novel yang diangkat dari kisah nyata

novel yang diangkat dari kisah nyata

Jumat, 06 Januari 2012

lomba 1001 pertanyaan anak tahap2

Bunda pasti sering mendapatkan pertanyaan dari buah hati baik itu tentang sex, tentang alam, tentang tuhan dan tentang apa saja. tulis pertanyaan buah hati yang disertai jawaban dari bunda tentunya. oh ya boleh kirim lebih dari satu cerita yah... akan dipilih 6 orang pemenang



kirim cerita bunda sebanyak 1-2 hal 1,5 spasi font 12 times new roman ke email irhayatiharun@yahoo.co.id dibadan email aja gak usah diattach



3 pemenang utama akan mendapatkan reward uang tunai masing2 @100 ribu

3 orang pemenang hiburan masing2 akan mendapatkan paket cantik



ditunggu sampe akhir januari 2012 yah. pengumuman awal maret 2012



Insya allah semua pertanyaan anak akan ditawarkan ke penerbit mayor. namun tidak ada pembagian royalti bagi cerita yg terpilih



dibawah ini judul judul yang sudah masuk





Bapak Pergi ke Mana, Bu

KENAPA NGGAK JADI KOKI MA?

“Kalau mati kita bawa apa Ma?”

Allah ada giginya juga ya?

Ummi, Aku Cantik Tidak

1001 Pertanyaan Nita

SI BUAH HATI - TAKUT ALLOH

Umi Juga Manusia

"Mana Punya Layla?"

Kenapa Dek Gi Nggak Boleh Jadi Kuda

“Ma, siapa yang makan mama sapi?”

coba lihat mi!

kenapa harus takut sama Allah

adek seperti shaun the sheep

. ketika muharik bertanya

rabbani pun bertanya ttg masa yang akan datang

aku gak mau mayatku ancur!

. dia punya burung aku kok enggak?

lantip bertanya dimana surga

ketika aisya bertanya ttg kiamat

. kenapa orang besar sukanya marah-marah

. saat aghif bertanya ttg hari kiamat

. ma kapan bikin pizza

pohon nasi vs mc queen

sampai kapan jadi anak mama

. playboy...playboy...

bagaimana sel telur bertemu dengan sel sperma

bidadari dan lampu disko

kenzie, bulan, dan bumi

loh kok onta sih

. ikan bobok. pertanyaan si gadiis

terima kasih buata Allah

siapa yang bilang tuh... tuh... itu ?

ketika putri kecilku bertanya tentang Allah

binatang yang paling gak mungkin masuk neraka

dede bayi dapat dari mana ?

pulpen warna-warni

warnanya kok beda ?

. affif dan kokkon

. kan dilarang merokok!

pertanyaan menahun

. rindu sama allah

. ibu punya bapak kok enggak?

. kan ada allah!!

boleh makan manusia?

. fawwaz nagpain diperut bunda?

apakah binatang berbicara b.indonesia?

. kok lama betul

hantu itu apa?

. dalam perut ummi masih ada bayi lagi?

. neraka itu apa?

. pilih kaki yang mana?

. boleh minta uang sama allah?

. darimana keluarnya bayi?

. dilarang merokok di spbu

.ingin masuk neraka

. yang ajdi allah itu siapa sih?

kenapa pake poin?

banyak tanya banyak hikmah

hebat mana krisna sama nabi muhammad

fahri juga bertanya ttg salju

. abang boleh makan permen?

. libur sholat

jadi ibu enak gak sih?

. krem muka dodol

aulia bertanya tentang mati

. kok mama pake pampers juga yah

Pelajaran Dari Kandang Sapi

Kalau Remaja Bertanya

Kok Bapak Nggak Kerja Sih?

Cerai Itu Apa, Ma?

Ummi, ini apa namanya?

bagi yang sudah ngirim tapi belum terdaftar segera kirim ulang yah...

Minggu, 01 Januari 2012

kaulah bang.....

abang...

disetiap tarikan nafasku

kau hadir mengisi ruang hidupku

kaulah udara yang selallu menghidupiku dengan cintamu



abang...

kau hadir disetiap kuresah dan gundah gulana

kau tak pernah mengeluh meski kuselalu berkeluh

kaulah tempatku bersandar dari setiap masalah



abang...

saat berada didekatmu

hanya rasa nyaman yang kurasa

kaulah inspirasiku dalam hidup ini

tak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku

sehebat apapun orang itu



abang....

adakah kau tahu aku selalu rindu padamu

pada suaramu, wajahmu dan segala gerak gerikmu

kau selalu menerangi hari hariku dengan harapan

sedetikpun kutak bisa hidup tanpa dirimu



abang.....

kaulah segalanya bagiku

cintamu yang tak terdefinisi untukku

menjadi pelecut keberanianku

untuk mengarungi hidupku



kaulah bang...

Jumat, 30 Desember 2011

cukup cintamu, bang...



dalam mengarungi hidup ini

tak ada yang lebih membahagiakanku

selain bertemu dan jatuh cinta padamu, bang.....



dirimu hadir melengkapi hidupku

yang selalu sunyi akan cinta

tak dapat kusangkal

sejak dirimu hadir

hidupku jadi penuh warna



adakah kau tahu bang....

aku butuh cinta dan kasih sayangmu

dan kau selalu mencurahkannya padaku

terlalu besar kasih sayangmu bang...

hingga sulit terukur dengan apapun jua



kuingin kau tahu

diantara semua yang ada

cukuplah cintamu yang satu untukku



kan kuukir dalam benakku

semua perhatian dan cinta kasihmu

dengan pena cinta yang kumiliki

agar indah terganbar selamanya dihatiku

Senin, 26 Desember 2011

kaulah puisiku


selarik kata kugoreskan untukmu

pengabadian cintaku padamu

hingga tercipta puisi cinta ini untukmu



mengenyahkan lara cinta yang melanda

seiring waktu tersisa cinta yang berserak ini hanya untukmu

kan kurekam keikhlasan cintamu

biarlah dedaunan basah di taman hati kita menjadi saksi

ikatan cinta ini tak pernah mati



beribu puisi cinta kucipta untukmu

walau kaulah sebenarnya puisi itu

goresan tinta emasku

telah mencatat pengorbanan cintamu padaku



kaulah puisi cintaku

yang tercipta dalam diksi yang indah

dalam irama kehidupanku



takkan mampu kucipta lagi puisi cinta

karena kau sendirilah puisi hidupku

puisi cinta dihidupku

Minggu, 25 Desember 2011

first love forever love



cinta pertamaku

saat aku jatuh cinta padamu

bulan dihatiku yang dulu redup

berpendar indah menelusup



awan kelam dihari-hariku sirna

berganti sinar mentari yang cerah ceria

tak ada lagi kata-kata yang bisa kutuliskan selain ungkapan

betapa indahnya cinta yang kau pancarkan

disudut hatiku yang remang



cinta pertamaku....

saat panah asmaramu menembus jantungku

seolah bumi yang kupijak bergetar





pandangan matamu yang menusuk dalam

memporak porandakan laut hatiku yang tenang

bak ombak menggulung menyeretku ke pusaran cinta



cinta pertamaku, kaulah bulan, kaulah ombak dan kaulah bumi tempat cintaku berpijak

first love forever love

teardrops in heaven 6



Tanpa terasa, enam bulan sudah Bintang bekerja di Jakarta. Seperti janjinya, setiap bulan dia rutin mengirimkan surat sekaligus uang buat adik-adiknya. Uang gaji yang sengaja ia sisipkan untuk biaya sekolah dan kebutuhan kami. Bintang memang tak pernah berubah. Sebagai anak tertua, dia selalu menunjukkan tanggung jawab yang besar buat keluargnya. Tak terasa juga Upik dan Iqra sebentar lagi akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Iqra sedang bersiap-siap mengikuti UMPTN. Dia mengambil jurusan kedokteran di fakultas USU Medan.
Besar keyakinanku Iqra akan diterima mengingat selama ini dia rangking satu terus sejak dari SD hingga SMA. Tapi seandainya Tuhan menghendaki lain, aku terima apapun yang terbaik buat anak-anakku. Sementara Upik berusaha keras belajar agar bisa diterima di SMA negeri 1 Medan. SMA terfavorit dan terbaik di Sumatera utara. Sedangkan Rusli disuruh oleh Bintang berhenti bekerja untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di Medan. Betapa senangnya Rusli sebab selama ini dia sanagt suka dengan bahasa Inggris.
Selama bekerja di rumah makan Padang, Rusli memang sering membawa orang asing ke tempat kerjanya. Itulah yang membuat bosnya senang dengan Rusli. Niat Rusli untuk berhenti bekerja tak disetujui begitu saja oleh bosnya itu. Akhirnya Rusli diperbolehkan mengikuti kursus bahasa Inggris setelah pulang bekerja dari rumah makan. Rusli pun tak keberatan dengan perjanjian jam kerjanya tak lagi full time seperti dulu. Tapi hanya bekerja paruh waktu yaitu setengah hari saja. Bosnya tak bisa berkutik dan menyetujui permintaan Rusli. Betapa bahagianya melihat anak-anakku yang begitu giat dan tekun menuntut ilmu. Aku tahu, Bintanglah penyulut semangat mereka untuk tekun dan giat belajar. Bintang memang begitu perduli dengan dunia pendidikan. Adik-adiknya begitu mengidolakan Bintang.
“Mande, besok Iqra tes di kampus USU. Doakan Iqra yah Mande.”
“Pasti Mande doakan. Sekarang kamu tidurlah dulu. Hari sudah larut malam, gak baik belajar terus tanpa istirahat,” ucapku lembut.
“Iqra udah selesai belajarnya kok Mande. Iqra mau siapkan dulu alat-alat tes yang akan dibawa besok,” ucap Iqra sambil menguap lebar karena ngantuk.
“Adikmu Upik sudah tidur belum? Kok Mande gak mendengar suaranya. Biasanya dia membaca sambil mengeraskan suara,” tanyaku heran.
“Upik sudah dari tadi terbang ke alam mimpi Mande,” jawab Iqra sambil tertawa. Aku pun tersenyum mendengar jawaban Iqra dan segera menuju kekamar untuk memastikan ucapannya. Ternyata benar, Upik sedang tertidur pulas denga buku-buku yang masih berserakan diatas tempat tidurnya. Segera aku rapikan buku-buku Upik. Sebelum mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur.
Aku bergegas masuk kekamarku dan mendapati Abaknya yang sedang tidur nyenyak. Kupandangi wajahnya yang mulai keriput. Sisa-sisa ketampanannya masih terlihat meski usianya sudah beranjak senja. Rasanya tak percaya kalau aku akan menjadi istri keempat sekaligus terakhir baginya. Sedikitpun aku tak menyesal menikah dengannya. Karena selama menjadi istrinya, aku sudah puas mengecap bahagianya hidup berumah tangga. Meski di hari tuaku kemanjaan dan perhatian darinya tak lagi kudapat. Sekaranglah saatnya aku memperhatikan dirinya.
Tak bisa kubayangkan bagaimana nasibnya seandainya dia masih hidup menduda. Mengingat kelima anaknya dari istri-istrinya dahulu tak perduli lagi padanya. Inilah jalan terbaik dari Allah untukku dan suamiku. Dengan beristri lagi yaitu diriku, Bagindo Sulaiman ada yang merawat dan memperhatikan diusia tuanya. Akh, hidup benar-benar tak bisa diduga. Allah memang selalu tahu yang terbaik buat hambanya. Akupun memutuskan untuk tidur disamping suamiku dan memeluknya erat. Rasa takut kehilangan itu masih tersisa diusiaku yang sudah menua ini. Takut kalau suamiku akan lebih dulu meninggalkanku bila dilihat dari umurnya yang jauh diatasku.

10 tahun kemudian
Lengkap sudah kebahagiaanku sebagai seorang ibu. Iqra berhasil menamatkan kuliah kedokterannya. Upik berhasil masuk ke USU jurusan ekonomi. Mukhlis lolos masuk SMAN 1 mengikuti jejak Upik. Sedangkan Bintang sukses dengan perusahaan yang ia dirikan. Perusahaan dibidang event organizer yang mengurusi kegiatan seputar seminar bagi perusahaan-perusahaan besar. Bahkan usaha seminar Bintang masuk dalam sebuah majalah bisnis ibukota sebagai seminar dengan peserta teramai dan paling diminati. Bintang benar-benar bersinar bagaikan bintang kejora. Aku benar-benar bangga padanya. Hanya Yanuar yang semakin terpuruk nasibnya. Rumah makannnya terancam bangkrut akibat terlilit hutang yang lumayan besar. Dia benar-benar sudah menerima karma dari perbuatan durhakanya.
Hingga suatu hari,
“Bintang, sebaiknya kita pergi kedokter Nak. Mande lihat kamu lemas sekali. Wajahmu pucat,” ucapku cemas.
“Gak usahlah Mande, paling Bintang cuma kecapekan saja karena beberapa hari ini pekerjaan menumpuk.”
“Iya Uda, penyakit gak boleh dibiarkan,” ucap Upik yang sama khawatirnya denganku.
“Kalau begitu kamu minum obat dulu yah, biar lebih enakan.”
“Bintang gak mau ke dokter dan minum obat Mande. Semua obat itu kan racun. Paling besok Bintang sudah baikan. Mande gak usat terlalu panik. Bintang sehat-sehat saja kok.”
Aku hanya bisa pasrah mendengarnya. Bintang memang alergi kalau sudah berurusan dengan rumah sakit. Tapi keesokan harinya Bintang muntah darah. Aku pun memaksanya kembali untuk berobat kedokter.
“Bintang mau berobat tapi ke sinse aja Mande,” pintanya memohon.
“Baiklah Bintang, kalau memang itu yang kau mau. Aku pun menuruti keinginan Bintang.
Namun setelah 2 hari minum obat dari sinse, sedikitpun kondisi Bintang tak mengalami perubahan. Malah sebaliknya, bertambah parah. Tanpa menunggu lagi, segera kupaksa dia berobat ke dokter. Aku segera membawanya ke rumah sakit Haji Medan. Begitu sampai dirumah sakit, Bintang langsung dirawat inap.Demi melihat kondisinya yang parah dan begitu lemah.
Dokter langsung memeriksa kondisi Bintang. Dan, aku benar-benar tak siap mendengarnya. Hasil diagnosa mengatakan bahwa Bintang mengalami hepatomegarli yaitu pembengkakan hati. Dokter pun menganjurkan supaya Bintang segera di biopsy. Untuk mengetahui apakah ada indikasi kanker atau tidak. Aku menangis di dalam hati melihat kondisinya. Sedih sekali rasanya.
Keesokan harinya ditemani Upik, aku mengambil hasil biopsy Bintang dengan penuh rasa khawatir dan cemas.
“Umur anak ibu kemungkinan tinggal 6 bulan lagi sebab kanker yang dideritanya sudah stadium 4,” jelas dokter dengan wajah serius padaku dan Upik. Dunia disekelilingku terasa berputar-putar. Aku merasa tak mampu lagi berpijak diatas kakiku sendiri.
Ya Allah! Mengapa kau berikan cobaan seberat ini padaku. Apa salah dan dosaku? Kau tahu, aku tak bisa hidup tanpa Bintang anakku. Sanggupkah aku menjalani hidup tanpa orang yang begitu kusayangi? Setelah Abaknya tiada kini Bintang yang akan meninggalkanku untuk selama-lamanya.
“Apa kata dokter tentang kondisi Bintang Mande?” Tanya Bintang yang masih terbaring lemah.
“Kamu hanya perlu banyak istirahat dan minum vitamin Bintang, agar kondisimu lebih fit,” jawabku berbohong. Aku tak ingin Bintang tahu penyakit yang ia derita. Sebuah kanker ganas yang sebentar lagi akan merenggut hidupnya.
“Benarkan Mande, Bintang hanya butuh istirahat saja. Memang akhir-akhir ini Bintang terlalu bekerja keras mengurusi seminar.”
“Mande ingin keluar dulu, kamu istirahat dulu yah Nak,” ucapku sambil mengusap kepalanya. Begitu sampai diluar tangisku pun pecah dipelukan Upik.
“Upik mengerti dengan perasaan Mande. Percayalah Mande, Allah tidak akan mencoba hambanya diluar batas kemampuannya. Upik yakin Allah akan memberikan mukjizat itu pada Uda,” ucap Upik sambil memeluk tubuhku erat. Aku pun menangis sejadi-jadinya dipelukan Upik anak perempuanku.
Hari-demi hari keadaan Bintang semakin menurun drastis. Mulailah tumbuh benjolan-benjolan kecil di tubuhnya. Ada yang tumbuh di ketiak, dan ada yang dibawah lutut. Perut Bintang juga semakin lama semakin membesar. Bintang pun mulai mengeluh sakit diperutnya. Dokter hanya meresepkan obat penghilang rasa sakit untuk Bintang. Menurutnya, penyakit Bintang sudah tak bisa diobati lagi. Bahkan dikemo juga sudah percuma. Bintang hanya boleh mengkomsumsi vitamin. Obat-obatan lain sudah tak boleh diberikan karena sudah tak ada gunanya. Sebagai seorang ibu, hatiku begitu hancur mendengarnya.
Bukan hanya kondisi fisiknya saja yang semakin melemah. Kondisi psikis Bintang juga semakin menurun. Dia semakin sensitive dan mudah marah. Dia tak mau lagi disuntik. Juga sering menolak saat ingin dibersihkan badannya oleh perawat. Dia sering bilang bosan dirumah sakit terus. Yang setiap hari hanya bisa makan obat yang itu-itu saja. Hampir setiap malam dia mengeluh kepanasan. Kami pun berganti-gantian mengipasinya karena Bintang tak bisa tidur kalau tidak dikipasi. Bahkan hampir setiap hari Bintang minta air es. Tak perduli meski tengah malam sekalipun. Kami pun berusaha memenuhi keinginannya itu
Sampai akhirnya Bintang mengalami penurunan dalam kesadarannya. Dia sering tak ingat padaku dan adik-adiknya sendiri. Bagaikan orang yang terkena amnesia. Dia banyak lupa dengan orang-orang terdekatnya. Aku bertambah terpukul melihat keadaannya. Sakit sekali rasanya mendapati Bintang sudah tak bisa memberi respon seperti dulu. Meskipun semuanya karena keadaan, bukan karena kemauan Bintang. Hati ini menangis setiap hari melihat kondisinya yang semakin mengkhawatirkan.

3 bulan kemudian..
Disini ditanah merah, aku ucapkan kata terakhir didepan batu nisan anakku.
“Bintang anakku, sudah banyak air mata Mande yang keluar untukmu. Air mata bahagia saat melahirkan dirimu. Airmata bangga saat menyaksikan keberhasilanmu, dan air mata kesedihan saat menemani hari-hari terakhirmu. Menemanimu melewati hari-hari yang menyakitkan saat sakit kanker yang tak mengenal hati menggerogoti tubuhmu. Ini adalah air mata yang terakhir buatmu Nak. Karena setelah ini, Mande tak akan lagi mengeluarkan air mata untukmu. Mande akan mencoba untuk ikhlas dan sabar menerima kepergian dirimu. Semoga airmata Mande yang terakhir ini akan menjadi air mata surga. Air mata yang kelak akan mengantarkan Mande bertemu denganmu nanti disurga. Amin…Aku pun beranjak pergi dengan membawa harapan hidup yang baru bersama ketiga bintangku Upik, Iqra dan Mukhlis. Yang akan terus menjadi Bintang yang bersinar didalam hidupku. tamat

Terinspirasi dari kisah ibuku yang kisahnya masuk nominasi 20 pemenang diantara 30 ribu peserta dalam kisah 1000 blog tentang ibu bersama ungu dan chocolates.



Keterangan
Mande : ibu
Abak : ayah
Uda : kakak laki-laki
Ambo : aku
Manga : kenapa
Wa-ang : kamu

Selasa, 04 Oktober 2011

Tears In Heaven 5



Aku sudah hapal dengan watak Bintang yang begitu sensitive dan serius. Serta sulit begitu saja melupakan sakit hatinya. Tapi aku yakin Bintang tak pernah menyimpan dendam. Bintang hanya mudah terluka bila hatinya disinggung. Dan luka itu tak mudah kering dalam waktu sekejap. Butuh waktu bilangan bulan bahkan tahun untuk menyembuhkannya. Nampaknya watakku yang perasa menurun pada Bintang. Beda dengan adiknya Rusli yang lebih santai dan humoris.
Jadilah Setiap minggu Rusli menemani Abaknya makan direstoran Yanuar. Meski menurut Rusli Uda tirinya itu tak pernah turun menemui Abaknya yang sedang makan. Benar-benar tak punya hati, aku mendengus kesal mendengarnya. Untung Abaknya sudah gak ingat apa-apa, kalo gak hati orangtua mana yang tidak sakit dicuekin oleh anak sendiri. Tapi kami tak bisa mencegah keinginan suamiku untuk makan masakan Padang minimal setiap dua minggu sekali di rumah anaknya itu. Yang penting karyawannya si Yanuar sudah mengerti kalo yang makan adalah Bapak dari bos mereka. Mereka akan melayani dengan baik dan menyediakan lauk yang enak-enak yang ada direstoran itu. Gak lucu juga kan? masak anaknya punya rumah makan tapi Abaknya mati kelaparan. Jadi siapapun termasuk Yanuar tak bisa melarang keinginan Abaknya untuk bisa makan enak meski hanya dua minggu sekali.
Masalah satu selesai timbul masalah baru. Karena sudah menunggak uang listrik selama tiga bulan, akhirnya pihak PLN mengancam akan mencabut listrik dirumah. Aku kembali panik membayangkan rumah akan gelap tanpa cahaya lampu. Apalagi Bintang suka membaca, gak mungkin dia membaca di ruangan yang gelap gulita. Adik-adiknya Bintang juga tak bisa belajar kalau tak ada lampu. Andaipun dipasang lilin, tetap tak baik bagi mata mereka untuk membaca diruangan yang remang-remang.
“Bagaimana ini Mande? Upik kan mau ujian? Gimana bisa belajar. Mana Uda pulangnya nanti malam lagi,” sungut Upik kesal.
“Iya nih, Mukhlis juga sedang ujian kenaikan kelas. Kapan bisa belajar kalo lampu mati.”
“Untuk sementara kalian belajarnya siang hari saja dulu. Mande akan kerumah Etekmu di pasar merah. Siapa tahu dia bisa membantu kita. Kalian tunggu rumah yah.”
“Iya Mande,” jawab Upik dan Mukhlis serempak..
Aku harus mencari pinjaman uang untuk melunasi tunggakan listrik. Semoga Eteknya mau meminjamkan sejumlah uang yang diperlukan. Aku berharap besar saudara dari Abaknya Bintang mau membantu.
“Memangnya Uni mau minjam berapa?”
“Gak banyak Tek, hanya tiga ratus ribu saja,” jawabku senang. Karena akhirnya Eteknya bersedia meminjamkan.
“Tapi kapan Uni mau menggantinya?”
“Nanti kalo Bintang sudah dapat kerjaan Tek.”
“Bintang itu sarjana pak Ogah ya? Masak udah tamat masih nganggur,” cibir Etek Rohma.
“Cari pekerjaaan memang susah Tek. Tapi aku yakin, tak lama lagi Bintang pasti diterima bekerja,” jawabku tak enak hati. Meski amat tersinggung mendengar ejekannya, kucoba menahan hati demi uang tiga ratus ribu. Dan tanpa berlama-lama aku segera pamit pulang sambil menangis di dalam hati. Semoga masa-masa sulit ini segera berlalu dengan diterimanya Bintang bekerja, doaku tiada henti. Tanpa terasa, airmata membasahi kedua mataku yang sudah kabur. Segera kuputar langkahku menuju tempat pembayaran listrik. Bukankah semakin cepat dibayar, semakin baik agar listrik dirumah tak segera dicabut.
Begitu tiba dirumah, hari sudah sore. Tumben Bintang sudah ada dirumah begitu aku sampai.
“Mande darimana saja?”
“Dari rumah Etekmu meminjam uang untuk bayar listrik,” jawabku tersenyum. Mencoba menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Bagaimanapun Bintang tak boleh tahu betapa hancurnya hatiku mendengar sindiran tajam Eteknya.
“Kenapa Mande gak nunggu Bintang dulu? Biar Bintang yang pergi dari pada Mande harus keluar sampe sore begini. Bintang khawatir.”
“Sudahlah Nak, semuanya sudah beres kok. Kamu gak perlu terlalu mencemaskan Mande. Yang penting listrik dirumah kita gak jadi diputus.”
“Mande, Bintang benar-benar belum bisa membahagiakan keluarga kita. Bintang harus berbuat apa lagi agar kita segera terlepas dari kesulitan keuangan,” jawab Bintang lesu.
“Kamu jangan berputus asa Nak. Mande yakin kamu akan dapat pekerjaan tak lama lagi.”
“Itulah yang Bintang tunggu-tunggu Mande. Tapi sampai kapan? Sudah hampir satu tahun Bintang menunggu. Mengapa nasib baik belum juga berpihak pada Bintang? Bintang memang anak yang tak berguna! Ucapnya lagi.
“Bintang, kamu tak boleh menghukum dirimu sendiri. Banyaklah beribadah dan berserah diri padaNya. Mande tak pernah memaksa Bintang harus bekerja sekarang. Kalau memang Allah belum memberi, kita harus bisa terima Nak. Nanti juga tiba saatnya,” hiburku mencoba bersikap tegar dihadapan Bintang.
“Tapi Bintang gak tega melihat adik-adik yang kadang makan hanya berlaukkan garam seperti sekarang.”
“Kita harus tetap bersyukur Nak, yang penting masih bisa makan. Toh gak setiap hari adikmu makan tanpa lauk. Si Rusli masih suka membawa lauk sepulang dari tempatnya bekerja meski hanya sesekali.”
“Iya Mande, tapi kalo sampe bulan depan Bintang belum mendapat panggilan juga, Bintang akan merantau ke Jakarta dari pada menunggu terus tanpa kepastian. “
“Pergilah Nak, Mande tak akan pernah melarang. Yang penting kamu bisa menjaga diri. Sekarang kamu istirahatlah dulu, pasti capek karena sudah berjalan jauh untuk mengajar.” Bintang pun menurutiku. Setelah makan malam, dia segera masuk ke kamar dan menenggelamkan dirinya pada buku-buku. Hingga tertidur dengan buku menutupi wajahnya.
Aku sendiri tak dapat memejamkan mata. Hatiku masih sedih mengingat perkataan Eteknya tadi. Segera aku pergi berwudu’ dan menunanikan solat malam. Lalu berdoa dengan sepenuh hati.
“Duh Robbi! tolonglah kembalikan nama baik anakku Bintang. Aku tahu, dia sudah berusaha bekerja keras demi kami. Tapi usaha yang dia lakukan belum jua menampakkan hasil. Sebagai ibunya, hamba hanya bisa berdoa agar Kau memudahkan jalannya menuju kesuksesan. Kesukesan hidupnya dunia dan akhirat. Hanya kepadamu kami bergantung. Perkenankanlah permohonan hambamu yang lemah ini. Amin…”
Hari ini begitu cerahnya. Beda dengan hari-hari sebelumnya. Langit diterangi sinar mentari yang tak terlalu panas menyengat kulitku. Semangat baru seakan timbul kembali dihatiku. Entahlah, apa ini perasaanku saja. Kebetulan aku tak ada jadwal les privat hari ini. Aku akan kembali menata hidupku dengan menuliskan lamaran kerja yang baru. Tiba-tiba keasyikanku dikejutkan oleh suara tukang pos di depan rumah.
“Pos..pos..ada kiriman dari Jakarta,” teriak tukang pos nyaring. Seketika aku melompat dari tempat dudukku. Dan bergegas keluar kamar menghampirinya si tukang pos.
“Makasih yah pak,” ucapku riang setelah lebih dulu menandatangai surat tanda terima.
“Dari siapa Mande?” Tanya Bintang dari dalam rumah.
“Gak tahu Nak, tapi yang jelas dari Jakarta.”
“Mungkin saja surat panggilan kerja,” tiba-tiba Bintang sudah berdiri disampingku.
“Bintang buka dulu yah Mande, biar tahu isinya.”
“Bukalah, Mande sudah tak sabar.” Dengan hati-hati, ia sobek pinggir sampul surat yang berwarna coklat ditangannya. Tak lama kemudian,
“Akhirnya Bintang mendapat panggilan kerja dari perusahaan Perancis Mande,” ucap Bintang sambil memelukku senang.
“Alhamdulillaaahhh. Allah benar-benar mengabulkan doa Mande.”
“Bintang harus bersiap-siap untuk ke Jakarta besok. Soalnya tes wawancaranya dimulai minggu depan Mande.”
“Iya Nak, Mande akan bantu kamu bersiap-siap. Oh ya, kamu punya ongkos buat ke Jakarta?”
“Untuk ongkos ada kok Mande.”
“Tapi kamu perlu uang saku juga Nak. Untuk makan dan transfort selama di Ibukota. Kamu kan baru diterima bekerja, jadi belum menerima gaji kan?”
“Mande gak usah terlalu memikirkan hal itu. Bintang akan mencari pinjaman pada teman. Nanti setelah menerima gaji pertama akan Bintang lunasi.”
“Bintang, maafkan Mande yang gak bisa memberikan uang saku padamu. Andai saja perhiasan emas Mande belum terjual semuanya. Pasti kamu gak perlu bersusah payah seperti ini.
“Sudahlah Mande, Bintang gak papa kok minjam duit teman. Lagipula perhiasan Mande terjual buat menyekolahkan Bintang dan adik-adik juga. Bintang akan mengganti semua perhiasan Mande setelah Bintang bekerja dan menerima gaji nanti.”
“Gak perlu Nak, yang penting kamu dan adik-adik bisa berhasil. Itu sudah cukup bagi Mande.”
“Terima kasih yah Mande. Bintang sangat bersyukur memiliki Mande yang selalu mendorong Bintang untuk terus maju,” jawab Bintang tersenyum. Air mata haru membasahi kedua pelupuk mataku. Sungguh bahagia rasanya memiliki anak yang cerdas dan berbakti seperti Bintang.
Sepanjang hari, aku dan anak-anak menghabiskan waktu dengan hati yang riang. Seolah kedukaan dalam hidup yang kami alami kemarin sirna dalam sehari. Kami tak punya uang untuk merayakan keberhasilan Bintang dengan selamatan ataupun makan-makan. Malam harinya kami menghabiskan waktu dengan makan bersama dan berkumpul sambil bertukar cerita. Rusli, Upik, Iqra dan Mukhlis terus mengajak Bintang ngobrol. Mungkin karena besok mereka sudah berpisah. Jadi mereka habiskan waktu malam ini bersama Udanya. Biasanya mereka sudah tidur sebelum jam sembilan malam. Tapi malam ini meski jam telah menunjukkan pukul duabelas malam, mereka belum juga beranjak dari kamar bintang.
Bintang terus menanyakan pada adik-adiknya apa saja yang mereka butuhkan untuk keperluan sekolah. Bintang berjanji akan memenuhi kebutuhan mereka dengan rutin mengirimkan sebagian uang gajinya setiap bulan. Bintang juga menyuruh Rusli untuk berhenti bekerja dan meneruskan sekolah ke jenjang sarjana. Suara Upik, Iqra dan Mukhlis terdengar begitu semangat menyebutkan satu-persatu keinginan mereka. Aku menangis bahagia mendengar suara riuh mereka dari luar kamar. Begitu akrabnya mereka satu sama lain.
Begitu sayang dan perhatiannnya Bintang pada adik-adiknya. Sebuah berkah luar biasa yang Allah berikan untuk keluarga yang kumiliki. Sementara Abaknya Bintang sudah tertidur pulas. Dia seperti tak perduli dengan apa yang terjadi. Hidupnya hanya dihabiskan dengan makan, tidur, dan duduk diruang tamu melihat orang-orang yang lalu lalang. Sesekali anak-anak bergantian mengajak Abaknya jalan pagi atau sekedar menemaninya berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan rasa jenuh.
Menjelang larut malam, suasana mulai hening. Rupanya anak-anak sudah tertidur pulas karena lelah. Sementara aku masih terjaga dan berniat akan melakukan solat malam. Untuk mengadukan kegembiraan hatiku pada yang Kuasa sembari mengucap syukur pada-Nya atas diterimanya Bintang bekerja. Akupun segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudu’. Meski ditengah rasa kantuk yang tak tertahankan. Keesokan harinya, aku lebih sibuk karena harus mempersiapkan keberangkatan Bintang. Adik-adiknya Bintang juga sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Hanya Rusli yang menemaniku ke bandara dengan bolos bekerja.
“Uda, Upik ingin mengantarkan Uda ke bandara. Tapi Upik lagi ujian jadi gak bisa ditinggal.”
“Iqra juga Da. Nanti Uda sering-sering kirim surat ya?”
“Iya, itu sudah pasti. Kalian belajar yang rajin yah. Jaga Mukhlis baik-baik. Bantu Mande di rumah,” nasehat Bintang lembut.
“Mukhlis ingin dibelikan sepeda Da,” ucap Mukhlis manja.
“Kalau kamu nanti juara di sekolah, Uda akan kasih hadiah sepeda yang bagus. Jadi tetap semangat ya.”
“Iya Da, semangat!,” jawab Muhklis. Kami pun tertawa mendengarnya.
Setelah satu persatu adiknya Bintang pergi, kini giliran Bintang minta ijin pada Abaknya sebelum berangkat.
“Bak, Bintang akan ke Jakarta untuk bekerja. Bintang minta restu yah Bak.”
“Oh, Wa-ang? Pailah abak senang Wa-ang sudah diterima bekerja.” Tak berapa sesampainya di Bandara, pesawat datang tepat waktu. Bintang pun bersiap-siap untuk naik pesawat.
“Mande, Bintang mohon doa restu agar selama disana dimudahkan urusannya,” ucap Bintang sambil memelukku.
“Rusli, Uda titipkan adik-adik padamu. Jaga mereka baik-baik yah..”
“Sudah pasti Uda, gak usah khawatir,” jawab Rusli haru.
“Pergilah Nak. Doa Mande menyertaimu. Sering-sering kirim kabar yah?”
“Iya Mande, Bintang pamit dulu.” Aku pun melepasnya dengan berurai air mata. Berat rasanya harus hidup berjauhan dengan Bintang. Tapi hidup dan keberhasilan Bintang lebih utama. Aku harus kuat dan tegar melepasnya. Demi masa depan Bintang dan adik-adiknya. Kutatap terus punggung Bintang sampai hilang dari pandangan. Aku dan Rusli melepas Bintang dengan hati yang penuh harapan. Sebelum jauh, sekali lagi Bintang melambaikan tangannya dan tak menoleh lagi ke belakang.(bersambung)

translasi

meninjau polling pengunjung

!-- Start of StatCounter Code -->

Pengikut