novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Jumat, 16 September 2011

Plesss! Beri Aku Status!




Dulu aku adalah wanita yang menikmati sebuah hubungan tanpa terikat oleh status. Bagiku status itu tidaklah penting. Entah karena aku pecinta kebebasan atau karena terlanjur menikmati hidup tanpa status itu sendiri. Sudah tak terbilang berapa banyak pria yang singgah dalam hidupku. Bukan sekedar singgah, tapi meninggalkan cinta untukku. Meski hanya cinta yang singkat dan sesaat. Sesingkat hubungan yang kujalani bersama banyak lelaki.

Aku juga tak tahu apa sesungguhnya statusku. Meski Di Ktpku tertulis status : wanita lajang/ alias belum menikah. Tapi kenyataannya? aku sudah berkali-kali hidup bersama lelaki dalam satu rumah. Yah, aku adalah wanita penganut hubungan bebas tanpa menikah. Aku tak butuh sebuah pengakuan dari siapapun. Satu yang pasti, aku begitu menikmati hidup yang kujalani. Selama tak mengganggu dan menyakiti siapapun Why not? Karena prinsipku tak pernah mau berhubungan dengan pria beristri.

Aku sendiri dibesarkan oleh seorang wanita yang hidup dari satu pelukan lelaki ke lelaki yang lain. Hingga aku tak pernah tahu siapa ayah kandungku yang sebenarnya. Sebagai anak, sungguh tragis hidupku karena tak pernah ada seorang lelaki dewasa yang mau mengaku sebagai ayah kandungku. Tak heran bila sekarang hidup yang kujalani persis seperti yang ibuku alami-hidup bersama lelaki tanpa diikat oleh status sebagai istri si A atau si B misalnya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Mungkin pepatah klasik yang sering kudengar ini tepat untuk hidup yang tengah kulakoni.
Tapi takdir berkata lain. Aku terseret dalam sebuah keadaan yang membuatku sangat ingin memiliki status. Sebuah keinginan yang dulunya tak pernah kuanggap penting. Tapi sekarang status itu sangat penting bagiku. Semuanya bermula dari cinta yang tumbuh mekar dihatiku. Pada pria tampan nan sederhana yang hanya bermodal perhatian dan cinta. Meskipun bukan pria tajir tapi mampu memikat hatiku.

Tak seperti pria yang selama ini menjalin hubungan denganku--yang rata-rata hanya bermodalkan kantong tebal dan memanjakanku dengan berbagai fasilitas berupa materi. Dulu uang adalah segalanya bagiku, meskipun hidup tanpa status. Tapi kini uang bukanlah yang utama bagiku. Cintalah kini prioritas dalam hidupku. Yah, tiba-tiba aku ingin menjalin hubungan dengan rasa cinta yang tulus di didalamnya. Bukan lagi hubungan yang miskin akan cinta seperti yang sudah-sudah.

Aku masih duduk dipojok café sambil mengaduk-aduk cappuccino hangat yang kupesan beberapa menit yang lalu. Menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku sore ini. Seseorang yang akan mengubah status hidupku selamanya. Tapi hingga cappuccino yang kuminum ini dingin, batang hidung lelaki pujaanku tak jua muncul. Akh, bukankah dia telah berjanji akan menyelesaikan semuanya disini? Ditempat yang pernah merekam awal pertemuan kami setahun yang lalu. Sebuah café yang sering kami singgahi di sore hari setelah lelah menghabiskan waktu bersama berdua.

Pikiranku pun melayang ke masa setahun yang lalu. Waktu itu aku tengah memesan cappuccino, sepulang berbelanja di Mall. Tiba-tiba seorang pria berkulit putih bersih dan berbadan atletis menyapa diriku.

“Suka Cappucino juga yah Dik?” Tanya pria tersebut sambil memamerkan senyum mautnya. Aku pun mengiyakan pertanyaannya sambil tersipu malu.

“Berarti selera kita sama dong,” ucapnya lagi sambil terus menatap mataku. Tatapannya yang begitu dalam, seketika menghujam jantungku. Tak ayal, dadaku pun tak berhenti berdegup. Bahkan semakin kencang degupnya ketika pria itu meminta ijin duduk di depanku.

Setelah perkenalan itu, bisa ditebak hubungan kami pun berlanjut hingga menghasilkan sebuah janin dirahimku. Terus terang begitu tahu diriku mengandung hatiku dilanda resah dan gelisah yang amat sangat. Apalagi disaat kutahu bahwa dia pria yang sudah beristri.

Aku masih duduk di café dengan gelisah. Rasa khawatir semakin membuncah didadaku, karena dia tak jua datang. Padahal sudah lebih dari dua jam aku menunggunya penuh harap. Bagaimana kalau dia ingkar janji? Untuk segera menikahiku agar anak yang kukandung sekarang tak bernasib sama denganku, yaitu tak memiliki status yang jelas hingga dewasa nanti. Tiba-tiba handponeku bergetar. Ternyata ada sebuah SMS masuk. Segera kubaca dengan tak sabar.
Dik, maaf abang gak bisa datang menemuimu. Abang lupa kalo hari ini harus mengatarkan istri Abang ke dokter kandungan. Lain kali saja yah kita ketemuan. Deg! Hatiku benar-benar gak siap membacanya. Tega-teganya dia melakukan ini semua padaku?

Bukan satu kali ini dia mengelak dariku dengan berbagai macam alasan. Besok-besok alasan apalagi yang keluar dari mulutnya? Padahal anak yang kukandung ini juga anaknya. Aku benar-benar mengharapakan status bukan untuk diriku semata tapi demi anakku. Yah, aku tak boleh menyerah! Aku harus berjuang mendapatkan status sebagai seorang istri yang sah diatas buku nikah yang resmi dari KUA. Untuk menghibur kecewanya hati, Aku hanya mampu mengusap-usap perutku sebelum beranjak dari kursi.

“Nak… Ibu akan terus berjuang untuk memberikan sebuah status untukmu, bagaimanapun caranya,” ucapku lirih sambil berurai air mata. Akh, ketegaran dan kekerasan hatiku akhirnya jebol juga karena malaikat kecil yang sebentar lagi lahir ke dunia yang keras ini. Sekeras hidup yang selalu aku jalani.

Kamis, 15 September 2011

Meminta Tanpa Tahu Memberi




"Dik!!! buatkan teh manis buat Mas, ya?"
"Iya Mas," Rida segera ke dapur menyiapkan air minum buat suaminya.
"Dik!!! air mandi Mas kok belum disiapin?" cepetan dong! entar Mas terlambat lagi pergi kerja," teriak suaminya dari dalam kamar mandi.
"Sebentar Mas, air hangatnya baru aja dijerang," jawab Rida lagi. Begitulah setiap paginya.

Rida memang begitu menyayangi suaminya Andi. Saking cintanya, apapun rela ia berikan untuk suaminya. Sebaliknya, Andi adalah tipe suami yang tak pernah berhenti meminta pada istrinya. Bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun seperti meminta diambilkan air hangat untuk mandi atau minta dibuatkan teh manis saat pagi hari. Walaupun dia tahu Rida sedang sibuk mengerjakan tugas rumah tangga. Namun Rida tak pernah menolak. Padahal bisa saja dia mengucapkan kata,
“Mas ambil sendiri yah, saya sedang repot.” Atau
“Maaf yah Mas, saya lagi sibuk memandikan si kecil.
Memang, Rida selalu repot luar biasa setiap harinya oleh pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya. Belum lagi mengurus keempat orang anaknya yang masih balita. Dimana yang satu minta dimandiin dan yang lain minta disuapin makannya. Sementara kedua anaknya yang lebih besar lebih suka membuat kegaduhan dengan berlari kesana kemari. Hingga membuat rumah yang tadinya rapi, menjadi jungkir balik kembali dalam hitungan menit.
Sementara Andi suaminya, berusaha menutup mata melihat kepayahan istrinya mengurus rumah dan keempat anaknya seorang diri. Sedikitpun tak tergerak hatinya untuk membantu tugas istrinya. Apalagi mengeluarkan uang untuk membayar seorang asisten rumah tangga demi meringankan pekerjaan istrinya. Padahal keuangannya lebih dari cukup untuk itu. Yang ada dia malah berlomba dengan keempat anaknya untuk meminta perhatian Rida. Meskipun begitu, senyum keikhlasan selalu terpancar dari kedua bibir tipis Rida. Tak pernah keluar keluhan selama 12 tahun dari mulutnya meskipun hanya sekali. Dengan ikhlas dan tulus dia selalu meladeni kemanjaan suaminya yang melebihi anak kecil tersebut. Baginya, sebuah kebanggaan sekaligus keharusan seorang istri untuk selalu memberi apa yang diminta oleh suami. Meskipun terkadang diluar batas kemampuannya.
Selain suka menuntut untuk selalu diberi, Andi juga tipe suami yang sangat perhitungan untuk mengeluarkan uangnya, sekalipun dengan anak dan istrinya sendiri. Baginya, mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak penting--seperti membayar jasa seorang pembantu hanyalah buang-buang uang saja. Selama istrinya masih bisa mengerjakan semuanya sendiri untuk apa? Begitulah asumsi yang ada dikepalanya. Tak heran bila Rida dan anak-anaknya jarang memakai gaun yang bagus atau makan yang enak-enak meskipun hanya sesekali. Tapi Rida tak pernah menuntut untuk diberikan uang lebih, karena begitulah sifat aslinya. Baginya yang penting keempat anaknya bisa makan makanan yang sehat dan cukup. Hingga Rida selalu menekan keinginannya untuk membeli barang-barang yang ia inginkan seperti yang dimiliki oleh teman-temannya.
“Barang lama yang kumiliki masih cukup bagus dan layak untuk dipakai. Buat apa aku membuang-buang uang suamiku untuk membeli yang baru? Lebih baik uangnya dipakai buat keperluan keempat malaikat kecilku, pikirnya. Aku harus tetap bersyukur karena suamiku masih tetap setia mendampingiku hingga kini, batinnya berulang kali. Apalagi setiap keinginan untuk membeli barang yang baru muncul. Karena sudah kodratnya seorang wanita senang belanja. Terutama belanja pakaian yang bagus dan make-up untuk mempercantik diri. Tentu saja keinginan untuk terlihat lebih cantik didepan suaminya Andi sering muncul. Sebagai gantinya, Rida memperasah kecantikan batinnya dengan selalu berprilaku baik pada suaminya. Selalu menuruti dan memberi apa yang suaminya minta. Dengan harapan cinta suaminya tetap ada untuknya selamanya.
Suatu hari Rida mendapati sejumlah kertas pembayaran dikantong suaminya saat ia hendak mencuci baju. Tak ayal dia merasa terkejut dan sedikit cemburu melihat angka yang tertera. Sungguh fantastis pengeluaran suaminya yang setelah ia hitung-hitung jumlahnya hampir sepuluh juta! Padahal yang ia tahu suaminya begitu irit dalam pengeluaran. Bahkan untuk keluarganya sendiri. Karena penasaran, dia beranikan untuk bertanya.
“Mas, sebelumnya saya minta maaf. Apa benar semua barang yang ada di bon ini Mas yang beli?” tanyanya dengan lembut dan hati-hati.
“Memangnya kenapa? Toh Mas beli itu semua dengan uang Mas sendiri,” jawab suaminya ketus. Rida begitu terkejut mendengar jawaban suaminya. Padalah selama ini dia berusaha keras untuk mengirit pengeluaran mereka. Sementara suaminya sendiri begitu royal mengeluarkan uang hanya untuk kepentingannya sendiri.. Hatinya sangat pedih mendapati sikap tidak adil suaminya. Karena tak tahan lagi, Rida pun berkemas-kemas untuk pergi kerumah orangtuanya. Tak lupa ia bawa keempat buah hatinya bersamanya.
Tak ada gunanya hidup bersama orang yang hanya tahu meminta tapi tanpa tahu memberi sepanjang hidupnya. Inilah batas akhir dari sikap memberiku padanya. Mulai detik ini, aku akan meminta hakku untuk segera diceraikan olehnya, berontak Rida. Tekadnya sudah benar-benar bulat untuk berpisah dari ayah keempat anaknya itu.

tak ada yang abadi




“Gimana Cinta? Kamu relakan aku menikahinya?” Aku tak bergeming. Bagiku, ini sebuah permintaan yang sangat mengejutkan dan menyakitkan sepanjang hidupku.


“Please Cinta! Suamimu ini melakukannya karena kasihan. Kamu tahu kan betapa besar cintaku padamu? Sekali lagi aku hanya ingin menolongnya, tak lebih!” Lagi-lagi mulutku terkunci rapat. Seolah kata-kata tak sanggup untuk keluar dari mulutku. Meski suamiku sudah bosan menunggu kata iya dariku. Akh, andaikan kata tersebut terlontar dari bibir tipisku ini, pastilah karena terpaksa.

Dengan hati yang bergemuruh karena marah, aku pun kembali mengunci diri di kamar. Meratapi nasib rumah tanggaku yang kini dihantam gelombang yang amat besar dan dahsyat. Hingga mampu menenggelamkan bahtera yang tengah kami arungi bersama. Dan semua itu karena wanita lain yang kini mencoba menggoyang biduk yang telah kami arungi selama sepuluh tahun ini. Sebagai kompensasinya, berhari-berhari suamiku tak kuajak bicara. Aku ngambek-sengambeknya.



Karena tak tahan mendengar rengekan suami terus- menerus, akhirnya keluarlah sebuah jawaban “Baiklah Bang, aku akan menjawabnya. Tapi beri aku waktu sampai bulan depan.”

“Akhirnya kamu mau membuka suara Cinta. Apapun keputusanmu, Abang akan tetap menunggunya. “ Deg! Hatiku kembali teriris pedih. Membayangkan jawaban yang akan kuberikan setelah aku berkonsultasi pada Yang Diatas. Yah, aku serahkan semua pada-Nya.

Ini malam ke 29 aku memohon pada-Nya. Bermunajat agar hati ini kuat dan ikhlas memberikan jawaban yang terbaik buat semuanya. Buat suamiku, janda miskin beranak tiga tersebut juga buat diriku. Setelah puas menumpahkan isi hati diatas sajadah merah, aku pun kembali ke peraduan dengan hati yang lebih lapang dari sebelumnya. Sebelum kurebahkan diri disamping Abang, kutatap wajahnya yang putih bersih. Kenangan demi kenangan manis pun berkelebat. Saat pertama kali bertemu dengan Abang hingga akhirnya sampai ke pelaminan. Butir-butir bening kembali menetes dari kedua mataku. Membayangkan Abang harus tidur bersama wanita lain

Sungguh! tak pernah terlintas dibenak istri manapun termasuk diriku. Bagiku, pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang menyatukan dua hati untuk hidup selama-lamanya. Ever after….Tapi, takdir hidup siapa yang tahu? Bila Sang Pemilik cinta sendiri yaitu Allah azza wazala menghadirkan rasa cinta kembali dihati hambanya yaitu suamiku-aku bisa berbuat apa? Meski terkesan pasrah, tapi itulah takdir. Aku pikir pertemuan suamiku dengan seorang janda beranak tiga bukanlah sebuah kebetulan. Ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Akh, Allah begitu cemburu padaku hingga mengingatkanku dengan cara seperti ini. Dia ingin menunjukkan padaku bahwa di dunia ini tak ada yang abadi, termasuk rasa cinta itu sendiri. Sejatinya, hanya cintaNyalah yang abadi. Aku harus siap dipoligami….

alhamdulillah keluar sebagai pemenang pertama

Berikut adalah nama para pemenang:

1.Nama: Irhayati Harun

Email: irhayatiharun@yahoo.co.id

Telp: 0813114xxxxx

Kalimat:

"Berkat Parent Indonesia pasanganku semakin cinta padaku. Loh kok bisa? Ya iyalah...! Sebab Parent Indonesia banyak berisi tulisan bermanfaat seputar tumbuh kembang balita. Sehingga aku semakin pintar mengurus si buah hati. Pasanganku pun menjadi senang ketika melihat bayiku bisa tumbuh sehat karena aku. Terima kasih Parent Indonesia. Berkat dirimu, pasanganku semakin sayang padaku."



2.Nama: Anggiea Pracasti Adiningrum

Email: an99iea@yahoo.com

Telp: 08169xxxxx

Kalimat:

"Dengan Parents Indonesia, mencintai anak tidak hanya sekedar pemanis di bibir tak hanya belajar mengungkapkannya tapi juga membuktikan rasa sayang dan wujud syukur bahagia bersama pasangan karena saling bahu-membahu menjadi tim terbaik dalam periode emas tumbuh kembang dalam tiap tahapan pentingnya, sejak bayi yang dalam waktu sekejab telah berubah menjadi batita untuk semakin besar, sehat dan cerdas di usia balitanya."



Pemenang akan dihubungi oleh Promosi Parents Indonesia.

Untuk pemenang yang berdomisili di wilayah Jabodetabek, hadiah dapat diambil ke kantor Parents Indonesia di Jl Ciranjang no.30 pada hari kerja (senin-jumat) pukul 09.00 - 17.00. Sedangkan pemenang diluar wilayah Jabodetabek, hadiah akan dikirimkan dengan ongkos kirim ditanggung oleh pemenang.



MERANGKAI KALIMAT

Susunlah sebuah kalimat dengan menggunakan kata-kata yang tersedia dibawah ini.
Untuk melengkapi atau menyempurnakan kalimat yang disusun, boleh menambahkan kata-kata sendiri.
Jumlah minimal kata yang harus terdapat dalam kalimat, menggunakan kata-kata yang disediakan: 4 kata

Contoh kalimat:Parents Indonesia membantuku dan pasangan dalam membesarkan batitaku tercinta untuk dapat tumbuh kembang secara sehat optimal

PILIHAN KATA:
- Parents Indonesia
- Cinta
- Sayang
- Bahagia
- Batita
- Sehat
- Pasangan
- Balita
- Bayi
- Tumbuh Kembang

Kirimkan kalimat Anda ke alamat email: promosi@parentsindonesia.com, subject: "Merangkai Kalimat" paling lambat tanggal 22 Agustus 2011.

Format e-mail:
Kalimat:........................................
Nama:..........................................
Tempat & tanggal lahir:.................
Alamat:........................................
Pekerjaan:....................................
Telp rumah:..................................
Handphone:.................................
No kartu Parents Club (jika member):........................................

Untuk 2 kalimat yang paling menarik dan unik, tersedia 2 voucher menginap di Lido Lakes Resort & Conference, masing-masing senilai Rp 929.800,- untuk 2 orang pemenang.
Pemenang akan diumumkan di www.parentsindonesia.com tanggal 24 Agustus 2011.

Minggu, 12 Juni 2011

"Ibuku Di Dunia Maya"



Setiap membuka Facebook, hatiku selalu mengharu biru kala membaca tulisan yang ku posting di notes facebook ku sendiri. Tak pelak, kedua mataku dipenuhi oleh titik-titik air mata yang mendesak keluar. Tak dapat kubendung rasa sedih dan kehilanganku bila mengingat semua kenangan manis bersama Ibuku. Yah, semua kenangan itu terekam abadi di dunia maya.

Saat itu tanggal 30 September 2009

Sore yang indah bersama Mamak di tempat tinggalku dibojonggede bogor. Kami baru saja selesai menonton acara berita yang mengabarkan peristiwa gempa berkekuatan 7,6 SR di Padang Pariaman. Mamak terlihat begitu cemas dan terus menelepon Udaku yang tinggal di Pariaman. Wajah Mamak yang tadinya keruh, akhirnya berubah ceria setelah tahu Udaku baik-baik saja meskipun rumah mereka sebagian hancur akibat gempa. Kami pun bisa kembali bercerita dengan tenang. Tiba-tiba terbersit ide dikepalaku dan seketika itu juga kuutarakan pada Mamak.

“Ati (nama kecilku) mau bikin cerita tentang gempa ah, Mak. Ceritanya rumah Mamak kena gempa tapi Mamak selamat,” ucapku antusias.

“Nanti rumah Mamak benar-benar kena gempa, Ti,” ucapnya sambil tertawa tergelak-gelak.

“Gak mungkinlah Mak. Ini kan cuma sebuah cerita,” jawabku ikut tertawa. Kami pun tertawa bersama-sama setelah itu. Baru kali ini kulihat Mamak bisa tertawa begitu senangnya. Setelah sekian lama hatinya dilanda duka.

Akhirnya dengan sedikit kerja keras, selesailah sebuah cerpenku yang kuberi judul “Rumah Mande”. Lagi-lagi terbersit ide dikepalaku untuk tak mengirimkannya ke media cetak, tapi ke annida online. Aku tertarik sebab setiap bulan annida-online akan memilih salah satu cerpen terbaik berdasarkan banyaknya polling pembaca annida. Besar harapanku cerpenku ini bisa terpilih. Subhanallah…harapanku terkabul juga. Akhirnya cerpen “Rumah Mande” terpilih sebagai cerpen terbaik bulan Nopember. Meskipun hanya para pembaca di dunia maya yang memilihnya. Segera kusampaikan berita gembira ini pada Mamak. Begitu mendengar kabar cerpenku dimuat dan terpilih, Mamak begitu senang dan terharu mendengarnya.

Namun satu tahun setelah itu, Mamak sering mengeluh sakit dipunggungnya. Memang sebelum pulang ke Medan, Mamak pernah menunjukkan sebuah benjolan kecil dipunggungnya. Saat kutanya “Sakit gak Mak?” “Ah, enggak Ti. Kadang-kadang aja terasa berdenyut,”jawab Mamak sambil tersenyum. Aku pun tak berpkir terlalu jauh tentang benjolan Mamak itu.

Namun setelah Mamak mengeluh bahwa benjolannya semakin terasa sakit dan mulai membesar, aku pun khawatir dan segera menyuruh Mamak berobat ke Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut. Astagfirullah! Begitu diperiksa hasil diagnosa dokter mengatakan bahwa Mamak terkena kanker getah bening. Hatiku dan kakak-kakakku yang lain begitu hancur mendengarnya. Belum lagi stroke yang dialami Mamak. Lengkap sudah penderitaan Mamak karena harus mengalami sakit yang bisa mematikan itu sembari melawan stroke yang semakin parah hingga membuatnya sulit untuk berbicara.
Dengan perasan sedih dan cemas tak terkira, kami pun bergantian merawat Mamak. Rasanya hati ini ingin menangis sekeras-kerasnya saat menatap wajah Mamak yang mengerang kesakitan. Matanya semakin layu menatap kami dari hari-kehari. Aku gak kuat! Sungguh benar-benar gak siap menghadapi kenyataan pahit ini. Hanya lewat tulisanlah beban hati ini bisa kutuangkan. Hingga terciptalah puisi ini untuk Mamak yang kutulis sambil berurai air mata. Lalu kubagikan puisiku di dunia maya. Tanpa bermaksud meminta simpati siapapun. Niat dihati hanyalah ingin berbagi cerita duka.

Bunda…
Kehangatan cinta ini tetap untukmu
Meski sorot matamu kini tak lagi bernyawa
Tak lagi sehangat dekapan dan belaianmu
Yang kini hanya tinggal cerita

Bunda…
Binar cintaku ini tetap milikmu
Meski binar bahagia dimatamu yang keriput redup ditelan usia
Tak lagi memiliki arti seperti dulu
Karena kini kau tergeletak lemah tanpa daya

Bunda…
Kurindu sinar kecemasan itu dimatamu
Saat mendapati diriku bermuram durja
Biarlah kini kecemasan itu menjadi milikku
Yang kian hari dipenuhi rasa putus asa

Bunda…
Tak akan mungkin kulupa
Kedua pelupuk matamu yang menganak sungai oleh air mata
Disaat bermunajat disepertiga malam demi keberhasilan ananda
Tapi kini kedua pelupuk mata tuamu selalu basah oleh air mata derita
Karena maut yang kelam mulai menggerogoti tubuhmu nan renta
Oleh penyakit yang tak mengenal hati dan cinta

Oh Bunda…
Waktu telah menjawab segala
Betapa cintamu selalu mengalir untukku
Bagaikan ricik air cinta yang tak pernah kering dihatimu

Ya Robbi! Perkenankanlah pintaku
Pinta yang kujalin dengan sepenuh cinta untuk Bunda
Dari tasbih, zikir dan doa
Agar kulihat lagi cinta dimatanya
Cinta yang tulus dan abadi hingga akhir masa

Tak lama setelah kuposting di Facebook, banyak komentar yang datang padaku. Komentar yang berisi simpati dan dukungan agar aku tabah dan kuat. Akh, tak sia-sia rasanya karena setelah itu aku mendapatkan dukungan moril yang semakin membuatku tegar dan tabah menjalani hari-hariku selama menemani Mamak. Namun Allah terlalu sayang pada Mamak melebih rasa sayang kami padanya. Akhirnya setelah hampir satu tahun menjalani pengobatan, Mamak berpulang untuk selama-lamanya. Sia-sia rasanya usaha yang kami lakukan untuk penyembuhan Mamak.

Kehilangan Mamak sungguh membuatku terpukul selama berhari-hari. Dan kembali kutuangkan curahan kesedihanku lewat facebook. Dan kembali teman-teman facebook memberi dukungan moril padaku dengan berbagai macam nasehat yang menyejukkan hati. Sampai suatu hari kudengar salah seorang facebooker Agnes Davonar mengadakan lomba kisah nyata tentang Ibu yang disponsori oleh ungu dan chocolates. Aku pun tertarik untuk mengikutkan kisah ibuku dalam lomba itu.

Tak ada niat untuk bisa menang dalam lomba. Hanya saja aku berniat bila terpilih dan mendapatkan hadiah berupa uang tunai, maka uang tersebut akan kusedekahkan sebagai amalan untuk Mamak disana. Ternyata Allah mendengar doaku. Cerita ibuku yang berjudul “Rumah Baru Untuk Ibuku” terpilih sebagai nominasi 20 pemenang diantara 30 ribu peserta. Aku bersujud sukur dan segera melaksanakan nazarku untuk memberikan uang hadiah lomba kepada anak yatim sebagai tambahan pahala untuk Ibuku di rumah barunya. Ucapan selamat yang berdatangan cukup menghibur hatiku yang sedang berduka.Meski kini Ibuku tak lagi bisa kutemui di dunia nyata. Namun kenangan indah bersama Ibuku tetap hidup bersamaku di dunia maya.

Selasa, 29 Maret 2011

jantung untuk profesor


Geo, Robot Yang Berhati Mulia

Neo adalah seorang professor yang ahli merakit robot. Dia selalu berhasil menciptakan robot dengan kualitas terbaik di negerinya. Karena itulah banyak orang yang memesan robot darinya. Mulai dari robot rumah tangga, robot industri, robot militer, robot laut, bahkan sampai robot operasi. Yaitu robot yang bisa membantu para medis dalam mengoperasi pasien dengan tepat. Dan kali ini professor Neo kembali membuat robot operasi. Professor Neo harus bisa menyelesaikan robot tersebut dalam waktu satu minggu. Sesuai dengan pesanan yang diminta oleh pemesannya. Ketika Profesor Neo asyik merakit, robot-robot buatannya pun saling berbicara satu sama lain.
“Aku memang robot yang tidak berguna,” ucap Geo si robot Android.
“Mengapa kamu berpikir begitu Geo?” Tanya Maru si robot rumah tangga.
“Lihat saja, barusan Rio si robot laut diantar ke pemiliknya untuk digunakan. Sementara aku sudah berbulan-bulan di sini. Tapi belum ada satupun yang membutuhkanku,” jawab Geo sambil memasang wajah sedih.
“Sabarlah Geo, suatu saat nanti pasti kamu diperlukan juga oleh manusia. Hanya masalah waktu saja,” ujar Maru mencoba menghibur.
“Tapi sampai kapan Maru? Sementara semua robot buatan professor Neo sudah menemukan pemiliknya. Pasti tak lama lagi kamu juga akan dibeli oleh manusia untuk keperluan rumah tangga,” ucap Geo lagi. Maru pun ikut bersedih mendengar keluhan Geo. Sebagai teman sesama robot, dia tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi keesokan harinya seorang konglomerat membelinya untuk mengerjakan tugas rumah tangga. Seperti membersihkan rumah, mencuci baju dan mencuci piring. Maru pun mengucapkan selamat tinggal pada Geo dengan perasaan berat.
“Semoga tak lama lagi kamu dipesan oleh manusia Geo,” ucap Maru dengan tak enak hati.
“Semoga saja Maru, tapi aku sudah tak mau berharap lagi,” jawab Geo dengan wajah mendung. Begitu Maru meninggalkannya, butir-butiran air bening pun mengalir dari kedua matanya. Yah, dia menangis karena sudah tak sanggup lagi menahan rasa sesak didadanya. Sakit sekali rasanya bila tak seorangpun membutuhkan dirinya. Lebih baik aku mati saja,” pikir Geo putus asa.
Untuk apa aku hidup bila tak berguna seperti ini. Geo pun bersiap-siap untuk mengambil sebuah kabel listrik. Dia ingin menyetrumkan dirinya sendiri agar hangus terbakar. Dia sudah tak ingin hidup lagi!. Tapi sebelum dia melakukan aksinya. Tiba-tiba saja dia mendengar suara seseorang yang sedang minta tolong. Bergegas Geo menghampiri sumber suara itu. Alangkah paniknya Geo saat melihat Professor Neo sudah jatuh terkapar didekat sebuah robot yang sudah jadi.
“Apa yang terjadi pada professor? Tanya Geo cemas.
“Saya juga tidak tahu sobat. Profesor tiba-tiba saja jatuh pingsan begitu selesai merakitku,” jawab robot operasi tak kalah khawatir.
“Apa yang harus kita lakukan? Tanya Geo lagi dengan panik.
“Begini saja, aku kan robot operasi. Jadi aku bisa mengoperasi Profesor untuk melihat apa yang terjadi di dalam tubuhnya,” robot operasi menawarkan diri.
“Apakah itu tidak membahayakan diri beliau?” Tanya Geo ragu.
“Serahkan saja padaku sobat. Professor akan baik-baik saja karena aku sangat mahir dan teliti dalam mengoperasi.”
“Baiklah kalau itu bisa membuat kita tahu sakit yang dialami oleh Professor Neo sebenarnya,” jawab Geo pasrah. Robot oprasi pun menjalankan tugasnya dengan cepat. Raut wajahnya terlihat sangat serius.
“Setelah kuperiksa dalamnya, ternyata Profesor Neo mengalami sakit jantung yang akut sobat. Bahkan jantungnya sudah tak berfungsi lagi karena sudah rusak berat.”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan robot operasi?” Tanya Geo kian cemas.
“Kita harus segera mencari jantung yang baru untuk Profesor Neo. Kalau tidak, dia bisa mati.”
“Profesor Neo tidak boleh mati. Hidupnya sangat berguna untuk orang banyak. Kalau dia mati, siapa lagi yang akan menciptakan robot-robot canggih yang sangat dibutuhkan oleh manusia,” jawa Geo lemah.
“Tapi, siapa yang mau mendonorkan jantungnya buat Profesor? Tanya robot operasi bingung.
“Aku si robot Android. Karena cuma aku robot yang memiliki organ tubuh seperti manusia. Aku bersedia memberikan jantungku agar Profesor Neo bisa tetap hidup.”
“Kamu?” Ucap robot operasi setengah tak percaya. Dia begitu terharu mendengar ketulusan Geo yang rela mengorbankan dirinya.
“Iya, aku sobat. Mungkin dengan cara seperti inilah hidupku menjadi berguna. Ayo! ambillah jantungku dan segera operasi Profesor Neo sebelum terlambat. Robot operasi pun tak bisa menolak dan segera melaksanakan perintah Geo. Operasi berjalan lancar. Satu jam kemudian Professor Neo sadar kembali dan melihat sekelilingnya dengan heran.
Apa yang terjadi dengan diriku barusan? Sepertinya aku tadi bermimpi sedang menjalani operasi. Oh, ya aku baru ingat sekarang. Tadi jantungku sakit sekali lalu aku jatuh tak sadarkan diri, batin Profesor Neo. Tapi, olalaaa…Profesor sangat terkejut begitu melihat Geo si robot Android buatannya. Tubuh robot itu telah rusak dengan organ tubuh yang terburai keluar semuanya. Hanya saja seulas senyum bahagia tersungging di bibirnya.
Siapa yang telah merusak robotku ini ya? Tanya Profesor Neo heran. Baiklah Robot Android, aku akan mencoba memperbaikimu kembali--Agar kamu bisa menjadi robot yang utuh seperti sedia kala. Profesor Neo pun kembali bekerja dengan tubuh yang lebih segar dan fit dari sebelumnya. Dia tidak tahu kalau semua itu berkat jasa si robot Android yang berhati mulia.

Minggu, 30 Januari 2011

Tampil cantik tak harus wah!



Siapa bilang kalo dandan seadanya (minimalis) gak bisa bikin kita terlihat lebih cantik? Namanya juga dandanan minimalis. Jadi berdandan seadanya saja. Mungkin begitu pikir sebagian wanita. Mau dandan minimalis atau wah, Yang penting bagaimana cara kita menyiasati dandanan itu sendiri, agar terlihat sesuai dengan warna kulit, bentuk bibir, mata dan wajah kita.
Untuk dandanan minimalis sendiri kita mulai dari wajah. Gunakanlah pelembab wajah terlebih dahulu. Sebaiknya pilih pelembab wajah yang mengandung sinar ultra violet agar wajah terlindung dari sinar matahari. Setelah itu baru deh kita poles wajah dengan bedak yang sesuai dengan jenis kulit kita. Oh ya, jangan lupa untuk membersihkan wajah terlebih dahulu sebelum melakukan ritual ini. Tentunya memakai pembersih wajah yang sesuai dengan jenis kulitmu yaitu kering, berminyak atau normal. Satu lagi yang tak kalah penting nih. Jangan suka gonta-ganti pembersih muka seenaknya. Iya kalo cocok, kalo enggak? Bisa-bisa mukamu jadi korban bro!
Sekarang giliran mata. Kalo ada pakailah eye shadow berwarna coklat muda atau yang sesuai dengan warna kulitmu. Setelah itu pertegas alismu yang tipis dengan alis mata berwarna coklat tua atau hitam. Pakailah pelentik bulu mata bagi yang matanya belum lentik..Diikuti dengan pakai mascara juga boleh, agar kesannya terlihat lebih tebal. Sementara buat yang bola matanya kecil bisa menggunakan eye liner agar terlihat lebih besar. Tentu saja yang matanya sudah besar gak perlu pakai eye liner. Kalau masih ingin memakainya juga tipis-tipis saja agar mata tak bertambah belo.
Yang terakhir olesi bibir dengan lip gloss atau lip blam. Untuk bibir yang tipis pilihlah lip gloss berwarna pink tegas. Agar bibir terkesan lebih tebal. Sebaliknya untuk bibir yang tebal pilihlah lip gloss berwarna pink muda/ pucat. Agar bibir gak terkesan terlalu tebal. Ternyata sangat mudahkan agar bisa tampil cantik dengan cara yang sederhana dan cepat? Pasti semua wanita bisa melakukannya. Selamat mencoba!

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut