuku. Ibuku pun mengatur pertemuan kami. Tapi setiap dia datang kerumah sembari membawa bermacam-macam oleh-oleh, aku tetap tak tertarik. Baju, perhiasan berupa gelang, kalung, dan barang mewah lainnya yang ia bawa khusus untukku, satu pun tak ada yang menarik hatiku. Tapi aku tak pernah menolak untuk bertemu dengannya demi ibuku. Aku tak ingin ibu bersedih bila aku tak keluar untuk menemuinya setiap dia datang.

Sampai suatu hari ibu mengatakan bahwa lelaki itu akan datang melamarku karena tak mau berlama-lama menunggu. Betapa tak siapnya diriku mendengarnya. Disatu sisi aku tak ingin menolak karena tak ingin mengecewakan ibuku, yang telah membesarkanku seorang diri tanpa suami. Sementara ayahku telah meninggal dunia setelah jatuh sakit selama 6 bulan. Waktu itu aku masih sangat kecil. Tapi disisi lain aku tak mencintainya. Cinta bisa datang kemudian, begitulah ucap ibuku saat kuutarakan isi hatiku yang sebenarnya.

Aku hanya bisa menangis dikamarku. Terbersit niat dihatiku untuk kabur saja. Siang itu tak ada orang dirumah, karena ibuku sedang bekerja di restoran duda tersebut sebagai tukang masak. Kuambil beberapa helai pakaian, lalu aku bungkus dengan rapi. Akupun keluar kamar dan menguncinya dari luar. Aku sudah bersiap-siap untuk pergi dari rumah. Sebelum jauh aku meninggalkan rumah, rupanya salah seorang tetanggaku curiga melihatku. Diapun segera melaporkan kecurigaannya pada ibuku. Karena restoran tempat ibuku bekerja tidak begitu jauh dari rumah, ibuku pun langsung mencegatku untuk segera pulang sambil menangis. Rencanaku pun gagal.

Neneknya bintang begitu bersedih mendapati aku ingin kabur. Dia menangis dan mengatakan bahwa dia sangat menyayangiku. Dia tak siap kehilangan diriku bila aku benar-benar pergi. Melihat ketulusan ibuku, akupun tak menolak untuk dijodohkan dengan duda itu. Aku yakin, ibu tak mungkin menjerumuskan anaknya sendiri. Naluri seorang ibu pasti tidaklah salah, bahwa jodoh yang ia pilih untuk anaknya adalah orang yang baik. Akupun menerima lamaran lelaki yang pernah memiliki tiga istri itu. Dan statusku adalah istri keempat baginya, sekaligus istri terakhir karena suamiku tak pernah menikah lagi.

Ternyata ibu benar. Selama menjadi istrinya aku begitu dimanja dan disayang. Materi yang berkecukupan, perhatian dan cinta kudapatkan selama menjalani pernikahan bersamanya Adapun kelima anak tiriku tidak ikut bersama kami waktu itu. Mereka masih tinggal dikampung bersama sanak keluarganya. Hingga aku melahirkan anakku yang pertama. Lengkaplah sudah kebahagiaanku. Kuberi dia nama Bintang (bukan nama sebenarnya) Kelak hidupnya akan selalu bersinar bagaikan bintang kejora. Bintang yang mampu menerangi hari-hariku dengan kecerdasannya. Setelah bintang lahir, tak lama berselang lahirlah adik-adiknya yang hanya berjarak dua tahun.

Masa kecil Bintang

Bintang adalah anak yang istimewa, karena itu kami memperlakukannya dengan istimewa pula. Oleh abak dan neneknya, sedari kecil bintang begitu dilayani. Terutama dalam hal makannya. Bila bintang mau makan, neneknya bintang selalu menghidangkan nasi beserta lauk-pauknya diatas meja. Jadi bintang tak pernah mengambil makan sendiri. Semuanya dihidangkan terlebih dulu. Bintang sudah terbiasa makan diatas meja seorang diri dengan berbagai macam lauk yang enak-enak, sebab abak nya memiliki restoran padang yang cukup besar waktu itu.

Oh ya. Sejak kecil Bintang anakku sudah pintar mencari uang sendiri. Bahkan sejak duduk dibangku taman kanak-kanak Bintang selalu merajuk untuk diijinkan berjualan.. Aku melihat sedari kecil dia sudah senang berdagang. Akupun tak bisa menolaknya. Padahal dari segi ekonomi kami tidak kekurangan, hingga bintang harus berjualan. Tapi karena dia senang maka kami pun (aku dan abaknya)menuruti kemauannya untuk jualan apa saja yang dia suka.

