<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850</id><updated>2012-01-20T20:55:13.586-08:00</updated><category term='cerita anak'/><category term='promo buku'/><category term='kumcer pilihan yang penuh inpirasi'/><category term='Dongeng anak'/><category term='babies story'/><category term='ekspresi jiwa'/><category term='#bookyourblog'/><category term='ungkapan hati'/><category term='tentang cerpen'/><category term='true story'/><category term='cermin berhikmah'/><category term='my cerpen'/><category term='lomba merangkai kata bersama parents indonesia'/><title type='text'>ekspresijiwa</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>60</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-7149290218187922301</id><published>2012-01-20T20:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-20T20:55:13.607-08:00</updated><title type='text'>jejak pernikahan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-W61vjTj2Xz4/TxpFHB8EQRI/AAAAAAAAAQs/GU2YnY11Fpw/s1600/me%2Band%2Bhusband.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 269px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-W61vjTj2Xz4/TxpFHB8EQRI/AAAAAAAAAQs/GU2YnY11Fpw/s400/me%2Band%2Bhusband.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5699944265472557330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pangeranku....masih ingatkah saat pertama kali kita menikah? kau dan aku nikah berjauhan. aku di indonesia kau dibelahan bumi yang yang lain . pernikahan yang terjadi dengan cara diwakilkan. hal unik yang terjadi dalam hidupku pangeranku....tak lama kemudian daku menyusulmu ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pangeranku....saat melankolis dalam hidupku adalah saat meninggalkanmu sendirian di negeri kiwi. visaku habis hingga aku harus kembali ke indonesia. karena kasihan padaku kau tak memperpanjang visaku. biarlah aku di indonesia saja daripada sendirian terus di apartemen karena sering kau tinggal bekerja. lebih baik aku meneruskan kuliahku begitu ucapmu. aku terharu akan kebesaran jiwamu pangeranku. padahal kau sangat sedih berpisah dariku. dan aku merasakan hal yang sama. di dalam pesawat tak henti air mata menetes dari kedua mataku. dan akhirnya kau menyerah untuk mencari kerja di indonesia saja karena tak kuat berpisah dariku. kita pun dipersatukan kembali oleh yang Maha Kuasa. kita kembali menikmati kebersamaan dan indahnya berpacaran setelah menikah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pangeranku....namun Tuhan kembali menguji kita dengan perpisahan kedua. kau harus ke jakarta menerima panggilan kerja. sementara aku sedang hamil muda hingga tak bisa menemanimu di jakarta....betapa pilu hatiku karena aku dan calon anak kita harus berjauhan denganmu. sembilan bulan aku mengandung anakmu tanpa kau dampingi. hingga saat melahirkan tiba barulah kita bisa bertemu kembali. kau pulang untuk melihat putri pertama kita. aku masih ingat saat pertama kali kau menggendong putri kecil kita. wajahmu sangat bahagia. meski akihirnya kita harus berpisah kembali karena cutimu habis. kau harus balik ke jakarta untuk mencari nafkah buat keluarga kecil kita. kembali air mata ku berlinang karena harus membesarkan anak tanpa ayahnya. yang lebih prihatin lagi, aku harus mengalami babi blues dan kau tak disisiku pangeranku......untunglah babi blues yang kualami tak berlangsung lama. setelah 4 bulan aku dan anakmu menyusul dirimu ke ibukota. kita pun dipersatukan kembali. aku terharu bisa berdampingan dengan dirimu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pangeranku..masih ingatkah kau? saat pertama tinggal dijakarta kita menumpang dirumah kak ngah. dia begitu baik dan sayang pada anak kita. setelah satu bulan kita pun mencari kontrakan sendiri. akhirnya kita ngontrak di mampang prapatan. "biar dekat dengan saudara saudaraku," begitu ucapmu. kebetulan kakak dan adikku juga ngontrak di daerah yang sama. hingga aku tak begitu kesepian, mengingat kau selalu pulang larut malam. aku kerap berdua saja dengan anak kita menunggumu pulang malam hari. untunglah sesekali kakak dan adikku datang berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pangeranku...selanjutnya hidup kita bagai umang umang yang selalu mencari tempat tinggal. kita pun kembali pindah kontrakan ke daerah pulo mas. tak jauh dari rumah kak ngah dan saudaramu yang lain. sebab dii kontrakan yang lama kurang sehat. aku dan anakmu sering sakit sakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pangeranku...akhirnya kau mendapatkan bonus dari perusahaan untuk membangun rumah. terakhir kali kita kembali ngontrak di griya bojonggede bogor sebelum rumah kita jadi. di kp nanggela terbangunlah istana kita diatas tanah seluas 200 meter. rumah sendiri meski agak jauh dari kota. tapi kita bahagia akhirnya memiliki rumah sendiri. disaat jundi kita sudah tiga. rumah yang tak lagi sempit seperti di kontrakan. lebih lega dan luas untuk bermain ketiga malaikat kecil kita. terima kasih pangeranku....kau telah membuat keluargamu bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi pangeranku...disaat tengah bahagia menikamti rumah pribadi aku terserang depresi. aku gak tahu apa penyebabnya hiks...yang aku tahu seharian aku hanya menringkuk di tempat tidur tanpa melakukan kegiatan apapun jua. duniaku menjadi begitu semput. tepat setahun setelah ibuku meninggalkanku...tapi bukan kesedihan ditinggal ibu yang membuatku begini. aku sudah ikhlas ibu pergi untuk selama lamanya meski hati ini kerap sedih bila terkenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pangeranku...sampai kapan aku harus menghabiskan hidupku dengan depresi yang kujalani. ? aku hanya ingin sembuh pangeranku. agar bisa kembali bersukacita menjalani hari hari bersamamu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-7149290218187922301?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/7149290218187922301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/01/jejak-pernikahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7149290218187922301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7149290218187922301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/01/jejak-pernikahan.html' title='jejak pernikahan'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-W61vjTj2Xz4/TxpFHB8EQRI/AAAAAAAAAQs/GU2YnY11Fpw/s72-c/me%2Band%2Bhusband.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-2613111542414300953</id><published>2012-01-07T00:30:00.000-08:00</published><updated>2012-01-07T00:31:31.239-08:00</updated><title type='text'>lirik lagu Andy Williams  Love Story (Where Do I Begin)</title><content type='html'>Where do I begin&lt;br /&gt;To tell the story of how great a love can be&lt;br /&gt;The sweet love story that is older than the sea&lt;br /&gt;The simple truth about the love she brings to me&lt;br /&gt;Where do I start&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With her first hello&lt;br /&gt;She gave new meaning to this empty world of mine&lt;br /&gt;There’d never be another love, another time&lt;br /&gt;She came into my life and made the living fine&lt;br /&gt;She fills my heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She fills my heart with very special things&lt;br /&gt;With angels’ songs , with wild imaginings&lt;br /&gt;She fills my soul with so much love&lt;br /&gt;That anywhere I go I’m never lonely&lt;br /&gt;With her around, who could be lonely&lt;br /&gt;I reach for her hand-it’s always there&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How long does it last&lt;br /&gt;Can love be measured by the hours in a day&lt;br /&gt;I have no answers now but this much I can say&lt;br /&gt;I know I’ll need her till the stars all burn away&lt;br /&gt;And she’ll be there&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How long does it last&lt;br /&gt;Can love be measured by the hours in a day&lt;br /&gt;I have no answers now but this much I can say&lt;br /&gt;I know I’ll need her till the stars all burn away&lt;br /&gt;And she’ll be there&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-2613111542414300953?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/2613111542414300953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/01/lirik-lagu-andy-williams-love-story.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2613111542414300953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2613111542414300953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/01/lirik-lagu-andy-williams-love-story.html' title='lirik lagu Andy Williams  Love Story (Where Do I Begin)'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-8116872293919304344</id><published>2012-01-06T23:03:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T23:04:08.754-08:00</updated><title type='text'>lomba 1001 pertanyaan anak tahap2</title><content type='html'>Bunda pasti sering mendapatkan pertanyaan dari buah hati baik itu tentang sex, tentang alam, tentang tuhan dan tentang apa saja. tulis pertanyaan buah hati yang disertai jawaban dari bunda tentunya. oh ya boleh kirim lebih dari satu cerita yah... akan dipilih 6 orang pemenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kirim cerita bunda sebanyak 1-2 hal 1,5 spasi font 12 times new roman ke email irhayatiharun@yahoo.co.id dibadan email aja gak usah diattach&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3 pemenang utama akan mendapatkan reward uang tunai masing2 @100 ribu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3 orang pemenang hiburan masing2 akan mendapatkan paket cantik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditunggu sampe akhir januari 2012 yah. pengumuman awal maret 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya allah semua pertanyaan anak  akan ditawarkan ke penerbit mayor. namun tidak ada pembagian royalti bagi cerita yg terpilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dibawah ini judul  judul yang sudah masuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Pergi ke Mana, Bu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   KENAPA NGGAK JADI KOKI MA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau mati kita bawa apa Ma?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ada giginya juga ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi, Aku Cantik Tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1001 Pertanyaan Nita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; SI BUAH HATI - TAKUT ALLOH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umi Juga Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana Punya Layla?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Dek Gi Nggak Boleh Jadi Kuda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  “Ma, siapa yang makan mama sapi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;coba lihat mi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; kenapa harus takut sama Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; adek seperti shaun the sheep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. ketika muharik bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rabbani pun bertanya ttg masa yang akan datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; aku gak mau mayatku ancur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. dia punya burung aku kok enggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; lantip bertanya dimana surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ketika aisya bertanya ttg kiamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. kenapa orang besar sukanya marah-marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. saat aghif bertanya ttg hari kiamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. ma kapan bikin pizza&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; pohon nasi vs mc queen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; sampai kapan jadi anak mama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. playboy...playboy...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana sel telur bertemu dengan sel sperma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; bidadari dan lampu disko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  kenzie, bulan, dan bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  loh kok onta sih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.  ikan bobok.  pertanyaan si gadiis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  terima kasih buata Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  siapa yang bilang tuh... tuh... itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ketika putri kecilku bertanya tentang Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; binatang yang paling gak mungkin masuk neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; dede bayi dapat dari mana ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  pulpen warna-warni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  warnanya kok beda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.  affif dan kokkon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.  kan dilarang merokok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  pertanyaan menahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.  rindu sama allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. ibu punya bapak kok enggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. kan ada allah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; boleh makan manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. fawwaz nagpain diperut bunda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; apakah binatang berbicara b.indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. kok lama betul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; hantu itu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. dalam perut ummi masih ada bayi lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. neraka itu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. pilih kaki yang mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. boleh minta uang sama allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. darimana keluarnya bayi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. dilarang merokok di spbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.ingin masuk neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. yang ajdi allah itu siapa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; kenapa pake poin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; banyak tanya banyak hikmah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; hebat mana krisna sama nabi muhammad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; fahri juga bertanya ttg salju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. abang boleh makan permen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. libur sholat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; jadi ibu enak gak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. krem muka dodol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; aulia bertanya tentang mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. kok mama pake pampers juga yah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Dari Kandang Sapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Remaja Bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok Bapak Nggak Kerja Sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerai Itu Apa, Ma?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummi, ini apa namanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagi yang sudah ngirim tapi belum terdaftar segera kirim ulang yah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-8116872293919304344?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/8116872293919304344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/01/lomba-1001-pertanyaan-anak-tahap2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/8116872293919304344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/8116872293919304344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/01/lomba-1001-pertanyaan-anak-tahap2.html' title='lomba 1001 pertanyaan anak tahap2'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-7825311512578108624</id><published>2012-01-01T23:52:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T23:54:53.279-08:00</updated><title type='text'>kaulah bang.....</title><content type='html'>abang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disetiap tarikan nafasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau hadir mengisi ruang hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaulah udara yang selallu menghidupiku dengan cintamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;abang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau hadir disetiap kuresah dan gundah gulana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau tak pernah mengeluh meski kuselalu berkeluh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaulah tempatku bersandar dari setiap masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;abang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat berada didekatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya rasa nyaman yang kurasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaulah inspirasiku dalam hidup ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehebat apapun orang itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;abang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah kau tahu aku selalu rindu padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada suaramu, wajahmu dan segala gerak gerikmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau selalu menerangi hari hariku dengan harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedetikpun kutak bisa hidup tanpa dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;abang.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaulah segalanya bagiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cintamu yang tak terdefinisi untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjadi pelecut keberanianku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk mengarungi hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaulah bang...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-7825311512578108624?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/7825311512578108624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/01/kaulah-bang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7825311512578108624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7825311512578108624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2012/01/kaulah-bang.html' title='kaulah bang.....'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-5168557362448692394</id><published>2011-12-30T22:23:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T22:26:09.702-08:00</updated><title type='text'>cukup cintamu, bang...</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-vt2LKeh-RBw/Tv6q40M8eMI/AAAAAAAAAQU/99wg1WU20Eo/s1600/first%2Blove.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 284px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vt2LKeh-RBw/Tv6q40M8eMI/AAAAAAAAAQU/99wg1WU20Eo/s400/first%2Blove.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5692174872105220290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam mengarungi hidup ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada yang lebih membahagiakanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selain bertemu dan jatuh cinta padamu, bang.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dirimu hadir melengkapi hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang selalu sunyi akan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak dapat kusangkal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak dirimu hadir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidupku jadi penuh warna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah kau tahu bang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku butuh cinta dan kasih sayangmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan kau selalu mencurahkannya padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terlalu besar kasih sayangmu bang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hingga sulit terukur dengan apapun jua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuingin kau tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diantara semua yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cukuplah cintamu yang satu untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kan kuukir dalam benakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semua perhatian dan cinta kasihmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan pena cinta yang kumiliki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar indah terganbar selamanya dihatiku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-5168557362448692394?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/5168557362448692394/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/12/cukup-cintamu-bang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5168557362448692394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5168557362448692394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/12/cukup-cintamu-bang.html' title='cukup cintamu, bang...'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vt2LKeh-RBw/Tv6q40M8eMI/AAAAAAAAAQU/99wg1WU20Eo/s72-c/first%2Blove.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-5326627944215844825</id><published>2011-12-26T21:58:00.000-08:00</published><updated>2011-12-26T22:00:51.827-08:00</updated><title type='text'>kaulah puisiku</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-JU9GHBdWOPA/Tvle7ZVnxeI/AAAAAAAAAQI/4iTgu4hYIHg/s1600/first%2Blove.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 284px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-JU9GHBdWOPA/Tvle7ZVnxeI/AAAAAAAAAQI/4iTgu4hYIHg/s400/first%2Blove.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690683978666198498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;selarik kata kugoreskan untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengabadian cintaku padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hingga tercipta puisi cinta ini untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengenyahkan lara cinta yang melanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seiring waktu tersisa cinta yang berserak ini hanya untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kan kurekam keikhlasan cintamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biarlah dedaunan basah di taman hati kita menjadi saksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ikatan cinta ini tak pernah mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beribu puisi cinta kucipta untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walau kaulah sebenarnya puisi itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;goresan tinta emasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah mencatat pengorbanan cintamu padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaulah puisi cintaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang tercipta dalam diksi yang indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam irama kehidupanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;takkan mampu kucipta lagi puisi cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena kau sendirilah puisi hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisi cinta dihidupku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-5326627944215844825?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/5326627944215844825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/12/kaulah-puisiku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5326627944215844825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5326627944215844825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/12/kaulah-puisiku.html' title='kaulah puisiku'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-JU9GHBdWOPA/Tvle7ZVnxeI/AAAAAAAAAQI/4iTgu4hYIHg/s72-c/first%2Blove.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-4023414159212785646</id><published>2011-12-25T18:16:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T18:21:33.522-08:00</updated><title type='text'>first love forever love</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jIfPUb131jQ/TvfZX4i7IRI/AAAAAAAAAP8/KSlZoQ2AfJc/s1600/first%2Blove.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 284px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-jIfPUb131jQ/TvfZX4i7IRI/AAAAAAAAAP8/KSlZoQ2AfJc/s400/first%2Blove.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690255658544996626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta pertamaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat aku jatuh cinta padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulan dihatiku yang dulu redup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berpendar indah menelusup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;awan kelam dihari-hariku sirna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berganti sinar mentari yang cerah ceria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada lagi kata-kata yang bisa kutuliskan selain ungkapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa indahnya cinta yang kau pancarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disudut hatiku yang remang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta pertamaku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat panah asmaramu menembus jantungku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seolah bumi yang kupijak bergetar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pandangan matamu yang menusuk dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memporak porandakan laut hatiku yang tenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bak ombak menggulung menyeretku ke pusaran cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta pertamaku, kaulah bulan, kaulah ombak dan kaulah bumi tempat cintaku berpijak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;first love forever love&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-4023414159212785646?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/4023414159212785646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/12/first-love-forever-love.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/4023414159212785646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/4023414159212785646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/12/first-love-forever-love.html' title='first love forever love'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-jIfPUb131jQ/TvfZX4i7IRI/AAAAAAAAAP8/KSlZoQ2AfJc/s72-c/first%2Blove.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-3609146745961766552</id><published>2011-12-25T01:28:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T01:32:19.082-08:00</updated><title type='text'>teardrops in heaven 6</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-JKQZ4owPE7k/TvbtO3_EtFI/AAAAAAAAAPw/TuQSXvcnrKE/s1600/airmata%2Bsurga%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 279px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-JKQZ4owPE7k/TvbtO3_EtFI/AAAAAAAAAPw/TuQSXvcnrKE/s400/airmata%2Bsurga%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5689996019031651410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terasa, enam bulan sudah Bintang bekerja di Jakarta. Seperti janjinya, setiap bulan dia rutin mengirimkan surat sekaligus uang buat adik-adiknya. Uang gaji yang sengaja ia sisipkan untuk biaya sekolah dan kebutuhan kami. Bintang memang tak pernah berubah. Sebagai anak tertua, dia selalu menunjukkan tanggung jawab yang besar buat keluargnya. Tak terasa juga Upik dan Iqra sebentar lagi akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Iqra sedang bersiap-siap mengikuti UMPTN. Dia mengambil jurusan kedokteran di fakultas USU Medan. &lt;br /&gt;Besar keyakinanku Iqra akan diterima mengingat selama ini dia rangking satu terus sejak dari SD hingga SMA. Tapi seandainya Tuhan menghendaki lain, aku terima apapun yang terbaik buat anak-anakku. Sementara Upik berusaha keras belajar agar bisa diterima di SMA negeri 1 Medan. SMA terfavorit dan terbaik di Sumatera utara. Sedangkan Rusli disuruh oleh Bintang berhenti bekerja untuk mengikuti kursus bahasa Inggris di Medan. Betapa senangnya Rusli sebab selama ini dia sanagt suka dengan bahasa Inggris. &lt;br /&gt;Selama bekerja di rumah makan Padang, Rusli memang sering membawa orang asing ke tempat kerjanya. Itulah yang membuat bosnya senang dengan Rusli. Niat Rusli untuk berhenti bekerja tak disetujui begitu saja oleh bosnya itu. Akhirnya Rusli diperbolehkan mengikuti kursus bahasa Inggris setelah pulang bekerja dari rumah makan. Rusli pun tak keberatan dengan perjanjian jam kerjanya tak lagi full time seperti dulu. Tapi hanya bekerja paruh waktu yaitu setengah hari saja. Bosnya tak bisa berkutik dan menyetujui permintaan Rusli. Betapa bahagianya melihat anak-anakku yang begitu giat dan tekun menuntut ilmu. Aku tahu, Bintanglah penyulut semangat mereka untuk tekun dan giat belajar. Bintang memang begitu perduli dengan dunia pendidikan. Adik-adiknya begitu mengidolakan Bintang.&lt;br /&gt;“Mande, besok Iqra tes di kampus USU. Doakan Iqra yah Mande.”&lt;br /&gt;“Pasti Mande doakan. Sekarang kamu tidurlah dulu. Hari sudah larut malam, gak baik belajar terus tanpa istirahat,” ucapku lembut.&lt;br /&gt;“Iqra udah selesai belajarnya kok Mande. Iqra mau siapkan dulu alat-alat tes yang akan dibawa besok,” ucap Iqra sambil menguap lebar karena ngantuk.&lt;br /&gt;“Adikmu Upik sudah tidur belum? Kok Mande gak mendengar suaranya. Biasanya dia membaca sambil mengeraskan suara,” tanyaku heran.&lt;br /&gt;“Upik sudah dari tadi terbang ke alam mimpi Mande,” jawab Iqra sambil tertawa. Aku pun tersenyum mendengar jawaban Iqra dan  segera menuju kekamar untuk memastikan ucapannya. Ternyata benar, Upik sedang tertidur pulas denga buku-buku yang masih berserakan diatas tempat tidurnya. Segera aku rapikan buku-buku Upik. Sebelum mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur. &lt;br /&gt;Aku bergegas masuk kekamarku dan mendapati Abaknya yang sedang tidur nyenyak. Kupandangi wajahnya yang mulai keriput. Sisa-sisa ketampanannya masih terlihat meski usianya sudah beranjak senja. Rasanya tak percaya kalau aku akan menjadi istri keempat sekaligus terakhir baginya. Sedikitpun aku tak menyesal menikah dengannya. Karena selama menjadi istrinya, aku sudah puas mengecap bahagianya hidup berumah tangga. Meski di hari tuaku kemanjaan dan perhatian darinya tak lagi kudapat. Sekaranglah saatnya aku memperhatikan dirinya. &lt;br /&gt;Tak bisa kubayangkan bagaimana nasibnya seandainya dia masih hidup menduda. Mengingat kelima anaknya dari istri-istrinya dahulu tak perduli lagi padanya. Inilah jalan terbaik dari Allah untukku dan suamiku. Dengan beristri lagi yaitu diriku, Bagindo Sulaiman ada yang merawat dan memperhatikan diusia tuanya. Akh, hidup benar-benar tak  bisa diduga. Allah memang selalu tahu yang terbaik buat hambanya. Akupun memutuskan untuk tidur disamping suamiku dan memeluknya erat. Rasa takut kehilangan itu masih tersisa diusiaku yang sudah menua ini. Takut kalau suamiku akan lebih dulu meninggalkanku bila dilihat dari umurnya yang jauh diatasku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 10 tahun kemudian&lt;br /&gt; Lengkap sudah kebahagiaanku sebagai seorang ibu. Iqra berhasil menamatkan kuliah kedokterannya. Upik berhasil masuk ke USU jurusan ekonomi. Mukhlis lolos masuk SMAN 1 mengikuti jejak Upik. Sedangkan Bintang sukses dengan perusahaan yang ia dirikan.  Perusahaan dibidang event organizer yang mengurusi kegiatan seputar seminar bagi perusahaan-perusahaan besar. Bahkan usaha seminar Bintang masuk dalam sebuah majalah bisnis ibukota sebagai seminar dengan peserta teramai dan paling diminati. Bintang  benar-benar bersinar bagaikan bintang kejora. Aku benar-benar bangga padanya. Hanya Yanuar yang semakin terpuruk nasibnya. Rumah makannnya terancam bangkrut akibat terlilit hutang yang lumayan besar. Dia benar-benar sudah menerima karma dari perbuatan durhakanya. &lt;br /&gt;Hingga suatu hari,&lt;br /&gt;“Bintang, sebaiknya kita pergi kedokter Nak. Mande lihat kamu lemas sekali. Wajahmu pucat,” ucapku cemas.&lt;br /&gt;“Gak usahlah Mande, paling Bintang cuma kecapekan saja karena beberapa hari ini pekerjaan menumpuk.”&lt;br /&gt;“Iya Uda, penyakit gak boleh dibiarkan,” ucap Upik yang sama khawatirnya denganku.&lt;br /&gt;“Kalau begitu kamu minum obat dulu yah, biar lebih enakan.”&lt;br /&gt;“Bintang gak mau ke dokter dan minum obat Mande. Semua obat itu kan racun. Paling besok Bintang sudah baikan. Mande gak usat terlalu panik. Bintang sehat-sehat saja kok.”&lt;br /&gt;Aku hanya bisa pasrah mendengarnya. Bintang memang alergi kalau sudah berurusan dengan rumah sakit. Tapi keesokan harinya  Bintang muntah darah. Aku pun memaksanya kembali untuk berobat kedokter. &lt;br /&gt;“Bintang mau berobat tapi ke sinse aja Mande,” pintanya memohon.&lt;br /&gt;“Baiklah Bintang, kalau memang itu yang kau mau. Aku pun menuruti keinginan Bintang.&lt;br /&gt;Namun setelah 2 hari minum obat dari sinse, sedikitpun kondisi Bintang tak mengalami perubahan. Malah sebaliknya, bertambah parah. Tanpa menunggu lagi, segera kupaksa dia berobat ke dokter. Aku segera membawanya ke rumah sakit Haji Medan. Begitu sampai dirumah sakit, Bintang langsung dirawat inap.Demi melihat kondisinya yang parah dan begitu lemah.&lt;br /&gt;Dokter langsung memeriksa kondisi Bintang. Dan, aku benar-benar tak siap mendengarnya. Hasil diagnosa mengatakan bahwa Bintang mengalami hepatomegarli yaitu pembengkakan hati. Dokter pun menganjurkan supaya Bintang segera di biopsy. Untuk mengetahui apakah ada indikasi kanker atau tidak. Aku menangis di dalam hati melihat kondisinya. Sedih sekali rasanya.&lt;br /&gt;Keesokan harinya ditemani Upik, aku mengambil hasil biopsy Bintang dengan penuh rasa khawatir dan cemas. &lt;br /&gt;“Umur anak ibu kemungkinan tinggal 6 bulan lagi sebab kanker yang dideritanya sudah stadium 4,” jelas dokter dengan wajah serius padaku dan Upik.  Dunia disekelilingku terasa berputar-putar. Aku merasa tak mampu lagi berpijak diatas kakiku sendiri. &lt;br /&gt;Ya Allah! Mengapa kau berikan cobaan seberat ini padaku. Apa salah dan dosaku? Kau tahu, aku tak bisa hidup tanpa Bintang anakku. Sanggupkah aku menjalani hidup tanpa orang yang begitu kusayangi? Setelah Abaknya tiada kini Bintang yang akan meninggalkanku untuk selama-lamanya. &lt;br /&gt;“Apa kata dokter tentang kondisi Bintang Mande?” Tanya Bintang yang masih terbaring lemah.&lt;br /&gt;“Kamu hanya perlu banyak istirahat dan minum vitamin Bintang, agar kondisimu lebih fit,” jawabku berbohong. Aku tak ingin Bintang tahu penyakit yang ia derita. Sebuah kanker ganas yang sebentar lagi akan merenggut hidupnya. &lt;br /&gt;“Benarkan Mande, Bintang hanya butuh istirahat saja. Memang akhir-akhir ini Bintang terlalu bekerja keras mengurusi seminar.”&lt;br /&gt;“Mande ingin keluar dulu, kamu istirahat dulu yah Nak,” ucapku sambil mengusap kepalanya. Begitu sampai diluar tangisku pun pecah dipelukan Upik.&lt;br /&gt;“Upik mengerti dengan perasaan Mande. Percayalah Mande, Allah tidak akan mencoba hambanya diluar batas kemampuannya. Upik yakin Allah akan memberikan mukjizat itu pada Uda,”  ucap Upik sambil memeluk tubuhku erat. Aku pun menangis sejadi-jadinya dipelukan Upik anak perempuanku. &lt;br /&gt;Hari-demi hari keadaan Bintang semakin menurun drastis.  Mulailah tumbuh benjolan-benjolan kecil di tubuhnya. Ada yang tumbuh di ketiak, dan ada yang dibawah lutut. Perut Bintang juga semakin lama semakin membesar. Bintang pun mulai mengeluh sakit diperutnya. Dokter hanya meresepkan obat penghilang rasa sakit untuk Bintang. Menurutnya, penyakit Bintang sudah tak bisa diobati lagi. Bahkan dikemo juga sudah percuma. Bintang hanya boleh mengkomsumsi vitamin. Obat-obatan lain sudah tak boleh diberikan karena sudah tak ada gunanya. Sebagai seorang ibu, hatiku begitu hancur mendengarnya. &lt;br /&gt;Bukan hanya kondisi fisiknya saja yang semakin melemah. Kondisi psikis Bintang juga semakin menurun. Dia semakin sensitive dan mudah marah. Dia tak mau lagi disuntik.  Juga sering menolak saat ingin dibersihkan badannya oleh perawat. Dia sering bilang bosan dirumah sakit terus. Yang setiap hari hanya bisa makan obat yang itu-itu saja. Hampir setiap malam dia mengeluh kepanasan. Kami pun berganti-gantian mengipasinya karena Bintang tak bisa tidur kalau tidak dikipasi. Bahkan hampir setiap hari Bintang minta air es. Tak perduli meski tengah malam sekalipun. Kami pun berusaha memenuhi keinginannya itu&lt;br /&gt;Sampai akhirnya Bintang mengalami penurunan dalam kesadarannya. Dia sering tak ingat padaku dan adik-adiknya sendiri. Bagaikan orang yang terkena amnesia. Dia banyak lupa dengan orang-orang terdekatnya. Aku bertambah terpukul melihat keadaannya. Sakit sekali rasanya mendapati Bintang  sudah tak bisa memberi respon seperti dulu. Meskipun semuanya karena keadaan, bukan karena kemauan Bintang. Hati ini menangis setiap hari melihat kondisinya yang semakin mengkhawatirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 bulan kemudian..&lt;br /&gt;Disini ditanah merah, aku ucapkan kata terakhir didepan batu nisan anakku. &lt;br /&gt;“Bintang anakku, sudah banyak air mata Mande yang keluar untukmu. Air mata bahagia saat melahirkan dirimu. Airmata bangga saat menyaksikan keberhasilanmu, dan air mata kesedihan saat menemani hari-hari terakhirmu. Menemanimu melewati  hari-hari yang menyakitkan  saat sakit kanker yang tak mengenal hati menggerogoti tubuhmu. Ini adalah air mata yang terakhir buatmu Nak. Karena setelah ini, Mande tak akan lagi mengeluarkan air mata untukmu. Mande akan mencoba untuk ikhlas dan sabar menerima kepergian dirimu. Semoga airmata Mande yang terakhir ini akan menjadi air mata surga. Air mata yang kelak akan mengantarkan Mande bertemu denganmu nanti disurga. Amin…Aku pun beranjak pergi  dengan membawa harapan hidup yang baru bersama ketiga bintangku Upik, Iqra dan Mukhlis. Yang akan terus menjadi Bintang yang bersinar didalam hidupku. tamat &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terinspirasi dari kisah ibuku yang kisahnya masuk nominasi 20 pemenang diantara 30 ribu peserta dalam kisah 1000 blog tentang ibu bersama ungu dan chocolates. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan&lt;br /&gt;Mande : ibu&lt;br /&gt;Abak : ayah&lt;br /&gt;Uda : kakak laki-laki&lt;br /&gt;Ambo : aku&lt;br /&gt;Manga : kenapa&lt;br /&gt;Wa-ang : kamu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-3609146745961766552?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/3609146745961766552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/12/teardrops-in-heaven.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3609146745961766552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3609146745961766552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/12/teardrops-in-heaven.html' title='teardrops in heaven 6'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-JKQZ4owPE7k/TvbtO3_EtFI/AAAAAAAAAPw/TuQSXvcnrKE/s72-c/airmata%2Bsurga%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-2344480650870071954</id><published>2011-10-04T05:08:00.000-07:00</published><updated>2011-10-04T05:15:11.429-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>Tears In Heaven 5</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Swpn_CKA0Wk/Tor33m9hR4I/AAAAAAAAAPo/L91OLJ0B8I8/s1600/airmata%2Bsurga%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 279px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Swpn_CKA0Wk/Tor33m9hR4I/AAAAAAAAAPo/L91OLJ0B8I8/s400/airmata%2Bsurga%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5659608416467896194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah hapal dengan watak Bintang yang begitu sensitive dan serius. Serta sulit begitu saja melupakan sakit hatinya. Tapi aku yakin Bintang tak pernah menyimpan dendam. Bintang hanya mudah terluka bila hatinya disinggung. Dan luka itu tak mudah kering dalam waktu sekejap. Butuh waktu bilangan bulan bahkan tahun untuk menyembuhkannya. Nampaknya watakku yang perasa menurun pada Bintang. Beda dengan adiknya Rusli yang lebih santai dan humoris.&lt;br /&gt; Jadilah Setiap minggu Rusli menemani Abaknya makan direstoran Yanuar. Meski menurut Rusli Uda tirinya itu tak pernah turun menemui Abaknya yang sedang makan. Benar-benar tak punya hati, aku mendengus kesal mendengarnya. Untung Abaknya sudah gak ingat apa-apa, kalo gak hati orangtua mana yang tidak sakit dicuekin oleh anak sendiri. Tapi kami tak  bisa mencegah keinginan suamiku untuk makan masakan Padang minimal setiap dua minggu sekali di rumah anaknya itu. Yang penting karyawannya si Yanuar sudah mengerti kalo yang makan adalah Bapak dari bos mereka. Mereka akan melayani dengan baik dan menyediakan lauk yang enak-enak yang ada direstoran itu. Gak lucu juga kan? masak anaknya punya rumah makan tapi Abaknya mati kelaparan. Jadi siapapun termasuk Yanuar tak bisa melarang keinginan Abaknya untuk bisa makan enak meski hanya dua minggu sekali.&lt;br /&gt;Masalah satu selesai timbul masalah baru. Karena sudah menunggak uang listrik selama tiga bulan, akhirnya pihak PLN mengancam akan mencabut listrik dirumah. Aku kembali panik membayangkan rumah akan gelap tanpa cahaya lampu. Apalagi Bintang suka membaca, gak mungkin dia membaca di ruangan yang gelap gulita. Adik-adiknya Bintang juga tak bisa belajar kalau tak ada lampu. Andaipun dipasang lilin, tetap tak baik bagi mata mereka untuk membaca diruangan yang remang-remang.  &lt;br /&gt;“Bagaimana ini Mande? Upik kan mau ujian? Gimana bisa belajar. Mana Uda  pulangnya nanti malam lagi,” sungut Upik kesal.&lt;br /&gt;“Iya nih, Mukhlis juga sedang ujian kenaikan kelas. Kapan bisa belajar kalo lampu mati.”&lt;br /&gt;“Untuk sementara kalian belajarnya siang hari saja dulu. Mande akan kerumah Etekmu di pasar merah. Siapa tahu dia bisa membantu kita. Kalian tunggu rumah yah.”&lt;br /&gt;“Iya Mande,” jawab Upik dan Mukhlis serempak..&lt;br /&gt;Aku harus mencari pinjaman uang untuk melunasi tunggakan listrik. Semoga Eteknya mau meminjamkan sejumlah uang yang diperlukan. Aku berharap besar saudara dari Abaknya Bintang mau membantu. &lt;br /&gt;“Memangnya Uni mau minjam berapa?”&lt;br /&gt;“Gak banyak Tek, hanya tiga ratus ribu saja,” jawabku senang. Karena akhirnya Eteknya bersedia meminjamkan.&lt;br /&gt;“Tapi kapan Uni mau menggantinya?”&lt;br /&gt;“Nanti kalo Bintang sudah dapat kerjaan Tek.”&lt;br /&gt;“Bintang itu sarjana pak Ogah ya? Masak udah tamat masih nganggur,” cibir Etek Rohma.&lt;br /&gt;“Cari pekerjaaan memang susah Tek. Tapi aku yakin, tak lama lagi Bintang pasti diterima bekerja,” jawabku tak enak hati. Meski amat tersinggung mendengar ejekannya, kucoba menahan hati demi uang tiga ratus ribu. Dan tanpa berlama-lama aku segera pamit pulang sambil menangis di dalam hati. Semoga masa-masa sulit ini segera berlalu dengan diterimanya Bintang bekerja, doaku tiada henti. Tanpa terasa, airmata membasahi kedua mataku yang sudah kabur. Segera kuputar langkahku menuju tempat pembayaran listrik. Bukankah semakin cepat dibayar, semakin baik agar listrik dirumah tak segera dicabut.&lt;br /&gt;Begitu tiba dirumah, hari sudah sore. Tumben Bintang sudah ada dirumah begitu aku sampai. &lt;br /&gt;“Mande darimana saja?” &lt;br /&gt;“Dari rumah Etekmu meminjam uang untuk bayar listrik,” jawabku tersenyum. Mencoba menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya. Bagaimanapun Bintang tak boleh tahu betapa hancurnya hatiku mendengar sindiran tajam Eteknya.&lt;br /&gt;“Kenapa Mande gak nunggu Bintang dulu? Biar Bintang yang pergi dari pada Mande harus keluar sampe sore begini. Bintang khawatir.”&lt;br /&gt;“Sudahlah Nak, semuanya sudah beres kok. Kamu gak perlu terlalu mencemaskan Mande. Yang penting listrik dirumah kita gak jadi diputus.”&lt;br /&gt;“Mande, Bintang benar-benar belum bisa membahagiakan keluarga kita. Bintang harus berbuat apa lagi agar kita segera terlepas dari kesulitan keuangan,” jawab Bintang lesu.&lt;br /&gt;“Kamu jangan berputus asa Nak. Mande yakin kamu akan dapat pekerjaan tak lama lagi.”&lt;br /&gt;“Itulah yang Bintang tunggu-tunggu Mande. Tapi sampai kapan? Sudah hampir satu tahun Bintang menunggu. Mengapa nasib baik belum juga berpihak pada Bintang? Bintang memang anak yang tak berguna! Ucapnya lagi.&lt;br /&gt;“Bintang, kamu tak boleh menghukum dirimu sendiri. Banyaklah beribadah dan berserah diri padaNya. Mande tak pernah memaksa Bintang harus bekerja sekarang. Kalau memang Allah belum memberi, kita harus bisa terima Nak. Nanti juga tiba saatnya,” hiburku mencoba bersikap tegar dihadapan Bintang.&lt;br /&gt;“Tapi Bintang gak tega melihat adik-adik yang kadang makan hanya berlaukkan garam seperti sekarang.”&lt;br /&gt;“Kita harus tetap bersyukur Nak, yang penting masih bisa makan. Toh gak setiap hari adikmu makan tanpa lauk. Si Rusli masih suka membawa lauk sepulang dari tempatnya bekerja meski  hanya sesekali.”&lt;br /&gt;“Iya Mande, tapi kalo sampe bulan depan Bintang belum mendapat panggilan juga, Bintang akan merantau ke Jakarta dari pada menunggu terus tanpa kepastian. “&lt;br /&gt;“Pergilah Nak, Mande tak akan pernah melarang. Yang penting kamu bisa menjaga diri. Sekarang kamu istirahatlah dulu, pasti capek karena sudah berjalan jauh untuk mengajar.” Bintang pun menurutiku. Setelah makan malam, dia segera masuk ke kamar dan menenggelamkan dirinya pada buku-buku. Hingga tertidur dengan buku menutupi wajahnya.&lt;br /&gt;Aku sendiri tak dapat memejamkan mata. Hatiku masih sedih mengingat perkataan Eteknya tadi. Segera aku pergi berwudu’ dan menunanikan solat malam. Lalu berdoa dengan sepenuh hati. &lt;br /&gt;“Duh Robbi! tolonglah kembalikan nama baik anakku Bintang. Aku tahu, dia sudah berusaha bekerja keras demi kami. Tapi usaha yang dia lakukan belum jua menampakkan hasil. Sebagai ibunya, hamba hanya bisa berdoa agar Kau memudahkan jalannya menuju kesuksesan. Kesukesan  hidupnya dunia dan akhirat. Hanya kepadamu kami bergantung. Perkenankanlah permohonan hambamu yang lemah ini. Amin…” &lt;br /&gt;Hari ini begitu cerahnya. Beda dengan hari-hari sebelumnya. Langit diterangi sinar mentari yang tak terlalu panas menyengat kulitku. Semangat baru seakan timbul kembali dihatiku. Entahlah, apa ini perasaanku saja. Kebetulan aku tak ada jadwal les privat hari ini. Aku akan kembali menata hidupku dengan menuliskan lamaran kerja yang baru. Tiba-tiba keasyikanku dikejutkan oleh suara tukang pos di depan rumah.&lt;br /&gt;“Pos..pos..ada kiriman dari Jakarta,” teriak tukang pos nyaring. Seketika aku melompat dari tempat dudukku. Dan bergegas keluar kamar menghampirinya si tukang pos. &lt;br /&gt;“Makasih yah pak,” ucapku riang setelah lebih dulu menandatangai surat tanda terima.&lt;br /&gt;“Dari siapa Mande?” Tanya Bintang dari dalam rumah.&lt;br /&gt;“Gak tahu Nak, tapi yang jelas dari Jakarta.”&lt;br /&gt;“Mungkin saja surat panggilan kerja,” tiba-tiba Bintang sudah berdiri disampingku.&lt;br /&gt;“Bintang buka dulu yah Mande, biar tahu isinya.”&lt;br /&gt;“Bukalah, Mande sudah tak sabar.” Dengan hati-hati, ia sobek pinggir sampul surat yang berwarna coklat ditangannya. Tak lama kemudian,&lt;br /&gt;“Akhirnya Bintang mendapat panggilan kerja dari perusahaan Perancis Mande,” ucap Bintang sambil memelukku senang.&lt;br /&gt;“Alhamdulillaaahhh. Allah benar-benar mengabulkan doa Mande.”&lt;br /&gt;“Bintang harus bersiap-siap untuk ke Jakarta besok. Soalnya tes wawancaranya dimulai minggu depan Mande.”&lt;br /&gt;“Iya Nak, Mande akan bantu kamu bersiap-siap. Oh ya, kamu punya ongkos buat ke Jakarta?”&lt;br /&gt;“Untuk ongkos ada kok Mande.”&lt;br /&gt;“Tapi kamu perlu uang saku juga Nak. Untuk makan dan transfort selama di Ibukota. Kamu kan baru diterima bekerja, jadi belum menerima gaji kan?”&lt;br /&gt;“Mande gak usah terlalu memikirkan hal itu. Bintang akan mencari pinjaman pada teman. Nanti setelah menerima gaji pertama akan Bintang lunasi.”&lt;br /&gt;“Bintang, maafkan Mande yang gak bisa memberikan uang saku padamu. Andai saja perhiasan emas Mande belum terjual semuanya. Pasti kamu gak perlu bersusah payah seperti ini.&lt;br /&gt;“Sudahlah Mande, Bintang gak papa kok minjam duit teman. Lagipula perhiasan Mande terjual buat menyekolahkan Bintang dan adik-adik juga. Bintang akan mengganti semua perhiasan Mande setelah Bintang bekerja dan menerima gaji nanti.”&lt;br /&gt;“Gak perlu Nak, yang penting kamu dan adik-adik bisa berhasil. Itu sudah cukup bagi Mande.”&lt;br /&gt;“Terima kasih yah Mande. Bintang sangat bersyukur memiliki Mande yang selalu mendorong Bintang untuk terus maju,” jawab Bintang tersenyum. Air mata haru membasahi kedua pelupuk mataku. Sungguh bahagia rasanya memiliki anak yang cerdas dan berbakti seperti Bintang.&lt;br /&gt;Sepanjang hari, aku dan anak-anak menghabiskan waktu dengan hati yang riang. Seolah kedukaan dalam hidup yang kami alami kemarin sirna dalam sehari. Kami tak punya uang untuk merayakan keberhasilan Bintang dengan selamatan ataupun makan-makan. Malam harinya kami  menghabiskan waktu dengan makan bersama dan berkumpul  sambil bertukar cerita. Rusli, Upik, Iqra dan Mukhlis terus mengajak Bintang ngobrol. Mungkin karena besok mereka sudah berpisah. Jadi mereka habiskan waktu malam ini bersama Udanya. Biasanya mereka sudah tidur sebelum jam sembilan malam. Tapi malam ini meski jam telah menunjukkan pukul duabelas malam, mereka belum juga beranjak dari kamar bintang.&lt;br /&gt;Bintang terus menanyakan pada adik-adiknya apa saja yang mereka butuhkan untuk keperluan sekolah. Bintang berjanji akan memenuhi kebutuhan mereka dengan rutin mengirimkan sebagian uang gajinya setiap bulan. Bintang juga menyuruh Rusli untuk berhenti bekerja dan meneruskan sekolah ke jenjang sarjana. Suara Upik, Iqra dan Mukhlis  terdengar begitu semangat menyebutkan satu-persatu keinginan mereka. Aku menangis bahagia mendengar suara riuh mereka dari luar kamar. Begitu akrabnya mereka satu sama lain. &lt;br /&gt;Begitu sayang dan perhatiannnya Bintang pada adik-adiknya. Sebuah berkah luar biasa yang Allah berikan untuk keluarga yang kumiliki. Sementara Abaknya Bintang sudah tertidur pulas. Dia seperti tak perduli dengan apa yang terjadi. Hidupnya hanya dihabiskan dengan makan, tidur, dan duduk diruang tamu melihat orang-orang yang lalu lalang. Sesekali anak-anak bergantian mengajak Abaknya jalan pagi atau sekedar menemaninya berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan rasa jenuh. &lt;br /&gt;Menjelang larut malam, suasana mulai hening. Rupanya anak-anak sudah tertidur pulas karena lelah. Sementara aku masih terjaga dan berniat akan melakukan solat malam. Untuk mengadukan kegembiraan hatiku pada yang Kuasa sembari mengucap syukur pada-Nya atas diterimanya Bintang bekerja. Akupun segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudu’. Meski ditengah rasa kantuk yang tak tertahankan. Keesokan harinya, aku lebih  sibuk karena harus mempersiapkan keberangkatan Bintang. Adik-adiknya Bintang juga sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah. Hanya Rusli yang menemaniku ke bandara dengan bolos bekerja.&lt;br /&gt;“Uda, Upik ingin mengantarkan Uda ke bandara. Tapi Upik lagi ujian jadi gak bisa ditinggal.”&lt;br /&gt;“Iqra juga Da. Nanti Uda sering-sering kirim surat ya?”&lt;br /&gt;“Iya, itu sudah pasti. Kalian belajar yang rajin yah. Jaga Mukhlis baik-baik. Bantu Mande di rumah,” nasehat Bintang lembut.&lt;br /&gt;“Mukhlis ingin dibelikan sepeda Da,” ucap Mukhlis manja.&lt;br /&gt;“Kalau kamu nanti juara di sekolah, Uda akan kasih hadiah sepeda yang bagus. Jadi tetap semangat ya.”&lt;br /&gt;“Iya Da, semangat!,” jawab Muhklis. Kami pun tertawa mendengarnya.&lt;br /&gt;Setelah satu persatu adiknya Bintang pergi, kini giliran Bintang minta ijin pada Abaknya sebelum berangkat.&lt;br /&gt;“Bak, Bintang akan ke Jakarta untuk bekerja. Bintang minta restu yah Bak.”&lt;br /&gt;“Oh, Wa-ang? Pailah abak senang Wa-ang sudah diterima bekerja.” Tak berapa sesampainya di Bandara, pesawat datang tepat waktu. Bintang pun bersiap-siap untuk naik pesawat.&lt;br /&gt;“Mande, Bintang mohon doa restu agar selama disana dimudahkan urusannya,” ucap Bintang sambil memelukku.&lt;br /&gt;“Rusli, Uda titipkan adik-adik padamu. Jaga mereka baik-baik yah..”&lt;br /&gt;“Sudah pasti Uda, gak usah khawatir,” jawab Rusli haru.&lt;br /&gt;“Pergilah Nak. Doa Mande menyertaimu. Sering-sering kirim kabar yah?”&lt;br /&gt;“Iya Mande, Bintang pamit dulu.” Aku pun melepasnya dengan berurai air mata. Berat rasanya harus hidup berjauhan dengan Bintang. Tapi hidup dan keberhasilan Bintang lebih utama. Aku harus kuat dan tegar melepasnya. Demi masa depan Bintang dan adik-adiknya. Kutatap terus punggung Bintang sampai hilang dari pandangan. Aku dan Rusli melepas Bintang dengan hati yang penuh harapan. Sebelum jauh, sekali lagi Bintang melambaikan tangannya dan tak menoleh lagi ke belakang.(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-2344480650870071954?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/2344480650870071954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/10/tears-in-heaven-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2344480650870071954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2344480650870071954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/10/tears-in-heaven-5.html' title='Tears In Heaven 5'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Swpn_CKA0Wk/Tor33m9hR4I/AAAAAAAAAPo/L91OLJ0B8I8/s72-c/airmata%2Bsurga%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-4993539899304856240</id><published>2011-09-29T19:09:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T19:13:08.224-07:00</updated><title type='text'>Teardrop In Heaven 4</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-jPXmYBT9zVQ/ToUlRZ6uiDI/AAAAAAAAAPg/0TsS0hZbqI0/s1600/airmata%2Bsurga%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 279px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-jPXmYBT9zVQ/ToUlRZ6uiDI/AAAAAAAAAPg/0TsS0hZbqI0/s400/airmata%2Bsurga%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657969487806105650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah larut malam. Namun Bintang masih berkutat dengan berkas-berkas lamaran kerjanya. Satu-persatu dia masukkan kedalam amplop untuk dikirim ke berbagai perusahaan besar di Jakarta. Sudah beberapa hari ini Bintang rajin mengirimkan surat lamaran kerjanya yang dibuat dengan sepenuh hati. &lt;br /&gt;“Semoga tak lama lagi kamu mendapatkan panggilan kerja ya Nak.”&lt;br /&gt;“Doakan saja Mande. Bintang yakin, begitu membaca curriculum vitae Bintang, pasti mereka tertarik,” ucap Bintang optimis. Aku tersenyum mendengar rasa percaya diri Bintang yang tinggi. Selain memiliki kemauan yang keras, Bintang memang tak mudah menyerah untuk mencapai keinginnanya. Semoga adik-adiknya Bintang bisa mengikuti sifatnya ini. Sebagai anak tertua, Bintang berhasil membuat dirinya menjadi panutan yang baik buat adik-adiknya.&lt;br /&gt;Satu bulan sudah Bintang mencoba mencari kerja sejak lulus wisuda. Kegiatannya masih tetap sama yaitu membaca buku-buku, memberi les privat seperti biasanya sampai dia mendapatkan pekerjaan. Sepulang mengajar, Bintang memang lebih banyak dikamar menghabiskan waktu dengan membaca. Dia memang seorang kutu buku. Bukulah temannya selama ini. Kalau masih kuliah dia aktif di organisasi kampus. Tapi sekarang sudah tak aktif lagi dikegiatan keorganisasiannya. Hanya satu yang tak berubah dari Bintang. Dia tak akan mau makan bila tak diuruh lebih dulu. Apalagi kalau sedang asyik membaca buku. Dan aku tetap menyediakan makanan diatas meja seperti dulu meski lauknya tak semewah sewaktu Bintang masih kecil. Hanya saja kebiasaan Bintang untuk makan dengan cara dihidangkan sulit dihilangkan. Dan aku tetap senang melakukan itu semua buatnya. Karena bagiku Bintang akan terus menjadi anakku yang istimewa.&lt;br /&gt;Waktu begitu cepat bergulir. Tanpa terasa enam bulan sudah Bintang terus mengirim surat lamaran kerja. Tapi hingga kini tak satu pun dari perusahaan tempat dia melamar memanggilnya. Kalau memang Bintang diterima pasti sudah mendapatkan surat panggilan untuk wawancara. Dan aku melihat kegelisahan dan kesedihan itu diwajahnya. Meski Bintang tak pernah mengenal kata menyerah. Tapi raut wajahnya tak bisa membohongiku kalau dirinya sedang gundah gulana.&lt;br /&gt;“Kamu harus sabar Bintang. Mencari kerja itu memang tak mudah,” hiburku.&lt;br /&gt;“Bukannya Bintang tak mau bersabar Mande, hanya saja Bintang heran masak tak satupun surat lamaran Bintang diterima. Lagipula, kita butuh banyak biaya Mande. Abak semakin tua dan sakit-sakitan. Siapa yang akan menanggung biaya hidup kita?”&lt;br /&gt;“Masalah itu tak usah terlalu kau pikirkan. Kan masih ada Rusli yang sudah bekerja di restoran Padang. Sementara ini dia bisa membantu Mande mencukupi kebutuhan sehari hari kita.”&lt;br /&gt;“Tapi Mande, Rusli dan adik-adik kan perlu meneruskan sekolah. Gak mungkin kan dia menjadi pelayan restoran terus? Kalau Bintang sudah bekerja dan mendapatkan gaji yang layak semua adik-adik termasuk Rusli harus bersekolah setinggi-tingginya. Minimal sarjana kayak Bintang.”&lt;br /&gt;“Pasti Allah mendengar keinginanmu itu Nak. Mande yakin, Allah akan mewujudkan cita-cita tulusmu itu.”&lt;br /&gt;“Terima kasih Mande, karena selalu memotivasi Bintang. Bintang akan terus berusaha melamar pekerjaan sampai Bintang diterima. Semoga tahun depan Bintang sudah bekerja disalah satu perusahaan besar di Jakarta.”&lt;br /&gt;“Amin,” jawabku sambil tersenyum kearah Bintang yang kembali bersinar cerah. Tak lagi murung seperti hari belakangan ini.&lt;br /&gt;Bintang semakin meleburkan dirinya dengan buku-buku bacaannya. Selain mengajar dan mencari kerja. Aku tak ingin mengusiknya kalo sedang serius belajar. Meski dia sudah tamat kuliah, tetapi keinginan untuk terus belajar tak pernah pudar sedikitpun. Bahkan dia tetap rajin membeli buku-buku meski hanya buku bekas untuk dia pelajari. Tentu saja  uangnya dari hasil memberikan les  bahasa inggris. Aku sendiri suka gak tega bila Bintang memberikan sebagian gajinya untuk biaya hidup dirumah. Padahal gajinya tak seberapa dibandingkan dengan biaya hidup yang ia butuhkan. &lt;br /&gt;Sementara  keadaan Abaknya semakin memprihatinkan. Di usianya yang semakin uzur, ingatannya tak sebaik dulu lagi. Penyakit pikun mulai menyerangnya. Dengan keadaan suamiku yang seperti itu, dia pun lebih banyak menghabiskan waktunya dengan duduk diruang tamu sendirian. Aku   tak bisa menemaninya dalam waktu duapuluh empat jam karena harus mengurusi  adik-adiknya bintang. Yah…Sejak suamiku terserang penyakit yang banyak diderita orang yang sudah berusia lanjut, otomatis aku tak bisa lagi mengandalkannya untuk membantuku memecahkan masalah demi masalah. Untuk itulah aku sering menyuruh Iqra adiknya bintang untuk menemani Abaknya duduk diruang tamu. Sembari sesekali mengajaknya berbicara. Sebab  Abaknya suka pergi diam-diam tanpa tahu jalan pulang, karena dia sudah tak ingat lagi jalan menuju rumahnya sendiri. &lt;br /&gt;Tak bisa disalahkan bila suamiku suka   keluar tanpa permisi. Mungkin dia bosan dirumah seharian. Apalagi suamiku dulunya orang yang sangat aktif dan tak bisa diam. Alhasil bila Abaknya  ngeloyor jalan keluar, terpaksalah dengan susah payah Iqra mengejarnya dan berusaha mengajaknya pulang. Meski awalnya marah-marah pada Iqra.. Tapi karena terus dibujuk, dia pun mau mengikuti Iqra. &lt;br /&gt; Pernah suatu hari disaat kami lengah mengawasinya. suamiku berjalan keluar tanpa tujuan. Setelah berjalan cukup jauh, barulah kami sadar bahwa dia sudah tidak ada. Dengan kalut, aku mencarinya di jalan –jalan yang biasa ia lewati. &lt;br /&gt;Setelah  berjalan cukup jauh, akhirnya aku bisa menemukannya sedang berjalan sendiri tak jauh dari lokasi sekolah anakku Iqra. Aku pun merasa sangat lega dan. segera menyeretnya pulang saat itu juga. Lagi lagi suamiku menuruti perintahku. Ibarat anak kecil yang ketahuan pergi keluyuran. &lt;br /&gt;Lama-lama aku kasihan melihat suamiku sering duduk seorang diri. tanpa ada yang mau menemani. Apalagi kami selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Meski suamiku tak pernah nyambung bila berkomunikasi dengan siapapun. Termasuk dengan diriku.. Tapi aku berusaha untuk terus menemaninya  dan mendengarkannya bercerita tentang apa saja. Yang membuatku takjub, dia masih ingat tentang masa lalunya. Meski ceritanya tidak runtut alias melompat-lompat. Aku tetap setia menyimaknya..&lt;br /&gt;  Dengan semangat berapi-api  Bagindo Sulaiman berbagi kisah denganku, saat dia masih menjadi tentara. Akhirnya aku tahu bahwa dia pernah mengalami susahnya hidup dimasa belanda dan jepang. &lt;br /&gt;“Kau tahu Layla? ambo pernah menyamar menjadi seorang petani agar tidak ketangkap oleh pihak kompeni. Tetapi ambo tertembak tentara belanda disaat ketahuan bersembunyi disebuah got.” Dengan penuh rasa bangga, dia  menunjukkan padaku bekas tembakan di pangkal pahanya.&lt;br /&gt;“Untunglah ambo bisa selamat Layla. Ambo lari sekencang-kencangnya dengan paha yang masih berdarah.” Lagi–lagi aku hanya bisa tersenyum miris mendengarnya. Miris mengapa suamiku tak lagi segagah dulu saat dia menjadi pejuang negara? Mungkin waktu itu aku masih sangat belia. Dan bertemu dirinya saat dia sudah menjadi duda.&lt;br /&gt; Ternyata tak hanya itu kehebatan suamiku. Masih menurut Mande, dulu Bagindo Sulaiman sangat menguasai bahasa inggris, belanda dan jepang dengan baik. Dia  juga hapal beberapa surat dalam alqur’an. Meski disaat pikun, dia hanya bisa mengucapkan ketiga bahasa  itu secara sepotong-sepotong. Diam-diam di dalam hati, aku mulai kagum pada keberanian dan kecerdasan suamiku dulu. &lt;br /&gt;Bagindo sulaiman juga bisa menyelesaikan sekolah hingga PGA (pendidikan guru agama) yang dijaman itu tamat SD saja sudah hebat, karena jarang yang bisa sekolah setinggi itu.  Tak heran bila kepintaran suamiku dalam berbahasa asing menurun pada Bintang. &lt;br /&gt;Dan hari ini keadaannya semakin  memprihatinkan. Aku ingin segera memberitahu Bintang kalau abaknya tak bisa bangun dari peraduan. Kedua kakinya terus ditekuk dan susah untuk diluruskan. Aku benar-benar panik. Padahal Bintang baru pulang malam hari. &lt;br /&gt;“Mande, lebih baik kita bawa Abak ke rumah sakit sekarang juga. Nanti setelah Bintang pulang, baru kita beritahu dia,” ucap Rusli cemas. Secemas diriku. &lt;br /&gt;“Baiklah Rusli, ayo kita berkemas-kemas.” Segera kupersiapkan semuanya. Ku panggil becak dan segera kusuruh Rusli membopong Abaknya ke atas becak.   &lt;br /&gt;Aku duduk terpekur memandang suamiku yang kini terbaring dengan infus ditangannya. Dokter menyarankan untuk rawat inap karena pengakit gula suamiku kumat lagi. Suamiku harus menjalani diet rendah karbohidrat dan mengkomsumsi banyak makanan berserat agar gula darahnya bisa normal kembali. Memang pola hidup suamiku yang tak banyak gerak membuat tubuhnya mudah menimbun zat gula karena lebih banyak makan dan tidur tanpa aktifitas. Tubuh suamiku sempat naik beberapa kilo dalam sebulan. &lt;br /&gt;Sore mulai beranjak malam. Aku masih setia menunggu Bintang. Mengapa dia belum datang juga? Apakah Bintang belum pulang dari mengajar? Aku menunggu dengan gelisah. Gelisah membayangkan dengan apa kami harus membayar biaya rumah sakit? Apalagi menurut dokter, Abaknya harus dirawat selama seminggu sampai kondisi kesehatnnya lebih baik. Kupandang wajah suamiku yang terlihat lebih kurus karena penyakitnya. Penyakit diabetes telah merenggut badannya yang tua dan lemah. &lt;br /&gt;Andai Mande masih hidup, aku bisa berbagi duka ini dengannya. Duka betapa sedihnya melihat suami yang dicintai tak lagi seperti dulu. Yang tak pernah lagi memanjakan dan memperhatikan istrinya seperti waktu masih muda dulu. Yang tak bisa lagi memberikan tubuhnya sebagai tempat bersandar dari masalah hidup. Aku pun tertidur karena lelah dipinggir kasur. Sampai tak menyadari kalau Bintang sudah berdiri di sampingku.&lt;br /&gt;“Mande, biar Bintang yang ganti menjaga Abak. Lebih baik Mande pulang untuk istirahat,” tiba-tiba tangan Bintang menyentuh pundakku. Dan membangunkanku dengan suaranya yang jernih dan lembut.&lt;br /&gt;“Bintang, akhirnya kau datang juga. Mande benar-benar gak tahu lagi harus mencari uang kemana untuk biaya berobat Abakmu.”&lt;br /&gt;“Mande, biar Bintang yang memikirkan semua biaya itu. Mande pulang saja dulu.”&lt;br /&gt;“Tapi, apa cukup gajimu untuk membayar biaya rumah sakit yang tidak sedikit Nak. Dapat uang darimana lagi kamu?”&lt;br /&gt;“Bintang akan mencari pinjaman Mande. Jadi Mande gak usah cemas lagi.”&lt;br /&gt;“Begini saja, bagaimana kalau Uda mendatangi Ajo Yanuar yang baru membuka usaha restoran Padang. Aku  dengar, restorannya maju pesat dan sudah memiliki cabang dimana-mana,” ucap Rusli tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Iya. Pasti ajomu tidak keberatan. Sekalian memberitahu dia bahwa Abak lagi sakit.” Aku pun kembali bersemangat, karena sudah menemukan jalan keluar sementara dari kesulitan biaya.&lt;br /&gt;“Baiklah Mande, besok Bintang akan mendatangi Ajo Yanuar di restorannya. “&lt;br /&gt;“Mande merasa lega kini. Kalau begitu Mande dan Rusli pulang dulu yah Nak. Kamu jaga Abakmu baik-baik disini.”&lt;br /&gt;“Uda, besok pagi sebelum kerja aku mampir kesini, “ Rusli memohon pamit pada Bintang. Kami pun segera pulang takut malam bertambah larut.&lt;br /&gt;Sesampainya dirumah, pikiranku terus ke rumah sakit. Rasanya mata sulit untuk kupejam. Meski keyakinan dihatiku bahwa usaha Bintang besok akan berhasil, tetap saja kekhawatiran itu menyergapku. Maklumlah, Yanuar hanya seorang anak tiri. Hubungan kami tidak begitu akrab, karena sedari kecil Yanuar ikut saudara dari ibunya dikampung. Apalagi semenjak buka restoran, jarang sekali Yanuar datang menjenguk Abaknya. Meski aku tahu dia sibuk mengurusi usaha barunya. Tapi Bagindo Sulaiman adalah Abak kandungnya. Yang kondisinya belakangan ini semakin menurun dan sakit-sakitan. Akh, aku hanya bisa berdoa’ agar semuanya berjalan seperti yang kuharapkan.&lt;br /&gt;“Mande, bagaimana keadaan Abak? Upik besok ikut yah menjenguk abak,” tiba-tiba Upik sudah berdiri disampingku yang tengah duduk melamun. Upik memang dekat dengan Abaknya. Maklumlah sebagai anak padusi satu-satunya, Upik begitu dimanja. Dulu sehabis pulang bekerja, Abaknya selalu membawakan kue bingka kesukaan Upik. Sekarang setelah Abaknya mulai pikun, Upik tetap bermanja-manja bila didekat Abaknya. Meski abaknya sering bertanya “ Sia wa-aang”&lt;br /&gt;“Ambo Upik Bak. Masak Abak lupo, “ begitu selalu jawab Upik. Kalau sudah begitu, Abaknya hanya bisa tergelak-gelak mendengarnya. Upik pun tak jadi marah karena dia paham ingatan abak tak sebaik dulu lagi.&lt;br /&gt;“Jam segini Upik kok belum tidur juga? Besok kan harus sekolah,” bujukku.&lt;br /&gt;“Upik gak bisa tidur Mande. Upik rindu sama Abak,” isaknya lagi.&lt;br /&gt;“Ya sudah, besok sepulang sekolah Upik bisa pergi kerumah sakit bersama Iqra,” jawabku mencoba bersikap tenang. Padahal dihati ini masih penuh dengan gemuruh kesedihan dan ketakutan. Takut terjadi sesuatu pada abaknya Bintang.&lt;br /&gt;“Sekarang Upik mau tidur, tapi harus ditemani Mande,” ucapnya manja. &lt;br /&gt;Akupun tak berkutik dan segera mengikuti kemauan Upik. Kulihat Iqra tidur dengan pulas dikamar. Tak terasa adik-adiknya Bintang sudah mulai tumbuh besar. Sebentar lagi si Upik tamat SMP. Sedangkan Iqra sudah duduk dikelas tiga SMA. Sementara Mukhlis si bungsu sudah duduk dikelas 6 SD. Akh, semuanya  sedang membutuhkan banyak biaya untuk sekolah. Semoga mereka bisa bersekolah setinggi-tingginya seperti Bintang. &lt;br /&gt;Bintang melangkah sedikit ragu memasuki sebuah restoran yang terletak tepat dipinggir jalan besar. Pengunjung terlihat ramai memenuhi rumah makan. Bintang masuk dan melayangkan pandangannya ke seputar ruangan. Tampak taman yang cukup asri disudut ruangan. Membuat restoran Padang milik Udanya semakin semarak dan berkelas. &lt;br /&gt;Para karyawan sibuk melayani pelanggan yang memesan nasi bungkus dan yang makan di meja. Disalah satu meja tersusun kotak-kotak yang sedang diisi oleh nasi dan lauk oleh salah satu karyawan. Pastilah  untuk pelanggan yang memesan nasi di box. Jumlahnya sekitar ratusan kotak. Bintang terus menyapu pandangannya, namun Uda Yanuar yang dicarinya tak terlihat. &lt;br /&gt;“Cari siapa Da?” Tanya salah seorang karyawan.&lt;br /&gt;“Bos kalian ada?” Tanya Bintang hati-hati.&lt;br /&gt;“Oh, Uda Yanuar? Ada diatas. Mau saya panggilkan?”&lt;br /&gt;“Iya,  saya ingin bertemu karena ada urusan penting.”&lt;br /&gt;“Sebentar ya Da. Uda duduk aja  dulu,” ucap karyawan itu ramah.&lt;br /&gt;“Iya, makasih ya.”  karyawan itu pun segera naik kelantai dua. Beberapa menit kemudian, tampak seorang lelaki setengah baya dengan tubuh yang sedikit tambun turun menemuinya.&lt;br /&gt;“Oh, kamu Bintang. Tumben kamu kemari? Pasti perlu sesuatu yah?”&lt;br /&gt;“Begini Uda, sekarang Abak dirawat dirumah sakit dan…”&lt;br /&gt;“Dan kalian bingung gak punya duit untuk membayarnya kan?” Uda Yanuar menjawab sinis.&lt;br /&gt;“Sebenarnya salah satu maksud Bintang datang kesini untuk meminta Uda menjenguk Abak selain yang Uda katakan barusan,” jawab Bintang sedikit terkejut melihat sikap Uda Yanuar yang angkuh.&lt;br /&gt;“Bintang…Bintang…katanya kamu sudah sarjana, tapi kok gak bisa diandalkan. Lihat Uda. Meskipun cuma lulusan SMA, uang Uda jauh lebih banyak darimu. Buat apa susah-susah sekolah tinggi kalau akhirnya gak punya uang sepeserpun.”&lt;br /&gt;“Uda! Kalau gak mau membantu membiayai Abak, jangan mencari-cari alasan. Abak itu kan orangtua Uda sendiri. Jangan dihubung-hubungkan dengan Bintang yang sampe sekarang belum dapet pekerjaan,” jawab Bintang emosi. Darahnya mendidih mendengar ucapan Uda tirinya itu.&lt;br /&gt;“Hahahaha…jadi kamu merasa juga kalau dirimu tak berguna? Asal kamu tahu yah, Uda tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya berobat Abak. Sebab Abak sekarang sudah menjadi tanggung jawabmu,” jawab Uda Yanuar dengan senyum mengejek.”&lt;br /&gt;“Uda benar-benar jauh berubah. Jangan sampe nasib Uda seperti si Malin kundang, karena sudah menyia-nyiakan orang tua sendiri. Permisi!”  Bintang pun segera angkat kaki dengan muka memerah karena marah.&lt;br /&gt;Sesampainya dirumah, Mande telah menunggunya dengan harap-harap cemas.&lt;br /&gt;“Bagaimana Bintang? Kamu ketemu dengan Udamu?” Tanya Mande gak sabar.&lt;br /&gt;“Bukan hanya ketemu Mande, Bintang malah beradu mulut dengan Uda Yanuar yang tak tahu diri itu,” jawab Bintang sambil meninju tembok dengan kepalan tangannya.&lt;br /&gt;“Apa maksudmu? Mengapa kalian harus beradu mulut segala? Gak kamu bilang sama Udamu kalo abak sekarang dirawat dirumah sakit?” Tanya Mande heran.&lt;br /&gt;“Karena itulah kami beradu mulut Mande. Sebab Uda Yanuar benar-benar sudah kelewatan. Masak sama Abaknya sendiri gak perduli. Jangankan membayar uang berobat, menjenguk Abak aja dia gak mau. Benar-benar sudah menjadi anak durhaka dia,” ucap Bintang dengan rahang yang masih mengeras karena geram.&lt;br /&gt;“Masya Allah! Kenapa Uda tirimu itu jadi berubah? Padahal sebelumnya dia masih mau mengunjungi Abak dan adik-adikmu.”&lt;br /&gt;“Orang kalau sudah diatas angin begitu Mande, jadi lupa diri. Dia kira hidup tanpa ridha orang tua akan berhasil? Lihat saja nanti kalau Allah sudah menjatuhkan hukumannya.”&lt;br /&gt;“Kamu gak boleh ngomong begitu Nak. Kita doakan saja Udamu segera sadar dari khilafnya.”&lt;br /&gt;“Bintang gak mendoakan Mande, tapi ngomong kenyataan. Sudahlah Mande, kita gak usah mengharapkan dia lagi. Bintang akan usahakan mencari pinjaman pada yang lain.”&lt;br /&gt;“Tapi kamu mau minjam sama siapa uang sebanyak itu?”&lt;br /&gt;“Bintang akan coba menemui bapaknya siBahar yang orang kaya itu Mande. Kebetulan si Bahar akrab sama Bintang. Dia pasti mau menolong.”&lt;br /&gt;“Semoga yah Nak, soalnya Mande bingung memikirkan biaya berobat Abakmu yang berkisar lima jutaan itu.&lt;br /&gt;“Doakan Bintang Mande, agar dimudahkan urusan ini,” ucap Bintang sambil menggengam kedua tanganku erat. &lt;br /&gt;“Itu sudah pasti Nak. Apapun yang akan kau kerjakan, Mande selalu mendoakanmu.”  Bintang pun kembali bersemangat.&lt;br /&gt;Sudah satu minggu Abak dirumah sakit. Hari ini dokter sudah memperbolehkan suamiku pulang.&lt;br /&gt;“Abak harus berpantang makan yah? Gak boleh banyak makan-makanan yang mengandung zat gula karena Abak diabetes,” ucap Bintang begitu suamiku sudah sampai dirumah.&lt;br /&gt;“Tapi Abak masih bolehkan makan nasi Padang? Abak pengen sekali makan direstoran kayak dulu.”&lt;br /&gt;“Ya sudah, Nanti Rusli akan ajak Abak makan direstoran tempat Rusli kerja. Tapi sekali ini saja yah Bak. Abak  harus mulai berdiet,” ucap Rusli.&lt;br /&gt;“Iya. Abak juga harus banyak gerak. Setiap hari harus jalan pagi. Nanti Upik temani Abak,” Upik berkata senang karena Abak sudah baikan.&lt;br /&gt;“Rusli, lebih baik ajak Abakmu makan direstoran Ajo Yanuar. Siapa tahu bisa bertemu Ajomu nanti,” ucap Mande.&lt;br /&gt;“Gak perlu Mande, Nanti dia kira Abak sengaja kita suruh makan direstorannya supaya gratis,” jawab Bintang gak suka.&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa? Wajar kalo Abak makan direstoran anaknya sendiri. Siapa tahu Abakmu rindu sama Ajomuu.”&lt;br /&gt;“Abak kan sudah pikun Mande, pasti dia sudah gak ingat lagi sama Ajo Yanuar,” jawab Upik.&lt;br /&gt;“Justru itu kita harus mengingatkannya dengan membawa Abakmu makan disana,” Mande terus bersikeras dengan ucapannya.&lt;br /&gt;“Yah sudah, Nanti Rusli yang akan menemani Abak ke restoran Ajo Yanuar,” jawab Rusli mencoba menengahi.&lt;br /&gt;“Terserah kamu Rusli, Uda sudah tak mau bertemu muka si Yanuar itu lagi. sakit hati ini masih belum hilang,” jawab Bintang. Sesudah berkata begitu, Bintang langsung masuk ke kamarnya dan kembali berkutat dengan buku-bukunya. Dunia yang bisa menenggelamkan semua rasa sesak didadanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-4993539899304856240?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/4993539899304856240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/teardrop-in-heaven-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/4993539899304856240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/4993539899304856240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/teardrop-in-heaven-4.html' title='Teardrop In Heaven 4'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-jPXmYBT9zVQ/ToUlRZ6uiDI/AAAAAAAAAPg/0TsS0hZbqI0/s72-c/airmata%2Bsurga%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-5792826834917621611</id><published>2011-09-25T19:03:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T19:20:26.974-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>Teardrop In Heaven 3</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-CNbBOCW_1zQ/Tn_gNECaVQI/AAAAAAAAAPY/EPyQfxq9rQ8/s1600/airmata%2Bsurga%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 279px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-CNbBOCW_1zQ/Tn_gNECaVQI/AAAAAAAAAPY/EPyQfxq9rQ8/s400/airmata%2Bsurga%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656486172027409666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari sehabis pulang bermain, Bintang merengek-rengek agar dijinkan untuk berjualan es mambo. Terang saja aku heran dengan niatnya itu. Anak sekecil dia kok sudah minta berdagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah Layla, turuti saja permintaan Bintang,” jawab Abaknya saat kuceritakan tentang keinginan kuat Bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Uda, apa kata orang nanti? Mereka kira kita sengaja mempekerjakan anak sendiri untuk biaya hidup. Padahal hidup kita tidak kekurangankan?” aku berkata sedikit emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa kita lebih memperdulikan orang lain daripada anak sendiri? Mungkin  Bintang ingin belajar berdagang. Pastilah darah itu menurun dari aku,” ucap Abaknya  bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya syukurlah kalau Uda memang setuju. Besok akan Layla buatkan es mambo untuk dijual oleh Bintang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak perlu banyak-banyak Layla. Sekedar untuk membuat anak kita senang aja, karena keinginannya untuk jualan tersalurkan,” ucap suamiku tersenyum senang. Mendapati anak sulungnya memiliki darah berdagang seperti dirinya. Aku yakin, besok akan kulihat wajah senang itu juga di wajah Bintang. Saat tahu aku mengijinkannya jualan es mambo. Ada-ada saja keinginan Bintang. Buat  apa juga susah-susah jualan. Padahal dari segi ekonomi Bintang tak pernah kekurangan. Uang jajan Bintang mungkin lebih besar dari untung yang ia dapat dari berjualan. Aku pun tersenyum melihat Bintang yang sedang tertidur pulas. Kuelus-elus rambutnya dengan penuh cinta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bintang, besok kau akan mendapatkan pengalaman yang baru dalam hidupmu.” Aku pun tak dapat memejamkan mata selain menatap wajah Bintang kecilku. Rasanya sulit membayangkan Bintang harus berjualan disaat anak-anak lain sedang bermain-main dengan sepuasnya.&lt;br /&gt;“Asyik…asyik..asyik…Bintang boleh jualan…. Bintang boleh jualan…Mande memang baik,” Bintang berkata sambil melonjak-lonjak kegirangan. &lt;br /&gt;“Tapi jualannya jangan jauh-jauh yah sayang. Dekat-dekat sini aja,” perintahku lembut.&lt;br /&gt;“Kalau ke pasar boleh gak Mande?”&lt;br /&gt;“Ngapain sampe ke pasar Nak. Dekat rumah aja jualannya.”&lt;br /&gt;“Tapi pasar kan dekat dari sini Mande. Boleh yah?” wajah Bintang memohon.&lt;br /&gt;“Baiklah! Akan Mande antar kamu ke pasar. Yuk! Anak manis,” aku segera menggamit tangannya dan menemaninya sampai ke pasar.&lt;br /&gt;“Sudah, Mande pulang aja. Biar Bintang jualan sendiri.”&lt;br /&gt;“Benar Bintang berani sendiri?” tanyaku lagi dengan hati yang penuh was-was.&lt;br /&gt;“Tentu saja Bintang berani Mande. Semua orang dipasar ini Bintang kenal,” jawab Bintang lantang. Aku pun sedikit lega mendengarnya. Benar juga pikirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu kan Bintang sering dibawa ke pasar oleh Abaknya untuk melihat restoran. Aku masih ingat betapa orang-orang gemes dan sayang begitu melihat Bintang. Apalagi Bintang mau dengan siapa saja. Akhirnya sebelum pulang, aku titipkan Bintang pada orang-orang di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang saja Ni, kami akan mengawasi bintang selama dia berjualan,” jawab salah seorang yang kukenal.&lt;br /&gt;“Makasih ya,” jawabku lega. Sebelum pulang, kuhampiri Bintang yang lagi duduk dipinggir pasar bersama orang-orang yang sudah familiar dengan keluarga kami. &lt;br /&gt;“Bintang, jangan lama-lama jualannya yah Nak. Sebelum makan siang habis gak habis esnya harus sudah pulang,” nasehatku lagi sebelum meninggalkannya.&lt;br /&gt;“Pasti habis es mambonya Mande. Lihat saja nanti,” ucap Bintang dengan semangat empat lima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar merasa bangga pada kemauan kuat Bintang. Lalu segera mencium pipinya sebelum pulang. Dari kejauhan kulihat orang-orang mengerubungi anakku. Orang-orang tertawa senang menyaksikan Bintang yang tengah bernyanyi dengan lincahnya.&lt;br /&gt;Siang harinya Bintang kembali kerumah dengan wajah yang berbinar-binar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mande! es mambo Bintang sudah habis nih,” ucapnya girang sambil menunjukkan kotak termos es padaku.&lt;br /&gt;“Wah, Bintang memang hebat! &lt;br /&gt;“Orang-orang  mau beli es mambo  asalkan  Bintang mau disuruh menyanyi Mande. Jadi Bintang menyanyi aja asalkan esnya dibeli,” jawabnya polos.&lt;br /&gt;“Oh, begitu ceritanya. Pantesan esnya cepat laku,” gelakku sambil memeluk Bintang. “Karena Bintang sudah capek berdagang, pasti sekarang perutnya lapar. Iya kan?” tanyaku dengan hati yang bungah karena bahagia.&lt;br /&gt;“Iya Mande. Sekarang Bintang mau makan dulu dengan daging rendang yang banyak.”&lt;br /&gt;“Sudah Mande siapkan diatas meja. Tapi Bintang cuci tangan dulu yah,” perintahku lembut.&lt;br /&gt;“Oke Mande.” Bintang pun segera mengambil sabun dan mencuci tangannya hingga bersih. Setelah itu segera duduk menghadapi piring dan aneka lauk diatas meja. Dengan lahapnya Bintang menghabiskan nasinya. Aku tersenyum menyaksikan itu semua. Bintang kecilku ternyata benar-benar lapar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 tahun kemudian&lt;br /&gt;Aku masih menunggu Bintang dengan gelisah. Sudah selarut ini dia belum juga kembali. Dari tadi pikiranku tak tenang. Sementara adik-adiknya Bintang telah terbang ke alam mimpi. Tiba-tiba kulihat sesosok lelaki jangkung memasuki halaman rumah. Aku bernafas lega. Bintang akhirnya pulang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Darimana saja kamu Nak. Mande khawatir sekali jam segini baru keliatan,” sambutku di depan pintu.&lt;br /&gt;“Seperti biasa Mande, Bintang harus memberi les privat dulu pada murid-murid Bintang. Apalagi rumah mereka jauh-jauh. Jadi Bintang kemalaman terus sampai dirumah,” jawab Bintang sambil mencium tanganku.&lt;br /&gt;Meski kagum pada kegigihannya, tapi jauh dilubuk hatiku merasa trenyuh melihat keadaan Bintang yang sekarang. Memang Bintang tetap menyinari hari-hariku dengan kepintarannya. Hanya saja fisiknya tak lagi seberisi dulu. Terlihat semakin kurus dengan warna kulit yang lebih hitam. Maklumlah, rumah murid-muridnya sangat jauh. Bahkan pernah bintang berjalan kaki disaat tak punya uang transfort. Rambutnya yang ikal terlihat gondrong karena Bintang tak punya waktu lagi untuk pergi ke tukang pangkas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akh, sejak restoran terbakar, abaknya Bintang hanya bisa kerja serabutan. Untuk memulai usaha lagi dari awal sudah tak mampu. Mengingat usianya yang semakin menua. Kondisi fisiknya tak lagi memungkinkan  untuk bekerja keras. Selain tak punya modal yang cukup. Dan kini abaknya sudah tak lagi bekerja. Beban keluarga pun berpindah ke pundak bintang. Sementara Adik-adiknya Bintang masih kecil-kecil. Walau yang sudah agak besar seperti Adnan dan Rusli tak lepas tangan. Tapi hanya bintang yang bisa diandalkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa mendorong dan mendoakannya. Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak pernah bekerja mencari nafkah. Sepanjang hidupku kuhabiskan untuk mengurus keenam orang anak yang lahir berturut-turut dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Begitu anak-anak sudah besar, aku tak memiliki keahlian apa-apa. Selain mataku yang semakin rusak dan kabur, waktuku juga tak memungkinkan untuk mencari nafkah. Apalagi sekarang Abaknya sering sakit-sakitan.  Otomatis waktuku habis untuk mengurusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa sulit harus kualami dalam membesarkan adik-adiknya Bintang. Aznan putra keduaku tak sesehat dan sesempurna bintang.  Ketika duduk dibangku SMP sebuah musibah menimpanya. Kepalanya geger otak sehabis berkelahi dengan teman sekolahnya. Akibat lemparan batu yang tepat mengenai kepala belakangnya. Ditambah lagi penyakit malaria akut yang menimpanya. Tak jarang disaat panasnya tinggi, Aznan suka mengamuk karena panasnya sampai ke otak. Perabotan rumah hampir setiap hari hancur berantakan akibat amukannya. Akhirnya Allah memanggilnya di usia yang masih belia. Meski sangat sedih dan hancur, aku mencoba mengikhlaskan kepergian adiknya Bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mungkin lebih tahu tentang diriku. Seandainya Aznan terus hidup, dia akan terus menyusahkanku dengan penyakitnya itu. Karena selama hidupnya, Aznan sering mengamuk dengan menghancurkan perabotan rumah. Juga sering melempari orang-orang sekitarnya disaat panas tinggi menghinggapi otaknya. Hingga aznan melampiaskan rasa sakit yang dia rasakan dengan amukan. Airmataku pun sudah kering dalam menghadapinya. Mungkin inilah jalan keluar terbaik dari Yang Kuasa pada seorang ibu yang tiada daya sepertiku. Yang aku sendiri tak mungkin sanggup memikulnya terus. Aku tahu Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Aku yakin selalu ada hikmah dibalik setiap masalah yang kualami. &lt;br /&gt;Adik bungsu Bintang lain lagi masalahnya. Dia sering mengeluh merasakan sakit dibagian perut dan dadanya. Bolak-bolak aku membawanya ke dokter. Tapi tak kunjung sembuh jua. Yang lebih mengejutkan lagi, setelah diperiksa luar dalam tak ditemukan penyakit apapun. Benar-benar diluar jangkauanku sebagai seorang manusia. Hingga suatu hari aku menemukan sebuah kain yang dibungkus rapi. Begitu dibongkar terlihatlah isi yang sungguh aneh. Beberapa buah jarum dan serbuk besi terbungkus didalamnya. Oleh orang pintar Mukhlis dibilang terkena santet. &lt;br /&gt;Akh, aku tak ingin menduakan Tuhan. Lagipula siapa yang sudah begitu tega berbuat itu padaku dan anakku? Aku merasa tak pernah memiliki musuh. Kupasrahkan semua pada Ilahi. Kubawa adiknya Aznan berobat ke seorang ustad. Setelah diterapi dan didoakan, akhirnya penyakit Mukhlis bisa disembuhkan. &lt;br /&gt;Takdirkah ini semua? Aku tak pernah menyesal pernah menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua. Hingga saat anak-anakku beranjak dewasa suamiku sudah begitu renta. Dan kini menjadi beban tanggung jawabku dan anak-anak untuk mengurusnya. &lt;br /&gt;“Bintang. Kamu jangan terlalu memaksakan diri mencari penghasilan tambahan Nak. Kan masih ada Rusli adikmu yang juga bekerja. Mande takut kau nanti jatuh sakit,” ucapku khawatir.&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa Mande. Bintang baik-baik saja kok,” jawabnya tersenyum. &lt;br /&gt;“Kamu tak perlu berjalan sejauh itu setiap hari Nak. Jangan terlalu menghemat uang ongkos demi kami yang ada dirumah.”&lt;br /&gt;“Bintang sudah terbiasa berjalan jauh kok Mande. Meski lebih capek, tapi kaki bintang jadi semakin kuat,” ucap Bintang lagi.&lt;br /&gt;“Tapi kalau terlalu capek, kamu tak bisa belajar dengan baik. Karena begitu sampai dirumah langsung tertidur karena letih. Bisa-bisa pelajaran kuliahmu terbengkalai.”&lt;br /&gt;“Jangan terlalu cemas Mande. Bintang bisa belajar dimana saja. Bahkan di dalam kendaraan sekalipun,” jawabnya mencoba menghiburku. Aku hanya bisa pasrah mendengar jawaban cerdas Bintang. Dia semakin dewasa di usianya yang sekarang. &lt;br /&gt;Itulah Bintang. Meski ditengah keadaan ekonomi keluarga yang semakin morat-marit, dia tetap ngotot untuk terus melanjutkan kuliahnya. Dia memiliki cita-cita yang sanagat tinggi yaitu ingin bersekolah ke luar negeri. Dia juga berambisi untuk bisa mengantarkan adik-adiknya kejenjang sarjana. Untuk itulah Bintang mencari uang sendiri dalam membiayai kuliahnya. Disamping untuk membantu ekonomi keluarga.&lt;br /&gt;Aku begitu bahagia memiliki anak seperti Bintang. Selama hidupnya Bintang selalu menghiasi hidupku dengan kecerdasannya. Dia selalu rangking disekolah. Hingga bisa masuk ke sekolah favorit dari mulai SD hingga kuliah. Yah, Bintang diterima di fakultas negeri jurusan ekonomi dengan skor yang tinggi. Ketekunan dan kesukaannya pada bukulah yang membuatnya selalu menjadi nomor satu disekolah. Memang sejak kecil Bintang suka membaca. Bahkan kertas bungkus belanjaan pun tak luput ia baca. Hingga sedari kecil dia sudah kubelikan buku-buku cerita agar minat bacanya tersalurkan. Sekarang Bintang sudah menjadi lelaki dewasa yang penuh tanggung jawab. Aku semakin bangga padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kami sekeluarga begitu berbahagia, karena Bintang akan diwisuda menjadi seorang sarjana ekonomi. Aku, suamiku, juga adik-adiknya Bintang datang untuk menghadirinya dengan sukacita. Pagi-pagi sekali kami sudah sampai dikampus Bintang. Meski acara belum dimulai, kami menunggu dengan sabar dan senang. Berkali-kali kutatap wajah Bintang yang sedang berbinar-binar bahagia. &lt;br /&gt;“Sebentar lagi kerja kerja kerasmu akan terbayar Nak. Mande bangga sekali padamu,” ucapku sambil memegang erat tangan Bintang. &lt;br /&gt;“Iya Mande. Tak sia-sia usaha keras Bintang selama ini. Ini semua Bintang lakukan demi Mande dan adik-adik. Bintang akan segera mencari kerja setelah ini. Doakan Bintang yah Mande,” ucap Bintang sambil menatapku bahagia.&lt;br /&gt;“Tentu saja Nak. Mande tak akan pernah berhenti mendokanmu,” jawabku sambil tersenyum. Senyum bahagia yang sulit kulukiskan. Tak lama lagi Bintangku akan semakin bersinar dalam hidupnya. &lt;br /&gt;Tiba saatnya acara wisuda dimulai. Kami segera masuk ke dalam atrium yang cukup besar. Tamu-tamu undangan sudah banyak yang hadir. Mereka para orangtua siswa dan teman-teman siswa yang hendak diwisuda. Satu-persatu para wisudawan naik ke atas panggung saat dipanggil. Pas giliran Bintang yang naik, kami sudah bersiap-siap hendak memotretnya. Air mata haru menetes dikedua pelupuk mataku, saat melihat Bintang memakai toga dan dilantik untuk diwisuda. Kulihat mata Abaknya berkaca-kaca. Adik-adiknya Bintang tersenyum gembira melihat Udanya yang terlihat gagah saat diwisuda.&lt;br /&gt;Setelah acara wisuda selesai, kami segera mendekati Bintang. Memeluknya dan memberinya ucapan selamat. Sebagai ungkapan kebahagiaan, kami berfoto bersama. Bintang juga menyediakan dirinya untuk difoto oleh teman-temannya. Mereka saling berangkulan dan memberi ucapan selamat.&lt;br /&gt;“Apa rencanamu setelah ini,” Tanya salah seorang teman Bintang.&lt;br /&gt;“Aku mau cari kerja ke Jakarta Wan, kamu sendiri?” Tanya Bintang.&lt;br /&gt;“Aku mau melanjutkan S2 ke Amrik,” jawab Wawan.&lt;br /&gt;“Aku juga ingin melanjutkan S2 Wan, tapi gak sekarang. Aku harus cari kerja dulu agar punya bekal untuk itu.  Maklumlah aku tidak sekaya kamu Wan.”&lt;br /&gt;“Kamu kan bisa sekolah ke luar negeri dengan mencari beasiswa. Apalagi otakmu encer. Coba-coba aja Bintang. Aku yakin kamu bisa lolos.”&lt;br /&gt;“Kamu bisa aja Wan. Nantilah aku pikirkan hal itu. Yang terpenting sekarang aku hendak mencari pekerjaan dulu.”&lt;br /&gt;“Semoga semuanya lancar yah,” ucap Wawan sebelum pamit pergi. Aku yang mendengarnya merasa terharu. Ternyata Bintang tetap menyimpan cita-cita yang sangat tinggi  Semoga Bintang bisa mewujudkannya suatu hari nanti. Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa mendoakannya. Setelah selesai berfoto-foto dan saling bertukar cerita dengan teman-teman wisudanya, Bintang pun mengajak kami pulang. Sepanjang perjalanan, masih tersisa binar-binar keceriaan itu di wajah Bintang. Selama didalam mobil, dia terus bercerita dengan penuh semangat tentang rencana hidupnya yaitu ingin segera membahagiakan aku dan adik-adiknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-5792826834917621611?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/5792826834917621611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/teardrop-in-heaven-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5792826834917621611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5792826834917621611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/teardrop-in-heaven-3.html' title='Teardrop In Heaven 3'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-CNbBOCW_1zQ/Tn_gNECaVQI/AAAAAAAAAPY/EPyQfxq9rQ8/s72-c/airmata%2Bsurga%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-3352709128892886309</id><published>2011-09-22T06:07:00.000-07:00</published><updated>2011-09-22T06:22:23.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>Teardrop In Heaven Part 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Qnql5087cKQ/Tnsz-qAOrkI/AAAAAAAAAPQ/mZ1a9lKYx_U/s1600/airmata%2Bsurga%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 279px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Qnql5087cKQ/Tnsz-qAOrkI/AAAAAAAAAPQ/mZ1a9lKYx_U/s400/airmata%2Bsurga%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655170908613946946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari sepulang bekerja dari restoran, Mande membawa berita yang mengejutkan bagiku dan Mande. Mengejutkan bagiku karena aku benar-benar tak ingin mendengarnya. Sementara bagi Mande berita inilah yang sudah lama ia tunggu-tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau kan Layla?” Tanya Mande penuh harap padaku. Mencoba mendengar kepastian itu dari mulutku.&lt;br /&gt;“Bukan aku tidak mau Mande, tapi mengapa secepat ini? jawabku sambil menghapus kristal-kristal putih yang menetes di kedua pipiku.&lt;br /&gt;“Soalnya Bagindo Sulaiman tak ingin berlama-lama menunggu. Kamu harus tahu Layla, bagi seorang duda tanpa seorang istri dalam jangka waktu yang lama sungguhlah berat. Bagindo Sulaiman begitu kesepian.”&lt;br /&gt;“Tapi Layla belum siap Mande,”jawabku masih terisak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya keputusan Mande sudah final. Dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Mande memang seorang ibu yang begitu sayang dan perhatian padaku. Tapi Mande juga seorang ibu yang keras dan tegas dalam mendidik anaknya. &lt;br /&gt;Meski aku tahu tujuan Mande baik dengan menjodohkan aku dengan lelaki pilihannya. Tapi bagaimana dengan rasa cintaku pada Ardy? Benarkah cinta bisa tumbuh di kemudian hari? Diam-diam aku menyusun sebuah rencana. Aku harus membatalkan lamaran ini dengan caraku. Ini menyangkut masa depanku sendiri. Aku tak akan menyerah begitu saja. Meski kutahu setelah ini Mande akan kecewa padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya. Kumasukkan baju beberapa helai ke dalam tas. Semua perlengkapanku sudah tersimpan rapi di dalamnya. Kuputuskan siang ini untuk  kabur dari rumah, mumpung Mande belum pulang dari restoran. Kukuatkan hati untuk pergi. Tak ada lagi yang bisa menahanku di rumah ini. Aku berbuat nekat seperti ini agar Mande tahu bahwa aku serius dengan keputusanku. Aku tak bersedia menerima lamaran Bagindo Sulaiman. Setelah kurasa aman sambil celingak-celinguk ke kiri dan kekanan, akupun keluar dan mengunci rumah dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat segera kulangkahkan kaki tanpa melihat ke belakang. Aku harus berpacu dengan waktu sebelum ketahuan oleh orang-orang. Dadaku berdegup sangat kencang. Nafasku tak beraturan. Perasaan was-was, panik dan takut berkecamuk dibenakku. Aku harus segera pergi meninggalkan kampung ini dan Mande. Tiba-tiba langkahku terhenti sejenak, saat berpapasan dengan salah seorang tetangga yang rumahnya tak jauh dari rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendak kemana kau Layla dengan tas sebesar itu?” Tanya Rida heran.&lt;br /&gt;“Oh, aku hendak pergi ke rumah Etek di Padang ,”jawabku gugup&lt;br /&gt;“Tumben Mandemu gak ikut mengantar. Tapi hati-hati yah di jalan,” ucap Rida lagi. Aku pun mencoba bersikap tenang dan menjawab seadanya. &lt;br /&gt;“Makasih ya Rida aku sedang buru-buru nih. Aku duluan yah,” ucapku sedikit panik. Rida semakin heran dengan sikapku. Begitu Rida berlalu dari hadapanku, segera kuambil langkah seribu. Aku tak ingin semua rencana kaburku ini sampai gagal total. Aku harus segera sampai di ujung jalan untuk menyetop angkutan yang akan membawaku ke terminal bukit tinggi. Setengah berlari, kupacu jalanku agar segera sampai.Tiba-tiba seseorang memanggilku lantang dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Layla! Mau kemana kau?”&lt;br /&gt;“Mande….” Desisku lemes. Buyar sudah rencanaku.&lt;br /&gt;“Layla, apa yang kaulakukan? Mengapa kau ingin pergi diam-diam?” Tanya Mande bertubi-tubi setelah jarak kami begitu dekat.&lt;br /&gt;“Maafkan Layla Mande. Layla ingin kabur dari rumah karena… “&lt;br /&gt;“Karena ingin menghindar dari lamaran itu kan? Pulanglah Nak! Kau berhak menentukan hidupmu. Mande tak akan memaksamu lagi. Lebih baik Mande melihatmu tak jadi menikah daripada harus kau tinggalkan Layla,” ucap Mande sambil bersimbah air mata. Aku pun segera memeluk Mande dengan rasa bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Mande berterus terang, Bagindo Sulaiman tak jadi datang melamar. Tapi dia tetap datang ke rumah dengan alasan tak ingin putus tali silaturahmi dengan Mande. Lama-lama hatiku jadi simpatik melihat kebaikan Bagindo Sulaiman. Ternyata selama ini sikap baiknya pada kami benar-benar tulus. Tapi apa balasan yang sudah kuberikan? Meski Mande menuruti keinginanku untuk tak jadi menikah. Tapi wajah Mande tak bisa menipuku bahwa sebenarnya ia kecewa dengan keputusanku. Hanya saja Mande tak ingin melihatku sedih dan menderita dengan pernikahan paksa. Dan aku tak sanggup melihat wajah Mande yang tak lagi secerah kemarin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mande terlihat lebih murung dari biasanya. Bagaimana ini? apa yang harus kulakukan? Mengapa aku begitu egois? Padahal Mande sudah berusaha keras ingin membuatku bahagia. Pasti Mande memiliki keyakinan yang kuat bahwa Bagindo Sulaiman mampu membahagiakanku. Sebab dia sudah mengenalnya luar dalam. Lewat persahabatan mereka yang harmonis selama ini. Sementara aku hanyalah anak bau kencur. Yang belum banyak pengalaman dalam mengenal orang lain. Buktinya Ardy yang kucintai tak pernah lagi muncul batang hidungnya. Kupikir Ardy tak pernah serius berhubungan denganku.&lt;br /&gt;Aku hanyalah seorang wanita yang tak memiliki apa-apa. Tak memiliki karir dan kesibukan berarti selain mengurus rumah dan bermain-main. Apalagi yang harus kutunggu? Untuk ukuran orang kampung sepertiku menikah adalah pilihan terbaik. Apalagi bila Tuhan telah mendekatkan jodohku. Akhirnya disaat berdua dengan Mande, kuberanikan diri untuk mengatakan isi hatiku yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mande. Layla bersedia kok, menikah dengan calon pilihan Mande.”&lt;br /&gt;“Maksudmu dengan Bagindo Sulaiman?” &lt;br /&gt;“Iya Mande dengan duda itu. Tapi Layla punya satu permintaan.”&lt;br /&gt;“Apa itu Layla? Katakan saja,”ucap Mande sambil mengusap rambutku.&lt;br /&gt;“Bila setahun setelah menikah Layla tak juga bisa mencintai Bagindo Sulaiman, Layla bolehkan minta cerai?”&lt;br /&gt;“Pernikahan bukanlah lembaga uji coba Layla. Pernikahan sebuah lembaga yang suci dan sakral. Bukan hal main-main.”&lt;br /&gt;“Layla hanya ingin mengetahui apa benar Bagindo Sulaiman jodoh Layla. Itu saja.”&lt;br /&gt;“Baiklah! Nanti akan Mande sampaikan pada Bagindo Sulaiman. Mudah-mudahan dia mau mengerti,” ucap Mande lembut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dadaku yang tadinya terasa berat menjadi lebih ringan. Seolah-olah beban berat itu terangkat dari tubuhku. Aku tak ingin lagi mengeluarkan air mata. Selain air mata dihari pernikahanku nanti. Airmata yang kelak  akan membawaku ke surga. Demi baktiku pada Mande yang kucinta. Aku pun segera menutup hatiku pada pria lain termasuk Ardy kekasihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Setahun  kemudian&lt;br /&gt; Seorang perawat muda masuk kedalam kamarku sambil membawa seorang bayi mungil. &lt;br /&gt; “Dia tampan sekali Layla. Hidungnya bangir sepertimu. Rambutnya ikal dan hitam seperti rambutmu. Namun keningnya lebar seperti suamimu,” Mande berkata dengan wajah sumringah. &lt;br /&gt; “Mungkin anak Ibu haus. Dari tadi menangis terus,” ucap perawat sambil menyerahkan malaikat kecilku. Kuterima dengan dada yang membuncah senang. Dan segera tangis anakku berhenti begitu kususui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Yah, hari ini tepat tanggal 5 desember aku melahirkan seorang anak lelaki yang tampan. Kulitnya kuning bersih, hidungnya mancung dengan rambut ikal yang indah. Kuberi dia nama Bintang. Kelak dia menjadi bintang yang paling bersinar diantara semua bintang yang kumiliki. Kutatap matanya yang menatap manja kearahku. Begitu indah dan polos. Terpancar kecerdasan dari kedua matanya yang bulat dan hitam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakinya menendang-nendang kuat kearah perutku saat menyusuinya. Dengan lahap, bintang terus menghisap asiku. Seketika kebahagiaan mengalir keseluruh pembuluh nadiku. Membuatku tak dapat menahan tangis haru yang keluar begitu saja saat menatapnya. Airmata syukur dan haru bercampur menjadi satu. Lengkap sudah kebahagiaanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, aku memang tak jadi meminta cerai pada Bagindo Sulaiman. Karena cinta itu perlahan-lahan tumbuh dihatiku. Berkat kelembutan dan kesabarannya dalam menghadapiku. Kuputuskan untuk terus mendampinginya hingga akhir hayat menjemput. Sedangkan kelima anak tiriku tak ikut bersama kami. Tapi tinggal bersama sanak saudara Bagindo Sulaiman dikampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Alangkah cepatnya waktu berlalu. Tanpa terasa, Bintang sudah berumur lima tahun. Kelincahan dan kecerdasannya tumbuh pesat. Selalu bergerak aktif kesana kemari tanpa mengenal lelah. Energinya seakan tak pernah habis. Aku sering kewalahan menghadapinya. Sejak  Bintang mulai bisa berjalan, aku tak boleh meleng sedikitpun. Sebab Bintang senang melompat-lompat dan berlari. Tak sekali dia jatuh dan lututnya berdarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bahagia melihat kegesitannya tak urung aku sering cemas menghadapi tingkah lakunya yang tak bisa duduk tenang. Ada saja yang ia kerjakan. Kecerdasannya juga sering membuatku takjub. Bintang dengan cepat menangkap apa saja yang diucapkan oleh orang dewasa. Bagaikan burung beo yang selalu meniru apa pun yang ia dengar. Meski beo tak pernah paham dengan ucapan yang ia tiru. Persis seperti Bintang. Hanya saja keingintahuan Bintang sangat tinggi. Dia selalu bertanya tentang sesuatu. Baik yang ia lihat maupun yang ia dengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi  dalam keadaan hamil anak kedua seperti sekarang, aku tak bisa lagi mengejar-ngejarnya seperti dulu. Sudah pasti aku kalah cepat dengannya. Terpaksalah aku minta bantuan Mande untuk menjaga Bintang. Mande sangat senang sekali. Dia merasa punya peluang untuk lebih memanjakan Bintang. Bahkan saat makan pun Mande selalu melayani Bintang bak raja. Bayangkan saja, Bintang selalu makan di meja makan lengkap dengan lauk-pauk diatasnya. Akhirnya Bintang jadi terbiasa kalau makan selalu dilayani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak mau makan bila belum terhidang lauk yang enak-enak diatas meja terlebih dahulu.  Untung Abaknya punya restoran padang yang cukup besar. Jadi kami tidak kewalahan menuruti keinginan Bintang. Yang ingin selalu tersedia rendang saat dia makan. Dan Abaknya bintang mendukung sikap Mande itu. Akh, aku hanya menuruti saja apa yang Mande dan Abaknya lakukan, yang penting Bintang tumbuh sehat dan cerdas. Dengan terpenuhinya gizi Bintang dengan baik dan sempurna. Tubuh Bintang pun semakin montok dan tinggi. Badannya tumbuh lebih besar dari anak seusianya.(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-3352709128892886309?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/3352709128892886309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/teardrop-in-heaven-part-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3352709128892886309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3352709128892886309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/teardrop-in-heaven-part-2.html' title='Teardrop In Heaven Part 2'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Qnql5087cKQ/Tnsz-qAOrkI/AAAAAAAAAPQ/mZ1a9lKYx_U/s72-c/airmata%2Bsurga%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-2440711260076959498</id><published>2011-09-21T19:22:00.000-07:00</published><updated>2011-09-22T00:42:48.935-07:00</updated><title type='text'>lomba 1001 pertanyaan anak</title><content type='html'>Bunda pasti sering mendapatkan pertanyaan dari buah hati baik itu tentang sex, tentang alam, tentang tuhan dan tentang apa saja. tulis pertanyaan buah hati yang disertai jawaban dari bunda tentunya. posting di blog ini minimal 150 kata boleh lebih. bila gak punya blog, tulis cerita di notes beserta info lomba di fb masing-masing dengan mentag teman-teman sebanyak2nya beserta fb iirharun. oh ya boleh kirim lebih dari satu cerita yah... akan dipilih 6 orang pemenang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3 pemenang utama akan mendapatkan reward uang tunai masing2 @100 ribu&lt;br /&gt; 3 orang pemenang hiburan masing2 akan mendapatkan paket cantik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditunggu sampe akhir nop 2011 yah. pengumuman awal tahun baru 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya allah semua pertanyaan anak  akan ditawarkan ke penerbit mayor. namun tidak ada pembagian royalti bagi cerita yg terpilih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-2440711260076959498?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/2440711260076959498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/lomba-1001-pertanyaan-anak.html#comment-form' title='33 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2440711260076959498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2440711260076959498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/lomba-1001-pertanyaan-anak.html' title='lomba 1001 pertanyaan anak'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><thr:total>33</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-7405488056089942444</id><published>2011-09-21T07:37:00.000-07:00</published><updated>2011-09-21T08:02:18.590-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>Teardrop In Heaven Part 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-84g5c9aA820/Tnn8U30FhQI/AAAAAAAAAPI/QzVaH9iW7J8/s1600/airmata%2Bsurga%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 279px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-84g5c9aA820/Tnn8U30FhQI/AAAAAAAAAPI/QzVaH9iW7J8/s400/airmata%2Bsurga%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654828242650367234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa berbuat banyak saat ini. Duda beranak lima itu begitu pintar mengambil hati Mande. Tapi tidak untuk hatiku. Meski kemewahan sekalipun yang ia tawarkan padaku. Bagiku, cinta tak bisa dibeli dengan apapun, apalagi uang dan benda-benda berharga. Tapi aku harus menemuinya demi Mande. Yah, demi Mande yang kusayangi. &lt;br /&gt;Hanya Mande di dunia ini yang aku punya. Sejak Abak meninggalkan diriku sewaktu kecil. Abak sakit-sakitan selama 6 bulan sebelum akhirnya meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Aku menjadi yatim sejak usia dini. Sebuah kenyataan pahit bagi seorang anak wanita sepertiku. Yang sangat memerlukan campur tangan seorang ayah dalam membimbing dan mengasihiku. Kini Mandelah tumpuan hidupku. Tempatku bersandar sedari kecil hingga dewasa. Otomatis bila aku sudah menikah, beban Mande akan berkurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, Mande harus bekerja keras disebuah restoran padang sebagai juru masak demi menghidupiku, anak perempuan satu-satunya. Sebab hanya memasaklah yang Mande kuasai. Terutama daging rendang. Dan Mande telah bertahun-tahun bekerja di restoran duda beranak lima sekaligus bosnya itu.  Sampai akhirnya perjodohan ini terlaksana. Perjodohan yang lahir dari kekaguman seorang karyawan pada bosnya sendiri. &lt;br /&gt;Mengapa tidak Mande saja yang menikah dengan bosnya itu? Karena usia mereka tak terpaut jauh pikirku. Tapi cinta memilih kepada siapa dia hendak berlabuh. Dan cinta  bosnya Mande memilih untuk mencintai wanita yang usianya terpaut 25 tahun dengannya yaitu aku. Akh, aku berada dalam dilema. Dilema antara Mande dan duda beranak lima itu, yang sekarang tengah menungguku di ruang tamu. Dengan setengah hati, aku keluar menemui tamu yang istimewa bagi Mande itu. Kuseret kakiku yang terasa berat untuk melangkah. Harus kulakukan ini semua demi Mande.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini anak padusi ambo satu-satunya Bagindo. Namanya Layla,” Mande berkata dengan senyum teramahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambo udah tahu Aini. Sejak pertama bertemu, ambo udah jatuh hati pada anak padusimu ini,”jawab Bagindo Sulaiman sambil menatap wajahku yang tertunduk malu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku campur aduk. Antara marah, benci, juga malu. Tidak sadarkah mereka? kalau sekarang bukan lagi jaman Siti Nurbaya. Yang masih memaksakan perjodohan dengan seenaknya. Ingin rasanya segera pergi dari pertemuan yang tak kuinginkan ini. Tapi apa daya, aku tak punya keberanian untuk memaki dan mengusir duda beranak lima dihadapanku. Untuk segera angkat kaki dari rumahku. Kalau bisa, tak usah kembali lagi untuk selama-lamanya. Tapi aku tak kuasa melakukan itu demi melihat wajah Mande yang bersinar-sinar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu Mande sudah berusaha untuk mencarikan jodoh yang terbaik  buatku. Tak mungkin Mande tega menjerumuskan anaknya sendiri. Tapi mengapa harus dengan duda beranak lima? Meskipun menurut Mande dia lelaki yang tepat untuk menjadi suamiku. Selain taat beribadah, dia juga pekerja keras dan bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekaguman Mandelah yang membuat Mande nekat menjodohkan anaknya sendiri dengan lelaki yang sudah pernah beristri dan memiliki lima orang anak itu. Tidakkkah Mande berpikir apakah aku siap menjadi ibu dari kelima orang anak tiriku? Padahal usiaku belum genap dua puluh tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambo tidak bisa lama-lama Aini. Masih banyak urusan yang harus ambo selesaikan. Ini ada sedikit oleh-oleh buat Layla. Semoga adinda berkenan,” ucap Bagindo Sulaiman sambil menyodorkan sebuah bungkusan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ini sebuah sogokan Bagindo?” Ambo indak tertarik,” jawabku ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Layla! Indak boleh ngomong baitu. Bagindo hanya ingin menunjukkan perhatiannya padamu,”Mande mendelik marah kearahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu jangan terlalu keras padanya Aini. Lama-lama Layla akan menerima ambo, meskipun tidak sekarang. Semuanya butuh waktu dan proses. Ambo indak mau Layla merasa terpaksa.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa menahan sabar menghadapi situasi yang serba salah ini. Harusnya aku tak boleh ngomong kasar pada lelaki ini. Bagaimanapun dia tamu dirumahku. Apalagi sikapnya sangat baik padaku dan Mande. Meskipun dia punya maksud tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, Ambo pamit dulu Aini. Assalamualakikum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waalaikum salam. Terima kasih atas kedatangannya Bagindo,” jawab Mande melepaskan kepergian Bagindo Sulaiman di depan pintu. Aku sendiri langsung masuk ke kamar. Rasanya lega sekali melihat duda itu sudah pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Layla!” Panggil Mande dari luar kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Mande,”aku segera keluar menemui Mande.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manga oleh-oleh dari Bagindo dibiarkan sajo di ruang tamu? Tanya Mande dengan wajah kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambil saja buat Mande. Layla tidak tertarik sedikitpun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa-ang benar-benar indak menghargai pemberian orang lain. Ayo ambil! dan buka &lt;br /&gt;bungkusnya. Mande ingin tahu apa isinya,” perintah Mande tegas.&lt;br /&gt;Dengan hati terpaksa, segera kubuka bungkusan dari duda itu di depan Mande.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus sekali baju ini Layla. Selera Bagindo Sulaiman benar-benar tinggi. Motifnya lagi trend dan  warnanya merah cerah. Serasi dengan warna kulitmu yang kuning langsat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat Mande sajalah. Layla gak suka dengan warnanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan begitu Layla. Nanti kalau Bagindo Sulaiman datang lagi, kamu bisa pakai baju ini. Agar dia bisa melihat betapa cantiknya anak padusi Mande.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mande…Mande… Itu sama saja Layla menarik perhatian  Bagindo agar semakin suka dengan Layla,” jawabku sambil memasang wajah cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa kalau Bagindo Sulaiman semakin tertarik padamu Layla? Bukankah itu yang kita harapkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Layla tak mengharapkan itu Mande, karena hati Layla sudah terpaut dengan pria lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tukang ngantar surat itu maksudmu? Apa yang kamu harapkan dari lelaki tukang pos macam dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi dia mau menerima Layla apa adanya Mande.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagindo Sulaiman juga bisa menerima dirimu apa adanya,” ucap Mande tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya Layla gak cinta dengan bos Mande itu,” jawabku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta bisa datang belakangan Layla. Mande juga dulu menikah tanpa cinta. Tapi akhirnya bisa menyayangi Abakmu hingga kau dan Udamu lahir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Layla  capek berdebat terus dengan Mande,” jawabku segera masuk ke dalam kamar. Mengunci diri dan kembali merenungi nasib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Tuhan tak bersikap adil padaku? Coba Abak masih hidup, pasti perjodohan ini tak akan terjadi. Aku bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa harus dikejar–kejar usia untuk segera menikah. Mande memang kolot. Baginya anak padusi tidak perlu bersekolah tinggi. Yang penting bisa membahagiakan suami. Padahal aku ingin sekali bersekolah. Apalagi aku senang membaca. Meski sebelah mataku tak lagi berfungsi. Sejak operasi mata yang kujalani tak berhasil. Sementara mata yang sebelahnya agak kabur bila melihat sesuatu. Aku harus memakai kacamata agar bisa melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga suka menjahit bordir. Sudah banyak jahitan bordir yang kuhasilkan. Buku-buku tentang pola bordir koleksiku lumayan banyak. Tapi sayang, sejak mataku rusak akibat operasi yang gagal, mataku tak kuat lagi untuk menjahit. Paling hanya membaca buku dengan bantuan kacamata. Itupun tak bisa lama-lama membaca. Bisa berakibat pedih dan gatal pada sebelah mataku yang masih berfungsi.&lt;br /&gt;Hari ini Bagindo Sulaiman kembali datang. Seperti biasanya dia selalu membawa oleh-oleh  buatku. Kali ini perhiasan emas yang ia berikan. Meski dalam hati aku takjub dan senang mendapati barang sebagus itu. Tapi entah mengapa hatiku tak jua luluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Layla? Apa kamu belum bisa membuka hatimu untuk Bagindo Sulaiman? Tanya Mande ketika duda itu sudah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana yah Mande, Layla gak mudah jatuh cinta pada seorang pria. Kita lihat nanti sajalah Mande,”jawabku segera berlalu. Mencoba menghindari pertanyaan Mande selanjutnya. Meski kulihat segurat kekecewaan di wajah Mande.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimanapun jodoh ditangan Tuhan. Mande pasrah pada ketentuan-Nya. Siapapun yang menjadi suamimu nanti, walau orang itu bukan Bagindo Sulaiman akan Mande terima. Asalkan dia bisa membahagiakanmu Layla.” Ucap Mande pasrah saat beradu mulut soal calon suami padaku beberapa hari yang lalu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, timbul rasa penyesalan yang dalam. Maafkan aku Mande, yang belum bisa menerima perjodohanmu ini. &lt;br /&gt;Sebenarnya tak ada yang salah dengan perjodohan ini. Bagindo Sulaiman tidaklah sama dengan datuk maringgih yang memiliki banyak istri karena doyan kawin. Bagindo Sulaiman memilih untuk menikah lagi karena istri-istrinya sudah meninggal dan ada yang sudah diceraikan karena adanya ketidakcocokan. Wajar kalau dia membutuhkan pendamping hidup setelah cukup lama menduda. Tapi mengapa pilihannya jatuh padaku? Tidak pada wanita lain yang usianya tak berbeda jauh dengan Mande.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi siapa yang bisa menyalahkan hadirnya cinta pada diri seorang pria? Mungkinkah ini jodoh?  Tidak! Aku akan tetap pada pendirianku untuk menikah dengan lelaki yang usianya tak terpaut jauh dariku. Dan aku telah menemukan lelaki yang tepat yaitu Ardy si tukang pos. Aku harus berterus terang pada Bagindo Sulaiman ketika dia datang nanti. Dengan halus akan  kukatakan padanya bahwa aku sama sekali tak tertarik untuk menjadi istri dan ibu dari kelima anaknya. Sebab aku tak bisa membayangkan harus mengasuh lima anak tiri dari suamiku padahal aku sama sekali belum pernah mengasuh anak. Perlu kesiapan mental yang cukup untuk menjalani semua itu. Meski Mande terus menyakinkanku bahwa aku bisa melewatinya setelah menikah nanti. (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-7405488056089942444?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/7405488056089942444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/teardrop-in-heaven-part-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7405488056089942444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7405488056089942444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/teardrop-in-heaven-part-1.html' title='Teardrop In Heaven Part 1'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-84g5c9aA820/Tnn8U30FhQI/AAAAAAAAAPI/QzVaH9iW7J8/s72-c/airmata%2Bsurga%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-1697188635838092112</id><published>2011-09-18T00:29:00.000-07:00</published><updated>2011-09-18T00:38:31.811-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='#bookyourblog'/><title type='text'>book your blog</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-vmra_p2X5ME/TnWfuIr7bGI/AAAAAAAAAO4/EJ4NrlqGV-Y/s1600/lomba%2Bblog.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 235px; height: 237px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-vmra_p2X5ME/TnWfuIr7bGI/AAAAAAAAAO4/EJ4NrlqGV-Y/s400/lomba%2Bblog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653600522188057698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak disangkal lagi bahwa blog bisa berfungsi sebagai media ekspresi diri tentang curahan hati, pengalaman pribadi dan tempat menuangkan kalimat-kalimat inspiratif bagi banyak orang lewat dunia maya. Di dunia nyata blog sendiri diibaratkan sebuah buku diary yang bisa menampung semua keluh kesah, isi hati dan pengalaman si penulis. Nah, sebagai penerbit indie, leutika prio self publisihing tertarik untuk membukukan blog-blog yang terpilih dalam lomba yang mereka adakan dengan tema “Book Your Blog” Adapun ketentuannya sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Tulis tentang event ini beserta logo event di blogmu dengan bahasamu sendiri, diberi tag #bookyourblog &lt;br /&gt;2.       Kirimkan alamat blog kamu ke eventleutika@hotmail.com &lt;br /&gt;3.       Tulis sinopsis blog kamu dalam 250 kata Ms Word. Sertakan nama, nama pena, TTL, alamat, no handphone, alamat e-mail, akun FB, akun twitter. Kemudian attach file ke dalam e-mail. &lt;br /&gt;4.        Tulis “Book Your Blog” di judul e-mail. &lt;br /&gt;Pengen tahu Blog seperti apa yang bisa menang? Menurut pihak Leutika Prio Blog kamu harus &lt;br /&gt;1.       Inspiratif, berisi cerita-cerita yang dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. &lt;br /&gt;2.       Tidak mengandung SARA dan pornografi. &lt;br /&gt;3.       Berkarakter, konsisten berisi materi-materi yang terkonsep dan orisinil. &lt;br /&gt;Apa Hadiahnya? &lt;br /&gt;Dipilih 3 blog terbaik untuk mendapatkan: &lt;br /&gt;1.       Tulisan-tulisan di blog kamu akan diterbitkan GRATIS dalam bentuk buku oleh Leutika Prio &lt;br /&gt;2.       Royalti 15% dari harga produksi &lt;br /&gt;3.       Paket buku dari Leutika Publisher &lt;br /&gt;Bagi yang belum terpilih tetap mendapatkan diskon paket penerbitan sebesar 20%. &lt;br /&gt;Deadline : 30 September 2011 &lt;br /&gt;Web: www.leutikaprio.com &lt;br /&gt;Twitter: @leutikaprio &lt;br /&gt;Fanpage Fb: www.facebook.com/leutikaprio&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-1697188635838092112?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/1697188635838092112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/book-your-blog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/1697188635838092112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/1697188635838092112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/book-your-blog.html' title='book your blog'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vmra_p2X5ME/TnWfuIr7bGI/AAAAAAAAAO4/EJ4NrlqGV-Y/s72-c/lomba%2Bblog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6206076422202192508</id><published>2011-09-16T20:19:00.000-07:00</published><updated>2011-09-16T20:22:30.832-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my cerpen'/><title type='text'>Kotaku Hilang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/--MVHsoM8wY0/TnQSUyRUy5I/AAAAAAAAAOo/pIZNlhGnw54/s1600/85kota-hilang.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 288px;" src="http://2.bp.blogspot.com/--MVHsoM8wY0/TnQSUyRUy5I/AAAAAAAAAOo/pIZNlhGnw54/s400/85kota-hilang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653163580557937554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku kembali mengantri untuk berobat. Batuk yang disertai sesak nafas kembali menggerogotiku. Dalam bulan ini sudah 4 kali penyakit alergiku kumat. Sejak aku memutuskan untuk pergi dan pulang bekerja mengendarai sepeda motor. Debu dan polusi yang selalu mengepungku selama dalam perjalanan, tak dapat kuhindarkan setiap harinya. Karena debu yang  selalu kuhirup, batuk pun datang menyerang tanpa ampun. Karena batuk tak mau berhenti, sesak nafaspun mengikuti. Benar-benar tersiksa rasanya. Mengalami batuk yang disertai sulit bernafas sekaligus. Mau tak mau aku pun menyerah untuk segera mendatangi rumah sakit. Meskipun aku tak suka dengan yang namanya rumah sakit. Sebab dipenuhi oleh aroma obat dan orang-orang  dengan berbagai macam penyakit yang mereka bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya Anda menutupi hidung dengan sapu tangan selama mengendarai sepeda motor. Agar debu dan polusi tak langsung terhirup,”ucap dokter paruh baya sambil menuliskan sebuah resep untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Dok,” jawabku sambil terbatuk-batuk. Menderita sekali rasanya bila batuk terus bersahutan-sahutan. Tenggorokan sakit dan gatal. Belum lagi perut sakit karena ikut tertarik ketika batuk. Benar-benar menyebalkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku pulang setelah selesai menebus obat. Kuputuskan untuk naik taxi saja. Sepeda motorku sengaja kutinggal di kontrakan. Dalam keadaan sakit begini, mengendarai sepeda motor bukanlah pilihan yang tepat. Selain badan lemas, bisa-bisa penyakit alergiku bertambah parah. Aku sudah tak sabar bisa sampai dirumah. Untuk segera minum obat dan beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali pergi bekerja seperti biasanya. Badanku kini sudah lebih baikkan. Kutempuh perjalanan ke kantor dengan sepeda motor seperti biasanya. Namun aku merasa ada yang tak biasa! Biasanya aku selalu dikepung kemacetan. Tapi kali ini tidak. Benar-benar ajaib! Ternyata setelah kusadari, tak banyak kendaraan yang lewat di jalan yang kulalui. Dan yang lebih mengejutkan, satupun tak ada kendaraan roda empat di jalan ini. Semuanya diisi oleh kendaraan roda dua seperti yang kunaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun melirik ke kanan dan kekiri. Benar! Hanya kendaraan roda dua yang lewat di jalan ini. Pantes saja  perjalanan ke kantor  berjalan mulus. Dalam hati, aku menjerit kegirangan. Itu artinya aku tak bete lagi selama di jalan karena terkena macet selama berjam-jam. Dan tentu saja tak akan terlambat  lagi sampai di kantor. Ternyata  kendaraan roda empat dan roda dua tak disatukan dalam satu jalan, tapi sendiri-sendiri. Jadi roda dua hanya boleh lewat di jalan yang khusus untuk roda dua. Begitu juga dengan kendaraan roda empat. Hanya boleh lewat di jalan yang khusus untuk roda empat. Bahkan ada jalan khusus untuk para pejalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar merasa surprise menghadapi perubahan kota yang menguntungkan  bagi pengguna jalan ini. Tak hanya sampai disitu perubahan yang kurasakan. Aku dapati tak secuil pun sampah tercecer di pinggir jalan. Tampaknya orang-orang tak lagi berani buang sampah sembarangan. Memang di sepanjang jalan tertulis besar-besar “Bagi siapa saja yang berani membuang sampah sembarangan, akan dikenai denda.“  Bagus juga ada sanksi seperti ini, pikirku. Jadi kota terlihat benar-benar bersih dari sampah setiap harinya. Bahkan debu dan asap knalpot tak lagi tercium oleh hidungku. Udara segar benar-benar bisa kurasakan melewati paru-paruku. Kota  benar-benar murni dari polusi. Bagaikan  negara Switzerland yang terkenal akan kebersihan kotanya. Aku begitu bahagia membayangkan akan mengalami hal ini setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak perlu lagi memakai penutup hidung seperti saran dokter. Penyakit alergi tak akan lagi mengganggu hari-hariku. Aku susuri jalanan sambil menatap gedung-gedung yang tertata indah di sepanjang jalan. Mal-mal tak lagi berdiri seenaknya di tengah kota. Kini Mal-mal itu dibangun di daerah yang sudah disediakan khusus yaitu agak ke pinggiran kota. Tata kota yang benar-benar apik dimataku. Tumbuhan hijau tumbuh di mana-mana. Semakin menambah kesegaran udara dan pandangan mata kala melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tak menemui pengemis dan pengamen jalanan yang berkeliaran. Biasanya di setiap lampu merah,  selalu ada pengamen dan pengemis yang meminta-meminta uang pada pengendara jalan. Betapa nyamannya mengendarai sepeda motor saat pergi ke kantor. Sebab kini  kota benar-benar bersih dari gangguan apa pun. Apalagi para pengendara terlihat lebih tertib dari biasanya. Tak lagi ada yang suka menyalip dan menerjang lampu merah seenaknya. Hmmmm…aku menarik nafas lega dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba–tiba kuputar haluan motorku.  Pagi ini, aku tak ingin langsung pergi ke kantor. Aku hendak mengitari kota dulu sepuasnya. Kota baruku yang kini kucintai. Aku ingin melihat seluruh perubahan baru yang ada di setiap sisi kota. Aku ingin menikmati keindahann dan kenyamanannya setiap hari. Sebelum memutuskan untuk berkeliling kota, kuputuskan untuk singgah sebentar ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli makanan dan minuman ringan. Sebagai pengisi perut sebelum melakukan survei kelilingku. Begitu sampai di dalam Mall, aku segera memilih makanan dan minuman yang kubutuhkan. Tapi begitu sampai dikasir aku kalut. Tiba-tiba saja dompetku sudah tak ada di saku celana belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat aku tengah sibuk mencari, tiba-tiba seorang pria menepuk pundakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini dompet yang Anda cari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, iya betul. Terima kasih ya. Untung Saudara yang sudah menemukan dompet saya. Kalau orang lain mungkin….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin sudah hilang? Begitu kan maksud Anda? Apa Anda belum tahu bahwa para pencuri dan perampok di kota ini sudah tak ada lagi yang berani beraksi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya? Bagaimana mungkin? Setahu saya, pencuri dan perampok itu pasti ada di negara manapun. Bahkan di negara kaya sekalipun. Hanya saja jumlahnya tak sebanyak di negara berkembang. Yang notabene masih banyak terdapat pengangguran,” jelasku antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi negara kita sudah beda. Tak lagi seperti dulu. Pengamanan sudah semakin canggih. Kamu lihat, disetiap sudut ruangan terdapat alat yang bisa merekam setiap aksi kejahatan. Begitu ada yang mencoba mencuri atau berbuat yang tidak baik, mesin canggih itu akan langsung berbunyi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahhh, benar-benar canggih,” aku menjawab takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya. Jadi mulai sekarang, Anda tak perlu lagi takut. Kota ini benar-benar aman dari tindakan kriminal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, Kalau boleh tahu saudara siapa yah? Kok bisa paham sampe sedetil itu tentang keamanan kota ini,” tanyaku heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenalkan! Saya salah satu petugas keamanan kota yang baru. Tugas saya setiap hari  memantau keadaan kota ini. Untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.,” lelaki berbadan tinggi dan tegap itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah. Aku pun terperangah setengah tak percaya. Benar-benar sebuah perubahan yang besar telah terjadi di kotaku. Aku pun membalas salam perkenalannya sebelum akhirnya pamit untuk pergi. Kudapati para wanita memakai perhiasan  berupa kalung emas dan gelang dengan berani. Tak lagi takut dijambret seperti dulu karena keamanan sudah terjamin. Bahkan ada yang nekat memakai semua perhiasan di tubuhnya bak toko emas berjalan. Ck…ck..ck…benar-benar bebas mereka sekarang. Aku geleng-geleng kepala karena takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah kususuri kota dengan penuh semangat. Aku akan menyaksikan setiap jengkal dari perubahan kotaku. Disaat melewati got-got, aku terperangah karena air mengalir dengan derasnya. Tak lagi mampet karena terhalang oleh sampah apapun. Bahkan air got yang dulu berwarna hitam pekat, kini berubah warna menjadi bening seperti air pam. Disepanjang jalan yang kulewati, terlihat para cleaning servis sedang asyik menggunakan sebuah mesin yang bisa membersihkan sampah dan menghisap debu dalam sekejap. Tak lagi manual seperti dulu. Benar-benar menghemat tenaga dan waktu! Aku terkagum-kagum melihat mesin canggih di tangan cleaning servis di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti dan mendekati petugas kebersihan yang tengah bekerja tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak, sejak kapan membersihkan kota menggunakan mesin seperti ini?” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya Adik bukan orang sini ya? Kok baru tahu?” jawab lelaki tua itu sambil menyelesaikan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya memang bukan orang sini kok Pak. Saya pendatang dari gunung kidul Yogya,” jawabku sedikit gugup. Aku bingung menjawab pertanyaan bapak tua ini, bagaimana harus menjawabnya.  Padahal aku sudah menetap dikota ini. Meski aslinya hanyalah seorang pendatang. Aku sendiri heran mengapa baru tahu sekarang? Padahal sudah 5 tahun lebih aku mengontrak rumah di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar-benar sudah banyak yang berubah yah Pak. Saluran air yang dulu sering mampet aja sekarang jalannya begitu lancar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya Dik, kalau hujan, kota ini tak pernah lagi dilanda banjir seperti dulu. Soalnya sudah ada petugas kota yang kerjanya mensurvei dan mengawasi kebersihan kota setiap harinya.  Lagi-lagi aku  bingung mendengar penjelasan bapak tua ini. Sebenarnya aku berada di kota mana sih? Kok semuanya terasa baru bagiku. Meski sangat senang dengan perubahan besaran-besaran dari kota ini, tak urung pikiranku dihujani oleh seribu pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kebingungan, kuputuskan untuk segera pamit dan berlalu dari hadapan bapak tua tukang bersih kota itu. Segera kulanjutkan perjalananku. Lebih baik aku pulang ke kontrakan. Untuk memastikan apakah benar kontrakanku masih ada di kota ini. Jangan –jangan aku sudah terlempar ke suatu tempat oleh mesin waktu seperti dalam film yang pernah kutonton. Lagi-lagi aku bingung harus lewat jalan yang mana. Sebab tiba-tiba saja jalan yang biasa kulalui sudah banyak berubah. Tapi aku tetap mengendarai sepeda motorku. Meski sulit menemukan rumah kontrakanku yang dulu, tetap kunikmati pencarianku sambil melihat-lihat keindahan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjam-jam muter-muter kota, tiba-tiba aku sampai di sebuah pemukiman penduduk. Di pintu gerbang pemukiman terdapat pos satpam yang dilengkapi dengan alat deteksi keamanan yang canggih. Pemukiman terlihat begitu asri, karena disetiap halaman rumah, terdapat aneka tanaman hias dan pepohonan yang buahnya bergelantungan di pinggir pagar. Tak satupun rumah yang tak ditanami oleh tumbuhan hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduknya juga ramah tamah. Saat aku melihat-lihat, mereka melempar senyum padaku. Bahkan menawarkan diriku agar mau singgah di rumah mereka meski hanya sebentar. Aku pun tak kuasa menolak. Dan segera bergabung dengan  sesama warga kompleks yang terlihat sangat akrab satu sama lain. Tak kutemukan kesan cuek orang kota seperti umumnya. Yaitu “siapa lu siapa gue”…Aku tak  merasa terasing berada ditengah-tengah mereka. Meski mereka orang yang baru kukenal. Sampai akhirnya aku pulang dengan rasa berat, mengingat hari sudah beranjak sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kupacu sepeda motorku. Berharap bisa menemukan rumah kontrakanku yang dulu. Rasa lelah dan mengantuk menyerangku. Maklumlah! Hampir seharian kukitari kota tanpa rasa bosan. Tiba-tiba ada sebuah kendaraan melintas di depanku. Karena tak lagi konsentrasi mengendarai, motorku pun jatuh menabrak sebatang pohon. Duk! Saat aku mencoba menghindari sebuah sepeda didepanku. Namuan secara bersamaan, aku terbangun dari tidurku. Kupegangi kepalaku yang terasa sakit sekali, sebab terbentur ujung tempat tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh, ternyata hanya sebuah mimpi.. Aku ingat sekarang. Begitu pulang dari rumah sakit, aku segera tidur tanpa mengganti baju lebih dahulu.. Hilang sudah kota idamanku. Kota yang selalu kuidam-idamkan hingga terbawa mimpi…Benar-benar sial!. Umpatku kesal. Aku pun kembali berkhayal. Tentang sebuah kota idaman yang suatu saat menjadi nyata. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; dimuat di annida-online&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6206076422202192508?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6206076422202192508/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/kotaku-hilang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6206076422202192508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6206076422202192508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/kotaku-hilang.html' title='Kotaku Hilang'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/--MVHsoM8wY0/TnQSUyRUy5I/AAAAAAAAAOo/pIZNlhGnw54/s72-c/85kota-hilang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-14995476014698504</id><published>2011-09-16T19:09:00.000-07:00</published><updated>2011-09-16T19:22:54.713-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cermin berhikmah'/><title type='text'>Plesss! Beri Aku Status!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-h8a1GXh10_o/TnQERKFf6sI/AAAAAAAAAOY/G5yukLfk_zY/s1600/images%2Bstatus.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 142px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-h8a1GXh10_o/TnQERKFf6sI/AAAAAAAAAOY/G5yukLfk_zY/s400/images%2Bstatus.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653148125068520130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku adalah wanita yang menikmati sebuah hubungan tanpa terikat oleh status. Bagiku status itu tidaklah penting. Entah karena aku pecinta kebebasan atau karena terlanjur menikmati hidup tanpa status itu sendiri. Sudah tak terbilang berapa banyak pria yang singgah dalam hidupku. Bukan sekedar singgah, tapi meninggalkan cinta untukku. Meski hanya cinta yang singkat dan sesaat. Sesingkat hubungan yang kujalani bersama banyak lelaki.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku juga tak tahu apa sesungguhnya statusku. Meski Di Ktpku tertulis status : wanita lajang/ alias belum menikah. Tapi kenyataannya? aku sudah berkali-kali hidup bersama lelaki dalam satu rumah. Yah, aku adalah  wanita penganut hubungan bebas tanpa menikah. Aku tak butuh sebuah pengakuan dari siapapun. Satu yang pasti, aku begitu menikmati hidup yang kujalani. Selama tak mengganggu dan menyakiti siapapun  Why not? Karena prinsipku tak pernah mau berhubungan dengan pria beristri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku sendiri dibesarkan oleh seorang wanita yang  hidup dari satu pelukan lelaki ke lelaki yang lain. Hingga aku tak pernah tahu siapa ayah kandungku yang sebenarnya. Sebagai anak, sungguh tragis hidupku karena tak pernah ada seorang lelaki dewasa yang mau mengaku sebagai ayah kandungku. Tak heran bila sekarang hidup yang kujalani persis seperti yang ibuku alami-hidup bersama lelaki tanpa diikat oleh status sebagai istri si A atau si B misalnya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Mungkin  pepatah klasik yang sering kudengar ini tepat untuk hidup yang tengah kulakoni.&lt;br /&gt;Tapi takdir berkata lain. Aku terseret dalam sebuah keadaan yang membuatku sangat ingin memiliki status. Sebuah keinginan yang dulunya tak pernah kuanggap penting. Tapi sekarang status itu sangat penting bagiku. Semuanya bermula dari cinta yang tumbuh mekar dihatiku. Pada pria tampan nan sederhana yang hanya bermodal perhatian dan cinta. Meskipun bukan pria tajir tapi mampu memikat hatiku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak seperti pria yang selama ini menjalin hubungan denganku--yang rata-rata  hanya bermodalkan kantong tebal dan memanjakanku dengan berbagai fasilitas berupa materi. Dulu uang adalah segalanya bagiku, meskipun hidup tanpa status. Tapi kini uang bukanlah yang utama bagiku. Cintalah kini prioritas dalam hidupku. Yah, tiba-tiba aku ingin menjalin hubungan dengan rasa cinta yang tulus di didalamnya. Bukan lagi hubungan yang miskin akan cinta seperti yang sudah-sudah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku masih duduk dipojok café sambil mengaduk-aduk cappuccino hangat yang kupesan beberapa menit yang lalu. Menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku sore ini. Seseorang yang akan mengubah status hidupku selamanya. Tapi hingga cappuccino yang kuminum ini dingin, batang hidung lelaki pujaanku tak jua muncul. Akh, bukankah dia telah berjanji akan menyelesaikan semuanya disini? Ditempat yang pernah merekam awal pertemuan kami setahun yang lalu. Sebuah café yang sering kami singgahi di sore hari setelah lelah menghabiskan waktu  bersama berdua.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pikiranku pun melayang ke masa setahun yang lalu. Waktu itu aku tengah memesan cappuccino, sepulang berbelanja di Mall. Tiba-tiba seorang pria berkulit putih bersih dan berbadan atletis menyapa diriku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Suka Cappucino juga yah Dik?” Tanya pria tersebut sambil memamerkan senyum mautnya. Aku pun mengiyakan pertanyaannya sambil tersipu malu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Berarti selera kita sama dong,” ucapnya lagi sambil terus menatap mataku. Tatapannya yang begitu dalam, seketika menghujam jantungku. Tak ayal, dadaku pun tak berhenti berdegup. Bahkan semakin kencang degupnya ketika pria itu meminta ijin duduk di depanku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah perkenalan itu, bisa ditebak hubungan kami pun berlanjut hingga menghasilkan sebuah janin dirahimku. Terus terang begitu tahu diriku mengandung hatiku dilanda resah dan gelisah yang amat sangat. Apalagi disaat kutahu bahwa dia  pria yang sudah beristri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku masih duduk di café dengan gelisah. Rasa khawatir semakin membuncah didadaku, karena dia tak jua datang. Padahal sudah lebih dari dua jam aku menunggunya penuh harap. Bagaimana kalau dia ingkar janji? Untuk segera menikahiku agar anak yang kukandung sekarang tak bernasib sama denganku, yaitu tak memiliki status yang jelas hingga dewasa nanti. Tiba-tiba handponeku bergetar. Ternyata ada sebuah SMS masuk. Segera kubaca dengan tak sabar.&lt;br /&gt;Dik, maaf  abang gak bisa datang menemuimu. Abang lupa kalo hari ini harus mengatarkan istri Abang ke dokter kandungan. Lain kali saja yah kita ketemuan. Deg! Hatiku benar-benar gak siap membacanya. Tega-teganya dia melakukan ini semua padaku?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukan satu kali ini dia mengelak dariku dengan berbagai macam alasan. Besok-besok alasan apalagi yang keluar dari mulutnya? Padahal anak yang kukandung ini juga anaknya. Aku benar-benar mengharapakan status bukan untuk diriku semata tapi  demi anakku. Yah, aku tak boleh menyerah! Aku  harus berjuang mendapatkan status sebagai seorang istri yang sah diatas buku nikah yang resmi dari KUA. Untuk menghibur kecewanya hati, Aku hanya mampu mengusap-usap perutku sebelum beranjak dari kursi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nak… Ibu akan terus berjuang untuk memberikan sebuah status untukmu, bagaimanapun caranya,” ucapku lirih sambil berurai air mata. Akh, ketegaran dan kekerasan hatiku akhirnya jebol juga karena malaikat kecil yang sebentar lagi lahir ke dunia yang keras ini. Sekeras hidup yang selalu aku jalani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-14995476014698504?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/14995476014698504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/plesss-beri-aku-status.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/14995476014698504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/14995476014698504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/plesss-beri-aku-status.html' title='Plesss! Beri Aku Status!'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-h8a1GXh10_o/TnQERKFf6sI/AAAAAAAAAOY/G5yukLfk_zY/s72-c/images%2Bstatus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6796270096748416403</id><published>2011-09-15T19:03:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T19:18:06.781-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cermin berhikmah'/><title type='text'>Meminta Tanpa Tahu Memberi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-4WFUmpqY39Y/TnKxKW8G3LI/AAAAAAAAAMQ/GqbPTbPD98M/s1600/pengemis%2B1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 336px; height: 397px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-4WFUmpqY39Y/TnKxKW8G3LI/AAAAAAAAAMQ/GqbPTbPD98M/s400/pengemis%2B1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652775273817889970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Dik!!! buatkan teh manis buat Mas, ya?"&lt;br /&gt;"Iya Mas," Rida segera ke dapur menyiapkan air minum buat suaminya.&lt;br /&gt;"Dik!!! air mandi Mas  kok belum disiapin?" cepetan dong! entar Mas terlambat lagi pergi kerja," teriak suaminya dari dalam kamar mandi.&lt;br /&gt;"Sebentar Mas, air hangatnya baru aja dijerang," jawab Rida lagi. Begitulah setiap paginya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rida memang begitu menyayangi suaminya Andi. Saking cintanya, apapun rela ia berikan untuk suaminya. Sebaliknya, Andi adalah tipe suami yang tak pernah berhenti meminta pada istrinya. Bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun seperti meminta diambilkan air hangat untuk mandi atau minta dibuatkan teh manis saat pagi hari. Walaupun dia tahu Rida sedang sibuk mengerjakan tugas rumah tangga. Namun Rida tak pernah menolak. Padahal bisa saja dia mengucapkan kata,&lt;br /&gt;“Mas ambil sendiri yah, saya sedang repot.” Atau&lt;br /&gt;“Maaf yah Mas, saya lagi sibuk memandikan si kecil.&lt;br /&gt; Memang, Rida selalu repot luar biasa setiap harinya oleh pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya. Belum lagi mengurus keempat orang anaknya yang masih balita. Dimana  yang satu minta dimandiin dan yang lain minta disuapin makannya. Sementara kedua anaknya yang lebih besar lebih suka membuat kegaduhan dengan berlari kesana kemari. Hingga membuat rumah yang tadinya rapi, menjadi jungkir balik kembali dalam hitungan menit.&lt;br /&gt; Sementara Andi suaminya, berusaha menutup mata melihat kepayahan istrinya mengurus rumah dan keempat anaknya seorang diri.  Sedikitpun tak tergerak hatinya untuk membantu tugas istrinya. Apalagi mengeluarkan uang untuk membayar seorang asisten rumah tangga demi meringankan pekerjaan istrinya. Padahal keuangannya lebih dari cukup untuk itu. Yang ada dia malah berlomba dengan keempat anaknya untuk meminta perhatian Rida. Meskipun begitu, senyum keikhlasan selalu terpancar dari kedua bibir tipis Rida. Tak pernah keluar keluhan selama 12 tahun dari mulutnya meskipun hanya sekali. Dengan ikhlas dan tulus dia selalu meladeni kemanjaan suaminya yang melebihi anak kecil tersebut. Baginya, sebuah kebanggaan sekaligus keharusan seorang istri  untuk selalu memberi apa yang diminta oleh suami. Meskipun terkadang diluar batas kemampuannya.&lt;br /&gt;Selain suka menuntut untuk selalu diberi, Andi juga tipe suami yang sangat perhitungan untuk mengeluarkan uangnya, sekalipun dengan anak dan istrinya sendiri. Baginya, mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak penting--seperti membayar jasa seorang pembantu hanyalah buang-buang uang saja. Selama istrinya masih bisa mengerjakan semuanya sendiri untuk apa? Begitulah asumsi yang ada dikepalanya.  Tak heran bila Rida dan anak-anaknya jarang memakai gaun yang bagus atau makan yang enak-enak meskipun hanya sesekali. Tapi Rida tak pernah menuntut untuk diberikan uang lebih, karena begitulah sifat aslinya. Baginya yang penting keempat anaknya bisa makan makanan yang sehat dan cukup. Hingga Rida selalu menekan keinginannya untuk membeli barang-barang yang ia inginkan seperti yang dimiliki oleh teman-temannya.&lt;br /&gt;“Barang lama yang kumiliki masih cukup bagus dan layak untuk dipakai. Buat apa aku membuang-buang uang suamiku untuk membeli yang baru? Lebih baik uangnya dipakai buat keperluan keempat malaikat kecilku, pikirnya. Aku harus tetap bersyukur karena suamiku masih tetap setia mendampingiku hingga kini, batinnya berulang kali. Apalagi setiap keinginan untuk membeli barang yang baru muncul. Karena sudah kodratnya seorang wanita senang belanja. Terutama belanja pakaian yang bagus dan make-up untuk mempercantik diri. Tentu saja keinginan untuk terlihat lebih cantik didepan suaminya Andi sering muncul. Sebagai gantinya, Rida memperasah kecantikan batinnya dengan selalu berprilaku baik pada suaminya. Selalu menuruti dan memberi apa yang suaminya minta. Dengan harapan cinta suaminya tetap ada untuknya selamanya.&lt;br /&gt;Suatu hari Rida mendapati sejumlah kertas pembayaran dikantong suaminya saat ia hendak mencuci baju. Tak ayal dia merasa terkejut dan sedikit cemburu melihat angka yang tertera. Sungguh fantastis pengeluaran suaminya yang setelah ia hitung-hitung jumlahnya hampir sepuluh juta! Padahal yang ia tahu suaminya begitu irit dalam pengeluaran. Bahkan untuk keluarganya sendiri.  Karena penasaran, dia beranikan untuk bertanya.&lt;br /&gt;“Mas, sebelumnya saya minta maaf. Apa benar semua barang yang ada di bon ini  Mas yang beli?” tanyanya dengan lembut dan hati-hati.&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa? Toh Mas beli itu semua dengan uang Mas sendiri,” jawab suaminya ketus. Rida begitu terkejut mendengar jawaban suaminya. Padalah selama ini dia berusaha keras untuk mengirit pengeluaran mereka. Sementara suaminya sendiri begitu royal mengeluarkan uang hanya untuk  kepentingannya sendiri.. Hatinya sangat pedih mendapati sikap tidak adil suaminya. Karena tak tahan lagi, Rida pun berkemas-kemas untuk pergi kerumah orangtuanya. Tak lupa ia bawa keempat buah hatinya bersamanya.&lt;br /&gt;Tak ada gunanya hidup bersama orang yang hanya tahu meminta tapi tanpa tahu memberi sepanjang hidupnya. Inilah batas akhir dari sikap memberiku padanya. Mulai detik ini, aku akan meminta hakku untuk segera diceraikan olehnya, berontak Rida. Tekadnya sudah benar-benar bulat untuk berpisah dari ayah keempat anaknya itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6796270096748416403?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6796270096748416403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/meminta-tanpa-tahu-memberi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6796270096748416403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6796270096748416403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/meminta-tanpa-tahu-memberi.html' title='Meminta Tanpa Tahu Memberi'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-4WFUmpqY39Y/TnKxKW8G3LI/AAAAAAAAAMQ/GqbPTbPD98M/s72-c/pengemis%2B1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-788687423553702950</id><published>2011-09-15T11:25:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T11:43:57.534-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cermin berhikmah'/><title type='text'>tak ada yang abadi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-ks483uz-R3o/TnJHSIgZb6I/AAAAAAAAAK4/mZ4twDq9qUs/s1600/klub-poligami-ilustrasi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ks483uz-R3o/TnJHSIgZb6I/AAAAAAAAAK4/mZ4twDq9qUs/s400/klub-poligami-ilustrasi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652658859149979554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana Cinta? Kamu relakan aku menikahinya?” Aku tak bergeming. Bagiku, ini sebuah permintaan yang sangat mengejutkan dan menyakitkan sepanjang hidupku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;   “Please Cinta! Suamimu ini melakukannya karena kasihan. Kamu tahu kan betapa besar cintaku padamu? Sekali lagi aku hanya ingin menolongnya, tak lebih!” Lagi-lagi mulutku terkunci rapat. Seolah kata-kata tak sanggup untuk keluar dari mulutku. Meski suamiku sudah bosan menunggu kata iya dariku. Akh, andaikan kata tersebut terlontar dari bibir tipisku ini, pastilah karena terpaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dengan hati yang bergemuruh karena marah, aku pun kembali mengunci diri di kamar. Meratapi nasib rumah tanggaku yang kini dihantam gelombang yang amat besar dan dahsyat. Hingga mampu menenggelamkan bahtera yang tengah kami arungi bersama. Dan semua itu karena wanita lain yang kini mencoba menggoyang biduk yang telah kami arungi selama sepuluh tahun ini. Sebagai kompensasinya, berhari-berhari suamiku tak kuajak bicara. Aku ngambek-sengambeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Karena tak tahan mendengar rengekan suami terus- menerus, akhirnya keluarlah sebuah jawaban “Baiklah Bang, aku akan menjawabnya. Tapi beri aku waktu sampai bulan depan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Akhirnya kamu mau membuka suara  Cinta. Apapun keputusanmu, Abang akan tetap menunggunya. “ Deg! Hatiku kembali teriris pedih. Membayangkan jawaban yang akan kuberikan setelah aku berkonsultasi pada Yang Diatas. Yah, aku serahkan semua pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Ini malam ke 29 aku memohon pada-Nya. Bermunajat agar hati ini kuat dan ikhlas  memberikan jawaban yang terbaik buat semuanya. Buat suamiku, janda miskin beranak tiga tersebut juga buat diriku. Setelah puas menumpahkan isi hati diatas sajadah merah, aku pun kembali ke peraduan dengan hati yang lebih lapang dari sebelumnya. Sebelum kurebahkan diri disamping Abang, kutatap wajahnya yang putih bersih. Kenangan demi kenangan manis pun berkelebat. Saat pertama kali bertemu dengan Abang hingga akhirnya sampai ke pelaminan. Butir-butir bening kembali menetes dari kedua mataku. Membayangkan Abang harus  tidur bersama wanita lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Sungguh! tak pernah terlintas dibenak istri manapun termasuk diriku. Bagiku, pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang menyatukan dua hati untuk hidup selama-lamanya. Ever after….Tapi, takdir hidup siapa yang tahu? Bila Sang Pemilik cinta sendiri yaitu Allah azza wazala menghadirkan rasa cinta kembali dihati hambanya yaitu suamiku-aku bisa berbuat apa? Meski terkesan pasrah, tapi itulah takdir. Aku pikir pertemuan suamiku dengan seorang janda beranak tiga bukanlah sebuah kebetulan. Ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Akh,  Allah begitu cemburu padaku hingga mengingatkanku dengan cara seperti ini.  Dia ingin menunjukkan padaku bahwa di dunia ini tak ada yang abadi, termasuk rasa cinta itu sendiri. Sejatinya,  hanya cintaNyalah  yang  abadi.  Aku harus siap dipoligami….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-788687423553702950?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/788687423553702950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/tak-ada-yang-abadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/788687423553702950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/788687423553702950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/tak-ada-yang-abadi.html' title='tak ada yang abadi'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ks483uz-R3o/TnJHSIgZb6I/AAAAAAAAAK4/mZ4twDq9qUs/s72-c/klub-poligami-ilustrasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6267778735799236576</id><published>2011-09-15T11:01:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T19:01:13.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lomba merangkai kata bersama parents indonesia'/><title type='text'>alhamdulillah keluar sebagai pemenang pertama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-jLaLTLB-N5o/TnKtXwr6qLI/AAAAAAAAAMA/2-cqta5qOsE/s1600/parents%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 75px; height: 75px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-jLaLTLB-N5o/TnKtXwr6qLI/AAAAAAAAAMA/2-cqta5qOsE/s400/parents%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652771106021091506" /&gt;&lt;/a&gt; Berikut adalah nama para pemenang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Nama:  Irhayati Harun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Email: irhayatiharun@yahoo.co.id &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Telp: 0813114xxxxx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berkat Parent Indonesia pasanganku semakin  cinta padaku. Loh kok bisa? Ya iyalah...! Sebab Parent Indonesia banyak  berisi tulisan bermanfaat seputar tumbuh kembang balita. Sehingga aku semakin pintar mengurus si buah hati. Pasanganku pun menjadi senang ketika melihat bayiku bisa tumbuh sehat karena aku. Terima kasih Parent Indonesia. Berkat dirimu, pasanganku semakin sayang padaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Nama:  Anggiea Pracasti Adiningrum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Email:  an99iea@yahoo.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Telp: 08169xxxxx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kalimat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan Parents Indonesia, mencintai anak tidak hanya sekedar pemanis di bibir tak hanya belajar mengungkapkannya tapi juga membuktikan rasa sayang dan wujud syukur bahagia bersama pasangan karena saling bahu-membahu menjadi tim terbaik dalam periode emas tumbuh kembang dalam tiap tahapan pentingnya, sejak bayi yang dalam waktu sekejab telah berubah menjadi batita untuk  semakin besar, sehat dan cerdas di usia balitanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang akan dihubungi oleh Promosi Parents Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemenang yang berdomisili di wilayah Jabodetabek, hadiah dapat diambil ke kantor Parents Indonesia di Jl Ciranjang no.30 pada hari kerja (senin-jumat) pukul 09.00 - 17.00. Sedangkan pemenang diluar wilayah Jabodetabek, hadiah akan dikirimkan dengan ongkos kirim ditanggung oleh pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MERANGKAI KALIMAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunlah sebuah kalimat dengan menggunakan kata-kata yang tersedia dibawah ini.&lt;br /&gt;Untuk melengkapi atau menyempurnakan kalimat yang disusun, boleh menambahkan kata-kata sendiri.&lt;br /&gt;Jumlah minimal kata yang harus terdapat dalam kalimat, menggunakan kata-kata yang disediakan: 4 kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kalimat:Parents Indonesia membantuku dan pasangan dalam membesarkan batitaku tercinta untuk dapat tumbuh kembang secara sehat optimal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PILIHAN KATA:&lt;br /&gt;- Parents Indonesia&lt;br /&gt;- Cinta&lt;br /&gt;- Sayang&lt;br /&gt;- Bahagia&lt;br /&gt;- Batita&lt;br /&gt;- Sehat&lt;br /&gt;- Pasangan&lt;br /&gt;- Balita&lt;br /&gt;- Bayi&lt;br /&gt;- Tumbuh Kembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kirimkan kalimat Anda ke alamat email: promosi@parentsindonesia.com, subject: "Merangkai Kalimat" paling lambat tanggal 22 Agustus 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format e-mail:&lt;br /&gt;Kalimat:........................................&lt;br /&gt;Nama:..........................................&lt;br /&gt;Tempat &amp; tanggal lahir:.................&lt;br /&gt;Alamat:........................................&lt;br /&gt;Pekerjaan:....................................&lt;br /&gt;Telp rumah:..................................&lt;br /&gt;Handphone:.................................&lt;br /&gt;No kartu Parents Club (jika member):........................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk 2 kalimat yang paling menarik dan unik, tersedia 2 voucher menginap di Lido Lakes Resort &amp; Conference, masing-masing senilai Rp 929.800,-  untuk 2 orang pemenang.&lt;br /&gt;Pemenang akan diumumkan di www.parentsindonesia.com tanggal 24 Agustus 2011.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6267778735799236576?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6267778735799236576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/alhamdulillah-keluar-sebagai-pemenang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6267778735799236576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6267778735799236576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/09/alhamdulillah-keluar-sebagai-pemenang.html' title='alhamdulillah keluar sebagai pemenang pertama'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-jLaLTLB-N5o/TnKtXwr6qLI/AAAAAAAAAMA/2-cqta5qOsE/s72-c/parents%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-7804474731018244800</id><published>2011-06-12T23:15:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T18:09:28.500-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>"Ibuku Di Dunia Maya"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-aoASYbKk5Ug/TnKhgk8d7CI/AAAAAAAAALA/BmMsJIfwRvg/s1600/ibu2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 156px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-aoASYbKk5Ug/TnKhgk8d7CI/AAAAAAAAALA/BmMsJIfwRvg/s400/ibu2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652758063348575266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap membuka Facebook, hatiku selalu mengharu biru kala membaca tulisan yang ku posting di notes facebook ku sendiri. Tak pelak, kedua mataku dipenuhi oleh titik-titik air mata yang mendesak keluar. Tak dapat kubendung rasa sedih dan kehilanganku bila mengingat semua kenangan manis bersama Ibuku. Yah, semua kenangan itu terekam abadi di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saat itu tanggal 30 September 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sore yang indah bersama Mamak di tempat tinggalku dibojonggede bogor. Kami baru saja selesai menonton acara berita yang mengabarkan peristiwa gempa berkekuatan 7,6 SR di Padang Pariaman. Mamak terlihat begitu cemas dan terus menelepon Udaku yang tinggal di Pariaman. Wajah Mamak yang tadinya keruh, akhirnya berubah ceria setelah tahu Udaku baik-baik saja meskipun rumah mereka sebagian hancur akibat gempa. Kami pun bisa kembali bercerita dengan tenang. Tiba-tiba terbersit ide dikepalaku dan seketika itu juga kuutarakan pada Mamak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ati (nama kecilku) mau bikin cerita tentang gempa ah, Mak. Ceritanya rumah Mamak kena gempa tapi Mamak selamat,” ucapku antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti rumah Mamak benar-benar kena gempa, Ti,” ucapnya sambil tertawa tergelak-gelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak mungkinlah Mak. Ini kan cuma sebuah cerita,” jawabku ikut tertawa. Kami pun tertawa bersama-sama setelah itu. Baru kali ini kulihat Mamak bisa tertawa begitu senangnya. Setelah sekian lama hatinya dilanda duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dengan sedikit kerja keras, selesailah sebuah cerpenku yang kuberi judul “Rumah Mande”. Lagi-lagi terbersit ide dikepalaku untuk tak mengirimkannya ke media cetak, tapi ke annida online. Aku tertarik sebab setiap bulan annida-online akan memilih salah satu cerpen terbaik berdasarkan banyaknya polling pembaca annida. Besar harapanku cerpenku ini bisa terpilih. Subhanallah…harapanku terkabul juga. Akhirnya cerpen “Rumah Mande” terpilih sebagai cerpen terbaik bulan Nopember. Meskipun hanya para pembaca di dunia maya yang memilihnya. Segera kusampaikan berita gembira ini pada Mamak. Begitu mendengar kabar cerpenku dimuat dan terpilih, Mamak begitu senang dan terharu mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun satu tahun setelah itu,  Mamak sering mengeluh sakit dipunggungnya. Memang sebelum pulang ke Medan, Mamak pernah menunjukkan sebuah benjolan kecil dipunggungnya. Saat kutanya “Sakit gak Mak?”  “Ah, enggak Ti. Kadang-kadang aja terasa berdenyut,”jawab Mamak sambil tersenyum. Aku pun tak berpkir terlalu jauh tentang benjolan Mamak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah Mamak mengeluh bahwa benjolannya semakin terasa sakit dan mulai membesar, aku pun khawatir dan segera menyuruh Mamak berobat ke Jakarta untuk diperiksa lebih lanjut. Astagfirullah! Begitu diperiksa hasil diagnosa dokter mengatakan bahwa Mamak terkena kanker getah bening. Hatiku dan kakak-kakakku yang lain begitu hancur mendengarnya. Belum lagi stroke yang dialami Mamak. Lengkap sudah penderitaan Mamak karena harus mengalami sakit yang bisa mematikan itu sembari melawan stroke yang semakin parah hingga membuatnya sulit untuk berbicara.&lt;br /&gt;Dengan perasan sedih dan cemas tak terkira, kami pun bergantian merawat Mamak. Rasanya hati ini ingin menangis sekeras-kerasnya saat menatap wajah Mamak yang mengerang kesakitan. Matanya semakin layu menatap kami dari hari-kehari. Aku gak kuat! Sungguh benar-benar gak siap menghadapi kenyataan pahit ini. Hanya lewat tulisanlah beban hati ini bisa kutuangkan. Hingga terciptalah puisi ini untuk Mamak yang kutulis sambil berurai air mata. Lalu kubagikan puisiku di dunia maya. Tanpa bermaksud meminta simpati siapapun. Niat dihati hanyalah ingin  berbagi cerita duka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda…&lt;br /&gt;Kehangatan cinta ini tetap untukmu&lt;br /&gt;Meski sorot matamu kini tak lagi bernyawa &lt;br /&gt;Tak lagi sehangat dekapan dan belaianmu&lt;br /&gt;Yang kini hanya tinggal cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda…&lt;br /&gt;Binar cintaku ini tetap milikmu&lt;br /&gt;Meski binar bahagia dimatamu yang keriput redup ditelan usia&lt;br /&gt;Tak lagi memiliki arti seperti dulu&lt;br /&gt;Karena kini kau tergeletak lemah tanpa daya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda…&lt;br /&gt;Kurindu sinar kecemasan itu dimatamu&lt;br /&gt;Saat mendapati diriku bermuram durja&lt;br /&gt;Biarlah kini kecemasan itu menjadi milikku&lt;br /&gt;Yang kian hari dipenuhi rasa putus asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda…&lt;br /&gt;Tak akan mungkin kulupa&lt;br /&gt;Kedua pelupuk matamu yang menganak sungai oleh air mata&lt;br /&gt;Disaat bermunajat disepertiga malam demi keberhasilan ananda&lt;br /&gt;Tapi kini kedua pelupuk mata tuamu selalu basah oleh air mata derita&lt;br /&gt;Karena maut yang kelam mulai menggerogoti tubuhmu nan renta&lt;br /&gt;Oleh penyakit yang tak mengenal hati dan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Bunda…&lt;br /&gt;Waktu telah menjawab segala&lt;br /&gt;Betapa cintamu selalu mengalir untukku&lt;br /&gt;Bagaikan ricik air cinta yang tak pernah kering dihatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Robbi! Perkenankanlah pintaku &lt;br /&gt;Pinta yang kujalin dengan sepenuh cinta untuk Bunda&lt;br /&gt;Dari tasbih, zikir dan doa&lt;br /&gt;Agar kulihat lagi cinta dimatanya&lt;br /&gt;Cinta yang tulus dan abadi hingga akhir masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah kuposting di Facebook, banyak komentar yang datang padaku. Komentar yang berisi simpati dan dukungan agar aku tabah dan kuat. Akh, tak sia-sia rasanya karena setelah itu aku mendapatkan dukungan moril yang semakin membuatku tegar dan tabah menjalani hari-hariku selama menemani Mamak. Namun Allah terlalu sayang pada Mamak melebih rasa sayang kami padanya. Akhirnya setelah hampir satu tahun menjalani pengobatan, Mamak berpulang untuk selama-lamanya. Sia-sia rasanya usaha yang kami lakukan untuk penyembuhan Mamak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan Mamak sungguh membuatku terpukul selama berhari-hari. Dan kembali kutuangkan curahan kesedihanku lewat facebook. Dan kembali teman-teman facebook memberi dukungan moril padaku dengan berbagai macam nasehat yang menyejukkan hati. Sampai suatu hari kudengar salah seorang facebooker Agnes Davonar mengadakan lomba kisah nyata tentang Ibu yang disponsori oleh ungu dan chocolates. Aku pun tertarik untuk mengikutkan kisah ibuku dalam lomba itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada niat untuk bisa menang dalam lomba. Hanya saja aku berniat bila terpilih dan mendapatkan hadiah berupa uang tunai, maka uang tersebut akan kusedekahkan sebagai amalan untuk Mamak disana. Ternyata Allah mendengar doaku. Cerita ibuku yang berjudul “Rumah Baru Untuk Ibuku” terpilih sebagai nominasi 20 pemenang diantara 30 ribu peserta. Aku bersujud sukur dan segera melaksanakan nazarku untuk memberikan uang hadiah lomba kepada anak yatim sebagai tambahan pahala untuk Ibuku di rumah barunya. Ucapan selamat yang berdatangan cukup menghibur hatiku yang sedang berduka.Meski kini Ibuku tak lagi bisa kutemui di dunia nyata.  Namun kenangan indah bersama Ibuku tetap hidup bersamaku di dunia maya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-7804474731018244800?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/7804474731018244800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/06/lomba-dunia-maya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7804474731018244800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7804474731018244800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/06/lomba-dunia-maya.html' title='&quot;Ibuku Di Dunia Maya&quot;'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-aoASYbKk5Ug/TnKhgk8d7CI/AAAAAAAAALA/BmMsJIfwRvg/s72-c/ibu2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-3833922121096809132</id><published>2011-03-29T21:23:00.001-07:00</published><updated>2011-09-15T10:43:45.214-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng anak'/><title type='text'>jantung untuk profesor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-77bAtywqioo/TZKxAogbgMI/AAAAAAAAAKk/-E7EtmsOCMI/s1600/robot.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 196px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-77bAtywqioo/TZKxAogbgMI/AAAAAAAAAKk/-E7EtmsOCMI/s400/robot.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5589724711951761602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Geo, Robot Yang Berhati Mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Neo adalah seorang professor yang ahli merakit robot. Dia selalu berhasil menciptakan robot dengan kualitas terbaik di negerinya. Karena itulah banyak orang yang memesan robot darinya. Mulai dari robot rumah tangga, robot industri, robot militer, robot laut, bahkan sampai robot operasi. Yaitu robot yang bisa membantu para medis dalam mengoperasi pasien dengan tepat. Dan kali ini professor Neo kembali membuat robot operasi. Professor Neo harus bisa menyelesaikan robot tersebut dalam waktu satu minggu. Sesuai dengan pesanan yang diminta oleh pemesannya. Ketika Profesor Neo asyik merakit, robot-robot buatannya pun saling berbicara satu sama lain.&lt;br /&gt; “Aku memang robot yang tidak berguna,” ucap Geo si robot Android.&lt;br /&gt;“Mengapa kamu berpikir begitu Geo?” Tanya Maru si robot rumah tangga.&lt;br /&gt;“Lihat saja, barusan Rio si robot laut diantar ke pemiliknya untuk digunakan. Sementara aku sudah berbulan-bulan di sini. Tapi belum ada satupun yang membutuhkanku,” jawab Geo sambil memasang wajah sedih.&lt;br /&gt;“Sabarlah Geo, suatu saat nanti pasti kamu diperlukan juga oleh manusia. Hanya masalah waktu saja,” ujar Maru mencoba menghibur.&lt;br /&gt;“Tapi sampai kapan Maru? Sementara semua robot buatan professor Neo sudah  menemukan pemiliknya. Pasti tak lama lagi kamu juga akan dibeli oleh manusia untuk keperluan rumah tangga,” ucap Geo  lagi. Maru pun ikut bersedih mendengar keluhan Geo. Sebagai teman sesama robot, dia tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi keesokan harinya seorang konglomerat membelinya untuk mengerjakan tugas rumah tangga. Seperti membersihkan rumah, mencuci baju dan mencuci piring. Maru pun mengucapkan selamat tinggal pada Geo dengan perasaan berat. &lt;br /&gt;“Semoga tak lama lagi kamu dipesan oleh manusia Geo,” ucap Maru dengan tak enak hati.&lt;br /&gt;“Semoga saja Maru, tapi aku sudah tak mau berharap lagi,” jawab Geo dengan wajah mendung. Begitu Maru meninggalkannya, butir-butiran air bening pun mengalir dari kedua matanya. Yah, dia menangis karena sudah tak sanggup lagi menahan rasa sesak didadanya. Sakit sekali rasanya bila tak seorangpun membutuhkan dirinya. Lebih baik aku mati saja,” pikir Geo putus asa. &lt;br /&gt;Untuk apa aku hidup bila tak berguna seperti ini. Geo pun bersiap-siap untuk mengambil sebuah kabel listrik. Dia ingin menyetrumkan dirinya sendiri agar hangus terbakar. Dia sudah tak ingin hidup lagi!. Tapi sebelum dia melakukan aksinya. Tiba-tiba saja dia mendengar suara seseorang yang sedang minta tolong. Bergegas Geo menghampiri sumber suara itu. Alangkah paniknya Geo saat melihat Professor Neo sudah jatuh terkapar didekat sebuah robot yang sudah jadi.&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi pada professor? Tanya Geo cemas.&lt;br /&gt;“Saya juga tidak tahu sobat. Profesor tiba-tiba saja jatuh pingsan begitu selesai merakitku,” jawab robot operasi tak kalah khawatir.&lt;br /&gt;“Apa yang harus kita lakukan? Tanya Geo lagi dengan panik.&lt;br /&gt;“Begini saja, aku kan robot operasi. Jadi aku bisa mengoperasi Profesor untuk melihat apa yang terjadi di dalam tubuhnya,” robot operasi menawarkan diri.&lt;br /&gt;“Apakah itu tidak membahayakan diri beliau?” Tanya Geo ragu.&lt;br /&gt;“Serahkan saja padaku sobat. Professor akan baik-baik saja karena aku sangat mahir dan teliti dalam mengoperasi.”&lt;br /&gt;“Baiklah kalau itu bisa membuat kita tahu sakit yang dialami oleh Professor Neo sebenarnya,” jawab Geo pasrah. Robot oprasi pun menjalankan tugasnya dengan cepat. Raut wajahnya terlihat sangat serius. &lt;br /&gt;“Setelah kuperiksa dalamnya, ternyata Profesor Neo mengalami sakit jantung yang akut sobat. Bahkan jantungnya sudah tak berfungsi lagi karena sudah rusak berat.”&lt;br /&gt;“Lalu, apa yang harus kita lakukan robot operasi?” Tanya Geo kian cemas.&lt;br /&gt;“Kita harus segera mencari jantung yang baru untuk Profesor Neo. Kalau tidak, dia bisa mati.”&lt;br /&gt;“Profesor Neo tidak boleh mati. Hidupnya sangat berguna untuk orang banyak. Kalau dia mati, siapa lagi yang akan menciptakan robot-robot canggih yang sangat dibutuhkan oleh manusia,” jawa Geo lemah.&lt;br /&gt;“Tapi, siapa yang mau mendonorkan jantungnya buat Profesor? Tanya robot operasi bingung.&lt;br /&gt;“Aku si robot Android. Karena cuma aku robot yang memiliki organ tubuh seperti manusia. Aku bersedia memberikan jantungku agar Profesor Neo bisa tetap hidup.”&lt;br /&gt;“Kamu?” Ucap robot operasi setengah tak percaya. Dia begitu terharu mendengar ketulusan Geo yang rela mengorbankan dirinya.&lt;br /&gt;“Iya, aku sobat. Mungkin dengan cara seperti inilah hidupku menjadi berguna. Ayo! ambillah jantungku dan segera operasi Profesor Neo sebelum terlambat. Robot operasi pun tak bisa menolak dan segera melaksanakan perintah Geo. Operasi berjalan lancar. Satu jam kemudian Professor Neo sadar kembali dan melihat sekelilingnya dengan heran. &lt;br /&gt;Apa yang terjadi dengan diriku barusan? Sepertinya aku tadi bermimpi sedang menjalani operasi. Oh, ya aku baru ingat sekarang. Tadi jantungku sakit sekali lalu aku jatuh tak sadarkan diri, batin Profesor Neo. Tapi, olalaaa…Profesor sangat terkejut begitu melihat Geo si robot Android buatannya. Tubuh robot itu telah rusak dengan organ tubuh yang terburai keluar semuanya. Hanya saja seulas senyum bahagia tersungging di bibirnya. &lt;br /&gt;Siapa yang telah merusak robotku ini ya? Tanya Profesor Neo heran. Baiklah Robot Android, aku akan mencoba memperbaikimu kembali--Agar kamu bisa menjadi robot yang utuh seperti sedia kala. Profesor Neo pun kembali bekerja dengan tubuh yang lebih segar dan fit dari sebelumnya. Dia tidak tahu kalau semua itu berkat jasa si robot Android yang berhati mulia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-3833922121096809132?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/3833922121096809132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/03/lomba-cerita-anak-sarikata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3833922121096809132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3833922121096809132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/03/lomba-cerita-anak-sarikata.html' title='jantung untuk profesor'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-77bAtywqioo/TZKxAogbgMI/AAAAAAAAAKk/-E7EtmsOCMI/s72-c/robot.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6383653019196721080</id><published>2011-01-30T01:53:00.000-08:00</published><updated>2011-09-15T18:21:32.539-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ungkapan hati'/><title type='text'>Tampil cantik tak harus wah!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-eg1xudwhGwo/TnKkhgTsXXI/AAAAAAAAALI/qL34YdAkUxc/s1600/cantik2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 202px; height: 129px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-eg1xudwhGwo/TnKkhgTsXXI/AAAAAAAAALI/qL34YdAkUxc/s400/cantik2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652761377818566002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang kalo dandan seadanya (minimalis) gak bisa bikin kita terlihat lebih cantik? Namanya juga dandanan minimalis. Jadi berdandan seadanya saja. Mungkin begitu pikir sebagian wanita. Mau dandan minimalis atau wah,  Yang penting bagaimana cara kita menyiasati dandanan itu sendiri, agar terlihat sesuai dengan warna kulit, bentuk bibir, mata dan wajah kita.&lt;br /&gt;Untuk dandanan minimalis sendiri kita mulai dari wajah. Gunakanlah pelembab wajah terlebih dahulu. Sebaiknya pilih pelembab wajah yang mengandung sinar ultra violet agar wajah terlindung dari sinar matahari. Setelah itu baru deh kita poles wajah dengan bedak yang sesuai dengan jenis kulit kita. Oh ya, jangan lupa untuk membersihkan wajah terlebih dahulu sebelum melakukan ritual ini. Tentunya memakai pembersih wajah yang sesuai dengan jenis kulitmu yaitu kering, berminyak atau normal. Satu lagi yang tak kalah penting nih. Jangan suka gonta-ganti pembersih muka seenaknya. Iya kalo cocok, kalo enggak? Bisa-bisa mukamu jadi korban bro!&lt;br /&gt;Sekarang giliran mata. Kalo ada pakailah eye shadow berwarna coklat muda atau yang sesuai dengan warna kulitmu. Setelah itu pertegas alismu yang tipis dengan alis mata berwarna coklat tua atau hitam. Pakailah  pelentik  bulu mata bagi yang matanya belum lentik..Diikuti dengan pakai mascara juga boleh, agar kesannya terlihat lebih tebal. Sementara buat yang bola matanya kecil bisa menggunakan eye liner agar terlihat lebih besar. Tentu saja yang matanya sudah besar gak perlu pakai eye liner. Kalau masih ingin memakainya juga tipis-tipis saja agar mata tak bertambah belo.&lt;br /&gt;Yang terakhir olesi bibir dengan lip gloss atau lip blam. Untuk bibir yang tipis pilihlah lip gloss berwarna pink tegas. Agar bibir terkesan lebih tebal. Sebaliknya untuk bibir yang tebal pilihlah lip gloss berwarna pink muda/ pucat. Agar bibir gak terkesan terlalu tebal. Ternyata sangat mudahkan agar bisa tampil cantik dengan cara yang sederhana dan cepat? Pasti semua wanita bisa melakukannya. Selamat mencoba!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6383653019196721080?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6383653019196721080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/01/tampil-cantik-tak-harus-wah-siapa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6383653019196721080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6383653019196721080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/01/tampil-cantik-tak-harus-wah-siapa.html' title='Tampil cantik tak harus wah!'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-eg1xudwhGwo/TnKkhgTsXXI/AAAAAAAAALI/qL34YdAkUxc/s72-c/cantik2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-8874632354793344764</id><published>2011-01-23T20:45:00.000-08:00</published><updated>2011-09-15T11:17:29.124-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ungkapan hati'/><title type='text'>Ayo! Selamatkan Bumi Dengan Peduli Lingkungan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-AvSTPP_Wfc0/TXMITsdOSRI/AAAAAAAAAJ8/BhMjmuDtrUM/s1600/bumi%2B2.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 95px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-AvSTPP_Wfc0/TXMITsdOSRI/AAAAAAAAAJ8/BhMjmuDtrUM/s400/bumi%2B2.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580813497686444306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-WVYPimvU4JA/TXMGVHcC4SI/AAAAAAAAAJ0/oAMs-ozRMfE/s1600/gambar%2Bbumi.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 99px; height: 94px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-WVYPimvU4JA/TXMGVHcC4SI/AAAAAAAAAJ0/oAMs-ozRMfE/s400/gambar%2Bbumi.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5580811323085873442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sebagai manusia yang telah bertahun-tahun menempati bumi ini,  pernah gak terpikirkan oleh kita untuk menjaga lingkungan bumi dengan serius? Tentu jawaban itu berpulang pada diri kita masing-masing. Padahal action sekecil apapun itu dalam rangka menjaga dan memelihara lingkungan bumi, akan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup kita kelak. Minimal dengan menjaga lingkungan sekitar rumah kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kenyataannya masih banyak kita temui orang-orang yang tanpa merasa bersalah melakukan kerusakan lingkungan itu sendiri. Hingga tak heran bila belakangan ini sering terjadi bencana alam. Misalnya melakukan perambahan hutan secara liar dan besar-besaran yang berdampak pada gundulnya hutan. Jika hutan tak ditanami lagi setelah ditebang, maka hutan yang gundul tadi saat terkena terik matahari, tanahnya menjadi rapuh dan berongga. Begitu hujan besar datang, maka terjadilah pengikisan tanah (erosi). Akibatnya sejumlah tanah terbawa aliran air yang mengakibatkan terjadinya tanah longsor. Bahkan penambangan untuk mencari bahan tambang itu sendiri, tanpa diikuti dengan memperbaiki lingkungan sisa penambangan sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Belum lagi pemanasan global yang kian menghebat belakangan ini. Orang-orang dengan seenaknya membangun rumah kaca disana-sini, dan menggunakan energi listrik dengan borosnya. Yang mengakibatkan lapisan ozon kian menipis setiap harinya. Lihat saja, kita lebih memilih Air Conditioning sebagai penyejuk ruangan dari hawa panas. Padahal kita bisa memanfaatkan AC alami yaitu angin sejuk yang berhembus dari luar rumah. Dengan membuat jendela yang cukup banyak dan lebar sebagai jalan keluar masuknya angin dan udara segar. Padahal dengan banyak jendela yang bisa dibuka, otomatis ruangan di dalam rumah akan menjadi terang. Sehingga kita tak perlu menghidupkan lampu disiang hari. Bukankah semua itu bisa menghemat energi listrik? Belum lagi pencemaran yang terjadi disana-sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pabrik-pabrik besar juga dengan seenaknya membuang limbah beracun ke dalam sungai yang mengakibatkan tercemarnya air bersih. Padahal air bersih sangat diperlukan manusia untuk memasak, minum dan keperluan rumah tangga lainnya. Juga kecenderungan kita untuk membuang sampah secara sembarangan. Yang mengakibatkan saluran air sungai dan got-got mampet. Ketika  hujan lebat turun, air sungai dan got tadi meluap keatas sehingga terjadilah banjir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi bila sampah itu berupa sampah plastik, yang membutuhkan 500-1000 tahun untuk bisa terurai secara sempurna didalam tanah. Karena sifat sampah plastik yang sulit terurai secara alami juga sulit untuk didaur ulang. Padahal saat terurai, partikel-partikel plastic akan mencemari tanah dan air sekecil apapun itu. Mendapati kenyataan ini, mengapa kita tak mengurangi komsumsi plastik dalam kehidupan kita? Minimal saat belanja ke pasar. Kita bisa menggunakan tas belanjaan yang terbuat dari rotan atau anyaman daun pandan seperti yang digunakan nenek-nenek kita dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, polusi udara selalu menggerogoti paru-paru kita. Lewat debu dan asap knalpot yang setiap hari kita hirup. Untuk itulah kita perlu menutup hidung dengan saputangan agar tak langsung menghirupnya. Seandainya setiap orang mau menggunakan sepeda atau angkutan umum untuk bepergian. Baik itu ke kantor atau ke tempat lainnya-- dan  berinisiatif menggunakan mobil hanya untuk bepergian keluar kota saja. Otomatis polusi udara bisa diminimalisasi. Pasti kita semua ingin kota benar-benar murni dari polusi. Bagaikan  negara Switzerland yang terkenal akan kebersihan kotanya. Dan Allah sendiri melaknat orang-orang yang merusak lingkungan sebagaimana yang Allah katakan dalam alqur’an yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya..” (Al-A’raaf: 56)&lt;br /&gt;“Makan dan minumlah dari rizki Allah dan janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan” (Al-Baqarah: 60)&lt;br /&gt;“..dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Al-Maidah: 64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jadi kesimpulannya, perlakukanlah bumi sebagai tempat tinggal kita dengan menjaga lingkungan bumi itu sendiri sebaik-baiknya. Sebab bila bumi ini sudah rusak,  adakah bumi lain yang bisa kita tempati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Referensi:&lt;br /&gt;Koran kompas&lt;br /&gt;Buku pendidikan lingkungan hidup kelas 3 SD&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-8874632354793344764?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/8874632354793344764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/01/beat-blogwriting-contest.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/8874632354793344764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/8874632354793344764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/01/beat-blogwriting-contest.html' title='Ayo! Selamatkan Bumi Dengan Peduli Lingkungan'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-AvSTPP_Wfc0/TXMITsdOSRI/AAAAAAAAAJ8/BhMjmuDtrUM/s72-c/bumi%2B2.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-716273535440286367</id><published>2011-01-23T20:26:00.000-08:00</published><updated>2011-09-15T10:46:13.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cermin berhikmah'/><title type='text'>cinta dalam sepotong roti</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TVCuayn7USI/AAAAAAAAAJs/8TD8I_rod7g/s1600/roti5.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 126px; height: 84px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TVCuayn7USI/AAAAAAAAAJs/8TD8I_rod7g/s400/roti5.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571144514346373410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TVCrTYar7iI/AAAAAAAAAJk/UAXvpbkHRws/s1600/roti3.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 105px; height: 125px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TVCrTYar7iI/AAAAAAAAAJk/UAXvpbkHRws/s400/roti3.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571141088517549602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;flash fiction&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah di negeri Perancis dua orang sahabat yang saling menyayangi. Namanya Michael dan Hans. Mereka berdua tercatat sebagai murid school bread. Sekolah yang mempelajari bagaimana caranya membuat roti. Tapi malangnya, mereka berdua jatuh cinta pada seorang gadis yang sama. Michael dan Hans pun bersaing dalam memperebutkan gadis tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari gadis tersebut berulang tahun. Hans dan Michael pun diundang. Kebetulan ayahnya sang gadis seorang pengusaha roti yang sangat terkenal di Perancis. Oleh ayahnya, Michael dan Hans disuruh membawa roti buatan sendiri sebagai kado ulang tahun anaknya. Ayahnya sang gadis ingin tahu, roti buatan siapa yang paling enak dan menarik. Bagi yang memenangkan kompetisi, akan menjadi pendamping hidup bagi anak gadisnya kelak. Begitulah hadiah yang ditawarkan oleh ayahnya si gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TVCrLuiowaI/AAAAAAAAAJc/bpeudUsQ9QY/s1600/roti.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 105px; height: 125px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TVCrLuiowaI/AAAAAAAAAJc/bpeudUsQ9QY/s400/roti.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571140957017522594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu, Michael dan Hans pun berusaha sekuat tenaga untuk membuat roti yang diminta oleh ayahnya sang gadis. Siang dan malam mereka terus mencoba-coba membuat roti. Mencoba membuat adonan permentasi yang pas agar roti bisa mengembang sempurna. Juga mencoba berkreasi dengan roti buatan mereka. Agar menghasilkan roti yang menarik tampilannya. Sehari sebelum harinya tiba, mereka pun membuat adonan dasar roti yang terdiri dari tepung, telur, ragi, air dan garam. Malam harinya mereka biarkan adonan berfermentasi dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, mereka mulai mengolah adonan roti. Memotong-motong adonan lalu menimbangnya sama berat. Setelah itu membentuk adonan menjadi roti dan memanggangnya. Tapi prinsip mereka dalam membuat roti sangat bertolak belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TVCq9ATH7UI/AAAAAAAAAJU/RlXuCa1urZc/s1600/roti2.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 108px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TVCq9ATH7UI/AAAAAAAAAJU/RlXuCa1urZc/s400/roti2.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571140704086256962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael berusaha membuat roti yang menarik meskipun belum tentu mengenyangkan. Dia &lt;br /&gt;memang bercita-cita menjadi pengusaha roti yang sukses dengan mengeruk untung semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Hans lebih mementingkan membuat roti yang bisa mengenyangkan. Hans tak terpaku pada bentuk rotinya saja. Tujuannya dalam membuat roti adalah untuk bisa berbagi. Itulah sebabnya Hans bercita-cita bila menjadi pengusaha roti yang sukses nanti, akan membagi-bagikan sebagian rotinya pada anak-anak panti asuhan dan para gelandangan. Agar mereka tidak mati kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, roti pun selesai dipanggang. Menjelang siang hari, Michael dan Hans membawa roti itu ke pesta ulang tahun sang gadis. Setelah ayahnya sang gadis mencicipi roti buatan mereka berdua, dia pun memutuskan bahwa rotinya Hans lah yang keluar sebagai pemenang. Alasan ayahnya sang gadis, roti Hans terasa lebih hangat dan mengenyangkan karena dibuat oleh pemiliknya penuh dengan perasaan cinta pada sesama.  Mendapati dirinya kalah, Michael pun mengajukan banding. Dia meminta agar tes diadakan sekali lagi di depan ayahnya sang gadis. Agar hasilnya lebih obyektif karena langsung dibuat ditempat. Bila dia tetap kalah, maka dia rela melepaskan gadis itu dinikahi oleh Hans. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayahnya sang gadis tak keberatan. Dia pun menyuruh mereka berdua datang lagi seminggu kemudian. Tentu saja sambil membawa adonan roti buatan masing-masing. Ternyata diam-diam Michael menyusun sebuah rencana yang licik. Dia ingin mengalahkan Hans dengan cara yang curang. Tibalah hari yang ditentukan. Ketika mereka tengah membuat roti di depan ayahnya sang gadis, Hans mendapati rotinya tidak mengembang saat dipanggang. Artinya ia telah gagal membuat roti. Untuk membuat adonan yang baru sudah tidak ada waktu lagi. Hans tahu Michael telah mencuranginya. Tapi dia tak ingin berkelahi. Baginya persahabatan lebih penting dari segala-galanya. Dia pun pasrah saat Michael menjadi pemenangnya. Sementara Michael tersenyum licik melihat kekecewaan di wajah Hans. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saat mereka berdua sedang berada di dapur, tiba-tiba oven terbakar. Sebelum oven meledak dengan keras, secepat kilat Hans mendorong tubuh Michael. Akibatnya Hans menderita luka bakar yang parah hingga jatuh koma saat dibawa kerumah sakit. Mendapati Hans terluka parah demi menyelamatkan dirinya, Michael pun merasa sangat menyesal. Betapa mulianya hati Hans, yang membalas kebenciannya dengan cinta yang tulus sebagai seorang sahabat. Padahal dia telah mengganti adonan Hans dengan adonan yang tak ada raginya, agar roti Hans tak bisa mengembang. Hingga Hans kalah dalam kompetisi kedua mereka. Karena menyesal, Michael pun tak pernah berhenti menjenguk dan menemani Hans dirumah sakit. Dan berdoa sepanjang malam agar sahabat terbaiknya itu bisa sadar kembali. Dan  bisa menikmati roti yang ia buat dengan sepenuh cinta untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah cerita : jangan pernah membalas sebuah kebencian dengan kebencian juga. Tapi cairkanlah kebencian yang kita terima dengan rasa cinta yang tulus. Agar Orang yang melemparkan kebencian pada kita menjadi sadar dan luluh hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini diikutkan pada&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-716273535440286367?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/716273535440286367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/01/lomba-cermin-berhikmah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/716273535440286367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/716273535440286367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2011/01/lomba-cermin-berhikmah.html' title='cinta dalam sepotong roti'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TVCuayn7USI/AAAAAAAAAJs/8TD8I_rod7g/s72-c/roti5.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6222031834605484546</id><published>2010-12-29T20:54:00.000-08:00</published><updated>2011-09-15T18:31:53.769-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='babies story'/><title type='text'>malaikat kecilku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-mOEF31cXsAI/TnKm4Ut1eQI/AAAAAAAAALQ/OmHRMeIaeM4/s1600/IM000615.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mOEF31cXsAI/TnKm4Ut1eQI/AAAAAAAAALQ/OmHRMeIaeM4/s400/IM000615.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652763968867236098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ceritaku yang masuk finalis 10 besar capture you gain moment bersama parentsguide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti perkembangan Alisha (2thn) dari hari-kehari, adalah moment terindah yang kualami bersama sikecil. Misalnya ketika kuputarkan lagu Bebe Lili “Halo..halo..Papa ada dimama. Lili mau bicara.” Spontan Alisha menggerak-gerakkan tangannya sambil berjoget kedepan dan kebelakang dengan senangnya. Saat itu usianya baru menginjak 8 bln. Sekarang saat diputarkan lagu anak-anak, Alisha tak hanya berjoget, tapi ikut bernyanyi sambil melompat-lompat dengan energik.&lt;br /&gt; Atau disaat aku menemani Alisha bermain cat air. &lt;br /&gt; “Ma, ini gambar pelangi. Yang ini gambar balon,”ucapnya riang sambil melukis tembok dengan menggunakan berbagai macam warna. Alisha tak mau berhenti melukis, saat aku mengajaknya berhenti.  Walau lukisannya tak beraturan, aku terus menyemangatinya dan memujinya. Meskipun tembok rumah menjadi kotor. Yang penting Alisha bisa bebas berekspresi. &lt;br /&gt; “Wah, bagus sekali lukisan Lisa,” jawabku takjub. Alisha pun semakin bersemangat melukis. Melihat kepolosan dan keceriaannya, Alisha menjelma menjadi malaikat kecil dihadapanku.  Malaikat bersayap yang selalu membawa kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupku. Aku sungguh bahagia memilikinya.&lt;br /&gt; Tapi disaat Alisha uring-uringan ketika tak mau dilarang melakukan sesuatu yang dia suka. Malaikat kecil itu pun berubah menjadi setan kecil dihadapanku. Seperti main air di kamar mandi lama-lama. Padahal aku khawatir dia masuk angin. Atau menuangkan air minum dilantai. Hingga lantai becek disana sini yang berakibat fatal bagi Alisha sendiri karena dirinya bisa jatuh terpelesat. &lt;br /&gt;Aku biarkan Alisha  melempar barang apa saja dan menangis sekeras-kerasnya sambil berguling-guling dilantai, ketika kemauannya yang membahayakan dirinya tak kuturuti. Aku yakin,  setelah Alisha capek berbuat seperti itu, dia akan berhenti sendiri. Dan menyadari bahwa tidak semua perbuatannya harus diikuti. &lt;br /&gt;Akh  Alisha. Buat bunda, ketika kau berubah menjadi malaikat kecil atau setan kecil sekalipun, moments bersamamu adalah hal terindah dalam hidupku. Terima kasih Nak. Kau telah mewarnai hidup bunda dengan duniamu yang polos dan penuh ceria itu.&lt;br /&gt; http://aulaady.com/&lt;br /&gt; http://himma.multiply.com/journal/item/257/LOMBA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6222031834605484546?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6222031834605484546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/1001-kisah-tentang-ibu-dan-anaknya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6222031834605484546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6222031834605484546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/1001-kisah-tentang-ibu-dan-anaknya.html' title='malaikat kecilku'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mOEF31cXsAI/TnKm4Ut1eQI/AAAAAAAAALQ/OmHRMeIaeM4/s72-c/IM000615.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6270962876449224998</id><published>2010-12-04T17:10:00.002-08:00</published><updated>2011-09-16T20:18:43.721-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dongeng anak'/><title type='text'>boneka kayu nirmala</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-la3dVtcOsnY/TnKpghv-G8I/AAAAAAAAALg/2nCc065DOW0/s1600/bnk.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 128px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-la3dVtcOsnY/TnKpghv-G8I/AAAAAAAAALg/2nCc065DOW0/s400/bnk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652766858583874498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nirmala adalah Anak yang baik hati. Ia tinggal bersama neneknya di gubuk tua. Setiap hari ia selalu bermain-main dengan bonekanya yang terbuat dari kayu.  Suatu ketika Ninda melihatnya sedang bermain-main dengan boneka kayu itu.&lt;br /&gt;“Hai Nirmala! Darimana kamu dapatkan boneka itu? tanya Ninda ingin tahu. &lt;br /&gt;“Oh, aku dapatkan boneka ini dari pembuangan sampah,” jawab Nirmala senang.&lt;br /&gt;“Sepertinya boneka kayu itu sudah tidak layak untuk dipakai,” ejek Ninda sinis.&lt;br /&gt; “Biarin, yang penting boneka kayu ini bisa menghibur hatiku saat sedih.”&lt;br /&gt; “Apa? bisa menghibur? Masa sih! Itu kan cuma boneka kayu biasa. Nanti boneka kayu kamu bukannya menjadi penghibur malah jadi monster yang menakutkan. Ha… ha… ha… ha…” &lt;br /&gt; “Aku tidak peduli boneka ini mengerikan atau tidak. Yang penting aku punya boneka,” ucap Nirmala.&lt;br /&gt;“Ya sudah. Sampai nanti boneka jelek,” ejek Ninda lagi sebelum pergi. &lt;br /&gt;Karena kecewa, Nirmala pun masuk ke dalam rumah.&lt;br /&gt; “Kenapa tiba-tiba kamu bersedih Nirmala?” Tanya Nenek  .&lt;br /&gt; “Tadi Nirmala bertemu Ninda. Dia bilang boneka Nirmala jelek Nek. Menurut Nirmala  boneka ini bisa menjadi penghibur dan diajak bermain. Benarkan Nek?” ucap Nirmala dengan wajah sedih.&lt;br /&gt;“Benar. Nenek yakin sekali boneka ini bisa menjadi temanmu. Sudah, jangan bersedih lagi,” ucap nenek menghibur. &lt;br /&gt;Lalu Nirmala ke kamarnya dan menangis. Andai saja aku bisa seperti peri Nirmala dalam cerita dongeng. Akan aku sihir boneka ini menjadi lebih cantik, ucapnya didalam hati. Tiba-tiba, terdengar suara  yang lemah lembut. &lt;br /&gt;“Mengapa kamu menangis Nirmala?” &lt;br /&gt;“Kok kamu bisa bicara? Ucap Nirmala heran. &lt;br /&gt;“Sebenarnya, aku ini seorang putri dari negeri mawar. Namaku Nadia. Karena nakal, aku dikutuk sama peri Narnia.”&lt;br /&gt;“Jadi begitu yah. Kalo begitu, aku sekarang gak sendirian lagi, karena sudah punya teman,” jawab Nirmala bersorak girang.&lt;br /&gt;“Aku juga senang menjadi temanmu Nirmala.  Karena kamu  orang yang baik dan memiliki cinta yang tulus buat siapa saja. Termasuk buat boneka kayu yang jelek sepertiku.”&lt;br /&gt;“Tapi sekarang kamu sudah menjelma menjadi manusia yang cantik kan?”&lt;br /&gt;“Benar Nirmala. Itu semua berkat dirimu. Karena cintamu yang tulus padaku, kutukanku menjadi hilang.”&lt;br /&gt;“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” Tanya Nirmala bingung.&lt;br /&gt;“Dulu aku anak yang sangat nakal dan suka menghina orang lain. Lalu peri Narnia marah dan mengutukku menjadi boneka kayu yang jelek. Aku bisa menjadi manusia kembali bila ada yang menyayangiku dengan tulus,” Jelas Nadia panjang lebar.&lt;br /&gt;“Kayak Ninda temanku dong. Untung dia tak bertemu peri yang bisa mengutuknya,” ucap Nirmala.&lt;br /&gt;“Ha..ha..ha…kamu bisa aja Nirmala,” Nadia tertawa  mendengarnya.&lt;br /&gt;“Jangan sampe deh, kan kasihan si Ninda,” ucap Nirmala ikut tertawa.&lt;br /&gt;“Oh ya Nirmala. Maukah kau mengajariku menjadi anak yang baik hati?” &lt;br /&gt;“Tapi apa yang harus aku lakukan denganmu Nadia? Tanya Nirmala.&lt;br /&gt;“Aku ingin kau mau  mengingatkanku dikala berbuat salah.” &lt;br /&gt;“Ehmm.. baiklah! Seru Nirmala. &lt;br /&gt;“Terimakasih Nirmala” jawab Nadia bahagia. &lt;br /&gt;Akhirnya Nirmala memiliki sahabat yang menyenangkan seperti Nadia. Dia tak akan kesepian lagi. Berkat cintanya yang tulus pada siapa saja. Termasuk pada boneka kayu yang kini telah menjelma kembali menjadi manusia yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerita yang dibuat berdua balqis anakku (9 thn)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6270962876449224998?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6270962876449224998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/lomba-cerita-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6270962876449224998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6270962876449224998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/lomba-cerita-anak.html' title='boneka kayu nirmala'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-la3dVtcOsnY/TnKpghv-G8I/AAAAAAAAALg/2nCc065DOW0/s72-c/bnk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-8846824398981123629</id><published>2010-12-04T17:10:00.001-08:00</published><updated>2011-09-15T10:51:58.232-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita anak'/><title type='text'>flash fiction</title><content type='html'>“Kamu siapa sih? Aku gak kenal kamu. Jadi jangan kirimi aku surat lagi.” &lt;br /&gt;Rudy bolak-balik membaca balasan surat dari sahabat penanya itu. Gak mungkin Rafli lupa padaku.  Tapi tulisan tangan disurat ini benar-benar tulisan Rafli, pikir Rudy heran.&lt;br /&gt; Hari libur Rudy mengunjungi tantenya yang ada di Bandung. Tiba-tiba Rudy melihat Rafli di terminal. Rudy pun mendekati Rafli.Dia baru ingat kalo Rafli tinggal di Bandung juga.&lt;br /&gt;“Rafly! Apa kabar?”&lt;br /&gt;“Siapa kamu?jangan sok akrab yah,” jawab Rafli ketus. Rafli pun pergi meninggalkan Rudy begitu saja. Karena penasaran, Rudy pun mengikuti Rafli sampai ke rumahnya. Begitu sampai Rudi bertemu dengan ibunya Rafli.&lt;br /&gt;“Sejak Rafli mengalami kecelakaan, dia mengalami amnesia.,” ucap Ibunya Rafli sedih.&lt;br /&gt; Pantesan Rafli lupa padanya, sebab Rafli lupa pada masa lalunya, batin Rudy lega.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-8846824398981123629?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/8846824398981123629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/flash-fiction.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/8846824398981123629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/8846824398981123629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/flash-fiction.html' title='flash fiction'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-7680795858638550062</id><published>2010-12-04T17:10:00.000-08:00</published><updated>2011-09-15T18:55:49.904-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='babies story'/><title type='text'>celoteh anakku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-OvZFNS-ppoc/TnKsiBm4vQI/AAAAAAAAAL4/jevL3R0e3Gk/s1600/100_0059.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-OvZFNS-ppoc/TnKsiBm4vQI/AAAAAAAAAL4/jevL3R0e3Gk/s400/100_0059.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652770182850460930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dikelilingi 3 orang anak sungguh menggembirakan. Apalagi saat mendengar celotehan mereka yang tak terduga. Putri pertamaku jahil dan kritis. Putra keduaku serius dan gampang ngambek. Sedangkan putri ketiga suka meniru omongan orang kayak beo. Inilah celoteh-celoteh mereka yang menghiburku.&lt;br /&gt;   Baim sangat suka memegang tahi lalat dipipiku. Waktu itu dia masih berusia 2 tahun. Baim selalu bilang mau mentil tahi lalat mama akh,” ucapnya manja. Melihat tingkah kolokan Baim, kumatlah sifat jahit balqis kakaknya yang berusia 6 thn.. Dia pun ngomong begini&lt;br /&gt; “Entar lama-lama tahi lalat mama habis loh, kalo Baim mentil terus,” ucap kakaknya sambil tertawa-tawa. Baim pun ngambek dan berkata dengan marah&lt;br /&gt; “Kak balqis jahil nih! Udah buang aja kakaknya Ma,” ucap Baim sambil menangis. &lt;br /&gt; Pernah suatu hari saya dan bapaknya anak-anak mandi berdua. Setelah melihat gak ada anak-anak karena sedang bermain. Gak tahunya begitu keluar dari kamar mandi balqis pulang dan langsung protes,&lt;br /&gt; “Mama, ayah, kata Ibu Guru agama gak boleh laki-laki dan perempuan mandi berdua karena bukan muhrimnya. Kok Mama dan Ayah mandi bareng? Tanyanya kritis.&lt;br /&gt; Sempat bingung juga menjawab karena ditodong tiba-tiba. Akhirnya ayahnya menjawab juga sambil pura-pura tak terjadi apa-apa&lt;br /&gt; “Kan Mama sama Ayah sudah menjadi suami istri, jadi sudah muhrim.” Ayahnya pun menjelaskan secara panjang lebar sampe balqis paham.&lt;br /&gt; “Oh begitu ya Yah.” Balqis pun mengangguk-anggukan kepala..Tertangkap basah deh…&lt;br /&gt; Kalo putri ketigaku lain lagi. Karena sering mendengar anak-anak tetangga nyanyi lagu keong racun diapun suka ngomong begini.&lt;br /&gt; “Ma, Tuh ada ikan bohay,” tunjuknya ke arah televisi.”&lt;br /&gt; “Ikan Bohay? Ada-ada aja kamu Nak jawabku gemes.”&lt;br /&gt; Pas ditanya “ lisa mau makan pake apa?”&lt;br /&gt; “Pake ikan bohay,” jawabnya polos..Penasaran juga darimana Lisa dapat kata bohay tersebut.&lt;br /&gt;Rasa penasaranku pun terjawab. Ternyata Alisha suka ngomong bohay karena dia dengar kata-kata tersebut dari lirik lagu keong racun yang baitnya begini “ mentang-mentang Bohay gue dianggap jablay…Aya-aya wae…&lt;br /&gt;Suatu hari seorang teman pernah bertanya&lt;br /&gt;“Lisa orang mana sih?”&lt;br /&gt;“Orang Nanggela. Nanggela siti bangeett,” jawab Lisa. Maksudnya mau bilang Nanggela City. He..he…Ternyata Lisa tahu juga  kalo dia warga Nanggela, karena kami tinggal di daerah Nanggela. Lalu waktu Mpok Yuli tetangga saya datang mau ngutip uang arisan, “Ma, itu Mpok Yuli tukang duit datang,” teriak Alisha spontan kami yang mendengarnya tak dapat menahan tawa. &lt;br /&gt;Suatu saat aku mencoba memberitahu Lisa ketika dia bilang “ Ma, Lisa Pipis.”.&lt;br /&gt;“Lisa kalo mau pipis bilang Mama yah,”&lt;br /&gt;“Inikan sudah bilang Ma,” jawabnya tanpa merasa berdosa.&lt;br /&gt; Lisa..Lisa..masak udah ngompol di celana baru bilang. Padahal Maksud Mama kalo sesak pipis bilang Mama, biar diantar ke kamar mandi,” jawabku lagi..&lt;br /&gt;Tapi yang terjadi Lisa tetap ngompol dicelana dan berkata hampir setiap hari pada kakak dan abangnya.&lt;br /&gt;“Kak Balqis, Bang Bain, kalo mau pipis bilang-bilang Mama yah.. Owalah….dasar Lisa beo. Aku pun tak jadi memarahinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-7680795858638550062?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/7680795858638550062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/celoteh-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7680795858638550062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/7680795858638550062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/celoteh-anak.html' title='celoteh anakku'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-OvZFNS-ppoc/TnKsiBm4vQI/AAAAAAAAAL4/jevL3R0e3Gk/s72-c/100_0059.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-2307869251434108915</id><published>2010-12-01T19:42:00.000-08:00</published><updated>2011-09-15T18:37:28.023-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>kauman dan kenangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-hYxFyfbhBJw/TnKoNKGBuUI/AAAAAAAAALY/Uq-Yj4XOZpI/s1600/kauman.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 186px; height: 139px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-hYxFyfbhBJw/TnKoNKGBuUI/AAAAAAAAALY/Uq-Yj4XOZpI/s400/kauman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652765426304792898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu membaca buku yang berjudul Kauman yang ditulis oleh Dr.Sidik jatmika, MSi dan M Zahrul Anam , S.Ag, Msi, kenangan-demi kenangan pun muncul kembali ke permukaan. Kenangan saat menjadi murid di sebuah  Madrasah Muhammadyah dan tinggal di asrama. Kenangan gugupnya saat praktek mengajar di SD Pawiyatan Muhammadyah khusus putri..Kenangan betapa senangnya melihat sekatenan dan sholat di masjid gedhe. Kenangan saat bulan Ramadhan ketika membeli bukaan di kauman yang dikenal dengan pasar tiban Ramadhan. Juga kenangan sedih ketika salah seorang teman meninggal di rumah sakit PKU Muhammadyah akibat kecelakan, Tapi kenangan yang paling berkesan adalah saat tinggal diasrama putri di daerah Kauman.&lt;br /&gt;Kauman sendiri sebuah daerah di kelurahan Ngupasan kecamatan Gondomanan kota yogyakarta yang terletak sekitar 500 meter kearah selatan dari ujung Mallioboro. Dan 200 meter dari pagelaran utara keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kauman merupakan kampung yang termasyhur karena disinilah Muhammadiyah lahir. Yaitu tepat tanggal 8 Dzulhijjah 1330. bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 1912 oleh seorang tokoh yang dikenal dengan nama K.H. Ahmad Dahlan. Dan saya bangga menjadi salah satu murid di sekolah milik K. H dahlan ini. &lt;br /&gt;Baru saya sadari, banyak hal yang saya dapatkan selama mengecap pendidikan disana. Tak hanya ilmu umum yang saya terima, tapi ilmu tentang bagaimana menjadi seorang putri muslimah yang baik. Lewat  ilmu keputrian, ilmu agama, ilmu kejiwaan, ilmu mendidik, dan ilmu tentang bagaimana bermasyarakat lewat kegiatan pramuka, organisasi islam, dan kegiatan positif lainnya yang saya terima.&lt;br /&gt;Saya juga mendapatkan banyak pengalaman yang menarik, unik dan berkesan selama diasrama. Selama tinggal diasrama, saya bertemu banyak orang dengan berbagai karakter unik yang mereka bawa. Hingga saya tertarik untuk mempelajari ilmu tentang manusia. Untuk itulah setelah tamat, saya memilih kuliah jurusan psikologi. Tak hanya sampai disitu. Kejadian-kejadian yang saya alami selama tinggal diasrama putri, memperkaya hidup saya dengan pengalaman-pengamalan yang baru.&lt;br /&gt;Saya yang tadinya tidak pernah mencuci baju, begitu tinggal diasrama harus mau mencuci baju sendiri. Saya yang tadinya suka memilih-milih makanan, begitu tinggal diasarama harus mau makan dengan lauk seadanya. Meski jatah nasi tak dibatasi. Tetapi lauk tetap satu jua. Yaitu satu buah tempe, satu buah kerupuk dan semangkuk sayur sup. He..he.. Tapi terasa begitu nikmat karena makan bareng teman-teman dari berbagai daerah. Saya yang tadinya suka bangun kesiangan dan selalu terlambat pergi kesekolah, harus rela bangun pagi-pagi buta untuk sholat subuh. Saya benar-benar diajarkan tentang kemandirian, keberanian, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab lewat tugas-tugas piket selama di asrama. Benar-benar sekolah kehidupan yang tak akan saya dapatkan disekolah yang lainnya. Dan kenangan-kenangan itu tak berdiri sendiri. Ada kenangan tentang kauman didalamnya. Sebab sekolah saya terletak di daerah Notoprajan Kauman. Sedangkan asrama saya terletak di sebelah barat Kauman yaitu daerah Gerjen. &lt;br /&gt;Tak mungkin saya lupa, betapa nervousnya saya saat pertama kali praktek mengajar di SD Pawiyatan Muhammadyah Yogya khusus putri ini. Yang harus saya jalani sebagai salah satu syarat kelulusan. Memang kami disiapkan untuk bisa menjadi pendidik yang baik setelah tamat dari sekolah ini. Tak hanya menjadi pendidik di sekolah-sekolah tapi juga mampu menjadi pendidik dirumah untuk anak-anaknya kelak. &lt;br /&gt;Atau saat  pergi ke sekaten dengan rombongan anak asrama di malam hari. Kami disuruh berbaris tertib sampai di depan gerbang sekaten. Setelah masing–masing mendapatkan tiket masuk, kami berpencar untuk melihat-melihat sekeliling. Bagi yang punya uang, bisa membeli barang yang dijual. Tapi bagi yang uangnya pas-pasan, hanya bisa melihat-lihat saja. Tapi bagi anak asrama untuk bisa keluar dan melihat sekaten saja sudah senangnya minta ampun. Maklum, selama ini jarang keluar karena hampir 24 jam tinggal diasrama. Sebab untuk bisa keluar harus meminta ijin terlebih dulu. Tentunya dengan alasan penting dan masuk akal. &lt;br /&gt;Ada kebiasaan anak asrama yang sering membuatku tertawa sekaligus prihatin bila mengingatnya. Mulai dari kebiasaan yang bisa ditolerir sampe yang benar-benar harus diberi hukuman karena sudah kelewat batas. Misalnya saat ngantri kamar mandi. Ada yang diam-diam suka merebut antrian tanpa rasa bersalah. Padahal kita sudah ngantri dari subuh. hingga yang mendapat antrian terakhir membatalkan niat untuk mandi, karena takut terlambat sekolah. &lt;br /&gt;Atau kebiasaan temanku yang suka sekali baca komik. Sampe-sampe dia lupa mandi dan belajar. Bahkan suka tertawa-tawa sendiri saat sedang asyik membacanya. Pokoknya cuek is the best. Ada lagi kebiasaan temanku yang suka makan gorengan tapi gak pernah bayar. Istilahnya Jumanji. Ngambil lima ngaku siji. Alhasil si tukang gorengan yang menitipkan dagangannya diasrama tumpur Bandar. Terpaksalah ketua asrama menggantinya pake uang kas dari bendahara. &lt;br /&gt;Ada juga temanku yang sok sibuk. Hampir setiap hari minta ijin keluar asrama dengan alasan ada urusan organisasi. Pamong asrama percaya saja sebab untuk kepentingan sekolah. Tapi ujung-ujungnya malah telepon-teleponan dengan seorang cowok. Koin setumpuk pun sudah disiapkan terlebih dahulu. Di akhir kisah temanku yang sok sibuk ini ketahuan telah menikah siri dengan pacarnya. Akhirnya dia cuti dari sekolah karena hamil disaat  duduk di kelas 3 Madrasah. &lt;br /&gt;Kebiasaan temanku yang benar-benar diluar batas adalah suka mencuri. Suatu hari akhirnya ketahuan juga aksi temanku ini. Setelah anak-anak mengadakan penggeledahan dengan membongkar setiap kamar. Ditemukanlah sebuah kardus yang berisi barang anak-anak yang hilang dibawah kolong tempat tidur sebut saja namanya si A. si A pun dibawa ke aula untuk disidang. Tapi anak-anak sangat susah membuatnya mengaku. Begitu pamong asrama turun tangan barulah dia mau mengaku sambil menangis. Rupa-rupanya dia takut kalo nanti diberi minum yang sudah dibaca-bacain oleh bapak asrama lebih dulu.. Dimana reaksinya akan segera terlihat apabila orang yang meminumnya benar-benar mencuri. Yaitu badan akan bengkak-bengak dan merah-merah. Yang lebih edan lagi ada yang suka mencuri pakaian dalam. Setelah diketahui pelakunya anak yang cukup berada. Ternyata dia mencuri hanya sekedar iseng saja, bukan karena butuh. Persis pelaku kleptomania. Aya-aya wae pikirku &lt;br /&gt;Yang paling berkesan adalah saat guru matematika mengajar dikelas. Anak-anak yang tadinya males-malesan dan suka tidur waktu dikelas,  kembali bersemangat mengikuti pelajaran. Maklumlah, hampir setiap hari hanya bertemu  wanita semua. Begitu bertemu  guru lelaki yang tampan dan masih muda. Wajah anak-anak langsung cerah lagi. Bahkan ada juga temanku yang pelit bin medit dengan barang-barang miliknya. Sampe sampe makanan atau paket yang ia terima dari rumah dikunci dilemari. Padahal kebiasaan anak asrama bila punya makanan atau baru dapat paket, akan selalu membagi-bagikannya dengan teman minimal teman sekamar. Alhasil makanan yang ia simpan lama-kelamaan  berjamur. Akhirnya dibuang percuma begitu saja. Benar-benar mubazir.&lt;br /&gt;Banyak kisah manis, lucu, dan mendebarkan selama di asrama. Dan semua itu akan terus hidup sampai saya menjadi nenek-nenek. Keakraban yang terjalin begitu erat. Tiga tahun tinggal bersama dalam satu asrama membuat hubungan kami layaknya saudara sendiri. Suka dan duka hidup dirantau dikecap bersama-sama. Apalagi banyak diantara anak-anak yang berasal dari luar kota. Bahkan ada yang dari kalimatan, sumatera dan  aceh. Semuanya disatukan dengan membawa ciri kahs masing-masing. Setiap perbedaan yang ada lebur menjadi satu dengan saling memahami dan saling mengerti.&lt;br /&gt;Saat kelulusan sekolah tiba, kami pun dengan penuh haru menyanyikan lagu perpisahan. &lt;br /&gt;Kini terasa sungguh, semakin engkau jauh semakin tersa dekat. Akan kukembangkan, ilmu yang kau tanam di dalam hatikuuu… dirimu nuansa-nuansa bening. Hamparan laut tiada bertepi. Begitulah kira-kira bait lagunya. Sungguh membuat hati ini rindu bila mengenangnya kembali Rindu dengan Kauman dan kenangan yang ada didalamnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-2307869251434108915?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/2307869251434108915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/kisah-inspiratif-pro-u.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2307869251434108915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2307869251434108915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/12/kisah-inspiratif-pro-u.html' title='kauman dan kenangan'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-hYxFyfbhBJw/TnKoNKGBuUI/AAAAAAAAALY/Uq-Yj4XOZpI/s72-c/kauman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-846940742757500584</id><published>2010-10-10T23:41:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T18:49:43.684-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspresi jiwa'/><title type='text'>Takut Dan Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Ii014WthBGY/TnKrDJYf59I/AAAAAAAAALw/KXtfD8Ge50I/s1600/doa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 186px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Ii014WthBGY/TnKrDJYf59I/AAAAAAAAALw/KXtfD8Ge50I/s400/doa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652768552850024402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintai-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga rindu menjelma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan kutuntaskan rindu ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pertemuan yang indah dengan-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi  rasa takut pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat diri-Mu asing bagiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun bersimpuh memohon pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lagi Kau hadapkan diriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  surga dan neraka-MU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab aku tak butuh keduanya dalam mencintai-Mu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-846940742757500584?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/846940742757500584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/10/ekspresi-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/846940742757500584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/846940742757500584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/10/ekspresi-jiwa.html' title='Takut Dan Cinta'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Ii014WthBGY/TnKrDJYf59I/AAAAAAAAALw/KXtfD8Ge50I/s72-c/doa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-359322632893569709</id><published>2010-10-02T18:16:00.000-07:00</published><updated>2011-09-16T17:37:53.403-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='promo buku'/><title type='text'>TITANIC VERSI BARU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TKfidWU-LHI/AAAAAAAAAHI/QT59YgnTD6k/s1600/titanic2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 394px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TKfidWU-LHI/AAAAAAAAAHI/QT59YgnTD6k/s400/titanic2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5523632461830827122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TKfhZe0psMI/AAAAAAAAAHA/RN3puNbP9-g/s1600/cover+crazmo.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 90px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TKfhZe0psMI/AAAAAAAAAHA/RN3puNbP9-g/s400/cover+crazmo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5523631295880081602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; kumpulan 51 cerita gokil yang diambil dari kisah nyata. Ada juga cerita titanic versi gokilnya loh. buruan pesannnn! bebas ongkos kirim bagi yang mesan sebelum 15 oktober. dapat diskon 10 % lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YOU JUMP! I JUMP! DO YOU REMEMBER? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentu masih ingat kan kalau bagian dialog ini ada di film titanic. by the way, dalam buku crazmo yang awal okt ini akan terbit ada kisah gokilnya loh? penasaran? buruan serbu buku ini atau  pesan lewat daku juga bisa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-359322632893569709?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/359322632893569709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/10/titanic-versi-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/359322632893569709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/359322632893569709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/10/titanic-versi-baru.html' title='TITANIC VERSI BARU'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TKfidWU-LHI/AAAAAAAAAHI/QT59YgnTD6k/s72-c/titanic2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-3300532339250771368</id><published>2010-09-20T21:26:00.000-07:00</published><updated>2011-09-17T05:46:52.228-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspresi jiwa'/><title type='text'>RINDU YANG TAK PERNAH DIAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TJhLFFc5IxI/AAAAAAAAAGY/qfag_NhKkz8/s1600/iir+12.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 286px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TJhLFFc5IxI/AAAAAAAAAGY/qfag_NhKkz8/s400/iir+12.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519243894077334290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kuatnya ikatan batin diantara kita&lt;br /&gt;Hingga rindu ini tak pernah diam.  Untuk menyambangimu yang penuh sejuta kenangan bagiku.&lt;br /&gt;Setiap detik selalu membayangkan dirimu yang nyaman dan artisitik itu.&lt;br /&gt;Ketika berjalan sepanjang arcade mallioboro. &lt;br /&gt;menikmati tembang kaki lima sambil menjawab ramah sapa orang-orang yang duduk bersila&lt;br /&gt;yang menawarkan aneka cenderamata yang menawan hati&lt;br /&gt;Serta berbagai karya yang penuh kreasi&lt;br /&gt;Dari para pegiat senimu&lt;br /&gt;Yang tak pernah mati inspirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meniti tapak-tapak kebersamaan&lt;br /&gt;Meresapi sejuknya kabut kaliurang&lt;br /&gt;Mendengarkan dedaunan basah berdendang&lt;br /&gt;Mencengkram indahnya jalinan cinta dan persahabatan&lt;br /&gt;Dipelataran hatiku yang lengang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan nyanyian ombak parangtritis nan mistis&lt;br /&gt;Dengan hembusan udaranya yang ramah&lt;br /&gt;Bagaikan dirimu&lt;br /&gt;Yang begitu bersahabat penuh selaksa makna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  menepi sejenak&lt;br /&gt; Di alun-alun selatan dan utara&lt;br /&gt;Menikmati jagung bakar aneka rasa&lt;br /&gt;Ditemani hangatnya wedang ronde &lt;br /&gt;Untuk mencairkan bekunya hatiku karena tikaman rindu dan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TJhCL1ezbiI/AAAAAAAAAFg/aVJXxJT9Ki4/s1600/iir+2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 257px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TJhCL1ezbiI/AAAAAAAAAFg/aVJXxJT9Ki4/s400/iir+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519234114444815906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah diriku tengah mencari bahagia?&lt;br /&gt;Laiknya  each, pray, and love yang mencari mencari arti bahagia.&lt;br /&gt;Sejatinya aku bahagia hidup bersama ketiga malaikat kecilku &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;dan belahan jiwaku&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak hendak mencari kebahagiaan baru.&lt;br /&gt;Aku hanya ingin mengunjungimu yang pernah membuat diriku bahagia dulu&lt;br /&gt;Yah dulu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya sebuah masalalu. Tapi aku tak ingin menjadikanmu hanya sebagai persinggahan kenangan bagiku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kenangan saat menghabiskana masa remajaku nan ceria dan penuh inspirasi bersama sahabatku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan saat menghabiskan waktu bersama pasangan jiwaku yang kini telah menjadi pendamping hidup setiaku&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan saat menuntut ilmu yang berguna untuk dunia dan akhiratku. Hingga kutemukan ilmu tentang kehidupan itu sendiri darimu yang ramah, hangat dan bersahaja itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ilmu bagaimana belajar berbagi dengan teman-teman dari berbagai kota yang merantau bersamaku. Hingga menangis dan tertawa bersama&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana belajar mandiri dalam menjalani hidup seorang diri ketika jauh dari sanak keluarga. &lt;br /&gt;Serta belajar  memecahkan masalah sendiri ditengah getir dan pahitnya hidup yang kujalani.&lt;br /&gt;Semua itu terpatri indah dalam hidupku. Untuk kukenang dan kurindui sampai akhir hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rinduku yogya.... Untuk yang kesekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TJhBslk8CqI/AAAAAAAAAFY/0_rWYVrvbFo/s1600/becak+yogya.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 254px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TJhBslk8CqI/AAAAAAAAAFY/0_rWYVrvbFo/s400/becak+yogya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5519233577599634082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-3300532339250771368?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/3300532339250771368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/09/rindu-yang-tak-pernah-diam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3300532339250771368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3300532339250771368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/09/rindu-yang-tak-pernah-diam.html' title='RINDU YANG TAK PERNAH DIAM'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TJhLFFc5IxI/AAAAAAAAAGY/qfag_NhKkz8/s72-c/iir+12.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-2469615603011855743</id><published>2010-09-06T18:02:00.001-07:00</published><updated>2011-09-16T19:25:36.335-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my cerpen'/><title type='text'>cerpen memaafkan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TIWPhmWsztI/AAAAAAAAAEo/AWyAwIISYsE/s1600/Untitled.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TIWPhmWsztI/AAAAAAAAAEo/AWyAwIISYsE/s400/Untitled.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513971126179253970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kata kata yang menghancurkan, meninggalkan bekas luka dihati. Memaafkan orang yang telah menggoreskan luka memang tak mudah. Butuh kesabaran dan keikhlasan hati dalam memberi maaf. Dihari kemenangan ini, mampukah ia melakukannya? Mengingat luka dihatinya cukup dalam pada mantan suaminya.&lt;br /&gt;Gema takbir dan tahmid berkumandang.menyerukan kebesaran dan keagungan Tuhan subhanahu wata’ala. Rasa syukur dan haru membaur menjadi satu. Syukur,karena telah menjalankan  ibadah puasa selama satu bulan dengan baik, meski tak penuh karena adanya tamu bulanan. Haru,karena sebentar lagi akan berpisah dengan bulan suci yang penuh rachmat.  Semoga Ramadhan kali ini, bukanlah menjadi Ramadhan yang terakhir baginya. Begitu pula harapan umat muslim di seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;Begitu memasuki aidil fitri, setiap umat muslim dan muslimah terlahir suci kembali. Bagaikan kertas putih yang tanpa noda. Baik seorang bayi yang  baru lahir kedunia. Hari-hari mendatang, akankah kertas putih bersih itu ia isi dengan catatan-catatan kebaikan?atau sebaliknya,catatan keburukan yang ia buat baik secara sengaja ataupun tidak.&lt;br /&gt;Mampukah ia mempertankan kebersihan hati dan pikirannya dari amaraah dan dendam? Memang,sebuah perjuangan yang cukup sulit. Sebagai manusia, ia tak bisa lepas dari godaan. Dan godaan hawa nafsu merupakan cobaan terberat dalam hidup manusia. Hawa nafsu amarah, benci, dendam, dan gemerlapnya duniawi. Kedepannya akankah imannya bertambah? atau semakin berkurang adanya.Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu kelemahannya. Sebagai manusia,dia hanya bisa berusaha sambil berdo’a, untuk terus memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik.&lt;br /&gt;Anisa memandang lepas keluar jendela. Menatap bintang yang berpijar-pijar indah dilangit yang tinggi. Kebiasaannya sejak kecil tak pernah hilang. Dulu bila ibu memarahinya karena salah, dia akan mengurung diri dikamar sambil menatap bintang-bintang, untuk mengobati rasa marahnya pada ibu. Sampai akhirnya ia mengantuk dan tertidur. Keesokan harinya rasa sedih dan marahnya tak ada lagi. Tapi sekarang, mengapa begitu sulit?&lt;br /&gt;Sekarang batinnya sedang gundah. Hanya dengan menatap bintang-bintang di langit yang hitam, dia merasa sedikit tenang. Mencoba menenangkan kegundahan hatinya dengan menikmati cahya bintang dimalam hari. Sambil tak lupa berdjikir memuji keindahan semesta ciptaan yang Kuasa.&lt;br /&gt; Kedua anaknya Alit dan Alisa sedang ikut neneknya kemesjid. Dia menikmati kesendiriannya. Dia perlu rehat sejenak setelah tubuhnya penat sehabis berbenah dan memasak aneka makanan untuk  hidangan lebaran. Opor ayam, ambal aty, dan sayur lodeh, telah beres ia kerjakan.Sedangkan kue-kue kering, jauh-jauh hari sudah ia pesan pada teman arisannya Shinta, yang memang dikenal pintar membuat aneka cake di kompleks perumahan merka.&lt;br /&gt; Akh…..sebenarnya tak ada tamu yang terlalu istimewa yang akan datang besok. Tapi bagi kedua anaknya, kedatangan ayah mereka dirasa sangat special. Seperti lebaran tahun lalu, ayah dari kedua anaknya itu akan datang lebih awal dari tamu-tamu yang lainnya. Tak sekedar menengok, tapi juga mengajak pergi Alisa dan Alit ketempat-tempat hiburan dan permainan. Setelah lebih dulu menyantap makanan bersama Alit dan Alisa. Dia ikut bahagia melihat binar-binar keceriaan diwajah kedua anak kesayangannya. Hanya itu yang ia rasa, tak lebih.&lt;br /&gt; Meski mantan suaminya meencoba bersikap sangat manis padanya dibanding sewaktu mereka masih menjadi sepasang suami istri,dia tetap tak tergerak. Padahal kata-kata yang diucapkan Bang Togar tak lagi sekasar dulu, saat dia masih menjadi istrinya. Ia tak tahu pasti apakah Bang Togar benar-benar  sudah berubah dan menyesali perbuatannya. Dengan berkali-kali memohon untuk ia maafkan. Ataukah sekedar siasat agar hatinya luluh dan mau rujuk kembali padanya?&lt;br /&gt; “Demi anak Annisa. Apakah kau tega menghancurkan masa depan mereka dengan perpisahan kita? Berilah abang kesempatan kedua.”&lt;br /&gt; “Tapi, aku belum bisa menerima Abang sekarang. Abang kan tahu, aku belum siap untuk berumah tangga lagi dengan abang,”jawabku dengan nada dingin.&lt;br /&gt; Bang Togar pun tak berkata-kata lagi mendengar jawabannya. Yah…..sikapnya belum berubah pada mantan suaminya itu pada saat lebaran tahun lalu.Tapi,bagaimana kalau besok Bang Togar kembali membujuknya untuk rujuk? jawaban apa yang akan diberikan? Hal itulah yang membuat hatinya dilanda  gundah dan bingung. Disatu sisi dia ingin melihat anaknya bahagia.tapi disisi yang lain, ada segores luka hati yang belum kering. Hanya saja, dia perlu waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan sayatan hatinya yang terluka cukup dalam.&lt;br /&gt; Maafkan hamba ya Allah…..yang sampai detik ini tak jua dapat menerima ayah dari anak-anak hamba. Karena hati ini pernah berdarah-darah dibuatnya. Bang Togar yang awalnya dikenal sebagai seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab, ternyata seorang yang sangat temperamental. Apabila dia melakukan kesalahan sedikit saja, cacian dan makian akan terlontar begitu saja dari mulut suaminya. Apalagi bila menyangkut pengasuhan kedua anaknya. Bang togar sangat mendiktenya sedemikian rupa. &lt;br /&gt;Perbedaan-perbedaan dalam pola asuh diantara mereka semakin tajam. Diapun sudah tak mampu bertahan lagi dalam biduk rumah tangga yang di dalamnya kerap terjadi percekcokan. Hampir tak ada lagi keharmonisan seperti di awal-awal pernikahan. Mungkin pola asuh dalam keluarga berperan besar dalam membentuk karakter suaminya.&lt;br /&gt;Memang,sejak kecil Bang Togar di didik  penuh dengan disiplin dan ketat oleh bapaknya. Maklum, bapak Bang Togar adalah seorang militer. Pukulan dan kata-kata kasar adalah makanan sehari-hari bagi mantan suaminya.&lt;br /&gt;Berbeda dengan dirinya . Sedari kecil ia di didik dengan pola demokrasi dan penuh kasih sayang serta kelembutan. Hampir tak pernah dia mendapat perlakuan kasar dari kedua orang tuanya. Apalagi dia merupakan anak perempuan satu–satunya dikeluarga. Posisi tersebut membuatnya sedikit manja dan terkadang berlaku kekanak-kanakan. Dan tanpa sadar terbawa hingga ia memiliki suami. Salah satu yang membuat Bang Togar mengkritik tingkah lakunya.&lt;br /&gt; Bang Togar ingin dia bersikap dewasa dan tegas.Dan dia sudah berusaha memenuhi harapan Bang Togar. Sudah banyak perubahan yang ia lakukan. Tapi Bang Togar tetap tidak mau berubah. Malah semakin membuatnya tertekan dengan mengekang kebebasannya. Membatasi segala aktivitasnya  diluar rumah. Jadwal berkunjung kerumah keluarganya juga sangat dibatasi. Tak ada toleransi keluar rumah sekedar mengusir kejenuhan. Bang Togar hanya ingin ia dirumah saja mengurus anak-anak. Tak ayal, dia pun tak lagi merasakan rumah tangganya sebagai surga.&lt;br /&gt; Malam bertambah larut .tapi dia tak jua bisa memejamkan mata, meski badannya terasa lelah. Pikirannya masih dipenuhi oleh pergulatan-pwrgulatan batin yang ta kunjung bisa ia temukan jalan keluarnya. &lt;br /&gt; “Assalamualaikum…” kesendiriannya terusik mendengar suara salam dari Alit dan Alisa. Berbarengan. Rupanya mereka sudah pulang dari mesjid. &lt;br /&gt; “Waalaikum salam...,”jawabnya . segera dia keluar kamar menemui kedua anaknya.&lt;br /&gt; Hari mulai terang-terang laras.sanak keluarga yang sedari tadi ramai memenuhi rumah Mamak mulai pamit satu-persatu. Annisa pun membereskan rumah dan mencuci perabotan yang kotor. &lt;br /&gt; “Alisa dan Alit. Ayo Bantu Ummi membereskan meja makan,” perintahnya lembut. Namun kedua malaikat vkecilnya itu tak jua beranjak dari kursi tamu. Wajah keduanya terlihat begitu tak bahagia. Ada rona kesedihan terpancar dari wajah anak-anaknya.&lt;br /&gt; Annisa sangat mengerti kalau kedua buah hatinya sangat kecewa lebaran kali ini. Diantara semua tamu yang datang, hanya ayah mereka yang belum muncul sampai sesore ini. Meski dia tak terlalu memikirkannya, tapi dia tak bisa cuek untuk tak memikirkan perasaan permata hatinya. Bagaimanapun, tak ada yang namanya bekas ayah bagi seorang anak.&lt;br /&gt; “Ayah kok belum datang juga Mi. Alisa kan pengen jalan-jalan sama ayah.”&lt;br /&gt; “Iya. Alit juga pengen main games sama ayah.”&lt;br /&gt; “Pokoknya kami enggak mau lebaran tanpa ayah!” kedua anaknya berseru kompak dan langsung masuk ke dalam kamar. Melihat itu, Annisa ikut sedih.&lt;br /&gt; Rasanya, dia ingin menelepon Bang Togar. Menanyakan mengapa dia tak datang mengajak anak-anak? Tapi dia urungkan niat tersebut karena gengsi. Bukankah itu sudah kewajiban Bang Togar sebagai seorang ayah? Buat apa dia susah-susah mengingatkan. Tiba-tiba telepon diruang tamu berdering saat dia sedang sibuk di dapur. Tak lama kemudian Mamak menghampirinya, membawa berita yang tak pernah ia harapkan.&lt;br /&gt; “Bang Togar sakit apa katanya Mak?” Annisa bertanya cemas.&lt;br /&gt; “Yang Mamak dengar tadi terkena serangan jantung. Dan sekarang sedang dirawat diruang ICU.”&lt;br /&gt; Tanpa menunggu lagi, dia segera mengajak Mamak, Alit dan Alisa ke rumah sakit malam itu juga. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, tak henti-hentinya dia berdoa. Dalam  hatinya ada sejumput penyesalan, karena masih bersikap argan untuk tidak memaafkan mantan suaminya. &lt;br /&gt; Ya Allah! Lenyapkanlah dendam dihati hamba. Agar lebih optimis dan ringan dalam melangkah. Juga bukakanlah pintu hati Bang Togar untuk bisa berubah. Amin…Ia menutup doanya dengan air mata berlinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di majalah alia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-2469615603011855743?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/2469615603011855743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/09/cerpen-memaafkan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2469615603011855743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2469615603011855743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/09/cerpen-memaafkan.html' title='cerpen memaafkan'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TIWPhmWsztI/AAAAAAAAAEo/AWyAwIISYsE/s72-c/Untitled.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-4916477004346672116</id><published>2010-09-01T03:13:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T10:54:30.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>pernikahan yang tak biasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH4s44Hs8BI/AAAAAAAAAEg/_cYChPdRSqI/s1600/iir+11.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 278px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH4s44Hs8BI/AAAAAAAAAEg/_cYChPdRSqI/s400/iir+11.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511892349597052946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH4spkLo1BI/AAAAAAAAAEY/5vha-W0RMOk/s1600/iir+3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 268px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH4spkLo1BI/AAAAAAAAAEY/5vha-W0RMOk/s400/iir+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511892086546813970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitpun tak pernah terbayangkan kalau suatu saat aku akan menjadi pengantin tanpa didampingi oleh mempelai pria. Bayanganku dulu, aku akan bersanding dengan seorang pria pujaannku disaat menikah dengan memakai gaun yang indah. Apa mau dikata, karena terlalu terburu-buru untuk segera menjadi suami istri, aku dan pasangan rela menjalani pernikahan jarak jauh. Menjalani pernikahan yang tidak biasa.&lt;br /&gt;Ceritanya begini. Kami berpisah sudah dua tahun lamanya. Pasanganku memilih bekerja di luar negeri, dan meninggalkanku di tanah air. Kami berhubungan lewat internet, dan hanya sesekali lewat telepon, karena biayanya yang mahal. Maklum, pulsanya dihitung Internasional. Bisa-bisa habis gajinya untuk membayar pulsa yang pasti akan membengkak hebat, bila sering-sering menelpon. Jadi, kami lebih banyak berkirim e-mail dan chatting saja lewat internet.&lt;br /&gt;Tak terasa, sudah hampir dua tahun kami menjalani hubungan antara Auckland dan Yogya ( waktu itu kebetulan aku masih sekolah di kota gudeg) Bayangkan, betapa besar rindu yang kami pendam karena lamanya berpisah. Mungkin tepat bila dibilang kami saling rindu dendam he..he..he..&lt;br /&gt;Pasanganku mulai berbicara soal pernikahan, karena takut kehilanganku. Memang niat kami dari awal serius untuk berumah tangga. Tapi, dia belum bisa memastikan kapan akan pulang ke Indonesia. Aku pun bisa mengerti.&lt;br /&gt;Mulailah kami bicarakan niat kami pada orang tua masing-masing. Bisa ditebak, apa jawaban kedua orang tua kami. “ Mengapa tidak menunggu pasanganku pulang ke Indonesia saja menikahnya?” tanya keluarga besarku. “Atau, kau pulang saja dulu untuk melangsungkan pernikahan, baru setelah itu kembali ke New Zealand bersama istrimu, jawab mertuaku, saat kekasihku mengutarakan niatnya untuk menikahiku segera.&lt;br /&gt;Calon suamiku pun menjelaskan bahwa dia tidak bisa pulang seenaknya, karena masih terikat kontrak kerja. Dia katakan pada keluarganya kalau dia sudah tak sabar agar aku segera menyusulnya ke sana. Sebab sudah tidak sanggup berpisah denganku, begitu &lt;br /&gt;juga aku. Untuk lebih amannya dia mengajakku menikah. Sehingga begitu kami bertemu, sudah sah menjadi suami istri.&lt;br /&gt;Aku pun segera pergi ke KUA untuk mengurus surat-surat pernikahan kami. Dimana rencananya yang menjadi mempelai pria adalah adik lelakinya. Suamiku disuruh membuat surat kuasa yang menyatakan bahwa adiknya diberi kuasa mewakili dirinya dalam akad nikah nanti. Lumayan repot juga sih, sebab aku juga harus mengurus paspor dan Visa. Dan semangatku lebih dari semangat 45. Mungkin karena sebentar lagi aku bisa bertemu kekasihku yang tak lama lagi akan menjadi suamiku. &lt;br /&gt;Aku nervous ketika acara puncak akan dimulai, yaitu akad nikah! Saking gugupnya, aku tidak menyimak apa yang dikatakan oleh adik calon suamiku. Yang aku ingat hanya kata terakhirnya saja yaitu sah..? sah..diiringi dengan tangis haru dari kedua orang tuanya. Aku pun tak dapat menahan air mata untuk tidak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di Auckland, suamiku pun tak malu-malu lagi memeluk dan memegangiku sepanjang perjalanan ke apartemennya. Karena dia merasa kami sudah sah menjadi suami istri. Meski dia merasa sedikit aneh dan berkata “Rasanya lucu saja dan sedikit tidak percaya kalau sekarang aku sudah menjadi istrinya, sebab dia merasa tak pernah mengucapkan ijab kabul. (karena adiknya yang ia kuasakan untuk mengucapkannya) Eh tahu-tahu aku sudah menjadi istrinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-4916477004346672116?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/4916477004346672116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/09/httpseuntaikatahatiblogspotcom201008cer.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/4916477004346672116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/4916477004346672116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/09/httpseuntaikatahatiblogspotcom201008cer.html' title='pernikahan yang tak biasa'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH4s44Hs8BI/AAAAAAAAAEg/_cYChPdRSqI/s72-c/iir+11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6386778973843998317</id><published>2010-08-27T22:28:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T10:55:50.568-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>rumah baru untuk ibuku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3RnAnRFHI/AAAAAAAAACo/whsQcVrqxTw/s1600/rumah+mande.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 98px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3RnAnRFHI/AAAAAAAAACo/whsQcVrqxTw/s400/rumah+mande.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511791987081155698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/THi8lx6mbUI/AAAAAAAAACQ/37aCAlp53eY/s1600/ok.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 296px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/THi8lx6mbUI/AAAAAAAAACQ/37aCAlp53eY/s400/ok.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510361501328108866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Iir Harun pada 28 Agustus 2010 jam 11:34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ceritaku yang masuk nominasi 20 pemenang dari 30 ribu peserta dalam lomba 100- blog kisah tentang ibu bersama ungu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tak pernah mau rumahnya dijual, meski dia harus tinggal sendiri tanpa anak-anaknya. Padahal kami khawatir dengan ibu yang sudah tua dan sakit-sakitan. Bayangkan saja, hampir semua anak ibuku tinggal dirantau. Ada yang di Jakarta, ada yang di Padang, dan ada yang di Yogyakarta.. Sebenarnya bukan setelah anak-anaknya menikah saja ibu harus rela ditinggal sendiri di Medan. Semenjak anak-anak ibuku tamat SMA, hampir semuanya memilih merantau ke Yogya untuk kuliah, termasuk diriku. Tak dapat kubayangkan bagaimana kesepiannya ibuku. Apalagi ayahku telah lebih dahulu dipanggil Tuhan. Otomatis ibu sering sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ibuku tak pernah melarang anak-anaknya untuk pergi. Baginya yang utama adalah, anak-anaknya menjadi orang yang pinter dan bisa bersekolah setinggi-tingginya. Meski harus merantau meninggalkan dirinya. Ibuku benar-benar mengikuti sunnah nabi yang berbunyi “ tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Sungguh luar biasa sosok ibuku di mataku. Padahal setiap kami kembali lagi ke Yogya setelah masa liburan habis, mata ibu akan berembun karena sedih dan haru. Sedih karena harus kembali ditinggal anak-anaknya dalam jangka waktu yang lama. Haru, demi melihat kami bisa mencicipi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, aku sangat ingin ibu pindah ke Jakarta. Selain semua anaknya tinggal di ibukota, aku ingin tinggal berdekatan dengan ibu. Maklumlah. Sedari SMA hingga menikah, aku hidup dirantau terus. Aku ingin membahagiakan beliau dengan sering mengunjunginya dan mengurusnya. Dan itu bisa terlaksana kalau ibu tinggal tak jauh dariku. Tapi ibu menolak dengan alasan tak ingin meninggalkan rumahnya yang penuh kenangan asam dan manisnya hidup bersama Abak. Akh, ibu. Tak inginkah dihari tuamu, kau bisa berkumpul dengan anak-anakmu? Padahal kami sangat merindukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengobati rasa kangenku pada ibu, setahun sekali ibu kukirimi ongkos untuk datang ke Jakarta. Begitu sampai di Jakarta, ibu akan kubawa pergi jalan-jalan kemanapun dia suka. Bahkan ke kolam renang sekalipun, bersama anak-anakku yang ingin berenang. Tapi ibu paling suka bila kuajak ke pasar Anyar Bogor. Kebetulan aku tinggal di daerah bojonggede yang tak jauh dari bogor. Jadilah dengan nekat kuajak ibu naik kereta. Meski awalnya ibu takut, tapi kulihat dari matanya ibu begitu antusias dan bahagia dengan ajakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat ibu harus kembali lagi ke Medan, aku tak dapat menutupi rasa sedihku padanya. Dan lagi-lagi aku meminta agar rumah di Medan dijual saja, supaya ibu bisa membeli rumah tak jauh dari rumahku. Agar setiap saat aku bisa bersama ibu dan mengajaknya jalan-jalan. Juga membacakan cerita-ceritaku padanya. Kebetulan aku suka menulis cerpen dan sering dimuat di media. Ibu berkata akan mempertimbangkannya. Aku merasa diberi setitik harapan. Hingga berdoa semoga ibu tak merubah niatnya untuk membeli rumah di daerah bojongggede. Karena ibu merasa betah tinggal di daerah tempat tinggalku yang menurutnya sejuk dan tidak panas seperti di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah ibu pulang ke Medan, ibu jatuh sakit. Kami pun memutuskan untuk mengobati ibu di Jakarta saja, agar lebih efisien dan efektif. Mengingat hampir semua anaknya tinggal di kota metropolitan. Ibu pun tak menolak dan segera kembali lagi ke Jakarta untuk berobat. Begitu sampai, ibu segera kami bawa berobat ke dokter. Dan vonis yang mengerikan itu benar-benar menghancurkan hati kami anak-anaknya. Ibuku positif terkena kanker ganas. Duh Robbi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar tak kuduga sebelumnya. Ditengah kebahagiaanku mendapat kabar bahwa  salah satu cerpenku di annida online akan dibukukan bersama 11 penulis lainnya, ibu harus terkapar dirumah sakit karena menderita kanker dan komplikasi paru-paru yang parah. Mengapa cobaan itu datang ditengah kegembiraan yang seharusnya kubagi dengan Ibu, yang selama ini selalu setia mendengar cerita –ceritaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Aku tak bisa lupa betapa antusiasnya ibu memintaku untuk membacakan ceritaku yang dimuat, karena matanya mulai kabur diusianya yang sudah beranjak senja. Dengan senang hati aku pun membacakan ceritaku sendiri untuk ibu hingga selesai. Dia pun dengan tekun menyimak setiap kata demi kata yang aku bacakan untuknya. Juga ketika kuutarakan pada ibu bahwa aku ingin membuat cerpen tentang gempa dengan judul “ Rumah mande” Cerpenku yang akhirnya di muat oleh annida –online dan menjadi cerpen pilhan pembaca dibulan nop 2009. hingga dibuatkan video testimoninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti rumah ibu benar-benar kena gempa, Ti,” ucapnya sambil tertawa tergelak-gelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak mungkinlah bu. Ini kan cuma sebuah cerita,” jawabku ikut tertawa. Kami pun tertawa bersam-sama setelah itu. Baru kali ini kulihat ibu bisa tertawa begitu senangnya. Setelah sekian lama hatinya dilanda duka.﻿&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah sejak kedua kakak lelakiku meninggal karena kanker, ibuku sempat murung dan bersedih. Bahkan tak lama abang tertuaku meninggal karena kanker hati. ibu  pergi berjalan seorang diri entah kemana. Dia terus berjalan tanpa tujuan. Dan akhirnya pulang setelah kami menunggu dengan cemas dirumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entah mengapa, ibu tiba-tiba ingin berjalan kaki kemana ibu suka,” jawabnya saat kami tanya kemana saja dirinya. Akh…mungkin ibuku bingung harus bagaimana melepaskan rasa sedihnya karena baru kehilangan anak kebanggaannya yaitu Uda Wan, kakak tertuaku. Anaknya yang paling cerdas dan berprestasi. Hingga bisa sekolah keluar negeri tanpa biaya. Sekaligus tulang punggung keluarga penggati Abak yang telah lebih dulu meninggalkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh! Hati ini tak kuat membayangkan tubuh ibu yang sudah renta itu harus menjalani pengobatan seperti kemotrapi dsb. Apalagi yang kudengar dari orang-orang yang pernah terkena kanker mengatakan bahwa setelah habis dikemo, rasanya sakit sekali. Lebih baik digebug oleh orang sekampung daripada harus dikemo. Duh Robbi! betapa pilunya hati ini mendengarnya.  Setiap malam aku menangis memikirkan ibu. Aku tak kuat memandang wajahnya yang selalu meringis menahan sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk ibuku. Ya Allah…kalau memang ibu masih diberi umur, sembuhkanlah penyakitnya. Tapi kalau memang umurnya sudah sampai, Mudahkanlah jalannya menuju tempat-Mu disana. Ringankanlah sakitnya. Berilah ia kekuatan dan ketabahan dalam menjalani penyakitnya. Doaku tiada henti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya doaku dikabulkan oleh yang kuasa. Setelah beberapa bulan berjuang melawan sakitnya, akhirnya Ibu dipanggil oleh Allah dengan tenang dan mudah. Kami pun memutuskan untuk memakamkan ibu tak jauh dari rumahku. Niat untuk menguburkan ibu di Medan disamping makam ayah, tak bisa kami wujudkan. Mengingat akan menelan biaya yang sangat mahal dan memberatkan ibu sendiri. Karena harus menunda-nunda pemakamnnya dengan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ibuku benar-benar tinggal tak jauh dariku dirumah barunya.. Selamat jalan Bu. Semoga dirumahmu yang baru ini, kau akan merasa bahagia selama-lamanya. Karena doa kami anak-anakmu, akan selalu menemanimu disana. Amin…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6386778973843998317?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6386778973843998317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/08/lomba-1000-blog-tentang-ibu-bersama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6386778973843998317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6386778973843998317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/08/lomba-1000-blog-tentang-ibu-bersama.html' title='rumah baru untuk ibuku'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3RnAnRFHI/AAAAAAAAACo/whsQcVrqxTw/s72-c/rumah+mande.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-2684835901588657860</id><published>2010-08-25T01:56:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T18:24:14.466-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='babies story'/><title type='text'>ketika balitaku punya adik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3YAXdOzkI/AAAAAAAAADY/lsm1fvVrlaA/s1600/IMG0283A.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3YAXdOzkI/AAAAAAAAADY/lsm1fvVrlaA/s400/IMG0283A.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511799019779575362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anakku protes dan menjerit histeris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali balqis anak pertamaku punya adik, ada rasa khawatir dihatiku. Maklumlah, selama ini hanya dia yang selalu kuurus dan kuperhatikan. Setelah adiknya lahir, otomatis perhatianku terbagi. Apalagi jarak mereka cukup dekat, yaitu 1 tahun setengah. Aku tak bisa lagi fokus mengurus balqis sepenuhnya. Seperti menyuapinya makan, memandikannya, hingga menidurkannya sambil mendendangkan lagu. Semua itu tak bisa lagi kulakukan rutin setiap harinya seperti dulu. &lt;br /&gt;Tapi yang paling repot adalah mengurus makannya Balqis. Anak pertama ku ini paling susah makan kalau tidak disuapi. Selama ini aku dengan sabar menyuapinya makan. Tapi setelah adik lelakinya lahir, aku sering tak sempat apalagi disaat adiknya rewel atau sedang menyusui. Aku pun berinisiatif mempekerjakan pembantu yang khusus mengurusi balqis. Padahal tak mudah mencari pembantu yang cocok dan sayang dengan anak kecil. &lt;br /&gt;Sempat kesel juga saat menemukan pembantu yang tak sabaran dalam mengurus anak kita sendiri. Selain kasihan, aku menjadi lebih repot karena harus gonta-ganti pembantu sampai ketemu yang cocok dan telaten mengurus Balqis anakku. Untunglah pada akhirnya kutemukan juga pembantu yang sesuai kriteriaku. Telaten, sabar dan sayang anak kecil. Masalah pertama pun selesai. Namun prakteknya tak semudah yang kubayangkan.&lt;br /&gt;Suatu hari  Balqis tiba-tiba ngadat dan tak mau disupain sama mbaknya. Dan puncaknya, dia menjerit histeris. Aku pun panik dan segera membujuknya. Tapi Balqis tetap menangis malah semakin keras tangisnya. Aku bingung sekali. Tampaknya  Balqis benar-benar frustrasi dengan perlakuanku yang tak lagi seperti dulu. &lt;br /&gt;Mungkin dalam pikiran kanak-kanaknya, ibunya lebih sayang pada adiknya dari pada dirinya, karena lebih banyak mengurus adiknya yang masih bayi. Apalagi malamnya aku sering bangun untuk menyusui. Maka siangnya disaat adiknya tidur kuusahakan untuk tidur juga. Demi melunasi hutang tidurku. Setelah kutanya berulang-ulang rupanya  Balqis keberatan bila aku tak mengajaknya bermain, tapi memilih tidur. Dia pun menjerit sekeras-kerasnya menunjukkan rasa protesnya padaku. Weleh..weleh…!&lt;br /&gt;Pernah juga aku dikejutkan oleh ulah balqis yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Ketika aku sedang memasak di dapur, tiba-tiba perasaanku tak enak dan ingin segera melihat anakku di kamar. Masya Allah! Dengan mata kepalaku sendiri kulihat Balqis tengah menutupi wajah adiknya dengan sebuah bantal. Segera aku berteriak histeris sambil berlari untuk mengangkat bantal yang ada di tangan anak pertamaku itu. Aku benar-benar shok membayangkan seandainya aku telat sedikit, pasti adiknya menjadi korban. Balqis pun ikut menangis karena terkejut mendengar suaraku yang cukup keras saat berteriak tadi. &lt;br /&gt;Sejak itu, aku tak ingin lengah lagi. Bila si mbaknya belum datang, kuputuskan untuk tidak meninggalkan adiknya ke dapur ataupun ke kamar mandi meskipun hanya sebentar. Anak seusia balqis memang masih polos. Dia belum mengerti dengan apa yang dia lakukan. Bahkan pernah juga kudapati balqis tengah menduduki adiknya. Maksudnya ingin mengajak adiknya bermain kuda-kudaan. Terang aja aku berteriak-teriak karena panik. Ya ampyun! Balqis benar-benar gak bisa ditinggalkan berdua dengan adiknya saja. Aku pun semakin berhati-hati dengan lebih mengawasi anak perempuanku itu.&lt;br /&gt;Aku kerap merasa bersalah bila menyalahkan Balqis. Sebab dia belum tahu apa-apa. Sebagai gantinya, aku kerap melibatkan balqis dalam mengurus adiknya. Misalnya minta tolong untuk mengambilkan celana adiknya, bedaknya, juga mengajaknya memandikan adiknya. Tak kuduga, balqis senang sekali dilibatkan dalam mengasuh adiknya. Perlahan-lahan, dia pun mulai sayang pada adik barunya. Dan aku sendiri berusaha untuk tak berubah drastis dalam memberi perhatian padanya. Hatiku pun menjadi lega, saat balqis tak lagi rewel seperti awal pertama kali dia punya adik. Apalagi saat dia berkata dengan bangga pada teman-temannya, bahwa dia sekarang sudah punya adik yang lucu. Hatiku pun ikut bahagia mendengarnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-2684835901588657860?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/2684835901588657860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/08/lomba-ketika-balitaku-punya-adik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2684835901588657860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2684835901588657860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/08/lomba-ketika-balitaku-punya-adik.html' title='ketika balitaku punya adik'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3YAXdOzkI/AAAAAAAAADY/lsm1fvVrlaA/s72-c/IMG0283A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6882277198369939705</id><published>2010-07-27T19:17:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T18:47:23.851-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspresi jiwa'/><title type='text'>cinta untuk bunda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-2VNEET4PAUw/TnKqjeMZSJI/AAAAAAAAALo/pmyPB-mgBUc/s1600/ibu-.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 324px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-2VNEET4PAUw/TnKqjeMZSJI/AAAAAAAAALo/pmyPB-mgBUc/s400/ibu-.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652768008680589458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda…&lt;br /&gt;Kehangatan cinta ini tetap untukmu&lt;br /&gt;Meski sorot matamu kini tak bernyawa&lt;br /&gt;Tak lagi sehangat dekapan dan belaianmu&lt;br /&gt;Yang kini hanya tinggal cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda…&lt;br /&gt;Binar cintaku ini tetap milikmu&lt;br /&gt;Meski binar bahagia dimatamu yang keriput redup ditelan usia&lt;br /&gt;Tak lagi memiliki arti seperti dulu&lt;br /&gt;Karena kini kau tergeletak lemah tanpa daya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda…&lt;br /&gt;Kurindu sinar kecemasan itu dimatamu&lt;br /&gt;Saat mendapati diriku bermuram durja&lt;br /&gt;Biarlah kini kecemasan itu menjadi milikku&lt;br /&gt;Yang kian hari dipenuhi rasa putus asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunda…&lt;br /&gt;Tak akan mungkin kulupa&lt;br /&gt;Kedua pelupuk matamu yang menganak sungai oleh air mata&lt;br /&gt;Disaat bermunajat disepertiga malam demi keberhasilan ananda&lt;br /&gt;Tapi kini kedua pelupuk mata tuamu selalu basah oleh air mata derita&lt;br /&gt;Karena maut yang kelam mulai menggerogoti tubuhmu nan renta&lt;br /&gt;Oleh penyakit yang tak mengenal hati dan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Bunda…&lt;br /&gt;Waktu telah menjawab segala&lt;br /&gt;Betapa cintamu selalu mengalir untukku&lt;br /&gt;Bagaikan ricik air cinta yang tak pernah kering dihatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Robbi!&lt;br /&gt;Perkenankanlah pintaku&lt;br /&gt;Pinta yang kujalin dengan sepenuh cinta untuk Bunda&lt;br /&gt;Dari tasbih, zikir dan doa&lt;br /&gt;Agar kulihat lagi cinta dimatanya&lt;br /&gt;Cinta yang tulus dan abadi hingga akhir masa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6882277198369939705?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6882277198369939705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/07/cinta-untuk-bunda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6882277198369939705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6882277198369939705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/07/cinta-untuk-bunda.html' title='cinta untuk bunda'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-2VNEET4PAUw/TnKqjeMZSJI/AAAAAAAAALo/pmyPB-mgBUc/s72-c/ibu-.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-9220711591660532578</id><published>2010-07-20T02:44:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T20:12:20.170-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ungkapan hati'/><title type='text'>manfaat positif dari jejaring sosial</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-aA9PNuDXuQs/TnK-HORu1tI/AAAAAAAAAMY/sG3uk580bgA/s1600/fb.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-aA9PNuDXuQs/TnK-HORu1tI/AAAAAAAAAMY/sG3uk580bgA/s400/fb.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652789513604224722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak selamanya jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog dan sejenisnya membawa pengaruh yang negatif. Mungkin hanya sebagian kecil saja  yang memiliki pendapat seperti itu. Asal  digunakan untuk hal-hal yang berbau positif, maka akan membawa pengaruh dan manfaat yang positif juga bagi penggunanya. Banyak manfaat yang bisa diambil dari jejaring sosial yang kita ikuti diantaranya,&lt;br /&gt;1) Sebagai sarana untuk berbagi. Entah itu berbagi imformasi, atau berbagi pengalaman hidup baik suka maupun duka. Sebagai makhluk sosial, kita tentu ingin berbagi kegembiraan dan kesedihan dengan orang lain. Entah itu dengan teman dekat, sanak saudara, juga orang-orang yang kita kenal. Dijaman internet seperti sekarang, teman tak hanya kita temukan dalam dunia nyata saja, tapi juga dalam dunia maya. Kita tentu masih ingat kasus yang menimpa Prita mulyasari. Begitu banyak dukungan yang ia dapatkan dari para facebooker. Ketika tertimpa kasus  sebagai orang yang dituduh mencemarkan nama baik sebuah rumah sakit internasional di Jakarta.&lt;br /&gt;Disaat kita mengikuti jejaring social seperti facebook, maka otomatis kita mencari teman untuk berbagi pengalaman suka dan duka tadi. Dengan harapan untuk mendapatkan dukungan. Entah itu dengan teman lama yang sudah memiliki akun difacebook, atau yang  baru kita kenal. Bahkan mungkin seprofesi dengan kita. Misalnya sama-sama penulis atau sama-sama suka berdagang. &lt;br /&gt;Selain facebook, ada banyak milis yang bisa kita ikuti untuk berbagi. Disamping  untuk memperluas jaringan social serta  menambah wawasan kita. Ada milis seputar dunia ibu dan anak yang bisa diikuti oleh para ibu dan wanita yang baru menikah, Contohnya milis parenting. Sedangkan untuk wanita bisa mengikuti milis femina group. Dan masih banyak lagi milis yang lainnya. Asal kita terus mau mencari lewat internet dan memutuskan untuk bergabung dengan niat dan tujuan yang baik.  &lt;br /&gt;2) Sebagai sarana promosi. Bagi yang suka berdagang, media pemasaran bisa lebih meluas. Tak hanya dilakukan secara offline, tapi kini bisa dilakukan secara online. Salah satunya dengan memajang foto foto produk dan mempromosikan barang dagangan yang akan kita jual lewat facebook, website, ataupun blog pribadi. Dengan harapan, teman-teman yang ada di dunia maya tertarik setelah melihat barang apa saja yang kita tawarkan. Hingga memutuskan untuk membelinya&lt;br /&gt;3) Sebagai sarana untuk menyalurkan hobbi. Bagi yang suka menulis, jejaring social menyediakan banyak info-info lomba menulis sekaligus ajakan menulis dari para penulis yang lebih dulu terjun dalam bidang kepenulisan. Salah satunya lewat facebook. Bahkan tak sedikit milis-milis yang bisa diikuiti oleh penulis  pemula. Sebagai tempat untuk belajar dan menimba ilmu dari penulis yang lebih senior. Seperti milis penulis bacaan anak. Milis penulis lepas, juga milis-milis lainnya yang berhubungan dengan dunia kepenulisan. Tentunya kita bebas memilih untuk mengikuti milis apa saja yang sesuai untuk kita dan yang kita sukai. &lt;br /&gt;4) Sebagai sarana untuk berekspresi. Salah satunya dalam bidang menulis. Kita bebas mempromosikan tulisan kita tanpa takut diedit atau ditolak seperti yang dilakukan oleh media cetak. Baik berupa puisi, cerpen, ataupun dalam bentuk essay dan artikel. Entah itu lewat blog ataupun komunitas blog. Adapun komunitas blog yang bisa diikuti oleh penulis baik itu pemula ataupun yang sudah senior. diantaranya komunitas blogfam, blogindosiar, dan masih banyak komunitas blog di bidang dunia tulis menulis yang bisa diikuti. Bahkan kita juga bisa men-tag tulisan kita lewat facebook ataupun situs pertemanan yang lainnya..Dari tulisan yang kita tulis, kita bisa meminta orang-orang untuk memberikan masukan yang bermanfaat bagi kemajuan menulis kita. Baik lewat pujian maupun kritik yang membangun. &lt;br /&gt;Ini hanyalah sebagian dari manfaat jejaring sosial. Masih banyak manfaat lainnya yang bisa kita gali dari jejaring social seperti facebook, website, blog dan yang lainnya. Dengan menyadari banyaknya hal positif serta manfaat yang bisa kita peroleh dari jejaring sosial yang kita ikuti, maka jejaring sosial yang sehat dan aman akan tercipta dengan sendirinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-9220711591660532578?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/9220711591660532578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/07/manfaat-positif-dari-jejaring-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/9220711591660532578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/9220711591660532578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/07/manfaat-positif-dari-jejaring-sosial.html' title='manfaat positif dari jejaring sosial'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-aA9PNuDXuQs/TnK-HORu1tI/AAAAAAAAAMY/sG3uk580bgA/s72-c/fb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-8902483616766305948</id><published>2010-06-24T22:57:00.000-07:00</published><updated>2010-08-31T22:01:00.929-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kumcer pilihan yang penuh inpirasi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3eAfmFe7I/AAAAAAAAAD4/LBjMXmEJ90w/s1600/Balada+pengemis.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3eAfmFe7I/AAAAAAAAAD4/LBjMXmEJ90w/s400/Balada+pengemis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511805619033963442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TCRGWo6P1sI/AAAAAAAAACA/d6dEof4nRqg/s1600/cover+final.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 296px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TCRGWo6P1sI/AAAAAAAAACA/d6dEof4nRqg/s400/cover+final.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486587600796899010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  Sinopsis&lt;br /&gt;BALADA PENGEMIS&lt;br /&gt;Rusli memutuskan untuk pergi merantau dan bekerja sebagai seorang pelayan restoran rumah makan padang. Baginya, lebih baik hidup diatas kaki sendiri dengan bekerja, daripada harus hidup ongkang-ongkang kaki menghabiskan harta Abak seperti yang dilakukan oleh kedua saudara kandungnya.. Tapi akhirnya Rusli memutuskan untuk pulang setelah mendengar kabar yang mengejutkan dari Mandenya.Kabar penting apakah gerangan yang membuatnya memutuskan untuk kembali setelah tiga tahun lamanya? Dimuat di annida-online tgl 20 januari 2010 dan terpilih untuk dibukukan bersam 11 penulis terbaik annida&lt;br /&gt; penulis irhayati (ayatiati)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-8902483616766305948?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/8902483616766305948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/06/sinopsis-balada-pengemis-rusli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/8902483616766305948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/8902483616766305948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/06/sinopsis-balada-pengemis-rusli.html' title=''/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3eAfmFe7I/AAAAAAAAAD4/LBjMXmEJ90w/s72-c/Balada+pengemis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-3936483094701114268</id><published>2010-06-15T04:51:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T20:20:04.150-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ungkapan hati'/><title type='text'>ketika rumah jadi kuburan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-g-vLwGXdzL8/TnLARJuyuHI/AAAAAAAAAMg/gvjRiAO7GeQ/s1600/rumah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 388px; height: 336px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-g-vLwGXdzL8/TnLARJuyuHI/AAAAAAAAAMg/gvjRiAO7GeQ/s400/rumah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652791883205884018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu anda bertanya-tanya, apa mungkin  rumah jadi kuburan? Bagaimana bisa? Sepenggal judul diatas menggelitik saya untuk menuliskannya disini, setelah membaca sebuah kajian di majalah Ummi. Tentang rumah yang didalamnya berisi orang-orang yang tak pernah menghidupkan rumah mereka dengan bacaan Al-qur’an. Karena sepi dari bacaan, hapalan serta lantunan Alqur’an. maka penghuni rumah tersebut diibaratkan mayit yang hidup tanpa ruh. Bukankah tempat tinggal yang pantas bagi mayat adalah kuburan? &lt;br /&gt;Sebagaimana rasulullah pernah bersabda “jangan jadikan rumah-rumah kalian kuburan. Sesungguhnya syeitan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR Muslim) Wajar bila rumah yang dihuni oleh para mayit akan didatangi oleh syetan dengan senang hati. Akibatnya rumah pun akan jauh dari rahmat dan berkah dari Allah.&lt;br /&gt;Saya jadi ingat sebuah keluarga yang letaknya tak jauh dari lingkungan tempat tinggal saya. Sebut saja keluarganya si A. sebab tak etis rasanya saya menyebutkan nama mereka. Karena niat saya hanya ingin berbagi terhadap apa yang saya lihat dan dengar untuk diambil ibrohnya. &lt;br /&gt;Keluarga si A, terutama ayah dan ibunya, hampir tak pernah membaca apalagi mempelajari Al-quran. Dan yang lebih tragis lagi, kebiasaan tersebut ia terapkan pada anak-anaknya.. Jadilah semua anaknya tak ada yang bisa membaca kitab suci, sebab sedari kecil tak pernah diajarkan membaca Al-quran. Bahkan sampai anaknya menikah dan memiliki anak. &lt;br /&gt;Alhasil tak satupun anaknya yang menunaikan solat, karena tak mengerti bacaannya. Sementara orang tuanya tenang-tenang saja menyikapinya. Mungkin menganggap bahwa mengajarkan anak membaca dan mempelajari kitab Allah bukanlah suatu kewajiban, yang kelak dimintai pertanggung-jawabannya diakhirat nanti.&lt;br /&gt;Kita juga sering mendapati sebuah rumah mewah yang harganya mungkin milyaran rupiah. Alangkah bagusnya rumah ini, kita mungkin berdecak kagum tanpa bisa dihindari. Namun saat kita tahu ternyata rumah tersebut sesungguhnya seperti kuburan, tatkala rumah itu sepi dari Alquran. Maka kekaguman kita seketika lenyap dan berganti dengan rasa bergidik membayangkan para penghuninya lebih sibuk dalam urusan duniawi hingga tak sempat menghidupkan hati dan rumah mereka dengan merdu dan indahnya lantunan Kitab Illahi Robbi yaitu kitab suci. Seketika kita memandang rumah tersebut tak lagi bercahaya meski bangunanya  dari luar bagus dan megah.&lt;br /&gt; Rasanya amat bangga dan senang bila anak-anak kita bisa lancar dan fasih membaca alquran, setelah kita masukkan ke TPA. Tentu peran guru ngaji tak bisa dianggap enteng disini. Andilnya cukup besar karena telah menghidupkan hati anak-anak kita dengan Alqur’an. Padahal bayarannya tidaklah seberapa dengan yang mereka terima.karena mengharap besarnya ganjaran pahala dari Allah.  Hati yang hidup akan mudah menerima kebenaran. Kita bisa ambil sebuah pelajaran dari orang-orang yang dengan entengnya melakukan korupsi atau tindakan keji tanpa perasaan. Seolah-olah mereka tak lagi memiliki hati nurani. Dikarenakan hati mereka sudah lama mati. Nauzubillah minzalik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-3936483094701114268?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/3936483094701114268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/06/ketika-rumah-jadi-kuburan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3936483094701114268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3936483094701114268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/06/ketika-rumah-jadi-kuburan.html' title='ketika rumah jadi kuburan'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-g-vLwGXdzL8/TnLARJuyuHI/AAAAAAAAAMg/gvjRiAO7GeQ/s72-c/rumah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-5062418702716964191</id><published>2010-06-15T04:46:00.000-07:00</published><updated>2011-09-16T19:27:57.128-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my cerpen'/><title type='text'>ketika merpati patah sayapnya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3Vvh421YI/AAAAAAAAAC4/3lWeZZUxdwg/s1600/Ketika+Merpati+Patah+Sayapnya.rtf"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3Vvh421YI/AAAAAAAAAC4/3lWeZZUxdwg/s400/Ketika+Merpati+Patah+Sayapnya.rtf" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511796531498767746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika Merpati Patah Sayapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nadia merasakan kebahagiaan seutuhnya sebagai seorang wanita. Bukan karena memiliki karir yang sukses, atau memiliki suami kaya raya, yang memanjakannya dengan segudang materi. Juga bukan karena popularitas yang didambakan setiap wanita yang memilki kecantikan fisik seperti dirinya. &lt;br /&gt;Nadia hanyalah seorang wanita biasa yang menikah dengan pria biasa juga. Winarto, seorang suami yang bertanggung jawab serta penegrtian. Itulah yang ia impikan dari seorang suami. Memiliki seorang anak yang cantik dan cerdas. Dirinya puas menjalani peran sebagai ibu rumah tangga saja.Waktunya banyak dihabiskan untuk mengurus anak dan suami. Semuanya ia lakukan sendiri tanpa bantuan pembantu.&lt;br /&gt;Masih hangat dalam ingatannya, bagaimana reaksi ibunya ketika ia utarakan niat untuk menikah. Padahal usianya masih muda, belum 25 tahun. saat Winarto melamarnya. &lt;br /&gt;“Mengapa buru-buru menikah? nikmati dulu kesuksesanmu, dengan mencapai karir yang gemilang Nadia, sebelum kamu memilki anak. Pikirkan masa depanmu!”&lt;br /&gt;“Apakah berumah tangga dan memilki keluarga yang harmonis bukan masa depan, Bu?”&lt;br /&gt;“Ibu tahu. Tapi, apa kau puas hanya menjadi ibu rumah tangga saja?”&lt;br /&gt;“Insya Allah Bu.”&lt;br /&gt;“Kalau itu keputusanmu, Ibu tak dapat memaksa. Semoga kamu dapat menjalaninya tanpa rasa penyesalan di kemudian hari.” Ibu pun berlalu dengan segurat kekecewaan diwajahnya.&lt;br /&gt;Ah, Ibu. Tidakkah kau sadar, karena sibuk berkarirlah anakmu ini dulu sering kesepian. Dan yang lebih fatal lagi, ayah pergi meninggalkan Ibu karena sudah tidak tahan lagi dengan kesibukan ibu, yang seakan-akan tak pernah berhenti. Hingga tak ada waktu buat kami, aku dan ayah. Selain hanya karir dan karir. Walaupun dulu dia kagum dan bangga dengan kesuksesan ibunya, yang melesat dengan cepat. Namun waktu jualah yang menyaksikan betapa menderitanya dia. Diusia yang masih muda, harus menghadapi perceraian kedua orang tuanya. Keluarga broken home!&lt;br /&gt;“Dari dulu Ibu tak pernah mengerti aku, Mas. Selalu membuat jarak denganku demi ambisinya.”&lt;br /&gt;“Bagaimanapun, dia tetaplah Ibumu Nadia. Mungkin kitalah yang harus mengerti bahwa dia berniat baik, meski dia tak bisa memahami kita. Yang penting, kamu maukan menjadi ibu bagi anak-anakku?” Akupun memberikan senyum termanisku. Merasa tersanjung mendengarnya.&lt;br /&gt;Pernikahan tetap berjalan, walau tanpa dukungan sepenuhnya dari Ibu. Ibu terpaksa merestui karena dia tahu, tak akan mengubah keputusa Nadia. Untuk menikah dan segera memilki anak. Impian memilki keluarga yang harmonis.&lt;br /&gt;Tak sampai satu tahun, Nadia hamil. Betapa bahagia dirinya. Berbagai rencana pun bermunculan dalam menyambut mutiara hatinya. Mempersiapkan nama yang indah. Berbagia keperluan bayi, serta mempersiapkan mental dengan banyak membaca buku merawat dan membesarkan anak.&lt;br /&gt;Membayangkan buah hatinya menatapnya manja disaat menyusui nanti. Dengan tatapannya yang masih lugu. Mendengarkan tawa anaknya yang jernih. Sejernih pikiran kanak-kanaknya. Nadia senyum-senyum sendiri membayangkan hari bahagia itu akan tiba.&lt;br /&gt;“Kamu mengambil cuti Nadia? Berapa lama? Selamat ya, belum lama menikah sebentar lagi akan memilki momongan. Pasti dia cakep seperti Ibunya.”&lt;br /&gt;“Bagaimanapun wajahnya, dia pastilah bayi tercantik bagiku. Oh, ya. Aku bukan hanya mengambil cuti, tapi berniat untuk fokus dulu pada anakku.”&lt;br /&gt;Kamu tidak akan berhenti bekerja kan, Nadia? Sayang, karirmu lagi menanjak.” Dewi mentatapnya tak percaya.&lt;br /&gt;Nadia tersenyum. Dewi tahu, Nadia adalah mahasiwi psikologi dari universitas ternama. Yang setiap tahunnya selalu mendapatkan beasiswa. Dan lulus dengan nilai cumlaude. Sebentar lagi akan naik jabatan sebagai kepala personalia. Bagaimana mungkin hanya puas sebagai ibu rumah tangga saja. Tak bisa dipercaya!&lt;br /&gt;“Mengapa tidak? Aku rela melepas karirku demi menjadi ibu rumah tangga dan totalitas mengurus keluarga.”&lt;br /&gt;“Sederhana sekali!” teman-teman kantornya memberi komentar setengah tak percaya. &lt;br /&gt;“Apakah status rumah tangga itu hina? Serendah itukah panadangan kalian? Banyak anak-anak yang sukses ditangan seorang ibu rumah tangga biasa.”&lt;br /&gt;“Tentu saja kami tidak apriori seperti itu,” tiba-tiba Melinda menyela.&lt;br /&gt;“Iya Nadia. Kami hanya mempertanyakan dirimu yang kami tahu sangat berpotensi untuk menjadi wanita yang sukses di kantor ini,” temannya yang lain ikut bicara.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, terima kasih atas perhatian dan sanjungan kalian. Aku tetap tak terpengaruh,”jawab Nadia dengan senyum mengembang. Akhirnya teman-teman kantornya pun bungkam. Demi mendengar jawaban tulus dari Nadia.&lt;br /&gt;Setelah dia keluar dari pekerjaanya, Nadia tetap menjalani perannya dengan senang hati. Walau dia harus berkutat dengan urusan rumah tangga, sementara teman temannya menapaki karier di perusahaan – perusahaan ternama. &lt;br /&gt;Bagi Nadia, keluarga adalah segala – galanya. Dia takut hubungan emosional dengan anaknya akan jauh. Seperti yang pernah ia alami dulu dengan ibunya. Dia tidak siap harus bersaing dengan seorang pembantu, bila di bekerja. Ia ingin totalitas mengasuh dan membesarkan anaknya. Ia ingin menjadi orang yang pertama kali tahu perkembangan anaknya dari hari-ke hari, bukan orang lain, atau pembantu. Bukankah suatu keinginan yang sederhana? Keinginan setiap ibu rumah tangga. &lt;br /&gt;Hidup adalah pilihan. Dan Nadia sudah memilih hidupnya. untuk menjadi seorang ibu rumah tangga biasa. Menjadi wanita karier, bukanlah impiannya kini. Waktu terus bergulir. Nadia disibukkan dengan anak pertamanya. Kini Putri telah berusia 6 tahun. Pagi – pagi dia sudah memasak dan menyiapkan sarapan buat putri dan Mas Win. Setelah itu, dia sendiri yang mengantar dan menjemput anaknya sekolah. Begitu seterusnya. Ia jalani rutinitas rumah tangga dengan senyum mengembang. &lt;br /&gt;“Mama, tadi putri dipuji sama ibu guru. Putri mendapat nilai paling bagus dalam mengerjakan pe-er. Itu karena Mama selalu membantu putri mengerjakan pe-er. Makasih ya Ma,” Putri berkata sambil matanya bersinar-sinar. Tiba-tiba putri mendaratkan ciuman di pipinya. &lt;br /&gt;Nadia terharu merasakan kehangatan itu mengalir ke seluruh pembuluh nadinya, hingga membuatnya merasa bahagia. &lt;br /&gt;“Iya sayang?” jawabnya penuh cinta. &lt;br /&gt;Ah putri… memang inilah yang Mama inginkan. Kau mendapatkan limpahan kasih sayang dan bimbinganku. Aku tak ingin masa laluku berulang padamu. Nadia memeluk putri dengan erat. Matanya berkaca-kaca. &lt;br /&gt;“Mama kenapa? Tidak senang dengan ucapan putri?”&lt;br /&gt;“Tidak sayang, Mama hanya bahagia mendengar ucapanmu.” Putri kembali memeluknya manja. &lt;br /&gt;Andai putri tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan. Semasa kecil, dia memiliki mainan apa saja yang tak mungkin dimiliki oleh anak – anak seusianya. Secara materi, ibunya siap melimpahkan itu padanya. Tapi kasih sayang? Dulu dia ingin sekali ibu ada waktu untuk mendengarkan cerita – ceritanya. Mengantarkannya sekolah, seperti teman-temannya yang lain. Dia sangat rindu untuk bermanja-manja. Tapi hingga dewasa, keinginan itu sulit terwujud. Itu karena ibu terlalu asyik dengan kariernya di rumah. Walau sisi positifnya Ia menjadi lebih mandiri. Namun disisi lain, ia pernah terjerumus ke hal-hal Yang negatif, seperti teman-temannya. Melampiaskan kekecewaan mereka dengan menenggak obat-obatan terlarang, bahan sempat hamil di luar nikah. Tidak! Dia tak ingin semua itu menimpa putri. Cukup sudah pengalaman dirinya, dan orang-orang di luar sana. Yang berujung pada kehancuran masa depan dengan prilaku negatif, karena kurang perhatian dang bimbingan &lt;br /&gt;Mama dan teman temannya sudah jarang berkomentar. Mereka melihat keahagiaan itu menghampirinya dari hari kehari. Tak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Sampai musibah yang tak pernah diduga-duganya menghampiri. Mas Win mengalami kecelakaan. Motornya remuk dihantam oleh sebuah truk, yang datang secara mendadak. Mas Win terpental jauh. Kepalanya membentur aspal yang keras dan tajam. Hingga tak sadarkan diri sewaktu dibawa kerumah sakit. Nadia menanti di luar ruangan dengan harap-harap cemas. Menunggu kabar baik, bahkan buruk sekalipun tentang suaminya. &lt;br /&gt;Tiba–tiba pintu terkuak. Seorang dokter paruh baya keluar dengan wajah yang serius. Membuat detak jantungnya semakin tak mau berhenti. Yah…ia gelisah! Begitu cemas! &lt;br /&gt;“Ada kerusakan di sumsum tulang belakangnya, yang mempengaruhi urat sarafnya. Kemungkinan suami Ibu harus berada di kursi roda.” Oh Tuhan! Akan cacatkah suaminya? &lt;br /&gt;“Sampai berapa lama dokter?” &lt;br /&gt;“Harapan itu masih ada. Suami ibu harus menjalani terapi, agar dapat berjalan lagi. Tentunya membutuhkan waktu yang lama.” Sanggupkah ia kini? Ya Rabbi! berilah hambamu ini kekuatan, doanya tak henti henti. &lt;br /&gt;Nadia berada di atas bus yang akan mengantarnya pulang. Hari hampir menjelang malam. Nadia memutuskan untuk bekerja. Walau ia merasa berat, dan sering mengalami quilty mom syndrome. Rasa bersalah, karena sering meninggalkan anaknya dan suaminya yang lagi sakit. Keuangan mereka sudah terdesak. Satu persatu barang berharga sudah terjual, termasuk kendaraan roda dua yang mereka miliki. Itulah sebabnya ia pulang pergi naik bus. &lt;br /&gt;Seorang wanita berambut pendek, tanpa riasan mengenakan baju kaos dan celana panjang, menggelantung di pintu belakang bus. Sungguh menarik perhatiannya. Tak banyak wanita yang berani menjadi kondektur. Mungkin dia terdesak. Menghilangkan rasa gengsinya, demi sesuap nasi bagi keluarganya. Dan tetap survive dengan hidupnya. Sementara dia? Haruskah lembek dalam menjalani hidupnya yang sekarang? Tiba tiba dia merasa bersyukur masih bisa mendapatkan pekerjaan yang  baik dan layak. Di sebuah kantor ber ac, walau dia harus memulai lagi kariernya dari awal. &lt;br /&gt;Memang tak mudah menjalani hidup seperti ini. Disamping bekerja, dia harus mengurus putri dan suaminya, yang kini tidak normal keadaan fisiknya. Apalagi suaminya kini lebih sensitive dibanding dulu, sewaktu masih sehat. Nadia bisa merasakan kalau kepercayaan diri Mas Win terganggu akibat lumpuh yang dideritanya, yang lebih membutuhkan perhatian dan dorongan. Namun dia tak bisa memenuhinya karena kesibukannya. Dirinya kini tak ubahnya merpati yang kehilangan sayapnya. Namun dia harus kuat agar bisa tetap terbang mengarungi hidup yang penuh cobaan ini. Nadia berusaha menjalaninya dengan ketulusan hati. Serta mencoba berpikir positif untuk menerima semua ini.&lt;br /&gt;Nadia sudah sampai dirumah lebih cepat dari biasanya. Dia agak terkejut mendapati ibunya tengah asyik bermain dan bercanda bersama putrinya. Wajah Ibu begitu bahagia. Belum pernah ia melihat wajah Ibu sebahagia ini. Nadia tak ingin mendekat, takut mengganggu  mereka. Namun Ibu keburu melihatnya, dan menghampirinya.&lt;br /&gt;“Nadia ,” ia mendengar Ibu memanggilnya dengan hati-hati.&lt;br /&gt;“Sebenarnya Ibu kemari untuk menwarkan bantuan uang. Kamu pasti membutuhkannya.”&lt;br /&gt;“Nadia belum merasa perlu Bu. Nadia kan sudah bekerja. Ibu simpan saja uangnya.”&lt;br /&gt;“Kamu serius? Ibu tahu, kamu membutuhkan banyak biaya untuk berobat suamimu. Ambillah!” Ibu tetap menyodorkan sebuah amplop padanya. Nadia tetap menolak. Ada perasaan malu dihatinya. Mungkinkah Ibu ingin membuktikan padanya bahwa dulu dia melepas karirnya yang tengah menanjak, bukanlah pilihan yang tepat. Kalau ternyata kini dia menghadapi masalah seberat ini. &lt;br /&gt;Takdir hidup siapa yang tahu. Sedikit pun tak ada rasa penyesalan dihatinya. Dia merasakan kebahagiaan di hari hari yang lalu. Dan berusaha untuk tetap bahagia dihari ini.&lt;br /&gt;“Mengapa kau menolak Ibu? Apakah salah Ibu membantumu keluar dari kesulitanmu yang sekarang?” tiba-tiba wajah Ibunya berubah mendung. Tak urung, ia terkejut melihat reaksi Ibunya.&lt;br /&gt;“Ibu hanya ingin kau mau memaafkan kesalahan Ibu, Nadia. Karena pernah membesarkanmu tidak dengan sepenuh hati.”&lt;br /&gt;“Nadia sudah memafkan Ibu. Nadia yakin, Ibu tak bermaksud untuk bercerai dari ayah, hingga membuatku merasa sangat sedih waktu itu. Sudahlah Bu, buat apa diungkit-ungkit lagi,” Nadia berusaha untuk tegar di depan Ibunya. Biarlah semua ini menjadi pelajaran berharga dalam hidupnya. Tiba-tiba timbul rasa penyesalan karena terus menerus menyalahkan Ibu. Walaupun hanya ia pendam di dalam hati. Apa jadinya bila Ibu tahu isi hatinya yang sangat sakit mendapati kedua orangtuanya berpisah disaat ia masih kecil. Hingga dia sempat menyimpan dendam yang cukup lama pada Ibunya itu.&lt;br /&gt;“Dulu nenekmu juga pernah mengalami masalah seperti ini Kakekmu meninggal karena kanker. Dan nenek tidak punya biaya untuk terus mengobati kakek sampai sembuh. Ibu sangat sedih kehilangan kakekmu.”&lt;br /&gt;Nadia mendengarkan cerita Ibunya dengan rasa tak percaya.&lt;br /&gt;“Itulah sebabnya Ibu begitu berambisi untuk dapat hidup mandiri dan layak secara materi. Ibu tak ingin bila suatu saat kehilangan suami, tapi tak emmilki apa-apa seperti nenekmu. Karena rasa takut itulah Ibu lupa telah menelantarkanmu. Maafkan Ibu,” Ibu berkata dengan suara melemah. Lelah dengan hidup yang ia jalani selama ini. Nadia merasa sangat terharu.&lt;br /&gt;“Ibu tak ingin kau menanggung sendiri bebanmu. Kamu bisa mengandalkan Ibu, Nadia,” Ibu berkata sambil berurai air mata.&lt;br /&gt;Ternyata jauh dilubuk hatinya, Ibu tetaplah seorang Ibu yang mencintai anaknya. Bagaimanapun masalalunya, dia merasa wajib untuk berbakti dan memaafkan setiap kesalahannya. &lt;br /&gt;“Baiklah Bu, aku akan menerimanya asalkan Ibu berjanji padaku.”&lt;br /&gt;“Apa itu Nak? Ibu akan memenuhinya walau berat sekalipun,”jawab Ibu kembali bersemangat.&lt;br /&gt;“Tidak berat kok Bu. Nadia hanya ingin Ibu sering kemari mengunjungi kami.”&lt;br /&gt;Ibu tersenyum. Wajah mendungnya hilang. Berganti dengan wajah bahagia. Bahagia yang tak terlukiskan.&lt;br /&gt;Medio oktober 2006&lt;br /&gt;salam cinta untuk ketiga malaikat kecilku balqis, baim dan zakirah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di majalah paras&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-5062418702716964191?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/5062418702716964191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/06/ketika-merpati-patah-sayapnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5062418702716964191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5062418702716964191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/06/ketika-merpati-patah-sayapnya.html' title='ketika merpati patah sayapnya'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3Vvh421YI/AAAAAAAAAC4/3lWeZZUxdwg/s72-c/Ketika+Merpati+Patah+Sayapnya.rtf' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-435918858518131664</id><published>2010-05-15T04:55:00.000-07:00</published><updated>2011-09-16T17:58:46.897-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='babies story'/><title type='text'>ketika anak demam tinggi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-vZShuuN5nY4/TnPwjF81IKI/AAAAAAAAAMw/z1VpC0OgBos/s1600/anak%2Bdemam.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 370px; height: 336px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-vZShuuN5nY4/TnPwjF81IKI/AAAAAAAAAMw/z1VpC0OgBos/s400/anak%2Bdemam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653126442963509410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang teman baikku mengalami ujian yang cukup berat. Bermula dari panas yang tiba-tiba menyerang anak mereka satu-satunya. Betapa kasihan melihatnya. Dari yang tadinya ceria sekarang terbaring lemah tak berdaya dirumah sakit. Tapi yang paling membuat mereka kalut adalah saat panasnya sudah turun dan dibawa pulang kerumah, gak tahunya 2 hari kemudian panasnya naik lagi ditambah kejang-kejang. Sebagai seorang ibu, aku dapat merasakan kepanikan dan kecemasan dari mata mereka. &lt;br /&gt;Akhirnya setelah dirawat 3 hari, dokter mengatakan menyerah dan memberi rujukan untuk dibawa kerumah sakit yang lebih besar dan lengkap fasilitasnya. Mereka pun pusing tujuh keliling. Darimana lagi mencari uang untuk biaya berobat? Padahal suaminya hanya karyawan biasa yang gaji bulanannya tak seberapa.  Karena sudah tak sanggup lagi, mereka pun memutuskan untuk membawa anaknya pulang kerumah.&lt;br /&gt;Aku pun berpikir, betapa kasihannya bila orang kecil mengalami sakit parah. Dimana rumah sakit yang mau dibayar gratis? Apalagi bila dirujuk kerumah sakit swasta. Sekalipun ada, pastinya urusannya agak ribet.  Akhirnya anak mereka diobati dengan cara kampung saja. Untunglah warga kampung  mau membantu. Ada yang membantu secara materi dengan urunan semampunya. Dan bantuan moril seperti menunggui anaknya yang sakit sewaktu dirumah sakit juga ketika sudah pulang kerumah. Hingga temanku itu merasa mendapatkan dukungan.&lt;br /&gt;Setelah beberapa hari diobati dirumah, suatu hari anaknya mendadak diam seperti tak bernyawa. Namun kedua matanya terbuka lebar. Mereka pun bertambah stress dan begitu tertekan melihat kondisi anaknya. Lagi lagi warga kampung terus membacakan doa dan syalawat dikuping anaknya yang terlihat seperti orang yang tengah sekarat. Ya Alllah…sungguh tak sampai hati melihatnya. Diam-diam aku berdoa didalam hati agar penyakit anaknya segera diambil saja, agar penderitaanya berkurang. Jangan dulu kau ambil anaknya ya Rabbi. Rasanya berat sekali bagi temanku kalau sampai kehilangan anak satu-satunya. Mengingat selama ini begitu susahnya dia memiliki anak.&lt;br /&gt;Terus terang, aku jadi ikut tidak tenang. Naluri seorang ibu tiba-tiba terasa begitu dalam. Sehingga aku pun bolak-balik melihat perkembangan anaknya. Syukurlah setelah diobati oleh orang pintar dengan dibacakan ayat-ayat suci alqur’an anaknya bisa tertidur pulas dengan mata terpejam. Setelah beberapa hari selalu terbuka. Menurut dokter panasnya sudah mempengaruhi syaraf otaknya. Itulah yang membuat anaknya sulit memejamkan mata. &lt;br /&gt;Setelah merasa sedikit tenang, kembali temanku dilanda kepanikan yang amat sangat. Tiba-tiba saja anaknya tak mau makan dan minum susu. Yang lebih tragis lagi, sebentar-sebentar tangannya terkepal dan badannya mengejang seperti menahan rasa sakit yang amat sangat. Dan itu berlangsung terus sampai hari ketiga. Malah sekarang matanya membelalak keatas.  Dan mulutnya miring kesamping. Dan benar saja. Keesokan harinya, temanku menyampaikan dengan berurai air mata bahwa anaknya diambil kembali oleh Yang Kuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi anak yang demam, apalagi sampai demam tinggi tentu membuat kita panik. Kebetulan ketiga anak saya berbeda-beda daya tahan tubuhnya. Anakku yang pertama walau panasnya sudah tinggi tapi masih kuat. Sedangkan anak keduaku bila panas tinggi akan mengalami kejang-kejang. Untuk itulah sebagai seorang ibu, kita harus mengenal tabiat masing-masing anak. Usahakan selalu sedia obat panas dirumah untuk berjaga-jaga.&lt;br /&gt;Bila demam tak juga turun lebih dari tiga hari, segeralah bawa berobat ke dokter untuk diperiksa darahnya. Karena bisa saja anak kita terindikasi demam berdarah, typus, atau penyakit serius lainnya. Terkadang saat anak mau tumbuh gigi ada juga yang tidak kuat sehingga menjadi demam. Contohnya anak saya yang paling kecil. Setiap giginya mau tumbuh, biasanya bisa demam sampe tiga hari. Demam bisa juga terjadi karena anak kita baru diimunisasi. Terutama imunisasi dpt. Hanya saja demam seperti ini tidaklah bahaya.  Kita hanya perlu minta obat penurun panas pada bidan atau dokter tempat anak kita diberi vaksin tersebut.&lt;br /&gt;Usahakan saat anak demam, jangan memakai baju yang serba tertutup dan tebal. Pakailah baju yang nyaman dan tipis serta terbuka. Apalagi sampai disekap atau diselimuti. Bisa- bisa hawa panasnya masuk kedalam tubuh. Bisa tambah bahaya. Lebih baik lagi bila demam masih tinggi setelah diberi obat, segera kita kompres dengan air hangat, bukan air dingin. Untuk menyesuaikan dengan suhu tubuhnya. Semoga bermanfaat pengalaman yang saya bagikan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-435918858518131664?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/435918858518131664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/05/ketika-anak-demam-tinggi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/435918858518131664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/435918858518131664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/05/ketika-anak-demam-tinggi.html' title='ketika anak demam tinggi'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-vZShuuN5nY4/TnPwjF81IKI/AAAAAAAAAMw/z1VpC0OgBos/s72-c/anak%2Bdemam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-2568335084997259418</id><published>2010-05-02T22:34:00.000-07:00</published><updated>2011-03-22T21:05:06.456-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ungkapan hati'/><title type='text'>mental yang juara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-dti20901gVE/TYlw_ESV61I/AAAAAAAAAKc/9liQE6lXncY/s1600/juara.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 122px; height: 196px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-dti20901gVE/TYlw_ESV61I/AAAAAAAAAKc/9liQE6lXncY/s400/juara.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5587121041514556242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini semakin semarak diadakannya aneka lomba. Baik itu lomba menyanyi, menulis, menggambar, juga lomba yang lainnya. Selain persiapan yang matang, kesiapan  mental juga sangat diperlukan. Dan mental  juara itulah yang harus dimiliki oleh setiap peserta lomba. Dengan begitu, akan tumbuh semangat untuk menjadi pemenang. Seseorang yang memiliki mental juara tentu memilki rasa percaya diri yang tinggi, karena merasa usaha dan persiapan dilakukan semaksimal mungkin, agar memenuhi syarat untuk menjadi seorang  juara.&lt;br /&gt;Namun bila segala usaha telah dilakukan tapi akhirnya kita tak terpilih sebagai pemenang, akankah kita menghujat  orang lain atas kekalahan kita? Menganggap telah terjadi kecurangan atau adanya indikasi pilih kasih misalnya. Atau dengan sombongnya mengatakan bahwa seharusnya sayalah yang jadi juara, karena merasa telah melakukan yang terbaik. Dan beranggapan hasilnya juga yang terbaik diantara peserta lainnya. &lt;br /&gt;Kita lupa bahwa yang kalah bukan diri kita seorang. Yang lain juga merasakannya. Apakah mereka juga menggugat juri atau pihak penyelenggara lomba? Menyadari tak sedikit jumlah peserta yang ikut, bahkan bisa ribuan orang. Jadi wajar kalau juri harus memilih salah satu peserta terbaik diantara yang terbaik. Yang harus kita ingat adalah seandainya kita menang, sudah pantaskah kita menjadi pemenang? Dan bila kita kalah, mungkin kita belum pantas untuk keluar sebagai pemenangnya. Bukankah dalam sebuah lomba harus ada yang kalah dan yang menang? Dan itu  merupakan sebuah keharusan. Yang terpenting bukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Tapi mental untuk menerima kekalahan dan kemenangan itu sendiri. Barulah seseorang bisa dikatakan memiliki mental yang juara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-2568335084997259418?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/2568335084997259418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/05/mental-yang-juara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2568335084997259418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2568335084997259418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/05/mental-yang-juara.html' title='mental yang juara'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-dti20901gVE/TYlw_ESV61I/AAAAAAAAAKc/9liQE6lXncY/s72-c/juara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-4478786017083597543</id><published>2010-04-22T18:52:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T20:22:53.930-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ungkapan hati'/><title type='text'>hidup bahagia dengan cara sederhana</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-e6Wj70yag8M/TnLA2lzIuvI/AAAAAAAAAMo/gbpzRNCruDU/s1600/bhg.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 187px; height: 139px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-e6Wj70yag8M/TnLA2lzIuvI/AAAAAAAAAMo/gbpzRNCruDU/s400/bhg.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652792526395456242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sih didunia ini yang tak ingin hidup bahagia? Berbagai cara ditempuh untuk meraih kebahagiaan tersebut. Ada yang beranggapan dengan memiliki harta dan uang yang banyak, maka kebahagian bisa dibeli. Tak perduli apakah cara yang ditempuh ujung-ujungnya tak akan melahirkan sebuah kebahagiaan yang dicari.&lt;br /&gt; Orang tua yang super sibuk mencari nafkah dengan alasan demi memberi  kebahagiaan buat keluarga lewat hidup yang mapan. Tapi lupa kalau anggota keluarga anak atau istri misalnya tak hanya butuh materi, tapi juga perhatian dan kasih sayang, yang tak didapat saat waktu suami atau istrinya lebih banyak diluar rumah&lt;br /&gt; Seorang suami yang melakukan korupsi demi memenuhi tuntutan dari diri sendiri atau pasangannya dengan pemikiran bahwa uang banyak yang diterima secara tidak halal akan membahagiakan karena bisa membawa mereka jalan-jalan keluar negeri atau membeli mobil mewah dll.&lt;br /&gt;Kita pun jadi bertanya-tanya, apakah sebatas itu definisi sebuah kebahagiaan? Berarti kebahagian itu didapat dari luar diri kita, bukan dari dalam diri kita. Padahal rasa bahagia lahir dari dalam diri seseorang. Tak perduli dia kaya atau kekurangan. Cantik atau jelek. Cacat atau normal.&lt;br /&gt;Kalau seseorang yang memiliki banyak harta bisa bahagia itu hanyalah sebuah efek dari usaha keras yang dia lakukan. Harta Bukanlah salah satu sumber bahagia. Banyak kok orang yang hidup dalam kemiskinan tapi masih bisa tersenyum dan tertawa, meski mereka merasa hidup ini berat dan penuh perjuangan.  Tatkala mereka merasa bersyukur dengan melihat kebawah bahwa masih ada yang lebih susah lagi. Seorang yang cacat masih bisa menjalani hidup dengan tersenyum karena rasa syukur masih diberi oleh Tuhan kesempatan hidup, dibandingkan dengan orang-orang yang menderita sakit berat seperti kanker . &lt;br /&gt;Jadi apapun keadaan kita, berupayalah untuk menyederhanakan arti sebuah kebahagiaan. Dengan melahirkan rasa syukur setiap saat, dengan berupaya untuk tak melihat ke atas terus. Semoga kita tak menjadi orang yang kufur nikmat. Bukankah Tuhan pernah berjanji bahwa Dia akan menambah nikmatnya bagi orang-orang yang tahu bersyukur. Sungguh sederhana yang dipinta olehNYa.&lt;br /&gt;Iir di http://seuntaikatahati.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-4478786017083597543?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/4478786017083597543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/04/hidup-bahagia-dengan-cara-sederhana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/4478786017083597543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/4478786017083597543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/04/hidup-bahagia-dengan-cara-sederhana.html' title='hidup bahagia dengan cara sederhana'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-e6Wj70yag8M/TnLA2lzIuvI/AAAAAAAAAMo/gbpzRNCruDU/s72-c/bhg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-5660173923221149138</id><published>2010-04-05T22:58:00.000-07:00</published><updated>2011-09-16T19:29:32.358-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my cerpen'/><title type='text'>membeli laki-laki</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3U077H7KI/AAAAAAAAACw/CbyiSNzj4QE/s1600/membeli+laki+laki.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3U077H7KI/AAAAAAAAACw/CbyiSNzj4QE/s400/membeli+laki+laki.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511795524875316386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku campur aduk menjadi satu. Antara marah, juga malu. Meski Mande sangat senang karena Apaknya (adik lelaki Abak)berhasil mencarikan calon untukku. Marah, kenapa sih nasibku harus berakhir seperti ini? Malu, disaat usiaku sudah melewati kepala tiga, belum juga ada lelaki yang bersedia menikah denganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sudahlah, Pik. Apak kira, Mandemu bermaksud baik. Dia hanya khawatir anak padusinya hidup melajang terus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi Apak, tidak dengan cara seperti ini! Memangnya, Upik tidak bisa mencari sendiri sampai harus dijodoh-jodohkan? Sekarang kan, bukan lagi jaman Siti Nurbaya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu belum melihat calonnya Pik! Selain lulusan sarjana, dia juga seorang yang baik dan taat beragama. Meski sifatnya agak pendiam. Tapi Apak yakin, kamu bisa mengimbanginya setelah menjadi istrinya kelak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Upik tetap akan mencari sendiri lelaki pilihan Upik, tanpa perlu dijodohkan seperti ini. Upik gengsi Apak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu tak perlu gengsi Pik. Ini baru tahap perkenalan saja. Bila hati Upik tak jua tertawan padanya saat dipertemukan nanti, yah tidak akan dipaksa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya diam terpaku mendengar jawaban diplomatis dari Apak. Walaupun hatiku berontak karena merasa Apak terlalu jauh ikut campur dalam urusan pribadiku. Bukankah hati tak bisa dipaksakan? Tapi mengingat Apak sudah bersusah payah mencarikan lelaki yang pantas untuk menjadi pendamping hidupku, aku akhirnya menurut juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku sadar, bila aku tak segera menikah, Mande akan berkecil hati. Mengingat sudah lama Mande ingin menimang cucu dari anak semata wayangnya ini. Apalagi selama ini, Mande harus berjuang seorang diri dalam membesarkanku, hingga aku berhasil menjadi guru di sebuah Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tugas Mande sebagai seorang ibu rasanya belum sempurna sebelum melihat kamu menikah Nak,” begitu selalu ucap Mande padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya Aku tak pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Sebagai anak yang berbakti, dulu aku tak ingin menentang Abak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abak hanya ingin melihat anak padusi Abak satu-satunya menikah dengan Urang Awak juo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa harus dengan Urang Awak Bak? Lelaki yang bukan satu suku sama kita juga banyak yang berkualitas. Baik dari segi kepribadiannya, juga ibadahnya,” Aku mencoba mendebat Abak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya tidak sesederhana itu Pik. Kalau kamu nanti menikah dengan lelaki yang bukan urang awak, maka kebanggaanmu sebagai anak padusi disuku kita akan musnah. Kamu kan tahu, orang padang pariaman menganut aliran matrilineal yang kuat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud Abak apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam suku kita, anak padusilah yang dominan kedudukannya. Tak hanya menerima warisan lebih banyak dari anak laki-laki,  juga…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Punya kuasa membeli laki-laki. Iya kan Bak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan membeli, hanya membayar uang lamaran karena pihak padusilah yang melamar.”jawab Abak tersenyum bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh! Aku tak bisa lupa kata-kata Abak itu. Meski dihati kecilku, aku tak suka kalau dalam melamar pria pilihan hati, harus disesuaikan harga pinangannya dengan tingginya pendidikan dan jabatannya. Seperti sebuah barang saja, yang bisa ditawar-tawar. Tapi tradisi membeli laki-laki (membayar uang lamaran dari pihak wanita) masih berlaku sampai sekarang di suku Pariaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Suatu hari, ada urang awak yang senang padaku. Dan akupun tertarik padanya, karena pribadinya yang ramah dan supel. Tapi nasib baik tak berpihak padaku. Lelaki yang kukira serius menjalin hubungan denganku itu, ternyata tak bersedia untuk diajak berumah tangga, dengan alasan belum siap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir, dia hanya ingin bersenang-senang saja denganku. Setelah hampir dua tahun kami bersama, tak jua ada kepastian darinya untuk mengikat hubungan kami dalam sebuah lembaga yang bernama pernikahan. Akhirnya, kutinggalkan lelaki yang tak memiliki komitmen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, akupun berkenalan dengan seorang lelaki yang benar-benar memenuhi kriteria dimataku, juga dimata Abak. Selain pintar, tampan, dan tekun beribadah, dia masih keturunan urang awak juga. Kepribadiannya juga baik dan menarik. Dan yang terpenting, dia serius untuk menjadikanku sebagai istrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, siapa yang bisa melawan takdir! Satu bulan sebelum pernikahan, lelaki yang kuharapkan bisa menjadi imamku itu, dipanggil Tuhan dengan cara yang sangat mengenaskan. Mati tertabrak mobil saat pulang dari kampung halamannya. Ketika ingin meminta restu dari kedua orang tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abak pun menghibur hatiku dengan mengatakan mungkin dia bukanlah jodohku.Hingga Aku bisa kembali menjalani hari-hariku dengan hati yang lapang. Setelah sebelumnya tak bisa menerima kenyataan, akibat rasa terpukul yang amat dalam. Tapi sekarang, Abak tak lagi bisa menghibur hatiku yang sangat kesepian, karena masih sendirian  diusiaku yang sudah sangat matang untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini aku harus bersiap-siap untuk mengikuti Mande ke rumah calon suamiku. Tak ada salahnya aku mengikuti ajakan Mande, demi menyenangkan hatinya. Soal aku bersedia atau tidak, itu perkara nanti. Yang penting, aku bisa melihat lagi rona bahagia diwajah Mande. Setelah sekian lama tak aku dapati keceriaan diwajah keriputnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, aku merasa sangat bersalah bila kali ini tak bisa memenuhi harapannya. Sebagaimana aku juga menantikannya. Masalahnya, aku tak mudah untuk berbagi cinta dengan seorang pria. Siapa sih yang tak ingin hidup berbahagia sampai kakek-nenek dengan orang yang ia sayangi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upik! Udah belum dandannya? Nanti kita kesiangan sampai dirumah Bagindo Sulaiman,”ucap Mande dari luar kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar Mande. Upik lagi membenarin kerudung,”jawabku sambil menarik nafas yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, Mande sudah tak sabar ingin segera bertemu calon mantunya. Semoga Allah mengabulkan doa-doa Mande agar aku segera mendapatkan pendamping. Walaupun dengan cara  seperti ini. Terus terang, aku sendiri tak lagi mempermasalahkan kesendirianku. Bagiku, jodoh sudah ada yang mengatur. Mau nikah di usia kepala empat &lt;br /&gt;sekalipun, tak menjadi soal bagiku. Namun, Mandelah yang menjadi beban pikiranku. Aku tak ingin lagi mengecewakan hatinya yang lembut dan penuh kasih itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan tergesa-gesa aku keluar dari kamar, saat Apak ikut memanggilku. Dia juga tengah menungguku diluar. Rencananya, kami akan pergi naik mobil kijang miliknya. Begitu sudah berada didalam mobil, Mande tak pernah berhenti menatapku dengan wajah sumringah..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Begitu mengenal Zainal, kamu pasti jatuh hati Pik,” ucap Mande sambil melirikku. “Dia anak yang sopan dan hormat sama orang tua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku hanya diam membisu. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata. Mungkin aku kelewat nervous. Jantungku masih berdegup kencang meski aku telah berusaha sekuat tenaga menetralisir perasaan gugupku. Ketika mobil Apak sudah memasuki halaman rumah Uda Zainal, jantungku semakin bertambah kuat degupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan…hilangkanlah kepanikan didalam diriku. Panik, kalau-kalau perjodohan ini tak berjalan seperti yang aku dan Mande harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pik…kamu tak perlu cemas. Semuanya akan berjalan dengan baik,” Apak berkata setelah kami turun dari mobil. Seolah mengerti apa yang tengah kurasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Iya Apak. Upik tahu apa yang terbaik buat hidup Upik.” Akupun kembali tersenyum sambil menggamit tangan Mande untuk segera mendekati rumah bercat biru laut didepanku. Begitu sampai di depan pintu, Mande mengucapkan salam. Tak lama kemudian, keluarlah seorang wanita yang kutaksir umurnya tak jauh beda dengan Mande. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini si Upiak?” Amboi, Rancak bana Wa-ang! Anak Ambo pastilah tertarik.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tersipu-sipu malu mendengarnya.  Dengan ramah, wanita tua dihadapanku mempersilahkan kami masuk. Dengan sedikit enggan, aku mengikuti Mande duduk di kursi ruang tamu. Tanganku rasanya dingin semua. Bagaikan seorang terdakwa yang duduk di kursi persidangan. Menunggu nasib hidupku selanjutnya, yang sebentar lagi akan diputuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, menit-menit berikutnya kami menunggu seorang pria yang sebentar lagi akan keluar menemui aku, Mande dan Apak diruangan ini. Sedangkan wanita ramah tadi masuk kedalam. Mungkin segera memanggil anak lelakinya. Tak lama kemudian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iko Zainal anak Ambo yang paling tuo.” Laki-laki didepanku tersenyum manis kearahku, sebelum akhirnya duduk berhadapan denganku. Tak kuduga, wajahnya sangat tampan! Mirip bintang film KCB 2, dengan janggut tipis didagunya. Dalam hati, aku bersorak penuh kegirangan. Apak memang jempolan dalam mencarikan calon untukku. Selera Apak benar-benar tinggi! Tapi, apa dia juga suka denganku. Akh…kita lihat saja nanti, ucap suara didalam batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Memangnya, Uda belum pernah punya kekasih sebelumnya? hingga diusia 35 tahun belum menikah,” tanyaku saat kami sedang ngobrol berdua saja. Sementara Mande dan yang lainnya pergi keruangan lain. Mungkin sengaja, agar kami bisa saling mengenal lebih dekat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Yah, begitulah! Bukannnya tidak ada yang mau hanya saja, Uda kelewat sibuk bekerja, hingga tak punya waktu buat pedekate dengan seorang gadis,” jawabnya serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upik sendiri bagaimana?” tanyanya lagi dengan hati-hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Terus terang, Upik pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan seorang pria. Tapi semuanya tak pernah sampai ke pelaminan.” Aku pun menceritakan pengalaman pahitku padanya. “Mungkin belum berjodoh Da,” aku mengakhiri ceritaku dengan perasaan sendu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan kita berjodoh ya, Pik,” ucap Uda Zainal spontan. Aku yang mendengarnya tak urung menjadi malu. Wajahku pun bersemu merah, karena berbunga-bunga. Amin…doaku didalam hati. Tak terasa, hampir dua jam Aku dan Uda berbincang-bincang. Kami pun segera pamit pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, Uda Zainal asyik diajak bicara, meski orangnya serius dan agak pendiam. Dan aku berusaha untuk terus memancing pembicaraan, agar suasana tidak bertambah kaku. Dan hari-hari berikutnya kami saling ngobrol lewat telepon genggam. Sebab Uda Zainal orang yang sangat sibuk. Hatinya pun semakin tertawan dengan Uda Zainal. Begitu juga sebaliknya. Uda Zainal mengaku serius berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga disuatu hari yang cerah, aku mendekati Mande. “Jadi, kapan kita membeli Uda Zainal Mande,” tanyaku tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud Upik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang, Mande belum menanyakan berapa harga pinangan yang harus kita bayar untuk melamar Uda Zainal?” tanyaku sekali lagi dengan penasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah masalahnya Pik! Mereka tidak mau menerima uang lamaran yang Mande ajukan,” jawab Mande dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masak hanya gara-gara tak cocok harga mereka menolak kita Mande! Upik tak mau patah hati lagi, karena urung menikah untuk yang ketiga kalinya,” tanpa dikomando, akupun menangis sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Herannya lagi, Mande bukannya menghiburku, malah tertawa tergelak-gelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pik, Pik… Mande kan belum selesai bicara, kok kamu langsung tersurut begitu. Zainal itu memang orang padang, tapi bukan padang pariaman. Jadi, merekalah yang melamar kamu, bukan kita. Dan besok, akan datang iring-iringan pelamar dari keluarga si Zainal. Kamu siap-siap aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh! Betapa malunya aku. Karena begitu inginnya menjadi istri Uda Zainal, sampai-sampai menyuruh Mande agar segera membelinya. Bagaikan benda yang sangat berharga. Dan benda berharga itu adalah cinta  Uda Zainal padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;Mande : Ibu&lt;br /&gt;Abak : Ayah&lt;br /&gt;Padusi  : anak perempuan&lt;br /&gt;Uda : abang&lt;br /&gt;Urang awak : suku kita&lt;br /&gt;Rancak bana wa-ang : cantik sekali kamu&lt;br /&gt;Ambo : Aku&lt;br /&gt;Iko : ini&lt;br /&gt;Paling Tuo  : anak pertama/sulung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di annida-online&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-5660173923221149138?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/5660173923221149138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/04/membeli-laki-laki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5660173923221149138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5660173923221149138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/04/membeli-laki-laki.html' title='membeli laki-laki'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3U077H7KI/AAAAAAAAACw/CbyiSNzj4QE/s72-c/membeli+laki+laki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-2090302429463092221</id><published>2010-03-10T21:12:00.000-08:00</published><updated>2011-09-16T19:38:48.192-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my cerpen'/><title type='text'>bukan pernikahan cinderella</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-2yMYFX4Kcj4/TnQIBjOthQI/AAAAAAAAAOg/1BZPwWlcdMI/s1600/m.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2yMYFX4Kcj4/TnQIBjOthQI/AAAAAAAAAOg/1BZPwWlcdMI/s400/m.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653152254986650882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Cinderella menikah dengan Sang Pangeran. Mereka pun hidup berbahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk selama-lamanya. Ever after… Dia terus bermimpi akan mengalami pernikahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bak cerita Cinderella. Tapi pertukaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nasib yang ia alami, membuatnya tak ingin lagi bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi menggeliat. Matahari mulai merangkak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perlahan-lahan. Denyut kehidupan pun dimulai. Seperti biasanya, Mas Adrian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih tertidur pulas. Seakan-akan larut dalam mimpi yang tak berkesudahan. Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ingin membangunkannya. Akh…kapan suaminya sadar bahwa memilih-milih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pekerjaan, tak akan bisa menyelamatkan hidup mereka, yang semakin hari semakin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terdesak oleh himpitan ekonomi? Padahal perut setiap hari minta diisi. Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mendesah pilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia harus bergegas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk pergi ke rumah gedung diujung jalan. Bekerja sebagai pembantu rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tangga. Sebelum pergi, dia harus mempersiapkan sarapan dan makan siang dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buat suaminya, mengingat dia baru pulang disore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa mengira,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dulunya dia membayar gaji beberapa orang pembantu. Sekarang, dialah yang harus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dibayar. Pertukaran nasib telah menggeser kedudukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mempercepat langkahnya, takut diomelin lagi oleh majikannya bila datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesiangan seperti kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepagi ini kamu sudah datang,” seorang wanita pesolek berkata sinis padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya bisa tertunduk malu mendengarnya. Haruskah dia memberitahu Nyonya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;besar ini? Bahwa dia harus membereskan rumah kontrakannya dulu, juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mempersiapkan makan suaminya sebelum kesini. Tak ingin mendapat sindiran lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tajam lagi, segera dia masuk untuk melakukan tugas rumah seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimulai dari mencuci baju secara manual, karena mesin cucinya rusak sebulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang lalu. Tepat awal mula dia bekerja disini. Mengapa majikannya tak mengganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mesin cucinya yang rusak dengan yang baru? Padahal Nyonya tersebut mampu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membelinya. Meski hatinya penuh tanda tanya, tetap dia mencuci, meski tangannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perih karena tidak terbiasa terkena detergen. Seperih hidup yang kini ia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harus secepatnya menyelesaikan cucian, sebab masih banyak tugas lain yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menunggunya. Setelah ini dia harus berbenah. Menyapu, melap setiap perabotan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga jendela yang kotor, dan mengepel rumah besar berlantai dua ini sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi hatinya memberontak. Mengapa rumah sebesar ini hanya mempekerjakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang pembantu? Belum lagi taman yang lumayan luas yang harus ia sapu dan ia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;urus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semuanya beres, dia harus menyetrika setumpuk pakaian. Setelah itu, memasak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makan siang untuk kedua anak majikannya. Sore hari dia berbenah lagi. Sebelum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pulang, dia kembali memasak untuk makan malam. Dia pun pulang ke kontrakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan tubuh yang penat tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biduk rumah tangga yang ia jalani bersama Mas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian, tak semanis dan tak seindah dulu lagi. Pada awal mereka menikah, Mas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian adalah seorang pangeran baginya. Mapan, berkedudukan, romantis, tampan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan masih keturunan darah biru. Menempati rumah megah berlantaikan marmer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengkilat. Dengan anak tangga yang meliuk-liuk indah hingga ke lantai dua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamar tidur mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perabotan-perabotan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;merek bergengsi tertata secara elegan. Springbed empuk berharga puluhan juta,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengisi kamar tidur mereka. Empat orang pelayan siap melayani mereka setiap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat. Mulai dari tukang cuci, tukang masak, tukang kebun dan supir pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup yang ia jalani persis dalam cerita dongeng. Tapi, buat apa mengingat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemewahan yang sudah tak bisa dimiliki lagi? tanya suara hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perusahaan keluarga yang dipercayakan pada suaminya jatuh bangkrut, semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesenangan itu ikut amblas bersama mimpi-mimpi yang pernah mereka jalani. Kini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka harus bangun menghadapi dunia realita. Lalu, bagaimana dengan Mas Adrian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sendiri? kapankah dia bangun menghadapi hidupnya? Apalagi keluarga besar Mas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian sudah membuang suaminya, karena dianggap telah gagal dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mereka menempati kamar kontrakan yang sempit dengan perputaran udara yang tak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehat, karena harus berhimpitan dengan rumah-rumah petak yang rapat. Udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panas yang terasa, tak lagi bisa didinginkan dengan AC. Steak, bistik, serta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berbagai menu lezat lainnya, tak mampu lagi terhidangkan. Berganti dengan tempe dan tahu. Bahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disaat kepepet, hanya makan nasi berlaukkan garam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlibur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keluar negeri, hanya tinggal kenangan manis yang tak bisa terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas-fasilitas yang memanjakan, terbang begitu saja. Tak ada lagi mobil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sedan yang bisa mengantarkan mereka ketempat-tempat yang ia dan suaminya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inginkan. Handphone kamera super canggih--televisi 29 inci berflat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;datar--lemari pendingin super eksklusif, juga barang elektronik mahal lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah tergadaikan. Termasuk istana mewah mereka. Demi melunasi hutang pada bank&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan para investor, juga dengan debt collector, yang selalu menteror dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata-kata yang mengancam, dengan kepala mendidih dipenuhi kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang mereka pakai bisa dihitung dengan jari. Tak lagi tersimpan dilemari kayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jati berukiran indah. Selain jumlahnya yang tak sebanyak dulu lagi, lemarinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sendiri sudah tak terbeli semenjak dilelang dengan harga miring. Satu-satunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harta yang tersisa adalah, kalung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berlian bertuliskan inisial namanya, Nindi Hapsari. Hadiah ulang tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernikahan yang pertama dari suaminya. Akibat mempertahankan kalung inilah, ia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak gengsi bekerja apa saja, termasuk menjadi pembantu rumah tangga. Agar tak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terjual demi menyelamatkan rasa lapar yang tak pernah mengenal gengsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik, jual saja kalung itu! Mas butuh butuh uang untuk mencari kerja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas, ini satu-satunya kenangan darimu. Adik tak ingin barang berharga ini ikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tergadai. Biar sementara ini Adik bekerja saja, agar bisa memenuhi kebutuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah kalau begitu, terserah Adik saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini rasanya tak siap mendengar jawaban Mas Adrian. Sebenarnya, dia ingin Mas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian mengkhawatirkannya seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik, nanti tangan lembutmu menjadi kasar kalau mencuci baju. Biar tukang cuci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saja yang mengerjakannya.” Yah… dulu dirinya diperlakukan bagai seorang putri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh suaminya. Segala sesuatunya selalu dilayani. Tapi sekarang? dia bekerja beratpun, Mas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian seperti menutup mata. Bagaimanapun, dia harus tetap survive dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidupnya. Tidak boleh cengeng dan harus kuat, meski belum terbiasa bekerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingat, bagaimana susah dan malunya mencari pinjaman uang kesana-kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Mas Adrian sendiri lebih betah menunggu panggilan kerja dikantor,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;daripada bekerja yang lain. Tapi, dimanakah penghormatan suaminya padanya kini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak terusik kala dia harus mempertaruhkan harga diri, untuk berhutang demi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidup sehari-hari, juga demi memenuhi kebutuhan hidup suaminya. Mulai dari uang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rokok, uang transport, juga uang untuk ngerental ke warnet. Memang, Mas Adrian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lebih betah di warnet seharian daripada bekerja apa saja untuk menutupi biaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hidupnya yang tak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harus sering-sering ke warnet Dik. Selain mencari imformasi kerja, Mas harus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengirimkan surat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lamaran lewat e-mail. Mas yakin, diantara sekian puluh lamaran, pasti ada satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua yang keterima.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya mampu diam seribu bahasa, setiap kali mendengar alasaan Mas Adrian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sudah 6 bulan lebih tak jua ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panggilan. Semoga suaminya bisa diterima bekerja dikantor sesuai keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga tak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin selamanya menjadi pembantu rumah tangga. Sebab bila Maminya tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pekerjaannya yang sekarang, bisa–bisa Mami menangis dan segera memaksanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pulang. Padahal apapun yang terjadi, dia tak akan sanggup meninggalkan Mas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adrian sendiri. Dia akan tetap mendampingi Mas Adrian, dalam keadaan susah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maupun senang. Seperti mimpinya mengenai pernikahan. Tetap hidup langgeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamanya. Ever after…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terlihat lebih bersemangat dari pagi-pagi sebelumnya. Mas Adrian diterima bekerja di salah satu kantor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ternama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baju Mas kurang licin. Ayo setrika lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas,” jawabku dengan senyum cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air hangat untuk Mas mandi sudah dimasak belum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada dikamar mandi Mas,” jawabku lagi masih dalam suasana hati senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya Dik. Kamu sudah pinjam uang untuk transport Mas kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia mengangguk. Mas Adrian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tersenyum puas mendapati semuanya beres. Untung majikannya mau meminjamkan uang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagi. Meski setiap bulan gajinya harus dipotong. Tapi tak mengapa. Bukankah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mulai bulan depan, Mas Adrian sudah menerima gaji pertamanya? Batinnya riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suaminya pamit, dia pun segera melesat ke rumah majikannya di ujung jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bulan ini terakhir kali dia bekerja sebagai babu. Kalau boleh memilih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia ingin bekerja sesuai dengan kemampuannya. Bagaimanapun, ijazah D3 nya masih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bisa diandalkan. Berhubung terdesak sajalah, dia mau melakoni kerja berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti ini. Syukur-syukur Mas Adrian bisa langgeng sampai akhirnya naik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jabatan. Sehingga dia dan suaminya bisa bangkit dari keterpurukan hidup, mseki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak semewah dulu lagi. Kedepannya, dia sangat ingin memiliki buah hati. Agar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lengkaplah kebahagian hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu sudah suaminya bekerja. Sore ini, dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin secepatnya sampai dikontrakan. Tapi, mengapa wajah suaminya tak terlihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas tak betah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerja diperintah-perintah seenaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keluar dari mulut suaminya, saat dia bertanya mengapa tak mau melanjutkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kontrak kerjanya? Dia pun kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menangis di dalam hati. Sebab nasib baik, belum mau bertukar dengannya. Mas Adrian memutuskan keluar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari pekerjaannya. Padahal belum satu bulan dia bekerja. Yang lebih menyedihkan lagi, gaji Mas Adrian tak dibayar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena suaminya sendiri yang memutuskan untuk keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, dia sudah bersiap-siap untuk pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia buka kalung berlian pemberian Mas Adrian. Dengan hati-hati, ditaruhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diatas secarik kertas, disebelah Mas Adrian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang sedang tertiur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan Adik Mas. Rasanya, tak ada gunanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagi Adik mempertahankan kalung ini. Sepeninggal diriku, Mas bisa menggadaikannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk biaya hidup. Semoga Mas bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melihat realita hidup yang sebenarnya. Diapun segera berlalu, tanpa sanggup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menoleh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di majalah alia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-2090302429463092221?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/2090302429463092221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/03/bukan-pernikahan-cinderella.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2090302429463092221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/2090302429463092221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/03/bukan-pernikahan-cinderella.html' title='bukan pernikahan cinderella'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2yMYFX4Kcj4/TnQIBjOthQI/AAAAAAAAAOg/1BZPwWlcdMI/s72-c/m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6697606563348529091</id><published>2010-02-23T22:14:00.000-08:00</published><updated>2011-09-15T18:51:14.899-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekspresi jiwa'/><title type='text'>Sahabat Sejati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S5iA05leb4I/AAAAAAAAABg/OXR_S0slSfA/s1600-h/Angel4.GIF"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 94px; height: 139px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S5iA05leb4I/AAAAAAAAABg/OXR_S0slSfA/s400/Angel4.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5447245395604172674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sahabat sejati, kau dimana kini&lt;br /&gt;lama kucari sampai putus asa&lt;br /&gt;kau bagaikan jarum ditumpukan jerami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidakkah kau tahu? aku rindu hadirmu&lt;br /&gt;dikala kesusahan mendera, kuingin kau ada dan menghiburku&lt;br /&gt;dikala kesenangan hadir, kuingin kau ada dan ikut merasakannya&lt;br /&gt;kuingin selalu  berbagi denganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuharapkan selalu hadirmu, tapi tak seperti bayangan&lt;br /&gt;yang hadir hanya pada saat terang benderang&lt;br /&gt;sahabat sejati&lt;br /&gt;maukah kau selalu menyertaiku?&lt;br /&gt;tak hanya dalam terang, tapi juga dalam kegelapan hari-hariku&lt;br /&gt;kusangat butuhkan dirimu&lt;br /&gt;kita bersama-sama selalu, dalam berbagi kebahagiaan, kesenangan, dan pengalaman&lt;br /&gt;hingga menangis dan tertawa bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orang yang kaya adalah orang yang memiliki sahabat sejati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seindah apapun masa lalumu, dia tak akan mungkin kembali lagi&lt;br /&gt;sepahit dan sesedih apapun dia, biarlah dia tetap menjadi masa lalu&lt;br /&gt;jangan kau ijinkan dia hadir kembali dalam hidupmu&lt;br /&gt;sebesar apapun dosamu dimasa lalu&lt;br /&gt;jangan kau biarkan dia menggerogoti jiwamu&lt;br /&gt;pasarah dan mencoba menjadoi lebih baik&lt;br /&gt;itulah tugas yang harus diselesaikan&lt;br /&gt;dan ambillah hikamhnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingatkan dirimu kawan&lt;br /&gt;bahwa hidup tak selamanya berjalan seperti yang kita inginkan&lt;br /&gt;masih ada kekuatan lain diluar diri kita&lt;br /&gt;Hnaya Tuhan yang memiliki kuasatas hidup hambanya&lt;br /&gt;sebagai insan yang lemah, kita hanya bisa menjalani hidup ini sesuqai aturan dan takdirnya.&lt;br /&gt;kepasrahanlah yang akan meringankan jalan hidup kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisiku adalah nyanyian batin&lt;br /&gt;yang kutulis disaat hati pekat&lt;br /&gt;untuk menguak antara nagan dan kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisiku adalah nyanyian rindu&lt;br /&gt;yang kutulis disaat hatiku lara&lt;br /&gt;mengubah dukaku menjadi tawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisiku adalah nyanyian hati&lt;br /&gt;yang kutulis disaat hatiku sepi&lt;br /&gt;mungkinkah terbasuhlkan benci ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutulis juga puisi disaat hatiku gembira&lt;br /&gt;agar nyanyian kebersamaan kita semakin membahana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut Dan Cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencintai-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga rindu menjelma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan kutuntaskan rindu ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pertemuan yang indah dengan-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi  rasa takut pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat diri-Mu asing bagiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun bersimpuh memohon pada-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lagi Kau hadapkan diriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  surga dan neraka-MU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab aku tak butuh keduanya dalam mencintai-Mu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6697606563348529091?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6697606563348529091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/ekspresijiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6697606563348529091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6697606563348529091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/ekspresijiwa.html' title='Sahabat Sejati'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S5iA05leb4I/AAAAAAAAABg/OXR_S0slSfA/s72-c/Angel4.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-3954249282630706319</id><published>2010-02-23T22:09:00.000-08:00</published><updated>2011-09-16T19:40:32.095-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my cerpen'/><title type='text'>gila cemburu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3cjZqt5UI/AAAAAAAAADo/65cZBPcAeqI/s1600/cemburu+gila.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 264px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3cjZqt5UI/AAAAAAAAADo/65cZBPcAeqI/s400/cemburu+gila.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511804019714942274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang istimewa dari wanita yang akan kujadikan pendamping hidupku ini. Wajahnya rata-rata, kulitnya coklat tua, dengan rambut sebahu yang tidak terlalu hitam. Badannya juga tak seputih dan setinggi mantan-mantan kekasihku. Tapi entah mengapa aku jatuh hati padanya, meski baru beberapa hari mengenalnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sekali lagi, aku tidak main-main untuk menjadikannya sebagai istriku! Meski teman-temanku tak berhenti menyindirku dengan mengatakan, aku kena peletlah! Aku patah hatilah! Dan segala macam sindirin yang membuatku semakin tak ingin mundur dari niatku semula, untuk menikahi Lilis, gadis gunung yang sederhana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku tahu, keputusanku ini terlalu terburu-buru. Mungkin karena Lilis begitu perhatian padaku, juga dengan anggota keluargaku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Maklumlah! Sebagai anak sulung yang begitu dibanggakan dan diharapkan sebagai tulang punggung keluarga, aku harus tetap menunjukkan perhatian dan tanggung jawabku sebagai anak yang baik. Otomatis orang yang akan mendampingi hidupku kelak, haruslah wanita yang bisa menerima anggota keluargaku, terutama ibu. Dan Lilis melakukan itu semua diawal perkenalan kami. Setiap kubawa kerumah, dia tak pernah bertangan kosong. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; saja oleh-oleh yang ia beli buat Ibu dan adik-adikku. Sikapnya juga begitu ramah pada Ibu, serta mampu mendekatkan diri dengan ketiga orang adikku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Adapun alasan yang lain karena aku bersimpati padanya. Selama ini dia hidup sebatang kara. Kakek yang merawatnya sedari kecil sudah meninggal dunia karena sakit. Sedangkan neneknya sudah wafat terlebih dulu. Lilis sendiri sedari kecil sudah tak memiliki ibu. Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. Sedangkan bapaknya, pergi begitu saja tanpa kabar berita. Mungkin menikah lagi aku tak tahu pasti. Yang aku tahu dari cerita Lilis, ayahnya menitipkan dirinya pada kakeknya sebelum pergi merantau ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Itulah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;alasan yang membuatku menerimanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 200%;"&gt;S&lt;/span&gt;etelah menikah, baru kusadari bahwa Lilis begitu pencemburu. Mulanya Lilis cemburu pada semua wanita yang pernah dekat padaku. Aku maklumi, karena itu artinya dia begitu mencintaiku. Tapi disaat dia cemburu pada teman-teman priaku, aku merasa dia tak hanya sekedar cemburu. Sikapnya sudah mengarah pada prilaku possesif!. Mulanya aku tertekan, karena merasa Lilis sudah kelewatan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Setelah merenung, aku pun mencoba mau mengerti. Mengingat kami masih pengantin baru. Mungkin Lilis tak ingin waktuku lebih banyak kuhabiskan tanpa dirinya disampingku. Lagi-lagi aku turuti maunya, untuk lebih memilih tinggal dirumah bersamanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Barangkali masalalunya yang pahit membuatnya takut kehilangan orang yang ia cintai, batinku. Akupun berusaha menghibur hatiku. Sejak menikah, aku tak lagi ngumpul-ngumpul dengan teman-teman gengku. Sepulang bekerja, aku langsung mendekam dirumah. Meski dihari libur sekalipun. Aku juga harus bisa menerima, saat teman-temanku mengatakan bahwa aku telah berubah seratus delapan puluh derajat! Tak lagi gaul seperti dulu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Suatu hari Lilis mengetahui bahwa aku telah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memberi uang belanja pada Ibu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;“Lilis ingin Aa’ memberi uang pada Ibu dan adik-adik lewat tangan Lilis,” ucapnya tegas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;“Apa maksud Lilis?” tanyaku menyelidik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;“Lilis merasa tersinggung kalau Aa’ memberikan uang pada Ibu dan adik-adik tanpa sepengetahuan Lis. Lilis &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; kakak ipar mereka?” Begitu katanya saat aku bertanya alasannya. &lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Benar juga, pikirku. Seharusnya, aku tak menaruh prasangka negatif padanya. Untuk seterusnya, kupercayakan uang belanja dan biaya sekolah adik-adikku padanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 200%;"&gt;B&lt;/span&gt;elakangan ini aku sering pulang lebih larut karena lembur. Badanku rasanya sakit semua. Seperti biasanya, Ibu akan memijatku penuh kasih sayang. Setelah badanku enakan, aku segera menemui Lilis di kamar. Sambutan Lilis tak seperti biasanya, yaitu penuh kelembutan. Dia juga tak menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Yang ada wajahnya kusut dan tak berkata sepatah katapun padaku. Tak salah lagi, Lilis ngambek! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Aku yang tak betah melihat sikapnya seperti itu, segera mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Tapi Lilis tetap bungkam, membuatku semakin tak enak hati. Karena tak tahan lagi, akupun mengancam akan tidur diluar. Akhirnya Lilis membuka suara, meskipun sambil menangis.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Lilis memang istri yang tak bisa menyenangkan hati Aa’. Dimata Aa’, Lilis hanyalah istri yang tak berguna!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Mengapa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lilis berpikiran seperti itu?” tanyaku heran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Mengapa tak meminta Lilis saja yang memijat badan Aa’? Memangnya, pijatan Lis tidak enak?” ucapnya sambil menangis. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Bukan Aa’ tak percaya sama Lilis. Aa sudah terbiasa dipijat Ibu sedari kecil. Ya sudah! Besok-besok Lilis saja yang memijat Aa,” jawabku merasa bersalah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lilis pun kembali tersenyum mendengarnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Walau harus kuakui, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tak ada yang bisa mengalahkan enaknya pijatan Ibu. Tapi aku berusaha untuk menahan diri--untuk tidak memberitahu Lilis yang sebenarnya-- kalau pijatan tangannya, tak senikmat dan sehangat pijatan tangan ibu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 200%;"&gt;K&lt;/span&gt;isah kecemburuan Lilis tak berhenti sampai disitu. Selalu ada hal-hal kecil yang membangkitkan rasa cemburunya. Misalnya saat aku membelikan adik perempuanku sate ayam di hari libur. Lilis akan cemberut melihatnya. Padahal hal itu sudah aku lakukan sebelum menikah dengannya. Tak pelak, dia pun melontarkan sindiran-sindiran tajam. Atau tatkala aku membelikan hadiah buat adik lelakiku, saat dia meraih rangking pertama disekolahnya. Lilis terang-terangan menunjukkan sikap tak sukanya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Dilain waktu ketika aku membelikan Ibu sepasang busana muslimah, Lilis terlihat sewot dan mengatakan, “Aa’ tidak adil! Mengapa Lilis tak dibeliin juga?” Akhirnya, aku pun membelikan busana muslimah yang sama buatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lilis kembali mencemburui sikapku yang begitu perhatian pada Ibu dan ketiga adikku. Padahal dari awal dia sudah tahu posisiku sebagai anak tertua, yang harus tetap menyayangi dan menafkahi keluarga, meskipun sudah menikah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mungkinkah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sikap manis Lilis dulu pada keluargaku hanyalah basa-basi semata? Demi menarik simpati keluarga besar kami agar dirinya diterima? Akh… tak pantas kau berprasangka buruk pada istrimu. Hanya akan mengotori hatimu saja. Bisik hati nuraniku. Aku pun kembali membuang pikiran jelekku pada Lilis.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Situasi seperti ini tidak bisa dibiarkan, pikirku. Aku harus mengambil sebuah keputusan yang terbaik. Baik buat Lilis, juga buat Ibu dan adik-adikku. Dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terpaksa, aku melakukan hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan--agar adik-adik dan Ibu tak lagi menjadi korban kecemburuan Lilis. Mungkin hidup berjauhan, akan menjauhkan konflik yang semakin sering terjadi diantara mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ibu keberatan kalau kamu keluar dari rumah ini. Selain Ibu tak ingin berjauhan denganmu, siapa yang akan menjaga adik-adikmu? Ibu tak sanggup menanggung beban hidup sendiri semenjak ditinggal Bapakmu,” Ibu berkata sambil tersedu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Siapa bilang aku akan menelantarkan Ibu dan adik-adik begitu saja? Aku akan sering kemari Bu, meski kita tak lagi tinggal seatap.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ibu akhirnya setuju, walau aku tetap melihat keberatan itu dimatanya. Aku merasa keputusanku ini sudah tepat. Setelah beberapa hari mempertimbangkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 200%;"&gt;S&lt;/span&gt;emula dengan mengontrak rumah sendiri aku bisa bernafas lega, tak lagi capek meladeni sifat pencemburu Lilis, istriku. Kenyataannya, sifat pencemburu Lilis tidak hilang juga. Kali ini kecemburuan Lilis pada Ibu dan adik-adikku beralih sementara pada tetangga sebelah rumah kontrakan kami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Aa’ lihat enggak? Ros tetangga sebelah rumah kita baru saja membeli televisi yang layarnya datar. Bagus deh A’. Dia bilang, harganya tidak terlalu mahal kok,” ucap Lilis sambil melendot-lendot padaku. Aku sudah bisa menebak isi hati Lilis. Pasti dia ingin aku membelikannya juga. Meski aku sudah pura-pura tidak perduli dengan permintaannya, Lilis tak putus asa untuk terus mendesakku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Jadi, kapan Aa’ mau beliin Lis?” pintanya sambil merajuk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Iya secepatnya,” jawabku lembut. Aku pun kembali tak berdaya, untuk tidak memenuhi keinginannya. Terpaksa uang tabungan aku ambil sedikit demi sedikit untuk memenuhi rasa cemburunya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Dilain waktu, Lilis kembali minta dibeliin handphone. “Lis ingin punya handphone yang ada kameranya A’, seperti punya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;si Ros.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Buat apa Lis? Bukankah handphone yang lama sudah cukup?” jawabku sambil menggerutu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kalau Aa’ tidak mau beliin Lis, ya sudah!” ucapnya sambil merengut dan langsung mengunci diri di kamar. Seperti biasanya, Lilis pun menjalankan aksinya-- mogok bicara denganku selama beberapa hari. Terang saja aku tidak tahan didiamkan oleh istri sendiri. Kembali kuturuti kemauannya. Akhirnya, aku kembali menuruti semua kemauan Lilis yang dilandasi rasa cemburu yang membabi buta itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 200%;"&gt;K&lt;/span&gt;ecemburuan Lilis untuk memiliki barang-barang seperti milik tetangga terus berlanjut. Aku dibuat lelah lahir dan batin dibuatnya. Mungkin benar kata Ibu, kalau badanku semakin hari semakin kurus seperti orang yang banyak pikiran. Sebetulnya, aku ingin berterus terang pada Ibu bahwa aku sering makan hati dengan tingkah laku Lilis. Tapi, aku berusaha berdalih karena kelelahan bekerja. Sebab aku tak ingin menambah beban pikiran Ibu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sementara uang yang aku gunakan untuk membeli semua barang permintaan Lilis adalah uang yang aku tabung untuk membetulkan rumah Ibu yang sudah rusak disana-sini. Aku berniat mengganti genteng yang bocor dengan asbes. Belum lagi bila hujan datang, Ibu dan adik-adikku harus tidur diruang tamu karena kamarnya basah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Tak hanya mengganti genteng yang lama dengan yang baru. Kamar mandi juga sudah tak layak lagi untuk dipakai. Karena sudah tumbuh lumut disana sini. Aku berniat melapisi dindingnya dengan keramik. Dapur Ibu juga sudah jelek. Aku berniat akan membuatkan tungku yang baru untuk Ibu memasak. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk menebus rasa bersalahku pada Ibu, akupun lebih giat lagi mencari uang, dengan mencari kerja sampingan. Setelah satu tahun uang pun terkumpul. Akupun mencatat berapa pengeluaran untuk merenovasi rumah Ibu. Setelah kurasa cukup, akupun segera memberitahu Ibu berita yang sangat ia nantikan ini. Ibu menitikkan air mata bahagia, saat tahu impiannya akan segera terwujud. Untuk memiliki rumah yang lebih layak bagi dirinya dan anak-anaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Disaat Ibu tengah diliputi perasaan bahagia, tak begitu halnya dengan Lilis. Dia sedikitpun tak menunjukkan rasa senang, saat kuceritakan tentang niatku untuk mempercantik rumah Ibu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Harusnya Aa’ tahu, sebentar lagi kita akan memiliki seorang anak. Kebutuhan bayi &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; banyak sekali!” ucapnya ketus. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Tapi Aa’ sudah lama punya janji pada Ibu. Gak enak kalau harus menunda lagi. Aa’ rasa, gaji bulanan Aa’ masih cukup untuk membeli keperluan kamu dan anak kita, disaat melahirkan nanti,” jawabku agak jengkel. Tega-teganya Lilis mempermasalahkan yang sudah menjadi hak Ibu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Aku tahu, pasti Lilis marah sekali padaku, karena aku tak mau mengikuti keinginannya kali ini. Tapi aku tak perduli lagi. Bagiku, ini sudah kewajiban seorang anak lelaki pada Ibunya. Apapun komentar Lilis, aku tak akan menggubrisnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; line-height: 200%;"&gt;N&lt;/span&gt;amun yang terjadi sungguh tak kuduga sebelumnya. Mulanya Lilis menangis seharian. Aku berusaha tak perduli! Karena aku tahu Lilis pintar bermain sandiwara. Besok-besoknya, dia berubah menjadi pendiam. Aku tak berminat menanyakannya, karena aku sudah jenuh dengan segala taktik yang dia mainkan selama ini. Namun saat dia sering berbicara sendiri, aku tidak bisa tinggal diam. Bagaimanapun, dia tetap istriku. Apapun bentuk kesalahannya. Apalagi dia tengah mengandung anakku. Aku pun kembali bersikap lembut padanya. Dan mencoba mengorek isi hatinya, mengapa akhir-akhir ini dia bertingkah seperti orang yang kurang waras. Tapi Lilis malah menjerit histeris. Tanpa menunggu lagi, akupun membawanya berobat ke psikiater.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;“Tampaknya istri anda mengalami depresi yang cukup berat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Akhir-akhir ini istri saya sering diliputi rasa cemburu. Mungkin rasa cemburu butanyalah yang telah membuatnya jadi begini, Dok!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Maksud Anda apa? Mungkin bisa Anda ceritakan secara lebih mendetail lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kecemburuan istri saya yang sangat besar, telah membutakan mata hatinya, hingga tak bisa melihat kebahagiaan orang lain. Termasuk kebahagiaan Ibu mertuanya sendiri Dok.” Dokter pun akhirnya bisa mengerti, setelah aku bercerita panjang lebar padanya, tentang perasaan cemburu Lilis yang sudah melampaui batas ini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sore ini setelah pulang dari rumah sakit, dengan langkah berat aku mengunjungi rumah Ibu untuk memberitahukan sebuah berita yang tidak ingin aku sampaikan. Sebab aku tahu pasti, berita ini akan sangat mengecewakan bagi Ibu dan adik-adikku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Karena bolak-balik membawa Lilis berobat ke psikiater, akhirnya uang untuk membangun rumah Ibu terpaksa aku gunakan dulu. Maafkan Asep Bu, karena belum bisa memenuhi harapan Ibu. Tapi Asep berjanji akan tetap memenuhi harapan Ibu suatu hari nanti,”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dengan berat hati, kusampaikan pada Ibu masalah yang sebenarnya. Ibu mau mengerti meski aku tahu, betapa hancurnya hati Ibu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di majalah alia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-3954249282630706319?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/3954249282630706319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/gila-cemburu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3954249282630706319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/3954249282630706319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/gila-cemburu.html' title='gila cemburu'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3cjZqt5UI/AAAAAAAAADo/65cZBPcAeqI/s72-c/cemburu+gila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-5038053904469952061</id><published>2010-02-09T04:41:00.001-08:00</published><updated>2011-09-16T19:44:15.729-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my cerpen'/><title type='text'>rumah mande (terpilih menjadi cerpen terbaik bulan nopember annida-online)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3db5Y_JpI/AAAAAAAAADw/kHObxGMfWmE/s1600/Rumah+Mandeh.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 339px; height: 220px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3db5Y_JpI/AAAAAAAAADw/kHObxGMfWmE/s400/Rumah+Mandeh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511804990303184530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  Berat hati ini meninggalkan Mande seorang diri di kampung. Kegembiraan yang didapat karena baru saja diterima di Universitas &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, seakan meluap bersama kegelisahan dan kegundahan. Meski Mande begitu senang dia bisa diterima di salah satu Universitas ternama di ibukota. Bagaimana mungkin dia bisa tenang meninggalkan Mande yang sudah tua dan sering sakit-sakitan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Sudahlah Mande. Kita jual saja rumah ini. Uang hasil penjualan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kita pakai untuk membeli rumah di daerah Depok. Nanti siapa yang akan memperhatikan dan merawat Mande? Uda War dan Uni Upik pasti sangat setuju dengan saranku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Rusli, Rusli. Mentang–mentang Mande sudah tua, bukan berarti Mande tidak bisa mengurus diri sendiri. Mande sudah terbiasa hidup mandiri.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Tapi Rusli mencemaskan Mande. Begitu juga Uda War dan Uni Upik”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Sekarang yang penting, persiapkan semua keperluanmu untuk dibawa besok. Jangan sampai ada yang ketinggalan.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Rusli memilih kuliah di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; saja ya Mande, agar bisa sering pulang untuk menjenguk Mande.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Kamu itu anak lelaki Rusli. Masak tidak bangga pergi merantau. Kita harus bangga bahwa anak negeri kita tersebar dimana-mana. Tapi kamu malah memilih tetap di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Apa kamu tidak malu sama pemuda-pemuda Pariaman yang sukses dinegeri orang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Aku tak bisa berkutik mendengar jawaban cerdas dari Mande. Mande memang wanita yang keras kepala, selain tangguh dan mandiri. Meski terbersit rasa iba dihati melihat kondisi kesehatan Mande yang kian hari semakin menurun. Tapi sebagai anak yang berbakti, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tak ingin menentang Mande. Itu sama saja aku mengecewakan hati Mande yang tengah berbangga hati mendapati anak bungsunya berhasil diterima di sekolah negeri bergengsi. Mengalahkan banyak pesaing lainnya untuk bisa lolos masuk kesana. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Aku mengerti bahwa Mande bukan tak ingin tinggal bersamaku di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Hanya saja, dia begitu berat bila harus disuruh menjual rumahnya. Rumah yang bagi Mande penuh kenangan manis bersama Abak. Rumah yang telah menjadi saksi selama bertahun-tahun akan asam manisnya hidup Mande bersama Abak. Dan Mande selalu mengulang-ngulang dengan bangga cerita tentang perjuangan Abak, merintis rumah makan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dari bawah hingga mencapai puncak kejayaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Abak benar-benar seorang pekerja keras, sama seperti Mandenya. Awalnya menjadi pelayan restoran &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Lalu diangkat menjadi kasir. Setelah bertahun-tahun, oleh pemilik restoran Abak dipercaya untuk membuka cabang di lokasi yang lain. Hingga Abak bisa melakukan penjualan yang fantastis. Restoran tak pernah sepi setiap harinya dari pembeli. Itu semua berkat kepintaran Mande dalam meracik bumbu masakan. Juga berkat keramahan dan kerja keras Abak dalam mencari pelanggan. Cabang restoran itu pun akhirnya dipegang sepenuhnya oleh Abak. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Namun disaat usaha rumah makan Abak sedang berada di puncak, musibah pun datang. Restoran Abak terbakar habis. Sejak itu, Abak sering sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal dunia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sepeninggal Abak, Mande berjuang sekuat tenaga untuk membesarkan keliga anaknya seorang diri. Meski sudah tak memiliki apa-apa, Mande tak ingin menjual rumah. Dia hanya menggadaikan sedikit perhiasan yang masih ia punya untuk modal membuka warung nasi kapau, meski hanya kecil-kecilan. Hingga warung tersebut bertambah maju dan besar. Mande akhirnya bisa menyekolahkan kami hingga menjadi sarjana. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kini Mande semakin tua dan sakit-sakitan. Seperti rumah yang Mande tempati, semakin tua dan banyak kerusakan disana-sini. Tapi Mande tetap tak mau rumahnya direhab menjadi lebih bagus dan layak, apalagi sampai dijual. Padahal bangunan nya sudah tua, hingga semakin lapuk dan dindingnya semakin kusam warnanya. Bahkan Mande pun tak ingin mengganti lantainya yang sudah retak dan pecah-pecah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dengan keramik yang baru. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Mande tidak mau mengubah apapun dari banguanan rumah ini. Biarlah semuanya seperti dulu saja. Sebab Mande tak ingin sedikitpun kenangan dirumah ini ikut hilang bersama dengan perubahan disana-sini,” jawab Mande saat Uni Upik berniat ingin merenovasi rumahnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Tapi Mande, lama-lama rumah ini bisa hancur bila tak diperbaiki, karena sudah tua hingga tak sekokoh dulu lagi. Mande tidak inginkan rumah ini perlahan-lahan habis tergerus dimakan usia? jawab Uda War ikut bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Mande rasa rumah peninggalan Abak kalian masih cukup kuat. Buktinya, sudah 40 tahun lebih masih bisa kita tempati.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Kami pun tak bisa menentang Mande yang tetap pada pendiriannya. Apalagi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;untuk menjual rumahnya. Alasannya Mande tak ingin meninggalkan Abak dan kenangannya disini. Kalau bisa, dia ingin mati dirumah ini. Padahal niat kami &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hanya ingin mengurus Mande. Tidak seperti sekarang, Mande di Pariaman sendirian. Tepatnya di kampung dalam. Sementara anak-anaknya semua di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; metropolitan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Hari ini kuliah selesai sampai sore. Tapi selama perkuliahan berlangsung pikiranku gelisah. Materi yang diajarkan begitu sulit masuk ke otakku. Memang belakangan ini aku sering bermimpi tentang Abak. Yang membuatku jadi teringat pada Mande di kampung dalam Pariaman. Abak datang dan hanya tersenyum padaku. Tanpa berucap sepatah katapun. Tak berapa lama kemudian Abak menjemput Mande. Dan Mande mengikuti Abak pergi. Aku berteriak-teriak memanggil, tapi kedua orangtuaku seolah tak mendengar teriakanku. Dan pergi berlalu begitu saja dibalik awan. Pertanda apakah ini? Tak sabar rasanya menunggu kuliah bubar, agar segera bisa menelepon Mande.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Sebelum Bapak mengakhiri kuliah hari ini, ada yang mau bertanya?” Kulihat tak ada satupun yang mengangkat tangan. Aku lega. Berarti sebentar lagi kuliah usai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Baiklah! kuliah hari ini Bapak cukupkan sampai disini.” Anak-anak pun segera menyambut senang. Sama sepertiku, segera bersiap-siap untuk keluar dari kelas dengan tergesa. Mungkin karena hari sudah beranjak sore. Akupun berlomba dengan anak yang lain untuk segera sampai di pintu gerbang kampus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Begitu sampai di kamar kost segera kubuka tasku, dan mengambil ponsel Nokia berwarna biru. Tut..tut..tut. tak nyambung. Kupencet sekali lagi, tetap terdengar bunyi yang sama. Aku makin kacau. Mengapa saluran ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tiba-tiba sinyalnya terputus? Aku pun meletakkkan hpku dan segera mengambil segelas air mineral, dan meneguknya sampai dahagaku hilang. Aku kembali ke sisi tempat tidurku, lalu meraih remote untuk menyalakan televisi. Aku pun sibuk memencet channel secara berganti-ganti. Sambil bermalas-malasan sejenak di atas springbedku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Kuputuskan untuk menonton acara berita sore. Sambil menonton berita, kucoba kembali untuk menelepon Mande. Siapa tahu bisa kembali tersambung. Tiba-tiba kudengar reporter televisi menyiarkan berita tentang gempa. Yang membuatku kalut setengah mati, gempa dahsyat berkekuatan 7,6 SR itu mengguncang Padang Pariaman! Dan… kampung tempat kelahiranku yang terparah, sampai-sampai banyak rumah yang sudah rata dengan tanah &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Ya Rabbi! Pikiranku langsung tertuju pada Mande. Bagaimana ini? Ingin aku segera pulang sekarang untuk memastikan keadaan Mande secara langsung. Aku tak mampu berpikir lagi. Bingung harus melakukan apa. Telepon tetap belum bisa tersambung. Ditengah kecemasanku, segera kuputuskan untuk menelepon Uni Upik&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Sudahlah Rusli, gak usah terlalu cemas begitu. Kita doakan saja tak terjadi apa-apa pada Mande.Uni akan menghubungi Udamu dulu. nanti akan Uni kabari lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Baiklah Ni, kabari Rusli bila ada perkembangan,” jawabku panik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Seharian aku gelisah di kostku. Menunggu kabar selanjutnya dari Uni. Tapi belum ada berita apapun yang melegakanku. Selepas maghrib akhirnya Uda War datang ke kostnya bersama Uni Upik. Membicarakan apa rencana kami selanjutnya. Uni Upik Dan Uda War menyuruhku pulang lebih dulu. Dimana setelah urusan mereka kelar, barulah Uni dan Udanya menyusul ke kampung dalam segera. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Menjelang malam hari mataku sulit terpejam. Bahkan disaat jarum jam sudah menunjuk pukul tiga tengah malam. Aku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bangun dan segera meminum segelas air mineral untuk menenangkan pikiranku. Besok aku akan bolos kuliah untuk bertolak ke Pariaman. Bagaimana mungkin aku hanya menunggu saja disini tanpa ada kepastian tentang keadaan Mande. Bagaimana kalau rumah Mande turut hancur ditimpa longsor akibat gempa yang mengguncang dengan sangat kencang? Kira-kira dimana Mande waktu terjadi gempa? Apakah sempat lari keluar rumah menyelamatkan diri? Atau sebaliknya? Tidak! Aku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tak kuat membayangkan seandainya Mande terkurung reruntuhan rumah dan…aku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;semakin takut membayangkannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Aku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terbayang wajah Mande saat melepaskanku di Bandara. Belum pernah Mande memelukku berulang-ulang kali dengan erat. Seakan–akan begitu berat melepas diriku. Adakah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu pertanda&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pertemuan terakhir kami? Tidak! Aku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tidak boleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berpikiran buruk pada nasib Mande. Bagaimanapun, takdir di tangan Allah. Aku &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tidak pantas mendahului takdir. Untuk menenangkan hatiku, aku terus berdoa tak henti-hentinya, sambil memejamkan kedua mataku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Baik-baik kamu dirantau ya Nak, dan jangan pernah meninggalkan solat &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; waktu,” pesan Mande sambil berurai air mata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Pasti Mande,” jawabku membalas pelukan Mande.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mengingat itu, Rusli pun sesengggukan diatas tempat tidurnya. Dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;semakin tak sabar menunggu datangnya pagi. Akhirnya, pagi yang ditunggu segera tiba. Rusli segera mandi dan setelah itu memasukkan baju ke tas ransel secukupnya. Dia memutuskan untuk naik bis saja, sebab pesawat belum ada yang terbang ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; karena berbagai alasan. Begitu sampai di terminal Rawamangun, dia segera menaiki bis jurusan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pariaman. Dan membayar tiketnya di dalam bis. Bis tak langsung berangkat, karena masih menunggu penumpang. Dia semakin tak tenang dan sedikit kesal. Tapi dia harus bisa bersabar. Yang penting lusa dia sudah sampai di kampungnya.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Begitu sampai di kampungnya, dia temukan sudah banyak orang-orang yang tinggal dipengungsian akibat rumahnya hancur, meski ada sebagian rumahnya cuma retak-retak saja. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Hatinya begitu miris melihat banyaknya warga yang terluka parah. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang kepalanya robek. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang kakinya terpaksa diamputasi karena patah tertimpa reruntuhan selama dua hari. Sebagian lagi meraung-rauang karena sanak keluarganya masih tertimbun reruntuhan bangunan. Dia harus bergerak cepat, agar segera tahu bagaimana kondisi Mande dan rumahnya. Ya Tuhan!!! rumah Mande hancur 100%, pekiknya. Dimana Mande? Dia panik sekali, sebab tak seorang pun warga yang mengaku melihat keberadaan Mande. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dia sudah hampir putus asa, karena tak berhasil menemukan Mande. Dia juga sudah mendatangi posko-posko terdekat, siapa tahu mereka pernah merawat Mande kalau memang Mande terluka. Tapi tak ada juga. Bagaimana ini? Rusli tak mampu berpikir lagi. Tiba-tiba dia teringat pada suatu tempat dimana Mande dulu sering kesana Yah…. siapa tahu Mande kesana, batinnya sedikit tenang. Begitu sampai di lokasi yang ia tuju, dia melihat seorang wanita seusia Mande sedang menangis di depan sebuah makam. Tak salah lagi, itu Mande!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Habis Rusli…Habiss sudah semuanya! Mande sudah tidak punya tempat tinggal lagi di kampung Mande sendiri,”tangis Mande pun pecah dibahunya&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="right"&gt;“Sudahlah Mande, tak usah menyesali yang sudah tidak ada. Yang penting Mande masih ada bersama kita,” hiburku sambil memeluk Mande penuh rasa lega dan haru.&lt;span style=""&gt;                                                                                                                                     &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Medio October 2009&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimuat di annida-online&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-5038053904469952061?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/5038053904469952061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/rumah-mande_6866.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5038053904469952061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5038053904469952061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/rumah-mande_6866.html' title='rumah mande (terpilih menjadi cerpen terbaik bulan nopember annida-online)'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/TH3db5Y_JpI/AAAAAAAAADw/kHObxGMfWmE/s72-c/Rumah+Mandeh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-6787216116866472789</id><published>2010-02-08T21:21:00.000-08:00</published><updated>2011-09-16T18:32:30.018-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='my cerpen'/><title type='text'>tak cukup bagiku hanya mengerti</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-JXIdAFBgxGo/TnP4gZO92oI/AAAAAAAAANI/NLdIEOvnglA/s1600/prp.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 94px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-JXIdAFBgxGo/TnP4gZO92oI/AAAAAAAAANI/NLdIEOvnglA/s400/prp.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653135192693267074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CESPRIM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="address"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="Street"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CESPRIM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CESPRIM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object  classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:1;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;*Tuhan Maha Tahu apa yang ada dalam hati hamba-hambanya. Tuhan juga mengerti apa yang diinginkan oleh hamba-hambanya. Namun, Tuhan tetap meminta para hambanya untuk memberitahunya melalui doa. &lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Suatu pagi ketika Abang akan pergi ke kantor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;“&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 26pt; line-height: 200%;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;asihkah Abang mencintaiku?” tanyaku saat menemani Abang sarapan pukul 6 pagi. Kebetulan ketiga malaikat kecil kami masih terlelap dalam mimpi. Abang sedikit terkejut mendengar pertanyaanku, meski akhirnya tersenyum. “Abang rasa, kamu sudah mengerti tanpa perlu Abang katakan lagi. Bukankah selama ini, Abang pergi pagi pulang malam demi kamu dan anak-anak?” jawab Abang sambil menyuapkan nasi dan sepotong ikan ke mulutnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Aku mengerti Bang. Tapi dengan mengerti saja tidaklah cukup bagiku. Aku ingin Abang mengatakannya lewat seuntai kata-kata mesra seperti dulu, meskipun hanya sekali sepanjang usia pernikahan kita. Akh…Sembilan tahun sudah aku menunggu Abang mengatakan kembali &lt;b style=""&gt;Aku mencintaimu istriku&lt;/b&gt;.&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;“Kita bukan lagi sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta seperti dulu Dik. Kamu &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; bisa melihat dari sikap Abang selama ini,” jawabAbang lagi&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Bibir tipis Abang yang begitu maskulin kembali tersenyum. Tapi kini lebih lebar. Terlihat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gigi putihnya yang berderet-deret rapi. Dagunya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang ditumbuhi bulu-bulu halus bekas cukuran terlihat begitu seksi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Aku tahu Abang itu suami dan ayah yang terbaik bagi ketiga mutiara hati kita--Bilqis, Baim, dan Zakirah. Tapi, salahkah bila aku menginginkan Abang mesra seperti dulu?&lt;/i&gt; Lagi-lagi aku hanya mampu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bertanya di dalam hati. Dan aku masih berusaha untuk tersenyum. Meski dihati masih ada gundah! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;“Ya sudah. Abang pergi dulu yah, takut ketinggalan kereta.” Abang lupa lagi mencium keningku. Dan melesat pergi begitu saja mengendarai sepeda motornya menuju stasiun, untuk menitipkan motornya sebelum naik kereta. Satu lagi ritual yang dulu selalu dilakukan Abang diawal-awal pernikahan, tapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kini ia tinggalkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dan aku, hanya menatap kepergiannya dengan hati yang nelangsa. &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; rasa kecewa, rindu, juga sedih yang berbaur menjadi satu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Aku kembali kedapur melanjutkan tugasku. Mencuci piring bekas makan Abang. Aku harus berkejaran dengan waktu, untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang lain. Sebelum ketiga buah hatiku bangun dari tidurnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Malam kian larut.&lt;/b&gt; Jarum jam tiga puluh menit lagi menunjukkan angka 12 tengah malam. Ketiga buah cinta kita telah terlelap dalam mimpi yang indah sejak 2 jam yang lalu. Sementara aku, masih tetap menunggumu Bang. Lagu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;‘&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;When you tell me that you love me’ &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya Diana Ross masih setia menemaniku. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Bukankah hari ini ulangtahun pernikahan kita? Semoga kali ini kau tak lagi melupakannya seperti tahun-tahun yang lalu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Kau tahu Bang… Dirumah, seharian aku mengurus ketiga anak kita. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Betapa tidak bisa diamnya Baim, anak lelaki kita satu-satunya yang sebentar lagi genapa berusia 5 tahun. Untunglah kakaknya Bilqis sudah bisa disuruh menjaga adiknya. Disaat aku repot mengurusi Zakirah, yang juga sangat aktif merangkak kesana kemari. Mencomot barang apa saja yang ia temui ke dalam mulut. Hingga tak boleh meleng sedikitpun dalam mengawasinya.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Belum lagi pekerjaan rumah tangga yang menanti untuk segera diselesaikan. Mulai dari memasak, mencuci, juga berbenah. Betapa lelahnya istrimu ini Bang. Sebagaimana dirimu yang kutahu juga letih bekerja keras mencari nafkah setiap harinya. Namun, aku berusaha menikmatinya, meski semakin lama aku merasakan hidup kita hanya terdiri dari rutinitas-rutinitas saja. Bukankah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kita perlu penyegaran dari kehidupan yang kita jalani sekarang? Misalnya, pergi nonton&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau makan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diluar berdua. Berdua saja Bang…Harapanku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disaat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya berdua, kau akan mengatakan&lt;b style=""&gt; Aku mencintaimu istriku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Pikiranku menerawang. Kenangan manis saat bersamamu berkelebat. Kenangan saat pertama kali kau mendekati diriku. Setangkai mawar merah pernah kau persembahkan pada kekasih hatimu ini. Kata-kata sanjungan dan panggilan sayang begitu murah kau keluarkan dari kedua bibirmu. Tapi sekarang? rasanya kau begitu pelit untuk mengatakannya lagi. Hadiah-hadiah yang begitu istimewa (Kukatakan istimewa karena hampir semua yang kau berikan selalu aku sukai, menunjukkan kalau kau begitu paham apa yang menjadi seleraku) begitu royal kau berikan dulu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dulu sebelum aku menjadi istrimu, segalanya ingin kau berikan. Mungkin sekarang Abang merasa tak perlu lagi memikat hatiku--dengan setangkai mawar merah dan sepotong coklat merek bergengsi kegemaranku--karena apa yang Abang inginkan sudah didapat. Siapa lagi kalau bukan Riani. Gadis yang sedikit bicara tapi pemalu juga melankolis—yang tiba-tiba akan mencucurkan air mata saat melihat adegan yang mengharukan di film Titanic. Juga senang dengan hal-hal yang berbau romantis. Dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gadis itu adalah aku, yang sekarang mendampingimu hidupmu Bang. Dalam suka maupun duka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Aku merasa tersanjung sewaktu kau membawakanku setangkai mawar merah saat pendekatan dulu. Tapi sekarang? Tak ada lagi kejutan-kejutan yang mampu mendebarkan hatiku. Meskipun hanya sebuah surprise kecil.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Bagaimanapun, kita telah disatukan oleh takdir dalam sebuah ikatan suci yaitu pernikahan. Dan aku tak ingin menyalahkan takdir, karena terus terang aku bahagia bisa menjadi istrimu. Meskipun sampai detik ini masih terselip sebuah keinginan yang tak pernah tersampaikan padamu karena secuil gengsi dihatiku. Kapan lagi kau bilang I Love U Bang… Yah, semuanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya menyesak di dalam dadaku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Goresan hatiku yang kuketik di layar komputer kuhentikan sejenak saat mendengar suara sepeda motor di depan rumah. Aku bangkit dan melihat dari balik gorden. Benar itu sepeda motor Abang. Akupun bergegas mematikan layar monitor, dan beranjak untuk membukakan pintu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;“Sudah makan Bang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;“Sudah… Abang hanya ingin tidur sekarang. Rasanya badan Abang capek sekali, karena beberapa hari ini pulang malam terus akibat kerja lembur. Tapi Abang mau mandi dulu. Ambilkan Abang handuk ya Dik,” Abang berkata sambil meraih remote, duduk bersandar dikursi dan menyalakan televisi. Berusaha melepaskan lelah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Akupun segera keruang belakang mengambil handuk biru yang tergantung di jemuran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Abang langsung kekamar mandi begitu handuk kuberikan. Mengguyur badannya yang penat dengan air. Aku bisa merasakan keletihan Abang. Bagaimana tidak. Pagi-pagi sekali Abang sudah pergi naik kereta. Malam hari juga pulang naik kereta. Padahal, betapa penuh sesaknya orang didalamnya. Abang katakan beberapa hari ini hampir tak pernah ia dapat duduk, karena orang selalu naik dari setiap stasiun. Hingga kereta selalu penuh. Berbau, panas, dan tak nyaman. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Setelah Abang selesai mandi, akupun membiarkannya segera pergi ke peraduan. Dan hanya mampu diam terpekur saat mendengar Abang mendengkur. Niatku&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk mengutarakan segudang rencana dalam merayakan hari ulangtahun pernikahan kami yang kesembilan akhirnya kutunda. Aku tak tega membangunkan Abang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mungkin besok saja sebelum Abang berangkat kerja. Aku membatin dengan rasa sedikit kecewa.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Malam berikutnya.&lt;/b&gt; &lt;i style=""&gt;Aku kembali menunggumu Bang.&lt;/i&gt; Jemariku mulai mengetik kata-demi kata, curahan perasaanku yang penuh kecewa, karena Abang kembali melupakan hari penting kami. &lt;i style=""&gt;Aku tak pernah menuntut apa-apa Bang. Tapi setidak-tidaknya dihari ulangtahun pernikahan kita, kau mau menyempatkan sedikit waktumu untuk kita berdua. Meskipun hanya satu kali. Aku membayangkan suasana yang romantis dimana hanya ada kau dan aku. Tentu saja aku berharap disaat kita berdua, kau akan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kembali mengatakan &lt;b style=""&gt;Aku mencintaimu istriku.&lt;/b&gt; Dengan tatapanmu yang mesra, sambil menggenggam kedua tanganku. Aku ingin merasakan kembali saat-saat kita berdua. Mungkin kita perlu moment dimana tak ada anak-anak diantara kita. Seperti saat bulan madu yang pertama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Bang…Aku tidak tahu pasti apakah kau tipe pria yang romantis atau tidak. Mungkin dulu kau membawakan seikat mawar merah agar bisa mencuri hatiku.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi aku mengerti bahwa sekarang kau masih mencintaiku. Sebatas hanya mengerti, tapi tak begitu yakin karena tak pernah lagi kau bilang I Love U padaku. Tak usahlah aku berharap Abang mau mengatakan itu setiap hari. Tapi sekurang-kurangnya di hari pernikahan kita. Meskipun hanya sekali. Sekali Bang! Itu sudah cukup bagiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Tiba-tiba kudengar tangis anak ketigaku yang berusia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sembilan bulan dari dalam kamar. Akupun segera menghampirinya, untuk kembali meninabobokan Zakirah sambil menyusuinya. Satu jam kemudian… Aku terbangun dan melihat jarum jam menunjukkan pukul 12 malam. Tanpa sadar, aku tadi tertidur sejenak. Memang sewaktu menyusui tadi mataku rasanya berat sekali. Hingga tak bisa dicegah akupun tertidur. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Sepertinya Abang belum pulang, karena tak kudengar suara sepeda motornya di depan rumah. Aku keluar kamar dan menuju ruang depan untuk mematikan komputer yang masih menyala. Namun sebelum aku mengklik tulisan Turn Off Computer, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Tak usahlah aku berharap Abang mau mengatakan itu setiap hari. Tapi sekurang-kurangnya di hari pernikahan kita. Meskipun hanya sekali. Sekali Bang! Itu sudah cukup bagiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Aku mencintaimu istriku. Lebih dari yang kau kira&lt;/i&gt;…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;Ketika aku beranjak dari kursi untuk mencari tahu, tiba-tiba Abang sudah memelukku dari belakang, seraya membisikkan kata-kata yang sudah begitu lama ingin kudengar “I love u.” Akupun berbalik. “I love u too Bang,” jawabku sambil balas memeluknya. Inilah surprise terindah dalam hidupku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt; line-height: 200%;" align="right"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Awal ramadhan 2009 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt; line-height: 200%;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;* Dikutip dari ucapan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mario Teguh—dalam acara &lt;st1:street w:st="on"&gt;&lt;st1:address w:st="on"&gt;Golden Way&lt;/st1:address&gt;&lt;/st1:street&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-6787216116866472789?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/6787216116866472789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/tak-cukup-bagiku-hanya-mengerti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6787216116866472789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/6787216116866472789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/tak-cukup-bagiku-hanya-mengerti.html' title='tak cukup bagiku hanya mengerti'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-JXIdAFBgxGo/TnP4gZO92oI/AAAAAAAAANI/NLdIEOvnglA/s72-c/prp.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-479107409217259194</id><published>2010-02-06T05:50:00.000-08:00</published><updated>2011-09-16T19:51:58.755-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ungkapan hati'/><title type='text'>hikmah tinggal di desa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-x39FxuhN72o/TnP2ZC09OvI/AAAAAAAAANA/npQLgdc9M30/s1600/desa.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 187px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-x39FxuhN72o/TnP2ZC09OvI/AAAAAAAAANA/npQLgdc9M30/s400/desa.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653132867396254450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CESPRIM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CESPRIM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CESPRIM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object  classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:1;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tak selamanya sesuatu yang tidak kita sukai, akan merugikan kita. Bukankah Tuhan pernah berkata, boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal dibalik semua itu tersimpan sebuah kebaikan untukmu. Suamiku mencoba menasehatiku disaat aku berkali-kali mengeluhkan tempat tinggal kami yang jauh terpencil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Awal mula suami memberitahu akan membeli tanah di desa, aku tak setuju. Tapi karena tak ada pilihan aku menurut saja. Kukatakan tak ada pilihan karena keuangan kami memang tak cukup untuk membeli rumah di ibukota. Mau mengambil perumahan suami merasa tidak sreg. Alasannya cicilannya berlangsung cukup lama. Rumah yang didapat juga sangat kecil. Paling runah tipe 36 yang bisa sesuai kantong kita, begitu katanya. Bagiku, biar rumah kecil asal dekat kemana-mana &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; tidak masalah? Tapi pikiranku mengenai tempat tinggal berbeda dengan suami. Baginya lebih enak membeli tanah yang cukup luas karena bisa membangun rumah yang cukup besar dibandingkan mengambil perumahan, sebab harga tanah cukup murah di desa. Apalagi kami memiliki anak yang masih kecil-kecil. Rumah yang luas dengan halaman yang lebar akan membuat ruang gerak ketiga buah hati kami cukup lega. Lagipula suami pergi kerja naik kereta. Dan menurutnya untuk sampai kestasiun tidak terlalu jauh. Suami saya memilih naik motor yang menghabiskan waktu 15 menitan. Dimana motornya ia titip di stasiun saat akan naik kereta api ekonomi jurusan &lt;st1:city w:st="on"&gt;jakarta&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setelah rumah selesai dibangun diatas tanah seluas 200 meter, kami pun segera menempatinya. Suami begitu gembira begitu juga anak-anak. Tapi aku tetap tidak suka membayangkan tingggal di desa selamanya. Bandingkan saja. Selama ngontrak di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; aku bisa pergi kemana-mana hanya dengan angkot atau bis yang ongkosnya cuma 2000 perak. Sementara semenjak tinggal di desa aku harus naik ojek ke pasar dengan ongkos 15000 pp. Alhasil, akupun memutuskan untuk pergi belanja sekali seminggu saja mengingat uang transportnya lumayan besar bila pergi setiap hari. Disamping itu aku tak bisa lagi jalan-jalan cuci mata ke mall, sebab tinggal didaerah tak ada supermarket apalagi Mall. Pokoknya kemana-mana serba jauh. Akibatnya aku pun jarang keluar seperti dulu, dan lebih banyak tinggal dirumah saja. Mulanya hari-hari yang kurasakan begitu membosankan. Tapi mau bagaimana lagi? Tak mungkin aku berdebat terus dengan suamiku dan menuntutnya untuk segera pindah ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Bisa-bisa kami bertengkar terus hingga rumah tangga tak lagi harmonis. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ditengah rasa jenuh karena tidak lagi bisa pergi kemana-mana aku pun menuangkan uneg-unegku dengan menulis. Selain itu waktuku banyak kuhabiskan dengan membaca. Kebetulan aku memang suka membaca dan menulis. Hanya dulu sebatas menulis puisi dan catatan harian.Terbersit ide dikepalaku untuk menulis pengalaman hidupku selama tinggal didesa. Kuceritakan bahwa sebenarnya banyak hal positif yang kudapat selama tinggal di daerah. Pertama udaranya jelas lebih sejuk dan bersih dari daerah perkotaan, tempatku mengontrak dulu. Masih banyaknya pepohonan hijau, membuat lingkungan sekitar tempat tinggal kami begitu sehat ditambah tak banyaknya kendaraan yang lalu lalang hingga bebas dari polusi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang kedua, masyarakatnya hidup sangat sederhana dan ramah-tamah. Bila bertemu selalu menyapa duluan dan suka tersenyum. Kalau dijakarta bor-boro. Yang ada siapa elu siapa gue. Meski tak hampir semuanya begitu. Karena kesederhanaan warganya membuatku jadi tahu hidup prihatin. Tak lagi membuang-buang uang untuk belanja yang tidak perlu seperti dulu, apalagi kalau sudah ke Mall. Padahal awalnya cuma ingin cuci mata. Nyatanya tergoda untuk membeli yang sesungguhnya kurang kuperlukan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang ketiga, semangat kebersamaan warga desa cukup tinggi bila dibandingkan dengan warga &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Bila ada warga yang terkena musibah, mereka saling membantu dengan memberikan apa saja yang mereka miliki. Bisa beras, makan kering, uang ataupun tenaga. Hingga yang terkena musibah merasa diringankan. Begitu juga bila ada yang keriyaan (red: hajatan) maka hal yang sama juga mereka lakukan. &lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Semua pengalaman yang kutulis aku kirimkan ke sebuah majalah wanita. Saat dimuat akupun sangat senang sekaligus bersyukur karena bisa membagi pengalamanku dengan banyak orang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerita yang sama pernah dimuat di majalah ummi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-479107409217259194?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/479107409217259194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/hikmah-tinggal-di-desa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/479107409217259194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/479107409217259194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/hikmah-tinggal-di-desa.html' title='hikmah tinggal di desa'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-x39FxuhN72o/TnP2ZC09OvI/AAAAAAAAANA/npQLgdc9M30/s72-c/desa.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-5316943482483953841</id><published>2010-02-06T05:46:00.000-08:00</published><updated>2011-09-16T18:03:01.999-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>cobaan dalam memberi asi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-KJ-FWnggeTo/TnPxno136qI/AAAAAAAAAM4/vJ3KkQnyX-k/s1600/images%2Basi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-KJ-FWnggeTo/TnPxno136qI/AAAAAAAAAM4/vJ3KkQnyX-k/s400/images%2Basi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653127620560677538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta http-equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CESPRIM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CESPRIM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CESPRIM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object  classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:1;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman","serif";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Allah akan menguji kesabaran hambanya-Nya. Namun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak akan menguji diluar batas kemampuannya..Sewaktu hamil anak pertama, aku mengalami cobaan yang lumayan berat. Ditinggal oleh suami bekerja ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Waktu itu aku tengah hamil 2 bulan. Kuputuskan untuk tetap tinggal dirumah orangtua di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Medan&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, karena terlalu riskan rasanya mengikuti suami dalam keadaan hamil muda. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Mulanya aku kira bisa tegar seperti yang kupikirkan. Ternyata setelah menjalani kehamilan tanpa kehadiran suami, rasanya berat juga. Apalagi aku sedang mual-mualnya. Dan baru merasa enak makan setelah hamil 5 bulan. Meski didekat orang tua yang siap memberi dukungan, tetap saja kurasakan berbeda.&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Misalnya saja. Keinginan untuk bermanja-manja dengan suami tak tercapai. Belum lagi rasa rindu yang tak bisa kutumpahkan setiap saat. Untungnya suamiku pengertian. Hampir setiap hari dia menanyakan keadaanku lewat telepon. Lewat teleponlah aku bisa bermanja-manja pada suamiku. Tapi, tetap saja ada yang kurasakan kurang. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Terkadang aku ingin sekali saat periksa kehamilan ke bidan, suamiku bisa menemaniku, karena ibukulah yang selalu menemaniku periksa. Atau saat kehamilanku sudah besar, aku ingin sekali dia mengelus-ngelus perutku. Merasakan betapa gesitnya anak kami didalamnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tibalah saatnya melahirkan. Meski sudah diberitahu oleh dokter kapan tanggal dan bulannya anakku akan lahir, tetap saja suamiku belum bisa pulang., karena dia baru diterima bekerja, hingga tidak bisa seenaknya meminta ijin. Apalagi tidak bisa dipastikan kapan tepatnya aku melahirkan. Bisa saja lebih cepat atau mundur dari tanggal yang diperkirakan. Alhasil begitu perutku mules-mules dan sudah pembukaan 2, baru keluarga besarku menelepon suamiku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Impian agar melahirkan didampingi oleh suami pun tak bisa terpenuhi.. Padahal aku ingin sekali suami berada didekatku, disaat aku berjuang ditengah rasa kesakitan yang baru pertama kali aku rasakan. Jadilah aku melahirkan hanya ditemani oleh ibuku. Setelah anakku lahir, barulah suamiku datang. Meski suamiku sudah berusaha mendapatkan tiket pesawat yang pertama, tapi nyatanya dia baru bisa dapatkan tiket berikutnya, hingga tak terkejar waktunya untuk menemaniku melahirkan anak pertama kami, yang berjenis kelamin perempuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tak sampai disitu cobaan kualami. Sehabis melahirkan aku mengalami babi blues. Memang katanya perempuan yang baru melahirkan hormonnya belum normal kembali. Apalagi suamiku hanya dikasi ijin sebentar. Diapun kembali ke &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Aku baru boleh menyusulnya setelah anak kami berumur &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; bulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Karena dilanda depresi, aku pun sempat menolak menyusui anakku, ditambah lagi aku kurang percaya diri dalam menyusui. Entah mengapa, setiap hari aku dilanda kecemasan yang amat sangat. Takut anakku sakit atau terjadi apa-apa dengan bayi kami. Belum lagi rasa panik karena takut tidak bisa mengurus sikecil. Kerap aku menangis tanpa sebab. Bawaannya sedih terus. Padahal semuanya baik-baik saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Karena lebih sering kuberi susu sapi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akibatnya anakku mengalami alergi. Badannya merah-merah hingga kewajahnya. Tak hanya itu, tinjanya juga keras, sehingga dia kerap menjerit bila ingin buang air besar. Akupun bertambah kalut dan tertekan. Karena harus bolak-balik membawanya ke dokter. Setelah kondisi psikisku normal kembali, aku pun berusaha mengurus sikecil dengan sebaik-baiknya. Tapi yang membuatku merasa bersalah, saat asiku tak lagi keluar karena jarang menyusui. Padahal aku ingin sekali menyusui anakku kembali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku benar-benar merasa bersalah hingga kini. Karena kondisi anak pertamaku yang kini berumur 7 tahun, berbeda dengan kedua adik-adiknya. Dia mudah sakit bila sedang kecapekan atau terkena hujan. Tak jarang dia sesak nafas bila batuknya tak mau berhenti. Dalam hati, akupun bertekad untuk menyusui bila punya anak lagi. Ketika anak kedua lahir akupun menyusuinya dengan penuh percaya diri. Meski hanya sampai usia enam bulan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku berhenti menyusui karena lagi-lagi Tuhan mencoba kami. Tiba-tiba anak keduaku diserang diare yang kronis.Hampir satu bulan kami bolak-balik membawanya berobat. Tapi tak jua sembuh. Sampai dokter menyarankan agar anak kami dirawat inap. Dan setelah tinjanya diperiksa dilaboratorium, ternyata ada virus yang menggerogoti ususnya. Dan virus tersebut sangat asing serta jarang ditemui didunia kedokteran. Hingga anak kami disarankan untuk berpuasa selama tiga hari, agar ususnya diistirahatkan dulu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Betapa sedihnya menyaksikan putra kami menangis disaat kehausan. Kami tak boleh memberikannya apa-apa, selain obat. Bahkan air putih sekalipun. Aku juga disuruh berhenti dulu menyusuinya. Sebab setiap kususui, anakku langsung mencret. Jadi dia hanya diberi infus saja selama berpuasa, agar kondisinya tidak terlalu lemah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku tak mengerti mengapa tak boleh menyusui anakku. Aku tak ingin berprasangka macam-macam pada dokter waktu itu. Yang ada dipikiranku anakku segera sembuh. Meski belakangan banyak kudengar kritikan dari orang-orang sekitar bahwa tak masuk diakal anak yang sakit tidak boleh diberi asi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tapi aku tak mau menyalahkan siapa-siapa. Karena akhirnya anak kedua kami bisa sembuh setelah selesai menjalani puasanya selama tiga hari. Anakku hanya boleh diberi susu kedelai sampai beberapa bulan.Kini setelah berusia 5 tahun, anak keduaku tumbuh sehat. Dia tidak gampang sakit seperti kakaknya. Mungkin karena pernah kuberi asi hingga 6 bulan. Jadi lebih kuat fisiknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Disaat hamil anak ketiga, kembali cobaan berat aku alami.Bahkan aku merasa lebih berat dari hamil anak pertama. Tak seperti hamil anak pertama dan kedua. Mual dan muntah yang biasanya hanya kualami selama trimester pertama usia kehamilan, dihamil kali ini aku alami sampai trimester ketiga. Aku sulit makan, karena selalu enek. Belum lagi muntah yang tak kunjung hilang meski usia kehamilanku sudah menginjak sembilan bulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Aku begitu stress sebab perut rasanya selalu perih minta diisi, tapi selera makan tak ada karena mual yang selalu datang. Karena siangnya aku tak makan, maka malam hari aku tak bisa tidur karena perut keroncongan. Tak kuduga,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suamiku rela bangun tengah malam untuk membuatkan bubur untukku, walau hanya bisa masuk beberapa suap. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Dia juga mau membuatkan teh manis disaat aku ingin makan biscuit saja, walau hanya beberapa potong. Kegiatan lebih banyak kulakukan di tempat tidur, karena kondisi fisikku yang lemah. Bahkan untuk buang air kecil aku harus menggunakan pispot.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sudah empat kali aku dirawat di rumah sakit, karena maagku kumat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak kuat menjalani kehamilanku, aku pun mengalami depresi. Aku kehilangan minat terhadap apapun. Yang kulakukan hanya menangis. Bahkan untuk tersenyum pun aku sulit. Bila ada yang mengajakku berbicara, termasuk suamiku, aku tak berminat untuk menjawab. Aku lebih banyak diam. Tiba-tiba saja aku kehilangan semangat. Aku menjadi pribadi yang lemah dan tidak ikhlas dalam menjalani kehamilanku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Ditengah kondisi mental yang seperti itu, suamiku tak pernah berhenti untuk memberikan dukungan moril padaku. Mengingatkanku agar sabar dalam menjalani cobaan ini. Penuh kasih sayang dia mengatakan bahwa aku harus ikhlas menerima kehamilanku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tak hanya itu, selama di rumah sakit, dengan sabar suamiku menunggui dan merawatku. Sampai-sampai dia sering cuti dari pekerjaannya. Aku sangat terharu melihat sikap suamiku padaku. Baru kusadari, betapa besar cintanya padaku. Sungguh beruntung aku menjadi istrinya. Meski suamiku bukanlah seorang lelaki yang kaya raya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Karena kondisiku yang lemah, dan anak yang kukandung dalam posisi sungsang, aku pun melahirkan dengan cara dioperasi. Rasa takut akan dioperasipun kualami. Setelah dibius lokal, aku tiba-tiba merasa panik, hingga perutku bertambah mual. Untunglah aku bisa melewatinya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Anak ketigaku lahir dengan selamat. Meski beratnya pas-pasan yaitu dua kilo setengah, tapi dia terlihat begitu sehat.Sesuai tekadku, aku pun menyusuinya hingga sekarang dia berumur satu tahun lebih. Bahkan susu sapi dari rumah sakit tak kuberikan pada anakku. Sebab aku hanya ingin dia meminum asiku saja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Meski diawal-awal aku harus menahan sakit karena habis operasi. Aku berniat untuk menyusuinya terus hingga dua tahun. Syukurlah air susuku selalu cukup. Mungkin karena aku semakin percaya diri dalam menyusui, juga dengan tekad yang benar-benar bulat. Hasilnya, anak ketigaku yang berjenis kelamin perempuan sangat gesit dan ceria, meski badanya tergolong kecil. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sejak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;lahir hampir tak pernah dia sakit-sakitan. Apalagi batuk atau pilek.Kondisi fisiknya kuperhatikan juga lebih kuat dari kedua kakaknya. Manfaat dari menyusui benar-benar terbukti.Aku sangat bersyukur pada Tuhan, karena telah memberikanku kembali kesempatan untuk menyusui anakku hingga sekarang. Apalagi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;anak ketigaku ini terlihat lebih cerdas dan sehat dari anakku yang lainnya. Aku begitu bahagia setiap melihat senyum polosnya yang begitu menghibur kami sekeluarga.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5337030295223292850-5316943482483953841?l=seuntaikatahati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/feeds/5316943482483953841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/cobaan-dalam-memberi-asi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5316943482483953841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5337030295223292850/posts/default/5316943482483953841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://seuntaikatahati.blogspot.com/2010/02/cobaan-dalam-memberi-asi.html' title='cobaan dalam memberi asi'/><author><name>ekspresi jiwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_0vXIq_kBjxc/S2fJxqlgI8I/AAAAAAAAAAU/JoO0NxyfIGM/S220/IM000258.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-KJ-FWnggeTo/TnPxno136qI/AAAAAAAAAM4/vJ3KkQnyX-k/s72-c/images%2Basi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5337030295223292850.post-8006176852931083321</id><published>2010-02-01T22:34:00.000-08:00</published><updated>2011-09-16T19:41:51.067-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='true story'/><title type='text'>Kanker telah merenggut nyawa anak kebanggaanku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-xe3C6fmjeR0/TnP6fLK4cqI/AAAAAAAAANY/in47SVX3V3U/s1600/kanker.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 109px; height: 71px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-xe3C6fmjeR0/TnP6fLK4cqI/AAAAAAAAANY/in47SVX3V3U/s400/kanker.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653137370761425570" /&gt;&