Kebetulan ada tetangga yang mau dagangannya dibawa. Kadang bintang membawa es mambo, kadang permen, atau barang dagangan lainnya. Sang pemilik barang percaya saja pada Bintang. Tapi aku hanya mengijinkan dia berjualan di pasar, karena tidak jauh dari rumah. Bintang pun sangat senang. Yang tak bisa kulupakan, dia rela disuruh bernyanyi dulu oleh para pembeli. Karena mereka tahu Bintang pintar bernyanyi. Bintang menurut saja yang penting dagangannya laku. Aku tak mengharapkan untung dari hasil jualan anakku. Yang penting dia merasa senang dan terhibur. Aku berpikir, yang penting sekolahnya tak terganggu hingga selalu menurutinya.

Aku sangat bersyukur memiliki anak seperti bintang. Dia sangat tekun belajar. Dari kecil dia sudah kutu buku. Buku apa saja senang ia baca. Bahkan koran bekas bungkus belanjaan dari pasarpun tak luput ia baca. Aku selalu membelikannya buku-buku cerita. Itulah sebabnya bintang selalu rangking disekolahnya. Karena kesukaannya pada buku, juga berkat ketekunannya. Pernah kulihat bintang melamun dan murung seharian. Ternyata setelah kutanya dia menjawab kalau dia malu dengan nilai matematikanya yang rendah diantara pelajaran yang lainnya. Memang diantara semua pelajaran, hanya matematika yang kurang bagus nilainya. Akupun membesarkan hatinya agar tak mudah putus asa. Setelah itu, bintang pun semakin tekun belajar hingga nilainya tinggi kembali.

Itulah Bintang. Dia tak pernah menyerah pada keadaan. Selalu berusaha keras untuk mencapai keinginannya. Dan berupaya untuk mencapai sesuatu dengan hasil yang sempurna. Hingga dia bisa masuk ke SMP dan SMA yang cukup bergengsi di kota kami. Sampai akhirnya bintang diterima di fakultas negeri jurusan Ekonomi. Betapa bangganya kami. Kami berharap bintang bisa lulus sarjana dan mendapatkan pekerjaan yang mapan. Apalagi abaknya bintang sudah tua dan mulai sakit-sakitan.

Sementara bintang masih memiliki tujuh orang adik yang masih bersekolah.Hanya satu yang sudah bekerja yaitu adiknya Iman (bukan nama sebenarnya) karena baru tamat SMA. Dialah yang ikut membantu masalah keuangan dirumah dengan bekerja sebagai pelayan restoran padang dirumah kakak tirinya sendiri. Tapi Bintang punya tekad bila dia berhasil nanti, adik-adiknya semua harus bisa menjadi sarjana seperti dirinya. Sementara aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak punya keahlian apa-apa.

Bintang melewati masa-masa sulit.

Meski keadaan ekonomi kami tak sebaik dulu lagi, Bintang tetap meneruskan kuliahnya. Bintang sadar kalau dia tak lagi bisa mengharapkan biaya dari abaknya yang sudah tak bisa lagi bekerja. Diapun menyambi kuliahnya dengan mengajar privat bahasa inggris. Bintang memang menguasai bahasa inggris dengan baik. Bahkan dia rela minta surat kurang mampu agar kursus bahasa inggrisnya di LIA bisa selesai. Untunglah kepala sekolahnya yang berkebangsaan Amerika mengabulkan permohonannya. Demi melihat prestasi bintang yang memuaskan, disamping kerajinannya dalam mengikuti kursus.Yang membuatku terharu sebagai seorang ibu adalah saat bintang harus mengajar ke rumah murid-muridnya dengan berjalan kaki, sebab tak punya uang transport. Padahal yang aku tahu rumah murid-muridnya sangat jauh.

Bintang harus berjalan berkilo-kilo meter untuk sampai kesana.Bintang yang dulu kulitnya bersih dan badannya tinggi berisi, terlihat lebih kurus dan hitam. Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa memberinya semangat seperti dulu sewaktu dia masih kecil, agar tak gampang menyerah menjalani hidup sesulit apapun itu. Usaha keras bintang berbuah manis. Diapun akhirnya berhasil lulus sarjana dengan nilai yang memuaskan. Aku dan adik-adiknya meneteskan air mata bahagia saat melihat Bintang diwisuda dengan memakai toga. Begitu juga dengan abaknya. Kami pun menggantungkan harapan yang besar pada bintang.

Ujian kesulitan tak berhenti menghantam Bintang anakku.

Begitu lulus sarjana, bintang mencoba mengirimkan lamaran kerja ke jakarta. Namun sudah hampir setahun tak jua ada panggilan. Padahal bintang ingin sekali membahagiakan orangtuanya dan adik-adiknya, dengan bercita-cita untuk mengirimkan sebagian gajinya bila dia bekerja nanti. Bintang tak ingin lagi melihat ibu dan adik-adiknya makan dengan lauk seadanya. Bahkan bila sedang benar-benar tak punya uang hanya makan berlaukkan garam. Selain itu bintang juga sangat bersedih saat aliran listrik dirumah terpaksa diputus karena sudah lama menunggak pembayarannya. Bintang juga tak mau melihat adik-adiknya putus sekolah. Akhirnya bintang kembali mengajar privat demi menafkahi keluarganya.

Sanak keluarga pun mulai mencibir bintang dengan mengatakan bintang hanyalah seorang sarjana pak ogah. Percuma sudah lulus sarjana, tapi masih menganggur. Sebagai seorang ibu, betapa miris hati ini mendengarnya Tapi Bintang tak perduli dengan ucapan-ucapan pedas yang singgah ke kupingnya. Baginya, anjing menggonggong kafilah berlalu. Bintang tetap tekun belajar dan membaca berbagai macam buku. Disamping tetap mengajar bahasa inggris.

Tapi yang paling menyakitkan hati Bintang adalah, saat abang tirinya sendiri mengejeknya, ketika bintang meminta sedikit bantuan uang darinya. Bahkan seperakpun Yus abang tirinya, tak mau memberikannya pinjaman uang, disaat Bintang sedang kepepet. Dan hanya berkata sambil mencibir

“Buat apa sekolah tinggi-tinggi tapi tak punya uang. Lihat uda, walaupun tak sarjana, tapi bisa memiliki restoran yang cukup besar dan punya uang banyak lagi.” Bintang begitu sakit hati. Wajahnya terlihat begitu sedih saat menceritakan hal itu padaku. Abang tirinya benar-benar sudah berubah setelah jaya. Masih teringat dibenakku bagaimana dekatnya dulu hubungan bintang dan adik-adiknya pada abang tiri mereka sebelum menjadi orang yang lebih kaya.

Tak diduga-duga, setelah satu tahun akhirnya bintang diterima bekerja di perusahaan asing yaitu milik orang perancis. Orang-orang yang tadi menghina bintang akhirnya tak berkata apa-apa lagi. Kami pun berucap syukur yang tak habis-habisnya begitu mendengar bintang diterima bekerja. Sesuai janji bintang, setiap bulan dia tak pernah lupa untuk menyisihkan sebagian uang gajinya kepada kami. Kondisi keuangan kami pun mulai membaik. Aku tak lagi kesulitan dalam membayar biaya sekolah adik-adiknya bintang.

Bintang mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Setelah berbulan-bulan bintang bekerja, tiba-tiba suatu hari dia pulang ke rumah. Tentu saja hatiku bertanya-tanya. Sebelum aku menanyakannya lebih lanjut, bintang dengan penuh kegembiraan mengatakan bahwa dia mendapatkan beasiswa untuk program Magister Management di Manila. Rupanya selama bekerja di ibukota, dia terus mencari imformasi lowongan untuk bisa bersekolah ke luar negeri tanpa biaya. Dan tak disangka bintang diterima. Aku bersujud syukur mendengar anak kebanggaanku bisa sekolah keluar negeri. Itu tandanya masa depan bintang akan lebih baik lagi. Tak sia-sia doa yang aku panjatkan siang dan malam untuk kesuksesannya.

Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran bintang. Darimana mencari uang pinjaman untuk membeli tiket ke Manila? Yang jumlahnya lumayan besar. Belum lagi uang saku untuk pegangan keluar negeri. Masih menurut bintang, semua biaya itu akan diganti oleh pihak lembaga yang memberikan beasiswa setelah dia berada disana. Aku yang mendengarnya ikut bingung juga. Sementara aku tak punya simpanan barang atau emas yang bisa dijual.

Bintang akhirnya berpikir bagaimana caranya bisa mendapatkan uang secepatnya. Tiba-tiba dia ingat pada teman-teman HMI nya. Dia memang aktif di HMI semasa kuliah dulu. Bahkan sempat menjadi ketuanya. Dia pun meminta bantuan teman-teman organisasinya. Untunglah teman-teman bintang bersedia membantu. Mereka akhirnya urunan memberikan dana. Bahkan ada yang memberikan baju, sepatu, juga uang. Betapa bahagianya Bintang saat membuka satu-persatu amplop yang berisi uang dari teman-teman kampusnya. Meski setelah dihitung-hitung hanya terkumpul separuh dari harga tiket ke Manila. Tapi Bintang tak kecewa, sebab salah seorang temannya yang bekerja di sebuah bank di Jakarta, berjanji akan meminjamkan kekurangannya.

Berangkatlah bintang dengan rasa optimis ke bandara dengan diantar oleh aku dan kedelapan orang adik-adiknya. Kebetulan tetangga kami bersedia mengantarkan dengan mobil pribadinya tanpa dipungut bayaran. Allah benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang. Dia sudah memudahkan bintang untuk bisa sampai di Manila, ibukotanya Piliphina tanpa hambatan. Setelah dua tahun, diapun berhasil membawa pulang titel MBA-nya. Dan mendapatkan pekerjaan yang bonafit disebuah perusahaan asing yang ternama dengan jabatan manager.

Bintang divonis terkena kanker hati

Mulanya kami mengira bintang masuk angin. Tapi setelah minum obat, keadaan bintang tak jua membaik. Kami pun memaksanya untuk berobat ke dokter, meski bintang menolak karena dia tidak suka pergi kerumah sakit.

Dan setelah didiagnosa, bintang divonis oleh dokter mengidap penyakit kanker hati stadium 4. Sebagai seorang ibu, hatiku begitu hancur mendengarnya. Apalagi saat dokter mengatakan bahwa umur bintang hanya tinggal 2 bulan lagi. Dan sekarang, dia hanya ada dalam kenangan manis kami, karena Tuhan telah mengambilnya kembali.

ini kisah kakak lelakiku, yang kutulis berdasarkan cerita dari ibuku

dimuat di goresan hati majalah sekar

asyiknya menulis cerpen



Sudahkah Anda jadikan menulis itu sebagai kebutuhan? Yang bila tak dilaksanakan akan membuat jiwa anda tidak tenang. Bahkan dirasa ada yang kurang dalam hari-hari Anda. Tak heran, sebab menulis merupakan salah satu terapis kejiwaan. Dan saya sendiri sudah memperaktekkannya. Bagi yang suka menulis, tentu hal seperti itu kerap dirasakan. Dan, termasukkah Anda orang yang suka menulis? Entah itu cerpen ataupun tulisan apa saja. Kata suka sengaja saya tebalkan, karena itu suatu hal yang sangat penting bagi seseorang yang ingin menjadi penulis. Dimana bakat tak lagi menjadi modal utama agar menjadi penulis yang sukses.

Tak ubahnya dengan pekerjaan yang lain. Diperlukan rasa senang lebih dahulu dalam menekuni bidang yang diambil. Kalau sudah suka, maka apapun rintangan dan resikonya akan dihadapi. Umpamanya orang yang sangat suka memasak. Maka dia akan belajar memasak entah lewat ibunya, neneknya, lewat televisi, ataupun buku-buku resep. Atau bisa juga dia mencoba-coba sendiri resep untuk menghasilkan masakan yang enak. Tapi dalam menulis, setelah mencoba-coba sendiri, kita kudu belajar dalam membuat tulisan agar lebih baik. Apalagi bila kita ingin tulisan kita dibaca oleh orang banyak, serta ingin dimuat dimedia. Entah itu lewat majalah, koran, atupun berbentuk buku.

Seperti halnya memasak, sebelum kita membuat suatu masakan tertentu, kita perlu mengumpulkan bahan-bahannya terlebih dahulu. Dan menentukan jenis masakan apa yang akan kita olah. Nah kalau didalam menulis cerpen, kita perlu menyiapkan judul, tema, plot cerita, kata pembuka, dan akhir cerita. Bahkan kita juga perlu memikirkan seperti apa konflik dan karakter yang akan kita ciptakan.

Banyak orang yang mengatakan bahwa menulis itu sulit dan sebuah pekerjaan yang serius. Padahal tinggal bagaimana kita menjalaninya. Menurut hemat saya, semua bidang pekerjaan membutuhkan keseriusan dalam mengerjakannya. Entah itu dokter, koki, polisi, pengacara, presiden, bahkan tukang bersih-bersih sekalipun. Semuanya ingin hasil akhir kerjanya selesai dengan sempurna, agar bisa terus eksis dalam pekerjaan yang ia lakoni. Sekali lagi yang menentukan hanyalah suka atau tidak dia dengan pekerjaannya? Kalau tidak suka, sudah pasti dia akan melakukannya dengan terpaksa. Dan bisa ditebak, akan jauh hasilnya dari yang diminta..

Orang yang memiliki bakat menulis tapi tidak suka menulis, maka dia tidak akan pernah menjadi penulis. Sebaliknya, orang yang tidak punya bakat sedikitpun dalam menulis tapi sangat suka menulis, dan mau terus belajar agar tulisannya semakin hari semakin baik, suatu saat dia bisa menjadi penulis. Apalagi kalau dia memiliki kedua-duanya yaitu punya bakat dan senang menulis. Maka bisa dilihat suatu hari nanti dia akan menjadi penulis terkenal. Kalau sudah punya nama, maka honorpun mengalir ke kantongnya dengan mudah. Kalau sudah begitu, baru dia merasakan betapa asyiknya menjadi seorang penulis.

Asyiknya menulis saya pribadi mengalaminya. Dan disini saya tidak bermaksud menggurui, tapi hanya ingin berbagi. Awal mulanya, saya senang menulis puisi dan catatan harian saja. Disaat saya sedang mengalami masalah. Baik ketika saya sedang sedih, yaitu saat kehilangan orang yang saya cintai. Kedua Kakak lelaki saya meninggal dunia diusia muda karena kanker hati. Dan disaat saya sedang rindu, ataupun sedang marah. Dan hati saya akan terasa plong bila semua rasa itu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Disamping itu saya juga senang membaca buku juga majalah. Setiap saya membaca majalah, pasti ada rubrik cerpennya. Karena saya begitu menyukai cerpen, maka setiap cerpen selalu saya baca tuntas. Dari situ terbersit keinginan dihati saya, kapan ya saya bisa menulis cerpen kayak gini ya? keinginan itu semakin lama semakin mendesak.

Akhirnya saya putuskan untuk belajar menulis cerpen lewat buku-buku dan lewat cerita yang dibuat oleh orang lain.. Oh ya, selain yang saya lakukan, kamu juga bisa ikut komunitas penulis seperti FLP atau yang lainnya, sebab sangat baik bagi para penulis pemula. Disana kamu akan diajarkan berbagai hal tentang dunia menulis juga tekhnik menulis. Kamu juga bisa bertemu dengan sesama penulis yang bagus untuk perbandingan. Memang saya tidak ikut bergabung dalam komunitas menulis, bukan karena saya tidak mau, tapi karena ada alasan tertentu hingga saya tidak bisa ikut.

Disini saya akan membagikan ilmu menulis yang saya pelajari entah lewat buku-buku yang saya baca, ataupun yang saya dengar dan pelajari lewat media lain. Mudah-mudahan membawa manfaat bagi yang mempelajarinya. Dengan satu tekad bila kita sudah mahir menulis, tulislah sesuatu yang bisa membawa manfaat bagi orang banyak. Dan dengan niat tak semata-mata hanya mendapatkan honor saja atau pengen terkenal. Tapi lebih luas dari itu, sebagai media dakwah! Agar kita tak hanya mendapakan ganjaran didunia, tapi pahala yang berlipat-lipat diakhirat kelak.

Kiat-kiat untuk menunjang kemampuan menulis

1.Membaca

2.Menjadikan karya penulis beken sebagai latihan

3.Mulailah menulis sesuatu yang dekat dengan kita. Misalnya tentang diri kita, tentang ibu kita, adik kakak kita, juga tentang hal yang kita sukai atupun tidak.

4.Lewat buku harian dan korespondensi.

5.Mengirimkannya ke media massa atau penerbit, agar tahu apakah tulisan kita diterima atau ditolak untuk proses belajar.

6.Bila ditolak jangan dulu patah semangat. Menulis terus lalu kirimkan, begitu seterusnya. (Diambil dari buku sakti menulis fiksi terbitan Annida)

Kiat yang lainnya

1.Membuat kalimat pertama yang memikat dan paragraf pembuka yang memaksa pembaca untuk meneruskan cerita

2.Perhatikan gerak cerita Anda. Apakah terlalu cepat atau terlalu lambat. Beri kesempatan kepada pembaca anda untuk menarik nafas dalam membacanya.

3.Jangan menulis sambil mengedit. Pertama-tama menuangkan isi pikiran. Baru tahap kedua mengeditnya. Jangan dilakukan bersamaan.

4. Gunakan lebih dari satu indera untuk membuat deskripsi anda lebih hidup di benak pembaca.

5. Berikan surprise mengejutkan di akhir cerita. (Diambil dari Creative Writing A.S. Laksana)

Memilih hidup untuk lebih berbahagia



Setiap insan pasti tidak ingin hidup dalam kesedihan terus menerus, kala dirinya dilanda cobaan berat sekalipun.. Itu sudah pasti dan manusiawi sebab manusia ingin selalu merasa bahagia dalam hidupnya. Tapi adakalanya kita tak bisa menghindarkan hadirnya berbagai ujian hidup yang mau tak mau menghadirkan rasa sedih dalam ruang lingkup kehidupan kita. Tinggal bagaimana cara kita menyikapi cobaan tersebut. Apakah memilih untuk larut dalam kesedihan tak berujung? atau mencoba pasrah sambil berdoa untuk bisa sabar menghadapinya.

Menurutku, hidup ini bagaikan pelangi. Penuh dengan warna –warni. Suka dan duka itulah yang akan mewarnai hidup kita. Air mata sedih dan bahagia akan menyertainya. Tak pelak, kita harus percaya bahwa hidup akan selalu berganti warna. Tak selamanya masalah yang berat sekalipun tak ada jalan pemecahannya. Setidak-tidaknya kita memperoleh hikmah darinya. Dan tak selamanya juga roda itu selalu berada diatas. Kita pun harus bersiap-siap bila suatu saat roda hidup kita berada dibawah.

Ketika aku mengalami cobaan dalam fase kehidupanku, aku selalu memilih untuk larut dalam kesedihan. Yang mengakibatkan diriku tak lagi fokus untuk mencapai kesuksesan hidup. Sebagai seorang anak, aku pernah mengalami sedihnya kehilangan seorang ayah dalam usia muda. Aku menjadi yatim diusia 12 tahun. Kami juga hidup dalam kesulitan ekonomi karena ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang tak punya kecakapan dalam mencari nafkah. Hidup susah tanpa seorang ayah sungguh membuat masa kecilku jauh dari keceriaan. Aku merasa hidup ini tidak adil, hingga aku sering bolos sekolah karena tak memiliki motivasi dalam hidup.

Setelah dewasa, aku kembali merasa terpukul karena kakak lelakiku meninggal dunia karena kanker. Padahal semasa hidup, hanya dialah yang bisa mengerti aku dan begitu menyayangiku. Apalagi aku telah menganggapnya sebagai pengganti ayah dalam hidupku. Cukup lama aku berkubang dalam kesedihan. Tenggelam dalam depresi hingga kuliahku pun tak pernah selesai. Aku selalu menangis bila ingat betapa cepatnya kakakku meninggalkanku. Aku merasa tak lagi memiliki orang yang bisa memperhatikan dan menyayangi diriku.

Ketika Allah mengirimkan seorang lelaki untuk menjadi suamiku, aku merasa mendapatkan kasih sayang kembali. Suamiku bisa berperan sebagai teman, sahabat, juga kakak bagiku. Namun dikala sendiri, tetap saja aku bersedih bila mengingat masa laluku. Padahal Allah telah memberikan tiga orang malaikat kecil yang setiap saat menghiburku dengan tingkah polos mereka.

Akupun merenung, buat apa aku terus mengingat masa lalu yang membuatku tetap berkubang dalam lumpur kesedihan? Aku pun memutuskan untuk tak mengingat lagi masa kelamku, dengan menyibukkan diriku. Kebetulan aku sangat suka menulis. Akupun mencoba untuk menulis cerpen dan mengirimkannya ke sebuah majalah. Tak dinyana, cerpen pertamaku dimuat di majalah paras. Aku sangat bahagia saat membaca tulisanku terpampang di majalah. Ternyata, tak sulit untuk memilih hidup untuk lebih berbahagia. Dengan kesibukan baruku yaitu menulis, akupun tak punya waktu lagi untuk bersedih.

Ketika anak mogok sekolah




Pada waktu saya membaca sebuah tabloid wanita, saya tertarik dengan artikelnya yang mengulas tentang Homeschooling. Saya membaca beberapa alasan yang diceritakan oleh beberapa orang anak mengapa mereka memilih sekolah dirumah. Dimana orangtua mereka mendukung anaknya untuk mengikuti sekolah nonformal tersebut.

Cerita anak pertama, bahwa dia tidak mau sekolah karena sudah sering dilecehkan oleh teman-temannya. Mulai dari barang-barangnya yang sering diambil, sering diejek karena posturnya yang gemuk, bahkan sampai ada yang memukulnya. Yang lebih menyakitkan si anak, tatkala teman-temannya sering mengolok-olok kekurangannya yang tidak bisa mendengar. Si anak memang memakai alat bantu pendengaran ke sekolah. Semua perlakuan itu membuat si anak menderita dan merasa tidak tahan lagi, hingga memutuskan enggak mau sekolah lagi.

Cerita anak kedua lain lagi. Dia merasa jenuh karena sekolahnya mulai dari pagi sampai sore. Tapi yang paling membuatnya jenuh karena stress dengan perlakuan gurunya yang tidak menghargainya, bahkan cenderung melecehkannya. Akibatnya dia sering tidak masuk sekolah.

Masalah yang dialami kedua anak diatas merupakan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru dan teman-teman sekolah mereka. Dampak jangka pendek akibat anak mendapakan tindakan kekerasan dalam pendidikan adalah anak tiba-tiba mogok sekolah. Adapun dampak jangka panjangnya menurut Kak Seto psikolog anak, bisa memicu prilaku tawuran pada anak dikemudian hari, juga mengakibatkan depresi pada anak.

Orang tua manapun tentu keberatan bila anak mereka mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi itu. Padahal tujuan mereka menyekolahkan anaknya agar mendapatkan pendidikan dengan baik. Tapi bagaimana mungkin? Bila belum apa-apa mental anak mereka sudah dibuat jatuh oleh sikap guru dan teman-temannya. Si anak akhirnya merasa bahwa kehidupan sekolah tak lagi nyaman, karena telah membuatnya tertekan.

Sebagai orang tua, kita harus jeli melihat masalah yang dihadapi anak disekolah. Dengan membangun komunikasi yang terbuka dengan anak. Sehingga kita tahu apa masalah yang sebenarnya. Tak jarang anak yang tertutup takut untuk menceritakan masalah yang ia hadapi. Orang tualah yang harus memulainya terlebih dahulu. Kalau perlu, kita ajak gurunya bicara baik-baik. Kalau tidak mempan juga, barulah kita ambil tindakan lain yang lebih baik buat anak kita. Apakah anak kita pindahkan sekolahnya, atau alternatif lainnya.

Alangkah baiknya sebagai orang tua, kita melakukan survei terlebih dahulu sebelum memasukkan anak ke sebuah sekolah. Kita tinjau bagaimana karakter guru-gurunya, lingkungan teman-temannya, juga cara mengajar disekolah tersebut. Sebab saya sering melihat banyak sekolah yang kelasnya terdiri dari 50 orang dalam satu ruangan. Tentu saja ini kurang efektif bagi prose belajar mengajar.

Ini pe-er buat semua guru dan pihak sekolah. Bahwa kekerasan bukanlah cara yang efektif untuk mencerdaskan anak didik. Yang mengakibatkan para orang tua semakin tidak percaya pada sekolah formal. Sehingga alternatif sekolah di rumah atau yang di kenal dengan Homeschooling semakin banyak diminati.

Menurut teguh Imanto, kepala subdit pengembangan teknologi direktorat pendidikan kesetaraan dirjen pendidikan nonformal dan informal, Homeschooling awalnya diselenggarakan pemerintah karena adanya siswa yang merasa minatnya tidak terlayani di sekolah formal. Dimana materi pelajaran yang diberikan kepada anak HS sudah disetarakan dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah formal. Jadi, bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi sekolah-sekolah formal akan sepi murid-murid yang bersekolah, karena orang tua lebih percaya pada alternatif pendidikan lain, salah satunya Homeschooling.

Harta yang sangat mahal itu bernama kesehatan




Ibuku mengalami musibah dengan kehilangan kedua anaknya sekaligus karena penyakit yang sama yaitu kanker hati. Sebagai anak sekaligus seorang ibu, aku bisa merasakan betapa terpukulnya batin ibuku. Apalagi disaat kedua kakak lelakiku itu dipanggil Tuhan, sementara kala itu ayahku sudah lebih dulu tiada. Sehingga ibu hanya bisa membagi kesedihannya pada kami anak-anaknya.

Memang semasa hidupnya mereka (red; kedua kakak lelakiku) itu kurang pintar menjaga kesehatan. Pola makan mereka terbilang kurang baik, alias tidak berpantang. Hampir setiap hari sukanya makan yang berlemak tinggi seperti makanan bersantan, daging ayam, terutama rendang. Mungkin karena kami orang padang. Tapi celakanya tidak dibarengi dengan memakan sayuran karena kedua kakakku itu tidak suka makan sayur, apalagi sayur yang bening-bening. Ditambah lagi jarang berolahraga.

Masih terbayang dibenakku bagaimana kondisi kakakku yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Meski ditengah penyakit kanker yang tengah menyerangnya dia masih memiliki semangat hidup yang tinggi. Akhirnya barang-barang miliknya termasuk tanah seluas 500 meter terpaksa dijual oleh istrinya, demi membiayai pengobatan suaminya yang sangat mahal. Padahal mereka masih mengontrak waktu itu.

Sebagai seorang ibu yang memiliki tiga orang anak, aku juga pernah merasakan betapa sedihnya ketika anak-anakku mendapatkan penyakit hingga sampai dirawat. Anakku yang pertama pernah dirawat gara-gara diare hingga sepuluh hari lamanya. Anakku yang kedua juga pernah dirawat karena diare, bahkan lebih lama lagi dirawat yaitu hampir dua minggu lamanya. Hingga tabungan kami terpaksa dikuras karena tak sedikit biaya yang harus dibayar. Sementara saat mengandung anak ketiga aku sering keluar masuk rumah sakit karena sakit maag. Karena kondisiku yang sangat lemah, aku pun melahirkan dengan cara di operasi. Mengingat banyaknya biaya yang dikeluarkan dari semenjak hamil hingga melahirkan, anakku pun disebut sebagai anak mahal oleh para perawat dan orang sekitarku.

Hikmah dari semua kejadian ini membuatku semakin termotivasi untuk lebih menjaga kesehatan tubuhku. Mengingat bahwa tubuh kita adalah amanah dari Allah. Hingga kita wajib menjaga dan memeliharanya. Bukankah Rasulullah sendiri pernah bersabda “Makanlah sebelum lapar. Dan berhentilah sebelum kenyang. Agar tersisa ruang 1/3 buat makananmu, 1/3 untuk minummu, dan 1/3 lagi untuk kau bernafas.”

Dari sabda Nabi saw diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa perut kita ini bukanlah tong sampah, yang bisa dimasuki oleh makanan apapun juga. Tak perduli apakah makanan itu sehat dan baik untuk tubuh kita. Ataupun tak memperhatikan kehalalannya. Bukankah kalau kita sudah terkena penyakit, maka penderitaanlah yang kita rasakan dalam menahan rasa sakit tersebut. Belum lagi biaya-biaya yang tidak sedikit yang harus kita keluarkan agar segera cepat sembuh. Kalau sudah begitu, barulah kita menyadarai betapa mahalnya harga kesehatan.

Cinta = Menerima pasangan apa adanya





Apakah kita mencintai pasanganku kita? Sudah pasti kita akan segera menjawab “Tentu saja! kalau tidak, mana mungkin saya mau menikah dengannya.” Bila pertanyaan tersebut ditujukan pada saya, jawabnya juga tak jauh berbeda. Saya mau menikah dengan suami saya karena adanya cinta pada dirinya. Tapi, sudahkah selama ini saya bisa menerima semua kekurangan suami? Terus terang saya tak akan menjawab dengan segera, alias bertanya dulu pada hati kecil saya dengan jujur. Karena saya tak mau munafik untuk mengatakan “iya.” Padahal tidak seratus persen benar.

Sebagai manusia saya juga tak sempurna. Karena kesempurnaan itu mutlak milik Allah. Karena ketidak sempurnaan sayalah hingga saya menyadari kekurangan saya yang sering merasa kurang puas diri. Meski sebagai manusia kita juga dituntut untuk menjadi manusia yang sempurna menurut agama. Terutama dalam hal perilaku kita.

Saya tak bisa memungkiri kalau selama ini saya sering mengeluh, mengapa suami saya tak sekaya suami si anu. Atau, mengapa suami saya tak seperti suami yang lain yang kerjanya selalu pulang tepat waktu. Sementara suami saya selalu pulang larut malam, itu masih dalam hal pekerjaan. Belum lagi dalam hal yang lainnya. Mungkin saya perlu bercermin dari kisah dua orang teman saya yang begitu mencintai suaminya, karena sudah terbukti bisa menerima suaminya apa adanya.

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut